BUDIDAYA TANAMAN SAWI SELADA (Lactuca sativa L.) PADA SISTEM HIDROPONIK
Syahrun Neezar Ghozali Ziad1 Nina Maliq 2 2021102003110101
2021C1B0042
E-mail : [email protected]
Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian-Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang, Jl. Raya Tlogomas No. 246, Malang, Jawa Timur, Indonesia
ABSTRAK
PENDAHULUAN
Hidroponik merupakan salah satu metode budidaya tanaman dengan media selain tanah bisa berupa sekam bakar, pasir, kerikil, cocopeat, dan rockwoll (Hayati, 2016). Media hidroponik juga dapat berupa media campuran seperti sekam dan humus (1: 1) dan campuran media laiinya (Komalasari dan Dwiratna, 2017). Teknik hidroponik dapat dijadikan sebagai alternatif bercocok tanam guna mengatasi keterbatasan lahan serta meminimalisasi dampak dari keterbatasan iklim (Wibowo dan Asriyanti, 2013).
Hidroponik juga dapat dilakukan di lahan pekarangan karena cukup praktis serta dapat dijadikan sebagai alternatif usaha apabila dilaksanakan dengan serius (Amalia et al., 2020). Selain itu sistem hidroponik juga mempunyai banyak kelebihan, antara lain (1) pertumbuhan tanaman terjaga, (2) perawatan lebih mudah dan praktis, (3) efisien penggunaan pupuk dan tenaga kerja kasar, (3) harga jual hidroponik lebih tinggi dari produk nonhidroponik, serta (4) beberapa jenis tanaman dapat dibudidayakan di luar musim (Roidah, 2014).
Selada menjadi salah satu jenis komoditas sayuran yang saat ini mulai banyak dikembangkan oleh masyarakat. Teknik budidaya yang digunakan yaitu system hidroponik karena lebih menguntungkan baik skala kecil dengan memanfaatkan pekarangan atau skala komersil (Novitasari dan Syarifah, 2020:
Amalia et al., 2020). Hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya hidroponik adalah larutan nutrisi yang merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman hidroponik, sehingga harus tepat dari segi jumlah komposisi ion nutrisi dan suhu. Nutrisi diberikan dalam bentuk larutan yang mengandung unsur makro dan mikro di dalamnya (Andhika, 2017).
Salah satu pupuk organik yang banyak beredar di pasaran adalah pupuk organik cair. pupuk organik cair selain mengandung unsur nitrogen yang berfungsi menyusun semua protein, asam amino dan klorofil, pupuk organik cair juga mengandung unsur hara mikro yang berfungsi sebagai katalisator dalam proses sintesis protein dan pembentukan klorofil. Beberapa penelitian menunjukkan penggunaan pupuk organik cair memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan tanaman (Muhadiansyah et al., 2016).
Penggunaan pupuk organik cair harus memperhatikan konsentrasi atau dosis yang diaplikasikan terhadap tanaman. Semakin tinggi dosis pupuk yang diberikan maka kandungan unsur hara yang diterima oleh tanaman akan semakin tinggi. Namun, pemberian dengan dosis yang berlebihan justru akan mengakibatkan timbulnya gejala kelayuan pada tanaman (Djufry dan Ramlan 2013).
Selain nutrisi puupuk organik, pupuk AB MIX dapat digunakan sebagai penambah nutrisi dalam budidaya hidroponik. AB mix merupakan salah satu pupuk yang dapat dijadikan larutan hara pada sistem hidroponik. Pupuk ini terdiri dari dua bagian yakni stok A berupa unsur hara makro sedangkan stok B berupa unsur hara mikro. Rekomendasi produsen pupuk tersebut bahwa pupuk ini sebagai larutan hara
dan B masingmasing dengan konsentrasi 5 ml/L air (Purba et al., 2019). Nutrisi AB mix memiliki 16 unsur penting yang dibutuhkan oleh tanaman, dari ke 16 unsur tersebut, unsur karbondioksida (CO2), dan oksigen (O2) dipasok dari udara sedangkan hydrogen (H) berasal dari air. Enam unsur makro serta tujuh unsur mikro lainnya didapat tanaman melalui mekanisme serapan akar (Sari et al., 2020).
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan di depan kantor Laboratorium Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang, di mulai pada tanggal 19 Oktober 2023 sampai 15 Desember 2023
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam kegiatan praktikum ini ialah tusuk gigi atau lidi, instalasi hidroponik, wadah semai atau seed box, cutter, sprayer, penggaris, EC meter, netpot, alat tulis, dan alat dokumentasi.
Sedangkan bahan yang dibutuhkan dalam kegiatan praktikum ini meliputi air secukupnya, label, benih selada (Lactuca sativa L.), rockwool dan AB mix.
Metoke Kerja
Metode kerja yang dilakukan dalam kegiatan praktikum ini ialah dengan menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam kegiatan praktikum sekaligus membersihkan instalasi hidroponik yang berada di greenhouse dan dapan kantor laboratorium. Setelah itu, memotong rockwool menjadi seperti dadu lalu menata rockwool ke dalam seed box lalu membasahinya dengan air secukupnya. Selanjutnya menyemai benih selada, sawi (pakcoy) dan kangkong ke dalam masing-masing rockwool dengan setiap rockwool di isi 1 benih. Selanjutnya memilih netpot yang akan digunakan lalu membersihkannya dengan air mengalir, memasang netpot ke dalam lubang paralon yang sudah tersedia. Setelah itu, mencampurkan larutan AB Mix pada penampung air hidroponik. Setelah bibit tanaman siap selanjutnya melakukan transplanting tanaman selada (Lactuca sativa L.) pada netpot yang sudah tersedia, lalu mengaliri air pada masing-masing paralon dan memberikan nutrisi. Selanjutnya adalah melakukan perawatan rutin pada tanaman selama pengamatan dan mencatat data hasil pengamatan dan mendokumentasikan setiap kegiatan praktikum yang dilakukan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1.Hasil Pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun dan panjang akar tanaman Selada perlakuan AB Mix Sampe
l
Tinggi Tanaman (cm)
Rerat
a Jumlah Daun Rerata Panjang Akar (cm) Rerata
I II III IV I II III IV I II III IV
1 3,6 4 4,3 4,9 4,2 4 4 5 5 4,5 12 9,5 11 13,5 11,5
2 3,9 4,5 4,5 4,5 4,35 4 4 4 4 4 10,2 12,5 12,
5
12,5 11,9
3 2,2 3 3 3,9 3,02 4 4 4,
9
6 4,72 10,1 10,5 11 11,3 10,72
4 3,5 3,7 4 4,8 4 2 2 3 3 2,5 8 8,3 8,9 9,2 8,6
5 2 2 2,5 2,9 2,35 3 4 4 4 3,75 1,5 1,5 2 2,4 1,85
6 1,9 2 2,3 2,6 2,2 2 2 3 4 2,75 4,1 4,4 4,8 5,3 4,65
7 4 4 5 6 4,75 4 5 5 5 4,75 10 10,4 11 11,8 10,8
8 4 4,5 4,9 5,2 4,65 3 4 4 5 4 6 7 8 8,7 7,42
9 3,5 3,5 4 4,3 3,82 2 5 5 5 4,25 4 6,5 7 8 6,37
10 3,5 4,5 4,8 5 4,45 4 4 5 7 5 6,5 11,5 6 12,4 9,1
11 - - - -
12 - - - -
Berdasarlan hasil dari tabel 1. Pengamatan tinggi tanamana jumlah daun dan panjang akar tanaman selada. Pada tanaman selada dengan 12 sampel yang memiliki rerata tinggi tanaman dan jumlah daun yang berbeda pada setiap sampelnya. Pada rerata parameter tinggi tanaman terendah terdapat pada sampel 6 yaitu sebesar 2,2 cm sedangkan pada parameter tinggi tanaman tertinggi terdapat pada sampel 7 yaitu sebesar 4,75 cm. Pada rerata parameter jumlah daun terendah terdapat pada sampel 4 yaitu sebesar 2,5 sedangkan pada parameter jumlah daun terbanyak terdapat pada sampel 10 yaitu sebesar 5. Pada rerata parameter panjang akar tanaman terendah terdapat pada sampel 5 yaitu sebesar 1,85 cm sedangkan pada parameter tinggi tanaman tertinggi terdapat pada sampel 7 yaitu sebesar 10,8 cm dimana tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar dipengaruhi oleh pemberian nutrisi AB mix yang sesuai dengan takaran menjadikan selada tumbuh dengan baik hal ini sesuai dengan pendapat Hidayati et al., (2017) yang menyatakan bahwa unsur makro yang terdapat dalam nutrisi AB Mix sangat berpengaruh dalam pertumbuhan tanaman, terutama unsur hara N dan P. Pertumbuhan tanaman pada hidroponik dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pH larutan nutrisi dimana nilai pH cenderung berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara pada larutan nutrisi (Kresna, et al., 2013).
Tabel 2.Hasil Pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun dan panjang akar tanaman Selada perlakuan Organik Sampe
l
Tinggi Tanaman (cm)
Rerata Jumlah Daun Rerata Panjang Akar (cm) Rerata
I II III IV I II III IV I II III IV
1 7,4 9 9 9,5 8,72 5 6 6 8 6,25 5 7 9 11 8
2 4 6,2 6,3 6,3 5,7 4 6 7 10 6,75 4,3 6 6 6 5,57
3 4 6 7 8 6,25 5 6 7 8 6,5 14,2 16,5 16,
8
18 16,37
5 4 4,6 4,6 4,6 4,45 4 5 6 7 5,5 4 6,2 7 7,5 6,17
6 2,9 4,9 6 8 5,45 4 5 5 5 4,75 7 9 9,6 10,2 8,95
7 2,9 4,4 5 5,5 4,45 4 4 4 4 4 3 5,5 6 7 5,37
8 5,8 3,2 5,5 7,2 5,42 6 3 5 7 5,25 3 12 12 13,6 10,15
9 4,6 3,3 5,7 7 5,15 4 5 5 5 4,75 5 5 5 5,8 5,2
10 3 5,6 5,8 6 5,1 4 5 4 4 4,25 4,5 6 6,2 6,9 5,9
11 4 4,9 4,9 5 4,7 4 5 5 4 4,5 4 12 14 18,3 12,07
12 2,6 3 3 3 2,9 4 4 4 4 4 2 3,4 4 5 3,6
Berdasarlan hasil dari tabel 1. Pengamatan tinggi tanamana jumlah daun dan panjang akar tanaman selada. Pada tanaman selada dengan 12 sampel yang memiliki rerata tinggi tanaman dan jumlah daun yang berbeda pada setiap sampelnya. Pada rerata parameter tinggi tanaman terendah terdapat pada sampel 12 yaitu sebesar 2,9 cm sedangkan pada parameter tinggi tanaman tertinggi terdapat pada sampel 1 yaitu sebesar 8,72 cm. Pada rerata parameter jumlah daun terendah terdapat pada sampel 7 dan 12 yaitu sebesar 4 sedangkan pada parameter jumlah daun terbanyak terdapat pada sampel 2 yaitu sebesar 6,75.
Pada rerata parameter panjang akar tanaman terendah terdapat pada sampel 12 yaitu sebesar 3,6 cm sedangkan pada parameter tinggi tanaman tertinggi terdapat pada sampel 3 yaitu sebesar 16,37 cm dimana tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar dipengaruhi oleh pemberian nutrisi pupuk organik yang sesuai dengan takaran menjadikan selada tumbuh dengan baik hal ini diduga karena pupuk organik cair yang diberikan sudah mulai bisa diserap karena tersedia cukup dalam keadaan terlarut. Senada yang dikemukakan (Subeni, 2020), bahwa kelebihan pupuk cair adalah kandungan haranya bervariasi, yaitu mengandung hara makro dan mikro, penyerapan haranya berjalan lebih cepat karena sudah terlarut.
Tabel 3. Hasil pengamatan warna tanaman Selada perlakuan organik
Sampel Minggu ke-
I II III IV
1
\
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Tabel 4. Hasil pengamatan warna tanaman Selada perlakuan AB Mix
Sampel Minggu ke-
I II III IV
1
\
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA
Dwiratna, S. dan Komalasari, D. (2017). Penentuan komposisi media tanam terbaik untuk budidaya selada merah menggunkana sistem autpot modifikasi. Jurnal Pertanian Tropik, 4(3), 219- 227.
Wibowo, S., dan Asriyanti, A.S. 2013. Aplikasi hidroponik NFT pada budidaya pakcoy. Jurnal Penelitian Terapan. 13(3): 159 – 167.
Roidah, I.S. 2014. Pemanfaatan lahan dengan menggunakan sistem hidroponik. J Universitas Tulungagung BONOROWO, 1(2): 43 – 50.
Novitasari, D. dan Syarifah, R.N.K. 2020. Analisis kelayakan finansial budidaya selada dengan hidroponik sederhana skala rumah tangga. J SEPA, 19(1): 17 – 23.
Andhika, R.L. 2017. Karakteristik Agronomis Tanaman Kailan (Brassica juncea L. Var. Acephala Dc.) Kultivar Full White 921 Akibat Jenis Media Tanam Organik dan Nilai Ec pada Hidroponik Sistem Wick. Jurnal Agroteknologi Indonesia, 2 (1): 25-33.
Muhadiansyah, T. O., Setyono, & Adimihardja, S. A. (2016). Efektivitas Pencampuran Pupuk Organik Cair Dalam Nutrisi Hidroponik pada Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Selada (Lactuca sativa L). Jurnal Agronida, 2(1), 37–46.
Subeni. (2020). Pengaruh Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Sawi Hijau Pada Sistem Hidroponik. Jurnal Pertanian Agros, 22(1), 76–83.
Djufry F, Ramlan. 2013. Uji Efektivitas Pupuk Organik Cair Plus Hi-Tech 19 pada Tanaman Sawi Hijau di Sulsel. Sulsel: BPTP-Sulsel, Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian 2013.
Purba, D. W. Safruddin dan Gunawan, H. 2019. Prosiding Seminar Nasional Multidisiplin Ilmu Universitas Asahan Ke-3 2019, 781–789.
Sari, S. W., Safruddin, S. dan Purba, D. W. 2020. Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Kelor Dan Nutrisi Ab-Mix Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Seledri (Apium Graveolens)’, Jurnal Bernas, 15(3), 22–31.
Hidayati, N., Rosawanti, P., Yusuf, F., & Hanafi, N. (2017). Kajian Penggunaan Nutrisi Anorganik terhadap Pertumbuhan Kangkung (Ipomoea reptans Poir) Hidroponik Sistem Wick. Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian Dan Kehutanan, 4(2), 75–81. https://doi.org/10.33084/daun.v4i2.81
Kresna, I. G. P., Sukerta, I. M., & Suryana, I. M. (2013). Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Tanaman Kangkung Darat (Ipomea Reptans P.) Pada Tanah Alluvial Coklat Kelabu. Agrimeta : Jurnal Pertanian Berbasis Keseimbangan Ekosistem, 87–92.