Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap nilai-nilai keluhuran masyarakat Bugis di Kabupaten Wajo sebagai warisan budaya leluhur. Transformasi nilai-nilai keluhuran masyarakat Bugis Desa Wiringpalennae Kecamatan Tempe Kabupaten Wajo berjalan baik tanpa menemui hambatan yang berarti.
Rumusan Masalah
Dan masih banyak lagi contoh penyalahgunaan gelar bangsawan yang tidak sesuai dengan aturan adat setempat. Untuk itu saya mengangkat judul “Transformasi Nilai-Nilai Mulia Masyarakat Bugis di Kota Sengkang Kabupaten Wajo” sebagai langkah penelitian lebih jauh mengenai kebangsawanan masyarakat Bugis di Kabupaten Wajo dan sejauh mana pengaruh kebangsawanan tersebut dalam masyarakat. struktur kehidupan masyarakat..
Manfaat Penelitian
Nilai
Jadi, nilai adalah sesuatu yang penting, dianggap baik, bernilai tinggi, patut dilaksanakan, patut dicapai, atau setidak-tidaknya dicita-citakan. Berdasarkan perbedaan pendapat mengenai penjelasan nilai di atas, maka dapat dikemukakan suatu pengertian nilai, yaitu: nilai adalah sesuatu yang penting bagi manusia sebagai subjek, dalam kaitannya dengan segala sesuatu yang baik atau buruk sebagai suatu abstraksi, pandangan, atau tujuan dari berbagai pengalaman dengan pemilihan perilaku yang ketat. .
Masyarakat
Misalnya di Bali kaum bangsawan terdiri dari apa yang disebut Tiga Wang, yaitu Brahmana, Ksatria, dan Waisya. Akibat hidup bersama maka terciptalah suatu sistem komunikasi dan aturan-aturan yang mengatur hubungan antar manusia.
Kerangka Pikir
Keinginan untuk terlalu menghormati (prestise) menjadi alasan mereka segera menempatkan gelar bangsawan di depan nama, anak atau keluarganya. Kekuasaan ekonomi, kedudukan, kepandaian, bahkan kekuatan fisik membuat sebagian orang merasa berhak menyandang status setara raja, dan berhak menyandang gelar kebangsawanan, padahal tidak mempunyai darah bangsawan sama sekali.
Jenis Penelitian
Fokus Penelitian
Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Desa Wiringpalennae Kabupaten Wajo dengan jumlah penduduk sebanyak 497 orang, namun populasi penelitian sebanyak 150 orang yang berlatar belakang bangsawan. Sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diteliti yang mewakili keseluruhan populasi yang digunakan untuk memperoleh data yang akurat. Pengambilan sampel dalam penelitian ini sangatlah penting karena mengingat keterbatasan penulis dalam melakukan penelitian terhadap populasi yang besar, maka diharapkan pengambilan sampel tersebut dapat mewakili atau mewakili sejumlah populasi.Jika populasinya besar, ada baiknya diambil sampel yang dianggap representatif dan bila jumlah penduduknya sedikit maka perlu dilakukan survei penduduk.
25 diambil 5-10 ℅ atau 20-25 ℅ atau lebih tergantung kemampuan peneliti dari segi waktu, dana, tenaga dan besarnya resiko dalam penelitian. Mengacu pada pernyataan Arikunto di atas dan berdasarkan pengamatan awal terhadap objek penelitian serta pertimbangan kemampuan, maka penelitian ini akan mengambil sampel sebanyak 10 ℅ dari jumlah populasi atau 15 responden yang akan dijadikan objek dan subjek dalam penelitian. Peneliti menentukan karakter responden dengan alasan bahwa responden mempunyai kapasitas dan kredibilitas sesuai dengan permasalahan penelitian ini dimana mereka dapat memberikan informasi yang akurat.
Instrumen Penelitian
Masyarakat yang paling mengetahui tentang sejarah anakarung (bangsawan) masyarakat Bugis Desa Wiringpalennae Kabupaten Wajo dalam hal ini ada sekitar 15 orang tokoh adat dan masyarakat yang bergelar bangsawan.
Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Sehubungan dengan hal tersebut, penulis menggunakan jenis wawancara dalam penelitian ini, dimana penulis menggunakan pedoman wawancara yang dirancang oleh peneliti. Wawancara ini dilakukan terhadap sejumlah informan atau responden yang dinilai mempunyai pengetahuan yang cukup luas mengenai seluk-beluk kebangsawanan masyarakat Bugis, baik dari segi tokoh masyarakat atau tokoh adat. Wawancara ini juga mencakup orang-orang yang mempunyai nama bangsawan atau orang-orang yang masih memiliki garis keturunan bangsawan di Kabupaten Wajo.
Teknik Analisis Data
Dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data berupa pencatatan hasil wawancara langsung, rekaman dan foto atau gambar di lapangan yang dapat memberikan data penelitian yang lebih akurat. Untuk mengumpulkan data diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi mengenai gelar luhur masyarakat Bugis di Kabupaten Wajo. Mengelompokkan data berdasarkan permasalahan, seperti tingkatan strata bangsawan masyarakat Bugis dan bentuk transformasi gelar bangsawan.
Analisis dilakukan dengan melihat hasil penelitian gelar bangsawan dengan mengadaptasi teori-teori yang berkaitan dengan permasalahan sehingga dapat menghasilkan jawaban dan kesimpulan dari permasalahan yang diteliti.
Validitas Data
Dengan demikian, keamanan data dan jalannya peristiwa dapat terekam secara pasti dan sistematis, karena peneliti dapat mengecek kembali apakah data yang ditemukan itu benar atau tidak. Dengan demikian, ada tiga jenis triangulasi, yaitu triangulasi sumber pertama, yaitu menguji kredibilitas data dengan cara memeriksa data yang diperoleh melalui berbagai sumber. Ketiga, triangulasi waktu, yaitu data yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara pagi, siang, dan malam biasanya akan berbeda.
Apabila tidak ditemukan data yang ganjil atau bertentangan maka data tersebut dapat dipercaya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana data yang diperoleh sesuai dengan yang diberikan oleh penyedia data. Jika data yang ditemukan disetujui oleh penyedia data, maka data tersebut dapat dianggap valid sehingga membuat data lebih kredibel dan sebaliknya.
Hasil Penelitian
Deskripsi umum obyek penelitian a. Letak geografis obyek penelitian
Desa Wiringpalennae, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo dengan kondisi alam berupa dataran rendah, pegunungan dengan pinggiran pantai. Masyarakat setempat telah merasakan manfaat dari pendidikan gratis yang dicanangkan pemerintah Kabupaten, peningkatan mutu pendidikan yang menjadi pilar pembangunan Kabupaten Wajo. Hal ini telah dilaksanakan dan dirasakan oleh Desa Wiringpalennae, Kecamatan Tempe dan Kabupaten Wajo. Sejauh ini perkembangan dunia pendidikan di Desa Wiringpalennae, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak dahulu kala, Desa Wiringpalennae, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo dikenal dengan stratifikasi sosial atau stratifikasi dalam masyarakat. Berdasarkan statistik pemerintah Desa Wiringpalennae Kecamatan Tempe Kabupaten Wajo menunjukkan bahwa mayoritas (100%) masyarakat Desa Wiringpalennae beragama Islam. Namun di sisi lain, masih ada sebagian masyarakat di Kecamatan Wiringpalennae, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, yang masih mempercayai hal-hal gaib atau animisme dan dinamisme.
Pembahasan
Sejarah Singkat Kerajaan Bugis Wajo
Tugas pejabat baharu ini adalah membantu Arung Tjinnotabi' dalam semua urusan kerajaan termasuk penghakiman kes dan sebagainya. Dalam masa yang singkat, La Patiroi berjaya menjadikan kerajaan Tinnotabi' sebuah kerajaan yang besar dan makmur. Sehingga ketika itu terdapat dua orang raja yang menjalankan pemerintahan di Tjinnotabi' seperti sebuah kapal yang dikemudikan oleh dua orang nakhoda.
Masyarakat Tjinnotabi' kemudian mengadukan hal ini kepada La Tenritau, La Tenritipekka dan La Matareng. Tak lama kemudian, La Tenribali dan La Tenritippe' pun meninggalkan kerajaan Tjinnotabi' dan menuju wilayah Sirinjameng dan Saebawi. Sedangkan La Tenritau, La Tenritipekka dan La Matareng masing-masing membuka desa baru di Boli.
Struktur / Stratifikasi Gelar Kebangsawanan Bugis Wajo
Gelar-gelar tersebut bersifat umum, artinya gelar-gelar tersebut digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk kaum bangsawan atau keluarga kerajaan.” Faktor lain yang menjadi pemicu munculnya gelar-gelar bangsawan adalah semakin padatnya penduduk dan banyaknya masyarakat yang menggunakan gelar-gelar tersebut. nama mereka sama dengan kaum bangsawan.48 dikaitkan dengan kaum bangsawan tinggi yang berada pada lapisan ana' mattola sebagai anak-anak yang siap menjadi raja (Arung) di negaranya.
Menurut Andi Syahrazad, Petta Lolo juga merupakan gelar yang diberikan kepada kalangan bangsawan menengah, yakni golongan ana 'cera'. Gelar ini merupakan gelar yang diberikan kepada bangsawan bawah yaitu lapisan tau deceng dan anggota keluarga kerajaan yang masih mempunyai darah bangsawan. Seperti yang dikatakan Andi Sinring, gelar Ambo/Indo juga merupakan gelar yang diberikan kepada golongan bangsawan bawah, yakni golongan tau deceng.
Bentuk-bentuk Transformasi Nilai-nilai Gelar Kebangsawanan Masyarakat Bugis Kabupaten Wajo
Selain kondisi yang telah diuraikan di atas, hasil penelitian juga mengungkapkan adanya proses transformasi pada struktur kebangsawanan masyarakat Bugis Wajo. Munculnya gelar-gelar baru menambah daftar nilai-nilai kebangsawanan yang semakin tergeser pada masyarakat Bugis Wajo saat ini. Andi Rahmat Munawwar mengatakan, hadirnya gelar Andi turut memunculkan gelar-gelar baru di kalangan bangsawan masyarakat Bugis Wajo.
Keadaan ini kemudian memunculkan paradigma baru dalam kehidupan masyarakat saat ini, yang kemudian menyatakan bahwa gelar kebangsawanan yang ada di masyarakat hanyalah Andi, sedangkan gelar-gelar yang sudah ada sebelumnya mulai ditinggalkan dan hanya menjadi gelar-gelar umum di kalangan rakyat jelata. Berdasarkan data yang diperoleh dari wawancara, transformasi gelar bangsawan dapat digambarkan pada skema berikut. Diagram di atas menunjukkan proses transformasi struktur gelar kebangsawanan masyarakat Bugis Wajo dari awal berdirinya hingga saat ini.
Faktor-Faktor Terjadinya Transformasi Nilai-Nilai Gelar Kebangsawanan Masyarakat Bugis Wajo
Kekuasaan ekonomi menjadi faktor seseorang mau membubuhkan gelar bangsawan di depan namanya semaunya. Begitu pula dengan faktor ekonomi, seseorang yang mempunyai kekuasaan atau kedudukan dalam pemerintahan menjadi faktor seseorang sembarangan menyandang gelar mulia pada dirinya tanpa memperhatikan aturan. Sehingga saat ini gelar mulia sudah menjadi gelar umum bagi seluruh jajaran pejabat.
Akibat rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, maka pengetahuan mengenai tata cara membesarkan bangsawan juga sangat minim. Sehingga mereka seenaknya menugaskan kebangsawanan kepada keturunannya, bukan lagi berdasarkan aturan yang ada, melainkan hanya didasari oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dalam masyarakat. Bahkan sebagian dari mereka yang merupakan keturunan bangsawan tidak lagi mencantumkan gelar bangsawan di depan namanya.
PENUTUP
- Kesimpulan
- Saran
- Pertanyaan Untuk Mengetahu Stratifikasi Gelar Kebangsawanan Bugis Wajo
- Pertanyaan Untuk Mengetahui Transformasi Nilai-nilai Gelar Kebangsawanan Bugis Wajo
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya transformasi nilai-nilai keluhuran masyarakat Bugis di Kabupaten Wajo adalah: faktor politik, budaya, ekonomi, emigrasi, kekuasaan/kedudukan dan pendidikan. Diharapkan pemerintah dapat menata kembali tatanan kehidupan budaya masyarakat Bugis Wajo dengan baik dan benar, khususnya aturan yang mengaitkan gelar luhur dengan Kabupaten Wajo. Apakah kekuasaan atau kedudukan ekonomi memberikan hak kepada seseorang untuk menyandang gelar bangsawan meskipun ia bukan keturunan bangsawan?
Apakah orang-orang bangsawan, meski bukan keturunan bangsawan, menggusur nilai-nilai bangsawan lama? Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap stratifikasi dan nilai-nilai Kebangsawanan Masyarakat Bugis di Kabupaten Wajo sebagai warisan budaya leluhur. Apakah orang-orang bangsawan, meski bukan keturunan bangsawan, menggusur nilai-nilai bangsawan lama?