Konsep Dasar Mutu 1
Konsep Mutu 1
Mengapa Harus Mutu? 7
Sejarah Mutu 11
Manajemen Mutu 17
Ikhtisar 21
Para Pengembang Manajemen Mutu 24
Pendahuluan 24
W. Edward Deming 26
Joseph M. Juran 29
Armand V. Feigenbaum 32
Philip B. Crosby 34
Kaoru Ishikawa 39
Ikhtisar 44
Total Quality Management (TQM) 47
Pengertian TQM 47
Total Quality Management (TQM) dirangkum sebagai sistem manajemen untuk organisasi yang berorientasi pada pelanggan yang melibatkan semua karyawan dalam peningkatan kualitas yang berkelanjutan. Pendekatan ini menggunakan strategi, data dan komunikasi yang efektif untuk mengintegrasikan disiplin mutu ke dalam budaya dan aktivitas organisasi.44 Empat hal yang dapat digarisbawahi dari uraian tersebut, bahwa TQM (1) adalah suatu sistem atau cara kerja suatu organisasi atau lembaga secara keseluruhan, (2) sistem kerja saat ini berorientasi pada peningkatan kualitas secara berkesinambungan, (3) sistem kerja TQM menggunakan strategi yang akurat berdasarkan data dan komunikasi yang efektif, dan (4) disiplin terhadap kualitas telah menjadi budaya menyeluruh yang mewarnai seluruh aktivitas dalam organisasi atau lembaga. TQM adalah cara berpikir baru dalam manajemen organisasi, cara untuk meningkatkan kinerja organisasi secara total dan kinerja yang berkualitas.
TQM adalah pendekatan praktis namun strategis untuk mengelola organisasi yang berfokus pada kebutuhan pelanggan dan kliennya.45 TQM adalah filosofi kerja yang telah terbukti memastikan kelangsungan hidup dalam persaingan kelas dunia. TQM adalah pendekatan yang komprehensif dan terstruktur untuk manajemen organisasi yang berupaya meningkatkan kualitas produk dan layanan melalui perbaikan terus menerus sebagai tanggapan atas umpan balik yang terus menerus.46 Sistem kerja TQM tidak mengenal kata akhir, selalu dalam proses perubahan kondisi berdasarkan pelanggan untuk meningkatkan umpan balik. Total Quality Management yang saat ini populer di beberapa negara, berawal dan berkembang dari manufaktur atau pabrik.
Edward Deming membantu insinyur dan teknisi Jepang menggunakan teori statistik untuk meningkatkan kualitas produksi, alat yang sebelumnya diremehkan oleh perusahaan Amerika. Dalam bidang proses kerja di negara yang berbeda, TQM yang berbeda seringkali dikenalkan dengan banyak nama, namun pada dasarnya menunjukkan filosofi yang sama. Banyak institusi atau perusahaan mengikuti filosofi ini dengan memberi nama sesuai dengan pandangan mereka.
TQM adalah pendekatan manajemen yang mencakup filosofi dan metode yang membantu organisasi mengelola perubahan dan menetapkan agenda untuk meningkatkan kualitas produk atau layanan yang mereka hasilkan/tawarkan. Filosofi TQM adalah peningkatan kualitas secara bertahap dan berkesinambungan (incremental continuous quality improvement) untuk memenuhi atau melebihi kebutuhan pelanggan. TQM juga dapat didefinisikan sebagai filosofi dan seperangkat tolok ukur yang membentuk fondasi organisasi yang terus berkembang.
TQM menggunakan metode kuantitatif dan sumber daya manusia untuk meningkatkan semua proses dalam organisasi untuk melebihi kebutuhan pelanggan saat ini dan masa depan. TQM adalah cara berpikir baru dalam manajemen organisasi, dengan paradigma ini organisasi menjadi berorientasi pada pelanggan, diorganisir oleh proses, dikelola oleh tim kerja dan terkoordinasi. TQM menggabungkan teknik manajemen dasar dalam upaya untuk meningkatkan yang sudah ada dengan alat dan teknik dalam budaya disiplin.
Prinsip-prinsip TQM 50
Manajemen puncak harus menciptakan struktur organisasi, proses desain produk, proses produksi, dan insentif yang mendorong dan menghargai kualitas yang baik. Fakta ini menuntut organisasi untuk bekerja dengan pelanggan untuk menentukan apa yang diinginkan pelanggan dan bagaimana pelanggan menerima nilai produk. Menggunakan peralatan dan perlengkapan yang tepat, proses pengendalian kesalahan, melatih staf dan karyawan dengan metode terbaik dan menyediakan lingkungan kerja yang baik akan lebih mencegah kesalahan daripada mendeteksinya.
Selain itu, sistem produksi yang sangat tersinkronisasi dengan komunikasi timbal balik yang cepat. karyawan mendukung identifikasi cepat dan mencari solusi untuk masalah kualitas. Sistem kerja ini membutuhkan karyawan yang memiliki kesadaran tinggi dan mampu berpartisipasi dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah kualitas. Metode seperti pengaturan mesin pokayoke dan terstruktur harus digunakan sebanyak mungkin untuk meningkatkan peluang untuk melakukannya dengan benar pada kali pertama.
Metode statistik dapat memainkan peran yang berguna dalam memantau kualitas dan mendeteksi kesalahan dengan cepat. Kualitas produk yang unggul adalah hasil dari upaya karyawan untuk terus meningkatkan kualitas dan produktivitas produk melalui pengalaman dan eksperimen. keberlanjutan tidak terjadi dengan sendirinya. Ada beberapa cara organisasi dapat mendorong peningkatan berkelanjutan, seperti tim kerja, lingkaran kualitas, dan sistem saran.
Masing-masing metode ini menggunakan karyawan yang terlibat langsung dalam proses produksi sebagai sumber utama gagasan perbaikan. Namun, para ahli percaya bahwa tim peningkatan kualitas yang berdiri sendiri lebih efektif dalam memulai dan memimpin tugas peningkatan kualitas. Dorongan terkuat untuk bergerak menuju perubahan adalah kesadaran kolektif dalam lingkup organisasi atau institusi.
Sebuah organisasi hanya dapat bertransformasi ke TQM jika menyadari bahwa kualitas produk atau layanan perlu ditingkatkan. Kesadaran ini muncul ketika sebuah organisasi kehilangan pangsa pasar atau menyadari bahwa kualitas dan produktivitas berjalan beriringan. Oleh karena itu, kesadaran untuk meningkatkan manajemen menuju mutu harus diciptakan sedini mungkin pada lapisan manajemen tertinggi lembaga.
Mengubah Budaya 54
Institusi pendidikan yang berorientasi pada mutu tentu akan fokus pada peserta didik dan bukan pada tataran internal di dalamnya. Dengan bantuan TQM, lembaga pendidikan akan mampu mengembangkan konsep mutu, standar dan praktik peningkatan mutu sesuai kebutuhan pelanggan.51. Dengan bantuan TQM, institusi pendidikan akan mampu mengembangkan konsep kualitas, standar dan praktik peningkatan kualitas sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Pengalaman sebelumnya (past), jika pelanggan pernah mengalami atau merasakan layanan dari lembaga pendidikan pesaing. Jaminan kualitas layanan pendidikan merupakan modal utama bagi pelanggan untuk mau berbisnis dengan lembaga pendidikan tertentu. Institusi pendidikan harus memiliki konsistensi dalam hal kinerja kelembagaan, khususnya dalam hal efektivitas layanan pendidikan dan kualitas pembelajaran yang dialami peserta didik sebagai peserta didik.
Bahkan untuk hal ini, lembaga pendidikan Islam memiliki beban yang lebih berat karena harus dilandasi oleh nilai-nilai kejujuran, keterbukaan dan keadilan. Meskipun survei ditujukan untuk persepsi produk, survei ini juga dapat digunakan sebagai referensi bagi lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan harus konsisten dalam kinerja lembaganya, terutama dalam hal efektivitas layanan pendidikan dan kualitas pembelajaran yang diterima peserta didik.
Beban lembaga pendidikan Islam lebih berat karena harus dilandasi nilai-nilai kejujuran, keterbukaan dan keadilan. Pimpinan pendidikan adalah pihak yang bertanggung jawab atas proses peningkatan mutu pada semua jenjang dan satuan organisasi lembaga pendidikan. Pimpinan lembaga pendidikan dapat menjadi pihak yang menerapkan kepemimpinan transformasional dengan mengembangkan visi lembaga pendidikan yang jelas.
Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan survei pasar oleh lembaga pendidikan Islam yang menerapkan perencanaan strategis mutu pendidikan. Manfaat analisis SWOT bagi lembaga pendidikan adalah sebagai strategi untuk menentukan masa depan keberlanjutan operasional lembaga. Apa yang dimaksud dengan perencanaan strategis dan apa fungsinya bagi program pengembangan mutu lembaga pendidikan.
Tolok ukur adalah strategi yang digunakan organisasi untuk mengukur diri mereka secara sistematis terhadap praktik terbaik lembaga pendidikan. Benchmarking merupakan alat untuk mencapai tujuan operasional dan kompetitif lembaga, sehingga lembaga pendidikan mencapai mutu dan daya saing. Benchmarking adalah strategi organisasi untuk mengukur dirinya sendiri secara sistematis terhadap praktik terbaik lembaga pendidikan.
Kualitas dalam perspektif Feigenbaum dan implementasinya di lembaga pendidikan”, MANAGERE: Jurnal Manajemen Pendidikan Indonesia Vol.