• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur / Stratifikasi Gelar Kebangsawanan Bugis Wajo

Dalam dokumen BASO TAWAKKAL 10538 0192 210 (Halaman 53-60)

B. Pembahasan

2. Struktur / Stratifikasi Gelar Kebangsawanan Bugis Wajo

44

penyelangaraan dan pelanggaran hokum-hukum dan aturan-aturan untuk ditangan oleh Petta Wajo.

Selain lembaga-lembaga Petta Wajo, sebagai pucuk pimpinan pemerintahan tertinggi Tana Wajo, dan Arung Mabbicara sebagai badan legislative Tana Wajo, terdapat lagi lembaga yang disebut Suro ri Bateng.

Anggotanya terdiri dari tiga orang yang berasal dari tiga wanua asal. Surp ri Bateng ini bertugas menyampaikan kepada rakyat hasil-hasil pemufakatan dan perintah dari para paddanreng, menyampaikan kepada rakyat perintah-perintah dari para Bate Lompo, dan menyampaikan kepada rakyat tentang hasil pemufakatan dan perintah dari Petta Wajo.

Jika dijumlahkan, maka seluruh pranata sosial Tana Wajo ini berjumlah empat puluh orang. Mereka adalah badan pemerintahan Tana Wajo yang disebut juga Arung Patappuloe atau disebut juga Puang ri Wajo. Dalam Ade‟ Tana (hokum Negara Tana Wajo) dikatakan bahwa Puang ri Wajo inilah yang Paoppang palengengngi Tana Wajo (yang melungkupkan dan menengadahkan Tana Wajo), artinya Puang ri Wajo atau Arung Patapuloe itulah yang memegan kedaulatan rakyat Wajo.

45

Pelapisan masyarakat Wajo memiliki model tersendiri, dengan satu lapisan diatas anakarung yang disebut ana’ mattola (Anak penyusul / Calon Raja).

Menurut Mattulada (1995:) model pelapisan masyarakat Wajo masa dahulu yaitu sekitar abad XIV s/d permulaan abad XX digambarkan sebagai berikut :

a. ANA’ MATTOLA = Anak penyusul yang dipersiapkan untuk dapat menjadi Arung (Raja) di negerinya, juga dapat menjadi calon Arung Matowa Wajo.

1. Ana’ Mattola 2. Ana’ Sangaji

3. Ana’ Rajeng = Anak Raja a) Ana’ Rajeng Lebbi’

b) Ana’ Rajeng Biasa

4. Ana’ Cera’ = Berdarah campuran a) Ana’ Cera Sawi

b) Ana’ Cera’ Puwa’

c) Ana’ Cera’ Ampulajeng d) Ana’ Cera’ Iyattang Dapureng b. ANAKARUNG = Anak Bangsawan c. TAU DECENG = Orang baik-baik

1. Tau Deceng

2. Tau Deceng Karaja

d. TAU MARADEKA = Orang merdeka

46

1. Tau Maradeka Mannennungeng = Orang merdeka tetap

2. Tau Maradeka Sampengi = Orang merdeka yang berasal dari hamba sahaya yang dimerdekakan

e. ATA = Sahaya

1. Ata mana’ = Sahaya warisan 2. Ata mabuwang = Sahaya baru

Berdasarkan pelapisan masyarakat tersebut, maka dapat digambarkan bahwa golongan bangsawan menempati lapisan yang paling tinggi, yakni mulai dari lapisan a sampai pada lapisan c. Golongan bangsawan terbagi menjadi tiga golongan, yakni : 1) Bangsawan tinggi atau bangsawan murni, yakni golongan bangsawan yang meliputi lapisan a.1 sampai dengan lapisan a.3. 2) Bangsawan menengah, yakni meliputi lapisan a.4 sampai dengan lapisan b. 3) Bangsawan lemah/rendah, yakni hanya meliputi lapisan c.

Menilik sejarah munculnya gelar-gelar kebangsawanan masyarakat Bugis Wajo, bahwa pada awalnya masyarakat Bugis Wajo tidak mengenal gelar-gelar kebangsawanan.

“Andi Rahmat Munawwar menuturkan bahwa pada awalnya, masyarakat hanya mengenal gelar La, I, dan We. Gelar La diberikan kepada kaum laki-laki, sementara gelar I dan We diberikan kepada kaum perempuan.

Gelar-gelar ini bersifat umum, artinya gelar-gelar ini digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk golongan bangsawan atau keluarga kerajaan”. “Andi Syahrazad juga mengungkapkan bahwa masyarakat biasa dan golongan bangsawan hanya dibedakan oleh nama yang mereka gunakan. Masyarakat biasa tidak boleh menggunakan nama yang sama dengan nama yang digunakan oleh golongan bangsawan”. (Wawancara 13 Oktober 2014)

Jadi, meskipun belum mengenal gelar-gelar kebangsawanan, masyarakat mudah mengenali golongan bangsawan dari namanya. Hal ini juga dikarenakan

47

populasi masyarakat pada awal-awal kerajaan Wajo masih sangatlah sedikit sehingga masyarakat tidaklah terlalu sulit untuk mengenali golongan bangsawan.

Gelar-gelar kebangsawanan mulai muncul pada saat kerajaan Wajo mengenal sistem pemerintahan dan adanya pelapisan masayarakat seperti yang telah digambarkan pada pembahasan sebelumnya. Faktor lain yang memicu munculnya gelar-gelar kebangsawanan adalah populasi masyarakat yang semakin padat dan banyaknya masyarakat yang menggunakan nama yang sama dengan golongan bangsawan. Sehingga masyarakat mulai sulit membedakan antara masyarakat biasa, bangsawan tinggi, bangsawan menengah, dan bangsawan rendah dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Hal inilah yang kemudian mendorong masyarakat untuk memberikan gelar-gelar kebangsawanan kepada keluarga kerajaan sebagai bentuk penghormatan dan untuk membedakan mereka dengan masyarakat biasa.

Gelar-gelar kebangsawanan yang disandang oleh seseorang tidaklah diberikan begitu saja. Akan tetapi, gelar kebangsawanan mempenyai nilai atau arti yang sangat penting diberikan sesuai dengan tingkatan kebangsawanan seperti yang telah digambarkan pada pelapisan masyarakat Wajo di atas.

Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara, bahwa gelar-gelar kebangsawanan memiliki struktur atau tingkatan mulai dari gelar yang paling tinggi sampai pada gelar yang paling rendah. Berikut struktur atau tingkatan gelar- gelar kebangsawanan masyarakata Bugis Wajo :

1. Datu

“Andi Syaiful mengungkapkan bahwa gelar Datu merupakan gelar tertinggi dalam struktur gelar kebangasawanan masyarakat Wajo. Gelar

48 ini disematkan kepada golongan bangsawan tinggi yang berada pada lapisan ana’ mattola sebagai anak yang dipersiapkan untuk menjadi seorang raja (Arung) di negerinya. Akan tetapi, seorang ana’ mattola baru bisa disematkan gelar ini jika sang ayah yang menjabat sebagai raja meninggal dunia atau turun tahta. Kalau sekiranya sang raja memiliki lebih dari satu anak, maka hanya ada satu anak yang disebut sebagai ana’

amttola dan dialah yang berhak menyandang gelar Datu’ nantinya.Selain sebagai gelar kebangsawan” (Wawancara 15 Oktober 2014)

“A. Sinring mengungkapkan bahwa gelar Datu juga merupakan gelar jabatan yang disematkan kepada seorang raja yang memimpin wilayah kedatuan pada kerajaan Wajo. Pada masa kerajaan, Wajo memiliki tiga wilayah kedatuan yang dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Datu.

Ketiga wilayah itu adalah kedatuan Tempe, kedatuan Pammana, dan kedatuan Gilireng. Istilah lain dari gelar Datu adalah datu sengngeng (datu 100%), datu bonynyok, ataupun datu maddara takku. Seseorang yang akan diangkat sebagai Datu’ itu harus pula berasal keturunan Datu’

murni.” (Wawancara 15 Oktober 2014) 2. Bau

Gelar lain yang sering digunakan untuk lapisan bangsawan adalah Bau’.

Bau’ adalah sebutan penghormatan seorang abdi kepada bangsawan tinggi.

“Andi Rahmat Munawwar mengungkapkan, gelar Bau’ ini merupakan pengaruh dari kerajaan Melayu yang juga banyak menggunakannya sebagai gelar kebangsawanan di daerahnya. Arti harfianya sendiri adalah harum atau “yang diharumkan”. Di Wajo, gelar Bau disematkan kepada para anak-anak raja atau lapisan anak sangngaji. Akan tetapi, anak sangngaji yang dimaksud disini adalah hasil perkawinan antara raja Bugis dengan raja Makassar.” (Wawancara 13 Oktober 2014)

3. Petta Bau

Petta Bau masih merupakan gelar kepada golongan bangsawan tinggi.

Gelar ini disematkan kepada lapisan ana’ rajeng .

“Andi Sinring mengungkapkan, meskipun secara garis darah gelar ini hanya berada satu tingkat dibawah Bau’, akan tetapi bangsawan yang menyandang gelar ini tidak dapat diangkat menjadi Bau ataupun Datu.

Kecuali melalui jalur jabatan, bisa saja Petta Bau diangkat menjadi Datu.” (Wawancara 15 Oktober 2014)

49

4. Petta Lolo

“Menurut Andi Syahrazad, Petta Lolo juga gelar yang disematkan kepada golongan bangsawan menengah, yakni golongan ana’ cera’. Lapisan ini masuk dalam golongan bangsawan menengah karena seorang bangsawan tinggi menikah dengan perempuan yang berasal dari golongan masyarakat biasa, sehingga darah kebangsawanan dalam dirinya sudah sedikit turun, dalam istilah Bugisnya disebut malawi.”(Wawancara 13 Oktober 2014)

5. Petta

Petta masih merupakan gelar yang disematkan kepada golongan bangsawan menengah, yakni lapisan ana’ karung.

“Andi Sinring menuturkan bahwa lapisan ini dikategorikan sebagai bangsawan menengah karena bangsawan tinggi atau menengah menikah dengan perempuan yang berasal dari golongan masyarakat biasa, sehingga darah kebangsawanan dalam dirinya mulai kabur.”(Wawancara 15 Oktober 2014)

6. Baso/Besse

“Menurut Andi Sinring, Gelar Baso/Besse ini banyak digunakan oleh masyarakat yang berada di daerah Majauleng. Gelar ini merupakan gelar yang diberikan kepada golongan bangsawan rendah, yakni lapisan tau deceng dan kerabat kerajaan yang masih memiliki darah kebangsawanan.

Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh Andi Syaiful yang mengatakan bahwa khusus di Wajo, gelar Baso/Besse merupakan gelar bangsawan lemah, beda halnya dengan kerajaan Bone dan Soppeng yang menganggap gelar ini adalah gelar untuk bangsawan tinggi.”

(Wawancara 15 Oktober 2014) 7. Daeng

“Andi Syahrazad menuturkan, sama dengan gelar Baso/Besse, gelar Daeng juga merupakan gelar yang disematkan kepada bangsawan rendah, yakni tau deceng. Menurut Andi Rahmat Munawwar, gelar ini baru bisa diberikan kepada seseorang setelah menikah. Jika sebelum menikah seseorang bernama La Muhammad, maka setelah menikah ditambah dengan “ Daeng Parani” dan namanya menjadi “La Muhammad Daeng Parani”. Begitupun dengan nama perempuan.

Biasanya nama asli itu harus sesuai dengan nama tambahan Daeng itu.”

(Wawancara 13 Oktober 2014)

50

8. Ambo/Indo

“Seperti yang diungkapkan oleh Andi Sinring, gelar Ambo/Indo ini juga merupakan gelar yang disematkan kepada golongan bangsawan rendah, yaitu golongan tau deceng. Golongan tau deceng adalah orang-orang yang tidak pernah mengalami perbudakan. Selain itu, tau deceng juga dapat diartikan sebagai orang-orang yang masih memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan. Menurut Andi Rahmat Munawwar, gelar ini melekat di depan nama seseorang sebagai simbol kebangsawanan, misalnya Ambo Dalle. Namun, gelar ini akan bersifat sapaan jika penyebutannya mengikut pada nama anak tertua seseorang, mislanya Ambo’ne Siraje’. Maka gelar Ambo pada nama tersebut hanya berfungsi sebagai sapaan umum saja. Artinya orang tersebut dipanggil bukan dengan nama aslinya, melainkan menyebutkan nama anak tertuanya.”

(Wawancara 13 dan 15 Oktober 2014)

Gelar-gelar kebangsawanan bangsawan tersebut pada dasarnya bukanlah merupakan aturan atau ketentuan yang ditetapkan oleh kerajaan, melainkan gelar- gelar tersebut menjadi sebuah aturan yang bersifat konvensional oleh masyarakat Wajo.

“Menurut Andi Sinring, seorang raja ataupun bangsawan tidaklah pernah memberikan gelar sendiri kepada anak-anaknya ataupun keluarganya.

Masyarakat sendirilah yang kemudian menyematkan gelar tersbut sesuai dengan tingkatan darah kebangsawanannya sebagai bentuk penghormatan. Meskipun bukan merupakan ketetapan dari kerajaan, masyarakat sangatlah mensakralkan penggunaan gelar-gelar kebangsawanan tersebut. Gelar kebangsawanan itu tidaklah diberikan secara semena-mena atau sesuka hati kepada siapa saja yang diinginkan.” (Wawancara 15 Oktober 2014)

Akan tetapi, aturan yang dibuat oleh masyarakat ini kemudian mendapat pengakuan dari pihak kerajaan sebagai sebuah aturan adat istiadat yang harus diataati. Terbukti, pada masa itu pihak kerajaan membentuk sebuah lembaga yang disebut lembaga pattimbang dara yang artinya Lembaga Penimbang

Darah. Lembaga ini bertugas menghitung presentase darah kebangsawanan seseorang dan menentukan gelar yang pantas disematkan

51

kepadanya setelah dilakukan perhitungan. Lembaga pattimbang darah ini berada dibawah wewenang Petta Bettempola. Pada masa pemerintahan Belanda, lembaga ini berubah nama menjadi Komisi Stanboom.

3. Bentuk-bentuk Transformasi Nilai-nilai Gelar Kebangsawanan

Dalam dokumen BASO TAWAKKAL 10538 0192 210 (Halaman 53-60)