DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR PETA ... x
DAFTAR ISTILAH ...xi BAB I PENDAHULUAN ...I-1 1.1. LATAR BELAKANG ...I-1 1.2. DASAR HUKUM ...I-3 1.3. MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN ...I-5 1.3.1. Maksud ...I-5 1.3.2. Tujuan ...I-5 1.4. RUANG LINGKUP ...I-6 1.4.1. Lingkup Wilayah ...I-6 1.4.2. Lingkup Materi ...I-6 1.5. SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN ...I-6
BAB II DASAR TEORI ...II-1 2.1. PERKEMBANGAN FUNGSI DAERAH DAN PERKEMBANGAN AKTIVITAS WILAYAH ...II-1 2.2. TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN ...II-5 2.2.1. Konsep dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ...II-5 2.2.2. Pengintegrasikan SDGs ke Dalam Rencana Pembangunan ...II-9 2.3. MEKANISME PEMBUATAN KLHS BERDASARKAN PERATURAN MENTERI DALAM
NEGERI NOMOR 7 TAHUN 2018...II-11
BAB III KONDISI UMUM DAERAH KABUPATEN BOYOLALI ...III-1 3.1. KONDISI GEOGRAFIS ...III-1
3.1.1. Wilayah Administrasi ...III-1 3.1.2. Demografi ...III-2 3.1.3. Topografi ...III-3 3.1.4. Hidrologi...III-4 3.1.5. Klimatologi...III-6 3.1.6. Penggunaan Lahan ...III-7 3.2. DAYA DUKUNG DAN DAYA TAMPUNG LINGKUNGAN HIDUP ...III-10
3.2.1. Daya Dukung ...III-10 3.2.1.1. Analisis Ambang Batas Lahan ...III-10 3.2.1.2. Status Daya Dukung Pangan ...III-16 3.2.1.3. Status Daya Dukung Air...III-19 3.2.2. Daya Tampung ...III-21 3.3.2.1. Kualitas Air Sungai ...III-21 3.2.2.2. Kualitas Air Tanah...III-26
3.2.2.3. Kualitas Udara ...III-37 3.2.2.4. Pengolahan Limbah...III-40 3.2.3. Kinerja Layanan atau Jasa Lingkungan ...III-45 3.2.4. Efisiensi Pemanfaatan Sumber Daya Alam ...III-53 3.2.5. Tingkat Kerentanan dan Kapasitas Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim ...III-60 3.2.6. Tingkat Ketahanan dan Potensi Keanekaragaman Hayati ...III-68 3.2.7. Kondisi dan Analisis Daya Tampung Sampah ...III-71 3.2.8. Resiko Bencana ...III-74 3.2.9. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup ...III-78 3.2.10. Neraca Sumber Daya Alam ...III-78 3.3. GAMBARAN KEUANGAN DAERAH DALAM PENCAPAIAN INDIKATOR TPB...III-81 3.3.1. Rasio Kemandirian Daerah ...III-81 3.3.2. Kemampuan Mendanai Belanja Daerah ...III-82 3.3.3. Belanja Modal ...III-83 3.3.4. Belanja Operasional ...III-83 3.3.5. Tax Ratio ...III-84 3.4. PERAN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PENCAPAIAN INDIKATOR TPB ...III-85
BAB IV ANALISIS CAPAIAN TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN ...IV-1 4.1. KONDISI PENCAPAIAN TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN ...IV-1
4.1.1. Realisasi Pencapaian Target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ...IV-1 4.1.2. Analisis Perbandingan antara TPB Nasional dan TPB Daerah ...IV-4 4.1.2.1. Analisis Perbandingan antara TPB Nasional dan TPB Daerah
Pilar Sosial ...IV-4 4.1.2.2. Analisis Perbandingan antara TPB Nasional dan TPB Daerah
Pilar Ekonomi ...IV-8 4.1.2.3. Analisis Perbandingan antara TPB Nasional dan TPB Daerah
Pilar Lingkungan ...IV-9 4.1.2.4. Analisis Perbandingan antara TPB Nasional dan TPB Daerah
Pilar Hukum dan Tata Kelola ...IV-11 4.1.3. Analisis Proyeksi Pencapaian Target TPB sampai akhir RPJPD ...IV-12 4.2. REKAPITULASI PENCAPAIAN TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN ...IV-15 4.3. ISU STRATEGIS DAERAH ...IV-17
BAB V ANALISIS CAPAIAN INDIKATOR TUJUAN PEMBANGUNAN
BERKELANJUTAN PADA ORGANISASI PERANGKAT DAERAH (OPD) DAN
LEMBAGA NON PEMERINTAH ...V-1 5.1. PENCAPAIAN INDIKATOR TPB PADA OPD ...V-1
5.1.1. Pencapaian Indikator TPB Pada OPD Pilar Sosial ...V-1 5.1.2. Pencapaian Indikator TPB Pada OPD Pilar Ekonomi ...V-3 5.1.3. Pencapaian Indikator TPB Pada OPD Pilar Lingkungan ...V-4 5.1.4. Pencapaian Indikator TPB Pada OPD Pilar Hukum Dan Tata Kelola ...V-5 5.2. KINERJA KEUANGAN DAERAH DALAM PENCAPAIAN INDIKATOR TPB ...V-6
BAB VI ALTERNATIF SKENARIO DAN REKOMENDASI ...VI-1 6.1. SKENARIO TPB TANPA UPAYA TAMBAHAN ...VI-14 6.2. SKENARIO TPB DENGAN UPAYA TAMBAHAN ...VI-18 6.3. PENENTUAN PERMASALAHAN DAN SASARAN STRATEGIS DAERAH ...VI-23 6.3.1. Permasalahan Daerah ...VI-23 6.3.2. Sasaran Strategis Daerah ...VI-39 6.4. PENYUSUNAN REKOMENDASI PROGRAM ...VI-52 6.5. PERSANDINGAN INDIKATOR TPB, METADATA 1 DAN METADATA 2 ...VI-52
BAB VII PENUTUP ...VII-1 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel I.1 Dasar Pertimbangan KLHS RPJMD Kabupaten Boyolali ...I-2 Tabel II.1 Metode, Teknik Dan Rangkaian Langkah-Langkah Pengkajian Kondisi
Umum Daerah ...II-12 Tabel II.2 Metode, Teknik Dan Rangkaian Langkah Analisis Capaian Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan ...II-13 Tabel II.3 Metode, Teknik Dan Rangkaian Langkah Rekapitulasi Pencapaian Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan ...II-14 Tabel II.4 Metode, Teknik Dan Rangkaian Langkah Analisis Peran Para Pihak Dalam
Pencapaian TPB ...II-15 Tabel II.5 Metode, Teknik Dan Rangkaian Langkah Perumusan Alternatif Skenario Dan
Rekomendasi Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ...II-17 Tabel II.6 Metode, Teknik Dan Rangkaian Langkah Pengintegrasian Hasil KLHS Ke
Dalam RPJMD ...II-17 Tabel III.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan Di Kabupaten Boyolali ...III-1 Tabel III.2 Jumlah Penduduk Kabupaten Boyolali Tahun 2021-2022 ...III-2 Tabel III.3 Kepadatan Penduduk Kabupaten Boyolali Tahun 2022 ...III-3 Tabel III.4 Topografi Kabupaten Boyolali ...III-3 Tabel III.5 Curah Hujan Dan Hari Hujan Di Kabupaten Boyolali ...III-6 Tabel III.6 Penggunaan Lahan Kabupaten Boyolali ...III-7 Tabel III.7 Luasan Ekoregion Di Kabupaten Boyolali ...III-8 Tabel III.8 Klasifikasi Kemampuan Lahan Dalam Tingkat Kelas ...III-11 Tabel III.9 Luas Kelas Kemampuan Lahan Kabupaten Boyolali ...III-12 Tabel III.10 Evaluasi Kesesuaian Lahan Kabupaten Boyolali...III-14 Tabel III.11 Tabel Standar Konsumsi Lahan Perkapita ...III-15 Tabel III.12 Konsumsi Lahan Perkapita Kabupaten Boyolali ...III-16 Tabel III.13 Kebutuhan Beras Kabupaten Boyolali ...III-17 Tabel III.14 Produksi Beras Kabupaten Boyolali ...III-17 Tabel III.15 Produktivitas Lahan Kabupaten Boyolali ...III-18 Tabel III.16 Daya Dukung Lahan Sawah Kabupaten Boyolali ...III-18 Tabel III.17 Luasan Kecamatan Berdasarkan Status Daya Dukung Dan Daya Tampung
Air Di Kabupaten Boyolali Tahun 2022 (Ha) ...III-19 Tabel III.18 Status Mutu Air Sungai ...III-25 Tabel III.19 Kualitas Air Tanah ...III-27 Tabel III.20 Jumlah Ipal Domestik Komunal ...III-40 Tabel III.21 Jumlah Limbah Padat Dan Cair Berdasarkan Sumber Pencemaran ...III-42 Tabel III.22 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (Ipal) Biogas Ternak ...III-45 Tabel III.23 Distribusi Kelas Dan Luasan Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan
Hidup Berbasis Kinerja Jasa Lingkungan Penyedia Pangan (Ha) ...III-45 Tabel III.24 Distribusi Kelas Dan Luasan Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan
Hidup Berbasis Kinerja Jasa Lingkungan Penyedia Air Bersih (Ha) ...III-48 Tabel III.25 Distribusi Kelas Dan Luasan Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan
Hidup Berbasis Kinerja Jasa Lingkungan Pengaturan Air ...III-51
Tabel III.26 Produksi Tanaman Pangan Di Kabupaten Boyolali (Ton) ...III-53 Tabel III.27 Produksi Hortikultura Di Kabupaten Boyolali ...III-53 Tabel III.28 Perkebunan Di Kabupaten Boyolali ...III-54 Tabel III.29 Potensi Peternakan Di Kabupaten Boyolali (Ekor)...III-54 Tabel III.30 Potensi Unggas Di Kabupaten Boyolali (Ekor) ...III-55 Tabel III.31 Nilai Produksi Perikanan Di Kabupaten Boyolali...III-56 Tabel III.32 Produksi Perikanan Di Kabupaten Boyolali...III-56 Tabel III.33 Luas Hutan Produksi (Hp) Kabupaten Boyolali ...III-57 Tabel III.34 Luas Hutan Produksi Terbatas (Hpt) Kabupaten Boyolali...III-58 Tabel III.35 Luas Taman Nasional (Tn) ...III-58 Tabel III.36 Distribusi Kelas Dan Luasan Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan
Hidup Berbasis Kinerja Jasa Lingkungan Pengaturan Iklim (Ha) ...III-60 Tabel III.37 Program Kampung Iklim ...III-62 Tabel III.38 Luas Ruang Terbuka Hijau Publik (Ha) ...III-64 Tabel III.39 Prediksi Emisi Grk Di Kabupaten Boyolali (Gg/Co2) ...III-67 Tabel III.40 Target Penurunan Emisi Grk Kabupaten Boyolali (%) ...III-67 Tabel III.41 Keadaan Flora Dan Fauna Tahun 2018-2022 ...III-68 Tabel III.42 Distribusi Kelas Dan Luasan Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan
Hidup Berbasis Kinerja Jasa Lingkungan Pendukung Biodiversitas (Ha) ...III-69 Tabel III.43 Pengelolaan Sampah Kabupaten Boyolali ...III-71 Tabel III.44 Sebaran Lokasi Bank Sampah ...III-72 Tabel III.45 Tps 3r Dikelola Kelompok Masyarakat ...III-73 Tabel III.46 Kondisi Tpa Winong Kabupaten Boyolali Tahun 2018-2022 ...III-73 Tabel III.47 Target Pengurangan Dan Penanganan Sampah Kabupaten Boyolali ...III-74 Tabel III.48 Frekuensi Bencana Di Kabupaten Boyolali Tahun 2022 ...III-74 Tabel III.49 Kategori Desa Tangguh Bencana ...III-75 Tabel III.50 Distribusi Kelas Dan Luasan Jasa Lingkungan Pengaturan Mitigasi
Bencana Banjir (Ha) ...76 Tabel III.51 Iklh Kabupaten Boyolali ...III-78 Tabel III.52 Target Iklh Kabupaten Boyolali ...III-78 Tabel III.53 Potensi Mata Air Kabupaten Boyolali ...III-79 Tabel III.54 Kondisi Sungai Di Kabupaten Boyolali ...III-79 Tabel III.55 Kondisi Waduk Dan Embung Di Kabupaten Boyolali ...III-80 Tabel III.56 Luas Penggunaan Lahan Utama Kabupaten Boyolali...III-81 Tabel III.57 Luas Areal Dan Produksi Pertambangan Menurut Jenis Bahan Galian ...III-81 Tabel III.58 Kemampuan Mendanai Belanja Daerah Kabupaten Boyolali Tahun 2018-2022 ...III-82 Tabel III.59 Tax Ratio Kabupaten Boyolali Tahun 2018-2022 ...III-84 Tabel III.60 Peran Para Pihak (Pemangku Kepentingan) Yang Aktif Menjalankan
Aktivitasnya Dalam Pencapaian Tpb ...III-86 Tabel IV.1 Realisasi Pencapaian TPB Kabupaten Boyolali ...IV-3 Tabel IV.2 Rekapitulasi Analisis Perbandingan Antara TPB Nasional Dan TPB Daerah
Berdasarkan Pilar ...IV-4 Tabel IV.3 Rekapitulasi Hasil Analisis Proyeksi Pencapaian Target TPB ...IV-13 Tabel IV.4 Rekapitulasi Pencapaian TPB Berdasarkan Tujuan ...IV-15
Tabel IV.5 Isu Strategis Pembangunan Berkelanjutan Berdasarkan Pengelompokan
Isu Kabupaten Boyolali ...IV-18 Tabel IV.6 Pembobotan Kriteria Isu Strategis ...IV-24 Tabel IV.7 Skoring Nilai Kelompok Isu Strategis ...IV-25 Tabel IV.8 Penilaian Isu Strategis Berdasarkan 6 (Enam) Muatan KLHS ...IV-27 Tabel IV.9 Pembobotan Kriteria Ketercapaian Pada Tahun 2029 ...IV-28 Tabel IV.10 Penilaian Isu Strategis Berdasarkan Capaian Indikator Di Tahun 2029 ...IV-28 Tabel IV.11 Penilaian Isu Paling Strategis ...IV-28 Tabel V.1 Pencapaian Indikator TPB Pada Organisasi Perangkat Daerah Dan Instansi
Vertikal Pilar Sosial ...V-1 Tabel V.2 Lembaga Non Pemerintah Dalam Pencapaian TPB Pilar Sosial ...V-3 Tabel V.3 Pencapaian Indikator TPB Pada Organisasi Perangkat Daerah Dan Instansi
Vertikal Pilar Ekonomi ...V-3 Tabel V.4 Lembaga Non Pemerintah Dalam Pencapaian TPB Pilar Ekonomi ...V-4 Tabel V.5 Pencapaian Indikator TPB Pada Organisasi Perangkat Daerah Dan Instansi
Vertikal Pilar Lingkungan ...V-4 Tabel V.6 Lembaga Non Pemerintah Dalam Pencapaian TPB Pilar Lingkungan ...V-5 Tabel V.7 Pencapaian Indikator TPB Pada Organisasi Perangkat Daerah Dan Instansi
Vertikal Pilar Hukum Dan Tata Kelola...V-6 Tabel V.8 Anggaran OPD Yang Mendukung Pencapaian TPB ...V-6 Tabel V.9 Anggaran Pencapaian TPB Oleh Lembaga Non Pemerintah ...V-9 Tabel VI.1 Perumusan Skenario Pencapaian TPB ...VI-2 Tabel VI.2 Kajian Penapisan Keterkaitan Hubungan TPB Dengan DDDTLH ...VI-2 Tabel VI.3 Perhitungan Koefisien Limpasan Tertimbang Kabupaten Boyolali ...VI-4 Tabel VI.4 Potensi Ketersediaan Air Kabupaten Boyolali ...VI-5 Tabel VI.5 Prediksi Kebutuhan Air Tahun 2029 Di Kabupaten Boyolali ...VI-6 Tabel VI.6 Status Daya Dukung Air ...VI-7 Tabel VI.7 Skenario Tpb Tanpa Upaya Tambahan Berdasarkan Kriteria Indikator ...VI-14 Tabel VI.8 Rekapitulasi Skenario Tpb Tanpa Upaya Tambahan...VI-15 Tabel VI.9 Skenario Tpb Dengan Upaya Tambahan Berdasarkan Kriteria Indikator ...VI-18 Tabel VI.10 Rekapitulasi Skenario Tpb Dengan Upaya Tambahan ...VI-18 Tabel VI.11 Skenario Tpb Ketersediaan Data (Tidak Ada Data) ...VI-22 Tabel VI.12 Rekapitulasi Skenario Ketersediaan Data (Tidak Ada Data) ...VI-22 Tabel VI.13 Rekomendasi Klhs Rpjmd Kabupaten Boyolali ...VI-24 Tabel VI.14 Rekomendasi Visi, Misi, Dan Tujuan Pembangunan Daerah ...VI-39 Tabel VI.15 Prioritas Pembangunan Rpjmd Tahun 2025-2029 ...VI-40 Tabel VI.16 Persandingan Indikator Tpb Meta Data 1 Dan Metadata 2 ...VI-52
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Tiga Pilar Pembangunan Berkelanjutan dan Internalisasi Aspek Lingkungan ke dalam Pilar Sosial dan Pilar Ekonomi ...II-6 Gambar 3. 1 Persentase D3TLH Air Kabupaten Boyolali ...III-19 Gambar 3. 2 Persentase Luasan Kecamatan Berdasarkan Status Daya Dukung dan Daya
Tampung Air di Kabupaten Boyolali ...III-20 Gambar 3. 3 Tren Nilai IKA ...III-22 Gambar 3. 4 Konsentrasi TSS Air Sungai ...III-22 Gambar 3. 5 Konsentrasi DO Air Sungai ...III-23 Gambar 3. 6 Konsentrasi BOD Air Sungai ...III-23 Gambar 3. 7 Konsentrasi COD Air Sungai ...III-24 Gambar 3. 8 Konsentrasi Fosfat Air Sungai ...III-24 Gambar 3. 9 Konsentrasi Fecal Coliform Air Sungai ...III-25 Gambar 3. 10 Konsentrasi Total Coliform Air Sungai ...III-25 Gambar 3. 11 Tren IKU Kabupaten Boyolali Tahun 2018-2022 ...III-37 Gambar 3. 12 Nilai Kualitas Udara Ambien Parameter SO2 ...III-38 Gambar 3. 13 Grafik Tren Hasil Uji SO2 Pada Musim Penghujan dan Kemarau Tahun
2018-2022 ...III-38 Gambar 3. 14 Nilai Kualitas Udara Ambien Parameter NO2 ...III-39 Gambar 3. 15 Grafik Tren Hasil Uji NO2 Pada Musim Penghujan dan Kemarau Tahun
2018-2022 ...III-39 Gambar 3. 16 Jumlah Industri Penghasil Limbah & IPAL Terbangun ...III-41 Gambar 3. 17 Grafik Distribusi Luas Kelas Jasa Lingkungan Penyedia Pangan ...III-46 Gambar 3. 18 Grafik Distribusi Luas Kelas Jasa lingkungan Penyedia Air Bersih ...III-48 Gambar 3. 19 Grafik Distribusi Luas Kelas Jasa lingkungan Pengaturan Air ...III-51 Gambar 3. 20 Total Emisi GRK Berdasarkan Sektor Kabupaten Boyolali Tahun 2018-2022 ...III-65 Gambar 3. 21 Emisi Sektor Energi Kabupaten Boyolali Tahun 2018-2022...III-65 Gambar 3. 22 Emisi Sektor IPPU Kabupaten Boyolali Tahun 2018-2022 ...III-66 Gambar 3. 23 Emisi Sektor Pertanian Kabupaten Boyolali Tahun 2018-2022 ...III-66 Gambar 3. 24 Emisi Sektor Kehutanan Kabupaten Boyolali Tahun 2018-2022 ...III-67 Gambar 3. 25 Emisi Sektor Limbah Kabupaten Boyolali Tahun 2018-2022 ...III-67 Gambar 3. 26 Perekembangan Potensi Penurunan Emisi Kabupaten Boyolali ...III-68 Gambar 3. 27 Grafik Rasio Kemandirian Daerah Tahun 2018-2022 ...III-82 Gambar 3. 28 Grafik Rasio Kemampuan Pendanaan Belanja Daerah Kabupaten Boyolali
Tahun 2020-2022 ...III-83 Gambar 3. 29 Grafik Rasio Belanja Modal Daerah Terhadap Total Belanja Kabupaten
Boyolali Tahun 2018-2022 ...III-83 Gambar 3. 30 Grafik Rasio Belanja Operasional Kabupaten Boyolali Tahun 2018-2022 ...III-84 Gambar 3. 31 Grafik Tax Ratio Kabupaten Boyolali Tahun 2020-2022 ...III-84 Gambar 4.1 Grafik Analisis Perbandingan antara TPB Nasional dan TPB Daerah Pilar
Sosial ...IV-5 Gambar 4.2 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 1 (Target
Perlu Peningkatan) ...IV-5
Gambar 4.3 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 2 (Target
Perlu Peningkatan) ...IV-6 Gambar 4.4 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 2 (Target Perlu
Penurunan) ...IV-6 Gambar 4.5 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 3 (Target Perlu
Peningkatan) ...IV-6 Gambar 4.6 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 3 (Target Perlu
Penurunan) ...IV-7 Gambar 4.7 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 4 (Target Perlu
Peningkatan) ...IV-7 Gambar 4.8 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 5 (Target Perlu
Penurunan) ...IV-7 Gambar 4.9 Grafik Analisis Perbandingan antara TPB Nasional dan TPB Daerah Pilar
Ekonomi ...IV-8 Gambar 4.10 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 8 (Target Perlu
Peningkatan) ...IV-8 Gambar 4.11 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 8 (Target Perlu
Penurunan) ...IV-9 Gambar 4.12 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 9, 10 dan 17 (Target
Perlu Peningkatan) ...IV-9 Gambar 4.13 Grafik Analisis Perbandingan antara TPB Nasional dan TPB Daerah Pilar
Lingkungan...IV-9 Gambar 4.14 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 6 (Target Perlu
Peningkatan) ...IV-10 Gambar 4.15 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 11 (Target Perlu
Penurunan) ...IV-10 Gambar 4.16 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 11, TPB 12 dan
TPB 15 (Target Perlu Peningkatan) ...IV-10 Gambar 4.17 Grafik Analisis Perbandingan antara TPB Nasional dan TPB Daerah Pilar
Hukum Dan Tata Kelola ...IV-11 Gambar 4.18 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 16 (Target Perlu
Peningkatan) ...IV-11 Gambar 4.19 Grafik Analisis Perbandingan Target dan Capaian TPB 16 (Target Perlu
Penurunan) ...IV-12 Gambar 4.20 Rekapitulasi Jumlah Indikator dan Persentase TPB Menurut Kriteria ...IV-15 Gambar 5. 1 Grafik Capaian TPB Analisis pada Organisasi Perangkat Daerah Pilar Sosial ...V-2 Gambar 5. 2 Grafik Capaian TPB Analisis pada Organisasi Perangkat Daerah Pilar
Ekonomi ...V-3 Gambar 5. 3 Grafik Capaian TPB Analisis pada Organisasi Perangkat Daerah
Pilar Lingkungan ...V-5 Gambar 5. 4 Grafik Capaian TPB Analisis pada Organisasi Perangkat Daerah
Pilar Hukum dan Tata Kelola ...V-6 Gambar 6. 1 Tahapan Perumusan Skenario Pencapaian Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan ...VI-1
Gambar 6. 2 Skenario Daya Dukung Air ...VI-7 Gambar 6. 3 Skenario Indeks Kualitas Air ...VI-10 Gambar 6. 4 Skenario Daya Dukung Pangan ...VI-11 Gambar 6. 5 Indeks Kualitas Lahan ...VI-12 Gambar 6. 6 Skenario Pengelolaan Sampah ...VI-13 Gambar 6. 7 Indeks Kualitas Udara ...VI-13 Gambar 6. 8 Skenario Potensi Penurunan Emisi ...VI-14 Gambar 6. 9 Contoh Skenario Pencapaian TPB Terkait DDDTLH Status SST (6.3.1.(b)) ...VI-17 Gambar 6. 10 Contoh Skenario Pencapaian TPB Status SBT (indikator 11.6.1.(a)) ...VI-21
DAFTAR PETA
Peta 3. 1 Peta Administrasi Kabupaten Boyolali ...III-2 Peta 3. 2 Peta Cekungan Air Tanah Kabupaten Boyolali ...III-5 Peta 3. 3 Peta Hidrogeologi Kabupaten Boyolali ...III-5 Peta 3. 4 Peta Daerah Aliran Sungai Kabupaten Boyolali ...III-6 Peta 3. 5 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Boyolali ...III-8 Peta 3. 6 Peta Satuan Ekoregion Kabupaten Boyolali ...III-10 Peta 3. 7 Peta Kelas Kemampuan Lahan Kabupaten Boyolali ...III-13 Peta 3. 8 Evaluasi Kesesuaian Lahan Kabupaten Boyolali ...III-15 Peta 3. 9 Peta Status D3TLH Air Kabupaten Boyolali ...III-21 Peta 3. 10 Peta Jasa Lingkungan Penyedia Pangan (P-1) ...III-47 Peta 3. 11 Peta Jasa Lingkungan Penyedia Air Bersih (P-2) Kabupaten Boyolali ...III-50 Peta 3. 12 Peta Jasa Lingkungan Pengaturan Tata Air dan Banjir (R-2) Kabupaten Boyolali ....III-52 Peta 3. 13 Peta Kawasan Hutan Kabupaten Boyolali ...III-59 Peta 3. 14 Peta Jasa Lingkungan Pengaturan Iklim (R1) Kabupaten Boyolali ...III-63 Peta 3. 15 Peta Jasa Lingkungan Pendukung Biodiversitas (D4) Kabupaten Boyolali...III-70 Peta 3. 16 Peta Jasa Lingkungan Pengaturan Mitigasi Bencana Banjir (R-3)
Kabupaten Boyolali ...III-77 Peta 6. 1 Peta Status Daya Dukung Air Kabupaten Boyolali Tahun 2029 ...VI-9
DAFTAR ISTILAH
DDDTLH Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup IRBI Indeks Risiko Bencana Indonesia
PRB Pengurangan Risiko Bencana
RPJMD Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah RPJPD Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah RTRW Rencana Tata Ruang Wilayah
SST Indikator TPB sudah dilaksanakan dan sudah mencapai target nasional SBT Indikator TPB sudah dilaksanakan tetapi belum mencapai target nasional TPB Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
TBC Indikator TPB tidak ada target daerah dan belum tercapai TAD Indikator TPB tidak/belum ada data
TKD Indikator TPB tidak sesuai dengan karakteristik daerah
BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Pembangunan Kabupaten Boyolali yang telah dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di dalamnya. Adapun dalam pengembangannya dengan memanfaatkan sumber daya alam berpotensi menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan. Melalui Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, kebijakan lingkungan dirumuskan dan diimplementasikan. Pada pasal (15), disebutkan, instrumen Kajian Lingkungan Hidup Startegis (KLHS) wajib dilaksanakan untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program. Disamping itu diamanatkan bahwa KLHS sebagaimana dimaksud wajib diintegrasikan ke dalam penyusunan atau evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) beserta rencana rincinya, Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota, termasuk menyelaraskan Kebijakan, Rencana, dan/atau Program yang berpotensi menimbulkan dampak dan/atau resiko lingkungan hidup, fungsi dan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup di Kabupaten/Kota.
Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah proses untuk menelaah suatu dampak Kebijakan, Rencana atau Program terhadap lingkungan. Atau sebaliknya menalaah kondisi dan kecenderungan lingkungan untuk kemudian menyarankan Kebijakan, Rencana atau Program.
Dalam pelaksanaan kajian ini perlu dianalisis daya dukung dan daya tampung baik itu secara kuantitatif ataupun kualitatif yang menjadi dasar keterdukungan dan ketertampungan Kabupaten Boyolali dalam mengambil kebijakan/program. Secara sederhana daya dukung diartikan bahwa persediaan sumberdaya alam lebih besar dari kebutuhan. Sedang daya tampung diartikan sebagai kemampuan alam untuk menyerap buangan lebih besar dari apa yang dibuang. Dalam kehidupan manusia yang begitu kompleks dan dinamika tinggi kebutuhan dan apa yang dibuang bisa berubah dan berkembang. Disisi lain manusia juga mempunyai kemampuan mengatur dan menerapkan teknologi untuk merubah dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung tersebut. Terkait dengan hal ini, maka dalam kajian yang akan dilaksanakan, dilakukan pula kajian penentuan daya dukung dan daya tampung lingkungan Kabupaten Boyolali.
Sehubungan dengan akan disusunnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Boyolali Tahun 2025-2029, maka perlu dilakukan Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Pasal 23 Permendagri Nomor 7 Tahun 2018 pembuatan dan pelaksanaan KLHS RPJMD berlaku mutatis mutandis untuk pelaksanaan KLHS Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), pelaksanaan KLHS perubahan RPJMD dan perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah. KLHS RPJMD sangat dibutuhkan dalam pemenuhan kualitas penyusunan RPJMD dan Rancangan Awal RPJMD. KLHS RPJMD yang memuat skenario Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dalam kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang diharapkan dapat memberikan manfaat dalam mewarnai substansi rencana pembangunan yang
berbasis daya dukung dan daya tampung lingkungan serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Daerah. Dengan demikian dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Boyolali diharapkan integrasi KLHS dapat menjadi pedoman bagi pengembangan Kabupaten Boyolali khususnya dan di harapkan dalam kaitan yang lebih luas, mampu mendorong terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).
Mengacu hal-hal tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dasar pertimbangan RPJMD Kabupaten Boyolali sehingga perlu dilengkapi KLHS1 adalah, sebagai berikut:
TABEL I. 1 DASAR PERTIMBANGAN KLHS RPJMD KABUPATEN BOYOLALI
No Perundangan Amanat penyusunan KLHS
1. Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 Tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang
a. Pasal 14
Instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan Lingkungan Hidup, salah satunya adalah KLHS.
b. Pasal 15 Ayat (1)
Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib membuat KLHS untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program.
Ayat (2)
Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib melaksanakan KLHS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ke dalam penyusunan atau evaluasi:
Rencana tata ruang wilayah (RTRW) beserta rencana rincinya, rencana pembangunan jangka panjang (RPJP), dan rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) nasional, provinsi, dan kabupaten/kota; dan
Kebijakan, rencana, dan/atau program yang berpotensi menimbulkan dampak dan/atau risiko lingkungan hidup.
Ayat (3)
KLHS dilaksanakan dengan mekanisme:
Pengkajian pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau program terhadap kondisi lingkungan hidup di suatu wilayah;
Perumusan alternatif penyempurnaan kebijakan, rencana, dan/atau program; dan
Rekomendasi perbaikan untuk pengambilan keputusan kebijakan, rencana, dan/atau program yang mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan.
c. Pasal 16
KLHS memuat kajian antara lain:
a) Kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan;
b) Perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup;
c) Kinerja layanan/jasa ekosistem;
d) Efisiensi pemanfaatan sumber daya alam;
e) Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim; dan
f) Tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati.
d. Pasal 17 Ayat (1)
Hasil KLHS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) menjadi dasar bagi kebijakan, rencana, dan/atau program pembangunan dalam suatu wilayah.
Ayat (2)
Apabila hasil KLHS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyatakan bahwa daya dukung dan daya tampung sudah terlampaui,
Kebijakan, rencana, dan/atau program pembangunan tersebut wajib diperbaiki sesuai dengan rekomendasi KLHS; dan
Segala usaha dan/atau kegiatan yang telah melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup tidak diperbolehkan lagi.
1 Dasar Pertimbangan KRP Sehingga Perlu Dilengkapi KLHS
No Perundangan Amanat penyusunan KLHS e. Pasal 18
Ayat (1)
KLHS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan.
Ayat (2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyelenggaraan KLHS diatur dalam Peraturan Pemerintah.
2. Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penyelenggaraan KLHS
Pasal 2 Ayat (1)
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib membuat KLHS untuk memastikan bahwa prinsip Pembangunan Berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau Kebijakan, Rencana, dan/atau Program.
Ayat (2)
KLHS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaksanakan ke dalam penyusunan atau evaluasi:
Rencana tata ruang wilayah beserta rencana rincinya, RPJP nasional, RPJP daerah, RPJM nasional, dan RPJM daerah; dan
Kebijakan, Rencana, dan/atau Program yang berpotensi menimbulkan dampak dan/atau risiko Lingkungan Hidup.
3. Permen LHK RI Nomor
P.69/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/
2017 Tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2016 Tentang Tata Cara Penyelenggaraan Kajian Lingkungan Hidup Strategis
Pasal 2
Peraturan Menteri ini mengatur tentang penyelenggaran KLHS, yang meliputi:
a. Kebijakan, Rencana, dan/atau Program yang wajib dibuat dan dilaksanakan KLHS;
b. Pembuatan dan pelaksanaan KLHS;
c. Penjaminan kualitas dan pendokumentasian KLHS;
d. Validasi KLHS; dan
e. Pembinaan, pemantauan dan evaluasi KLHS.
Pasal 4
Kebijakan, Rencana, dan/atau Program tingkat Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf c terdiri atas:
a. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota;
b. Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten/Kota;
c. Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota;
d. Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten;
e. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten/Kota;
f. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten/Kota; dan g. Kebijakan, Rencana dan/atau Program yang berpotensi dampak
dan/atau risiko Lingkungan Hidup lainnya di tingkat kabupaten/kota.
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2018 tentang Pembuatan dan Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Penyusunan Rencana Jangka Menengah Daerah
Pasal 2 Ayat (1)
Pemerintah Daerah membuat dan melaksanakan KLHS RPJMD yang sesuai dengan prinsip berkelanjutan.
Pasal 23
Pembuatan dan pelaksanaan KLHS RPJMD berlaku mutatis mutandis untuk pelaksanaan KLHS Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, pelaksanaan KLHS perubahan RPJMD dan perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
Sumber : Penyusun, 2023
1.2. DASAR HUKUM
Peraturan perundangan yang dijadikan sebagai dasar hukum dalam kegiatan Penyusunan KLHS RPJMD Kabupaten Boyolali Tahun 2025-2029 sebagai berikut :
a. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
b. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
c. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 Tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 238, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6841);
d. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);
e. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 Tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 238, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6841);
f. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 Tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 238, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6841);
g. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 228, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5941);
h. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6322);
i. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6634);
j. Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 136);
k. Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2022 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 180);
l. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pedoman Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup dalam Penataan Ruang Wilayah;
m. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.33/MenLHK-II/2016 tentang Pedoman Penyusunan Aksi Adaptasi Perubahan Iklim (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 521);
n. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.69/MENLHK/Setjen/Kum.1/12/2017 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Kajian Lingkungan Hidup Strategis;
o. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, dan Rencana Kerja Perangkat Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1312);
p. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2018 tentang Pembuatan dan Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Penyusunan RPJMD (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 459);
q. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 90 Tahun 2019 tentang Klasifikasi dan Kodifikasi, Nomenklatur, Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 1447);
r. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 050-5889 Tahun 2021 tentang Hasil Verifikasi, Validasi dan Inventarisasi Pemutakhiran Klasifikasi, Kodefikasi dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 900.1.15.5-1317 tahun 2023 tentang Perubahan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 050-5889 Tahun 2021 tentang Hasil Verifikasi, Validasi dan Inventarisasi Pemutakhiran Klasifikasi, Kodefikasi dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah;
s. Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 3 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Boyolali Tahun 2005-2025;
t. Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 8 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Boyolali Tahun 2011-2021; dan
u. Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2021-2026.
1.3. MAKSUD DAN TUJUAN 1.3.1. Maksud
Maksud kegiatan ini adalah untuk melakukan penyusunan dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kabupaten Boyolali untuk memberikan kepastian perspektif kualitas lingkungan hidup dalam perencanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Boyolali yang berbasis jasa lingkungan sehingga tercapai perencanaan pembangunan yang harmonis antara peningkatan kesejahteraan masyarakat, kualitas lingkungan, dan pertahanan keamanan, terwujudnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, dan kawasan konservasi alam yang handal, sesuai dengan kondisi objektif lingkungan hidup masing-masing.
1.3.2. Tujuan
Tujuan utama penyusunan Kajian Lingkungan Hidup (KLHS) Kabupaten Boyolali adalah untuk mengidentifikasi pengaruh rumusan Kebijakan, Rencana dan Program pembangunan terhadap lingkungan hidup dan kemudian mengintegrasikan temuan-temuan proses pelaksanaan KLHS sebagai analisis sistematis, menyeluruh, dan partisipatif yang menjadi dasar untuk mengintegrasikan tujuan pembangunan berkelanjutan ke dalam dokumen RPJMD sebagai pencapaian target TPB dan mengakomodir isu strategis TPB yang mencakup isu lingkungan hidup, ekonomi, sosial, serta hukum dan tata kelola. Proses dan hasil pelaksanaan KLHS akan memberi
kontribusi kepada materi Rencana Pembangunan melalui:
1. Penelaahan dan evaluasi pengaruh rumusan kebijakan dan rencana pembangunan terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan fungsi lingkungan hidup;
2. Pengintegrasian konsep-konsep pembangunan berkelanjutan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Boyolali;
3. Penyelenggaraan rangkaian forum dialog kelompok masyarakat Kabupaten Boyolali untuk mengidentifikasi kondisi dan permasalahan lingkungan serta alternatif pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
1.4. RUANG LINGKUP 1.4.1. Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah penyusunan dokumen KLHS RPJMD Kabupaten Boyolali adalah seluruh wilayah Kabupaten Boyolali.
1.4.2. Lingkup Materi
Lingkup materi Penyusunan KLHS RPJMD Kabupaten Boyolali adalah : 1) Pendahuluan, meliputi:
a. Latar belakang b. Dasar Hukum c. Maksud dan tujuan d. Ruang lingkup e. Sistematika penulisan 2) Dasar Teori
3) Kondisi Umum Daerah, meliputi : a. Kondisi geografis
b. Daya dukung dan daya tampung
c. Gambaran keuangan daerah dalam pencapaian indikator TPB d. Peran pemangku kepentingan dalam pencapaian TPB
4) Analisis Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, meliputi:
a. Kondisi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan b. Rekapitulasi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan c. Isu Strategis
5) Analisis Capaian Indikator TPB Pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) 6) Perumusan Alternatif Skenario dan Rekomendasi, meliputi:
a. Skenario TPB Tanpa Upaya Tambahan b. Skenario TPB Dengan Upaya Tambahan
c. Penentuan Permasalahan Dan Sasaran Strategis Daerah d. Rekomendasi Program
7) Penutup
1.5. SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN
Sistematika penulisan Laporan Induk dokumen KLHS RPJMD Kabupaten Boyolali mencakup 7 (tujuh) bab, yaitu:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang; dasar hukum; maksud dan tujuan; ruang lingkup dan sistematika pembuatan KLHS RPJMD Kabupaten Boyolali.
BAB II DASAR TEORI
Bab ini berisi tentang dasar teori yang digunakan dalam Penyusunan KLHS RPJMD Kabupaten Boyolali.
BAB III KONDISI UMUM DAERAH KABUPATEN BOYOLALI
Bab ini berisi tentang gambaran umum wilayah kondisi geografis, daya dukung dan daya tampung, gambaran keuangan daerah dalam pencapaian indikator TPB, dan peran pemangku kepentingan dalam pencapaian TPB.
BAB IV ANALISIS TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Bab ini berisi tentang kondisi pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan rekapitulasi pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan dan isu strategis daerah.
BAB V ANALISIS CAPAIAN INDIKATOR TPB PADA ORGANISASI PERANGKAT DAERAH (OPD) DAN LEMBAGA NON PEMERINTAH
Bab ini berisi tentang analisis capaian indikator tujuan pembangunan berkelanjutan pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Kinerja Keuangan dalam Pencapaian Indikator TPB.
BAB VI ALTERNATIF SKENARIO DAN REKOMENDASI
Bab ini berisi tentang skenario TPB tanpa upaya tambahan; skenario TPB dengan upaya tambahan; penentuan permasalahan dan sasaran strategis daerah;
penyusunan rekomendasi program dan persandingan indikator TPB, metadata 1 dan metadata 2.
BAB VII PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan yang dihasilkan dalam Penyusunan KLHS RPJMD Kabupaten Boyolali.
BAB II DASAR TEORI
2.1. PERKEMBANGAN FUNGSI DAERAH DAN PERKEMBANGAN AKTIVITAS WILAYAH A. Perkembangan Fungsi Daerah
Boyolali merupakan salah satu kabupaten yang terletak di lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Boyolali juga termasuk wilayah yang strategis dengan wilayah yang dilalui jalan yang menghubungkan Kota Solo dan Kota Semarang.
Perkembangan morfologi kota Boyolali tahun 1862 sampai dengan tahun 1944 awalnya merupakan sebuah daerah yang masuk kedalam wilayah Kasunanan Surakarta. Letak Boyolali sangat strategis karena berada diantara Surakarta dan Semarang yang terhubung oleh jalan Pos yang digunakan sebagai jalur perdagangan. Hal ini ditandai dengan pendirian Benteng Veldwechter di Boyolali pada tahun 1831 oleh Kolonial Belanda sebagai sarana pertahanan dan juga gudang penyimpanan barang dagang. Hasil-hasil perkebunan yang dikumpulkan di wilayah Kasunanan Surakarta kemudian dikirimkan melalui jalur darat melewati Boyolali, Salatiga, Ungaran, hingga pada akhirnya sampai ke pelabuhan di Semarang. Melihat nilai strategis Boyolali diantara jalur perdagangan Surakarta dan Semarang, Boyolali yang pada saat itu hanya terdapat benteng, kemudian berkembang menjadi sebuah kota.
Pada tahun 1862 sampai dengan 1944, Kota Boyolali mengalami perkembangan, dengan masa Pemerintahan Kolonial Belanda yang merupakan masa paling berperan dalam perkembangan Kota Boyolali. Hadirnya Pemerintah Kolonial Belanda untuk ikut mengatur jalannya pemerintahan di Kasunanan Surakarta merupakan keinginan untuk memperoleh keuntungan dari hasil perkebunan di tanah-tanah milik Kasunanan. untuk mendukung hal tersebut, Pemerintah Kolonial kemudian membangun fasilitas jaringan jalan, rel trem, perkantoran, sekolah, pasar, gudang, dan lainnya yang kemudian merubah kondisi morfologi kota Boyolali. Faktor-faktor yang menyebabkan perkembangan morfologi kota Boyolali yaitu faktor politik, ekonomi, sosial, dan lingkungan.
B. Perkembangan Aktivitas Wilayah
Pengembangan wilayah Kabupaten Boyolali bertujuan untuk mewujudkan pemerataan pembangunan yang terintegrasi di seluruh wilayah kabupaten yang berbasis pertanian dan pengembangan aneka industri yang berwawasan lingkungan. Sistem Perkotaan dalam struktur ruang didesign meliputi pusat kegiatan dan fungsi pengembangan yang sudah dispesifikkan, diantaranya:
a. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) yang berada di Kecamatan Boyolali merupakan pusat kegiatan skala wilayah yang melayani sampai beberapa daerah di sekitarnya yang memiliki fungsi sebagai kawasan pusat pemerintahan, perdagangan dan jasa, pendidikan, kesehatan, dan peribadatan;
b. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang berada di Kecamatan Ampel merupakan pusat kegiatan skala lokal regional daerah yang memiliki fungsi sebagai kawasan perdagangan dan jasa, industri, perekonomian untuk skala regional, pendidikan, kesehatan dan peribadatan;
c. Pusat Pengembangan Kawasan (PPK) meliputi beberapa Kecamatan di Kabupaten Boyolali, diantaranya Kecamatan Ngemplak, Mojosongo, Banyudono, Karanggede, Simo, Teras, dan Sambi. PPK memiliki fungsi sebagai kawasan pusat pelayanan skala antar kecamatan yaitu fasilitas pendidikan, kesehatan, peribadatan, perdagangan dan jasa, dan perekonomian skala lokal.
d. Rencana Pengembangan Pusat Pemerintahan Kecamatan Baru meliputi beberapa kecamatan, yakni Kecamatan Ampel, Musuk, Wonosegoro, dan Juwangi.
Sedangkan rencana pengembangan sistem perdesaan dilakukan dengan membentuk PPL.
Pengembangan PPL di Kabupaten Boyolali meliputi Kecamatan Selo, Cepogo, Musuk, Sawit, Nogosari, Klego, Andong, Kemusu, Wonosegoro, dan Juwangi.
Pola perencanaan pengembangan wilayah Kabupaten Boyolali terpusat di wilayah selatan, atau di wilayah perkotaan yang merupakan pusat administrasi Kabupaten Boyolali, sehingga memang berkembang dengan pesat. Selain itu daerah selatan Kabupaten Boyolali juga dilalui oleh jalur tol sehingga memang perkembangan daerahnya terjadi lebih cepat. Selain keberadaan jalur tol dan pusat administrasi kabupaten, wilayah selatan Kabupaten Boyolali atau lebih tepatnya di Kecamatan Ngemplak, terdapat Bandara Adi Soemarmo, walaupun secara kewenangan bukan kewenangan kabupaten, namun sarana prasarana pendukung yang terbangun di sekitar bandara menjadi potensi pengembangan wilayah yang cukup potensial untuk Kabupaten Boyolali.
Pengertian tentang wilayah telah didefinisikan oleh para ahli perencanaan wilayah. Glasson 1974) dalam Kasikoen (2005: 31) wilayah merupakan area kontinu yang terletak antara tingkat lokal dan tingkat nasional. Muta’ali (2011:2) menyatakan bahwa pengertian wilayah pada dasarnya bukan sekedar area dengan batas-batas tertentu, menurutnya wilayah adalah suatu area yang memiliki arti (meaningful) karena adanya masalah-masalah yang ada di dalamnya sedemikian rupa, sehingga ahli regional memiliki ketertarikan di dalam menangani permasalahan tersebut, khususnya karena menyangkut permasalahan sosial-ekonomi.
Daldjoeni (1998: 71) berpendapat bahwa perkembangan adalah proses perubahan ke arah yang lebih berkualitas, sikap, pola, pikiran maupun kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik.
Perkembangan pada dasarnya merupakan upaya yang terencana dalam upaya mencapai keadaan yang lebih baik. (Matondang, 2018:18) Perkembangan merupakan salah satu aspek penting dalam pelaksanaan pembangunan yang juga menjadi perwujudan dari pemanfaatan potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Myrdal (1957) dalam Arsyad (1999:129) tentang spread effect dan backwash effect menyatakan bahwa jika suatu wilayah mengalami perkembangan maka perkembangan itu akan membawa peran atau imbas pada daerah lainnya. Perkembangan wilayah merupakan upaya pembangunan pada suatu wilayah untuk mencapai pembangunan yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan berbagai sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya kelembagaan, sumber daya teknologi dan prasarana fisik secara efektif (Rahayu & Santoso, 2014:1).
Perkembangan wilayah merupakan salah satu aspek penting dalam pelaksanaan pembangunan yang juga menjadi perwujudan dari pemanfaatan potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Matondang, 2018: 19).
Tingkat perkembangan wilayah umumnya terjadi karena adanya beberapa faktor, yaitu karakteristik fisik wilayah (topografi, kesuburan, aksesibilitas) sumber daya alam, sumber daya manusia serta kebijakan pengelolahan wilayah daerah tersebut. Hirscman & Albert.O dalam Muta’ali (2011: 93) mengemukakan konsep unbalance growth, bahwa perkembangan wilayah tidak harus terjadi secara bersamaan secara serentak disegenap pelosok wilayah. Pencapai nilai efisien dan efektif maka prioritas pembangunan harus diberikan pada tempat-tempat yang memiliki potensi, ini dikenal sebagai kutub pertumbuhan (growing points). Titik-titik pertumbuhan tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan di wilayah lain yang keterjangkauannya relatif kecil (hinterland), tetapi pada kenyataannya justru menambah kesenjangan antar wilayah. Wilayah dianggap lebih maju dibanding dengan wilayah lain dapat ditinjau dari berbagai indikator, Hill (1990) dalam Wilonoyudho (2009: 3) menyatakan bahwa perkembangan suatu wilayah dapat dilihat dari indikator yang bersifat statis seperti Indeks Pembangunan Manusia (Human Development index). Tingkat perkembangan regional seperti yang dikemukakan BPS (2011) dalam Muta’ali (2015: 94) dalam penyusunan Indeks Pembangunan Regional (IPR) untuk menggambarkan rating pembangunan daerah memiliki dimensi pengukuran yang lebih lengkap, yaitu:
a. Ekonomi, meliputi komponen : pendapatan dan urbanisasi (daya beli, pendapatan per kapita), ketenagakerjaan (pekerja formal, fulltime dengan upah di atas UMP), serta kemampuan ekonomi dan investasi (pembentukan modal, kontribusi sektor terhadap PDRB).
b. Sosial, meliputi komponen: pendidikan (rata-rata lama sekolah, angka melek huruf, angka partisipasi sekolah, penduduk yang tamat PT), kesehatan (angka harapan hidup, penduduk tidak sakit, balita imunisasi), kependudukan (pertumbuhan penduduk, rasio ketergantungan, angka kelahiran), dan sosial lainnya (keamanan, penduduk bukan korban kejahatan, penduduk tidak miskin).
c. Infrastruktur pelayanan publik meliputi: rasio murid di SD, SMP, SMA, rasio dokter terhadap penduduk, penduduk berobat ke RS dan dokter, rasio bank, sawah irigasi dan panjang jalan aspal
d. Lingkungan hidup: pencemaran udara, pencemaran air/tanah, akses air minum bersih, akses sanitasi layak.
e. Informasi meliputi: akses internet, penduduk mendengarkan radio, menonton tv, rasio kantorpos, telepon selular.
Pendapat lain mengenai tingkat perkembangan wilayah juga dikemukakan oleh (Mali, Gantar
& Kerbler, 2010: 2) beliau berpendapat konsep demografi adalah tolak ukur pada penentuan perkembangan wilayah, wilayah yang dikategorikan sebagai wilayah yang maju dan berkembang memiliki jumlah penduduk yang relatif stabil dari tahun ke tahun, karena angka migrasi penduduk yang rendah. Salah satu strategi untuk mengurangi ketimpangan pengembangan wilayah adalah dengan mengembangkan wilayah tertentu menjadi pusat pertumbuhan (growth pole) secara menyebar (Rahayu & Santoso, 2014:1).
C. Hirarki Wilayah dan Pusat Pelayanan
Pendekatan spasial telah diusulkan dalam teori kutub pertumbuhan atau pusat pertumbuhan (Higgins, 1983) dalam pendekatan ini pembangunan daerah harus dirancang sedemikian sehingga interkonektifitas antar pusat pertumbuhan dan daerah pinggiran akan berkembang secara bersamaan, seperti halnya hubungan antar perkotaan dan perdesaan (Putra & Rustiadi, 2015: 2).
Hirarki wilayah dan pusat pelayanan pada dasarnya mengacu pada teori pusat pelayanan (center
place theory) yang disampaikan oleh Cristaller-Losch dalam (Muta’ali 2015:168) beliau berpendapat ada dua konsep pokok yang mendasari teori pusat pelayanan, yaitu:
a. The range of good, yaitu jarak tempuh yang dapat ditolerir oleh suatu barang dan pelayanan terentu. Jarak dipengaruhi juga oleh jenis, kualitas dan harga barang atau pelayanan yang ditawarkan.
b. The threshold value yaitu jumlah penduduk atau sumberdaya yang dibutuhkan untuk pemenuhan permintaan barang dan pelayanan. The threshold value juga ditentukan dari banyaknya jumlah, jenis barang serta pelayanan yang ditawarkan pada wilayah pusat.
Beberapa indikator yang dipakai dalam penentuan daerah pusat pertumbuhan yang dikemukakan oleh (Muta’ali, 2013:107).
a. Identifikasi potensi sektor atau komoditas unggulan b. Ketersediaan sarana-prasarana (pelayanan publik) c. Analisis demografi, pertumbuhan, kepadatan penduduk
d. Kelembagaan masyarakat maupun pemerintah (lembaga ekonomi, sosial dan kemasyarakatan) e. Aksesibilitas dan kemudahan ketercapaian lokasi yang terkait dengan sarana dan prasarana.
f. Bebas dari ancaman bencana, baik bencana alam maupun non alam.
Wilayah yang banyak memiliki fasilitas dan kemudahan menjadi pusat daya tarik (pole of attraction) yang menyebabkan berbagai macam usaha tertarik untuk berlokasi dan memanfaatkan fasilitas yang ada di wilayah tersebut, sehingga tersebut dapat dikategorikan sebagai pusat pelayanan dan pertumbuhan (Matondang, 2018:29). (Hardati, 2016: 4) berpendapat bahwa tingkat perkembangan wilayah seharusnya diikuti dengan bertambahnya jumlah fasilitas pendukung, dengan kata lain fasilitas pendukung adalah salah satu tolak ukur wilayah tersebut dikatakan sebagai wilayah yang berkembang, hal ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang ketersediaan fasilitas yang ada di suatu wilayah sehingga dapat ditentukan hirarki wilayah dan pusat pertumbuhan.
Kajian pusat pertumbuhan wilayah dapat dijadikan sebagai strategi pengembangan wilayah dengan tujuan pemerataan kesejahteraan dengan menentukan wilayah yang menjadi pusat kegiatan sosial dan ekonomi serta pelayanan publik yang dapat mempengaruhi wilayahnya untuk berkembang. Perekonomian merupakan inti dari pemusatan pertumbuhan pada suatu wilayah, seperti halnya perindustrian akan cenderung untuk mengelompok pada lokasi tertentu, keberadaan industri akan mempengaruhi pasar dan hal itu juga akan berpengaruh pada sumber utama pendapatan wilayah (Menghinello, Propris & Driffield, 2010: 2).
Wilayah-wilayah yang lebih berkembang pada dasarnya mempunyai tingkat interaksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lain yang belum berkembang, interaksi itu sendiri karena adanya aksesibilitas antar wilayah lain (Matondang, 2018:19). Faktor lain yang mendorong perkembangan wilayah adalah kedekatan lokasi atau suatu wilayah dengan pusat ekonomi dan pemerintahan umumnya akan lebih terdorong untuk berkembang, wilayah dengan lokasi strategis akan berpotensi menjadi penyangga bagi wilayah pusat (Muta’ali, 2015: 194).
D. Identifikasi Tipologi Wilayah Sistem Perkotaan
Tipologi adalah ilmu yang mempelajari tentang pengelompokan berdasarkan tipe dan jenis.
Penentuan tipologi wilayah digunakan untuk menyederhanakan data time series dengan membuat penggolongan wilayah yang didasarkan pada kriteria dan indikator tertentu. Pengklasifikasian wilayah perkotaan dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang, tetapi pada dasarnya perkotaan
dapat diklasifikasikan dengan menggunakan tiga aspek, aspek fisik, sosial dan ekonomi. (Putra &
Rustiadi, 2015: 3) dalam upaya pengklasifikasian wilayah dalam penentuan wilayah unggul harus didasarkan pada keunggulan dan komparatif dan kapasitas dari masing-masing daerah. Salah satu strategi untuk mengurangi ketimpangan pengembangan wilayah adalah dengan mengembangkan wilayah tertentu menjadi pusat pertumbuhan (growth pole) secara menyebar (Rahayu & Santoso, 2014:1).
1) Klasifikasi kota secara fisik merupakan area terbangun dengan intensitas yang tinggi, yang terus menurun menjauhi wilayah pusat kotanya. Hal ini seperti dinyatakan Branch (1995) dalam Kasikoen (2005:32), berpendapat bahwa kota adalah komunitas secara fisik, merupakan area-area terbangun di perkotaan yang terletak saling berdekatan, yang meluas hingga ke daerah pinggiran kota.
2) Klasifikasi kota secara sosial dapat dilihat dari aspek demografi (Febriyanti & Ariastita, 2013:2), yaitu jumlah kepadatan penduduk serta ketersediaan fasilitas bagi masyarakat, seperti ketersediaan sarana kesehatan dan sarana pendidikan bagi masyarakat.
3) Klasifikasi kota secara ekonomi dilihat dari aspek perekonomian masyarakat, seperti penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat. Aspek ekonomi yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu banyaknya jumlah industri yang ada, mulai dari industri kecil, sedang dan industri besar.
Penentuan wilayah perkotaan juga dikatakan oleh Fiedmann & Miller (1965) dalam Muta’ali (2011:295) konsep wilayah perkotaan (urban field). Pengertian urban field adalah daerah yang meliputi terutama ruang hidup atau daerah kegiatan penduduk. Urban field dapat digambarkan sebagai wilayah yang luas dengan banyak pusat yang mempunyai kepadatan tinggi dan memiliki artikulasi jaringan yang halus dari kaitan ekonomi dan sosial. Banyak negara menggunakan definisi perkotaan yang berbeda-beda (Muta’ali 2011: 295) menyebutkan bahwa pada dasarnya wilayah perkotaan memiliki 3 unsur kriteria yang umum, yaitu:
1) Ada ambang jumlah penduduk minimum yang bisa dimasukkan ke dalam wilayah perkotaan.
2) Skala geografis yang cukup luas untuk mendapatkan wilayah perkotaan yang terbangun, dan cukup kecil menjaga nilai minimum kepadatan penduduk.
3) Daerah dimana pekerja ditarik ke inti perkotaan. United Nations (1979: 13) penentuan wilayah kota harus ada beberapa fasilitas yang tersedia diantaranya adalah fasilitas pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, olah raga, keagamaan, rekreasi, kebudayaan, administrasi, keamanan, komersial, keuangan, pertanian, peternakan, industri, transportasi, pos, telekomunikasi, perumahan, drainase, listrik serta jalan.
2.2. TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
2.2.1. Konsep dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
1. Konsep Pembangunan Berkelanjutan dan Perbedaan dengan Pembangunan Sebelumnya
Selama ini, pembangunan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) menjadi fokus utama dan ukuran pencapaian dari keberhasilan pembangunan di semua negara. Dampak terhadap lingkungan tidak diperhitungkan dan dibiarkan menjadi tanggung jawab masyarakat yang menjadi korban baik langsung terhadap hidupnya, maupun tidak langsung karena kegiatan ekonominya menurun karena lahan dan airnya terkena polusi. Perkiraan terhadap dampak lingkungan juga perlu menjadi
“pemahaman” pada setiap manusia Indonesia, dan menerapkannya tidak hanya dalam perilaku ekonomi namun juga perilaku sosial. Selama ini, dampak lingkungan ditanggung atau menjadi
beban masyarakat, bukan menjadi beban biaya pelaku ekonomi dan bukan menjadi kebiasaan dan perilaku sosial masyarakat Indonesia. Saat ini pandangan dan perilaku ini harus diubah. Setiap tindakan harus memperkirakan dan memperhitungkan dampak dari tindakan terhadap kesehatan dan kelestarian lingkungan hidup. Langkah ini sering disebut dengan “internalisasi” dampak lingkungan ke dalam kegiatan ekonomi dan kegiatan sosial sebagaimana yang terlihat pada gambar berikut.
Gambar 2. 1 Tiga Pilar Pembangunan Berkelanjutan dan Internalisasi Aspek Lingkungan ke dalam Pilar Sosial dan Pilar Ekonomi
Internalisasi dampak terhadap lingkungan atas setiap kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat adalah satu-satunya cara mengendalikan dampak setiap kegiatan ekonomi terhadap kesehatan manusia dan kesehatan lingkungan hidup. Internalisasi dampak terhadap lingkungan ini juga perlu dilakukan terhadap pilar sosial baik di bidang kesehatan, pendidikan secara luas, kependudukan serta perumahan. Selain itu, pembangunan pilar lingkungan hidup juga sangat penting disetarakan dengan kedua pilar lainnya, tidak hanya karena adanya dampak tersebut di atas, namun yang lebih penting lagi karena lingkungan hidup merupakan “pembatas” seluruh kegiatan sosial, ekonomi dan pemanfaatan lestari lingkungan hidup itu sendiri. Buruknya pengelolaan lingkungan hidup dan tidak “dikendalikannya” dampak berbagai kegiatan ekonomi, sosial dan pengelolaan lingkungan hidup akan menentukan seberapa “umur” kehidupan manusia dan makhluk hidup di planet ini.
Beberapa perbedaan pembangunan berkelanjutan dengan cara pembangunan sebelumnya:
Secara makro. PDB (Produk Domestik Bruto) yang selama ini merupakan prestasi untuk menghasilkan pertumbuhan dan pendapatan moneter untuk kesejahteraan hidup masyarakat, sudah tidak memadai karena: (i) Tidak memperhitungkan kerusakan alam yang telah mengurangi dan bahkan meniadakan akses masyarakat setempat terhadap alam, untuk kegiatan hidupnya. Kegiatan ekonomi tidak memperhitungkan dampak polusi bagi masyarakat sekitar, dengan kata lain dampak polusi yang merugikan masyarakat (penyakit akibat polusi, kerusakan generasi muda yang terkena polusi), tidak diperhitungkan pada “cara berproduksi, bahan yang digunakan dan nilai dampak yang ditanggung” ke dalam cara memproduksi barang tersebut. Secara makro kerusakan dan penurunan sumber daya alam ini sering dihitung dalam bentuk deplesi, yang tidak dinilai. Selama ini seolah-olah PDB terus tumbuh, namun pada saat yang sama deplesi sumber daya alam juga besar, serta dampak polusi terhadap manusia dan lingkungan hidup serta keanekaragaman hayati juga besar. Maka nilai PDB ini seharusnya
dikurangi dengan nilai dampak sosial dan lingkungan sekitarnya; (ii) Tidak memperhitungkan nilai “pendapatan” masyarakat sekitar yang tidak terhitung dalam GDP, karena mereka mengkonsumsi bahan-bahan dari alam (buah dan sayur yang dipetik dari kebun dan hutan;
kayu bakar dari hutan, hewan yang ditangkap, ikan yang ditangkap dari sungai).
Secara mikro, proses produksi yang selama ini tidak menggunakan teknologi yang efisien, bersih dan bahan yang ramah lingkungan, sudah harus berubah. Teknologi yang tidak efisien dalam penggunaan sumber daya cenderung memboroskan penggunaan sumber daya yang seharusnya bisa: (i) Menghasilkan output yang lebih banyak; atau (ii) Dapat menghasilkan ouput yang kita butuhkan untuk waktu yang lebih lama; (iii) Menghasilkan output dengan limbah yang lebih sedikit, sehingga menimbulkan beban dan kerusakan yang minimal. Demikian pula, dengan penggunaan bahan yang ramah lingkungan, maka kita dapat menikmati output tanpa meninggalkan limbah yang merusak, atau meninggalkan limbah yang merusak dalam jumlah minimal, pada tingkat yang dapat diserap dan diolah kembali oleh alam, sehingga lingkungan dapat tetap berfungsi menopang kehidupan.
Secara lebih transformatif, pembangunan sebelumnya menganggap bahwa penggunaan alam dan sumber daya yang ada di dalamnya dapat terus menerus, karena akan ada teknologi baru yang membantu mengatasi keterbatasan. Dengan demikian, meskipun kebutuhan hidup semakin berkembang selaras dengan bertambahnya populasi, maka alam dan sumber daya di dalamnya masih digunakan seolah-olah tanpa batas. Pembangunan berkelanjutan mensyaratkan dan mengharuskan “cara pandang” yang sangat berbeda, karena sumber daya dan alam memiliki batas dan menjadi pembatas kehidupan di dunia. Bahwa dengan berkembangnya populasi manusia dan penggunaan alam dan isinya, pada saat ini sudah sampai pada titik di mana alam memiliki batas, atau dikenal dengan planetary boundary.
2. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals)
Tujuan Pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) diuraikan sebagai berikut:
Visi dan Prinsip-prinsip Utama SDGs
Komitmen terhadap SDGs memperkuat komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) atau dikenal pula sebagai MDGs plus, serta berlandaskan Agenda 21 yang menekankan pada Visi dan Konsep Pembangunan Berkelanjutan. Adapun SDGs menekankan pada Visi Bersama (Shared Visions) sebagai berikut:
- Komprehensif: berlandaskan pada tiga pilar, yaitu Pilar Ekonomi, Sosial dan Lingkungan serta Pilar Tata Kelola (Governance);
- Tematik: terdiri dari 17 Tujuan (Goals);
- Holistik dan terintegrasi: ke 17 Tujuan tidak berdiri sendiri, namun saling terkait dan terintengrasi;
- Inklusif: tidak ada satu pihakpun yang tertinggal (no one left behind);
- Kolaborasi (partnership): membutuhkan kerjasama yang erat dari seluruh pemangku kepentingan: pemerintah, dunia usaha, LSM, universitas dan masyarakat;
Adapun komponen utama dari SDGs adalah:
- Pembangunan manusia utamanya terdiri dari pendidikan, kesehatan dan kesetaraan gender ;
- Pengentasan kemiskinan, menghilangkan kelaparan dan pengurangan kesenjangan;
- Perlindungan sosial dan perhatian terhadap kaum marjinal;
- Pembangunan ekonomi yang inklusif dan penciptaan kesempatan kerja yang layak;
- Infrastruktur yang berkelanjutan;
- Hunian dan perkotaan yang berkelanjutan;
- Energi yang berkelanjutan;
- Pengelolaan dan pemanfaatan yang berkelanjutan dari sumber daya alam, keanekaragaman hayati dimana perlindungan ekosistem merupakan bagian yang tidak terpisahkan;
- Mempertimbangkan perbedaan kondisi, kapasitas dan prioritas masing-masing negara;
- Rumusan cara pencapaian dan kerjasama Pembangunan global;
Dalam Dokumen Hasil Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (UN Outcome Document on Sustainable Development Goals), inti sari SDGs dideskripsikan sebagai:
“Alongside continuing development priorities such as poverty eradication, health, education and food security and nutrition, it sets out a wide range of economic, social and environmental objectives. It also promises more peaceful and inclusive societies. It also, crucially defines means of implementation”
Dalam dokumen tersebut dapat dilihat bahwa SDGs merupakan komitmen bersama yang jauh lebih komprehensif bila dibandingkan MDGs. Tujuan yang ditekankan tidak hanya pada outcome dari pembangunan yang berakhir pada peningkatan kesejahteraan saja, tetapi aspek keadilan, inklusivitas serta cara dalam percapaian tujuan juga merupakan hal yang ditekankan.
Penekanan dari SDGs mencakup pada pemenuhan Hak Asasi Manusia, non-diskriminasi, perhatian terhadap kaum marjinal dan difabel, pentingnya partisipasi dan kolaborasi semua pemangku kepentingan Pembangunan (pemerintah, dunia usaha, LSM, perguruan tinggi dan masyarakat). Target yang disepakati dalam SDGs merupakan target yang lebih ambisius bila dibandingkan dengan target MDGs. Sebagai contoh, target kemiskinan MDGs hanya berupa pengurangan jumlah kemiskinan, sedang dalam SDGs target yang ingin dicapai sampai pada menghilangkan kemiskinan dalam segala bentuknya.
Kerjasama pembangunan global yang diusung oleh SDGs tidak hanya pada tataran lokal dan nasional, namun juga pada ruang yang lebih luas dimana bagi kerjasama global tidak hanya kerjasama antar pemerintah namun dengan pemangku kepentingan lainnya juga. Mekanisme kerjasama pembangunan global ini yang dapat dilakukan adalah hal pendanaan, peningkatan kapasitas, SDM, alih teknologi serta akses pasar.
Tujuan/Goals
SDGs hasil Deklarasi berisi 17 (tujuh belas) goals, jumlah goal yang banyak apabila dibandingkan dengan MDGs yang hanya 8 (delapan) goals. 17 Goals Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) sebagai berikut :
1) Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk dimanapun
2) Menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik, serta meningkatkan pertanian berkelanjutan
3) Menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk semua usia
4) Menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua
5) Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum Perempuan