BIOMETRIC: Journal of Biology Science and Biodiversity, vol. 2(no. 1), hal 76-84 (April, 2022)
BIOMETRIC
Journal of Biology Science and Biodiversity
Journal homepage:
http://jurnalsaintek.uinsby.ac.id/mhs/index.php/biometric/index
Studi Penggunaan Berbagai Jenis Pelarut Pada Ekstrak Tinta Hewan Kelas Cephalopoda Sebagai Antibakteri
Study Of The Use of Various Types of Solvents in Cephalopod Class Animal Ink Extracts as Antibacterial
Shonia Nur Aisyah*, Hanik Faizah2
1 Biology, Faculty of Science and Technology, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
2 Biology, Faculty of Science and Technology, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Indonesia
*Corresponding author: [email protected]*
A R T I C L E I N F O A B S T R A C T Article history
Received:
Revised:
Accepted:
Bacterial infections are a common disease. The use of antibiotics in overcoming infections can built bacteria resistance. The alternative antibacterial is very much needed. Cephalopods are known as animals that can produce bioactive compounds in their bodies in the form of inks that are used to protect themselves. The inks can have different characteristics for each genus or species influenced by differences of bioactive components. It can affects the colour of ink, scent, viscosity, pH, etc. The bioactive compounds in cephalopod ink were then used for further antibacterial research against pathogenic bacteria. This study used SLR (Systematic Literature Review) method from five international journals to determine the development of the use of cephalopod ink as an antibacterial with various solvents. The research results showed that the best solvents used to extract the ink were hexane from non-polar, methanol from polar, and butanol from semi-polar. The best cephalopod ink is from cuttlefish (Sepia sp.) and squid (Loligo sp.).
Although the selection of the use of extract solvents and species is very important, the method used must still maximize the potential of the compounds that have been extracted, so that the results obtained will also be maximized and are the best results from research.
Keywords:
Antibacterial activity, Cephalopod ink, Human pathogens, Solvents
© 2021 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabya.
PENDAHULUAN
Infeksi bakteri merupakan salah satu permasalahan dalam ilmu farmakositika yang secara signifikan dapat mempengaruhi morbiditas zaman ini. Beberapa contoh bakteri yang
dapat mengakibatkan infeksi adalah Escherichia coli yang merupakan bakteri flora normal usus serta Staphylococcus aureus yang merupakan bakteri flora normal kulit. Meskipun merupakan bakteri flora normal, E.coli dan S.aureus dapat menginfeksi inang yang ditinggali dengan menyebabkan berbagai penyakit seperti diare, infeksi saluran kemih, infeksi saluran pernapasan, serta infeksi pada kulit (Rahmadani et al, 2017). Sejumlah senyawa telah digunakan dan dikenal sebagai agen antimikroba yang mampu menghambat maupun melawan infeksi dan dikenal dengan antibiotik. Senyawa tersebut dapat berasal zat-zat kimiawi yang dihasilkan oleh bakteri maupun fungi. Meskipun penggunaan antibiotika sangat umum untuk mengatasi infeksi, dalam beberapa kasus telah terjadi resistensi yang mengakibatkan antibiotic tidak dapat lagi digunakan untuk mengatasi permasalahan infeksi seperti bakteri S.aureus yang telah resisten terhadap penisilin. Maka dari itu pengembangan terhadap senyawa-senyawa yang bersifat antibakteri sebagai alternatif untuk mengatasi resstensi sangat diperlukan (Mulyani, 2013).
Cephalopoda adalah salah satu kelas dari Filum Mollusca yang juga berarti hewan yang tidak bertulang belakang. Cephalopoda diketahui dari namanya berasal dari kata
“kaphale” yaitu kepala serta “podos” yang berarti kaki, dikenal sebagai kelas dari hewan yang memiliki kepala bertentakel. Berdasarkan klasifikasi, Kelas Cephalopoda terdiri dari dua subkelas yaitu Nautiloidea dan Coleoidea (Jereb & Roper, 2005). Perbedaan dari Subkelas Nautiloidea dan Coloidea adalah semua anggota Subkelas Coloidea memiliki kantung tinta dan dapat memproduksi tinta, sedangkan Subkelas Nautiloidea tidak. Tinta memiliki sifat alkaloid seperti senyawa metabolit yang digunakan untuk menjauhkan predator ketika mereka merasa terancam. Tinta ini memiliki kandungan protein, saponin, flavonoid, fenol, hingga senyawa golongan triterpenoid. Umumnya tinta berwarna kecokelatan hingga hitam pekat yang disebabkan oleh adanya kandungan zat melanin. Melanin yang terdapat pada tinta dari hewan Kelas Cephalopoda mampu mengikat protein melalui asam amino seperti leusin, finilanin, dan valin yang dipertimbangkan sebagai salah satu senyawa biofarmakositika salah satunya antibakteri (Derby, 2014).
Menurut Rudiana & Delianis (2004) tinta dari hewan Kelas Cephalopoda memiliki banyak fungsi dalam farmakositika salah satunya dapat menambah daya tahan tubuh sehingga dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Penggunaan tinta sebagai antibakteri telah banyak diteliti terhadap bakteri patogen maupun non patogen. Peneliti menggunakan berbagai metode yang dapat digunakan dalam uji aktivtas antibakteri dan yang digunakan paling umum adalah difusi agar dengan menggunakan paper disk. Meskipun metode yang digunakan sama, hasil penelitian yang didapatkan berbeda-beda. Salah satu cara mendapatkan ekstrak yang baik adalah penggunaan pelarut yang tepat yang sesuai dengan target penelitian, penggunaan variasi pelarut pun dapat mempengaruhi kefektifan ekstrak dalam bekerja sebagai agen antibakteri karena tiap bakteri memiliki karakter yang berbeda (Romadanu et al., 2014).
Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa tinta dari hewan Kelas Cephalopoda memiliki potensi yang baik sebagai antibakteri yang berspektrum luas.
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui potensi nilai daya hambat bakteri patogen tertinggi dari ekstrak tinta hewan Kelas Cephalopoda yang dikelompokkan berdasarkan jenis- jenis pelarutnya. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk mengembangkan penelitian lanjutan mengenai penggunaan pelarut untuk ekstrak tinta hewan Kelas Cephalopoda agar hasil yang didapatkan semakin maksimal. Selain itu, penelitian ini juga menjadi sumber informasi ilmiah mengenai aktivitas antibakteri tinta hewan Kelas Cephalopoda.
METODE
Prosedur penelitian
Penelitian dilakukan dengan studi literatur menggunakan metode SLR (Systematic Literature Review) terhadap jurnal internasional. Sistem pencarian literatur dibagi menjadi
dua bagian yaitu mencari literatur mengenai ekstrak tinta hewan Kelas Cephalopoda sebagai antibakteri, bagian kedua adalah menspesifikkan literatur yang memiliki pemilihan variasi pelarut yang mencakup pelarut polar, semi polar, serta nonpolar. Melalui dua bagian tersebut terdapat dua klaster variasi yaitu variasi spesies dari Kelas Cephalopoda serta variasi pelarut.
Studi literatur diawali dengan pencarian artikel serta pemilihan artikel pada database google scholar serta science-direct. Artikel yang dipilih merupakan artikel yang terbit ±10 tahun terakhir. Kata kunci yang digunakan yaitu antibacterial activity, cephalopod ink, serta human pathogens. Dari kata kunci tersebut kemudian diambil lima artikel ilmiah dengan seleksi dua bagian. Setelah artikel dipilih dilakukan sintesis data berdasarkan fakta dan informasi dalam artikel untuk melihat aktivitas antibakteri tinta hewan Kelas Cephalopoda berdasarkan variasi spesies Kelas Cephalopoda serta pelarut. Berikut adalah daftar artikel terpilih yang digunakan dalam studi.
Tabel 1. Daftar Artikel Penggunaan Tinta Hewan Kelas Cephalopoda
Spesies Pelarut Bakteri Literatur
Sephia pharaonis Aseton Kloroform Heksan Butanol
Pseudomonas aeruginosa Citrobacter sp.
Klebsiella pneumonia Escherichia coli
Staphylococcus epidermidis
Nithya et al., 2011
Sephiotheuthis lessonia Sepia brevimana Octopus cyaneus
Metanol Bacillus subtilis Klebsiella pneumonia Vibrio cholearae Escherichia coli Staphylococcus aureus
Mohanraju et al., 2013
Octopus dolfusi Eupryna stenodactyla
Aseton Kloroform Etanol Metanol
Salmonella typhi Pseudomonas aeruginosa Klebsiella pneumonia Klebsiella oxytoca Vibrio parahaemolyticus Aeromonas hydrophylla Bacillus cereus Escherichia coli Staphylococcus aureus
Sadayan et al., 2013
Loligo duvaucheli Aseton Heksan Etil asetat Kloroform Dietil eter
Lactobacillus acidophilus Streptococcus mutans
Girija et al., 2014
Loligo sp. Aseton
Eter Heksan Kloroform Etil asetat Etanol Metanol Butanol
Methicilin Resistant- Staphylococcus aureus (MRSA)
Girija &
Priyadharsini, 2018
Teknik analisis data
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan observasional. Data-data yang didapatkan dikomparasikan dan ditulis dalam bentuk narasi sesuai literatur terkait.
Ditemukan perbedaan perlakuan mulai dari pemilihan pelarut serta penggunaan metode yang dapat mempengaruhi hasil penelitian dalam literatur.
HASIL DAN PEMBAHASAN Penggunaan Pelarut Non Polar
Pelarut yang digunakan sebagai pelarut non polar pada studi ini ada empat macam yaitu kloroform, heksan, eter, dan dietil eter dapat dilihat pada tabel 2. Senyawa yang dilarutkan dengan pelarut nonpolar memiliki sifat lipofilik dimana senyawa lipofilik memiliki efektifitas yang lebih baik dalam merusak dinding dan membran sel bakteri sehingga
membuat bakteri mati. Senyawa ini lebih mudah menembus dinding sel bakteri yang tersusun oleh komponen lipofilik seperti lipoprotein, lipopolisakarida, fosfolipid, serta lapisan peptidoglikan yang tidak tebal (Page & College, 1977; Sumiati, 2014).
Tabel 2. Uji Aktivitas Antibakteri Tinta Hewan Kelas Cephalopoda Pelarut Non Polar
Pelarut Spesies Bakteri Diameter
Zona (mm) Literatur Kloroform Sephia
pharaonis
Pseudomonas aeruginosa Citrobacter sp.
Klebsiella pneumonia Escherichia coli
Staphylococcus epidermidis 10 3,5 5 10 10
Nithya et al., 2011
Euprymna stenodactyla
Salmonella typhi Pseudomonas aeruginosa Klebsiella pneumonia Klebsiella oxytoca Vibrio parahaemolyticus Aeromonas hydrophylla Bacillus cereus Escherichia coli Staphylococcus aureus
T 2 1 1 1 - T 3 T
Sadayan et al., 2013
Octopus dolfusi
Salmonella typhi Pseudomonas aeruginosa Klebsiella pneumonia Klebsiella oxytoca Vibrio parahaemolyticus Aeromonas hydrophylla Bacillus cereus Escherichia coli Staphylococcus aureus
2 2 2 1 1 2 1 2 T
Sadayan et al., 2013
Loligo duvaucheli
Lactobacillus acidophilus Streptococcus mutans
12,3 -
Girija et al., 2014
Loligo sp. Methicilin Resistant- Staphylococcus aureus (MRSA)
- Girija &
Priyadharsini, 2018 Eter Loligo sp. Methicilin Resistant-
Staphylococcus aureus (MRSA)
- Girija &
Priyadharsini, 2018 Dietil Eter Loligo
duvaucheli
Lactobacillus acidophilus Streptococcus mutans
12 -
Girija et al., 2014
Heksan Sephia pharaonis
Pseudomonas aeruginosa Citrobacter sp.
Klebsiella pneumonia Escherichia coli
Staphylococcus epidermidis 10 7 6,5 10 9,3
Nithya et al., 2011
Loligo duvaucheli
Lactobacillus acidophilus Streptococcus mutans
18,3 15,2
Girija et al., 2014
Loligo sp. Methicilin Resistant- Staphylococcus aureus (MRSA)
18 Girija &
Priyadharsini, 2018 (T): Terlalu kecil untuk diukur; (-):Tidak ada aktivitas
(Sumber: Dokumen Pribadi, 2021)
Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa tinta dari hewan Kelas Cephalopoda memiliki aktivitas antibakteri, namun berbeda keefektivitasannya terhadap jenis-jenis bakteri. Nilai diameter zona hambat paling besar dimiliki ekstrak kloroform tinta Loligo duvaucheli terhadap bakteri Lactobacillus acidophilus yang merupakan bakteri yang diisolasi dari karies gigi dengan diameter 12,3mm (Girija et al., 2014). Disusul ekstrak kloroform tinta Sephia pharaonis terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, serta Staphylococcus epidermidis yang memiliki diameter 10mm (Nithya et al., 2011).
Sadayan et al. menggunakan bakteri uji Aeromonas hydrophylla dan menurut hasil, dua spesies tinta hewan Kelas Cephalopoda memiliki efektifitas yang berbeda. Euprymna stenodactyla tidak menunjukkan aktivitas sementara Octopus dolfusi memiliki efektivitas
diameter mencapai 2 mm. Ekstrak kloroform tinta hewan cephalopoda menunjukkan aktvitas negatif terhadap bakteri Methicilin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dan Streptococcus mutans.
Adanya perbedaan hasil yang tampak dari penelitian Nithya et al. (2011) dan Sadayan et al (2013) terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumonia, E.Coli, serta Staphylococcus aureus, selain karena perbedaan tinta spesies cephalopoda juga diakibatkan oleh waktu dan suhu selama proses ekstraksi. Kendati sama-sama menggunakan metode ekstraksi tunggal (maserasi), Nithya et al. (2011) setelah mencampurkan, tinta dan pelarut dibekukan selama 1 malam pada suhu -18˚C, sedangkan Sadayan et al. (2013) tidak. Sadayan et al (2013) mendiamkan ekstrak selama 7 hari pada suhu ruang sebelum digunakan dan menunjukkan hasil efektivitas yang berbeda. Hal ini mempengaruhi aktivitas antioksidan dari ekstrak tersebut, Budiarti dan Kurnianingrum (2015) menunjukkan jika semakin lama penyimpanan dapat mempengaruhi menurunnya aktivitas antioksidan, padahal menurut Septiana dan Simanjutak (2016) senyawa antioksidan dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembentuk histamin.
Eter diujikan terhadap satu bakteri dengan predikat emas resisten antibiotik yaitu bakteri Methicilin Resistant-Staphylococcus aureus. Ekstrak tinta Loligo sp. yang dilarutkan dengan pelarut eter rupanya tidak memiliki aktivitas daya hambat terhadap bakteri MRSA.
Strain bakteri kontrol Staphylococcus aureus pada penelitian tersebut sendiri masih memiliki daya hambat dan memiliki diameter 12mm (Girija & Priyadharsini, 2018). Ekstrak tinta Loligo sp. pelarut dietil eter menunjukkan aktivitas terhadap bakteri Lactobacillus acidophilus dengan diameter mencapai 12 mm namun tidak menunjukkan aktivitas terhadap Streptococcus mutans.
Berdasarkan hasil beberapa penelitian, heksan menunjukkan aktivitas daya hambat yang sangat baik terhadap bakteri-bakteri uji dan memiliki nilai rata-rata terbesar dari semua pelarut yang ada. Tinta Loligo sp. yang dilarutkan dengan heksan bahkan dapat mencapai diameter 18mm terhadap bakteri Methicilin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) serta 18,3mm bakteri karies gigi Lactobacillus acidhophillus. Leksono et al. (2018) melakukan penelitian terhadap perbandingan penggunaan pelarut heksan dengan pelarut polar (metanol), pelarut heksan melarutkan lebih banyak kandungan karotenoid, memiliki nilai total senyawa fenolik lebih besar, serta memiliki aktivitas antioksidan yang jauh lebih baik.
Penggunaan Pelarut Semi Polar
Pelaurut semi polar yang digunakan ada dua macam yaitu butanol dan etil asetat dapat dilihat pada tabel 3. Pelarut ini melarutkan seyawa alkaloid yang tidak lebih spesifik dibanding pelarut non polar, likopen, vitamin C, serta total fenol (Ma’sum et al., 2014).
Tabel 3. Uji Aktivitas Antibakteri Tinta Hewan Kelas Cephalopoda Pelarut Semi Polar
Pelarut Spesies Bakteri Diameter
Zona (mm) Literatur Butanol Sephia
pharaonis
Pseudomonas aeruginosa Citrobacter sp.
Klebsiella pneumonia Escherichia coli
Staphylococcus epidermidis 7,4 3,5 5,4 6,5 2.5
Nithya et al., 2011
Loligo sp. Methicilin Resistant- Staphylococcus aureus (MRSA)
12 Girija &
Priyadharsini, 2018 Etil asetat Loligo sp. Methicilin Resistant-
Staphylococcus aureus (MRSA)
- Girija &
Priyadharsini, 2018 (-):Tidak ada aktivitas
(Sumber: Dokumen Pribadi, 2021)
Hasil dari tabel menunjukkan jika ekstrak tinta Loligo sp. dengan pelarut butanol
memiliki aktivitas daya hambat dengan spektrum luas terhadap beberapa bakteri dengan nilai paling tinggi terhadap bakteri Methicilin Resistant Staphylococcus aureus mencapai 12 mm dan paling rendah adalah ekstrak tinta Sephia pharaonis terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dengan diameter 2,5mm. Penggunaan pelarut ethyl asetat sebagai pelarut tinta Loligo sp. ternyata tidak memiliki aktivitas daya hambat terhadap bakteri MRSA.
Penggunaan Pelarut Polar
Pelarut polar yang digunakan antara lain etanol, metanol, serta aseton seperti pada tabel 4. Senyawa polar menarik senyawa-senyawa alkaloid yang tidak spesifik serta sebagian besar senyawa flavonoid serta tingginya senyawa antioksidan. Flavonoid memiliki sifat inhibitor yang kuat terhadap aktivitas enzim lipooksigenase (Rohman & Sugeng, 2005).
Tabel 4. Uji Aktivitas Antibakteri Tinta Hewan Kelas Cephalopoda Pelarut Polar
Pelarut Spesies Bakteri
Diameter Zona (mm)
Literatur
Etanol Eupryna stenodactyla
Salmonella typhi
Pseudomonas aeruginosa Klebsiella pneumonia Klebsiella oxytoca Vibrio parahaemolyticus Aeromonas hydrophylla Bacillus cereus
Escherichia coli Staphylococcus aureus
T 2 1 1 1 - T 3 T
Sadayan et al., 2013
Octopus dolfusi
Salmonella typhi
Pseudomonas aeruginosa Klebsiella pneumonia Klebsiella oxytoca Vibrio parahaemolyticus Aeromonas hydrophylla Bacillus cereus
Escherichia coli Staphylococcus aureus
1 2 1 1 5 1 2 1 1
Sadayan et al., 2013
Loligo sp. Methicilin Resistant- Staphylococcus aureus (MRSA)
- Girija &
Priyadharsini, 2018
Metanol
Sephiotheuth is lessonia
Bacillus subtilis Klebsiella pneumonia Vibrio cholearae Escherichia coli Staphylococcus aureus
- - - 12 11
Mohanraju et al., 2013
Sepia brevimana
Bacillus subtilis Klebsiella pneumonia Vibrio cholearae Escherichia coli Staphylococcus aureus
11 17 13 13 13
Mohanraju et al., 2013
Octopus cyaneus
Bacillus subtilis Klebsiella pneumonia Vibrio cholearae Escherichia coli Staphylococcus aureus
- - 15 15 13
Mohanraju et al., 2013
Eupryna stenodactyla
Salmonella typhi
Pseudomonas aeruginosa Klebsiella pneumonia Klebsiella oxytoca Vibrio parahaemolyticus Aeromonas hydrophylla Bacillus cereus
Escherichia coli
1 6 1 1 T T T 1
Sadayan et al., 2013
Staphylococcus aureus 1 Octopus
dolfusi
Salmonella typhi
Pseudomonas aeruginosa Klebsiella pneumonia Klebsiella oxytoca Vibrio parahaemolyticus Aeromonas hydrophylla Bacillus cereus
Escherichia coli Staphylococcus aureus
T 1 1 1 - T T T T
Sadayan et al., 2013
Aseton Sephia pharaonis
Pseudomonas aeruginosa Citrobacter sp.
Klebsiella pneumonia Escherichia coli Staphylococcus epidermidis
8 4.5 2.5 8 5.2
Nithya et al., 2011
Eupryna stenodactyla
Salmonella typhi
Pseudomonas aeruginosa Klebsiella pneumonia Klebsiella oxytoca Vibrio parahaemolyticus Aeromonas hydrophylla Bacillus cereus
Escherichia coli Staphylococcus aureus
1 1 T 1 T 1 1 T T
Sadayan et al., 2013
Octopus dolfusi
Salmonella typhi
Pseudomonas aeruginosa Klebsiella pneumonia Klebsiella oxytoca Vibrio parahaemolyticus Aeromonas hydrophylla Bacillus cereus
Escherichia coli Staphylococcus aureus
1 3 1 T T 1 4 1 T
Sadayan et al., 2013
Loligo duvaucheli
Lactobacillus acidophilus Streptococcus mutans
- -
Girija et al., 2014
Loligo sp. Methicilin Resistant- Staphylococcus aureus (MRSA)
- Girija &
Priyadharsini, 2018
(T): Terlalu kecil untuk diukur; (-):Tidak ada aktivitas
(Sumber: Dokumen Pribadi, 2021)
Hasil penelitian Sadayan et al. (2013) menunjukkan jika aktivitas terbaik oleh Vibrio parahaemolyticus dengan diameter 5mm, sedangkan tidak menunjukkan aktivitas terhadap Aeromonas hydrophylla. Jika ditinjau menurut metodenya, penurunan aktivitas antioksidan pada ekstrak tinta Sadayan et al. (2013) rupanya menunjukkan aktivitas yang baik terhadap bakteri Vibrio, sebaliknya, penurunan aktivitas antioksidan tersebut membuat Aeromonas hydrophylla tidak terhambat. Pada penelitian Girija & Priyadharsini (2018) ekstrak tinta Loligo sp. dengan pelarut etanol, tidak menunjukkan aktivitas terhadap bakteri MRSA.
Penelitian Mohanraju et al (2013) memiliki nilai rata-rata diameter yang lebih besar dibandingkan milik Sadayan et al (2013). Aktivitas antibakteri tertinggi ditunjukkan oleh ekstrak tinta Sepia brevimana terhadap bakteri Klebsiella pneumonia dengan diameter 17mm.
Sedangkan pada penelitian Sadayan et al (2013) nilai aktivitas terbaik adalah pada ekstrak tinta Eupryna stenodactyla terhadap Pseudomonas aeruginosa yang mencapai diameter 6mm.
Nilai ini juga merupakan nilai aktivitas antibakteri yang tertinggi pada penelitian Sadayan et al (2013).
Ekstrak aseton tinta Sephia pharaonis memiliki aktivitas antibakteri terbaik pada bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli pada penelitian Nithya et al (2011).
Pada penelitian Sadayan et al (2013), ekstrak aseton tinta Octopus dolfusi paling baik
aktivitasnya terhadap bakteri Bacillus cereus dengan diameter 4mm. Ekstrak aseton tinta Loligo sp. tidak berpengaruh terhadap bakteri karies gigi Lactobacillus acidophilus, Streptococcus mutans, serta MRSA.
KESIMPULAN
Pelarut terbaik yang dapat digunakan untuk mengekstrak tinta hewan cephalopoda adalah heksan dari pelarut nonpolar, disusul metanol dari pelarut polar, dan butanol dari semipolar,. Tinta hewan Kelas Cephalopoda yang menunjukkan aktivitas universal terbaik adalah tinta dari Sepia sp. dan Loligo sp.. Selain pemilihan pelarut dan spesies yang digunakan, metode juga dapat mempengaruhi hasil senyawa antibakteri. Metode yang digunakan harus metode yang tidak membuat aktivitas antioksidan menurun. Kendati senyawa nonpolar seperti heksan melarutkan lebih sedikit senyawa antioksidan, namun senyawa alkaloid spesifiknya lebih mampu menghambat aktivitas antibakteri sehingga hasilnya menjadi lebih baik dibanding dengan menggunakan pelarut yang menurun aktivitas antioksidannya.
DAFTAR PUSTAKA
Balansada A.R., Ompi, M., Lumuindong, F. 2019. Identifikasi dan Habitat Gurita (Cephalopoda) dari Perairan Salibabu, Kabupaten Kepulauan Talaud. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis, 7(3):247-255.
Budiarti, Aqnes & Kurnianingrum, D. A.E. 2015. Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Terhadap Kandungan Vitamin C dalam Cabai Merah (Capsicum annuum L.) dan Aktivitas Antioksidannya. Prosiding Seminar Nasional Peluang Herbal Sebagai Alternatif Medisin. Fakultas Farmasi, Universitas Wahid Hasyim.
Derby, C. D. 2014. Cephalopod Ink: Production, chemistry, functions, and applications.
Marine Drugs, 12(5):2700-2730.
Girija, A. S. S. & Priyadharsini, V. J. 2018. Preliminary Screening of the Antibacterial Effect of the Pigmented Squid Ink Extracts Against Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Indian Journal of Geo Marine Sciences, 47(7):1441-1445.
Girija, A. S. S., Suba, A. P., Hariprasad, G., & Raghuraman, R. 2014. A Novel Study on the Antibacterial Effect of the Crude Squid Ink Extracts From the Indian Squid Against Four Bacterial Pathogens Isolated From Carious Dentine. International Journal of Current Microbiology and Applied Sciences, 3(4):904-911.
Jereb, P & Roper, C. F. E. 2005. Cephalopods of The World, FAO Spesies. Catalogue for Fishery Purpose, 4(1):114-115
Labolatory Chemical, 2013. MSDS.
Leksono, W. B., Pramesti, R., Santosa, G. A. & Setyati, W. A. 2018. Jenis Pelarut Metanol dan N-Heksana Terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Rumput Laut Gelidium ps.
Dari Pantai Drini Gunungkidul – Yogyakarta. Jurnal Kelautan, 21(1):9-16.
Ma’sum, J., Isnaeni, Riesta, P., & Febri, A. 2014. Perbandingan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Aseton Tomat Segar dan Pasta Tomat Terhadap 1,1-Diphenyl-2- Picrylhidrazyl (Dpph). Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia, 1(2): 59- 62.
Mohanraju, R., Marri, D. B., Karthick, P., Narayana, S., Murthy, K. N., & Roomesh, Ch.
2013. Antibacterial Activity of Certain Cephalopods From Andamamas, India.
International Journal of Pharmacy and Biological Science, 3(2): 450-455.
Mulyani, S. 2013. Kimia dan Bioteknologi dalam Resistensi Antibiotik. Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia V. Surakarta, 6 April 2013.
Natewathana, A. 1997. Systematic of Cephalopods (Mollusca) og the Andaman Sea, Thailand. Disertasi. University of Aarhus.
Nithya, M., Ambikapathy, V., & Panneerselvan, A. 2011. Effect of Pharaoh’s Cuttlefish Ink Against Bacterial Pathogen. Asian Journal of Plant Science and Research, 1(4):49- 55.
Rahmadanni, A., Budiyono, Suhartono. 2017. Gambaran Keberadaan Bakteri Staphylococcus aureus, Kondisi Fisik, Lingkungan, dan Angka Lempeng Total di Udara Rawat Inap RSUD Prof. dr. M.A. Hanafiah SM Batusangkar. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 5(5):493.
Rohman, A. & Sugeng, R. 2005. Daya Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Kemuning (Murraya paniculata (L) Jack) Secara In Vitro. Majalah Farmasi Indonesia, 16(3):136-140.
Romadanu, Rachmawati, S. H., & Lestari, S. D. 2014. Pengujian Aktivitas Antioksidan Ekstrak Bunga Lotus (Nelumbo nucifera). Fishtech, 3(1):1-7.
Rudiana, E. & Delianis, P. 2004. Morfologi dan Anatomi Cumi-cumi Loligo duvauceli yang Memancarkan Cahaya. Jurnal Ilmu Kelautan, 9(2):96-100.
Sadayan, P., Thriyagarajan, S., & Balakrishnan, B. 2013. Inhibitory Activity of Ink and Body Tissue Extracts of Eupryna stenodactyla and Octopus dolfusi Against Histamine Produsing Bacteria. Middle East Journal of Scientific Research 16(4):514-518.
Septiana, Eris & Simanjutak, Partomuan. 2016. Aktivitas Penghambatan Bakteri Pembentuk Histamin dan Antioksidan Kapang Endofit Kunyit sebagai Pengawet Alami.
Bioporal Industri, 7(1):1-8.
Sumiati, Etik. 2014. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kloroform dan Ekstrak Etanol Biji Bidara Laut (Strychnos ligustrina BI) Terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Salmonella typhi. Biogenesis, 2(1):1-10.