Dalam karir seorang birokrat, Wakil Menteri Tata Usaha Negara merupakan jenjang tertinggi dalam birokrasi. Puncak karir calon yang terseleksi melalui ujian tingkat B adalah Kepala Biro, sedangkan jenjang A dapat mencapai Wakil Menteri Tata Usaha Negara.
Menjunjung Tinggi Senioritas
Begitu pula dengan berakhirnya Perang Dunia Kedua tidak berarti hilangnya nilai-nilai tradisional akibat munculnya kebijakan-kebijakan baru, khususnya di bidang ekonomi. Nilai-nilai tradisional telah disesuaikan dengan lingkungan pengelolaan modern di segala bidang, seperti ekonomi, sosial dan politik. Fakta tersebut memunculkan argumen bahwa keberhasilan perekonomian Jepang saat ini merupakan hasil dari pengelolaan unik yang dilakukan pemerintah berdasarkan nilai-nilai tradisional, yang mungkin sulit diterapkan di negara lain.
Ambil salah satu contoh yang dialami Yoshio Shinji, lahir pada tahun 1913 dan pada tahun 1931 menjadi wakil menteri di Kementerian Perdagangan dan Industri (MITI). Kesuksesan Shinji tak lepas dari dukungan salah satu sempainya yaitu Nakamutsu Shinko, salah satu angkatan 1908 yang menjabat sebagai kepala kantor paten MITI. Budaya kohei-sempai ini sebenarnya sangat mendukung kerja para birokrat, karena para tetua selalu mengayomi dan membimbing adik-adiknya, sedangkan adik-adik mempunyai wadah untuk menimba ilmu dan bisa bertanya kepada kakak-kakaknya kapan saja.
Kerasnya bekerja sebagai birokrat Jepang terlihat pada kasus lain, yaitu pada masa liburan, seluruh pegawai diberikan kelonggaran untuk tidak bekerja selama 2 bulan.
Kesetiaan dalam Menjalankan Tugas
Untuk mencegah pengunduran diri atau bunuh diri, birokrat lebih memilih bekerja lembur setiap hari, terutama menjelang sidang Diet. Etos kerja para birokrat yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk kepentingan negara sama sekali tidak memperdulikan imbalan atas jasa-jasa yang telah diberikannya, misalnya mendapatkan imbalan atas jasa-jasanya. dalam hal gaji. Seorang peneliti mengumpulkan sampel yang menentukan distribusi pendapatan tahunan antara elit industri dan elit birokrasi seperti terlihat pada tabel di bawah ini.
Perbandingan upah antara elit industri dan birokrasi pada tahun 1984 GAJI (US$) ELITE INDUSTRI ELITE BIROKRASI. Selain itu, tidak ada satu pun birokrat elit yang menerima gaji lebih dari 160.000 USD, yang sebenarnya mencakup 43% elit bisnis. Menghargai nilai kesetiaan penuh terhadap pekerjaan lebih diutamakan daripada penghitungan jumlah tanggapan yang diterima.
Dengan demikian, dapat digarisbawahi bahwa kesetiaan mereka dalam menjalankan tugasnya sebagai birokrat Jepang tidak perlu diragukan lagi, meski secara finansial mereka lebih rendah dibandingkan para elit bisnis.
Menjunjung Tinggi Keharmonisan
Kode etik yang menjaga keharmonisan antar birokrat Jepang memberikan kenyamanan dalam lingkungan kerjanya. Hampir tidak pernah terjadi satu birokrat bermusuhan dengan birokrat lainnya, karena selain sistem pengelolaan SDM yang adil dan terorganisir, setiap birokrat juga memiliki budaya menjaga keharmonisan. Jadi ketika kita mengunjungi kantor-kantor pemerintahan di Jepang, kita akan melihat semua orang melakukan pekerjaannya dengan cepat, fokus, dan saling tersenyum.
Tidak ada sedikit pun suasana permusuhan di antara mereka dan mungkin hal inilah yang mendorong mereka mencapai produktivitas tinggi.
Mendahulukan Kelompok
Saat ini diperkirakan terdapat 6 Keiretsu terbesar di Jepang, terdiri dari 187-193 perusahaan besar yang menguasai 15% aset perusahaan, 40% aset perbankan, 53% aset asuransi, dan 53% aset real estate (Gerlach, 1992). ). : 87). Enam keiretsu terbesar di Jepang adalah grup Mitsubitshi, Mitsui, Sumitomo, Fuji, Daichi dan Sanwa yang masing-masing terbagi menjadi perusahaan induk dan afiliasi. Jika kita ingin melihat keseluruhan latar belakang elite bisnis di Jepang, tentu kita akan menemui permasalahan, terutama yang muncul dalam beberapa dekade terakhir.
Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak 10 orang general manager pada 10 bank, 5 perusahaan dagang, 10 perusahaan elektronik dan 5 perusahaan mobil terbesar di Jepang. Mantan birokrat elit yang memasuki dunia bisnis akan mendapatkan jabatan tinggi seperti manajer, presiden, wakil presiden, direktur atau jabatan tinggi lainnya, karena sistem promosi di Jepang didasarkan pada senioritas. Harap dicatat bahwa Wakil Menteri Administrasi adalah posisi birokrasi tertinggi di Jepang yang tidak dapat dipegang oleh politisi Diet.
Perbankan menyediakan modal untuk pertumbuhan ekonomi Jepang, seperti industrialisasi, dan diawasi oleh Kementerian Keuangan.
BIROKRAT SEBAGAI CENTER ACTOR DALAM KEBERHASILAN EKONOMI
Kelompok Usaha “Keiretsu”
Perbedaan karakteristik perekonomian Jepang yang paling kentara dibandingkan negara industri lainnya adalah kepemilikan modal dan saham oleh perusahaan-perusahaan besar, bukan di tangan pemerintah atau perorangan. Komposisi persentase ini terlihat berbeda jika dibandingkan dengan Amerika yang hampir 50% kepemilikan sahamnya merupakan dana pensiun yang diterbitkan secara institusional, sedangkan di Jepang hampir 0%. Berdasarkan penelitian tahun 1987, ditemukan bahwa kepemilikan saham paling banyak dikuasai oleh perusahaan asuransi dan keuangan lainnya yaitu sebesar 47%, disusul oleh perusahaan industri sebesar 19%, bank sebesar 16%, dan kepemilikan keluarga hanya sebesar 10%.
Pemegang saham relatif stabil dari tahun ke tahun meskipun sebagian besar transaksi dilakukan di pasar saham. Pada saat yang sama, stabilitas pemegang saham ini tidak terjadi di AS, di mana hanya 23% yang masih memegang saham di 250 perusahaan. Kepemilikan saham diperkuat dengan adanya spin-off terhadap bisnis lain yang memberikan pengaruh positif lain terhadap etos kerja keras untuk menunjang kesuksesan perusahaan.
Berbeda dengan saham-saham yang menggunakan dana pensiun seperti Amerika yang cocok untuk menghasilkan keuntungan jangka pendek karena risiko kerugiannya sangat kecil, sehingga di perusahaan Jepang pemegang saham berhak menekan perusahaan dominan. jika terjadi kesalahan atau kebijakan tidak sesuai.
Japan Inc Merupakan Motor Penggerak Ekonomi Jepang
Ikatan Keiretsu horizontal diperkuat oleh model Keiretsu vertikal, yang membangun ikatan antara perusahaan induk dan berbagai anak perusahaannya. Model keiretsu ini pada akhirnya menyebabkan tertutupnya pasar dalam negeri Jepang terhadap masuknya perusahaan dan produk asing dan bukan karena adanya peraturan perlindungan pemerintah atau sejenisnya seperti yang dituntut oleh peraturan pemerintah atau sejenisnya seperti yang diklaim oleh negara-negara Barat selama ini. Pemerintah Jepang melindungi perusahaan dalam negeri dengan memberikan peluang terbentuknya sistem tertutup disertai kebijakan yang dituangkan dalam peraturan bisnis.
Faktanya, Japan Inc sering dianggap sebagai rahasia kesuksesan ekonomi Jepang, dan yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apa yang dimaksud dengan Japan Inc dan bagaimana mereka mengembangkan strategi pertumbuhan ekonomi Jepang. Sisi perbankan berada di bawah kendali Menteri Keuangan (Kementerian Keuangan) sedangkan sisi pemerintah terutama diwakili oleh Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Internasional (MITI) dan agen-agennya, menggunakan kewenangan hukum mereka untuk memberikan jalur kebijakan yang dibutuhkan oleh negara. dunia bisnis. Pasar sebagai tempat berjualan barang juga telah ditawarkan oleh negara-negara Barat yang puas dengan produk Jepang yang murah dan berkualitas.
MITI melalui kekuasaannya membentuk Japan Development Bank untuk membantu menumbuhkan industri skala kecil sebagai landasan dasar perekonomian Jepang.
MITI sebagai Ujung Tombak Industrialisasi Jepang
Para pengusaha benar-benar fokus sepenuhnya pada usahanya dan memberikan informasi kepada pemerintah tentang peralatan yang diperlukan pada pertemuan rutin yang diselenggarakan oleh MITI. Di bawah payung MITI, industri yang termasuk dalam kategori industri muda diberikan perlakuan istimewa oleh pemerintah dengan memberikan subsidi, pembiayaan bebas bunga, dan menyediakan peralatan berteknologi tinggi. Apabila industri yang lemah telah berkembang menjadi industri yang kuat, maka fasilitas khusus tersebut dihilangkan sedikit demi sedikit dan kemudian diberikan kepada industri lain yang masih memerlukannya.
Volume produksi ditentukan oleh negara dan juga segmentasi pasar, mengingat sejak tahun 1970-an kegiatan perekonomian yang sebelumnya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar berpindah ke sejumlah perusahaan menengah dan kecil. Berdasarkan data tahun 1994 diketahui penguasaan pasar oleh industri besar sebesar 48,9%, sedangkan industri menengah dan kecil sebesar 51,5% (Abe, 2000:1).
Kebijakan Kementrian Keuangan (MoF)
6,25% dimana jumlah tersebut tidak berarti sama sekali bagi perusahaan dibandingkan dengan total uang pinjaman yang diterima dan keuntungan yang diperoleh (Tadao. Untuk memantau keberhasilan pekerjaan industri yang telah dikapitalisasi, Kementerian Keuangan telah membentuk Komite Kedua Industri. Dana) dalam asosiasi rasionalisasi. Komite ini bekerja di bawah pembiayaan lembaga keuangan Kementerian Keuangan dan Komite Koordinasi Pembiayaan Bank Nasional.
Batasan gagal bayar ini tidak hanya berguna untuk menghindari persaingan antar bank, namun juga untuk melindungi bank-bank kecil yang tidak memiliki kemampuan bersaing dengan bank-bank besar. Biro Bank dibagi menjadi tiga bagian dan masing-masing bertanggung jawab atas sektor perbankan yang berbeda. Sesuai dengan tuntutan liberalisasi dan internasionalisasi di sektor perbankan, pada akhir tahun 1980-an, Kementerian Keuangan menawarkan peluang kepada industri dalam negeri untuk melakukan transaksi dengan bank asing.
Salah satunya adalah penerapan sistem distribusi devisa dengan menggunakan Undang-Undang Pengendalian Devisa.
Bentuk Pemerintahan Kecil Jepang
Undang-undang yang tidak terlalu didukung dengan birokrasi yang pendek juga akan meningkatkan semangat dunia usaha. Para pelaku usaha mendapat rangsangan usaha karena adanya prosedur hukum yang harus dijalankan sebagai syarat membuka atau melanjutkan usaha baru yang tidak rumit. Dengan cara ini, pemerintah menciptakan iklim yang sehat untuk langsung menciptakan jenis usaha baru.
Negara-negara berkembang harus meniru model pemerintahan kecil dalam memfasilitasi program pertumbuhan ekonomi, meskipun hanya didasarkan pada keahlian sumber daya manusia. Mengingat kecilnya biaya administrasi, termasuk gaji pegawai, yang harus dikeluarkan, memberikan manfaat penghematan bagi anggaran nasional secara keseluruhan. Dana yang tidak digunakan untuk membiayai pelaksanaan administrasi, misalnya dalam hal pertanahan dan peradilan, dapat dialokasikan ke sektor lain dalam usulan anggaran tahun berjalan.
Jika dicermati kembali uraian di atas, nampaknya seluruh kebijakan pemerintah Jepang sangat terfokus pada peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Jaringan Lama Elit Bisnis dengan Elit Birokrat
Faktor terkuat yang menciptakan kondisi ini adalah eratnya hubungan antara elit birokrasi yang menjadi pusat pengambilan kebijakan dan elit dunia usaha. Rata-rata mereka memperoleh kekuatan bisnis karena adanya perlakuan khusus dari pemerintah saat ini. Iwasaki Yataro, pendidik Mitsubishi, berasal dari keluarga samurai dan menikmati kemudahan berbisnis sebagai pembuat kapal yang diamanatkan pemerintah.
Sedangkan tiga pendiri zaibatsu lainnya yaitu Mitsui, Sumitomo dan Asano memulai usaha di bidang pertambangan dan perminyakan dengan dukungan pemerintah berupa jaminan perlindungan usaha atas nama badan usaha milik negara penerima pinjaman murah dan bisnis. agunan sektoral yang tidak diberikan kepada perusahaan lain. Masyarakat umum berpeluang masuk ke kalangan elit bisnis jika memiliki kemampuan lebih, kecuali mereka yang memiliki hubungan darah dengan mantan keluarga zaibatsu yang sudah bubar. Sebuah penelitian meneliti 10 pemimpin teratas dan kemudian menemukan fakta bahwa mayoritas pemimpin bisnis elit berasal dari lulusan Universitas Tokyo.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa 60% eksekutif di banyak institusi ekonomi berasal dari Fakultas Ekonomi Universitas Tokyo, seperti terlihat pada tabel di bawah ini.
Praktek Amakudari
Sementara itu, elite birokrasi yang identik dengan orang-orang terbaik Jepang menjadi sasaran utama praktik omiai bagi dunia usaha. Yang perlu diperhatikan, pelembagaan sistem omiai semakin mempererat ikatan antar elite Jepang, khususnya antara elite bisnis dan elite birokrasi yang dibina dengan praktik amakudari. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kedekatan hubungan personal antara elit birokrasi dan elit bisnis lebih banyak memberikan pengaruh positif dibandingkan negatif dalam menyatukan kepentingannya.
Abe, Kobayashi, 2000, "Small Companies in Japan," disampaikan dalam Kortkursus Modern Japanese Economy and Its World Role I, Oktober 1998-Januarie 1999, Chiba Universiteit. Abe, Kobayash, 2000, "The Rapid Development of the Japanese Industrial and Technology," disampaikan dalam Kortkursus Modern Japanese Economy and its World Role I, Februarie-Julie 1999, Chiba Universiteit. Hyland, Jason, 1997, "The Japanese Way: With Japan at Political Crossroads, Insider Unveils-Guide to Bureaucratic's Elite, Powerful Mandaryne," Foreign Service Journal- Februarie.
Koh, B.C., 1989, Japan's Administrative Elite, Berkeley: University of California Press Koichi, Kishimoto, 1988, Politics in Modern Japan, Tokio: Japan Echo Inc.
Keunikan Sistem Omiai