C. Bentuk dan Cara Memperoleh Legalitas Perusahaan
Bentuk – bentuk legalitas perusahaan ada beberapa jenis jati diri yang melegalkan badan usaha, diantaranya yaitu:
1. Nama Perusahaan
Nama perusahaan adalah sebuah identitas diri yang digunakan oleh perusahaaan guna menjalankan usahanya. Nama perusahaan melekat pada perusahaan agar dapat dikenal oleh masyarakat sehingga terdapat pembeda antara perusahaan tersebut dengan perusahaan yang lain.
Pemberian nama perusahaan dapat diberikan dengan cara berikut:
a. Berdasarkan nama pribadi pengusaha b. Berdasarkan jenis usaha yang dilakukannya c. Berdasarkan tujuan didirikannya
Di Indonesia sendiri dalam pemberian nama perusahan terdapat asas tentang pemberian nama perusahaan, yaitu:
a. Pembauran nama perusahaan dengan nama pribadi b. Pembauran bentuk perusahaan dengan nama pribadi c. Larangan memakai nama perusahaan orang lain d. Larangan memakai merek orang lain
e. Larangan memakai nama perusahaan yang menyesatkan
Nama perusahaan dilarang memakai perusahaan yg sudah ada meskipun terdapat sedikit perbedaan, karena hal tersebut dikhawatirkan akan membuat Masyarakat bingung. Setiap nama perusahaan harus disahkan sejak dibuatnya akta pendirian di depan notaris, diumumkan di Berita Negara dan didaftarkan dalam daftar perusahaan. Apabila tidak ada pihak yang keberatan atas pemakaian nama tersebut, maka nama tersebut sah atau legal untuk digunakan oleh perusahaan yang mendaftar. Tetapi jika ada pihak yang keberatan mengenai nama perusahaan yang didaftarkan, pihak tersebut dapat mengajukan keberatan tertulis kepada Menteri Perdagangan mengenai nama yang didaftarkan dengan menyebutkan alasannya. Keberatan itu diberitahukan kepada pengusaha yang bersangkutan dan kantor pendaftaran perusahaan. Menteri akan memberikan putusan setelah mendengar para pihak yang berkepentingan. Jika ternyata beralasan, Menteri akan membatalkan pendaftaran yang berarti tidak mengesahkan nama perusahaan tersebut.
2. Merek
Merek adalah suatu tanda berupa gambar, nama, kata, huruf – huruf, angka – angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur – unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa. Ketentuan merek diatur dalam Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2001.
Syarat dan tata cara permohonan pendaftaran merek menurut UU No. 15 Tahun 2001 tentang merek:
a. Permohonan
Permohonan diajukan tertulis dalam Bahasa Indonesia kepada Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual disertai dengan tanda tangan pemohon atau kuasanya serta melampirkan bukti pembayaran biaya pendaftaran merek.
Untuk permohonan dua kelas barang atau lebih dan/atau jasa dapat diajukan dalam suatu permohonan yang diatur dengan peraturan pemerintah. Dalam surat permohonan harus dicantumkan:
1) Tanggal, bulan, tahun
2) Nama lengkap, kewarganegaraan, dan alamat pemohon
3) Nama lengkap dan alamat kuasa apabila permohonan mengajukan merek melalui kuasa
4) Warna – warna apabila merek yang dimohonkan pendaftarannya menggunakan unsur – unsur warna
5) Nama negara dan tanggal permintaan merek yang pertama kali dalam hal permohonan diajukan dengan Hak Prioritas.
b. Pemeriksaan
Pemeriksaan kelengkapan permohonan pendaftaran akan dilakukan oleh Direktur Jenderal. Jika ada kekurangan persyaratan, akan diberikan waktu dua bulan untuk melengkapinya sejak tanggal pengiriman. Bila sudah lengkap, akan diberikan tanggal penerimaan pada surat permohonan. Selanjutnya, dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari sejak tanggal penerimaan, surat akan diperiksa untuk dilakukan pemeriksaan substansif, yaitu suatu pemeriksaan yang menyangkut apakah permohonan pendaftaran merek tersebut termasuk merek yang tidak dapat didaftar dan termasuk permohonan yang harus ditolak.
c. Pengumuman
Setelah dilakukan pemeriksaan substansif dan pemeriksa melaporkan bahwa permohonan pendaftaran merek tersebut disetujui untuk didaftar atas persetujuan Direktur Jenderal, pengumuman harus berlangsung selama tiga bulan dan dilakukan dengan:
1) Menempatkannya dalam Berta Resmi Merek yang diterbitka secara berkala oleh Direktorat Jenderal; dan/atau 2) Menempatkannya pada sarana khusus yang dengan mudah serta jelas dapat dilihat oleh masyarakat, yang disediakan oleh Direktorat Jenderal
3. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) meruoakan surat izin yang dikeluarkan pemerintah daerah kepada pengusaha untuk dapat melaksanakan usaha di bidang perdagangan dan jasa. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 07/M- DAG/PER/2/2017, SIUP berlaku sepanjang perusahaan melaksanakan kegiatan usahanya.
Tata cara dan prosedur mengajukan SIUP pemilik/penanggung jawab perusahaan harus mengisi dan menandatangani SPI dan melampirinya dengan dokumen – dokumen sebagai berikut:
1) Salinan/ copy Surat Pendirian Perusahaan/ Akte Notaris dan pengesahan dari Departemen kehakiman atau instansi yang berwenang bagi perusahaan berbadan hukum.
2) Salinan/ copy Surat Pendirian Perusahaan/ Akte Notaris yang terdaftar pada Pengadilan Negeri bagi perusahaan yang berbentuk persekutuan.
3) Salinan/ copy Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dari Pemerintah Daerah bila diwajibkan oleh UU Gangguan/Hinder Ordonnantie dan bagi yang tidak disyaratkan cukup dengan Surat keterangan Tempat Usaha dari pejabat setempat dan copy KTP pemilik/penanggung jawab perusahaan.
4) Pas foto dua lembar ukuran 3 x 4 dari pemilik/pengurus perusahaan 5) Copy bukti pembayaran Uang Jaminan dan Biaya Administrasi
Permohonan untuk mendapatkan SIUP, akan mendapat keputusan persetujuan atau penolakan dalam waktu selambat-lambatnya 7 hari terhitungmulai tanggal permohonan SIUP diterima oleh pejabat yang menangani perizinan untuk pulau Jawa dan Bali, dan 14 hari untukdi luar Jawa dan Bali, kecuali untuk daerah – daerah Kepulauan Riau, pedalaman Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Irian Jaya selambat – lambatnya 30 hari. Batas-batas waktu tersebut terhitung mulai Surat Permohonan Izin Usaha (SPI) yang dilampiri dengan dokumen-dokumen yang lengkap itu diterima secara resmi oleh pejabat yang menangani perizinan. Bila permohonan SIUP ditolak, maka alasan-alasan penolakan dijelaskan secara tertulis kepada pemohon oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk. Bagi pemohon SIUP yang ditolak, diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan kepada pejabat yang kedudukannya setingkat lebih tinggi dari pejabat yang menolak permohonan tersebut selambat-lambanya 14 hari sejak diterimanya penolakan. SIUP dapat diberikan secara otomatis pada perusahaan milik negara, koperasi, dan perusahaan dagang kecil golongan ekonomi lemah yang tidak berbentuk koperasi. Permohonan izin usaha perdagangan yang diajukan oleh perusahaan-perusahaan milik negara yang dibentuk berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku atau koperasi yang telah disahkan sebagai badan hukum secara otomatis diberikan SIUP dalam arti tidak ditolak.