K A T A P E N G A N T A R BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, laporan akhir mengenai pelaksanaan kegiatan SLF Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin dapat diselesaikan. Kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya mengimplementasikan Peraturan yaitu Undang-undang No. 28 tahun 2005 tentang Bangunan Gedung, Pasal 26 ayat (1) menyatakan bahwa keandalan bangunan gedung adalah keadaan bangunan gedung yang memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan kebutuhan fungsi yang telah ditetapkan untuk terwujud Bangunan Gedung di wilayah Kabupaten Bogor yang andal bahkan juga telah mengamanatkan untuk segera diberlakukannya “Sertifikat Laik Fungsi (SLF)” Bangunan Gedung di Kabupaten Bogor. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukanlah pemeriksaan terhadap persyaratan administrasi maupun yang berkaitan dengan pedoman teknis bangunan gedung, untuk selanjutnya dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Bogor guna mendukung penerbitan dan pemberlakuan SLF bangunan gedung tahun 2023.
Secara sistematis, laporan kajian laik fungsi Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin terdiri dari: BAB 1 Pendahuluan. Bab ini menguraikan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, maksud dan tujuan, ruang lingkup, dan lokasi kegiatan; BAB 2 Metodologi dan Studi Literatur. Bab ini menguraikan tentang tata kerja, dasar hukum, pemahaman tentang bangunan gedung, pemahaman tentang Laik Fungsi Bangunan; BAB 3 Kajian Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin. Bab ini menguraikan tentang kajian SLF yang terkait dengan bangunan gedung, peraturan teknis yang terkait, penilaian keandalan bangunan gedung mencakup aspek keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan; BAB 4 Kesimpulan dan Rekomendasi. Bab ini berisikan kesimpulan dan saran atau rekomendasi dari hasil kegiatan Kajian laik fungsi Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin.
Demikian laporan kajian ini kami susun dengan harapan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Diharapkan dokumen ini dapat dijadikan sumber acuan dalam
menentukan nilai tingkat keandalan Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin, sekaligus juga dapat dijadikan acuan Dinas terkait sebagai pengambil kebijakan untuk menentukan dan menerbitkan Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin.
Akhir kata, Kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan berperan serta dalam setiap tahapan kegiatan SLF ini.
WA 'ALAIKUM SALAM WR. WB.
Jakarta, 13 Juli 2023 Konsultan SLF
Direktur
D A F T A R I S I
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...iii
DAFTAR GAMBAR...vi
DAFTAR TABEL...viii
BAB 1 PENDAHULUAN...1
1.1. Latar Belakang...1
1.2. Maksud dan Tujuan...2
1.3. Ruang Lingkup...2
1.4. Lokasi Kegiatan...2
BAB 2 METODOLOGI DAN STUDI LITERATUR...3
2.1. Tata Kerja...3
2.2. Dasar Hukum...4
2.2.1. Dasar Hukum Pemeriksaan Keandalan Bangunan:...4
2.2.2. Dasar Hukum terhadap Aksesibilitas Penyandang Cacat:...4
2.2.3. Dasar Hukum tentang Pengamanan Kebakaran:...4
2.2.4. Dasar Hukum tentang Persyaratan Ijin dan Sertifikasi...5
2.3. Bangunan Gedung...5
2.3.1. Pengertian...5
2.3.2. Fungsi Bangunan Gedung...6
2.3.3. Klasifikasi Bangunan Gedung...6
2.4. Laik Fungsi Bangunan...7
2.5.1. Persyaratan Keselamatan...8
2.5.2. Persyaratan Kesehatan...9
2.5.3. Persyaratan Kenyamanan...13
2.5.4. Persyaratan Kemudahan...13
BAB 3 KAJIAN BANGUNAN GEDUNG GUDANG D-12 ANDY ALIMIN...15
3.1. Pemeriksaan Persyaratan Tata Bangunan Gedung...15
3.1.1. Pemeriksaan Persyaratan Peruntukan Bangunan Gedung...15
3.1.2. Pemeriksaan Persyaratan Intensitas Bangunan Gedung...18
3.1.3. Pemeriksaan Penampilan Bangunan Gedung...22
3.1.4. Pemeriksaan Tata Ruang Dalam Bangunan Gedung...25
3.1.5. Pemeriksaan Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan dengan Lingkungan. .25 3.2. Pemeriksaan Persyaratan Keselamatan...26
3.2.1. Pemeriksaan Struktur Bangunan Gedung...26
3.2.1.1. Pendahuluan...26
3.2.2. Pemeriksaan Sistem Proteksi Bahaya Kebakaran...64
3.2.3. Pemeriksaan Sistem Penangkal Petir...70
3.2.4 Pemeriksaan Sistem Instalasi Listrik...76
3.3. Pemeriksaan Persyaratan Kesehatan...80
3.3.1. Pemeriksaan Sistem Penghawaan...80
3.3.2. Pemeriksaan Sistem Pencahayaan...82
3.3.3. Pemeriksaan Sistem Penyediaan Air Bersih/ Minum...86
3.3.4. Pemeriksaan Sistem Pengelolaan Air Kotor dan/atau Air Limbah (Black Water) 87 3.3.5. Pemeriksaan Sistem Pengelolaan Kotoran dan Sampah...88
3.3.6. Pemeriksaan Sistem Pengelolaan Air Hujan (Grey Water)...89
3.4. Pemeriksaan Persyaratan Kenyamanan...90
3.4.1. Pemeriksaan Ruang Gerak dalam Bangunan Gedung...90
3.4.2. Pemeriksaan Kondisi Udara dalam Ruang...90
3.4.3. Pemeriksaan Pandangan Dari dan Ke Dalam Bangunan Gedung...92
3.4.4. Pemeriksaan Kondisi Getaran dan Kebisingan Dalam Bangunan Gedung...93
3.5. Pemeriksaan Persyaratan Kemudahan...98
3.5.1. Pemeriksaan Sarana Hubungan Horizontal antar Ruang/ antar Bangunan...98
3.5.2. Pemeriksaan Kelengkapan Prasarana dan Sarana Bangunan Gedung...99
3.5.3. Sistem Komunikasi dan Sistem Informasi...100
3.5.4. Sistem Kamera Pengawas...100
Bab 4 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI...102
4.1. Persyaratan Tata Bangunan...102
4.2. Persyaratan Keandalan Bangunan Keselamatan...102
4.3. Persyaratan Keandalan Bangunan Kesehatan...104
4.4. Persyaratan Keandalan Bangunan Kenyamanan...104
4.5. Persyaratan Keandalan Bangunan Kemudahan...104
D A F T A R G A M B
Gambar 2. 1 Tahapan Pelaksanaan Kajian Kelaikan Fungsi Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin...3
Y Gambar 3. 1 Siteplan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin...16
Gambar 3. 2 Sisi Utara Bangunan...17
Gambar 3. 3 Sisi Barat bangunan...17
Gambar 3. 4 Sisi Selatan Bangunan...17
Gambar 3. 5 Sisi Timur Bangunan...17
Gambar 3. 6 Entrance masuk...18
Gambar 3. 7 GSJ Pada Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin...19
Gambar 3. 8 Area Penghijauan (KDH) terhitung pada siteplan...21
Gambar 3. 9 Jarak Bangunan terhadap batas persil...22
Gambar 3. 10 Perspektif Gedung Gudang D-12 Andy Alimin...23
Gambar 3. 11 Batas Pagar...24
Gambar 3. 12 Penutup Lantai berjenis Dak Beton...25
Gambar 3. 13 Atap Gudang...25
Gambar 3. 14 Kondisi Sekitar Bangunan...26
Gambar 3. 15 Alat Hardness Brinnel...30
Gambar 3. 16 Hubungan Kekerasan Antara Besi Tuang, Baja, dan Kuningan...31
Gambar 3. 17 Corresponding Specification...31
Gambar 3. 18 Nilai Karakteristik Mekanik Material Baja Struktural (ASTM)...32
Gambar 3. 19 Hasil Uji Hardness Brinnel...33
Gambar 3. 20 Gaya Dalam Bangunan...38
Gambar 3. 21 Gaya Geser 2-2...39
Gambar 3. 22 Gaya Geser 3-3...39
Gambar 3. 23 Momen 2-2...39
Gambar 3. 24 Momen 3-3...40
Gambar 3. 25 Stress Ratio Kolom dan Balok Baja...40
Gambar 3. 26 Metode Elemen Hingga Stress Ratio Kolom...41
Gambar 3. 27 Metode Elemen Hingga Stress Ratio Balok...41
Gambar 3. 28 Stress Ratio Gording...42
Gambar 3. 29 Metode Elemen Hingga Stress Ratio Gording...42
Gambar 3. 30 Dokumentasi Lapangan 1...63
Gambar 3. 31 Dokumentasi Lapangan 2...63
Gambar 3. 32 Dokumentasi Lapangan 3...63
Gambar 3. 33 Dokumentasi Lapangan 4...63
Gambar 3. 34 Diagram skematis sederhana SPP untuk suatu bangunan...71
Gambar 3. 35 Visualisasi Letak Terminal Udara...72
Gambar 3. 36Penangkal Petir Konvensional...73
Gambar 3. 37 Sistem Hantaran Penangkal Petir...73
Gambar 3. 38 Visualisasi sistem pembumian...75
Gambar 3. 39Bak Kontrol Pembumian...76
Gambar 3. 40 KWH Meter dan Panel MCB...77
Gambar 3. 41 Instalasi Listrik Gudang...78
Gambar 3. 42 Bukaan pada Gedung Gudang D-12 Andy Alimin...81
Gambar 3. 43 Pengukuran Untuk Pencahayaan Alami...85
Gambar 3. 44 Inlet Air Kotor...87
Gambar 3. 45 Instalasi Plumbing Gedung...88
Gambar 3. 46 Tempat Sampah...89
Gambar 3. 47 Pipa dan Talang Air...90
Gambar 3. 48 Hasil Ukur Kelembaban Ruangan Gudang D-12 Andy Alimin...91
Gambar 3. 49 Hasil Pengukuran Suhu Ruangan...92
Gambar 3. 50 Pandangan sekeliling bangunan...93
Gambar 3. 51 Pandangan dari dalam bangunan...93
Gambar 3. 52 Pengukuran Kebisingan Pada Bangunan...97
Gambar 3. 53 Jalur Sirkulasi Manusia pada Area Gudang...98
Gambar 3. 54 Area parkir Mobil...100
D A F T A R T A B E L
Tabel 3. 2 Data luasan Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin...18
Tabel 3. 3 Data Proyek KDB, RTH, KDH, KLB, GSB, dan GSS...20
Tabel 3. 4 Batas Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin...21
Tabel 3. 5 Penyediaan Sistem Deteksi dan Alarm Menurut Fungsi, Jumlah dan Luas Lantai Bangunan gedung66 Tabel 3. 6 Tabel Pencahayaan Berdasarkan SNI 03-6575-2001...84
Tabel 3. 7 Pemakaian Air Bersih...86
Tabel 3. 8 Kondisi Suara Dan Batas Tingkat Kebisingannya...95
Tabel 3. 9 Tingkat Kebisingan Pada Bangunan...96
Tabel 3. 10 Perhitungan Standar Parkir...99
B A B 1 P E N D A H U L U A N 1.1. Latar Belakang
Berdasarkan UU No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung kemudian dipertegas lagi dengan PP No. 16 tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung menyatakan bahwa keandalan bangunan gedung adalah keadaan bangunan gedung yang memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan kebutuhan fungsi yang telah ditetapkan, maka Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin selayaknya memiliki serta memenuhi standar keandalan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.
Berkaitan dengan keandalan suatu bangunan kemudian diatur dalam Permen No.
25/PRT/M/2007 tentang Pedoman Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung yang kemudian digantikan dengan Permen No. 27/PRT/M/2018 tentang Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung yang bertujuan untuk mewujudkan bangunan gedung yang fungsional, andal, yang menjamin keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan pengguna serta serasi dan selaras dengan lingkungannya, dimana setiap pemilik bangunan gedung atau pengguna bangunan gedung memiliki hak jaminan kelaikan fungsi bangunan gedung yang telah selesai dibangun sesuai dengan persyaratan administratif dan teknis.
Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin yang berlokasi Jl. Bougenvile 8 Blok O.13 RT.002 RW.001 Desa Pabuaran, Kec. Gn. Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin mempunyai fungsi sebagai suatu fasilitas umum (public facility) yang berfungsi sebagai Gudang.
Berdasarkan kepada peraturan yang telah ditetapkan, maka pengelola Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin bermaksud mengajukan laik fungsi bangunan berdasarkan pada keandalan bangunan gedung, guna mendapatkan sertifikat laik fungsi bangunan, sebagai syarat dan ketentuan yang harus dimiliki sebuah bangunan gedung untuk layak beroperasi dalam melayani penggunanya.
1.2. Maksud dan Tujuan
Maksud kegiatan pemeriksaan keandalan bangunan gedung adalah untuk melakukan pemeriksaan awal terhadap persyaratan administrasi maupun yang berkaitan dengan pedoman teknis bangunan gedung, untuk selanjutnya dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Bogor guna mendukung penerbitan dan pemberlakuan SLF bangunan gedung Gudang D-12 Andy Alimin.
Tujuan kegiatan pemeriksaan keandalan bangunan gedung Gudang D-12 Andy Alimin adalah:
1) Terlaksananya pemeriksaan keandalan bangunan gedung dengan cara pengamatan visual, ditinjau dari persyaratan administrasi dan teknis.
2) Terlaksananya pemeriksaan keandalan bangunan gedung dengan cara pengamatan visual, ditinjau dari persyaratan administrasi dan teknis.
3) Terindikasinya tingkat keandalan dan rekomendasi upaya dalam rangka penerbit SLF bangunan gedung.
4) Terciptanya bangunan gedung yang andal sesuai yang di amanatkan dalam UU No.28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan sesuai dengan peraturan pelaksanaannya PP No. 36 tahun 2005 tentang Bangunan Gedung.
1.3. Ruang Lingkup
Laporan kajian teknis pemeriksaan kelaikan bangunan gedung Gudang D-12 Andy Alimin meliputi:
Pelaksanaan pemeriksaan dan pengumpulan data dilapangan;
Hasil analisis terhadap proses pemeriksaan yang telah dilakukan berdasarkan daftar SIMAK;
Kesimpulan dan Rekomendasi terhadap bangunan objek pemeriksaan.
1.4. Lokasi Kegiatan
Lokasi kegiatan untuk pekerjaan pemeriksaan laik fungsi bangunan gedung Gudang D-12 Andy Alimin ini dilaksanakan di Jl. Bougenvile 8 Blok O.13 RT.002 RW.001 Desa Pabuaran, Kec. Gn. Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
B A B 2 M E T O D O L O G I D A N S T U D I L I T E R A T U R 2.1. Tata Kerja
Kajian yang dilakukan merupakan penelitian dengan metode analisis diskriptif kuantitatif dengan mengolah data deskriptif dan data kuantitatif. Data deskriptif berupa;
dokumen pendukung, catatan lapangan, foto serta wawancara. Data kuantitatif berupa;
hitungan, angka ukuran, pencatatan yg dikuantifikasikan. Secara garis besar langkah- langkah yang ditempuh dalam melakukan penelitian adalah sebagai berikut:
Gambar 2. 1 Tahapan Pelaksanaan Kajian Kelaikan Fungsi Bangunan Gedung Gudang D- 12 Andy Alimin
2.2. Dasar Hukum
Dalam pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Kelaikan Fungsi Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin, tentunya memiliki pedoman-pedoman dan acuan yang dijadikan sebagai dasar dari seluruh konsep dan metode pelaksanaan. Dasar hukum tersebut adalah sebagai berikut:
2.2.1. Dasar Hukum Pemeriksaan Keandalan Bangunan:
UU RI No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
PP No. 16 tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung
PERMEN PU No. 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 11/PRT/M/2018 Tentang Tim Ahli Bangunan Gedung, Pengkaji Teknis, Dan Penilik Bangunan.
PP No. 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.
Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor Tahun 2016-2036.
2.2.2. Dasar Hukum terhadap Aksesibilitas Penyandang Cacat:
PP No. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 14/PRT/M/2017 tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung.
2.2.3. Dasar Hukum tentang Pengamanan Kebakaran:
KEPMENEG PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan
SK MEN PU No. 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penaggulangan Kebakaran di PerKabupatenan
SK Dirjen Perumahan dan Permukiman tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung
Keputusan Direktur Jenderal Perumahan dan Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung
PERMEN PU No. 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan
2.2.4. Dasar Hukum tentang Persyaratan Ijin dan Sertifikasi
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 11/PRT/M/2018 Tentang Tim Ahli Bangunan Gedung, Pengkaji Teknis, Dan Penilik Bangunan.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 27/PRT/M/2018 Tentang Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung.
PERMEN PU No. 24/ PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Gedung
PERMEN PU No. 24/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Ijin Mendirikan Bangunan
PERMEN PU No. 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung
2.3. Bangunan Gedung 2.3.1. Pengertian
Berdasarkan Permen PU No. 25/PRT/M/2007, Bangunan Gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus.
Bangunan gedung umum adalah bangunan gedung yang fungsinya untuk kepentingan publik, baik berupa fungsi keagamaan, fungsi usaha, maupun sosial dan budaya.
Bangunan gedung tertentu adalah bangunan gedung yang digunakan untuk kepentingan umum dan bangunan gedung fungsi khusus, yang dalam pembangunan dan/atau pemanfaatannya membutuhkan pengelolaan khusus dan/atau memiliki kompleksitas tertentu yang dapat menimbulkan dampak penting terhadap masyarakat dan lingkungannya.
2.3.2. Fungsi Bangunan Gedung
Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 441/KPTS/1998 tentang persyaratan teknis bangunan gedung, fungsi bangunan gedung merupakan ketetapan pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung, baik ditinjau dari segi tata bangunan dan lingkungannya, maupun keandalan bangunan gedungnya. Fungsi bangunan gedung meliputi fungsi hunian, fungsi keagamaan, fungsi usaha, fungsi sosial dan budaya, serta fungsi khusus. Dalam satu bangunan gedung dapat memiliki lebih dari satu fungsi sebagaimana dimaksud pada fungsi fungsi tersebut diatas.
2.3.3. Klasifikasi Bangunan Gedung
Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 441/KPTS/1998, klasifikasi bangunan gedung adalah klasifikasi dari fungsi bangunan gedung berdasarkan pemenuhan tingkat persyaratan administratif dan persyaratan teknisnya. Namun berdasarkan fungsi persyaratan teknis diklasifikasikan berdasarkan tingkat kompleksitas, tingkat permanensi, tingkat risiko kebakaran, zonasi gempa, lokasi, ketinggian, dan/atau kepemilikan.
Klasifikasi berdasarkan tingkat kompleksitas meliputi bangunan gedung sederhana, bangunan gedung tidak sederhana, dan bangunan gedung khusus.
Klasifikasi berdasarkan tingkat permanensi meliputi bangunan gedung permanen, bangunan gedung semi permanen, dan bangunan gedung darurat atau sementara.
Klasifikasi berdasarkan tingkat risiko kebakaran meliputi bangunan gedung tingkat risiko kebakaran tinggi, tingkat risiko kebakaran sedang, dan tingkat risiko kebakaran rendah.
Klasifikasi berdasarkan zonasi gempa meliputi tingkat zonasi gempa yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang.
Klasifikasi berdasarkan lokasi meliputi bangunan gedung di lokasi padat, bangunan gedung di lokasi sedang, dan bangunan gedung di lokasi renggang.
Klasifikasi berdasarkan ketinggian meliputi bangunan gedung bertingkat tinggi, bangunan gedung bertingkat sedang, dan bangunan gedung bertingkat rendah.
Klasifikasi berdasarkan kepemilikan meliputi bangunan gedung milik negara, bangunan gedung milik badan usaha, dan bangunan gedung milik perorangan.
2.4. Laik Fungsi Bangunan
Kajian kelaikan fungsi bangunan gedung Gudang D-12 Andy Alimin berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 27/PRT/M/2018 tentang pedoman Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung. Pengertian laik fungsi suatu bangunan adalah berfungsinya seluruh atau sebagian dari bangunan gedung yang dapat menjamin dipenuhinya persyaratan teknis dan administratif gedung. Persyaratan laik fungsi meliputi persyaratan tata bangunan, persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan keandalan dan fungsi yang ditetapkan. Suatu bangunan gedung dinyatakan laik fungsi apabila telah dilakukan pengkajian teknis terhadap pemenuhan seluruh persyaratan teknis bangunan gedung, Pemerintah Daerah mengesahkannya dalam bentuk Sertifikat Laik Fungsi bangunan gedung.
Bangunan gedung yang dinyatakan tidak laik fungsi tetapi masih dapat diperbaiki maka pemilik dan/atau pengguna diberikan kesempatan untuk memperbaikinya sampai dengan dinyatakan laik fungsi. Jika pemilik tidak mampu memperbaiki maka dilakukan tindakan penanggulangan. Untuk bangunan gedung maupun rumah tinggal apabila tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki serta membahayakan keselamatan penghuni atau lingkungan maka bangunan tersebut harus dikosongkan. Apabila bangunan tersebut membahayakan kepentingan umum, pelaksanaan pembongkarannya dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah.
Menurut Permen PU No. 29/PRT/M/2006 Tentang Persyaratan Teknis Bangunan Gedung, kriteria keandalan bangunan gedung adalah sebagai berikut:
2.5.1. Persyaratan Keselamatan
Persyaratan Struktur Bangunan Gedung
Secara umum adalah mampu menahan beban sesuai dengan fungsinya dalam kurun waktu umur teknis yang ditentukan. Secara detail, stabil dan kukuh sehingga pada kondisi pembebanan diatas beban maksimum, apabila terjadi keruntuhan masih dapat memberi kemudahan evakuasi pengguna. Disamping itu juga mampu memikul semua beban dan atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur yang direncanakan. Setiap bangunan pada zona gempa atau zona angin harus direncanakan sebagai bangunan tahan gempa atau angin. Elemen struktur bangunan harus dirancang sedemikian rupa sehingga kejadian kebakaran dalam bangunan tidak terjadi. Aspek- aspeknya meliputi:
- Struktur bangunan gedung
- Pembebanan pada bangunan gedung - Struktur atas bangunan gedung - Struktur bawah bangunan gedung - Keandalan bangunan gedung.
Persyaratan Kemampuan Bangunan Gedung terhadap Bahaya Kebakaran
Secara umum setiap bangunan kecuali rumah tinggal tunggal harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran dengan sistem proteksi pasif dan aktif terhadap bahaya kebakaran. Penerapan sistem proteksi pasif atau aktif didasarkan pada fungsi/klasifikasi, luas, ketinggian, volume, bahan bangunan terpasang, dan atau jumlah penghuni bangunan.
Setiap bangunan dengan fungsi/klasifikasi, luas, ketinggian, volume bangunan, dan atau jumlah penghuni tertentu harus memiliki unit manajemen pengamanan kebakaran.
Aspek-aspeknya meliputi:
- Sistem proteksi pasif - Sistem proteksi aktif
- Persyaratan jalan keluar dan aksesibilitas untuk pemadam kebakaran
- Persyaratan pencahayaan darurat, tanda arah keluar/exit, dan sistem peringatan bahaya
- Persyaratan komunikasi dalam bangunan gedung - Persyaratan instalasi bahan bakar gas
Manajemen penanggulangan kebakaran
Persyaratan kemampuan bangunan gedung terhadap bahaya petir dan bahaya kelistrikan meliputi:
- Persyaratan instalasi proteksi petir - Persyaratan sistem kelistrikan 2.5.2. Persyaratan Kesehatan
1. Persyaratan sistem penghawaan
Persyaratan ini merupakan kebutuhan sirkulasi dan pertukaran udara yang harus disediakan pada bangunan gedung melalui bukaan dan atau ventilasi alami dan atau ventilasi buatan. Bangunan gedung tempat tinggal, pelayanan kesehatan, pendidikan dan bangunan pelayanan umum lainnya harus mempunyai bukaan untuk ventilasi alami.
Setiap bangunan gedung harus mempunyai ventilasi alami dan atau ventilasi mekanik/ buatan sesuai dengan fungsinya. Bangunan gedung tempat tinggal harus mempunyai bukaan permanen, kisi-kisi pada pintu dan jendela dan atau bukaan permanen yang dapat dibuka untuk kepentingan ventilasi alami.
Bangunan gedung pelayanan kesehatan khususnya ruang perawatan harus mempunyai bukaan permanen, kisi-kisi pada pintu dan jendela dan atau bukaan permanen yang dapat dibuka untuk kepentingan ventilasi alami.
Bangunan pendidikan khususnya ruang kelas harus mempunyai bukaan permanen, kisi-kisi pada pintu dan jendela dan atau bukaan permanen yang dapat dibuka untuk kepentingan ventilasi alami.
Ventilasi alami harus memenuhi ketentuan:
- Terdiri dari bukaan permanen.
- Setiap lantai gedung parkir kecuali pelataran parker terbuka harus mempunyai sistem ventilasi alami permanen yang memadai.
- Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari kisi – kisi pada pintu dan jendela, bukaan permanen, pintu ventilasi atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan.
Ventilasi mekanik atau buatan harus memenuhi ketentuan:
- Harus diberikan jika ventilasi alami tidak dapat memenuhi syarat
- Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara keluar dan masuknya udara segar, atau sebaliknya
- Harus bekerja terus – menerus selama ruang tersebut dihuni
- Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi mekanik atau buatan untuk pertukaran udara
- Gas buang mobil pada setiap lantai ruang parkir bawah tanah tidak boleh mencemari udara bersih pada lantai lainnya
- Harus memperhitungkan besarnya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan gedung
- Mempertimbangkan prinsip – prinsip penghematan energi - Mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.
Aspek-aspeknya meliputi:
- Persyaratan ventilasi
2. Persyaratan sistem pencahayaan
Kebutuhan pencahayaan disediakan melalui pencahayaan alami dan atau pencahayaan buatan. Bangunan gedung tempat tinggal, pelayanan kesehatan, pendidikan dan bangunan pelayanan umum lainnya harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan alami.
Setiap bangunan gedung harus mempunyai pencahayaan yang cukup sesuai dengan fungsinya, yang dapat dipenuhi melalui pencahayaan alami dan atau pencahayaan buatan.
Pencahayaan alami harus memenuhi ketentuan:
- Pemanfaatan pencahayaan alami harus diupayakan optimal.
- Kebutuhan pencahayaan alami disesuaikan dengan fungsi bangunan gedung dan fungsi masing-masing ruang didalam bangunan gedung.
Bangunan gedung tempat tinggal, pelayanan kesehatan, dan pendidikan harus mempunyai dinding dan atau atap tembus cahaya untuk kepentingan pencahayaan alami.
Bukaan tersebut dapat ditutup dengan bahan yang tembus cahaya.
Silau sebagai akibat pencahayaan alami perlu dikendalikan agar tidak mengganggu tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam bangunan gedung.
Pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel, efektif, dan sesuai dengan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai dengan fungsi ruang dalam bangunan gedung, dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energy yang digunakan, dan tidak menghasilkan ketidaknyamanan karena silau atau pantulan.
Semua sistem pencahayaan kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat harus dilengkapi dengan pengendali manual, dan atau otomatis serta ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca oleh pengguna ruang. Mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.
3. Persyaratan sanitasi
Sistem sanitasi harus disediakan di dalam dan di luar bangunan gedung untuk memenuhi kebutuhan air bersih, pembuangan air kotor, dan atau air limbah, kotoran, dan sampah, serta penyaluran air hujan.
Sistem sanitasi pada bangunan gedung dan lingkungannya harus dipasang sehingga mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaannya, tidak membahayakan serta tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Setiap bangunan gedung harus dilengkapi dengan sistem plambing, yang meliputi sistem air bersih, sistem air kotor, air kotoran dan atau air limbah, alat plambing yang memadai serta sistem pengolahan air limbah.
Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya, tidak mencemari lingkungan, serta diperhitungkan sesuai fungsi bangunan gedung.
Ketentuan tata cara perencanaan dan pemasangan sistem plambing pada bangunan gedung mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.
- Setiap bangunan gedung dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem air hujan.
- Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan dialirkan ke jaringan drainase Kabupaten sesuai dengan ketentuan tertentu kecuali untuk daerah tertentu.
- Bila belum tersedia jaringan drainase Kabupaten ataupun sebab – sebab lain yang dapat diterima, maka harus dilakukan cara – cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang.
- Sistem saluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran.
- Ketentuan tata cara perencanaan, pemasangan dan pemeliharaan sistem saluran air hujan pada bangunan gedung mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.
- Ketentuan tata cara perencanaan, pemasangan dan pengelolaan fasilitas persampahan pada bangunan gedung mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.
Aspek-aspeknya meliputi:
- Persyaratan plambing pada bangunan gedung.
- Persyaratan instalasi gas medik.
- Persyaratan penyaluran air hujan.
- Persyaratan fasilitas sanitasi dalam bangunan gedung (saluran pembuangan air kotor, tempat sampah, penampungan sampah, dan /atau pengolahan sampah).
4. Persyaratan penggunaan bahan bangunan gedung
Penggunaan bahan bangunan gedung harus aman bagi kesehatan pengguna bangunan gedung dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Penggunaan bahan bangunan dalam pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung harus:
- Menjamin kesehatan, keselamatan pengguna gedung dan tidak menimbulkan dampak negative terhadap lingkungan.
- Menjamin keandalan bangunan gedung sesuai umur layanan teknis yang direncanakan.
- Menjamin ketahanan bahan bangunan terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh cuaca, Bogorga perusak, dan atau jamur.
- Mewujudkan bangunan gedung yang serasi dan selaras dengan lingkungannya.
- Pemanfaatan dan penggunaan bahan bangunan lokal dianjurkan sesuai dengan kebutuhan dan memperhatikan kelestarian lingkungan.
- Penggunaan bahan bangunan untuk fungsi dan klasifikasi bangunan gedung tertentu termasuk bahan bangunan tahan api harus melalui ujian.
- Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem sambungan yang baik dan andal serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan.
- Ketentuan mengenai bahan bangunan mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.
2.5.3. Persyaratan Kenyamanan
Persyaratan kenyamanan ruang gerak dalam bangunan gedung meliputi Persyaratan kenyamanan ruang gerak dan hubungan antar ruang.
Persyaratan kenyamanan kondisi udara dalam ruang meliputi Persyaratan kenyamanan termal dalam ruang.
Persyaratan kenyamanan pandangan meliputi Persyaratan kenyaman pandangan.
Persyaratan kenyamanan terhadap tingkat getaran dan kebisingan meliputi Persyaratan getaran, Persyaratan kebisingan.
2.5.4. Persyaratan Kemudahan
Persyaratan hubungan ke, dari dan di dalam bangunan gedung.
a. Persyaratan kemudahan hubungan horizontal dalam bangunan gedung.
b. Persyaratan kemudahan hubungan vertikal dalam bangunan gedung.
c. Persyaratan sarana evakuasi.
Persyaratan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung.
B A B 3 K A J I A N B A N G U N A N G E D U N G G U D A N G D - 1 2 A N D Y A L I M I N
3.1. Pemeriksaan Persyaratan Tata Bangunan Gedung
3.1.1. Pemeriksaan Persyaratan Peruntukan Bangunan Gedung
Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin dibangun dengan fungsi Gudang, memiliki luas lahan 600 m2 dan luas total bangunan 216 m2. Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin memiliki beberapa ruangan seperti Gudang dan toilet. Pada bagian luar gedung dimanfaatkan sebagai Sirkulasi manusia dan kendaraan, area hijau, area parkir, Ruang Utilitas, dan Tempat Pembuangan Sampah Sementara.
Pemanfaatan ruang dalam berupa:
a. Lantai 1 (satu) difungsikan dengan didominasi ruang gudang.
Pada area luar bangunan gedung dimanfaatkan sebagai:
a. Sisi Utara sebagai Pagar.
b. Sisi Timur sebagai Area Penghijauan.
c. Sisi Selatan sebagai Jl. Anyelir raya d. Sisi Barat sebagai Pagar.
Gambar 3. 1 Siteplan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin
Gambar 3. 2 Sisi Utara Bangunan Gambar 3. 3 Sisi Barat bangunan
Gambar 3. 4 Sisi Selatan Bangunan Gambar 3. 5 Sisi Timur Bangunan
Gambar 3. 6 Entrance masuk 3.1.2. Pemeriksaan Persyaratan Intensitas Bangunan Gedung
Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin memiliki luas lantai dasar 216 m², dengan jumlah lantai 1 lapis lantai. Dengan ketinggian bangunan 7,8 meter terhitung dari lantai dasar. Berikut data proyek pada Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin :
Tabel 3. 1 Data luasan Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin
Garis Sempadan Bangunan (GSB) adalah batas yang mana bangunan bisa dibangun secara masif. Garis Sempadan Bangunan (GSB) ditentukan oleh Pemerintah setempat berdasarkan RTRW yang bersumber pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten.
Garis Sempadan Sungai (GSS) adalah batas yang mana bangunan bisa dibangun secara massif dengan batas sungai. Garis Sempadan Sungai (GSS) ditentukan oleh Pemerintah setempat berdasarkan RDRTK yang bersumber pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten.
Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin memiliki Garis Sempadan Jalan (GSJ) 10 meter dari as jalan sesuai dengan yang tercantum dalam Surat Keputusan Kepala DPMPTSP NO.591.2/284/00721/DPMPTSP/2022.
N
o Item Luas Satua
n
1 Lantai 1 216 m2
Gambar 3. 7 GSJ Pada Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin
KDB atau Koefisien Dasar Bangunan adalah nilai perbandingan antara luas lantai dasar dengan luas lahan, yang dinyatakan dalam presentase. Besar KDB ditentukan oleh pemerintah setempat, biasanya tercantum pada Rencana Tata Ruang dan Wilayah.
KLB atau Koefisien Lantai Bangunan adalah nilai perbandingan antara luas lantai dari lantai dasar sampai dengan lantai teratas dengan luas lahan, yang dinyatakan dalam satuan angka. Besar KLB ditentukan oleh pemerintah setempat, biasanya tercantum pada Rencana Tata Ruang dan Wilayah.
KDH atau Koefisien Dasar Hijau adalah nilai perbandingan antara daerah resapan/penghijauan pada lingkungan gedung dengan luas lahan, yang dinyatakan dalam presentase. Besar KDH ditentukan oleh pemerintah setempat, biasanya tercantum pada Rencana Tata Ruang dan Wilayah.
Berdasarkan Perda Kabupaten Bogor No 09 Tahun 2020 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor Tahun 2016-2036, ketentuan untuk bangunan pada kawasan kepadatan tinggi untuk KDB maksimal 60%, KLB 2,4, dan KDH 20%, GSJ 10m.
Tabel 3. 2 Data Proyek KDB, RTH, KDH, KLB, GSB, dan GSS
Keteranga
n Existing
Surat Keputusaan DPMPTSP
Keterangan
KDB 216 m2 360 m2 Terpenuhi
KLB 0,36 2,4 Terpenuhi
KDH 264 m2 120 m2 Terpenuhi
GSJ 14 m 10 m Terpenuhi
Gambar 3. 8 Area Penghijauan (KDH) terhitung pada siteplan Tabel 3. 3 Batas Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin
Orientas
i Batas dalam
lahan Batas luar lahan
Jarak Bangunan terhadap persil
Utara Pagar Tanah Kosong
1,5 m
Timur Penghijauan Pergudangan 8 m
Selatan
Parkir dan Sirkulasi Kendaan-Manusia Penghijauan
Jl Anyelir Raya 14 m
Barat Pagar Pergudangan 1 m
Gambar 3. 9 Jarak Bangunan terhadap batas persil 3.1.3. Pemeriksaan Penampilan Bangunan Gedung
Gedung Gudang D-12 Andy Alimin memiliki konfigurasi bentuk persegi panjang dengan penyesuaian pada bentuk tapak. Sedangkan untuk tampaknya, Gedung Gudang D- 12 Andy Alimin mengolah konfigurasi bentuk simetris yang beraturan, dengan didominasi material finishing cat, dinding bata ringan.
Gambar 3. 10 Perspektif Gedung Gudang D-12 Andy Alimin 1,5 m
14 m 1 m
8 m
Pada bagian atap Gedung Gudang D-12 Andy Alimin menggunakan atap baja sebagai penutup atapnya.
Untuk bagian pagar, Gedung Gudang D-12 Andy Alimin menggunakan material panel beton berwarna natural , dengan tinggi ± 3 meter.
Gambar 3. 11 Batas Pagar
Dalam pengamatan langsung terhadap bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin, tidak terlihat adanya kerusakan berat (kondisi baik) yang terdapat pada dinding fasade bangunan gedung terbut. Sedangkan untuk dinding bagian dalam tidak terdapat kerusakan (kondisi baik). Pintu utama Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin berupa Pintu Besi.
Bangunan Gedung Gedung Gudang D-12 Andy Alimin memiliki ketinggian ruang yang berbeda-beda, diukur dari lantai ke plafond. Untuk ketinggian plafond pada area lantai 1 adalah 7,8 meter.
Material penutup lantai pada Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin secara visual tidak terdapat adanya kerusakan (kondisi baik). Penutup lantai yang digunakan di bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin menggunakan dak beton.
Gambar 3. 12 Penutup Lantai berjenis Dak Beton
3.1.4. Pemeriksaan Tata Ruang Dalam Bangunan Gedung
Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin memiliki Area Gudang. Pada bagian penutup lantainya menggunakan beton perkerasan. Pada bagian langit-langit ekspos.
Gambar 3. 13 Atap Gudang
3.1.5. Pemeriksaan Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan dengan Lingkungan Lingkungan sekitar bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin dibagian utara, Timur, Barat dan Selatan didominasi dengan perkerasan jalan berjenis dak beton untuk sirkulasi kendaraan dan berjenis dak beton untuk area parkir yang kondisi secara visualnya dengan kondisi baik, dan taman landscape di sekitar pagar pembatas dan bangunan.
Gambar 3. 14 Kondisi Sekitar Bangunan
Bangunan Gedung Gudang D-12 Andy Alimin belum dilengkapi dengan pertandaan (signage) pada halaman seperti signage in-out pada gate masuk dan keluar, signage arah sirkulasi, signage jalur evakuasi yang mengarahkan ke area evakuasi/titik kumpul, signage peta evakuasi di setiap lantai bangunan dan signage titik kumpul yang berada di sekeliling bangunan.
3.2. Pemeriksaan Persyaratan Keselamatan
3.2.1. Pemeriksaan Struktur Bangunan Gedung 3.2.1.1. Pendahuluan
3.2.1.1.1. Metode Perhitungan
Dalam metode perhitungan struktur bangunan. struktur dimodelkan sesuai dengan gambar dan spesifikasi struktur yang terdapat pada as built drawing.
Pemodelan dilakukan dengan mengikuti standar yang berlaku SNI (Standar Nasional Indonesia atau SNI adalah kode bangunan yang diterima secara lokal).
Struktur Gudang Andy Aliminn dianalisa berdasarkan beban beban yang bekerja yang merujuk pada Peraturan Pembebanan Indonesia. Pemodelan struktural dalam laporan ini menggunakan aplikasi Metode Elemen Hingga. Bangunan yang didesain adalah bangunan Gudang Andy Aliminn. Dari hasil perencanaan struktur
tiga dimensi. hasil yang didapat kemudian diolah menggunakan Ms. Excel untuk mencari mencari kapasitas struktur bangunan tersebut
3.2.1.1.2. Acuan Perhitungan
Perhitungan struktur ini mengacu pada peraturan dan pedoman perencanaan struktur bangunan gedung, guna mendapatkan hasil pekerjaan struktur yang aman, Adapun peraturan dan pedoman tersebut antara lain:
1. Permodelan struktur dilakukan dengan permodelan tiga dimensi menggunakan program Metode Elemen Hingga.
2. Prosedur perhitungan struktur baja gedung SNI 1729-2020, pedoman ini digunakan untuk melakukan analisis kapasitas penampang baja.
3. Standard Perhitungan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung SNI 1726-2019, Acuan ini digunakan untuk perencanaan beban lateral akibat gempa.
4. Peraturan pembebanan mengacu pada SNI 1727-2020 sebagai acuan pembebanan untuk memodelkan bangunan dengan beban-beban yang terjadi.
5. Pedoman untuk beton struktural pada bangunan gedung mengacu pada SNI 2847-2019
3.2.1.1.3. Modelisasi Perhitungan A.Beton
Kuat tekan beton, fc’ = 24,15 MPa
Modulus elastisitas beton, Ec = 4700 fc’ = 23097,0452 MPa
Menggunakan jenis tulangan baja dengan diameter 8 dan 10 mm menggunakan BJTP 280 (polos) dan untuk tulangan dengan diameter > 13 mm menggunakan BJTS 420B (ulir).
B.Beban Mati
Beban mati pada struktur bangunan ditentukan dengan menggunakan berat jenis bahan bangunan dengan berdasarkan Beban desain minimum dan kriteria terkait untuk bangunan gedung dan struktur lain, SNI 1727:2020, Peraturan Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung 1987 dan unsur-unsur yang diketahui
seperti pada denah arsitektur dan struktur, Beban-beban yang diakibatkan oleh gravitasi yang bersifat permanen dalam hal ini berat sendiri struktur.
Beban mati yang diperhitungkan adalah:
Beton = 2400 kg/m3. C.Beban Hidup
Beban hidup yang diperhitungkan adalah sebagai berikut : Beban hidup = 2,4 KN/m2
D.Beban Gempa
Beban gempa yang digunakan dalam pembahasan ini menggunakan data parameter-parameter gempa berdasarkan wilayah pada program rsa,ciptakarya,pu,go,id/ yang selanjutnya diinputkan pada program bantu Metode Elemen Hingga.
E.Kombinansi Pembebanan 1. Ultimate Limit State (ULS)
Comb 1 = 1,2 DL + 1,6 SDL
Comb 2 = 1,2 DL + 1,2SDL + 1,6 LL + 0,5 R/Lr Comb 3 = 1,2DL + 1,2 SDL + 1,0 LL + 1,0 Eqx Comb 4 = 1,2DL + 1,2 SDL + 1,0 LL + 1,0 Eqy
Comb 5 = 1,2DL + 1,2 SDL + 1,0 LL + 1,0 WL + 0,5 R/Lr 2. Service Limit State (SLS)
Comb 6 = 1 DL + 1 SDL + 1 LL Keterangan:
DL = Beban Mati
SDL = Beban Mati Tambahan
LL = Beban Hidup Lr = Beban Hidup Atap
EQx/y = Beban Gempa arah X dan Y
R = Beban Hujan
W = Beban Angin
3.2.1.2. Pengujian dan Hasil Lapangan 3.2.1.2.1. Pendahuluan
Survey visual merupakan langkah terpenting sebelum dimulainya suatu Audit Struktur, Mengingat survey visual menjadi faktor penting dalam menentukan titik uji. pemetaan kerusakan. maupun identifikasi kondisi eksisting dari struktur, Oleh karena itu survey visual harus dilakukan dengan sedetail mungkin agar asssessment dapat dilakukan tepat sasaran dan mengetahui kondisi aktual di lapangan. Bab ini menjelaskan metodologi yang digunakan dalam melakukan pekerjaaan assessment Bangunan Gudang Andy Aliminn dalam upaya untuk mendapatkan Sertifikasi Laik Fungsi (SLF). Jenis pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
3.2.1.2.2. Pengujian Baja (Hardness Brinel)
Pengujian Kekerasan Baja Profil dengan Hardness Brinnel. Metoda pengujian kekerasan metal secara umum dilakukan berdasarkan metoda Leeb (ASTM A956). Metoda ini mengukur rasio dari kecepatan rebound terhadap kecepatan impact dari suatu massa yang terdefinisikan pada suatu permukaan.
Oleh karena itu, metoda ini mengukur kehilangan energi kinetik selama proses tumbukan terjadi (teknik dinamik). Akurasi pengujian Leeb bergantung pada kondisi pengujian yang layak – kondisi fisik permukaan, ketebalan sampel, dan massa.
Gambar 3. 15 Alat Hardness Brinnel
Rasio kecepatan rebound vr terhadap kecepatan tumbuk/impact vi dikalikan 1.000 menghasilkan nilai HL (Leeb Hardness). HL merupakan suatu ukuran langsung terhadap kekerasan metal/logam.
Hu
b un g a n A n t a ra K e k e r a s a n d en g a n K e k u a t a n T a r i k.
Patut diketahui bahwa konsep dasar pengujian kekerasan dan kekuatan tarik adalah sama yaitu sebagai indikator pembebanan agar tidak terjadi deformasi plastis. Oleh karena itu
kekerasan juga dapat dikonversikan ke nilai kekuatan tarik. Untuk material yang dapat dikonversi antara lain: besi tuang, baja, dan kuningan. Adapun rumus pendekatan yang dapat digunakan untuk mendapatkan nilai kuat tarik material uji kekerasan Brinnel adalah sebagai berikut:
atau Kuat Tarik Baja (MPa) = 3.482 HB –28.772
Dimana : TS : Tensile Strength (kuat tarik material) HB : Hardness Brinnel (kekerasan Brinnel)
Gambar 3. 16 Hubungan Kekerasan Antara Besi Tuang, Baja, dan Kuningan Sumber : William D. Callister; Fundamental of Material Science and
Engineering (2000)
Gambar 3. 17 Corresponding Specification
Berdasarkan tabel Corresponding Specification bahwa kekuatan uji tarik minimum untuk baja IWF memiliki nilai 400 N/mm2 atau masih masuk dalam persyaratan (Aktual ≥ Klasifikasi Minimum JIS, ASTM, DIN)
Tabel spesifikasi diatas dapat diklasifikasikan ;
JIS masuk dalam kriteria di kelas G 3101 SS 400
ASTM masuk dalam kriteria di kelas A 36
DIN masuk dalam kriteria St 33
Gambar 3. 18 Nilai Karakteristik Mekanik Material Baja Struktural (ASTM)
Dari hasil pemeriksaan pengujian baja pada Gudang Andy Aliminn yang berlokasi di Kabupaten Bogor, diperoleh data pengujian lapangan sebagai berikut:
Gambar 3. 19 Hasil Uji Hardness Brinnel
Berdasarkan beberapa nilai karakterisik mekanik material baja struktural (ASTM), dapat dilihat bahwa nilai rata-rata korelasi kekerasan (MPa) baja struktural eksisting dari Unit yang diuji memiliki nilai rata-rata MPa sebesar 218,85 MPa angka tersebut sudah memenuhi nilai kuat tarik minimum yang disyaratkan yaitu Aktual (≥ 200 N/mm2).
3.2.1.3. Analisa Pemodelan Struktur 3.2.1.3.1. Dimensi Struktur
1. Dimensi Kolom - Kolom 300 x 300 - Kolom WF 250.125.6.9 2. Dimensi Balok
- Sloof 150 x 250
- Rafter WF 300.150.6,5.9 - Rafter WF 150.75.5.7
3. Pemodelan Struktur
3.2.1.3.2. Pembebanan Struktur 1. Beban Mati
Beton = 2400 kg/m3 Baja = 7850 kg/m3 2. Beban Hidup
Beban hidup = 2,4 KN/m2 3. Beban Hujan
Beban Hujan = 20 kg/m2 4. Beban Angin
5. Beban Gempa
Beban gempa ditetapkan berdasarkan Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan nongedung, SNI 1726:2019, Langkah- langkah perhitungan beban gempa rencana disajikan sebagai berikut:
SNI 1726-2019 Kategori Risiko Bangunan
Gedung Untuk Beban Gempa
II Pasal 4,1,2
(table 3)
Faktor Keutamaan Gempa (Ie) 1 Pasal 4,1,2
(tabel 4)
Lokasi Kab. Bogor
Parameter MCER periode pendek (Ss)
0,9296
reference Parameter MCER periode 1,0
detik (S1)
0,4396
reference
Kelas Situs Tanah SE (Tanah
Lunak)
Koefisien Situs Fa 1,15632 Pasal 6,2 (tabel
6)
Koefisien Situs Fv 2,3208 Pasal 6,2 (tabel
7) Parameter spektrum respons
percepatan periode pendek (Sms)
1,075
Pasal 6,2
Parameter spektrum respons percepatan periode 1,0 detik (Sm1)
1,020
Pasal 6,2
Parameter percepatan spektral periode pendek (Sds)
0,717
Pasal 6,3 SMS=FaSS
SM1=FvS1 SDS=2
3SMS SD1=2
3SM1
Parameter percepatan spektral periode 1,0 detik (Sd1)
0,68014912
Pasal 6,3
Kategori Desain Seismik D Pasal 6,5
Sistem Penahan-Gaya Seismik Pasal 7,2,2
Rangka baja pemikul momen biasa
Koefisien Modifikasi Respons, R
3,5
Faktor pembesaran defleksi (C) 3 Faktor kuat lebih sistem
(Omega)
3
Faktor Redudansi ρ 1 Pasal 7,3,4
Dalam pada SNI 1726-2019 disyaratkan bahwa gaya geser dasar dari hasil analisa dinamik harus mempunyai nilai 100% dari gaya geser dasar analisa statik ekivalen (pasal 7,9,1,4,1),
Berat Seismik Efektif (Self Weight + Sustained Live Load)
122,298
kN Pasal 7,7,2
Periode Fundamental Pendekatan (Ta) Pasal 7,8,2,1
Ct 0,0466
hn 6
x 0,9
Ta 0,23
Cu 1,40 pasal 7,8,2
CuTa 0,33
Ta=Cthnx Ta=Cthnx
Periode Alami Struktur (Tc) mode 1 0,7766 (Arah X) Periode Alami Struktur (Tc) mode 2 0,3356 (Arah Y)
Gaya Dasar Seismik Pasal 7,8,1
Koefisien respon seismik X
Cs1 0,205
Csmax 0,594
Csmin 0,032
100% Gaya Dasar Seismik Statik 25,04 kN Pasal 7,9,2,5,2
Gaya Dasar Seismik Dinamik (arah X) 28,20 kN
Skala Gaya (Arah X) 0,89 Pasal 7,9,2,5,2
Koefisien respon seismik Y
Cs1 0,205
Csmax 0,594
Csmin 0,032
100% Gaya Dasar Seismik Statik 21,284 kN Pasal 7,9,2,5,2 Gaya Dasar Seismik Dinamik (arah Y) 66,633 kN
Skala Gaya (Arah Y) 0,32 Pasal 7,9,2,5,2
5.2.1.1.1. Gaya Dalam Struktur Bangunan Gudang Andy Aliminn
Analisis struktur dilakukan secara Finite Element Analysis dengan Program Metode Elemen Hingga. Gaya-gaya yang diperoleh pada Bangunan Gudang Andy Aliminn (aksial, geser, momen) selanjutnya akan dipakai untuk melakukan pengecekan stuktur rangka baja pada gedung pabrik yang dibangun,
Gambar 3. 20 Gaya Dalam Bangunan
Gambar 3. 21 Gaya Geser 2-2
Gambar 3. 22 Gaya Geser 3-3
Gambar 3. 23 Momen 2-2
Gambar 3. 24 Momen 3-3
5.2.1.1.2. Kapasitas Penampang Struktur Bangunan Gudang Andy Aliminn
Setelah selesai me-running dan mendesain struktur baja dengan Metode Elemen Hingga, maka perlu untuk mengetahui secara cepat apakah semua dimensi elemen struktur yang telah kita tentukan masih masuk dalam kondisi aman atau tidak, Hal ini bisa diketahui dengan cara memeriksa nilai stress ratio-nya, yaitu nilai perbandingan antara gaya dalam yang bekerja dengan kuat ijin penampang profilnya, Bila stress ratio kurang dari 1 maka elemen struktur masih dalam kategori aman, tetapi jika lebih besar dari angka 1 maka kategorinya menjadi tidak aman,
a. Hasil Stress Ratio Balok dan Kolom Baja
Gambar 3. 25 Stress Ratio Kolom dan Balok Baja
Berdasarkan hasil running program terlihat ratio tertinggi pada elemen balok dan kolom berwarna kekuningan dengan rasio < 1, Dari warna tersebut menandakan bahwa elemen struktur tersebut masih dibawah warna merah (rasio = 1) sebagai batas tegangan yang diijinkan,
Gambar 3. 26 Metode Elemen Hingga Stress Ratio Kolom
Hasil stress ratio maksimal kolom tampak pada Gambar 12 dengan rasio 0,918 <
1, Sehingga struktur kolom memenuhi syarat kekuatan struktur,
Gambar 3. 27 Metode Elemen Hingga Stress Ratio Balok
Hasil stress ratio maksimal kolom tampak pada Gambar 13 dengan rasio 0,137 <
1, Sehingga struktur kolom memenuhi syarat kekuatan struktur, b. Hasil Stress Ratio Gording
Gambar 3. 28 Stress Ratio Gording
Berdasarkan hasil running program terlihat ratio tertinggi pada elemen Gording berwarna Biru dengan rasio < 1, Dari warna tersebut menandakan bahwa elemen struktur tersebut masih dibawah warna merah (rasio = 1) sebagai batas tegangan yang diijinkan,
Gambar 3. 29 Metode Elemen Hingga Stress Ratio Gording
Hasil stress ratio maksimal Gording tampak pada Gambar 15 dengan rasio 0,901
< 1, Sehingga struktur kolom memenuhi syarat kekuatan struktur, 5.2.1.1.3. Kontrol Dimensi Struktur
1. Kontrol Kolom Struktur 300 x 300
L Kolom = 1000 mm
Tulangan = 80D16
Sengkang = 2 ф10-150mm
Direncanakan menggunakan beton sebagai berikut:
b = 300 mm
h = 300 mm
L = 1000 mm
selimut 30 mm
d = 252 mm
fy = 400 MPa
fyt = 400 MPa
fc' = 27,8 MPa
Es = 200000 MPa
Hasil Analisa Metode Elemen Hingga
Axial
ф = 0,65
Ag = 90000 mm
2
Ast = 1608,49543
9
mm 2
ρg = 0,01787217
2
Pu = 14227,3172
1 N
ф Pn = 1420686,50
3 N
Pu < ф Pn Aman
Diagram Interaksi
gamma = 0,840 = 1
Mu = 26378283,0
1 Nm
m
Pn/Ag = 24,285 DIPAKAI
Mn/(Ag*h) = 2
Mn/(Ag*h) rata2
= 2
Mn = 54000000 Nm
m
фMn =
48600000 Nm
m
Aman
Lendutan
Panjang = mm
lendutan max = mm
lendutan = mm Aman
1000 2,7778
0,068
Geser
Vu = 10736,1676
1 N
ф = 0,75
Vc = 67763,0764
6 N
фVc/2 = 25411,1536
7 N
butuh sengkang
Vs max = 263080,179
2 N
(Vu/ф)-Vc = -
53448,1863 N ukuran kolom cukup besar
Av (luas tulangan sengkang)
= 157,08 mm
2
Av, min =
36,78 mm
2
Av, min =
39,38 mm
2
Smax = 159,32 mm
Smax = 157,50 mm
Smax = 126,00 mm
S (jarak antar sengkang)
= 150 mm
Av memenuhi
S memenuhi
Aturan Smax = d/2 diabaikan
2. Kontrol Kolom Struktur WF 250 x 125 x 6 x 9
Mutu Baja = BJ 37
Fy = 240 MPa = 2400 kg/cm2
Fu = 370 MPa = 3700 kg/cm2
Direncanakan menggunakan profil sebagai berikut:
ht = 250 mm
bf = 125 mm
tw = 6 mm
tf = 9 mm
r = 12 mm
A = 3766 mm2
I x = 40500000 mm4
Iy = 2940000 mm4
r x = 104 mm
ry = 27,9 mm
S x = 324000 mm3
Sy = 47000 mm3
w = 290,08 N/m
Hasil Analisa SAP
Gaya aksial akibat beban terfaktor,
= 11685,45 N
Momen akibat beban terfaktor
thd.sb. x = 18589783,22 N.mm
Momen akibat beban terfaktor thd.sb.y
= 5454038,656 N.mm
Gaya Geser akibat beban terfaktor
= 9466,212914 N
Perhitungan Balok sesuai LRFD
a. Properti Geometri Penampang Tekan
h1 = tf + r = 21 mm
h2 = ht - 2 x h1 = 208 mm
h = ht - tf = 241 mm G = E / [ 2 x ( 1 + u ) ] = 76923 MPa J = S [ b x t3/3 ] = 2 x 1/3 x bf x tf3 + 1/3 x (ht - 2 x tf) x tw3
=
77454
mm4 Iw = Iy x h2 / 4 = 42689535000 mm6 X 1 = p / S x x √ [ E x G x J x A / 2 ] = 14524,30198 MPa X 2 = 4 x [ S x / (G x J) ]2 x Iw / Iy = 0,0001718 MPa
Z x = tw x ht2 / 4 + bf x ( d - tf) x tf = 364875 mm3
Zy = tf x bf2 / 2 + ( ht - 2 x tf ) x tw2 / 4 = 72400,5 mm3 Keterangan:
G = modulus geser,
J = Konstanta puntir torsi, Iw = konstanta putir lengkung,
X
1 = koefisien momen tekuk torsi lateral - 1, X
2 = koefisien momen tekuk torsi lateral - 2, Z x
= modulus penampang plastis thd. sb. x , Zy
= modulus penampang plastis thd. sb. y,
Momen Nominal Akibat Local Buckling pada Sayap Kelangsingan penampang sayap
l = bf / 2 x tf = 6,944
Batas kelangsingan maksimum untuk penampang kompak, lp = 170 / √ fy = 10,973
Batas kelangsingan maksimum untuk penampang tidak kompak, lr = 370 / √ ( fy - fr ) = 28,378
Berdasarkan nilai kelangsingan sayap, maka termasuk penampang compact Momen nominal untuk penampang thd Sb. X : 87570000 N.mm
Momen nominal untuk penampang thd Sb. Y : 17376120 N.mm
Momen Nominal Akibat Local Buckling pada Badan Kelangsingan penampang badan
l = h / tw = 41,67 Gaya aksial leleh,
Ny = A x fy = 903840 N Nu / ( fb x Ny ) = 0,014 N
Batas kelangsingan maksimum penampang kompak, λp = 104,2
Batas kelangsingan maksimum penampang tidak kompak,
λr = 2550 / √ fy x [ ( 1 - 0.74 x Nu / ( fb x Ny ) ] = 162,9 Berdasarkan nilai kelangsingan badan, maka termasuk kompak Momen nominal untuk penampang thd Sb. X : 87570000 N.mm Momen nominal untuk penampang thd Sb. Y : 17376120 N.mm
Momen Nominal Pengaruh Lateral Buckling
Momen nominal komponen struktur dengan pengaruh tekuk lateral, untuk : Panjang bentang maksimum balok yang mampu menahan momen plastis,
Lp = 1.76 x ry x √ ( E / fy ) = 1418 mm Momen plastis,
Mp = fy x Z x = 87570000 N.mm Momen batas tekuk,
Mr = S x x ( fy - fr ) = 55080000 N.mm Momen nominal : 87570000 N.mm
Kontrol Terhadap Momen Lentur
Tahanan momen lentur thd sb. X , fb x Mn x = 78813000 N.mm Tahanan momen lentur thd sb. Y, fb x Mny = 15638508 N.mm Momen akibat beban terfaktor ,
Mu x = 18589783,22 N.mm Muy = 5454038,656 N.mm Syarat yg harus dipenuhi :
Mu x < fb x Mn x 18589783,22 N.mm < 78813000 N.mm Syarat yg harus dipenuhi :
Muy < fb x Mny 5454038,656 N.mm < 15638508 N.mm
Tahanan Geser
Luas penampang badan,
Aw = tw x ht = 1500 mm2 kn = 5 + 5/ (a/h)2 = 5,013 Kuat Geser
Vn = 0,6 x fy x Aw = 216000 Tahanan gaya geser,
ff x Vn = 194400 N Syarat yg harus dipenuhi :
Vu < ff x Vn
9466,21 N < 194400 N (AMAN)
Kontrol Lendutan
Panjang bentang L = 5000 mm
Lendutan terjadi (Hasil Analisis SAP) δterjadi = 1,167 mm
Lendutan ijin
δijin = L/240 = 20,83 mm Syarat Lendutan :
δterjadi < δijin
1,167 mm < 20,83 mm (AMAN)
3. Kontrol Sloof Struktur 150 x 250
L Balok = 6000 mm
Tulangan = 2D12
Sengkang = 2 ф10-150mm
Direncanakan menggunakan beton sebagai berikut:
b 150 mm
h 250 mm
L 6000 mm
selimut 50 mm
d 184 mm
fy 400 Mp
a
fyt 400 Mp
a
fc' 27,795 Mp
a
Es 200000 Mp
a
Hasil Analisa Metode Elemen Hingga
Lentur
Geser
Vu = 3706,8948 N
ф = 0,75
Vc = 24736,67611 N
фVc/2 = 9276,253541 N
Gunakan Sengkang Minimum
Vs max = 96036,50724 N
(Vu/ф)-Vc = -19794,14971 N
Ukuran Balok Sudah Cukup Besar
Av (luas tulangan
sengkang) = 157,0796327 mm2
Mu = 3706895 Nmm
As = 226,194671 mm2
a = 25,5308631 mm2 β1 = 0,85
C = 30,0363096
Ecu = 0,03
Es = 0,15377757
Ey = 0,002
Es > Ey
0,153777571 0,0021 Yield
Mn = 15492938,8 N,mm
ф Mn = 14253503,7 N,mm
ф Mn > Mu
14253503,65 N,mm
3706895 N,mm
Aman
Av, min = 18,38643605 mm2
Av, min = 19,6875 mm2
Smax = 1271,23 mm
Smax = 1256,64 mm
Smax = 92 mm
S (jarak antar sengkang) = 150 mm
Av Memenuhi
S Memenuhi
Lendutan
Panjang = 6000 mm
lendutan max = 25,00 mm
lendutan = 1,197 mm Aman
4. Kontrol Rafter Struktur WF 300 x 150 x 6.5 x 9 L Balok = 6324,56 mm
Mutu Baja = BJ 37
Fy = 240 MPa = 2400 kg/cm2 Fu = 370 MPa = 3700 kg/cm2
Direncanakan menggunakan profil sebagai berikut:
ht = 300 mm
bf = 150 mm
tw = 6,5 mm
tf = 9 mm
r = 13 mm
A = 4678 mm2
I x = 72100000 mm4
Iy = 5080000 mm4
r x = 124 mm
ry = 32,9 mm
S x
= 481000 mm3
Sy = 67700 mm3
w = 359,66 N/m
Hasil Analisa SAP
Gaya aksial akibat beban
terfaktor, = 5714,31 N
Momen akibat beban terfaktor = 14666064,50 N.mm Gaya Geser akibat beban
terfaktor = 7314,74 N
Perhitungan Balok sesuai LRFD
a. Properti Geometri Penampang Tekan
h1 = tf + r = 22 mm
h2 = ht - 2 x h1 = 256 mm
h = ht - tf = 291 mm
G = E / [ 2 x ( 1 + u ) ] = 76923 MPa J = S [ b x t3/3 ] = 2 x 1/3 x bf x tf3 + 1/3 x (ht - 2 x tf) x tw3
= 98714,75 mm4
Iw = Iy x h2 / 4 = 10754487000 mm6
0
X 1 = p / S x x √ [ E x G x J x A / 2 ] = 12309,89232 MPa X 2 = 4 x [ S x / (G x J) ]2 x Iw / Iy = 0,0003398 MPa
Z x = tw x ht2 / 4 + bf x ( d - tf) x tf = 539100 mm3
Zy = tf x bf2 / 2 + ( ht - 2 x tf ) x tw2 / 4 = 104228,625 mm3 Keterangan:
G = modulus geser,
J = Konstanta puntir torsi, Iw = konstanta putir lengkung,
X
1 = koefisien momen tekuk torsi lateral - 1, X
2 = koefisien momen tekuk torsi lateral - 2, Z x
=
modulus penampang plastis thd. sb.
x ,
Zy = modulus penampang plastis thd. sb. y,
Momen Nominal Akibat Local Buckling pada Sayap Kelangsingan penampang sayap
l = bf / 2 x tf = 8,333
Batas kelangsingan maksimum untuk penampang kompak, lp = 170 / √ fy = 10,973
Batas kelangsingan maksimum untuk penampang tidak kompak, lr = 370 / √ ( fy - fr ) = 28,378
Berdasarkan nilai kelangsingan sayap, maka termasuk kompak Momen nominal untuk penampang : 129384000 N.mm
Momen Nominal Akibat Local Buckling pada Badan
Kelangsingan penampang badan l = h / tw = 46,15384615 Gaya aksial leleh,
Ny = A x fy = 1122720 N Nu / ( fb x Ny ) = 0,0051 N
Batas kelangsingan maksimum penampang kompak, λp = 106,8
Batas kelangsingan maksimum penampang tidak kompak,
λr = 2550 / √ fy x [ ( 1 - 0.74 x Nu / ( fb x Ny ) ] = 163,9 Berdasarkan nilai kelangsingan badan, maka termasuk kompak Momen nominal untuk penampang : 129384000 N.mm
Momen Nominal Pengaruh Lateral Buckling
Momen nominal komponen struktur dengan pengaruh tekuk lateral, untuk : Panjang bentang maksimum balok yang mampu menahan momen plastis,
Lp = 1.76 x ry x √ ( E / fy ) = 1672 mm Momen plastis,
Mp = fy x Z x = 129384000 N.mm Momen batas tekuk,
Mr = S x x ( fy - fr ) = 81770000 N.mm Momen nominal : 129384000 N.mm
Kontrol Terhadap Momen Lentur
Tahanan momen lentur Mn x = 129384000 N.mm Tahanan momen lentur fb x Mn = 116445600 N.mm Momen akibat beban terfaktor, Mu = 14666064,5 N.mm Syarat yg harus dipenuhi :
Mu < fb x Mn x 14666064,5 N.mm < 116445600 N.mm
Tahanan Geser
Luas penampang badan,
Aw = tw x ht = 1950 mm2 kn = 5 + 5/ (a/h)2 = 5,011 Kuat Geser
Vn = 0,6 x fy x Aw = 280800 Tahanan gaya geser,
ff x Vn = 252720 N Syarat yg harus dipenuhi :
Vu < ff x Vn
7314,74 N < 252720 N (AMAN)
Kontrol Lendutan
Panjang bentang L = 6324,56 mm Lendutan terjadi (Hasil Analisis SAP) δterjadi = 1,122 mm
Lendutan ijin
δijin = L/240 = 26,35 mm Syarat Lendutan :
δterjadi < δijin
1,122 mm < 26,35 mm aman
5. Kontrol Rafter Struktur WF 150 x 75 x 5 x 7 L Balok = 1317,62 mm
Mutu Baja = BJ 37
Fy = 240 MPa = 2400 kg/cm2 Fu = 370 MPa = 3700 kg/cm2
Direncanakan menggunakan profil sebagai berikut:
ht = 150 mm
bf = 75 mm
tw = 5 mm
tf = 7 mm
r = 8 mm
A = 1785 mm2
I x = 6660000 mm4
Iy = 495000 mm4
r x = 61,1 mm
ry = 16,6 mm
S x = 88800 mm3
Sy = 13200 mm3
w = 137,2 N/m
Hasil Analisa SAP
Gaya aksial akibat beban terfaktor,
= 406,39 N
Momen akibat beban terfaktor = 1157963,33 N.mm Gaya Geser akibat beban
terfaktor
= 1199,84 N
Perhitungan Balok sesuai LRFD
b. Properti Geometri Penampang Tekan
h1 = tf + r = 15 mm
h2 = ht - 2 x h1 = 120 mm
h = ht - tf = 143 mm
G = E / [ 2 x ( 1 + u ) ] = 76923 MPa J = S [ b x t3/3 ] = 2 x 1/3 x bf x tf3 + 1/3 x (ht - 2 x tf) x tw3 22816,66667 mm4