• Tidak ada hasil yang ditemukan

buku ajar sistem respirasi

N/A
N/A
Dragon Ball

Academic year: 2025

Membagikan "buku ajar sistem respirasi"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BUKU AJAR

SISTEM RESPIRASI

Ns. Yusran Haskas, SKM., S.Kep., M.Kes

Ns. Suarnianati, SKM., S.Kep., M.Kes

(2)

BUKU AJAR SISTEM RESPIRASI Ns. Yusran Haskas, SKM., S.Kep., M.Kes

Haskas, Yusran

Sistem Respirasi/Yusran Haskas Edisi Pertama

—Yogyakarta: Indomedia Pustaka, 2016 1 jil., 17 × 24 cm, 140 hal.

ISBN: 978-602-74281-7-1

1. Kesehatan 2. Sistem Respirasi I. Judul II. Yusran Haskas Edisi Asli

Hak Cipta © 2016, Indomedia Pustaka Gebang No. 59 RT. 03 RW. 44 Wedomartani Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, 55583 Telp. : (0274) 2830613

Website : www.indomediapustaka.com E-mail : [email protected]

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penulis.

UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA

1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/

atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3)

PENDAHULUAN

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat rahmat dan inayah-Nya sehingga buku ajar sistem respirasi khusus mahasiswa S1 Keperawatan ini dapat terselesaikan. Mata kuliah sistem respirasi merupakan mata kuliah pokok yang harus dipahami oleh mahasiswa kesehatan. Sistem respirasi merupakan ilmu yang berfokus pada Mekanisme pernafasan dan kompenen yang terlibat di dalamnya. Buku ajar sistem respirasi ini didesain untuk memudahkan mahasiswa dalam menambah referensi tentang ilmu sistem respirasi.

Buku ajar sistem respirasi ini berisikan bahan ajar dasar yang dikembangkan sesuai Kurikulum Program S1 Keperawatan. Bahan ajar dasar yang dituliskan dalam buku ajar ini terdiri dari dua belas bab, yaitu:

(1) anatomi fisiologi sistem respirasi beserta proses kimia. Fisika, dan biokomianya, (2) patofisiologi pada kasus sistem respirasi, (3) pengkajian, (4) diagnosa, (5) perencanaan, (6) evaluasi, (7) dokumentasi pada kasus sistem respirasi, (8) sistem layanan kesehatan (9) pencegahan primer, sekunder, dan tersier (10) hasil-hasil penelitian terkait sistem respirasi (11) contoh kasus sistem respirasi (klasifikasi kasus sistem respirasi dan prioritas masalah sistem respirasi) (12) prinsip-prinsip etika keperawatan dan nursing advocacy.

(4)

Perkuliahan sistem respirasi diraOncang untuk dilaksanakan sebanyak 12-14 kali pertemuan tatap muka atau selama satu semester. Dalam perkuliahan ini mahasiswa akan mempelajari mekanisme sistem respirasi dan komponennya. Demikianlah buku ajar sistem respirasi ini disusun untuk keperluan penyelenggaraan perkuliahan sistem respirasi bagi mahasiswa S1 Keperawatan. Tentunya buku ajar ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan buku ini.

Penulis

(5)

DAFTAR ISI

Pendahuluan ... iii

Daftar Isi ... v

Bab 1 Anatomi Fisiologi Sistem Respirasi... 1

1.1 Pengertian Sistem Respirasi ... 2

1.2 Anatomi Sistem Respirasi ... 3

Soal latihan ... 16

Daftar pustaka ... 16

Bab 2 Patofisiologi pada Kasus Gangguan Sistem Respirasi ... 17

2.1 Patofisiologi Kasus Gangguan Sistem Respirasi di Nasional dan Internasional yang Sering Terjadi pada Anak ... 18

1.2 Patofisiologi Kasus Gangguan Sistem Respirasi di Nasional dan Internasional yang Sering Terjadi pada Dewasa ... 25

1.3 Patofisiologi Kasus Gangguan Sistem Respirasi di Regional, Nasional, dan Internasional yang Sering Terjadi pada Lansia ... 32

Soal Latihan ... 34

Daftar Pustaka ... 34

(6)

Bab 3 Pengkajian Keperawatan pada

Kasus Gangguan Sistem Respirasi ... 35

3.1 Proses Keperawatan ... 36

3.2 Format Pengkajian Keperawatan ... 41

3.3 Tipe Format Pengkajian ... 41

3.4 Pengakajian Keperawatan ... 42

3.5 Pengkajian yang Sistematis dalam Keperawatan ... 43

Soal Latihan ... 51

Daftar Pustaka ... 51

Bab 4 Diagnosa Keperawatan pada Kasus Gangguan Sistem Respirasi ... 53

4.1 Prioritas Masalah ... 54

Soal Latihan ... 61

Daftar Pustaka ... 61

Bab 5 Perencanaan Keperawatan pada Kasus Gangguan Sistem Respirasi ... 63

5.1 Membuat Prioritas Urutan Diagnosa Keperawatan ... 64

5.2 Merumuskan Tujuan ... 64

5.3 Merumuskan Kriteria Evaluasi ... 65

5.4 Merumuskan Intervensi Keperawatan ... 65

Soal Latihan ... 69

Daftar Pustaka ... 69

Bab 6 Evaluasi Keperawatan pada Kasus Gangguan Sistem Respirasi ... 71

Soal Latihan ... 73

Daftar Pustaka ... 73

Bab 7 Dokumentasi Keperawatan pada Kasus Gangguan Sistem Respirasi ... 75

7.1 Prinsip Dokumentasi Keperawatan ... 77

7.2 Standar Dokumentasi Keperawatan ... 77

7.3 Komponen Model Dokumentasi Keperawatan ... 79

Soal Latihan ... 82

Daftar Pustaka ... 82

(7)

Daftar Isi vii

Bab 8 Sistem Layanan Kesehatan pada

Kasus Gangguan Sistem Respirasi ... 83

8.1 Konsep Pelayanan Kesehatan ... 84

8.2 Tingkat, Bentuk, dan Lembaga Pelayanan Kesehatan ... 85

8.3 Pelayanan Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan ... 87

Soal Latihan ... 93

Daftar Pustaka ... 93

Bab 9 Pencegahan Primer, Sekunder, dan Tersier pada Kasus Gangguan Sistem Respirasi ... 95

9.1 Konsep, Tujuan, dan Sasaran Pencegahan Primer, Sekunder, dan Tersier pada Masalah Sistem Respirasi... 96

9.2 Bentuk Pencegahan Primer, Sekunder, dan Tersier pada Masalah Sistem Respirasi ... 96

Soal Latihan ... 98

Daftar Pustaka ... 99

Bab 10 Hasil Penelitian Terkait Sistem Respirasi ... 101

Bab 11 Manajemen Kasus Sistem Respirasi ... 107

Latihan!... 108

Bab 12 Etika Keperawatan dan Nursing Advocacy ... 111

12.1 Konsep dan Prinsip Etika ... 112

12.2 Nursing Advocacy ... 116

Soal Latihan ... 117

Sumber Pustaka ... 117

Glosarium ... 119

Indeks ... ... 123

(8)
(9)

Bab 1

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM RESPIRASI

KOMPETENSI DASAR

1. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian sistem respirasi

2. Mahasiswa dapat memahami anatomi saluran napas bagian atas dan bawah sistem respirasi.

3. Mahasiswa dapat memahami fungsi setiap organ pada sistem respirasi.

4. Mahasiswa dapat memahami fisiologi sistem respirasi

5. Mahasiswa dapat menjelaskan proses kimia, fisika, dan biokimia sistem respirasi.

POKOK BAHASAN

Anatomi fisiologi sistem respirasi SUB POKOK BAHASAN

1. Pengertian sistem respirasi

2. anatomi saluran napas bagian atas dan bawah sistem respirasi

3. Fungsi dari sistem respirasi beserta fungsi setiap organ pada sistem respirasi.

4. fisiologi sistem respirasi.

5. proses kimia, fisika, dan biokimia sistem respirasi.

(10)

1.1 Pengertian Sistem Respirasi

Gambar 1.1 (Steve Parker, 2007)

Respirasi adalah proses pertukaran gas dalam paru. Oksigen berdifusi ke dalam darah dan pada saat yang sama karbon dioksida dikeluarkan dari darah. Udara dialirkan melalui unit pertukaran gas melalui jalan napas. Secara umum, proses respirasi

(11)

Bab 1: Anatomi Fisiologi Sistem Respirasi 3   memerlukan tiga subunit organ pernapasan, yaitu jalan napas atas, jalan napas bawah, dan unit pertukaran gas. Masing-masing subunit ini terdiri atas berbagai organ. Jalan napas atas terdiri dari hidung, sinus, faring, dan laring. Jalan napas bawah terdiri dari trakea dan bronkus serta percabangannya. Unit pertukaran gas terdiri dari bagian distal bronkus terminal (bronkiolus respiratorius), ductus alveolaris, sakus alveolaris, dan alveoli yang kesemuanya disebut dengan asinus. Organ paru ditutupi oleh rongga toraks yeng terbentuk dari iga, sternum, dan kolumna vertebra, dengan diafragma yang berbentuk kubah memisahkan toraks dari abdomen.

1.2 Anatomi Sistem Respirasi

A. Anatomi Saluran Pernapasan Bagian Atas

1) Hidung

POINT-POINT PERBAIKAN BUKU AJAR SYSTEM RESPIRASI Pendahuluan : kata moduldigantidenganbuku ajar

Hal 2 : - gbr 1 (steve parker, 2007) - gbr 2 (arifmuttaqin, 2012)

Hal 3 : - gbrdigantidengangambarberikut. (Tortora and Derrickson, 2009)

Hal 4 :gbr 1(steve parker, 2007)

Hal 5 :gbrdigantidengangambarberikut. (Tortora and Derrickson, 2009)

Gambar 1.3

(Tortora and Derrickson, 2009)

Pada orang normal, udara masuk kedalam paru melalui lubang hidung (nares anterior) dan kemudian masuk kedalam rongga hidung. Rongga hidung dibagi menjadi dua bagian oleh sekat (septum nasal) dan pada masing-masing sisi lateral rongga hidung terdapat tiga saluran yang dibentuk akibat penonjolan turbinasi (konka). Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang banyak mengandung vaskuler dan juga ditumbuhi oleh bulu.

Bulu hidung (vibrissae) efektif untuk menyaring debu atau partikel yang terkandung

(12)

dalam udara dengan ukuran hingga 10 mm. mukosa hidung setiap saat mengeluarkan mukus yang diproduksi oleh sel-sel goblet dan glandula serosa yang juga berfungsi untuk memerangkap kotoran udara. Adanya turbulasi udara yang masuk ke hidung akibat struktur konka, menyebabkan udara berputar dan terpapar secara maksimal dengan dinding mukosa. Akibatnya, kotoran yang mungkin terkandung dalam udara akan menempel pada dinding mukosa.

Udara yang masuk akan dilembabkan. Hampir seluruh proses pelembapan udara dilakukan di hidung dan untuk seluruh proses pelembapan udara ini, setiap hari tubuh kehilangan air sekitar 250 ml. umumnya pelembapan udara baru mencapai keadaan saturasi 100% ketika udara telah sampai pada alveoli. Proses penghangatan udara dilakukan agar suhu udara yang masuk kedalam tubuh sama dengan suhu tubuh. Proses penghangatan dimungkinkan karena di dinding hidung banyak terdapat vaskuler yang mampu menimbulkan efek radiasi untuk melembabkan udara yang dihirup.

2) Sinus paranasalis

Gambar 1.4 (Steve Parker, 2007)

Sinus paranasalis adalah rongga dalam tulang tengkorak yang terletak didekat hidung dan mata. Terdapat empat sinus, yaitu sinus frontalis, etmoidalis, sfeinodalis, dan maksilaris. Sinus dilapisi oleh mukosa hidung dan epitel kolumnar bertingkat semu yang bersilia. Fungsi sinus adalah memperingan tulang tengkorak, memproduksi mukosa serosa yang dialirkan ke hidung, dan menimbulkan resonansi suara sehingga memberi karakteristik suara yang berbeda pada tiap individu.

3) Faring

Faring atau tenggorok adalah rongga yang menghubungkan antara hidung dan

(13)

Bab 1: Anatomi Fisiologi Sistem Respirasi 5   atau disebut dengan nasofaring terletak di sisi posterior hidung, diatas palatum.

Pada nasofaring terdapat kelenjar adenoid dan muara tuba eustachii. Faring oral atau disebut orofaring berlokasi di mulut. Area orofaring dibatasi secara superior oleh palatum, inferior oleh pangkal lidah, dan lateral oleh lengkung palatum. Tonsil terdapa pada orofaring. Faring laryngeal atau disebut juga laringofaring atau hipofaring terletak bagian inferior, pada daerah ini terdapat epiglottis, kartilago aritenoid, sinus piriformis.

4) Laring

Laring merupakan unit organ terakhir pada jalan napas atas. Laring disebut juga sebagai kotak suara karena pita suara terdapat disini. Laring terletak disisi inferior faring dan menghubungkan faring dan trakea. Batas bawah dari larin sejajar dengan vertebra servikalis keenam. Bagian atas terdapat glotis yang dapat bergerak pintu laring oleh epiglottis saat terjadi proses menelan. Pada laring juga terdapat tiroid, tulang krikoid, dan kartilago arytenoid. Epiglottis merupakan daun katup kartilago yang menutup ostium selama menelan, glotis merupakan ostium antar pita suara dalam laring. Terdapat juga kartilago tiroid, yang merupakan kartilago terbesar pada faring dan sebagian membentuk jakun (Addam’s apple).

Kartilago krikoid merupakan satu-satunya cincin kartilago yang lengkap dalam laring. Kartilago aritenoid digunakan dalam gerakan pita suara, sedangkan pita suara itu sendiri merupakan ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara. Pita suara melekat pada lumen laring. Laring bertanggung jawab dalam mengatur dan memisahkan makanan yang ditelan dengan udara yang dihirup. Pengaturan ini dilakukan dengan menggunakan mekanisme penutupan jalan napas ole epiglottis ketika terjadi proses menelan, sehingga makanan dan minuman yang tertelan tidak dapat memasuki jalan napas dan diteruskan ke esofagus. Kegagalan epiglotis untuk menutup pintu jalan napas berakibat masuknya makanan atau minuman kedalam jalan napas (aspirasi).

Suara timbul akibat adanya gerakan kartilago arytenoid yang mendorong bersamaan dengan ekspirasi saat glottis tertutup dan karena fibrasi pita suara. Hal ini deisebut dengan fonasi. Suara yang timbul inilah yang kemudian digetarkan melaluli palatum, lidah, dan bibir sehingga membentuk berbagai bunyi (baik vocal maupun konsonan) serta membentuk kata kompleks. Hal ini disebut dengan artikulasi.

Mekanisme batuk dari jalan napas atas atas, diinisiasi oleh berbagai iritan, seperti debu, asap, tekanan, bahan kimia, udara dingin, dan kekeringan membrane mukosa. Batuk itu sendiri dapat menjadi inisiasi timbulnya batuk yang lain.

(14)

5) Trakea

POINT-POINT PERBAIKAN BUKU AJAR SYSTEM RESPIRASI Pendahuluan : kata moduldigantidenganbuku ajar

Hal 2 : - gbr 1 (steve parker, 2007) - gbr 2 (arifmuttaqin, 2012)

Hal 3 : - gbrdigantidengangambarberikut. (Tortora and Derrickson, 2009)

Hal 4 :gbr 1(steve parker, 2007)

Hal 5 :gbrdigantidengangambarberikut. (Tortora and Derrickson, 2009)

Gambar 1.5

(Tortora and Derrickson, 2009)

Trakea disebut juga pita udara, merupakan organ silindris sepanjang sekitar 10-12 cm (pada dewasa) dan berdiameter 1,5-2,5 cm. Terletak digaris tengah leher dan pada garis tengah sternum. Trakea memanjang dari kartilago krikoid pada laring hingga bronkus di toraks. Trakea terdiri atas oto polos dengan sekitar 20 cincin kartilago inkomplet dan ditutupi oleh membrane fibroelastik. Dinding posterior trakea tidak di sokong oleh kartilago dan hanya terdapat membrane fibroelastik yang menyekat trakea dan esophagus.

B. Anatomi saluran pernapasan bagian bawah

1) Percabagan bronkial

Percabangan bronkial atau disebut juga dengan pohon bronkial adalah jalan napas berikutnya yang menghubungkan jalan napas atas hingga unit asinus. Bronkus primer berasal dari percabangan trakea menjadi dua cabang utam setinggi karina. Karina terletak sekitar iga kedua atau pada vertebra torakal kelima. Terdapat banyak reseptor batuk pada karina. Bronkus utama kiri memiliki sudut lebih tajam dibandingkan bronkus kanan sehingga aspirasi cenderung terjadi masuk kedalam bronkus kanan. Bronkus kiri lebih sempit dan lebih panjang daripada bronkus kanan. Bronkus utama kiri kemudian bercabang menjadi dua cabang lobaris, satu cabang untuk menyuplai lobus paru kiri atas dan yang lain menyuplai lobus paru kiri bawah.

(15)

Bab 1: Anatomi Fisiologi Sistem Respirasi 7   Hal 6 :gbrdigantidengangambarberikut. (Donald C Rizzo, 2010)

Hal 8 : Gb 1 digantidengangambarberikut(Donald C Rizzo, 2010)

Hal 8: Gb 2 (steve parker, 2007) Hal 10: Gb (steve parker, 2007)

Gambar 1.6 (Donald C Rizzo, 2010)

Bronkus kanan dibagi dalam tiga cabang lobaris yang masing-masing menyuplai udara pada tiga lobus kiri paru yaitu lobus atas, lobus tengah, dan lobus bawah. Bronkus lobus paru kiri atas selanjutnya bercabang menjadi tiga segmen, yaitu anterior, apikal, dan posterior. Bronkus tengah paru kanan bercabang menjadi dua segmen yaitu lateral dan medial. Lobus bawah bercabang menjadi lima cabang, yaitu superior, anterio- basal, latero-basal, medio-basal, dan posterio-basal sehingga total terdapat 10 segmen pada paru kanan. Selanjutnya, bronkus akan bercabang dalam subdivisi hingga 20 atau lebih percabangan dalam bronkus subsegmental, bronkus terminal, bronkiolus, bronkiolus terminal, dan bronkiolus respiratorius. Bronkus respirarotorius selanjutnya bercabang menjadi bronkiolus respiratorius terminalis hingga akhirnya sampai pada ductus alveolaris, sakus alveolaris, dan alveoli.

Bronkus dibentuk oleh kartilago dan otot. Cincin kartilago inkomplet seperti pada trakea ditemukan juga pada bronkus utama dan bronkus lobus bawah. Sedikit cincin kartilago komplet terdapat pada bronkus lobaris dan bronkus segmental. Pada bronkus kecil dan bronkiolus, terdapat jaringan konektif elastis yang membantu kepatenan jalan napas. Pada bronkus kecil dan bronkiolus tidak ada lagi tulang kartilago, hanya terdapa otot yang memiliki kemampuan recoil elastic. Bronkus dilapisi oleh epitel pseudostratifikasi kollmnar berlapis (psudostartified ciliated columnar ephitelium). Sel goblet dalam epithelium menyekresi mukus. Silia dan mucus bersam-sama membantu melindungi paru dari debu, kuman, dan partikel lainnya.

(16)

Epitel pada bronkiole merupakan lapisan tunggal dan sel epitel semakin berbentuk kuboid dan kemudian menipis pada tingkat bronkiolus. Pada bronkiolus terminal sudah tidak terdapa lagi sel kelenjar dan silia. Dibawah epitel terdapat dua lapisan, yaitu membran basement dan lamina propria. Pembuluh darah, pembuluh limfe, dan serabut saraf terdapat pada lamina propria. Disekitar epithelium bronkial, dekat otot dan pembuluh darah, terdapat sel mast yang berperan dalam melepaskan histamine sebagai respon untuk reaksi antigen-antibodi (reaksi alergi).

2) Paru

Sistem respirasi terdiri dari sepasang paru didalam rongga toraks. Paru kanan dibagi oleh fisura transversa dan oblik menjadi tiga lobus: atas, tengah, dan bawah.

Paru kiri memiliki fisura oblik dan dua lobus. Pembuluh darah, saraf, dan sistem limfatik memasuki paru pada permukaan medialnya diakar paru atau hilus. Setiap paru dibagi dalam sejumlah segmen bronkopulmonal yang berbentuk baji dan bagian apeks pada hilus dan bagian dasarnya pada permukaan paru. Setiap segmen bronkoplmonal dibagi disuplai oleh bronco segmental, arteri, dan venanya sendiri serta dapat diangkat dengan pembedahan yng hanya menimbulkan sedikit perdarahan atau keluarnya udara dari paru yang masih ada. Setiap paru dilapisi oleh membrane tipis, yaitu pleura viseralis, yang bersambungan dengan pleura parietalis yang melapisi dinding dada, diafragma, pericardium, dan mediastinum. Ruang diantara lapisan parietal dan visceral sangat tipis pada keadaan sehat dan dilubrikasi oleh cairan pleura.

Hal 6 :gbrdigantidengangambarberikut. (Donald C Rizzo, 2010)

Hal 8 : Gb 1 digantidengangambarberikut(Donald C Rizzo, 2010)

Referensi

Dokumen terkait

infeksi saluran pernapasan bawah yang berhubungan dengan akumulasi sekret pada jalan napas yang sering disebabkan oleh kemampuan batuk yang menurun atau adanya

Asma merupakan suatu penyakit yang dikenal dengan penyakit sesak napas yang dikarenakan adanya penyempitan pada saluran pernapasan karena adanya aktivitas

Sputum yang mengandung darah biasanya berkaitan dengan TB Paru, merokok atau infeksi saluran napas atas, tetapi dapat juga dijumpai pada tumor atau penyakit yang lebih

1) Hipotalamus : Hipotalamus disebut sebagai Master gland karena fungsi penting menghubungkan sistem saraf dengan system endokrin dengan mengendalikan

Sistem pernapasan mencakup paru dan sistem saluran yang menghubungkan tempat berlangsungnya pertukaran gas dengan lingkungan luar dan terdapat suatu mekanisme ventilasi,

Tuba fallopi disebut juga dengan saluran telur. Saluran telur adalah sepasang saluran yang berada pada kanan dan kiri rahim sepanjang +10 cm. Saluran ini menghubungkan rahim

Menurut shabrina 2020, dilansir dari artikel memahami fungsi dan anatomi sistem pencernaan manusia, esofagus atau disebut juga kerongkongan merupakan saluran yang menguhubungkan

Efektifitas Terapi Uap Air Dan Minyak Kayu Putih Terhadap Bersihan Jalan Napas Pada Anak Usia Balita Pada Penderita Infeksi Saluran Pernapasan Atas Di Puskesmas Leyangan Doctoral