B. Pembahasan
1. Sejarah Singkat Kerajaan Bugis Wajo
37
38
nasehat-nasehat atau petuah-petuah. Sehingga orang-orang menamai dia Puangnge Ri Lapulungeng.
Semakin lama tempat itu semakin ramai dan wilayahnyapun semakin sempit. Akhirnya Puangnge ri Lapulungeng memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. dan pergi di suatu tempat yang tidak jauh dari penggir laut. Disana, ia kembali membangun kehidupan masyarakat yang baru. Tempat itu kemudian dinamai Sirinjameng. Selama tinggal di tempat baru itu, Puangnge ri Lapulungeng sering kali mengendarai seekor babi besar saat pergi ke kebunnya, sehingga disana terdapat tempat yang dinamai Saebawi (pengendara babi). Hinggah akhirnya Puangnge ri Lapulungeng wafat.
Sepeninggal Puangnge ri Lapulungeng, tidak ada lagi yang meemberikan nasehat dan petuah-petuah kepada masyarakat Sirinjameng. Keadaan tempat tersebut menjadi kacau balau, banyak terjadi penganiayaan, pencurian, pembunuhan dan perselisihan-perselisihan diantara rakyat Sirinjameng. Sehingga akhirnya mereka itu berpindah ke tempat lain dan mendirikan perkampungan- perkampungan baru, seperti Sekkanasu, Wewangtana dan Belogalung.
Tidak lama kemudian, muncul lagi seseorang yang sakti tidak jauh dari perkampungan-perkampungan sebelumnya. Orang itu dinamai Puangnge ri Timpengeng. Dia mendirikan sebuah perkampungan baru yang dinamai Boli.
Perkampungan itu juga termasuka daerah yang sangat ramai dan makmur. Bahkan Puangnge ri Timpengeng sudah mulai banyak mengadakan permusyawaratan dengan rakyat didalam segala usaha-usaha untuk memajukan pertanian, perikanan, dan lain-lainnya untuk rakyatnya. Kemudian setelah Puangnge ri
39
Timpereng meninggal dunia, kampung Boli pun rusak dan kacau, banyak rakyat Boli pergi ke tempat lain yang lebih aman. Hal ini disebabkan karena tidak ada lagi orang seperti Puangnge ri Timpereng yang dapat memimpin mereka.
Beberapa waktu kemudian, setelah Boli kacau, maka datangalah seorang bernama La Paukke‟, putra dari Datu Tjina bersama pengikutnya-pengikutnya pergi bermukim di dikampung Tjinnota’bangka yang kemudian menjadi Tjinnotabi‟. Ia bersama pengikutnya dari Tjina membuka kehidupan baru di tempat itu dan akhirnya La Paukke diangkat oleh rakyatnya menjadi raja yang pertama di Tjinnotabi’. Raja La Paukke memperistrikan seorang perempuan bernama I Pattola Arung Sailong dari daerah Bone, yaitu cucu dari Arung Mampu yang juga berasal dari daerah Bone. Dari perkawinannya itu lahir seorang putri yang bernama I Pannangareng. Ia kemudian diperistrikan oleh La Matatikka, saudara dari Datu Luwu yang bernama La Mallalae.
Setelah La Paukke menginggal dunia, maka I Pannangareng menggantikan ayahnya menjadi Arung Tjinnotabi’. Setelah I Pannangareng pun wafat, maka beliau digantikan oleh putirnya yang bernama I Tenrisui sebagai Arung Tjinnotabi’. Raja ini diperistrikan oleh La Radjallangi‟ Topatiroi, putra dari Datu‟
Babaue dari daerah Bone. Dari perkawinan itu lahir tiga orang putra, yaitu La Patiroi, La Pawawoi, dan La Patongai. La Radjallangi‟ yang bertindak sebagai wakil dari istrinya mulai mengangkat seorang pejabat yang bergelar Matoa Pabbicara di Tjinnotabi‟. Tugas dari pejabat baru ini ialah untuk membantu Arung Tjinnotabi’ didalam segala urusan-urusan pemerintahan, antara lain mengadili perkara-perkara dan lain sebagainya.
40
Kemudian setelah La Radjallangi‟ dan istrinya wafat, maka La Patiroi dipilih menjadi Arung Tjinnotabi’. Beliau memperistri I Tenriwawo putri Datu Babaue. Dari perkawinan itu lahir dua anak laki-laki, yang sulung bernama La Tenribali dan yang bungsu bernama La Tenritippe‟. Dalam waktu yang singkat saja, La Patiroi berhasil menjadikan kerajaan Tjinnotabi’ sebagai sebuah kerajaan yang besar dan makmur. Namun tidak lama ia memimpin kerajaan Tjinnotabi’, Arung La Patiroi pun wafat. Rakyat Tjinnotabi’ kemudian memilih La Tenribali dan La Tenritippe‟ sebagai raja di Tjinnottabi’. Sehingga pada waktu itu ada dua raja yang mengemudikan pemerintahan di Tjinnotabi’ laksana sebuah kapal yang dikemudikan oleh dua nahkoda.
Namun, kondisi pemerintahan yang dijalankan oleh dua raja tersebut tidak berjalan dengan baik. Kedua raja bersaudara itu sering terlibat dalam perselisihan dan kesalah fahaman satu sama lain. Keadaan itu berlangsung terus menerus sehingga kepentingan masyarakat mulai terabaikan dan disia-siakan oleh La Tenritippe‟. Ia memutuskan perkara-perkara tanpa mendengarkan keterangan- keterangan dari orang-orang yang berperkara dan saksi-saksinya. Oleh karena itu timbullah keluhan-keluhan dari rakyat. Orang-orang Tjinnotabi‟ kemudian mengadukan hal tersebut kepada La Tenritau, La Tenritipekka dan La Matareng.
Ketiganya itu merupakan sepupu sekali dari La Tenribali dan La Tenritippe‟.
Ketiga orang tersebut pergi menasehati La Tenritippe‟, akan tetapi La Tenritippe‟
tidak mengindahkan nasehat-nasehat itu, bahkan ia menjadi marah. Rakyatpun semakin tidak senang dengan rajanya itu.
41
Melihat suasana negeri yang semakin buruk, La Tenritau, La Tenritipekka dan La Matareng memutuskan untuk meninggalkn Tjinnotabi‟. Mereka berangkat menuju Boli dan Sarinjameng, diikuti oleh Matowa Pa’bitjara, orang tua, anak- anak, orang baik-baik dan sebagainya. Disanalah mereka kembali menata kehidupan masyarakat yang lebih aman dan sejahtera.
Tidak lama kemudian, La Tenribali dan La Tenritippe‟ juga meninggalkan kerajaan Tjinnotabi’ dan pergi ke daerah Sirinjameng dan Saebawi. Disana mereka membuka sawah, kebun, menangkap ikan, menadah tuak dan sebagainya.
Mereka kemudian mendirikan negeri baru yang dinamai Penrang. Kemudian La Tenribali dipilih oleh rakyatnya menjadi Arung Penrang. Dan waktu itu Tjinnotabi‟ menjadi kosong, tidak lagi merupakan negeri yang berpemerintahan.
Sementara La Tenritau, La Tenritipekka dan La Matareng masign-masing membuka dan mendirikan sebuah perkampungan baru di Boli. Ketiga perkampungan itu disebut Majauleng, Sabbamparu, dan Takkalala. Dan ketiganya pun masing-masing menjadi raja di daerah tersebut. Lama kelamaan ketiga perkampungan tersebut menjadi besar dan makmur. Ketiga perkampungan tersebut merupakan satu kesatuan yang erat hubungannya satu sama lain dan disebut Liputellu kajuru’na ( sebuah negeri yang terdiri dari tiga bahagian).
Setelah beberapa tahun berselang maka La Tenritau, La Tenritipekka dan La Matareng bersama rakyat di Boli khawatir terjadi perselisihan atau peperangan diantara mereka seperti yang pernah terjadi di Tjinnotabi‟. Oleh karena itu mereka bermufakat memanggil kembali La Tenribali Arung Penrang untuk diangkat menjadi Arung Mataesso di Boli selaku pemimpin dan juru pisah bagi raja-raja
42
dan rakyat disana. Matowa Pa’bicara bersama orang-orang terkemuka berangkat ke Penrang menemui La Tenribali. merekapun menyampaikan niatnya kepada Arung Penrang. La Tenribali tidak keberatan atas permintaan itu, maka ia pun bergegas berangkat ke Boli menemui ketiga sepupunya itu.
Dua hari kemudian, berkumpullah La Tenritau, La Tenritipekka dan La Matareng yang mana ketiganya telah terlebih dahulu mengangkat dirinya sebagai Pa’danreng bersama seluruh rakyat di Majauleng. Mereka kemudian melantik La Tenribali menjadi Arung Mataesso dengan diberi gelar “Batara Wajo”.
Pelantikan itu berlangusng di bawah sebatang pohon bajo yang besar, sehingga mulai saat itu nama Boli diubah menjadi Wajo. Sementara tiga perkampungan yang merupakan cikal bakal lahirnya kerajaan Wajo berganti nama. Majauleng menjadi Bettempola, Sa‟bamparu menjadi Talo‟tenreng, dan Takkalalla menjadi Tua‟.
Raja besar yang pertama dipilih dan diangkat untuk kerajaan Wajo digelar Batara Wajo. Beliau didampingi oleh tiga orang raja yang masing-masing digelar Pa’danreng, kemudian disebut Ranreng, yaitu Pa’danerng Bettempola, Pa’danreng Talo’tenreng, dan Pa’danreng Tua. Setelah tiga raja yang digelar Batara Wajo beturut-turut mengendalikan tampuk pemerintahan di Wajo, maka kerajaan Wajo mulai dipimpin oleh seorang raja yang digelar Arung Matoa Wajo, yaitu yang bernama La Palewo Topalipung, putra dari Pa‟danreng Talo‟tenreng.
Tanah Wajo adalah sebuah Republik Aristokrasi yang diperintah oleh seorang ketua republik yang disebut Arung Matoa Wajo (Raja yang tua di Wajo).
Dalam menjalankan kepemimpinannya, Arung Matoa Wajo didampingi oleh tiga
43
orang Paddanreng atau ranreng (kembaran), yaitu Paddanreng Bettempola, Paddanreng Talo‟tenreng, dan Paddanreng Tua‟. Ketiga orang Paddanreng itu adalah kepala-kepala pemerintahan negeri bawahan yang membentuk Tana Wajo.
Disamping ketiga Paddanreng tersebut, terdapat lagi tiga orang pejabat tinggi Tana Wajo yang disebut Pabbate Lompo atau Bate Lompo, yaitu Bate‟ Lompo Betteng Pola yang bergelar Pilla‟ (merah), Bate‟ Lompo Talo‟tenreng yang bergelar Patola (aneka warna), dan Bate‟ Lompo Tua‟ yang bergelar Cakkuridi‟
(Kuning).
Gelar-gelar itu sesuai dengan warna Bate‟ atau Panji masing-masing. Pada permulaannya, mereka bertugas khusus untuk urusan-urusan keamanan dan peperangan dalam wilayahnya masing-masing. lamabat laun karena pertumbuhan kepentingan administrasi kekuasaan, maka merekapun ikut menjalankan pemerintahan dan bertugas laksana menteri-menteri pembantu Arung Matoa.
Ketiga orang Paddanreng bersama-sama tiga orang Bate‟ Lompo, merupakan sebuah dewan yang disebut Arung Ennengnge atau Petta Ennengnge.
Bilamana Arung Matoa ikut hadir dalam dewan itu, maka ketujuhnya diseut Petta Wajo, atau pertuanan Tana Wajo sebagai pucuk pimpinan kekuasaan Tana Wajo.
Dibawah Petta Wajo terdapat sebuah lembaga yang disebut Arung Mabbicara, jumlahnya tiga puluh orang, masing-masing sepuluh orang menjadi pendamping dari masing-masing Paddanreng. Lembaga Arung Mabbicara ini, dapat dianggap sebagai parlemen Tana Wajo, yang bertugas ; a) Maddette‟ bicara, atau menetapkan hukum-hukum atau undang-undang, b) Mattetta, mappano‟ pate‟
bicara, atau mengawasi, mengusulkan dan menyampaikan hal ikhwal tentang
44
penyelangaraan dan pelanggaran hokum-hukum dan aturan-aturan untuk ditangan oleh Petta Wajo.
Selain lembaga-lembaga Petta Wajo, sebagai pucuk pimpinan pemerintahan tertinggi Tana Wajo, dan Arung Mabbicara sebagai badan legislative Tana Wajo, terdapat lagi lembaga yang disebut Suro ri Bateng.
Anggotanya terdiri dari tiga orang yang berasal dari tiga wanua asal. Surp ri Bateng ini bertugas menyampaikan kepada rakyat hasil-hasil pemufakatan dan perintah dari para paddanreng, menyampaikan kepada rakyat perintah-perintah dari para Bate Lompo, dan menyampaikan kepada rakyat tentang hasil pemufakatan dan perintah dari Petta Wajo.
Jika dijumlahkan, maka seluruh pranata sosial Tana Wajo ini berjumlah empat puluh orang. Mereka adalah badan pemerintahan Tana Wajo yang disebut juga Arung Patappuloe atau disebut juga Puang ri Wajo. Dalam Ade‟ Tana (hokum Negara Tana Wajo) dikatakan bahwa Puang ri Wajo inilah yang Paoppang palengengngi Tana Wajo (yang melungkupkan dan menengadahkan Tana Wajo), artinya Puang ri Wajo atau Arung Patapuloe itulah yang memegan kedaulatan rakyat Wajo.