• Tidak ada hasil yang ditemukan

berwirausaha dan meminimalisir belanja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "berwirausaha dan meminimalisir belanja"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)

OLEH:

BIMA YAZIDA AKMAL NIM 1711130099

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH JURUSAN EKONOMI ISLAM

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BENGKULU BENGKULU, 2021 M/1443 H

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v ABSTRAK

Berwirausaha Dan Meminimalisir Belanja Kebutuhan Pangan Melalui Budidaya Tanaman Hidroponik Di Panti Asuhan Bina Insani Kecamatan Kampung Melayu

Kota Bengkulu

Oleh Bima Yazida Akmal, NIM 1711130099

Program Pengabdian dilakukan dengan tema budidaya tanaman secara hidroponik untuk mendukung kemandirian masyarakat Panti Asuhan Bina Insani. Hidroponik adalah inovasi yang dilakukan untuk berbudidaya tanaman pada lahan yang sempit tanpa membutuhkan tanah sebagai media tanam. Dari penelitian yang dilakukan bertujuan agar para anak-anak dan pengurus Panti Asuhan Bina Insani dapat belajar secara langsung sistem budidaya Hidroponik sebagai bekal pengembangan diri untuk berwirausaha. Dalam penelitian ini menggunakan metode edukasi dan praktek langsung. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode wawancara dan survei. Hasil dari penelitian pada pelaksanaan program berwirausaha dan meminimalisir belanja kebutuhan pangan melalui budidaya tanaman hidroponik mendapat respon positif dari pihak panti yang diharapkan dapat mendongkrak kesejahteraan panti asuhan bina insani. Hasil dari pengabdian ini menghasilkan sayuran yang segar yang dapat dijual dan dapat diperuntukkan sebagai kebutuhan pangan panti.

Kata kunci : berwirausaha, meminimalisir kebutuhan,hidroponik

(6)

vi ABSTRACT

Entrepreneurship And Minimizing Shopping Needs Food Through Hydroponic Cultivation

At the Bina Insani Orphanage, Kampung Melayu District, Bengkulu City

By Bima Yazida Akmal, NIM 1711130099

The Service Program is carried out with the theme of hydroponic plant cultivation to support the independence of the Bina Insani Orphanage community. Hydroponics is an innovation made to cultivate plants on a narrow land without the need for soil as a growing medium. From the research conducted, it is intended that the children and administrators of the Bina Insani Orphanage can learn directly the Hydroponic cultivation system as a provision for self-development for entrepreneurship. In this study using educational methods and direct practice. Data collection techniques in this study is to use the method of interviews and surveys. The results of this study on the implementation of entrepreneurship programs and minimizing food expenditures through hydroponic plant cultivation to produce fresh vegetables that can be sold and can be used as food needs for nursing homes.

Keywords: entrepreneurship, minimizing the need, hydroponics

(7)

vii MOTTO

Rencanakan Apa Yang Ingin Kamu Lakukan Dan Lakukanlah Apa Yang Sudah Kamu Rencanakan

(Bima Yazida Akmal)

Jangan Menampakkan Kepada Orang Lain Siapa Diri Kita Sebenarnya

Biarkan Orang Yang Mencari Tau Siapa Diri Kita Yang Sebenarnya.

(Bima Yazida Akmal)

(8)

viii

PERSEMBAHAN

Skripsi ini ku persembahkan:

1. Ibu dan Ayah tercinta yang telah memberikan motivasi meskipun terpisah antara pulau Sulawesi dan Sumatera tapi doanya selalu menyertai disetiap langkahku. Dibalik kesuksesan anaknya terdapat doa orang tua yang selalu menyertainya.

2. Saudara-saudaraku tercinta dan tersayang yang selalu membantu saya selama saya menepa ilmu di Bengkulu.

3. Sahabat dan teman-temanku seperjuangan EKIS C angkatan 2017.

4. Sahabat dan teman-temanku seperjuangan dan sekelompok Pengabdian Kepada Masyarakat.

5. Almamater yang telah menempahku memberikan banyak kenangan manis yang tidak terlupakan.

6. Skripsi ini merupakan persembahan istimewa untuk orang yang saya cintai Farina. Terima kasih atas dukungan, kebaikan, perhatian, dan kebijaksanaan. Terima kasih karena memberi tahu saya cara hidup dengan jujur dan bahagia.

7. Skripsi ini saya persembahkan untuk sahabat-sahabat baikku FOSIL 17. Terima kasih telah membantu, dan memberikan motivasi dan dorongan.

8. Skripsi ini aku persembahkan kepada sahabat-sahabatku yang di Bengkulu. Tanpa kalian saya bukan siapa-siapa, tapi

(9)

ix

karena ada kalian hidup saya menjadi berwarna. Terima kasih sudah menjadi temanku selama saya di Bengkulu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, kenapa kita dipertemukan kalau akhirnya kita dipisahkan? Tapi saya berharap perpisahan bukan akhir dari segalanya. Karena yang namanya sahabat akan selalu ada dimanapun kita berada.

Terima kasih atas waktunya dan terima kasih atas segalanya.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ” Berwirausaha Dan Meminimalisir Belanja Kebutuhan Pangan Melalui Budidaya Tanaman Hidroponik Di Panti Asuhan Bina Insani Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu”.

Shalawat dan salam untuk Nabi besar Muhammad SAW, yang telah berjuang untuk menyampaikan ajaran Islam sehingga umat Islam mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus baik di dunia maupun akhirat.

Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk mengungkap masalah mengenai bagaimana cara pengelolaan hidroponik sebagai alternatif kebutuhan dan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) pada Program Studi Ekonomi Syariah Jurusan Ekonomi Islam pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu.

Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak. Dengan demikian penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada:

1. Dr. KH. Zulkarnain, M.Pd. selaku Plt. Rektor IAIN Bengkulu yang telah memberikan kemudahan dalam pelaksanaan tugas akhir pengabdian kepada masyarakat.

(11)

xi

2. Dr. Asnaini, M.A. Selaku Plt. Dekan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu.

3. Dr. Hj. Fatimah Yunus, MA selaku Pembimbing I dan Plt.

Wakil Dekan 3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu yang telah membimbing kami dalam melaksanakan pengabdian kepada masyarakat.

4. Dr. Desi Isnaini, MA Plt. Ketua Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu yang telah mendukung dan mengizinkan kami melakukan pengabdian kepada masyarakat.

5. Yunida Een Fryanti, M. Si. selaku Pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, motivasi, semangat, dan arahan dengan penuh kesabaran.

6. Kedua orang tua Penulis yang selalu mendo‟akan kesuksesan penulis.

7. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Bengkulu yang telah mengajar dan membimbing serta memberikan berbagai ilmunya dengan penuh keikhlasan.

8. Staf dan karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu yang telah memberikan pelayanan dengan baik dalam hal adminitrasi.

9. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan laporan ini.

(12)

xii

(13)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... Error! Bookmark not defined. ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

MOTTO ... vii

PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan dan Sasaran ... 3

D. Luaran Yang Dicapai ... 3

E. Metode Pelaksanaan ... 4

1. Tahapan Kegiatan ... 4

2. Jadwal Pelakanaan ... 9

3. Biaya Kegiatan ... 10

(14)

xiv

F. Sistematika Penulisan ... 11

BAB II KAJIAN TEORI A. Berwirausaha ... 12

1. Pengertian Wirausaha ... 12

2. Faktor Kesuksesan Berwirausaha ... 18

3. Kegiatan Kewirausahaan Menurut Pandangan Islam . 19 B. Meminimalisir Kebutuhan Pangan ... 30

C. Hidroponik ... 34

1. Pengertian Hidroponik ... 34

2. Kelebihan Dan Kekurangan Kultur Hidroponik ... 36

3. Pengelolaan Hidroponik ... 37

4. Jenis-Jenis Hidroponik ... 38

BAB III GAMBAR OBYEK PENELITIAN A. Profil Panti Asuhan Bina Insani ... 42

B. Lokasi Panti Asuhan Bina Insani ... 43

BAB IV HASIL KEGIATAN A. Tahapan Hasil Kegiatan ... 44

B. Pengelolaan Hidroponik Sebagai Alternatif Kebuthan Pangan ... 45

C. Pembahasan ... 56

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 59

B. Keterbatasan ... 59

C. Saran ... 60 DAFTAR PUSTAKA

(15)

xv LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 : Roadmap Pengabdian Masyarakat ... 6 Tabel 1.2 : Jadwal Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat ... 9 Tabel 1.3 : Biaya Kegiatan Pengabdian Masyarakat ... 10

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 : Hidroponik Dengan Wick System ... 39

Gambar 1.2 : Hidroponik Dengan NFT System ... 39

Gambar 1.3 : Hidroponik Dengan DWC System ... 40

Gambar 1.4 : Hidroponik Dengan Drip System ... 41

Gambar 1.5 : Hidroponik Dengan Ebb And Flow System ... 41

Gambar 1.6 : Profil Panti Asuhan Bina Insani ... 42

Gambar 1.7 : Struktur Organisasi Panti Asuhan Bina Insani .... 43

Gambar 1.8 : Hidroponik Sistem Rakit Apung ... 49

(17)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : From Pengajuan Judul

Lampiran 2 : Surat Penunjukan Pembimbing Lampiran 3 : Lembar Bimbingan

Lampiran 4 : Surat Pernyataan Plagiasi Lampiran 5 : Surat Keterangan Pengabdian Lampiran 6 : Halaman Persetujuan Pembimbing Lampiran 7 : Surat Tugas

Lampiran 8 : Curiculum Vitae Lampiran 9 : Lembar Saran Penguji Lampiran 10 : Foto-Foto Kegiatan Lampiran 11 :Laporan Kelompok

(18)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Panti asuhan adalah suatu lembaga pelayanan sosial yang didirikan oleh pemerintah maupun masyarakat, yang bertujuan untuk membantu atau memberikan bantuan terhadap individu, kelompok masyarakat dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup. Panti asuhan yang telah mengakar dan menjadi bagian kultur sosial kemasyarakatan memiliki peluang sebagai penggerak ekonomi melalui peningkatan potensi pertanian dalam rangka pemberdayaan ekonomi panti. Lembaga pelayanan sosial memiliki potensi yang sangat besar karena memiliki keunggulan, adanya hubungan sosial yang baik.

Panti asuhan bina insani merupakan panti asuhan terpadu dengan peserta didik meliputi santriwati dan santriawan. Kegiatan pengabdian yang dilakukan di panti asuhan bina insani ditujukan pada anak-anak dan pengurus panti. Pengabdian ini bermaksud agar anak-anak dan pengurus panti dapat belajar secara langsung terkait dengan hidroponik. Bekal ilmu terkait dengan hidroponik sangat penting diberikan kepada anak-anak agar dapat merangsang jiwa kewirausahaan dari para anak-anak dan pengurus panti.

1

(19)

Hidroponik merupakan sistem budidaya menggunakan air yang telah dilarutkan mineral nutrisi dengan media tanpa tanah. Hidroponik semakin banyak dikenal dan dilakukan oleh masyarakat karena berbagai alasan seperti (a).

kebutuhan sayuran semakin meningkat seiring dengan peningkatan penduduk, (b). keterbatasan lahan dan ruang (Lestari et al. 2019), (c). mewujudkan kawasan mandiri pangan, (d). media tanah yang telah tercemar terutama di wilayah perkotaan, (e). efisiensi dalam penggunaan lahan, (f). pertumbuhan gulma sedikit.1

Hidroponik merupakan sebuah usaha yang sangat menguntungkan apabila dilakukan dengan serius. Sayuran dari hasil budidaya hidroponik dapat dimanfaatkan oleh pengurus panti serta dapat mewujudkan kemandirian pangan guna meminimalisir pengeluaran. Hidroponik dilakukan oleh berbagai kalangan pada masyarakat, baik pada komunitas ibu-ibu PKK, karang taruna, maupun sekolah-sekolah umum.

Penelitian ini terlaksana atas izin dari pihak kampus dan melakukan penelitian di Panti Asuhan Bina Insani Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu. Luaran dan target pencapaian pada kegiatan ini adalah: (a). pengenalan sistem budidaya hidroponik pada lahan terbatas, (b).

1 Madusari, Sylvia, Dwi Astutik, Ahmad Sutopo, Dan Sisi Aline Handini.

“Inisiasi Teknologi Hidroponik Guna Mewujudkan Ketahanan Pangan Masyarakat Pesantren.” Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknik Vol. 2 (April 2020): Hal. 46.

(20)

perbaikan tata nilai masyarakat khususnya pada sektor pertanian serta kemandirian dan ketahanan pangan serta kewirausahaan.

B. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah yaitu bagaimana pengelolaan hidroponik sebagai bekal untuk berwirausaha dan alternatif kebutuhan pangan guna meminimalisir belanja kebutuhan pangan panti?

C. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan

Hidroponik sendiri dibuat dengan tujuan untuk ketahanan pangan mandiri dan dapat dilakukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari khususnya kebutuhan pangan dan juga dapat dijadikan usaha bagi panti asuhan sehinga dapat meningkatkan perekonomian panti.

2. Sasaran

Sasaran yang dituju pada kegiatan ini yaitu pengurus panti dan anak-anak panti yang kedepannya hidroponik dapat di jadikan sebagai usaha dan ketahanan pangan untuk panti.

D. Luaran Yang Dicapai

1. Pada kegiatan pembuatan hidroponik pihak panti mampu memahami cara membuat hidroponik sederhana

(21)

2. Pihak panti mampu melakukan budidaya tanaman hidroponik, mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan sampai menghasilkan sayuran yang segar, sehat dan berkualitas.

3. Pihak panti paham bahwa kegiatan hidroponik dapat meningkatkan perekonomian bagi panti dan dapat sebagai awal wirausaha.

4. Estimasi pendapatan dari penjualan sawi dengan harga jual Rp. 10.000/3 ikat, dalam satu bulan mendapat Rp.

230.000.

E. Metode Pelaksanaan 1. Tahapan Kegiatan

Metode pelaksanaan kegiatan “pemberdayaan ekonomi melalui kegiatan hidroponik” dilakukan melalui mekanisme sebagai berikut:

1. Survei, pelaksana melakukan kegiatan survei tempat penelitian dan meminta izin kepada pengurus panti untuk melakukan penelitian di Panti Asuhan Bina Insani, Jl. Simpang Kandis Perumahan Kandis Raya.

No, 03 rt. 20 rw. 01 Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu.

2. Observasi awal, setelah mendapat persetujuan, pelaksana melakukan observasi lapangan untuk mengetahui kondisi permasalahan yang dihadapi

(22)

Panti Asuhan Bina Insani dengan cara melakukan wawancara kepada pengurus panti.

3. Rapat, melakukan rapat bersama pengurus panti membahas kegiatan yang akan dilakukan selama pengabdian.

4. Pelaksanaan program, pelaksanaan kegiatan dilaksanakan selama tiga bulan yaitu setiap dua kali seminggu dengan kegiatan yang berbeda. Kegiatan pertama membuat instalasi hidroponik, kedua melakukan penyemaian terhadap biji sawi yang nantinya sebagai akan di tanam di pindahkan ke instalasi hidroponik, ketiga melakukan perawatan terhadap sawi yang sudah di pindahkan ke instalasi hidroponik jenis rakit apung.

5. Dokumentasi, dalam setiap kegiatan pelaksana melakukan dokumentasi berupa foto.

(23)

Roadmap Pengabdian Masyarakat

Tabel 1.1 Roadmap Pengabdian Masyarakat No Isi roadmap (peta

jalan)

Keterangan

1 Keadaan sebelum dan saat ini

Sebelum tim PM melakukan pengabdian di panti asuhan bina insani tidak adanya tanaman sayuran di panti dan saat ini terdapat tanaman sayuran hidroponik.

2 Tujuan yang ingin dicapai

Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan ini yaitu kedepannya hidroponik dapat menjadi sumber penghasilan panti dan sebagai sumber ketahanan pangan.

3 Tahap pelaksanaan

a. Tahap pertama

Pelaksana melakukan survey dan observasi awal untuk mendapat gambara yang jelas terkait permasalahan yang dihadapi oleh sasaran kemudian pelaksana melakukan rapat bersama

(24)

b. Tahap kedua

c. Tahap ketiga

pengurus panti. Pelaksana mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan, mulai dari penyusunan proposal, surat tugas dan termasuk bahan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan hidroponik.

Tahap kedua merupakan pelaksanaan program, pelaksanaan program dilaksanakan selama tiga bulan yaitu 2 kali dalam seminggu. Minggu pertama merupakan pembuatan instalasi hidroponik, minggu

kedua melakukan

penyemaian biji sawi, dan minggu ketiga melakukan penanam bibit sawi yang sudah di semai.

Tahap ketiga ini dilakukan evaluasi serta penyusunan laporan, evaluasi dilakukan dengan membandingkan

(25)

keadaan awal penanaman sawi sampai dengan pemanenan.

4 Sasaran dari setiap tahapan

Sasaran pelaksanaan program pengabdian masyarakat merupakan pengurus dan anak-anak panti asuhan bina insani.

5 Indikator pencapaian tujuan

Dapat meningkatkan kebutuhan pangan dan perekonomian pada panti asuhan bina insani

6 Penanggung jawab

Bima Yazida Akmal yang merupakan penanggung jawab program pengabdian membuat hidroponik rakit apung.

(26)

2. Jadwal Pelakanaan

Tabel 1.2 Jadwal Pelaksanaan PM

1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 Persiapan

Membuat Proposal Konsultasi Proposal Perbaikan Proposal Survey Lokasi Observasi Awal

Rapat Bersama Pengurus Panti 2 Pelaksanaan

Pembuatan Hidroponik Penyemaian Biji Sawi

Pengisian Kolam Dan Penanaman Perawatan

3 Evaluasi Dan Penyusunan Laporan Membuat Laporan Pengabdian Bimbingan Laporan

Print Dan Fotocopy Laporan Dan Surat-Surat No Jenis Kegiatan

Bulan Ke

Februari Maret April Mei Juni

(27)

3. Biaya Kegiatan

Tabel 1.3 Biaya Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat

No Uraian 1 Persiapan

Bahan Untuk Hidroponik:

Kanal 3 Batang Rp 75.000 Rp 225.000

Pompa Air 1 Buah Rp 35.000 Rp 35.000

Biji Sawi 1 Bungkus Rp 15.000 Rp 15.000

Sterofoam 4 Keping Rp 30.000 Rp 120.000

Rock Wool 1 Buah Rp 30.000 Rp 30.000

Baut 1 Pcs Rp 20.000 Rp 20.000

Terpal 1 Lembar (A8 2x3) Rp 40.000 Rp 40.000

Nutrisi 2 Bungkus Rp 60.000 Rp 120.000

Papan 2 Keping Rp 40.000 Rp 80.000

Netpot 50 Buah Rp 600 Rp 30.000

Total Rp 715.000

2 Pelaksanaan:

Perlengkapan Penunjang:

Baut 2 2 Bungkus Rp 20.000 Rp 40.000

Bor 1 Unit

Tang Potong 1 Unit

Meteran 1 Unit

Kayu 1 Ikat Rp 50.000 Rp 50.000

Plastik 1 Lembar (5x3) Rp 50.000 Rp 50.000 Perjalanan/Transportasi:

Bensin 6 Liter Rp 10.000 Rp 60.000

Konsumsi:

Air Mineral 10 Buah Rp 500 Rp 5.000

Gorengan 20 Buah Rp 1.000 Rp 20.000

Total Rp 225.000

3 Pelaporan

Print Laporan Akhir 26 Lembar Rp 1.000 Rp 26.000

Total Keseluruhan Rp 966.000

74%

Volume Satuan Harga Satuan Jumlah Rp. Persen

3%

23%

(28)

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam tugas akhir ini, disusun sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan sasaran, luaran yang dicapai, metode pelaksanaan, serta sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN TEORI

Bab ini berisi landasan teori tentang berwirausaha, meminimalisir kebutuhan dan hidroponik.

BAB III GAMBAR OBYEK PENELITIAN

Bab ini menjelaskan profil dan lokasi Panti Asuhan Bina Insani.

BAB IV HASIL KEGIATAN

Bagian ini berisi hasil kegiatan dan pembahasan mengenai pengelolaan hidroponik sebagai alternatif kebutuhan pangan.

BAB V PENUTUP

Pada bagian ini berisikan beberapa kesimpulan hasil kegiatan, keterbatasan dalam kegiatan, dan saran dari pelaksana program kegiatan.

(29)

BAB II KAJIAN TEORI

A. Berwirausaha

1. Pengertian Wirausaha

Entrepreneur, berasal dari bahasa Inggris, artinya usahawan atau pengusaha. Usahawan atau pengusaha, dalam aktifitas sehari-hari disebut juga dengan pebisnis.

Dan segala aktifitas pada pebisnis atau pengusaha disebut dengan bisnis. Karena aktifitas pebisnis tidak lain adalah bisnis itu sendiri yang melibatkan waktu dan setiap waktu yang digunakan dalam berbisnis dihitung dengan nilai usaha, di mana nilai usaha tersebut adalah keuntungan bisnis.

Kewirausahaan memiliki arti yang cukup luas, karena menyebutkan seseorang atau setiap orang, yang mampu menangkap peluang-peluang usaha, kemudian peluang usaha tersebut dijadikannya sebagai lahan bisnis dengan mencurahkan segenap waktunya untuk menciptakan peluang bisnis. Setelah tercipta peluang bisnis, memperluas jaringan bisnisnya sesuai dengan tujuan utama dalam dalam berwirausaha.2

Konsep kewirausahaan pertama kali diperkenalkan oleh seorang ekonom di Prancis yang bernama Richard

2 Alfianto, Eko Agus. “Kewirausahaan: Sebuah Kajian Pengabdian Kepada Masyarakat.” Jurnal Heritage Vol. 1 (January 2012): Hal. 33

12

(30)

Cantillon sekitar tahun 1755. Kata kewirausahaan (entrepreneurship) sendiri berasal dari kata entrependre dalam bahasa Prancis yang berarti melakukan sesuatu.

Cantillon menyatakan bahwa seorang entrepreneur adalah seseorang yang mampu membeli beberapa faktor produksi pada harga tertentu, dengan tujuan untuk mengkombinasikan mereka dalam bentuk tertentu (Bunga&Pentana, 2018). Beberapa ahli seperti Frank Knight, J.B. Say, Joseph Schumpeter, serta Harvey Leibenstein juga memberikan pandangan mereka mengenai definisi dari kewirausahaan. Frank Knight berpendapat bahwa kewirausahaan adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang dalam memprediksi maupun menyikapi pasar melalui pelaksanaan fungsi manajerial seperti pengawasan dan pengarahan. Sementara Jean Baptista Say mengemukakan bahwa kewirausahaan adalah bentuk tindakan untuk menggabungkan alat-alat produksi dalam usaha mencari nilai tambahan dari produksi tersebut. Ahli lain, Joseph Schumpeter menjelaskan bahwa kewirausahaan merupakan bentuk implementasi perubahan dalam pasar melaluikombinasi tertentu, seperti dengan adanya perubahan kualitas, metode, pasar baru, ataupun suplai barang/jasa yang baru.

(31)

Schumpeter pula yang menunjukkan peran penting kewirausahaan dalam teori pertumbuhan ekonomi.

Terakhir, Leibenstein menilai bahwa kewirausahaan adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka menciptakan suatu pasar baru sebelum komponen fungsi produksinya terbentuk secara sempurna (Irianto, 2008).

Melalui beberapa penjelasan ahli di atas, kewirausahaan dapat diartikan sebagai suatu proses identifikasi, pengembangan, serta proses dari visi tertentu untuk kemudian diwujudkan dalam kehidupan dalam bentuk usaha-usaha tertentu. Kewirausahaan bukan merupakan bentuk bakat, bukan mitos, melainkan suatu bentuk realisasi yang dapat dipelajari dan dibentuk secara intensif.

Kewirausahaan menurut Robert C. Ronstadt juga dianggap sebagai kegiatan dinamis yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan. Dimana kewirausahaan dapat dilakukan oleh individu atau kelompok yang berani mengambil resiko dalam usaha penciptaan nilai pada suatu barang atau jasa. Kewirausahaan berfokus pada kegiatan-kegiatan perwujudan gagasan atau ide menjadi bentuk lain seperti barang atau jasa yang riil (Darojat&Sumiyati, 2013). Ekonom Alfred Marshall di tahun 1946 juga menjelaskan kewirausahaan sebagai sebuah siklus kehidupan, dimana sebuah perusahaan

(32)

akan mengalami berbagai tahapan yang akan mengembangkan ataupun memundurkan usahanya.

Perkembangan tersebut akan membawa perusahaan pada titik tahapan lain, hingga pada akhirnya akan berada di titik tertinggi seperti menjadi perusahaan multinasional, sebelum muncul potensi gangguan seperti bencana alam;

krisis; peperangan; ataupun sosok pemimpin yang meninggal dunia. Ahli lain, Cole menyebutkan bahwa kewirausahaan merupakan berbagai aktivitas produktif yang berorientasi bisnis, serta menghasilkan keuntungan.

Kemudian terdapat pula pendapat dari Stevenson, Roberts, dan Grousbeck yang menjelaskan kewirausahaan sebagai proses individu dalam usaha menangkap peluang yang ada dengan pemenuhan sumber daya tertentu untuk mewujudkannya (Frinces, 2010). Dari beberapa pandangan tersebut, dapat kita tarik kesimpulan bahwa kewirausahaan merupakan suatu bentuk tindakan nyata untuk menciptakan tambahan nilai dari suatu faktor produksi menjadi barang atau jasa tertentu melalui serangkaian proses yang intensif.

Kewirausahaan menekankan pada adanya resiko ataupun pengorbanan yang harus diberikan untuk mencapai tujuan atau keinginan yang diharapkan. Sehingga, kewirausahaan juga dapat diartikan sebagai kegiatan untuk menghasilkan barang atau jasa melalui

(33)

pengorbanan tertentu (baik ide, tenaga, maupun materi) untuk mencapai tujuan tertentu pula.

Kewirausahaan di Indonesia sendiri tercantum dalam Keputusan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil Nomor961/KEP/M/XI/1995 sebagai sebuah semangat, sikap, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha yang bertujuan untuk menciptakan produk atau teknologi terbaru demi pelayanan yang lebih baik, ataupun memproleh keuntungan yang lebih besar (Munawaroh, et. al,2016).

Konsep kewirausahaan mulai dikenal di Indonesia sejak Suparman Sumahamidjaya mempopulerkan istilah wiraswasta. Wiraswasta sejatinya memiliki arti yang sama dengan wirausahawan. Dilihat dari sisi etimologis, wiraswasta berasal dari kata “wira” dan “swasta”. Wira memiliki arti berani, gagah, teladan, atau perkasa.

Sementara swasta terdiri dari kata “swa” dan “sta”, dimana swa berarti sendiri dan sta berarti berdiri.

Sehingga, wiraswasta secara etimologis merupakan seseorang yang berdiri sendiri serta memiliki sifat berani, gagah, teladan, dan perkasa. Wiraswasta dapat didefinisikan sebagai individu yang memiliki keterampilan, ketekunan, serta kepemilikan

Tarmuji (2000), memaparkan bahwa, seorang wirausaha bukan manusia hasil cetakan melainkan

(34)

seseorang yang memiliki kualitas pribadi yang menonjol yang nampak dari sikap, motivasi dan perilaku yang mendasarinya.(Kasmir, 2009).

Menurut Suryana dan Bayu (2010) wirausahawan merupakan seseorang yang memiliki kreativitas suatu bisnis baru dengan berani menanggung resiko dan ketidakpastian yang bertujuan untuk mencapai laba dan pertumbuhan usaha berdasarkan identifikasi peluang dan mampu mendayagunakan sumber-sumber serta memodali peluang ini.

Menurut pandangan psikolog, wirausahawan adalah orang yang memiliki dorongan kekuatan dari dalam dirinya untuk memperoleh suatu tujuan, suka menguji coba atau bereksperimen untuk menampilkan kebebasan dirinya di luar kekuasaan orang lain .

(Suryana, 2013). Kewirausahaan merupakan suatu kemampuan dalam hal menciptakan kegiatan usaha.

(Kasmir, 2009). Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk mengelola sesuatu untuk dimanfaatkan dan ditingkatkan agar lebih optimal.

(Hendro, 2011). Berkewirausahaan adalah hal-hal atau upaya-upaya yang berkaitan dengan penciptaan kegiatan atau usaha atau aktivitas bisnis atas dasar kemauan sendiri (Saiman, 2009).

(35)

Menurut Suryana (2013) berwirausaha merupakan suatu pekerjaan atau karier yang harus bersifat fleksibel dan imajinatif, mampu merencanakan, mengambil resiko, keputusan, dan tindakan untuk mencapai tujuan.

Syarat berwirausaha adalah untuk menemukan dan mengevaluasi peluang, mengumpulkan sumber-sumber daya yang diperlukan, dan bertindak untuk memperoleh keuntungan dari peluang-peluang tersebut.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa berkewirausahaan merupakan suatu kegiatan menciptakan kegiatan usaha dengan fleksibel dan imajinatif, mampu merencanakan, mengambil resiko, keputusan, dan tindakan untuk mencapai tujuan.3

2. Faktor Kesuksesan Berwirausaha

Dalam menjelaskan faktor kesuksesan wirausahawan, terdapat beberapa faktor:4

a. Human Capital diartikan sebagai personal strength dengan indikator:

1) Karakter kewirausahaan yang baik 2) Pendidikan

3) Pengalaman sebelumnya

3 Fahlia, Dan Endang Mulyadi. “Motivasi Berwirausaha Mahasiswa Pendidikan Ekonomi.” Jurnal Ilmu Sosial Vol. 15 (2018): Hal. 205.

4 Austhi, Deby. “Motivasi Berwirausaha Dan Kesuksesan Berwirausaha.”

Jurnal Agora Vol. 5 (2017): Hal. 20.

(36)

b. Social Capital diartikan sebagai favorable social environment dengan indikator:

1) Jaringan sosial

2) Keluarga dan pasangan

c. Reputational Capital diartikan sebagai social image dengan indikator:

1) Adanya penghargaan dari instansi tertentu 2) Reputasi

3. Kegiatan Kewirausahaan Menurut Pandangan Islam Kewirausahaan merupakan salah satu cara yang dilakukan seorang muslim untuk memperoleh rezeki serta kebahagiaan maupun keberhasilan di dunia di akhirat. Agama islam mengajarkan keseluruhan tata cara untuk berbagai aspek dalam kehidupan, termasuk mengenai bisnis dan kewirausahaan. Agama Islam memberikan pemahaman bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia haruslah merupakan tindakan yang baik, sesuai syari‟at Islam yang bersumber dari Al- Qur‟an serta al-Hadits. Segala sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur‟an dan al-Hadits adalah kegiatan yang buruk dan tidak diperbolehkan untuk dilakukan. Dalam bidang ekonomi, segala bentuk kegiatan ekonomi yang berlandaskan ajaran agama Islam ini dapat disebut sebagai ekonomi Islam. Ekonomi Islam menjelaskan

(37)

segala bentuk implementasi aturan dalam Al-Qur‟an, Hadits, maupun sumber lainnya yang diakui secara syari‟at yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi (Nurfaqih & Fahmi, 2018). Oleh karena itu, kegiatan kewirausahaan dalam pandangan agama Islam secara sempit adalah segala bentuk bisnis yang halal atau diperbolehkan sesuai syari‟at Islam, dan tidak melanggar aturan syari‟at yang ada dalam bentuk apapun.

Dalam agama Islam, konsep kewirausahaan memiliki dua bentuk dimensi; yakni dimensi vertikal (hablumminallah) serta dimensi horizontal (hablumminannas). Dimensi vertikal menghubungkan antara seorang muslim dengan Allah SWT. sebagai Tuhan Yang Maha Esa, sementara dimensi horizontal menghubungkan seorang manusia dengan sesamanya.

Kegiatan kewirausahaan dalam Islam merupakan hal yang sangat dianjurkan, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. At-Taubah ayat 105 yang artinya: “Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul- Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. Segala bentuk perbuatan yang dilakukan oleh manusia akan dicatat sesuai kadar baik

(38)

atau buruknya, tak terkecuali dalam kegiatan kewirausahaan. Seluruh kegiatan kewirausahaan yang berlandaskan pada ajaran Al-Qur‟an maupun al-Hadits serta aturan hukum syari‟ah lainnya adalah bentuk pengabdian, ketaatan, serta tanggung jawab kepada Allah SWT (Bahri, 2018).

Selain itu, kewirausahaan dalam ajaran Islam juga dijelaskandalam ayat Al-Qur‟an lainnya serta dalam salah satu sabda Nabi. Dalam Q.S. Al-Jumu‟ah: 10, Allah SWT berfirman yang artinya: “Apabila shalattelah ditunaikan maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (rizki) Allah”. Dalam salah satu hadits riwayat Tabrani dan Baihaqi, Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan bahwa “Sesungguhnya bekerja mencari rizki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah fardlu” (Aprijon, 2013). Dari pandangan ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan berwirausaha merupakan perbuatan yang dianjurkan bagi setiap muslim di seluruh dunia.Keberhasilan dalam berwirausaha akan datang pada seseorang yang melaksanakan ajaran agama Islam pada kegiatannya, serta selalu berusaha dan tidak menyerah dalam menjalankannya.

Islam menekankan pada landasan Al-Qur‟an dan al- Hadits dalam seluruh bentuk kegiatan usaha manusia.

(39)

Sehingga kewirausahaan islami yang baik adalah bentuk kewirausahaan dengan pemahaman agama Islam yang baik. Dimana kegiatan tersebut mampu untuk mengimplementasikan ajaran agama Islam dalam berbagai aspek.

Kegiatan kewirausahaan juga menjauhi sifat maupun perilaku negatif, serta senantiasa melaksanakan ibadah dan berserah diri kepada Allah SWT dalam keberlangsungannya (Radiniz, 2007). Kewirausahaan dalam agama Islam juga dilandasi nilai-nilai seperti aqidah, ibadah, dan mua‟malat. Ketiga nilai ini juga menjadi dasar pelaksanaan kegiatan kewirausahaan, sekaligus menjadi dasar seorang muslim dalam segala perbuatan memenuhi kebutuhannya. Karena Islam mewajibkan seseorang untuk bekerja keras memperoleh ridho Allah SWT melalui bentuk perbuatan-perbuatan terpuji, termasuk dalam kegiatan kewirausahaan. Hal ini semata-mata adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT, serta dalam usaha memperoleh kebahagiaan materi maupun rohani (Musfialdy & Soim, 2017).

Nilai-nilai Islam dalam konsep kewirausahaan dapat disimpulkan ke dalam 4 bentuk nilai (Nurfaqih & Fahmi, 2018). Nilai pertama yakni tauhid, atau keimanan terhadap Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Nilai kedua yakni nilai keadilan, dimana kegiatan

(40)

didasarkan pada perasaan sama rata dan sama rasa, tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun. Nilai ketiga adalah nilai hasil kegiatan tersebut. Suatu bentuk kegiatan seharusnya memberikan hasil kepada para pelaku di dalamnya, yang telah bekerja sesuai proses kegiatan tersebut. Dan nilai keempat adalah nilai sukarela (ikhlas). Nilai ini menekankan bahwa seluruh kegiatan yang berdasar pada nilai keikhlasan dan berserah diri kepada Allah SWT akan menimbulkan hasil yang baik.

Terdapat pula nilai-nilai lain seperti kemandirian (biyadihi), serta semangat kerja keras. Hal ini sesuai pada sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,

“Amal yang paling baik adalah pekerjaan yang dilakukan dengan cucuran keringatnya sendiri” (Aprijon, 2013).

Dalam melaksanakan kegiatan kewirausahaan, Islam menerapkan setidaknya 8 prinsip yang mengacu pada ajaran agama. Pertama, kewirausahaan adalah bagian dalam ajaran Islam yang tidak dapat dipisahkan. Kedua, seseorang yang berkegiatan sebagai wirausaha adalah seorang “khalifah”, dimana orang tersebut memilikki tanggung jawab dalam peningkatan kesejahteraan seluruh pelaku yang ada dalam kegiatan tersebut. Ketiga, Islam memandang proses usaha sebagai motivasi utama dalam pencapaian kesuksesan. Keempat, kegiatan

(41)

kewirausahaan merupakan bentuk ibadah ataupun bentuk perbuatan yang baik. Kelima, Islam menganjurkan umatnya untuk menjalankan kegiatan kewirausahaan yang sesuai syari‟at. Keenam, Islam menjadikan Al- Qur‟an dan Al-Hadits sebagai pedoman dalammenjalankan kegiatan kewirausahaan di seluruh bidang. Ketujuh, prinsip kewirausahaan dalam Islam didasarkan pada sistem ekonomi Islam. Kedelapan, etika kewirausahaan yang dianjurkan adalah bentuk perilaku teladan dari Nabi Muhammad SAW dalam berbagai aspek. Kewirausahaan dalam Islam bukan semata-mata bertujuan mencari keuntungan, tetapi untuk memenuhi fardhu kifayah serta mencariridho Allah SWT (Radiniz, 2007).

Islam memang tidak memberikan penjelasan secara eksplisit terkait konsep tentang kewirausahaan (entrepreneurship) ini, namun di antara keduanya mempunyai kaitan yang cukup erat; memiliki ruh atau jiwa yang sangat dekat, meskipun bahasa teknis yang digunakan berbeda.

Dalam Islam digunakan istilah kerja keras, kemandirian (biyadihi), dan tidak cengeng. Setidaknya terdapat beberapa ayat al-Qur ‟an maupun Hadis yang dapat menjadi rujukan pesan tentang semangat kerja keras dan kemandirian ini, seperti; “Amal yang paling

(42)

baik adalah pekerjaan yang dilakukan dengan cucuran keringatnya sendiri, „amalurrajuli biyadihi (HR.Abu Dawud)”;

“Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”;

“al yad al „ulya khairun min al yad al sufla”(HR.

Bukhari dan Muslim)(dengan bahasa yang sangat simbolik ini Nabi mendorong umatnya untuk kerja keras supaya memiliki kekayaan, sehingga dapat memberikan sesuatu pada orang lain), atuzzakah. (Q.S. Nisa: 77).

Dalam sebuah ayat Allah mengatakan, “Bekerja- lah kamu, maka Allah dan orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan kamu”(Q.S. at-Taubah: 105). Oleh karena itu, apabila shalat telah ditunaikan maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (rizki) Allah. (Q.S. al-Jumu‟ah: 10)

Dalam sejarahnya Nabi Muhammad, istrinya dan sebagian besar sahabatnya adalah para pedagang dan entrepre mancanegara yang pawai. Beliau adalah praktisi ekonomi dan sosok tauladan bagi umat. Oleh karena itu, sebenarnya tidaklah asing jika dikatakan bahwa mental entrepreneurship inheren dengan jiwa umat Islam itu sendiri. Bukanlah Islam adalah dalam hadits: “Allah mengasihi orang yang bermurah agama kaum pedagang, disebarkan ke seluruh dunia

(43)

setidaknya sampai abad ke -13 M, oleh para pedagang muslim.

Dari aktivitas perdagangan yang dilakukan, Nabi dan sebagian besar sahabat telah meubah pandangan dunia bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada kebangsawanan darah, tidak pula pada jabatan yang tinggi, atau uang yang banyak, melainkan pada pekerjaan.

Sejarah juga mencatat sejumlah tokoh Islam terkenal yang juga sebagai pengusaha tangguh, Abdul Ghani Aziz, Agus Dasaad, Djohan Soetan, Perpatih, Jhohan Soelaiman, Haji Samanhudi, Haji Syamsuddin, Niti Semito, dan Rahman Tamin.

Apa yang tergambar di atas, setidaknya dapat menjadi bukti nyata bahwa etos bisnis yang dimiliki oleh umat Islam sangatlah tinggi, atau dengan kata lain Islam dan berdagang ibarat dua sisi dari satu keping mata uang. Benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi,

“Hendaklah kamu berdagang karena di dalamnya terdapat 90 persen pintu rizki” (HR. Ahmad).

Adapun Motif Berwirausaha Dalam Bidang Perdagangan menurut ajaran agama Islam, yaitu:5

a. Berdagang buat Cari Untung?

5 Prasetyani, Dwi. Kewirausahaan Dan Pandangan Islam. Surakarta: CV.

Djiwa Amarta Press, 2020. Hal. 7-8.

(44)

Pekerjaan berdagang adalah sebagian dari pekerjaan bisnis yang sebagian besar bertujuan untuk mencari laba sehingga seringkali untuk mencapainya dilakukan hal-hal yang tidak baik.

Padahal ini sangat dilarang dalam agama Islam.

Seperti diungkapkan dalam hadits: “Allah mengasihi orang yang bermurah agama kaum pedagang, disebarkan ke seluruh dunia hati waktu menjual, waktu membeli, dan waktu menagih piutang.

b. Berdagang adalah Hobi

Konsep berdagang adalah hobi banyak dianut oleh para pedagang dari Cina. Mereka menekuni kegiatan berdagang ini dengan sebaik-baiknya dengan melakukan berbagai macam terobosan.Yaitu dengan open display (melakukan pajangan di halaman terbuka untuk menarik minat orang), window display (melakukan pajangan di depan toko), interior display (pajangan yang disusun didalam toko), dan close display (pajangan khusus barang-barang berharga agar tidak dicuri oleh orang yang jahat).

c. Berdagang Adalah Ibadah

Bagi umat Islam berdagang lebih kepada bentuk Ibadah kepada Allah swt. Karena apapun yang kita

(45)

lakukan harus memiliki niat untuk beribadah agar mendapat berkah. Berdagang dengan niat ini akan mempermudah jalan kita mendapatkan rezeki. Para pedagang dapat mengambil barang dari tempat grosir dan menjual ditempatnya. Dengan demikia n masyarakat yang ada disekitarnya tidak perlu jauh untuk membeli barang yang sama. Sehingga nantinya akan terbentuk patronage buying motive yaitu suatu motif berbelanja ketoko tertentu saja.

Berwirausaha memberi peluang kepada orang lain untuk berbuat baik dengan cara memberikan pelayanan yang cepat, membantu kemudahan bagi orang yang berbelanja, memberi potongan, dll.

Perbuatan baik akan selalu menenangkan pikiran yang kemudian akan turut membantu kesehatan jasmani. Hal ini seperti yang diungkapkan dalam buku The Healing Brain yang menyatakan bahwa fungsi utama otak bukanlah untuk berfikir, tetapi untuk mengembalikan kesehatan tubuh. Vitalitas otak dalam menjaga kesehatan banyak dipengaruhi oleh frekwensi perbuatan baik. Dan aspek kerja otak yang paling utama adalah bergaul, bermuamalah, bekerja sama, tolong menolong, dan kegiatan komunikasi dengan orang lain.

(46)

d. Perintah Kerja Keras

Kemauan yang keras dapat menggerakkan motivasi untuk bekerja dengan sungguh-sungguh.

Orang akan berhasil apabila mau bekerja keras, tahan menderita, dan mampu berjuang untuk memperbaiki nasibnya. Menurut Murphy dan Peck, untuk mencapai sukses dala m karir seseorang, maka harus dimulai dengan kerja keras. Kemudian diikuti dengan mencapai tujuan dengan orang lain, penampilan yang baik, keyakinan diri, membuat keputusan, pendidikan, dorongan ambisi, dan pintar berkomunikasi. Allah memerintahkan kita untuk tawakkal dan bekerja keras untuk dapat mengubah nasib. Jadi intinya adalah inisiatif, motivasi, kreatif yang akan menumbuhkan kreativitas untuk perbaikan hidup. Selain itu kita juga dianjurkan untuk tetap berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah swt sesibuk apapun kita berusaha karena Dialah yang menentukan akhir dari setiap usaha.

e. Perdagangan/Berwirausaha Pekerjaan Mulia Dalam Islam

Pekerjaan berdagang ini mendapat tempat terhormat dalam ajaran Islam, seperti disabdakan Rasul:

(47)

“Mata pencarian apakah yang paling baik, Ya Rasulullah?”Jawab beliau: Ialah seseorang yang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih.” (HR. Al-Bazzar).

Dalam QS.Al-Baqarah:275 dijelaskan bahwa Allah swt telah menghalalkan kegiatan jual beli dan mengharamkan riba. Kegiatan riba ini sangat merugikan karena membuat kegiatan perdagangan tidak berkembang. Hal ini disebabkan karena uang dan modal hanya berputar pada satu pihak saja yang akhirnya dapat mengeksploitasi masyarakat yang terdesak kebutuhan hidup.

B. Meminimalisir Kebutuhan Pangan

Kebutuhan pangan senantiasa meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Di sisi pemenuhannya, tidak semua kebutuhan pangan dapat dipenuhi, karena kapasitas produksi dan distribusi pangan semakin terbatas. Hal ini menyebabkan ketidakstabilan pangan antara kebutuhan dan pemenuhannya secara nasional.

Dengan demikian pemenuhan kebutuhan pangan ini menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka Mempertahankan kedaulatan negara, melalui tidak tergantung pada impor pangan dari negara maju.

Ketergantungan suatu negara akan impor pangan (apalagi

(48)

dari negara maju), akan mengakibatkan pengambilan keputusan atas segala aspek kehidupan menjadi tidak bebas atau tidak merdeka, dan karenanya negara menjadi tidak berdaulat secara penuh (Arifin, 2004).

Konsep pangan menurut Undang-undang Nomor 7 tahun 1996 adalah segala sesuatu yang berasal dari hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman.

Konsep ketahanan pangan menurut Undang-undang Nomor 7 tahun 1996 adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Berdasar konsep tersebut, maka terdapat beberapa prinsip yang terkait, baik langsung maupun tidak langsung terhadap ketahanan pangan (food security), yang harus diperhatikan (Sumardjo, 2006):6

1. Rumah tangga sebagai unit perhatian terpenting pemenuhan kebutuhan pangan nasional maupun komunitas dan individu.

6 Yunastiti, Purwaningsih. “Ketahanan Pangan: Situasi, Permasalahan, Kebijakan, Dan Pemberdayaan Masyarakat.” Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9 (Juni 2008): Hal. 2.

(49)

2. Kewajiban negara untuk menjamin hak atas pangan setiap warganya yang terhimpun dalam satuan masyarakat terkecil untuk mendapatkan pangan bagi keberlangsungan hidup.

3. Ketersediaan pangan mencakup aspek ketercukupan jumlah pangan (food sufficiency) dan terjamin mutunya (food quality).

4. Produksi pangan yang sangat menentukan jumlah pangan sebagai kegiatan atau proses menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas, mengemas kembali dan atau mengubah bentuk pangan.

5. Mutu pangan yang nilainya ditentukan atas dasar kriteria keamanan pangan, kandungan gizi dan standar perdagangan terhadap bahan makanan dan minuman.

6. Keamanan pangan (food safety) adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat menganggu, merugikan dan membahayakan keadaan manusia.

7. Kemerataan pangan merupakan dimensi penting keadilan pangan bagi masyarakat yang ukurannya sangat ditentukan oleh derajat kemampuan negara dalam menjamin hak pangan warga negara melalui sistem distribusi produksi pangan yang dikembangkannya.

(50)

Prinsip kemerataan pangan mengamanatkan sistem pangan nasional harus mampu menjamin hak pangan bagi setiap rumah tangga tanpa terkecuali.

8. Keterjangkauan pangan mempresentasikan kesamaan derajat keleluasaan akses dan kontrol yang dimiliki oleh setiap rumah tangga dalam memenuhi hak pangan mereka. Prinsip ini merupakan salah satu dimensi keadilan pangan yang penting untuk diperhatikan.

Konsep ketahanan pangan seperti disebut di atas, selanjutnya dapat diringkas kedalam aspek:

a) Ketersediaan pangan: ketercukupan jumlah pangan (food sufficiency).

b) Keamanan pangan (food safety): pangan yang bebas dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat menganggu, merugikan dan membahayakan keadaan manusia, serta terjamin Mutunya (food quality) yaitu memenuhi kandungan gizi dan standar perdagangan terhadap bahan makanan dan minuman.

c) Kemerataan pangan: sistem distribusi pangan yang mendukung tersedianya pangan setiap saat dan merata.

d) Keterjangkauan pangan: kemudahan rumah tangga untuk memperoleh pangan dengan harga yang terjangkau.

(51)

C. Hidroponik

1. Pengertian Hidroponik

Pada awal tahun 1930 di Berkley California, William Frederick Gericke mempelopori sistem hidroponik, yaitu sistem budidaya menggunakan air yang mengandung nutrisi dan mineral tanpa tanah. Saat ini pertanian menggunakan hidroponik telah diterapkan secara luas dan memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional, yaitu mengurangi risiko atau masalah budidaya yang berhubungan dengan tanah seperti gangguan serangga, jamur dan bakteri yang hidup di tanah. Sistem ini juga lebih mudah dalam pemeliharaan seperti tidak melibatkan proses penyiangan dan pengolahan tanah dalam budidaya tanamannya. Selanjutnya proses budidaya dilakukan dalam kondisi lebih bersih tanpa menggunakan pupuk kotoran hewan. Faktor-faktor pembatas dalam budidaya di lahan seperti suhu, kelembaban dan nutrisi dan pH dapat diatur dengan menggunakan metode hidroponik ini (Al-Khodmany, 2018).

Pada prinsipnya tanaman dapat hidup di tanah karena tersedianya nutrisi dan jika nutrisi tersebut dapat disediakan dalam air dengan perlakuan maka tanaman juga dapat hidup dan memberikan hasil yang sama

(52)

(Pascual et al, 2018). Faktor nutrisi menjadi salah satu faktor penentu yang paling penting dari hasil dan kualitas tanaman. Larutan nutrisi yang paling mendasar adalah Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Sulfur (S) yang juga dilengkapi dengan mikronutrien. Tanaman menyerap ion dari larutan nutrisi yang diberikan secara terus menerus dalam tingkatan konsentrasi yang rendah. Dari beberapa hasil penelitian sebelumnya bahwa nutrisi dalam proporsi yang tinggi tidak dimanfaatkan oleh tanaman dan juga tidak mempengaruhi produksi tanaman.

Larutan nutrisi dengan konsentrasi tinggi menyebabkan penyerapan nutrisi yang berlebihan dan dapat menyebabkan kecacunan pada tanaman, walaupun beberapa penelitian menyebutkan ada juga pengaruh positif seperti pembungaan yang lebih cepat pada Salvia sp. atau meningkatnya berat kering buah, berat total buah dan jumlah lycopene pada tomat (Libia et al, 2012).7

Kultur hidroponik adalah metode penanaman tanaman tanpa menggunakan media tumbuh dari tanah.

Secara harafiah hidroponik berarti penanaman dalam air yang mengandung campuran hara. Dalam praktek

7 Swastika, Sri, Ade Yulfida, Dan Yogo Sumitro. Budidaya Sayuran Hidroponik. Disunting Oleh Fahroji. Riau: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (Bptp), 2017. Hal. 4-5.

(53)

sekarang ini, hidroponik tidak terlepas dari penggunaan media tumbuh lain yang bukan tanah sebagai penopang pertumbuhan tanaman.

Menurut Raffar (1993), sistem hidroponik merupakan cara produksi tanaman yang sangat efektif.

Sistem ini dikembangkan berdasarkan alasan bahwa jika tanaman diberi kondisi pertumbuhan yang optimal, maka potensi maksimum untuk berproduksi dapat tercapai.

Hal ini berhubungan dengan pertumbuhan sistem perakaran tanaman, di mana pertumbuhan perakaran tanaman yang optimum akan menghasilkan

Hidroponik adalah suatu metode bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, melainkan dengan menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan lainnya yang mengandung unsur hara seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata, serbuk kayu, dan lain-lain sebagai pengganti media tanah (Izzuddin, 2016).

2. Kelebihan Dan Kekurangan Kultur Hidroponik Beberapa pakar hidroponik mengemukakan beberapa kelebihan dan kekurangan sistem hidroponik dibandingkan dengan pertanian konvensional (Del Rosario dan Santos 1990; Chow 1990).8

8 Rosliana, Rini, Dan Nani Sumarni. Budidaya Tanaman Sayuran Dengan Sistem Hidroponik. Bandung: Monografi, 2005.

(54)

a. Kelebihan sistem hidroponik antara lain adalah : 1) penggunaan lahan lebih efisien,

2) tanaman berproduksi tanpa menggunakan tanah, 3) tidak ada resiko untuk penanaman terus

menerus sepanjang tahun,

4) kuantitas dan kualitas produksi lebih tinggi dan lebih bersih,

5) penggunaan pupuk dan air lebih efisien, 6) periode tanam lebih pendek, dan

7) pengendalian hama dan penyakit lebih mudah.

b. Kekurangan sistem hidroponik, antara lain adalah : 1) membutuhkan modal yang besar;

2) pada “Close System” (nutrisi disirkulasi), jika ada tanaman yang terserang patogen maka dalam waktu yang sangat singkat seluruh tanaman akan terkena serangan tersebut; dan 3) pada kultur substrat, kapasitas memegang air

media substrat lebih kecil daripada media tanah;

sedangkan pada kultur air volume air dan jumlah nutrisi sangat terbatas sehingga akan menyebabkan pelayuan tanaman yang cepat dan stres yang serius.

3. Pengelolaan Hidroponik

Aspek lain yang penting dalam menentukan keberhasilan budidaya hidroponik pada tanaman sayuran

(55)

adalah pengelolaan tanaman, yang meliputi persiapan bahan media, larutan nutrisi maupun tanaman,

pemeliharaan tanaman mulai dari

persemaian/pembibitan, aplikasi larutan nutrisi, proteksi tanaman dari hama dan penyakit, panen, serta pasca panen.

Beberapa masalah yang perlu mendapatkan perhatian dalam pemeliharaan tanaman adalah upaya untuk mempertahankan pertumbuhan tanaman yang sehat. Beberapa pakar hidroponik mengemukakan bahwa meskipun budidaya hidroponik dilakukan di dalam rumah kaca/ plastik/ kasa, namun gangguan dari hama penyakit masih tetap ada. Menurut Bugbee (2003), kunci penting untuk mengendalikan hama penyakit di rumah kaca adalah memilih varietas yang tahan hama penyakit, mengawasi lingkungan untuk mengurangi penyakit, melaksanakan sanitasi yang baik di dalam dan sekitar rumah kaca, dan menerapkan tindakan pengendalian secara manual dan kimiawi yang tepat. Selanjutnya, panen dan penanganan pasca panen yang tepat akan menentukan kualitas hasil sayuran yang diharapkan.

4. Jenis-Jenis Hidroponik

Beberapa jenis hidroponik yang umum digunakan antara lain:

(56)

a. Wick System

Sistem ini merupakan model hidroponik yang paling sederhana, yaitu menggunakan sumbu yang menghubungkan pot tanaman dengan media larutan nutrisi.

Gambar 1.1 hidroponik dengan wick system b. Nutrient Film Technique (NFT)

Larutan nutrisi secara terus menerus dialirkan mengenai akar tanaman menggunakan pipa PVC menggunakan pompa dengan teknik resirkulasi.

Gambar 1.2 hidroponik dengan NFT system

(57)

c. Deep Water Culture (DWC)

Tanaman dibuat mengapung pada larutan nutrisi sehingga akar tanaman terendam terus menerus.

Penggunaan pompa hanya untuk menghasilkan oksigen di dalam larutan nutrisi.

Gambar 1.3 hidroponik dengan DWC system d. Drip system

Sistem ini menggunakan 2 (dua) buah kontainer terpisah yaitu bagian atas dan bawah. Kontainer atas untuk tanaman dan yang bawah untuk larutan nutrisi. Larutan nutrisi dipompa naik dan menyiram batang tanaman dan akan larutan sisa akan turun ke kontainer bawah setelah melewati media tanam dan akar tanaman.

(58)

Gambar 1.4 hidroponik dengan drip system e. Ebb dan flow system (flood and drain system)

Pengaturannya mirip dengan sistem infus, di mana ada dua kontainer, yang satu di atas berisi tanaman dalam pot dengan substrat dan yang ada di bagian bawah yang mengandung larutan nutrisi.

Pemberian nutrisi untuk tanaman dilakukan dengan sistem pasang surut, yaitu bergantian memenuhi kontainer atas dengan larutan nutrisi dan kemudian mengosongkan larutan nutrisi dan kembali ke kontainer bawah.

Gambar 1.5 Hidroponik dengan Ebb and Flow System

(59)

BAB III

GAMBAR OBYEK PENELITIAN

A. Profil Panti Asuhan Bina Insani

Panti asuhan Bina Insani berdiri pada tahun 2010 yang didirikan oleh pasangan suami istri yang bernama Ir. H.

Ahmad Naziri ST. MT dan Ir. Hj. Lela Wati ST. MT dan terdaftar didinas sosial dengan Nomor:AHU-3270. AH. 01.

04. Tahun 2011, dengan jumlah anak asuh sebanyak 26 anak yang terdiri dari 11 anak laki-laki dan 15 anak perempuan dan dengan 4 orang pengasuh yang terdiri dari 1 orang pengasuh laki-laki dan 3 orang pengasuh perempuan.

Kegiatan yang dilakukan sehari-hari oleh anak-anak panti berupa sholat lima waktu, mengaji, belajar pelajaran sekolah dan bersih-bersih panti.

Gambar 1.6 Profil Panti Asuhan Bina Insani

42

(60)

B. Lokasi Panti Asuhan Bina Insani

Panti Asuhan Bina Insani Beralamat Di Jalan Simpang Kandis Perumahan Kandis Raya No : 03 RT.20 RW 01. Kec.

Kampung Melayu Kota Bengkulu.

Struktur Organisasi Panti Asuhan Bina Insani

Gambar 1.7 Struktur Organisasi Panti Asuhan Bina Insani Pembina

H. Achmad Nazirin

Bendahara Jamaidah, S.Pd.

Pengasuh Mis/Mustopa

Sekretaris Titin Ketua

Hj. Lelawati

(61)

BAB IV HASIL KEGIATAN

A. Tahapan Hasil Kegiatan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Panti Asuhan Bina Insani, Jl. Simpang Kandis Perumahan Kandis Raya.

Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 2021 – 30 Juni 2021 sudah terhitung mulai dari persiapan sampai dengan selesainya kegiatan.

Kegiatan dilaksanakan di Panti Asuhan Bina Insani, Jl.

Simpang Kandis Perumahan Kandis Raya. No, 03 rt. 20 rw.

01 Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi:

Rapat Bersama Pengurus Panti

Rapat dilaksanakan pada tanggal sekian di Panti Asuhan Bina Insani, Jl. Simpang Kandis Perumahan Kandis Raya.

No, 03 rt. 20 rw. 01 Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu. Kegiatan rapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:

1. Pembukaan yang dilakukan oleh pelaksana dengan bersama sama membaca lafadz basmallah

2. Mukaddimah yang disampaikan oleh Bima Yazida Akmal

3. Perkenalan sekaligus penyampaian maksud dan tujuan oleh mahasiswa pengabdian

44

(62)

4. Tanggapan pengurus panti terkait maksud dan tujuan oleh mahasiswa pengabdian.

5. Penutup dilanjutkan dengan foto bersama

Pada saat rapat pengurus panti asuhan bina insani menjelaskan keadaan panti dan jumlah anak-anak yang ada di panti dan tidak adanya sumber kebutuhan pangan yang selama ini masih sering membeli di pasar. Tak hanya itu pengurus panti juga menjelaskan kurangnya kegiatan bagi anak-anak panti karna kegiatan yang dilakukan hanyalah mengaji. Jadi diharapkan dengan adanya program pengabdian masyarakat membuat hidroponik dapat menambah kebutuhan pangan dan kegiatan bagi anak-anak panti dengan belajar membuat hidroponik.

B. Pengelolaan Hidroponik Sebagai Alternatif Kebuthan Pangan

Pengertian Sistem hidroponik

Hidroponik adalah segala bentuk atau teknik budi daya tanaman yang menggunakan media tumbuh selain tanah, dengan kata lain dapat juga dikatakan budi daya soilless culture (tanpa tanah). Berdasarkan media tanam yang digunakan, hidroponik dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu:

1. Metode kultur air, pada metode ini, air digunakan sebagai media tanam.

(63)

2. Metode kultur pasir, metode ini menggunakan pasir sebagai media, serta paling praktis dan lebih mudah dilakukan.

3. Metode kultur kerikil, pada metode ini bahan yang digunakan antara lain pecahan genteng, dan gabus putih.

Ditinjau dari segi bahasa, kata “Hidroponik” bahasa Inggris disebut hydroponic, berasal dari kata Yunani yaitu Hydro yang berarti air dan Ponos yang artinya daya atau kerja, hidroponik juga dikenal sebagai “Soilless Culture”

(budidaya tanaman tanpa tanah). Hidroponik memiliki pengertian secara bebas sebagai teknik bercocok tanam dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman.

Pengertian hidroponik dapat disimpulkan bahwa yang disebut hidroponik adalah budi daya tanaman yang memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam, oleh karena itu hidroponik juga dikenal dengan istilah“Soilless Culture” (budidaya tanaman tanpa tanah).9

Pembuatan hirdroponik dilaksanakan selama dua bulan mulai dari pembuatan sampai dengan pemanenan dengan beberapa tahapan, yaitu:

9 Zulfa, Marlina. "Pemanfaatan Limbah Cair Tahu Terhadap Pertumbuhan Bayam Merah (Alternantera Amoena Voss) Dalam Kultur Hidroponik Rakit Apung." Skripsi, Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2019. Hal. 27-28

(64)

a. Kegiatan Minggu Pertama (Pembuatan Instalasi Hidroponik Jenis Rakit Apung)

Terdapat Beberapa tipe sistem hidroponik yaitu Drip System (sistem tetes), Ebb and Flow, Nutrient Film (NFT), Technique, Deepwater Culture, Aeroponic, dan Floating System (sistem rakit apung).

Selain itu, sistem hidroponik bisa juga merupakan kombinasi dari satu atau lebih dari sistem-sistem tersebut. Akar tumbuhan membutuhkan 3 hal yaitu air/kelembapan, nutrisi, dan oksigen. Perbedaan dari ketiga sistem hidroponik tersebut yaitu bagaimana cara menghantarkan tiga kebutuhan tumbuhan tersebut ke akar.

Deep water culture disebut juga sebagai floating raft system (sistem rakit apung) atau metode reservoir.

Metode ini sangat sederhana karena akar direndam dalam larutan nutrisi, pada sistem ini sebaiknya menggunakan pompa udara untuk akuarium untuk memberikan oksigen pada larutan nutrisi. Perlu diingat bahwa pada sistem ini sebaiknya wadahnya tertutup, agar mencegah penetrasi sinar matahari ke dalam sistem, sehingga mencegah pertumbuhan alga dalam skala besar, wadah nutrisi dibuat dalam bentuk reservoir (waduk) yang besar, dan tumbuhan diapungkan menggunakan bahan yang mengapung.

Gambar

Tabel 1.1 Roadmap Pengabdian Masyarakat  No   Isi roadmap (peta
Tabel 1.2 Jadwal Pelaksanaan PM
Tabel 1.3 Biaya Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat
Gambar 1.1 hidroponik dengan wick system  b.  Nutrient Film Technique (NFT)
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

4.1087 Ilmy Amiqoh Ilmu Administrasi Publik 4.1088 Dikhla Rif`A Ilmu Administrasi Publik 2.39 4.1089 Elfananda Istiqlalia Ilmu Administrasi Publik 4.1090 Hamida Condrowati Jayadi