• Tidak ada hasil yang ditemukan

Refrat Impetigo Krustosa Abg

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Refrat Impetigo Krustosa Abg"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

IMPETIGO KRUSTOSA dan

IMPETIGO KRUSTOSA dan KOMPLIKASI

KOMPLIKASI

Oleh

Oleh

Farid Akbar, S.Ked Farid Akbar, S.Ked

Departemen Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin Departemen Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin

FK UNSRI/ RSMH PALEMBANG FK UNSRI/ RSMH PALEMBANG 2010 2010 PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Impetigo adalah penyakit kulit superfisial yang disebabkan infeksi piogenik  Impetigo adalah penyakit kulit superfisial yang disebabkan infeksi piogenik  oleh bakteri Gram positif. Impetigo lebih sering terjadi pada usia

oleh bakteri Gram positif. Impetigo lebih sering terjadi pada usia anak-anak walaupunanak-anak walaupun  pada

 pada orang orang dewasa dewasa dapat dapat terjadi. terjadi. Penularan Penularan impetigo impetigo tergolong tergolong tinggi, tinggi, terutamaterutama melalui kontak langsung. Individu yang terinfeksi dapat menginfeksi dirinya sendiri melalui kontak langsung. Individu yang terinfeksi dapat menginfeksi dirinya sendiri atau orang lain setelah menggaruk lesi. Infeksi seringkali menyebar dengan cepat di atau orang lain setelah menggaruk lesi. Infeksi seringkali menyebar dengan cepat di sekolah, tempat penitipan anak atau pada tempat dengan hygiene buruk atau juga sekolah, tempat penitipan anak atau pada tempat dengan hygiene buruk atau juga tempat tinggal yang padat penduduk 

tempat tinggal yang padat penduduk 1,2,31,2,3 Impet

Impetigo igo krustkrustosa osa merupmerupakan akan jenis infeksi piogenik yang jenis infeksi piogenik yang palinpaling g banyabanyak k  ditemukan di dunia (70% dari kasus impetigo).

ditemukan di dunia (70% dari kasus impetigo).2,3,42,3,4 Impetigo krustosa harus diobatiImpetigo krustosa harus diobati

sec

secara ara cepacepat t dan dan teptepat at karkarena ena dapdapat at menmenyeyebabkababkan n bebbeberaerapa pa komkompliplikaskasi i terterutautamama glomerulonefritis akut.

glomerulonefritis akut.55 Terapi antibiotik topikal merupakan pilihan pertama impetigoTerapi antibiotik topikal merupakan pilihan pertama impetigo

terutama bila lesi yang terbatas, tanpa gejala sistemik atau komplikasi sementara terutama bila lesi yang terbatas, tanpa gejala sistemik atau komplikasi sementara terapi sistemik dipertimbangkan bila diperlukan.

terapi sistemik dipertimbangkan bila diperlukan.1,51,5

DEFINISI DEFINISI

Impet

Impetigo igo krustkrustosa osa merupmerupakan akan penyakpenyakit it infekinfeksi si piogenipiogenik k kulit superfiskulit superfisialial ya

yang ng didisesebababkbkan an ololeheh StaphyStaphylococclococcus us aureuaureuss,, StStrereptptococococcus cus grgrououp p A A betbeta- a-hemolitikus (GABHS)

hemolitikus (GABHS), atau kombinasi keduanya dan digambarkan dengan perubahan, atau kombinasi keduanya dan digambarkan dengan perubahan ve

vesisikel kel beberdrdinindiding ng titipipis, s, didiskskreret, t, memenjnjadadi i pupuststul ul dan dan ruruptptur ur sesertrta a memengengeriringng membentuk krusta

(2)

Pada negara maju, impetigo krustosa banyak disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan sedikit oleh Streptococcus group A beta-hemolitikus (Streptococcus pyogenes). Banyak penelitian yang menemukan 50-60% kasus impetigo krustosa penyebabnya adalah Staphylococcus aureus dan 20-45% kasus merupakan kombinasi Staphylococcus aureus dengan Streptococcus pyogenes.  Namun di negara berkembang, yang menjadi penyebab utama impetigo krustosa adalah Streptococcus pyogenes.4,5,6 Staphylococcus aureus  banyak terdapat pada faring, hidung, aksila dan perineal merupakan tempat berkembangnya penyakit impetigo krustosa2

EPIDEMIOLOGI

Terjadinya penyakit impetigo krustosa di seluruh dunia tergolong relatif  sering. Penyakit ini banyak terjadi pada anak - anak kisaran usia 2-5 tahun dengan rasio yang sama antara laki-laki dan perempuan. Di Amerika, impetigo merupakan 10% dari penyakit kulit anak yang menjadi penyakit infeksi kulit bakteri utama dan  penyakit kulit peringkat tiga terbesar pada anak. Di Inggris kejadian impetigo pada anak sampai usia 4 tahun sebanyak 2,8% pertahun dan 1,6% pada anak usia 5-15 tahun3.1,3,4,6

Impetigo krustosa banyak terjadi pada musim panas dan daerah lembab, seperti Amerika Selatan yang merupakan daerah endemik dan predominan, dengan  puncak insiden di akhir musim panas. Anak-anak prasekolah dan sekolah paling sering terinfeksi. Pada usia dewasa, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan.2

Disamping itu, ada beberapa faktor yang dapat mendukung terjadinya impetigo krustosa seperti:

- hunian padat - higiene buruk   - hewan peliharaan

- keadaan yang mengganggu integritas epidermis kulit seperti gigitan serangga, herpes simpleks, varisela, abrasi, atau luka bak ar.1,4,5

(3)

PATOGENESIS

Gambar 1. Struktur Stretoccocus Pyogenes dan substansinya

Impetigo krustosa dimulai ketika trauma kecil terjadi pada kulit normal sebagai  portal of entry yang terpapar oleh kuman melalui kontak langsung dengan  pasien atau dengan seseorang yang menjadi carrier . Kuman tersebut berkembang  biak dikulit dan akan menyebabkan terbentuknya lesi dalam satu sampai dua

minggu.6

Cara infeksi pada impetigo krustosa ada 2, yaitu infeksi primer dan infeksi sekunder.

Infeksi Primer 

Infeksi primer, biasanya terjadi pada anak-anak. Awalnya, kuman menyebar  dari hidung ke kulit normal (kira-kira 11 hari), kemudian berkembang menjadi lesi pada kulit. Lesi biasanya timbul di atas kulit wajah (terutama sekitar lubang hidung) atau ekstremitas setelah trauma.4

(4)

Infeksi sekunder 

Infeksi sekunder terjadi bila telah ada penyakit kulit lain sebelumnya (impetiginisasi) seperti dermatitis atopik, dermatitis statis, psoariasis vulgaris, SLE kronik, pioderma gangrenosum, herpes simpleks, varisela, herpes zoster,  pedikulosis, skabies, infeksi jamur dermatofita, gigitan serangga, luka lecet,

luka goresan, dan luka bakar, dapat terjadi pada semua umur 2,7.

Impetigo krustosa biasanya terjadi akibat trauma superfisialis dan robekan  pada epidermis, akibatnya kulit yang mengalami trauma tersebut menghasilkan suatu  protein yang mengakibatkan bakteri dapat melekat dan membentuk suatu infeksi

impetigo krustosa2. Keluhan biasanya gatal dan nyeri4

Impetigo krustosa sangat menular, berkembang dengan cepat melalui kontak  langsung dari orang ke orang. Impetigo banyak terjadi pada musim panas dan cuaca yang lembab. Pada anak-anak sumber infeksinya yaitu binatang peliharaan, kuku tangan yang kotor, anak-anak lainnya di sekolah, daerah rumah kumuh, sedangkan  pada dewasa sumbernya yaitu tukang cukur, salon kecantikan, kolam renang, dan dari

anak-anak yang telah terinfeksi5.

HISTOPATOLOGI

Terjadinya inflamasi superfisialis pada folikel pilosebaseus bagian atas. Terdapat vesikopustul di subkorneum yang berisi coccus serta debris berupa leukosit dan sel epidermis. Pada dermis terjadi inflamasi ringan yang ditandai dengan dilatasi  pembuluh darah, edema, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear.5 Seringkali terjadi

spongiosis yang mendasari pustula. Pada lesi terdapat kokus Gram positif.2

MANIFESTASI KLINIS

Impetigo krustosa dapat terjadi di mana saja pada tubuh, tetapi biasanya pada  bagian tubuh yang sering terpapar dari luar misalnya wajah, leher, dan ekstremitas. Impetigo Krustosa diawali dengan munculnya eritema berukuran kurang lebih 2 mm yang dengan cepat membentuk vesikel, bula atau pustul berdinding tipis. Kemudian vesikel, bula atau pustul tersebut ruptur menjadi erosi kemudian eksudat seropurulen

(5)

mengering dan menjadi krusta yang berwarna kuning keemasan (honey-colored ) dan dapat meluas lebih dari 2 cm. Lesi biasanya berkelompok dan sering konfluen meluas secara irreguler. Pada kulit dengan banyak pigmen, lesi dapat disertai hipopigmentasi atau hiperpigmentasi. Krusta pada akhirnya mengering dan lepas dari dasar yang eritema tanpa pembentukan jaringan scar.1,4,5,8

Lesi dapat membesar dan meluas mengenai lokasi baru dalam waktu beberapa minggu apabila tidak diobati. Pada beberapa orang lesi dapat remisi spontan dalam 2-3 minggu atau lebih lama terutama bila terdapat penyakit akibat parasit atau pada iklim panas dan lembab, namun lesi juga dapat meluas ke dermis membentuk ulkus (ektima).1,4

Kelenjar limfe regional dapat mengalami pembesaran pada 90% pasien tanpa  pengobatan (terutama pada infeksi Streptococcus) dan dapat disertai demam.

Membran mukosa jarang terlibat.1,4,5

Gambar 2. impetigo krustosa di ekstremitas superior pada anak-anak 1.

(6)

DIAGNOSIS

Diagnosis impetigo krustosa ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan mengidentifikasi tanda dan gejala yang ada dan dapat dibantu dengan  pemeriksaan penunjang seperti pewarnaan Gram, biakan kuman, dan tes serologi

serta histopatologi.2,8

Pada pulasan gram, ditemukan coccus Gram positif yang lebih terlihat bila  pemeriksaan dilakukan saat lesi masih berupa vesikel. Biasanya diperlukan  pemeriksaan biakan kuman dan sensitivitas bila terapi tidak menghasilkan respon  baik yang menunjukkan sudah terjadi resistensi kuman. Pada pemeriksaan serologi didapatkan ASO titer positif lemah pada pioderma  streptococcus. Leukositosis ditemukan pada sebagian penderita impetigo krustosa.2,8

DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding Impetigo krustosa terdiri dari: a. Dermatitis Atopik 

Terdapat riwayat atopik seperti asma, rhinitis alergika. Lesi pruritus kronik  dan kulit kering abnormal dapat disertai likenifikasi.3,9

 b. Dermatitis Kontak 

Gatal pada daerah sensitif yang kontak dengan bahan iritan.3

c. Herpes Simpleks

Vesikel dengan dasar eritema yang ruptur menjadi erosi ditutupi krusta. Umumnya terdapat demam, malaise, disertai limfadenopati.3,9

d. Varise la

Terdapat gejala prodomal seperti demam, malaise, anoreksia. Vesikel dinding tipis dengan dasar eritema (bermula di trunkus dan menyebar ke wajah dan ekstremitas) yang kemudian ruptur membentuk krusta (lesi berbagai stadium).3

(7)

Kandidiasis (infeksi jamur candida): papul eritem, basah, umumnya di daerah selaput lendir atau daerah lipatan.3

f. Diskoid lupus eritematous

Ditemukan (plak), batas tegas yang mengenai sampai folikel rambut.3

g. Ektima

Lesi berkrusta yang menutupi daerah ulkus yang menetap selama beberapa minggu dan sembuh dengan jaringan parut bila menginfeksi dermis.3

h. Gigitan serangga

Terdapat papul pada daerah gigitan, dapat nyeri.3 i. Skabies

Papul yang kecil dan menyebar, terdapat terowongan pada sela-sela jari, gatal  pada malam hari.3

KOMPLIKASI

1. Ektima

Impetigo yang tidak diobati dapat meluas lebih dalam dan penetrasi ke epidermis menjadi ektima. Ektima merupakan pioderma pada jaringan kutan yang ditandai dengan adanya ulkus dan krusta tebal.4,5

2. Selulitis dan Erisepelas

Impetigo krustosa dapat menjadi infeksi invasif menyebabkan terjadinya selulitis dan erisepelas, meskipun jarang terjadi. Selulitis merupakan  peradangan akut kulit yang mengenai jaringan subkutan (jaringan ikat longgar) yang ditandai dengan eritema setempat, ketegangan kulit disertai malaise, menggigil dan demam. Sedangkan erisepelas merupakan peradangan kulit yang melibatkan pembuluh limfe superfisial ditandai dengan eritema dan tepi meninggi, panas, bengkak, dan biasanya disertai gejala prodromal.1,4,5

3. Glomerulonefritis Post Streptococcal

Komplikasi utama dan serius dari impetigo krustosa yang umumnya disebabkan oleh Streptococcus group A beta-hemolitikus ini yaitu glomerulonefritis akut (2%-5%). Penyakit ini lebih sering terjadi pada

(8)

anak-anak usia kurang dari 6 tahun. Tidak ada bukti yang menyatakan glomerulonefritis terjadi pada impetigo yang disebabkan oleh Staphylococcus. Insiden glomerulonefritis (GNA) berbeda pada setiap individu, tergantung dari strain potensial yang menginfeksi nefritogenik. Faktor yang berperan  penting atas terjadinya GNAPS yaitu serotipe Streptococcus strain 49, 55,

57,dan 60 serta strain M-tipe 2. Periode laten berkembangnya nefritis setelah  pioderma streptococcal sekitar 18-21 hari. Kriteria diagnosis GNAPS ini terdiri dari hematuria makroskopik atau mikroskopik, edema yang diawali dari regio wajah, dan hipertensi.1,5

4. Rheumatic Fever.1,13

Sebuah kelainan inflamasi yang dapat terjadi karena komplikasi infeksi streptokokus yang tidak diobati  strep throat atau scarlet fever . Kondisi tersebut dapat mempengaruhi otak, kulit, jantung,dan sendi tulang.

5. Pneumonia.

Pneumonia merupakan penyakit ynag banyak ditemui setiap tahun. Penyakit ini biasa terjadi pada perokok dan seseorang yang menggunakan obat yang menekan sistem imunitas.13

6. Infeksi Methicilin- resistant staphylococcus aureus (MRSA).

MRSA adalah sebuah strain bakteri stafilokokus yang resisten terhadap sejumlah antibiotik. MRSA dapat menyebabkan infeksi serius pada kulit yang sangat sulit diobati. Infeksi kulit dapat dimulai dengan sebuah eritem, papul, atau abses yang mengeluarkan pus. MRSA juga dapat menyebabkan  pneumonia dan bakterimia.12

7. Osteomielitis

Sebuah inflamasi pada tulang disebabkan bakteri. Inflamasi biasanya berasal dari bagian tubuh yang lain yang berpindah ke tulang melalui darah.14

8. Meningitis

Sebuah inflamasi pada membran dan cairan serebrospinal yang melingkupi otak dan medula spinalis. Meningitis merupakan sebuah penyakit serius yang

(9)

dapat mempengaruhi kehidupan dan menghasilkan komplikasi permanen seperti koma, syok, dan kematian.15

PENATALAKSANAAN

A. Umum

• Menjaga kebersihan agar tetap sehat dan terhindar dari infeksi kulit.9 • Menindaklanjuti luka akibat gigitan serangga dengan mencuci area

kulit yang terkena untuk mencegah infeksi.9

• Mengurangi kontak dekat dengan penderita9

• Bila diantara anggota keluarga ada yang mengalami impetigo

diharapkan dapat melakukan beberapa tindakan pencegahan berupa:9

- Mencuci bersih area lesi (membersihkan krusta) dengan sabun dan air  mengalir serta membalut lesi.

- Mencuci pakaian, kain, atau handuk penderita setiap hari dan tidak  menggunakan peralatan harian bersama-sama.

- Menggunakan sarung tangan ketika mengolesi obat topikal dan setelah itu mencuci tangan sampai bersih.

- Memotong kuku untuk menghindari penggarukan yang memperberat lesi.

- Memotivasi penderita untuk sering mencuci tangan. B. Khusus

Pada prinsipnya, pengobatan impetigo krustosa bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan perbaikan pada lesi serta mencegah penularan infeksi dan kekambuhan.3

1. Terapi Sistemik 

Pemberian antibiotik sistemik pada impetigo diindikasikan bila terdapat lesi yang luas atau berat, limfadenopati, atau gejala sistemik.1

a. Pilihan Pertama (GolonganßLactam)

(10)

o Amoksisilin+ Asam klavulanat

Dosis 2x 250-500 mg/hari (25 mg/kgBB) selama 10 hari.3

Golongan Sefalosporin generasi-ke1 (bakterisid)

o Sefaleksin

Dosis 4x 250-500 mg/hari (40-50 mg/kgBB/hari) selama 10 hari.3

o Kloksasilin

Dosis 4x 250-500 mg/hari selama 10 hari.3

 b. Pilihan Kedua

Golongan Makrolida (bakteriostatik)

o Eritromisin

Dosis 30-50mg/kgBB/hari. 4 o Azitromisin

Dosis 500 mg/hari untuk hari ke-1 dan dosis 250 mg/hari untuk  hari ke-2 sampai hari ke-4.4

2.Terapi Topikal

Penderita diberikan antibiotik topikal bila lesi terbatas, terutama pada wajah dan penderita sehat secara fisik. Pemberian obat topikal ini dapat sebagai profilaksis terhadap penularan infeksi pada saat anak melakukan aktivitas disekolah atau tempat lainnya. Antibiotik topikal diberikan 2-3 kali sehari selama 7-10 hari.5,6

o Mupirocin

Mupirocin ( pseudomonic acid ) merupakan antibiotik yang berasal dari  Pseudomonas fluorescent  .Mekanisme kerja mupirocin yaitu menghambat sintesis protein (asam amino) dengan mengikat isoleusil-tRNA sintetase sehingga menghambat aktivitas coccus Gram positif  seperti Staphylococcus dan sebagian besar  Streptococcus. Salap mupirocin 2% diindikasikan untuk pengobatan impetigo yang disebabkan Staphylococcus dan Streptococcus pyogenes.10

(11)

o Asam Fusidat

Asam Fusidat merupakan antibiotik yang berasal dari  Fusidium coccineum. Mekanisme kerja asam fusidat yaitu menghambat sintesis  protein. Salap atau krim asam fusidat 2% aktif melawan kuman gram  positif dan telah teruji sama efektif dengan mupirocin topikal.11

o Bacitracin

Baciracin merupakan antibiotik polipeptida siklik yang berasal dari Strain Bacillus Subtilis. Mekanisme kerja bacitracin yaitu menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan menghambat defosforilasi ikatan membran lipid pirofosfat sehingga aktif melawan coccus Gram positif  seperti Staphylococcus dan Streptococcus. Bacitracin topikal efektif  untuk pengobatan infeksi bakteri superfisial kulit seperti impetigo.10 o Retapamulin

Retapamulin bekerja menghambat sintesis protein dengan berikatan dengan subunit 50S ribosom pada protein L3 dekat dengan peptidil  transferase. Salap Retapamulin 1% telah diterima oleh Food and Drug Administraion (FDA) pada tahun 2007 sebagai terapi impetigo pada remaja dan anak-anak diatas 9 bulan dan telah menunjukkan aktivitasnya melawan kuman yang resisten terhadap beberapa obat seperti metisilin, eritromisin, asam fusidat, mupirosin, azitromisin.6

PROGNOSIS

Pada beberapa individu, bila tidak ada penyakit lain sebelumnya impetigo krustosa dapat membaik spontan dalam 2-3 minggu. Namun, bila tidak diobati impetigo krustosa dapat bertahan dan menyebabkan lesi pada tempat baru serta menyebabkan komplikasi berupa ektima, dan dapat menjadi erisepelas, selulitis, atau  bakteriemi.4,7Dapat pula terjadi Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (SSSS) pada

 bayi dan dewasa yang mengalami immunocompromised atau gangguan fungsi ginjal. Bila terjadi komplikasi glomerulonefritis akut, prognosis anak- anak lebih baik  daripada dewasa.5

(12)

RINGKASAN

Impetigo krustosa merupakan penyakit infeksi kulit terbatas pada lapisan epidermis (superfisial) yang umumnya disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus group A beta-hemolitikus di negara maju dan Streptococcus group A beta-hemolitikus di negara berkembang. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak, baik laki-laki maupun  perempuan. Predileksi impetigo krusta terdiri dari wajah, leher, atau

ekstremitas. Gambaran klinis yang dapat ditemukan berupa vesikel yang menjadi pustul dan ruptur membentuk krusta khas berwarna kuning keemasan (honey-colored ). Lesi biasanya berkelompok dan konfluen dan dapat meluas melibatkan lokasi baru. Penyakit impetigo krustosa yang lama tidak diobati kadang dapat menyebabkan komplikasi, diantaranya yang berat adalah glomerulonefritis akut, meningitis akut. Selain itu, penyakit impetigo krustosa dapat menginfeksi jantung, tulang dan paru. Pada pasien impetigo yang diobati dengan antibiotik tidak secara tuntas dapat menimbulkan suatu Infeksi  Methicilin- resistant staphylococcus aureus (MRSA) dimana strain bakteri stafilokokus menjadi resisten terhadap sejumlah antibiotik sehingga menyebabkan infeksi serius pada kulit yang sangat sulit diobati. Infeksi kulit dapat dimulai dengan sebuah eritem, papul, atau abses yang mengeluarkan  pus. MRSA juga dapat menyebabkan pneumonia dan bakterimia yang tentu saja akan mengganggu aktivitas hidup penderita. Terapi impetigo krustosa terdiri dari pembersihan krusta dengan kompres basah, antibiotik topikal serta antibiotik sistemik bila diperlukan.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

1. Hay R.J, B.M Adriaans. Bacterial Infection. In: Burns T, Brethnach S, Cox N, Griffiths C (eds). Rook’s Text Book of Dermatology. 7th ed. Turin: Blackwell.

2004. p.27.13-15.

2. Heyman W.R, Halpern V. Bacterial Infection.  Bolognia JL, Jorizzo JL,  Rapini RP (eds). Dermatology. 2nd ed. Spain: Mosby Elsevier. 2008.

p.1075-77.

3. Cole C, Gazewood J. Diagnosis and Treatment of Impetigo.  American  Academy of Family Physician. Vol.75. No.6. 2007. p.859-864. Diunduh dari:

http://www.sepeap.org/archivos/pdf/10524.pdf 

4. Craft N, Peter K.L, Matthew Z.W, Morton N.S, Richard S.J. Superficial Cutaneous Infection and Pyodermas. In: Wolff K et all (eds). Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. Vol 2. 7th Ed. New York: McGraw Hill.

2008. p.1695-1705.

5. Arnold, Odom, James. Bacterial Infection. In: James W.D, Berger T.G, Elston D.M (eds). Andrew’s Disease of the Skin Clinical Dermatology. 10th Ed.

Canada: Saunders Elsevier. 2006. p.255-6. 6. Amini Sadegh. Impetigo. Diunduh dari:

http://emedicine.medscape.com/article/1109204-treatment. Last update: May

20, 2010.

7. Norrby A, Teglund, Kotb M. Host Microbe Interactions in The Pathogenesis of Invasive Group A Streptococcal Infections. Journal Medical Microbiology. Vol.49. 2000. p.849-52.

8. Trozak D.J, Tennenhouse D.J, Russel D.J. Impetigo (Impetigo Crustosa). In: Skolnik N.S (eds). Dermatology Skills For Primary Care: An Ilustrated Guide.  New Jersey: Humana Press. 2006. p.317-23.

(14)

9. Wolff K, Richard Allen Johnson. Color Atlas and Sypnosis Of Clinical Dermatology. Part 3rdrd. 9th Ed. New york: McGraw Hill. 2009. p.597-604.

10. Bonner M.W, Benson P.M, James W.D. Topical Antiboiotics. In: Wolff K et all (eds). Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. Vol 2. 7th Ed. New

York: McGraw Hill. 2008. p.2113-15.

11. Koning S at all. Fusidic Acid Cream in The Treatment of Impetigo in General Practice: Double Blind Randomised Placebo Controlled Trial. British Medical   Journal . 2002. Vol.324. p.203. Diunduh dari:

http://www.bmj.com/cgi/content/full/324/7331/203

12. Mayo clinic staff. Impetigo. Diunduh dari: http://www.mayoclinic.com/health/impetigo/DS00464/DSECTION=complica tions.

13. Wrong Diagnosis. Rheumatic fever. Diunduh dari: http://www.wrongdiagnosis.com/r/rheumatic_fever/intro.htm

14. Wrong Diagnosis. Osteomielitis . Diunduh dari: http://www.wrongdiagnosis.com/o/osteomyelitis/intro.htm

15. Wrong Diagnosis. Meningitis . Diunduh dari: http://www.wrongdiagnosis.com/m/meningitis/intro.htm

Gambar

Gambar 1. Struktur Stretoccocus Pyogenes dan substansinya
Gambar 3. impetigo krustosa di sekitar lubang hidung dan mulut pada anak-  anak  4 .

Referensi

Dokumen terkait

sehingga penelitian yang berjudul “Uji Kepekaan Beberapa Sediaan Antiseptik terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus aureus Resisten Metisilin

TANAMAN OBAT TERHADAP BAKTERI Pseudomonas aeruginosa DAN Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA)” yang disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh

Penelitian ini bertujuan menentukan resistensi Staphylococcus aureus terhadap berbagai antibiotik dan deteksi gen yang bertanggungjawab terhadap methicillin resistant

Methicillin-Resistant Staphyloccoccus aureus (MRSA) merupakan salah satu kuman patogen utama penyebab infeksi nosokomial (Ajmal dkk.,

Kultur bakteri juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), jika lesi imeptigo pecah, jika ada glomerulonefritis

Prevalence of Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus at a Tertiary Teaching Hospital in Malaysia ABSTRACT Methicillin-resistant Staphylococcus aureus MRSA is a major

2015 Inhibition Zone Test of Putri Malu Mimosa pudica Leaf Extract Against Staphylococcus aureus and Methicillin- resistant Staphylococcus aureus MRSA Bacteria In Vitro – Nyoman

Percentage Incidence of ESBL Extended Spectrum β-lactamase, Carbapenemase, MRSA Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus, MRSE Methicillin-Resistant Staphylococcus Epidermidis,