• Tidak ada hasil yang ditemukan

BELAJAR TENTANG AGAMA DAN POLITIK

N/A
N/A
Zamzam Augusta

Academic year: 2024

Membagikan "BELAJAR TENTANG AGAMA DAN POLITIK"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

AGAMA DAN POLITIK

A. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara multikultural yang artinya memiliki beranekaragam suku, budaya dan agama. Dan agama menjadi faktor yang penting dalam kehidupan bersama di negara Indonesia. Tetapi bukan berarti negara harus menjadi negara agama. Negara adalah milik bersama dalam berbagai perbedaan agama. Seperti yang di sampaikan oleh Soekarno dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945 yaitu,“Kita hendak mendirikan suatu negara semua buat semua.” Jika negara Indonesia menjadi negara agama, maka negara ini hanya menjadi milik orang-orang atau golongan-golongan tertentu saja.

Tanpa terasa kita akan memasuki tahun Pemilu (pemilihan umum) atau yang sering disebut dengan tahun politik. Hal ini menyebabkan munculnya isu-isu tentang Agama dan Politik. Dan yang sering terjadi adalah agama dipolitisasi sehingga dapat memicu terjadinya perpecahan di Indonesia. Agama merupakan hal yang penting karena bisa menjadi landasan moral dalam berpolitik. Apalagi saat ini di tahun politik menjelang Pilpres (pemilihan presiden), kehidupan beragama semakin semarak, jika permasalahan kita kurang bijak, kita akan terjebak dalam kehidupan politik praktis. Seharusnya agama dan politik bisa beriringan dengan konteks yang benar dan jangan sampai agama dipolitisasi.

B. RUMUSAN MASALAH

Pemilihan umum serentak akan dilaksanakan 2019 dan para kandidat calon anggota legeslatif maupun calon presiden-calon wakil presiden saling bersaing. Seperti menggunakan tempat ibadah untuk berkampanye hingga politisasi ayat-ayat dalam kitab suci sebagai alat pemenang calon diperkirakan akan banyak terjadi jelang masa kampanye dan pemilihan. Hal ini menyebabkan munculnya isu negatif yang dapat memicu perpecahan di Indonesia.

Agama dan politik memang sukar untuk dipisahkan dan ini merupakan masalah yang cukup rumit di Indonesia untuk memahami hal tersebut. Bagaimana supaya tidak terjadi perpecahan di Indonesia dengan keberadaan Agama dan Politik di Indonesia?.

C. TINJAUAN PUSTAKA

Seharusnya persoalan politik dan agama dapat dipisahkan jadi tidak mencampuradukan antara politik dan agama agar rakyat tahu mana yang agama mana yang politik. Contonya seperti kampanye yang dilakukan ditempat ibadah. Saat tokoh politik

(2)

tersebut masuk dalam tempat ibadah seharunya bukan untuk menyampaikan aspirasinya dengan mengkaitkan agama tetapi fokus dengan tujuan beribadah dan berbagi hal tentang agama, bukan menjadikan agama sebagai komoditas. Hal ini yang sering sekali terjadi sehingga menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat Indonesia.

Agama memang memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan manusia karena maknanya yang begitu mendalam dan Tuhan sebagai pemilik kebenaran yang mutlak.

Tetapi, kebenaran agama bukanlah berada dalam ruang hampa yang bebas bernilai. Agama bukanlah sesuatu yang otonom, melainkan berada dalam suatu realitas objektif yang secara signifikan mempengaruhi, baik interpretasi maupun aktualisasi dari agama tersebut. Memang idealnya, agama harus tampil sebagai kritik kebudayaan, atau bahkan sebagai pemusnah segala bentuk ideologi yang destruktif bagi kemanusiaan. Tetapi, faktanya antara agama dan budaya mempengaruhi satu sama lain, atau bahkan memperalat satu sama lain. Nuansa yang seperti ini merupakan peluang bagi terjadinya berbagai salah intepretasi agama yang menjurus pada terjadinya pembenaran agama secara sepihak.1

1W. Dewantara, Agustinus. 2017. Dikursus Filsafat Pancasila Dewasa Ini. Yogyakarta:

PT Kanisius. Hlm 160

Sebenarnya Indonesia sudah memiliki tujuan negara yang terdapat pada kutipan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Alinea ke-4,“...Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,...”. Hidup bernegara pasti harus memiliki tujuan. Supaya tujuan tersebut tercapai maka diperlukan kesatuan dan persatuan.

Persaingan terjadi menjelang pemilihan presiden 2019, kedua kubu saling berargumentasi. Dari kubu pertama tidak setuju jika ada calon wakil presiden merupakan tokoh agama karena dianggap mempolitisasi agama. Tetapi kubu selanjutnya mempertahankan prinsip mereka, karena tujuan mereka bukan membawa-bawa agama dalam politik. Kedua kubu calon presiden dan calon wakil presiden memang saling bersaing tetapi persatuan dan kesatuan harus tetap terjaga agar dapat mencapai tujuan negara. Jika tidak dampaknya akan sangat buruk bagi masyarakat terutama pada masyarakat yang belum memahami politik. Hal ini dapat dikaitkan dengan teori konflik yang mengatakan bahwa

(3)

perselisihan, baik yang bersifat antarkelompok, antar individu, ataupun antara keduanya, selalu ada dalam kehidupan manusia.

D. PEMBAHASAN

Politik (dari bahasa Yunani: politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang bekaitan dengan warga negara), adalah proses pembentukan dan pembagian masyarakat dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembetukan keputusan, khususnya dalam negara. Politik juga merupakan tingkatan suatu kelompok atau individu yang membicarakan mengenai hal-hal yang terjadi di dalam masyarakat atau negara. Karena itulah, bisa dikatakan bahwa definisi politik adalah sebuah perilaku atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan segala macam kebijakan dalam tatanan negara. Jika membicarakan politik, maka erat kaitannya dengan negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, keijakan umum, hingga distribusi kemakmuran.2

2https://www.zonareferensi.com/pengertian-politik/

Dalam berpolitik (proses pembentukan negara) pasti ada undang-undang dan hukum yang telah ditetapkan. Karena tanpa adanya hukum dan undang-undang proses yang terjadi akan cenderung tidak sesuai dengan tujuan negara. Misalnya dalam berpolitik jika tidak ada yang mengatur akan muncul oknum yang tidak bertanggungjawab serta menyalahgunakan kekuasaan sebagai kepentingan pribadi. Segala keputusan yang diambil akan cenderung tidak melalui musyawarah dan mufakat, sehingga menyebabkan tujuan negara tidak tercapai.

Hubungan agama dan etika politik dimengerti dalam bingkai konteks paham kebangsaan sebagai salah satu fundamen negara. Dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mengajukan apa yang paling mendasar dalam pembentukan suatu negara. Dasar kebangsaan, menurut Soekarno, memberikan motivasi dan cara berpikir yang mngedepankan bangsa secara keseluruhan. Soekarno dan para pendiri yang lain sadar bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat agama. Kenyataan ini dapat membawa kepada cara-cara pandang tertentu yang mengunggulkan kelompok agama sendiri di atas keutuhan bangsa.

Agama kerap menjadi motivasi yang sukar disaingi karenamelibatkan otoritas ilahi. Semua aspek normatif ini dengan mudah mengantar pada politik agama.3

3W. Dewantara, Agustinus. 2017. Dikursus Filsafat Pancasila Dewasa Ini. Yogyakarta:

PT Kanisius. Hlm 160

(4)

“Ilmu pengetahuan tanpa agama akan menjadi buta, sedangkan agama tanpa ilmu pengetahuan hanya akan menjadi lumpuh,” kata Albert Einstein. Dunia politik pasti menggunakan ilmu pengetahuan yang sangat mendalam. Jika dikaitkan dengan pernyataan Einstein, berpolitik tanpa agama akan menjadi buta. Agama merupakan hal yang penting karena bisa menjadi landasan moral dalam berpolitik. Karena setiap agama selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan dalam setiap kehidupan. Nilai-nilai kebaikan inilah yang dapat diambil sebagai landasan moral dalam berpolitik. Agama tanpa ilmu pengetahuan hanya akan menjadi lumpuh. Jika kita ingin terjun ke dunia politik dengan hanya mengerti tentang agama saja kita tidak akan mampu dalam mengambil langkah dan tindakan.

Kurangnya pengetahuan akan politik akan membuat diri semakin mudah dibohongi dengan yang berpengetahuan lebih tinggi mengenai politik, ini yang menyebabkan kelumpuhan. Oleh sebab itu pengetahuan sangatlah penting bagi tokoh agama yang ingin terjun dalam dunia politik.

E. PENUTUP

Tidak ada agama yang mengajarkan keburukan, semua agama mengajarkan kebaikan menurut kepercayaan-kepercayaan yang dianut. Sehingga agama dapat dijadikan landasan moral bagi negara termasuk dalam berpolitik. Jadi kesimpulannya adalah jika agama dan politik tidak perlu dipisahkan melainkan beriringan dengan konteks yang benar sesuai dengan hukum dan undang-undang yang telah ditetapkan. Juga diperlukan persatuan dan kesatuan walaupun adanya perbedaan di negara ini. Dengan demikian tujuan negara bisa tercapai dan menciptakan suasana yang lebih kondusif.

Persatuan dan kesatuan tumbuh dari masing-masing individu oleh sebab itu harus ada kesadaran akan persatuan dan kesatuan. Tidak hanya sadar akan hal tersebut tetapi menjalankan persatuan dan kesatuan tersebut dalam kehidupan dewasa ini. Jika tidak persatuan dan kesatuan hanya akan menjadi makna khiasan. Dewasa ini sangat penting untuk memahami rasa persatuan dan kesatuan meski diantara perbedaan yang ada. Seperti semboyan negara Indonesia yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Semangat persatuan dan kesatuan yang mampu mecegah terjadinya perpecahan. Mungkin selisih paham atau berbeda pendapat dan pilihan tetap ada, tetapi perpecahan harus dijauhkan dari bangsa ini.

(5)

Daftar Pustaka

Rumusan masalah

https://nasional.sindonews.com/read/1322804/12/politisasi-agama-rawan-terjadi-di-pemilu- 2019-1531897877

Tinjauan Pustaka

http://poskotanews.com/2017/03/27/politik-agama/

W. Dewantara, Agustinus. 2017. Dikursus Filsafat Pancasila Dewasa Ini. Yogyakarta: PT Kanisius.

https://www.youtube.com/watch?v=QSMdJHXJta0

Pengertian Politik

https://www.zonareferensi.com/pengertian-politik/

Referensi

Dokumen terkait

Indonesia bukan negara agama dan bukan negara sekuler, maka memperjuangkan hukum Islam dengan pendekatan yang terakhir ini kelihatannya lebih memberikan harapan daripada

Hubungan Negara dan Agama Menurut AgamaBudha adalah hubungan agama dengan negara dalam buku Krisnananda Wijaya-Mukti dibagi menjadi lima pola, antara lain; teokrasi, negara

Huruf g yang berbunyi, mempengaruhi dan mengawasi jalannya penyelenggaraan negara agar senantiasa berdasarkan pada ideologi Pancasila 1 Juni 1945 dan Undang Undang Dasar

Pancasila adalah dasar filsafat Negara Republik Indonesia yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, dan di tetapkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945 bersama-sama

Di persidangan BPUPKI yang pertama pada tanggal Tanggal 29 Mei- 1 Juni 1945, terdapat berbagai pendapat mengenai dasar negara yang dipakai di Indonesia. Pendapat-pendapat rumusan

Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP.Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan

Pancasila merupakan dasar republik indonesia sebelum d sahkan pada tanggal 18 agustus 1945 oleh PPKI,nila-nilai telah pada bangsa indonesia mendirikan negara,yang

Sutomo Bung Tomo dari Partai Rakyat Indonesia PRI lewat pengaduannya yang disampaikan pada tanggal 22 Juni 1960 dengan tegas menyatakan bahwa kabinet yang dipimpin Soekarno melakukan