• Tidak ada hasil yang ditemukan

Batu Ginjal

N/A
N/A
Muhammad Rizal Zaelani

Academic year: 2024

Membagikan " Batu Ginjal"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Muhammad Rizal Zaelani Nim : 220106170

Kelas : FA 22-4A

RESUME FARMAKOTERAPI RED CASE 1 BATU GINJAL

Definisi

Penyakit batu ginjal (nefrolitiasis) merupakan pembentukan materi keras pada ginjal seperti batu yang berasal dari mineral dan garam. Batu ginjal dapat terjadi pada ginjal, ureter, kandung kemih, serta uretra.

Etiologi

Secara garis besar penyebab pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa factor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik diantarnya berupa keturunan, umur, dan jenis kelamin, sedangkan faktor ekstrinsik diantaranya yaitu meliputi kondisi geografis, iklim, zat yang terkandung dalam urin, kebiasaan makan, dan pekerjaan.

Terapi Farmakologi

 Analgesik ( ibu profen )

Dosis : Dewasa dan anak usia >12 tahun: 200– 400 mg, tiap 4–6 jam sekali sesuai kebutuhan. Dosis tidak melebihi 1.200 mg per hari

Anak usia ≥6 bulan sampai ≥12 tahun:

4–10 mg/kgBB per 1 kali minum, tiap 6–8 jam sekali. Dosis maksimal adalah 40 mg/kgBB per hari.

 Thiazide

Dosis : Dosis umum adalah 25-50 mg per hari, diberikan sekali atau dibagi menjadi dua dosis

 Alfa-blocker (Tamsulosin)

Dosis : 0,4 mg per oral satu kali sehari

 Terapi dengan SWL (Litotripsi gelombang kejut)

menggunakan denyut akustik berenergi tinggi (gelombang kejut) yang dihasilkan di luar tubuh untuk memecah batu di dalam ginjal dan ureter. Dengan demikian, SWL merupakan satu-satunya metode non invasif yang tersedia untuk menghilangkan batu.

Terapi Non farmakologi

 Hidrasi yang Cukup

 Olahraga Teratur

 Diet Sehat

 Pengaturan Kebiasaan Buang Air Kecil

 Pencegahan Pembentukan Batu

(2)

Pertanyaan

1. Kenapa memilih antara diklofenak dan ibuprofen mana yang lebih efektif diklofenak atau ibuprofen, dan berapa lama digunakan NSAID dalam batu ginjal sebagai terapi?

 Diklofenak sering kali dianggap lebih efektif untuk meredakan nyeri kolik ginjal yang lebih berat dibandingkan ibuprofen, karena memiliki efek antiinflamasi yang lebih kuat.

 Ibuprofen mungkin lebih baik untuk kasus nyeri yang lebih ringan hingga sedang, atau pada pasien yang mungkin lebih berisiko mengalami efek samping gastrointestinal atau yang membutuhkan pengobatan jangka pendek.

penggunaan NSAID umumnya tidak lebih dari 10 hari untuk menghindari risiko efek samping dan disesuaikan berdasarkan respons klinis pasien.

2. Diuretic digunakan Ketika batu ginjal nya seperti apa?

 Diuretik, khususnya diuretik thiazide, digunakan untuk mengatasi batu ginjal yang disebabkan oleh kelebihan kalsium. Obat ini meningkatkan produksi urine dan mengurangi penyerapan kalsium, membantu mengeluarkan batu kecil melalui saluran kemih. Diuretik juga berfungsi mencegah pembentukan batu ginjal berulang. Namun, penggunaannya harus sesuai resep dokter, terutama untuk pasien dengan kondisi tertentu. Jika batu ginjal cukup besar atau menyebabkan sumbatan, intervensi medis mungkin diperlukan.

3. Apa pertimbangan tidak menggunakan alpha bloker?

 Berikut beberapa pertimbangan mengapa alpha blocker mungkin tidak direkomendasikan:

• Ukuran Batu Ginjal: Jika batu ginjal sangat besar atau menyebabkan penyumbatan total, alpha blocker mungkin tidak efektif.

• Lokasi Batu Ginjal: Posisi batu ginjal juga mempengaruhi efektivitas alpha blocker. Jika batu terletak di bagian atas saluran kemih, obat ini mungkin kurang efektif dalam mendorong batu turun.

• Kondisi Kesehatan Lain: Pasien dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti tekanan darah rendah, penyakit jantung, atau gangguan hati, mungkin perlu menghindari atau memodifikasi dosis alpha blocker.

4. Apa perlu dimasukin gelombang kejut dan pm cl dalam farmakologi?

 Litotripsi gelombang kejut (SWL) telah terbukti menjadi pengobatan yang sangat efektif untuk menghilangkan batu ginjal. Gelombang kejut (SW) dapat digunakan untuk memecahkan sebagian besar jenis batu, dan karena litotripsi adalah satu satunya pengobatan non-invasif untuk batu saluran kemih SWL dianggap sebagai pilihan untuk pengobatan hampir semua jenis batu di lokasi anatomi mana pun.

Namun, ahli urologi segera mengetahui bahwa saluran kemih memiliki kemampuan terbatas untuk membersihkan pecahan batu dan bahwa penyumbatan ureter dapat terjadi jika massa serpihan batu terlalu tinggi. Dengan demikian, SWL sekarang digunakan untuk mengobati batu soliter yang tidak rumit, atau beban batu gabungan berukuran kurang dari 2 cm yang terletak di saluran kemih bagian atas (pelvis ginjal atau ureter proksimal).

(3)

GLOMERULONEFRITIS Definisi

Glomerulonefritis adalah suatu terminology umum yang menggambarkan adanya inflamasi pada glomerulus, ditandai oleh proliferasi sel–sel glomerulus akibat proses imunologi. Glomerulonefritis terbagi atas akut dan kronis. Glomerulonefritis merupakan penyebab utama terjadinya gagal ginjal tahap akhir dan tingginya angka morbiditas pada anak maupun pada dewasa.

Etiologi Infeksi

● Bakteri, Virus, Parasit, Jamur Non Infeksi

● Vaskulitis, Penyakit kolagen-vaskular, Vaskulitis Hipersensitivitas, Krioglobulinemia, Poliarteritis nodosa, Henoch-Schönlein purpura, Sindrom Goodpasture.

Paling umum infeksi oleh bakteri Streptococcus.

Terapi Farmakologi

 Penicilin G (Antibiotik)

Dosis : Dws 300,000-900,000 u/hr terbagi dlm 1-2 dosis. Anak 10,000 u/kgBB/hr.

 Furosemide (Diuretik) Dosis : 40 mg/hari

 Parasetamol (Antinyeri)

Dosis : 500 – 1.000 mg atau 10-15 mg/kgBB, setiap 4-6 jam

 Amlodipine (Antihipertensi)

Dosis : Dewasa: Dosis awal 5 mg, 1 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan berdasarkan kondisi dan respons pasien terhadap pengobatan setelah 1–2 minggu. Dosis maksimal 10 mg 1 kali sehari. Anak-anak usia 6–17 tahun: Dosis awal 2,5 mg, 1 kali sehari

 Metformin (Antidiabetes)

Dosis : Awal 500-850 mg 1-3 kali sehari, secara bertahap tingkatkan. dengan interval minimal 1 minggu.

 Prednison (Kortikosteroid)

Dosis : Awalnya, 200 mg setiap hari selama 1 minggu, diikuti dengan 80 mg setiap hari selama 1 bulan.

Terapi Non farmakologi - Diet Sehat - Aktivitas Fisik - Manajemen Cairan - Pengelolaan Stres

(4)

UREMIA Definisi

Uremia adalah kondisi klinis yang berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal dan ditandai dengan kelebihan cairan, ketidakseimbangan elektrolit, kelainan metabolik, dan perubahan fisiologis

Etiologi

Uremia terjadi akibat berbagai kondisi yang menyebabkan kerusakan ginjal. Penyebabnya bisa berasal dari gangguan ginjal primer, gangguan sistemik dan Cedera ginjal akut

- Gangguan Ginjal Primer : Nefropati IgA, Glomerulosklerosis segmental fokal, Glomerulonefritis membranoproliferatif dan Penyakit ginjal polikistik.

- Gangguan Sistemik yang Merusak Ginjal : Diabetes Mellitus (penyebab utama di AS), Hipertensi, Lupus Eritematosus Sistemik, Mieloma multipel, amiloidosis, dan Penyakit membran dasar antiglomerulus.

- Cedera Ginjal Akut : Peningkatan mendadak urea dan kreatinin dan Retensi zat toksik uremik.

- Penyebab Utama Global : Diabetes (utama di negara maju) dan Glomerulonefritis (utama di negara berkembang).

Terapi Farmakologi

 ACE Inhibitor >> Lisinopril Dosis : 2,5 mg sekali sehari

 Diuretik Tiazid >> Hidroklorotiazid

Dosis : Dewasa: 25-100 mg setiap hari dalam 1-2 dosis terbagi. Maksimal: 200 mg setiap hari. Dosis dapat diberikan pada hari alternatif atau pada 3-5 hari setiap minggu.

Lansia: >65 tahun Awalnya, 12,5 mg setiap hari, titrasi seperlunya dalam peningkatan 12,5 mg.

 Vitamin D >> Calcitriol(Terapi Supportive) Dosis : 0,25 mg setiap hari 2x sehari

Terapi Non Farmakologi - Diet rendah protein

- Diet rendah garam dan kalium - Kontrol asupan cairan

- Latihan fisik teratur

- Manajemen stress dan dukungan psikologis - Hemodialisis

- Transplantasi Ginjal - Hemodialisis (Cuci darah) - Transplantasi Ginjal

(5)

KETOASIDOSIS DIABETIKUM Definisi

Ketoasidosis diabetik (KAD), yang dikenal juga sebagai ketoasidosis diabetikum atau diabetic ketoacidosis, adalah komplikasi kegawatdaruratan akibat diabetes melitus (DM) tidak terkontrol. Ketoasidosis diabetik juga merupakan kondisi medis berupa tingginya kadar keton di dalam tubuh. Akibatnya, tubuh akan membakar lemak untuk dijadikan sebagai energi dan menghasilkan asam darah atau keton.

Etiologi

Etiologi ketoasidosis diabetik (KAD) atau diabetic ketoacidosis yang paling sering adalah infeksi, pada keadaan infeksi, kebutuhan tubuh akan insulin tiba-tiba meningkat. Infeksi yang biasa dijumpai adalah infeksi saluran kemih dan pneumonia. Jika ada keluhan nyeri abdomen, perlu dipikirkan kemungkinan kolesistitis, iskemia usus, appendisitis, diverkulitis atau perforasi usus.

Terapi Farmakologi

 Natrium sitrat

Dosis : Larutan sirup (Polycitra) (Polycitra-L (keduanya mengandung 550 mg K sitrat, 500 mg Na sitrat, 334 mg asam sitrat/5 mL)

 Natrium bikarbonat

Dosis : Larutan (500 mg Na sitrat, 334 mg asam sitrat/ 5 ml

 Kalium sitrat

Dosis : Larutan (1100 mg K, sitrat, 334mg asam sitrat / 5 ml

 Insulin asparat

Dosis : 0,3 iu (0,4 – 0,6 iu)/ kgBB

 Larutan saline (Ringer ′s lactate)

Dosis : diberikan dengan laju awal 15-20 ml/kg/jam dalam 1-2 jam pertama untuk dehidrasi akut , dilanjutkan dengan 250-500 ml/ jam berdasarkan respon klinis pasien Terapi Non Farmakologi

- Edukasi Pasien - Dukungan Psikologis - Terapi Komplementer Pertanyaan

1. Apa yang menyebabkan pasien asidosis metabolik napasnya pendek dan mual muntah?

Pada pasien dengan asidosis metabolik, seperti pada ketoasidosis diabetik, napas pendek atau sesak dan gejala mual-muntah dapat muncul karena ketidakseimbangan pH dalam darah. Dalam kondisi asidosis, tubuh menghasilkan asam berlebih atau kekurangan basa, menyebabkan pH darah turun di bawah normal. Akibatnya, sistem pernapasan mencoba mengimbangi dengan meningkatkan laju pernapasan untuk mengeluarkan lebih banyak karbon dioksida (CO2), yang bersifat asam, guna meningkatkan pH darah. Respons ini, yang disebut pernapasan Kussmaul, menghasilkan napas cepat dan dalam, meskipun pasien mungkin tetap merasa sesak atau tidak nyaman karena ketidakseimbangan tersebut. Gejala mual dan muntah

(6)

disebabkan oleh peningkatan keton dalam darah pada kondisi seperti ketoasidosis.

Ketidakseimbangan ini dapat merangsang area tertentu di otak yang memicu mual dan muntah, serta mengakibatkan perasaan lelah dan lemah

2. Untuk mencapai ph 7.4 yg normal evaluasi apa yg bisa diberikan?

Untuk manajemen asidosis pada pasien dengan diabetic ketoacidosis (DKA) untuk mencapai pH yang lebih mendekati normal (sekitar 7,4), penggunaan larutan saline atau kristaloid seimbang (seperti Ringer’s lactate atau Plasma-Lyte) sering kali direkomendasikan. Kedua larutan ini dapat membantu memperbaiki kondisi asidosis melalui rehidrasi dan pemulihan keseimbangan elektrolit. Biasanya, normal saline 0,9%

diberikan dengan laju awal 15-20 mL/kg/jam dalam 1-2 jam pertama untuk mengatasi dehidrasi akut, dilanjutkan dengan 250-500 mL per jam berdasarkan respon klinis pasien.

3. DM tipe berapa yang berhubungan dengan asidosis metabolik?

Diabetes mellitus (DM) tipe 1 lebih sering berhubungan dengan asidosis metabolik, khususnya dalam bentuk ketoasidosis diabetik (DKA). Pada DM tipe 1, tubuh tidak memproduksi insulin, yang menyebabkan kadar glukosa darah tinggi dan penguraian lemak menjadi keton. Keton ini dapat menyebabkan asidosis metabolik.

4. Apakah perlu atau tidak penggunaan obat diuretik dalam asidosis untuk mengeluarkan kelebihan kalium di dalam darah?

Penggunaan obat diuretik dapat diperlukan dalam kondisi asidosis untuk membantu mengeluarkan kelebihan kalium dalam darah, terutama jika terjadi hiperkalemia (peningkatan kadar kalium yang berbahaya). Namun, keputusan untuk menggunakan diuretik tergantung pada jenis asidosis dan penyebab hiperkalemia.

Dalam kondisi asidosis metabolik, terutama yang disertai dengan penurunan fungsi ginjal, ginjal sering kali kesulitan membuang kalium secara efektif. Diuretik dapat digunakan untuk merangsang ginjal agar mengeluarkan lebih banyak kalium. Diuretik ini menginduksi ekskresi natrium dan air, yang akan menarik kalium bersama-sama dengan natrium dalam urin, sehingga membantu menurunkan kadar kalium dalam darah

5. Apakah natrium sitrat lebih berefek dibandingkan natrium bikarbonat?

Sodium sitrat (SC) dan Sodium bikarbonat (SB) dapat digunakan untuk meningkatkan kadar bikarbonat serum. Penelitian menunjukkan bahwa keduanya efektif dalam meningkatkan bikarbonat serum, tetapi tidak ada perbedaan signifikan dalam perbaikan fungsi ginjal. Namun, sodium bikarbonat lebih sering menyebabkan efek samping yang menyebabkan penghentian terapi dibandingkan sodium sitrat. Sehingga, SC sering dianggap lebih aman, terutama bagi pasien dengan riwayat efek samping gastrointestinal.

Referensi

Dokumen terkait

Adanya batu (kalkuli) pada saluran perkemihan dalam ginjal, ureter, atau kandung kemih yang membentuk kristal; kalsium, oksalat, fosfat, kalsium urat, asam urat

Adanya batu (kalkuli) pada saluran perkemihan dalam ginjal, ureter, atau kandung kemih yang membentuk kristal; kalsium, oksalat, fosfat, kalsium urat, asam urat dan magnesium..

Adanya batu (kalkuli) pada saluran perkemihan dalam ginjal, ureter, atau kandung kemih yang terdiri dari; yang membentuk kristal; kalsium, oksalat, fosfat, kalsium urat, asam urat

Vesica urinaria, sering juga disebut kandung kemih atau buli-buli, merupakan tempat untuk menampung urine yang berasal dari ginjal melalui ureter, untuk selanjutnya diteruskan ke

2.3 Struktur Histologi Ureter, ter, Kandung kemih (Vesica Ur Kandung kemih (Vesica Urinaria), dan Uretra inaria), dan Uretra Ureter adalah saluran tunggal yang menyalurkan

 batu ginjal atau bisa disebut nefrolitiasis nefrolitiasis adalah suatu penyakit yang terjadi  adalah suatu penyakit yang terjadi  pada saluran perkemihan karena terjadi

ABSTRAK Batu Saluran Kemih BSK adalah penyakit dimana didapatkan masa keras seperti batu yang terbentuk disepanjang saluran kemih baik saluran kemih atas ginjal dan ureter dan saluran

Sistem ekskresi manusia melibatkan refleks mikturisi yang dipicu oleh peregangan kandung kemih dan uretra, serta penyakit kronis seperti gagal ginjal yang dapat dideteksi melalui tes urin dan