• Tidak ada hasil yang ditemukan

BIOMASSA KEL KASMI,SYAFHIRA DINDA

N/A
N/A
Syafhira putri Aulia

Academic year: 2024

Membagikan "BIOMASSA KEL KASMI,SYAFHIRA DINDA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

OPTIMASI PEMBUATAN BIOETANOL DARI LIMBAH KULIT NANAS DI DESA TANGKIT KABUPATEN MUARO JAMBI DENGAN PROSES

SIMULTANEOUS SACHARIFICATIAN AND FERMENTATION (SSF)

Dinda Bectari1, Kasmiyanti2, dan Syafhira Putri Aulia3

123Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi, Jl. Jambi-Ma Bulian, Km 15, Mendalo Indah, Jambi 36361, Indonesia

Email: [email protected], [email protected]

Abstrak

Jambi merupakan provinsi penghasil nanas yang melimpah salah satu penghasil nanas terbanyak dikota Jambi yaitu Desa Tangkit.Bioetanol merupakan sumber energi ramah lingkungan yang dapat dihasilkan dari proses fermentasi.

Limbah kulit nanas merupakan bahan yang cocok untuk dijadikan bahan baku pembuatan bioethanol karena limbah kulit nanas mengandung karbohidrat dan gula. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2020 Indonesia menghasilkan buah nanas sebanyak 2.447.243 ton sedangkan untuk Provinsi Jambi menghasilkan buah nanas sebanyak 149.592 ton dimana penghasil terbanyak berada di daerah Tangkit Kabupaten Muaro Jambi. Produksi nanas yang banyak akan menghasilkan limbah kulit nanas yang banyak pula maka dari itu hal ini dapat dijadikan alternatif untuk mengurangi limbah dan menghasilkan energi ramah lingkungan.

Kata Kunci : Bioetanol, fermentasi, kulit nanas.

I. PENDAHULUAN

Dengan semakin majunya zaman pemakaian bahan bakar cendrung akan meningkat setiap saat diamana hal ini juga diikuti dengan menipisnya sumber bahan bakar minyak bumi. Saat ini kebutuhan bahan bakar dan energi masih banyak disuplai dari bahan bakar yang berasal dari fosil. Oleh sebab itu, perlu adanya bahan alternatif yang dapat digunakan sebagai

kebutuhan bahan bakar saat ini, mendorong kita untuk mencari sumber bahan baku lain yang dapat digunakan untuk memproduksi bahan bakar. Maka saat ini sedang diusahakan pemanfaatan bahan- bahan yang mengandung serat kasar dengan karbohidrat yang tinggi, dimana semua bahan yang mengandung karbohidrat nantinya dapat menjadi bahan bakar.

Salah satu energi alternatif yang dapat menggantikan sumber

(2)

energi fosil saat ini ialah bioetanol.

Bioetanol adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol merupakan sumber energi alternatif yang mempunyai prospek baik sebagai pengganti bahan bakar cair dengan bahan baku yang dapat diperbaharui, ramah lingkungan serta sangat menguntungkan secara ekonomi makro terhadap komunitas pedesaan terutama petani. Banyak bahan nabati yang dapat dijadikan sebagai bahan baku bioetanol, salah satunya yaitu kulit nenas. Limbah kulit nanas dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol karena memiliki kandungan glukosa yang cukup besar (81,72% air, 20,87% serat kasar, 17,53%

karbohidrat, 4,41% protein dan 13,65% gula reduksi).

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2020 Indonesia menghasilkan buah nanas sebanyak 2.447.243 ton sedangkan untuk Provinsi Jambi menghasilkan buah nanas sebanyak 149.592 ton dimana penghasil terbanyak berada di daerah Tangkit Kabupaten Muaro Jambi. Adanya produksi nanas yang

melimpah di daerah tersebut ternyata belum dapat diimbangi dengan pengolahan limbah kulit nanas yang baik. Limbah kulit nanas lebih banyak tidak termanfaatkan dan hanya dibuang di lingkungan sekitar.

Diketahui bahwa satu kilogram buah nanas dapat menghasilkan 250 gram limbah kulit nanas, jika produksi nanas didesa tangkit sebanyak 1 ton setiap harinya maka limbah yang dihasilkan yaitu sekitar 250 kg/hari.

Permasalahan tersebutlah yang melatar belakangi kami untuk melakukan upaya pengurangan limbah dengan pembuatan bioethanol dari limbah kulit nanas.

II. METODOLOGI

2.1 Produksi Enzim Selulase Tahap awal pembuatan enzim yaitu persiapan bahan baku.

Kemudian tahap selanjutnya yaitu pembuatan starter yang diawali dengan pembenihan Aspergilus niger dilakukan pada PDA secara zig-zag dengan menggunakan kawat inokulasi di dalam cawan petri secara aseptik. Mikroba diinkubasi pada suhu ruang selama 120 menit.

Setelah pembenihan proses selanjutnya penyiapan inokulum

(3)

dilakukan dalam media cair (media cair ini terdiri dari sari kulit nanas, (NH4)2SO4 0,25%, KH2PO4 0,2%).

Api bunsen dan kawat ose disiapkan.

pH media cair diatur dengan HCl hingga Ph 5. Ujung kawat ose dicelupkan ke dalam alkohol 96%

lalu dipanaskan pada api bunsen sampai berwana merah.

Biakan Aspergillus niger dari media PDA diambil dengan menggunakan kawat ose sebanyak 1 ose untuk 10 ml media cair lalu dicelupkan beberapa saat pada media cair hingga tampak keruh. Media cair ditutup dengan kapas dan diinkubasi pada suhu ruang selama 24 jam (pekerjaan ini dilakukan di ruang aseptik), setelah 24 jam dilakukan pengecekan nilai optikal density pada OD = 1 dan panjang gelombang maksimum yang diperoleh.

Selanjutya proses produksi enzim.

Substrat dimasukkan ke dalam beaker glass sesuai variabel (kadar air awal) dengan nutrisi antara lain:

urea, MgSO4.7H2O, KH2PO4, dalam media padat. Akuades ditambahkan dalam substrat dengan perbandingan 1:1 dan pH diatur menjadi 3. Media yang telah disterilkan kemudian didinginkan. Kemudian suspensi

spora ditambahkan dan disebar merata pada media tersebut sesuai dengan inokulum yang diinginkan yaitu 15%, 15% inokulum maksudnya 15 ml spora dalam 100 gr substrat dengan waktu fermentasi selama 4 hari. Hasil fermentasi diekstrak dengan penambahan akuades dengan perbandingan 5 bagian akuades per 1 bagian massa.

Endapan dan cairan hasil fermentasi dipisahkan dengan menggunakan centrifuge dengan kecepatan 2500 rpm selama 15 menit.

2.2 Produksi Bioetanol

Tahap awal produksi bioetanol yaitu persiapan bahan baku kulit nanas.

Kulit nanas diblending dengan larutan nutrisi dengan perbandingan 1:2, kemudian disterilisasi selama 15 menit pada suhu 121°C. Medium untuk SSF sebanyak 200 ml dan nutrisi substrat atau medium antara lain 0,04 gr/L (NH4)2PO4; 0,002 gr/L MgSO4.7H2O dan 0,08 gr/L yeast extract. Tahap selanjutnya yaitu persiapan yeast inokulum.

Pembuatan yeast inoculum bertujuan untuk mengadaptasikan sel yeast terhadap media fermentasi. Dengan adanya adaptasi diharapkan fase

(4)

lambat sebagai tahap awal fermentasi

terlewati. Saccharomyces cerevisiae diinokulasi dalam 150 ml medium (5 gr glukosa; 0,5 gr yeast extract; 0,05 gr KH2PO4; 0,05 gr MgSO4.7H2O dan 0,05 gr (NH4)2SO4, aquades) dalam erlenmeyer 250 ml. Sebelum diinokulasi, medium disterilisasi uap dalam autoclave selama 15 menit pada temperature 121oC, kemudian didinginkan. Setelah dingin yeast dimasukan ke dalam medium lalu diaduk menggunakan shaker selama 24 jam. Fungsi shaker adalah mempermudah difusi oksigen ke dalam medium dan campuran menjadi homogen.

Tahap selanjutnya yaitu proses pembuatan bioetanol dengan metode simultaneous sacharificatian and fermentation (SSF). Proses sakarifikasi dan fermentasi dilakukan

serentak dalam satu labu erlenmeyer

250 ml. Semua bahan kecuali enzim dan inoculum disterilisasikan selama 15 menit pada 121°C menggunakan autoclave. Enzim dan inokulum ditambahkan setelah media steril dan dingin. Kemudian diaduk dengan menggunakan shaker dengan kecepatan 200 rpm selama waktu yang divariasikan. Cairan dipisahkan dari sampel dengan proses evaporasi dan dilakukan analisa konsentrasi bioetanol yang dihasilkan dengan menggunakan alkoholmeter.

III. PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa bioetanol dapat diproduksi dari bahan baku kulit nenas dengan proses Sakarifikasi dan Fermentasi Serentak menggunakan enzim selulase serta

(5)

yeast Sacharomyces cereviceae.

Penambahan dapat mempengaruhi kadar bioethanol yang diperoleh dan semakin banyak juga glukosa yang dikonversi menjadi bioethanol.

3.2 Saran

Dengan adanya metode teknologi pengolahan limbah kulit nanas diatas diharapkan dapat mengatasi permasalahan limbah kulit nanas yang ada di desa tangkit.

DAFTAR PUSTAKA

Azizah, dkk, 2012. Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap Kadar Alkohol, ph, dan Produksi Gas pada Proses Fermentasi Bioetanol dari Whey Dengan Substitusi Kulit Nanas. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Carolina, Fransiska., 2012, Pengaruh pH dan Inokulum Pada Pemanfaatan Limbah Kulit Nenas (Anenas Comosus L Merr) Untuk Produksi Enzim Selulase, Skripsi, Universitas Riau Pekanbaru. Judoamidjojo, M., A. A. Darwis, dan E. G. Sa’id.

1992. Teknologi Fermentasi.

Edisi 1. Rajawali Press, Jakarta. Kunaepah, Uun.

(2008). “Pengaruh Lama Konsentrasi dan Konsentrasi Glukosa Terhadap Aktivitas Antibakteri, Polifenol Total dan Mutu Kimia Kefir Susu Kacang Merah”. Tersedia pada:

http://pdfsearchpro.com/pengar uh lama fermentasi dan

konsentrasi glukosa

terhadappdf. html (April 2011).

Maemunah, Siti, dkk. 2005. Aplikasi

Enzim Selulase dari

Trichoderma Reesei QM 9414 untuk Peningkatan Produksi Etanol dari Singkong Melalui Proses Sakarifikas Fermentasi Simultan. Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri ITB. Bandung

Melwita, Elda. 2011.” Ionic Liquid Sebagai Katalisator Potensial Untuk Meningkatkan Produksi Biofuel” Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.

Palembang Masfufatun. 2012.

Produksi Etanol dari Hidrolisat Carboxy Methyl Cellulose (CMC), Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma.

Surabaya Nurfiana, Fifi, dkk.

2009. Pembuatan Bioethanol

(6)

dari Biji Durian sebagai Sumber Energi Alternatif.

Teknokimia Nuklir, Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN-BATAN). Yogyakarta Roukas T. (1996), “Continuous Bioetanol Production from Nonsterilized Carob Pod Extract by Immobilized Saccharomyces cerevisiae on Mineral Kissiris Using A Tworeactor System”, Journal Applied Biochemistry and Biotechnolo-gy, Vol. 59, No.

3. Samsuri, M, dkk, 2007.

Pemanfaatan Sellulosa Bagas untuk Produksi Ethanol Melalui Sakarifikasi dan Fermentasi Serentak dengan Enzim Xylanase. Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Depok Sari, I. M., Noverita dan Yulneriwarni. 2008.

Pemanfaatan jerami padi dan alang-- alang dalam fermentasi‐ etanol menggunakan kapang Trichoderma viride dan khamir Saccharomycess cerevisiae.

Vis Vitalis. 5 (2): 55-- 62. ‐ Wijana S, Kumalaningsih A,

Setyowati U, Efendi dan

Hidayat N. (1991).

“Optimalisasi Penambahan Tepung Kulit Nanas dan Proses Fermentasi pada Pakan Ternak terhadap Peningkatan Kualitas Nutrisi”. ARMP (Deptan).

Universitas Brawijaya. Malang

Referensi

Dokumen terkait

Kondisi terbaik fermentasi untuk produksi enzim selulase pada sampel eceng gondok dengan praperlakuan fisik diperoleh pada hari ke-7, moisture content 75%, dan penggunaan

Kandungan selulosa pada kulit kopi (Gambar 7) mengalami penurunan tertinggi pada hari ke-6 yang berkaitkan dengan enzim selulase oleh isolat konsorsium aktinomiset

Hasil penelitian menunjukkan bahwa etanol dapat dihasilkan dari limbah kulit jeruk bali melalui proses hidrolisis menggunakan enzim selulase, fermentasi dengan yeast

Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan umbi iles-iles dan jagung sebagai bahan baku bioetanol dengan proses hidrolisis enzim dan fermentasi menggunakan

Pada penelitian ini dilakukan fermentasi dengan metode LSF dengan bahan baku kulit nanas menggunakan Zymomonas mobilis, untuk memperoleh bioetanol dari kulit nanas

Pada penelitian ini akan menggunakan limbah kulit nanas sebagai bahan baku pembuatan bioetanol melalui proses fermentasi kultur padat menggunakan bakteri Zymomonas

niger (Aspergillus niger) bekerja optimal dalam menghasilkan enzim selulase dengan substrat padat berupa kulit durian pada waktu fermentasi 120 jam dan kadar protein yang

1.4 Tujuan Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memperoleh aktivitas enzim selulase hasil produksi dan hasil purifikasi secara parsial melalui fermentasi padat kulit lunak buah kopi