BAB IV ANALISIS TUJUAN PEMBANGUNAN
4.3. ISU STRATEGIS DAERAH
Isu strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal 11 Permendagri No 7 Tahun 2018 berupa rumusan isu utama dalam pencapaian tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Isu strategis dirumuskan dari hasil pengkajian capaian indikator tujuan pembangunan berkelanjutan dengan target yang merupakan indikator dengan kriteria:
1. Indikator tidak tercapai
Indikator TPB yang sudah dilaksanakan tetapi belum mencapai target nasional (SBT).
Indikator TPB tidak ada target daerah dan belum tercapai (TBC).
Indikator TPB yang tidak/belum ada data (TAD).
2. Indikator tercapai namun mengalami tekanan DDDTLH
Indikator TPB yang sudah dilaksanakan dan sudah mencapai target nasional (SST).
3. Isu lintas, yang ditemukan pada beberapa dokumen perencanaan lain (Evaluasi RPJP, RPJPD lama, isu RPJMD lama, RTRW, IKPLHD)
Adapun indikator yang memiliki karakteristik kesamaan isu pada kelompok isu strategis TPB selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
TABEL IV. 5 ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BERDASARKAN PENGELOMPOKAN ISU KABUPATEN BOYOLALI
No Karakteristik Kesamaan Isu Keterkaitan dengan dokumen lain dan Konsultasi Publik Kelompok
Isu Strategis 1 TPB 2, TPB 8, TPB 9, TPB 10
8.1.1* Laju pertumbuhan PDB per kapita.
8.3.1* Proporsi lapangan kerja informal sektor non-pertanian
8.3.1.(a) Persentase tenaga kerja formal.
8.3.1.(b) Tenaga kerja informal sektor pertanian
8.3.1.(c) Persentase akses UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) ke layanan keuangan.
8.5.2* Tingkat pengangguran terbuka
8.5.2.(a) Tingkat setengah pengangguran.
8.6.1* Persentase usia muda (15-24 tahun) yang sedang tidak sekolah, bekerja atau mengikuti pelatihan (NEET).
8.9.1* Kontribusi pariwisata terhadap PDB
8.9.1.(c) Jumlah devisa sektor pariwisata.
8.9.2* pekerja pada industri pariwisata
8.10.1.(a) Jarak lembaga keuangan
8.10.1.(b) Proporsi kredit UMKM terhadap total kredit.
9.2.2* Proporsi tenaga kerja pada sektor industri manufaktur.
9.3.1* nilai tambah industri kecil
9.3.2* Proporsi industri kecil dengan pinjaman atau kredit.
10.1.1* Koefisien Gini
10.1.1.(d) Jumlah Desa Mandiri.
10.2.1* Penduduk hidup di bawah 50% median pendapatan
Isu RPJP (2005-2025)
Belum optimalnya peningkatan pendapatan asli daerah
Masih rendahnya pertumbuhan ekonomi dan pengembangan usaha ekonomi rakyat
Masih cukup tingginya jumlah pencari kerja dan pengangguran terbuka
Masih rendahnya upaya pemberdayaan masyarakat dalam penurunan angka kemiskinan
Isu Strategis RPJMD (2021-2026)
Pertumbuhan Ekonomi dan Iklim Investasi yang Berwawasan Lingkungan
Penanggulangan Kemiskinan dan Kesenjangan Revisi RTRW (2011-2031)
Pengembangan Kawasan Pariwisata
Pengembangan Kawasan Peruntukan Industri Isu RPJPN
Kontribusi UMKM dan koperasi kecil
Pariwisata di bawah potensinya
Deindustrialisasi dini
Perlunya
peningkatan daya saing daerah
2 TPB 3, TPB 16
3.4.2* Angka kematian akibat bunuh diri.
3.5.1.(e) Prevalensi penyalahgunaan narkoba.
3.5.2* Konsumsi alkohol.
16.1.1.(a) Jumlah kasus kejahatan pembunuhan
16.2.3.(a) Proporsi perempuan dan laki-laki yang mengalami kekerasan seksual
Isu RPJP (2005-2025)
Masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dari aspek pendidikan dan kesehatan
Perlunya upaya peningkatan keamanan dan ketertiban
3 TPB 6, TPB 7, TPB 11, TPB 12, TPB 15
1.4.1.(d) Akses air minum layak
6.1.1.(a) Akses air minum layak
6.1.1.(b) Kapasitas prasarana air baku
6.1.1.(c) Akses air minum aman dan berkelanjutan
6.3.2.(a) Kualitas air danau.
6.3.2.(b) Kualitas air sungai
6.4.1.(b) Insentif penghematan air pertanian/perkebunan dan industri
6.5.1.(a) RPDAST yang diinternalisasi ke dalam RTRW
6.5.1.(c) jaringan informasi sumber daya air
6.5.1.(g) penataan kelembagaan sumber daya air
6.5.1.(f) wilayah sungai yang memiliki partisipasi masyarakat dalam pengelolaan daerah tangkapan sungai dan danau
12.6.1.(a) perusahaan yang menerapkan sertifikasi SNI ISO 14001
12.7.1.(a) produk ramah lingkungan
Isu RPJP (2005-2025)
Belum optimalnya infrastruktur dan pemanfaatan IPTEK dalam pengembangan industri dan jasa
Kurang terintegrasinya pengelolaan sumber daya alam, lingkungan hidup, dan penanggulangan bencana guna mendukung pembangunan berkelanjutan
Isu Strategis RPJMD (2021-2026)
Peningkatan Infrastruktur Dasar yang Berkelanjutan IKPLHD 2022
Kualitas dan kuantitas air Isu RPPLH
Penurunan Ketersediaan Air Bersih Isu KLHS RPJPN
Polusi dan kerusakan lingkungan Isu RPJPN
Penurunan Ketersediaan dan kualitas Air
No Karakteristik Kesamaan Isu Keterkaitan dengan dokumen lain dan Konsultasi Publik Kelompok Isu Strategis
Pembangunan belum terbarukan
Infrastruktur dan literasi digital rendah 4 TPB 5, TPB 16
5.2.1.(a) kekerasan terhadap anak perempuan
5.5.2* perempuan yang berada di posisi managerial
5.6.1* Proporsi perempuan umur 15-49 tahun yang membuat keputusan sendiri terkait hubungan seksual, penggunaan kontrasepsi, dan layanan kesehatan reproduksi.
16.7.1.(a) keterwakilan perempuan di DPR dan DPRD
Isu Strategis RPJMD (2021-2026)
Pembangunan SDM yang Inklusif dan Berdaya Saing
Perlunya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
5 TPB 1, TPB 2, TPB 3, TPB 5
1.3.1.(a) jaminan kesehatan
1.4.1.(a) Persentase perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun
1.4.1.(b) anak yang menerima imunisasi lengkap.
1.4.1.(c) penggunaan metode kontrasepsi (CPR)
2.1.1.(a) Kekurangan gizi
2.1.2.(a) asupan kalori minimum di bawah 1400 kkal/kapita/hari
2.2.1* Ketidakcukupan Konsumsi Pangan
2.2.2* Malnutrisi
2.2.2.(a) Anemia pada ibu hamil
3.1.1* AKI
3.1.2* Proporsi perempuan yang melahirkan ditolong tenaga kesehatan terlatih.
3.2.1* AKBa
3.2.2* Angka Kematian Neonatal (AKN)
3.2.2.(a) AKB
3.2.2.(b) imunisasi dasar lengkap pada bayi.
3.3.5* Filariasis dan Kusta
3.4.1.(a) merokok pada umur ≤18 tahun
3.4.1.(b) Prevalensi tekanan darah tinggi.
3.4.1.(c) Prevalensi obesitas pada penduduk umur ≥18 tahun.
3.7.1* perempuan KB dan menggunakan alat kontrasepsi metode modern
3.7.1.(a) penggunaan metode kontrasepsi (CPR)
3.7.1.(b) penggunaan MKJP
3.7.2* Angka kelahiran pada perempuan umur 15-19 tahun (Age Specific Fertility Rate/ASFR).
3.8.1.(a) Unmet need pelayanan kesehatan.
3.a.1* merokok pada umur ≥15 tahun
5.3.1* perempuan berstatus kawin sebelum umur 15 tahun dan sebelum umur 18 tahun.
5.6.1.(a) Unmet need KB
2.2.1.(a) Prevalensi stunting (pendek dan sangat pendek) pada anak baduta.
2.2.2.(b) bayi usia kurang dari 6 bulan ASI eksklusif.
Isu RPJP (2005-2025)
Masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dari aspek pendidikan dan kesehatan
Isu Strategis RPJMD (2021-2026)
Pembangunan SDM yang Inklusif dan Berdaya Saing Isu RPJPN
Kualitas SDM yang semakin rendah
Masih perlunya upaya peningkatan kualitas dan pelayanan kesehatan
6 TPB 1, TPB 6, TPB 11, TPB 12
1.4.1.(e) akses layanan sanitasi layak dan berkelanjutan.
6.2.1.(f) rumah tangga yang terlayani sistem pengelolaan air limbah terpusat
Isu Strategis RPJMD (2021-2026)
Peningkatan Infrastruktur Dasar yang Berkelanjutan IKPLHD 2022
Perlunya peningkatan pengelolaan limbah
No Karakteristik Kesamaan Isu Keterkaitan dengan dokumen lain dan Konsultasi Publik Kelompok Isu Strategis
6.2.1.(b) akses layanan sanitasi layak
6.2.1.(c) kelurahan yang melaksanakan STBM
6.2.1.(d) kelurahan ODF/SBS
6.2.1.(e) infrastruktur air limbah dengan sistem terpusat skala kota, kawasan dan komunal.
6.3.1.(a) pengelolaan lumpur tinja dan pembangunan IPLT
6.3.1.(b) rumah tangga yang terlayani sistem pengelolaan lumpur tinja
12.4.2.(a) limbah B3
Kualitas dan kuantitas air Isu KLHS RPJPN
Polusi dan kerusakan lingkungan Isu RPJPN
Infrastruktur dan literasi digital rendah
domestik dan non domestik
7 TPB 1, TPB 4
1.4.1.(g) APM SD/MI/sederajat
4.1.1* anak-anak dan remaja yang mencapai standar kemampuan minimum
4.1.1.(d) Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/sederajat.
4.5.1* APM di SD, SMP, SMA dan APK di Perguruan Tinggi.
Isu RPJP (2005-2025)
Masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dari aspek pendidikan dan kesehatan
Isu Strategis RPJMD (2021-2026)
Pembangunan SDM yang Inklusif dan Berdaya Saing Revisi RTRW (2011-2031)
Inklusif dan berdaya saing Isu RPJPN
Kualitas SDM yang semakin rendah
Masih perlunya pemerataan pelayanan pendidikan
8 TPB 1, TPB 11, TPB 13
1.5.1.(a) Lokasi pengurangan resiko bencana
1.5.1.(d) Pendidikan layanan khusus bencana
1.5.1.(e) Indeks risiko bencana
1.5.2.(a) Kerugian akibat bencana
1.5.3* Dokumen strategi PRB
11.5.1.(a) IRBI
11.5.2.(a) Kerugian akibat bencana
11.b.2* Dokumen strategi PRB
13.1.1* Dokumen strategi PRB
1.5.1* Korban bencana
1.5.1.(b) Kebutuhan dasar korban bencana
1.5.1.(c) Pendampingan psikososial korban bencana
11.5.1* Korban bencana
13.1.2* Korban bencana
Isu RPJP (2005-2025)
Kurang terintegrasinya pengelolaan sumber daya alam, lingkungan hidup, dan penanggulangan bencana guna mendukung pembangunan berkelanjutan
Isu Strategis RPJMD (2021-2026)
Penanganan Bencana Alam dan Non Alam Isu KLHS RPJPN
Perubahan Iklim
Masih perlunya upaya
pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana
9 TPB 16, TPB 17
17.18.1.(a) Persentase konsumen BPS yang merasa puas dengan kualitas data statistik.
17.18.1.(c) Jumlah metadata kegiatan statistik dasar, sektoral, dan khusus yang terdapat dalam Sistem Informasi Rujukan Statistik (SIRuSa).
16.9.1.(a) Persentase kepemilikan akta lahir untuk penduduk 40% berpendapatan bawah.
Isu Strategis RPJMD (2021-2026)
Inovasi dan Teknologi Informatika
Perlunya peningkatan kualitas dan pelayanan data statistik daerah
10 TPB 1, TPB 9, TPB 16, TPB 17
1.a.1* sumber daya yang dialokasikan untuk program pemberantasan kemiskinan.
1.a.2* Pengeluaran untuk layanan pokok (pendidikan, kesehatan dan perlindungan sosial)
9.5.1* Proporsi anggaran riset pemerintah terhadap PDB.
Isu RPJP (2005-2025)
Masih rendahnya dukungan stakeholder dalam kegiatan penanaman modal
Masih lemahnya kerjasama kemitraan pemerintah daerah dan terbatasnya anggaran pemerintah guna membiayai pembangunan
Masih perlunya peningkatan tata kelola
pemerintahan
No Karakteristik Kesamaan Isu Keterkaitan dengan dokumen lain dan Konsultasi Publik Kelompok Isu Strategis
17.1.2* anggaran domestik yang didanai pajak domestik.
17.17.1.(b) alokasi pemerintah untuk penyiapan proyek, transaksi proyek, dan dukungan pemerintah dalam KPBU
16.6.1.(b) Persentase peningkatan SAKIP
16.6.1.(c) Persentase penggunaan E procurement terhadap belanja pengadaan.
16.6.2.(a) Persentase Kepatuhan pelaksanaan UU Pelayanan Publik
16.10.2.(c) Jumlah kepemilikan sertifikat Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID)
15.6.1* Tersedianya kerangka legislasi, administrasi dan kebijakan untuk memastikan pembagian yang adil dan merata.
Belum optimalnya tata kelola pemerintahan daerah sesuai dengan asas kepemerintahan yang baik (good governance) dan masih kurang profesionalnya aparatur pemerintah daerah
Kurang terintegrasinya pengelolaan sumber daya alam, lingkungan hidup, dan penanggulangan bencana guna mendukung pembangunan berkelanjutan
Isu Strategis RPJMD (2021-2026)
Reformasi Birokrasi yang Akuntabel dan Agile
Inovasi dan Teknologi Informatika Isu RPJPN
IPTEKIN dan riset rendah
Tata kelola pemerintahan belum optimal 11 TPB 2
2.3.1* Nilai Tambah Pertanian dibagi jumlah tenaga kerja di sektor pertanian (rupiah per tenaga kerja)
2.1.2* kerawanan pangan
2.2.2.(c) skor Pola Pangan Harapan (PPH)
2.1.1* Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan
Isu RPJP (2005-2025)
Masih rendahnya produktivitas, nilai tambah produk-produk pertanian dalam arti luas dan belum optimalnya pendayagunaan serta pengembangan sumber daya pertanian
Isu RPJPN
Produktivitas rendah
Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah
12 TPB 11, TPB 12
11.6.1.(a) Sampah yang tertangani
12.5.1.(a) Sampah yang didaur ulang
IKPLHD 2022
Persampahan Isu RPPLH
Persampahan Isu KLHS RPJPN
Polusi dan kerusakan lingkungan Isu RPJPN
Infrastruktur dan literasi digital rendah
Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan
13 TPB 15, TPB 11
15.1.1.(a) Proporsi tutupan hutan
15.3.1.(a) Proporsi luas lahan kritis
15.9.1.(a) Dokumen rencana pemanfaatan keanekaragaman hayati
11.6.1.(b) Jumlah kota hijau yang mengembangkan dan menerapkan green waste di kawasan perkotaan metropolitan.
11.7.1.(a) ruang terbuka hijau
Revisi RTRW (2011-2031)
Pengendalian dan Pelestarian Kawasan Lindung IKPLHD 2022
Alih Fungsi Lahan Isu RPPLH
Alih Fungsi Lahan Isu KLHS RPJPN
Hilangnya keanekaragaman hayati
Polusi dan kerusakan lingkungan Isu RPJPN
Pembangunan belum terbarukan
Perlunya
pengendalian alih fungsi lahan
14 TPB 7, TPB 11
7.2.1* Bauran energi terbarukan.
11.5.1.(c) Sistem peringatan dini
Isu RPJP (2005-2025)
Belum optimalnya infrastruktur dan pemanfaatan IPTEK dalam pengembangan industri dan jasa
Kurang terintegrasinya pengelolaan sumber daya alam, lingkungan hidup, dan penanggulangan bencana guna mendukung pembangunan berkelanjutan
Isu Strategis RPJMD (2021-2026)
Perlunya
peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim
No Karakteristik Kesamaan Isu Keterkaitan dengan dokumen lain dan Konsultasi Publik Kelompok Isu Strategis
Penanganan Bencana Alam dan Non Alam Isu KLHS RPJPN
Perubahan Iklim Isu RPJPN
Pembangunan belum terbarukan 15 TPB 1, TPB 11, TPB 12
1.4.1.(k) Persentase rumah tangga miskin sumber penerangan utamanya listrik
11.3.2.(b) Jumlah lembaga pembiayaan infrastruktur.
12.8.1.(a) Jumlah fasilitas publik yang menerapkan Standar Pelayanan Masyarakat (SPM) dan teregister.
- Masih perlunya
pemenuhan kebutuhan infrastruktur wilayah Sumber: Analisis Penyusun, 2023
Daftar isu strategis TPB dilakukan pengelompokkan berdasarkan kesamaan karakteristik isu terhadap keterkaitan TPB. Kondisi dan pengelompokkan isu strategis TPB selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3 Tabel 4 Isu-Isu Strategis Pembangunan Berkelanjutan Kabupaten Boyolali (Lampiran Buku I - Halaman 46-67).
Berdasarkan hasil analisis pengelompokan isu, maka dapat diketahui kelompok isu strategis dalam pencapaian TPB maupun dalam peningkatan daya dukung daya tampung lingkungan hidup adalah:
1. Perlunya peningkatan daya saing daerah
2. Perlunya upaya peningkatan keamanan dan ketertiban 3. Penurunan Ketersediaan dan kualitas Air
4. perlunya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan 5. Masih perlunya upaya peningkatan kualitas dan pelayanan kesehatan 6. Perlunya peningkatan pengelolaan limbah domestik dan non domestik 7. Masih perlunya pemerataan pelayanan pendidikan
8. Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana 9. Perlunya peningkatan kualitas dan pelayanan data statistik daerah
10. Masih perlunya peningkatan tata kelola pemerintahan 11. Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah 12. Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan 13. Perlunya pengendalian alih fungsi lahan
14. Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim 15. Masih perlunya pemenuhan kebutuhan infrastruktur wilayah
Setelah mengetahui kelompok isu strategis di atas, kemudian dilakukan perumusan isu paling strategis yang mempertimbangkan 3 (tiga) kriteria yaitu:
a) Keterkaitan isu strategis terhadap kriteria isu strategis
b) Keterkaitan kelompok isu strategis terhadap 6 (enam) Muatan KLHS
c) Kondisi capaian indikator pada masing-masing kelompok isu strategis pada tahun 2029.
Selengkapnya perumusan isu paling strategis berdasarkan 3 (tiga) kriteria tersebut diuraikan sebagai berikut.
a. Keterkaitan isu strategis TPB terhadap kriteria isu strategis
Identifikasi kriteria isu strategis dapat dilakukan dengan metode kuantitatif. Metode kuantitatif dilakukan dengan metode skoring yang menunjukkan ada tidaknya keterkaitan kelompok isu strategis TPB terhadap kriteria isu strategis. Beberapa kriteria dan keterangan penilaian skor isu strategis TPB sebagai berikut:
Pertimbangan dokumen lain (Evaluasi RPJP, Isu RPJP (2005-2025), Isu Strategis RPJMD (2021-2026), Revisi RTRW (2011-2031), IKPLHD 2022, RPPLH, Isu RPJPN, Isu KLHS RPJPN) 1 = memiliki keterkaitan pada dokumen lain
0 = tidak memiliki isu pada dokumen lain
Hasil Konsultasi Publik 1 = memiliki isu pada hasil KP 0 = tidak memiliki isu pada hasil KP
Dampak, Resiko, Ancaman, Manfaat
1 = memiliki dampak, resiko, ancaman, manfaat 0 = tidak memiliki dampak, resiko, ancaman, manfaat
Urgensi dengan prioritas nasional, SPM, dan prioritas daerah
1 = memiliki urgensi dengan prioritas nasional, SPM, dan prioritas daerah 0 = tidak memiliki urgensi dengan prioritas nasional, SPM, dan prioritas daerah
Kemampuan anggaran dan kontribusi para pihak
1 = memiliki kemampuan anggaran dan kontribusi para pihak 0 = tidak memiliki kemampuan anggaran dan kontribusi para pihak
Adapun hasil jumlah keterkaitan dilakukan perankingan dan pembobotan masing-masing kelompok isu strategis TPB berikut.
TABEL IV. 6 PEMBOBOTAN KRITERIA ISU STRATEGIS
No Jumlah keterkaitan Ranking Bobot
1 1-2 1 10
2 3-4 2 10
3 5-6 3 10
4 7-8 4 10
5 9-10 5 10
Sumber: Analisis Penyusun, 2023
Hasil skoring pada kelompok isu TPB terhadap kriteria isu strategis selengkapnya diuraikan pada tabel berikut.
TABEL IV. 7 SKORING NILAI KELOMPOK ISU STRATEGIS
No Isu Strategis
Evaluasi RPJP Isu RPJP (2005- 2025) ISU Strategis RPJMD (2021- 2026) Revisi RTRW (2011-2031) IKPLHD 2022 Hasil KP RPPLH Isu KLHS RPJPN Isu RPJPN Dampak, Resiko, Ancaman, Manfaat Urgensi dengan prioritas nasional, SPM, dan prioritas daerah Kemampuan anggaran dan kontribusi para pihak Jumlah Ranking Bobot
1 Perlunya peningkatan daya saing daerah 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 7 4 40
2 Perlunya upaya peningkatan keamanan dan ketertiban
0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 10
3 Penurunan Ketersediaan dan kualitas Air 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 10 5 50
4 Perlunya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 10
5 Masih perlunya upaya peningkatan kualitas dan pelayanan kesehatan
1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 6 3 30
6 Perlunya peningkatan pengelolaan limbah domestik dan non domestik
1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 7 4 40
7 Masih perlunya pemerataan pelayanan pendidikan
1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 6 3 30
8 Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana
1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 0 6 3 30
9 Perlunya peningkatan kualitas dan pelayanan data statistik daerah
0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 10
10 Masih perlunya peningkatan tata kelola pemerintahan
1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 4 2 20
11 Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah
1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 5 3 30
12 Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan
1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 6 3 30
13 Perlunya pengendalian alih fungsi lahan 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 7 4 40
14 Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim
0 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 7 4 40
15 Masih perlunya pemenuhan kebutuhan infrastruktur wilayah
1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 1 10
Sumber: Analisis Penyusun, 2023
b. Keterkaitan kelompok isu strategis terhadap 6 (enam) Muatan KLHS
Dalam melihat keterkaitan kelompok isu strategis terhadap kondisi lingkungan hidup digambarkan melalui 6 (enam) Muatan KLHS. Muatan KLHS merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2016 terdiri dari:
a. Kapasitas Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup untuk Pembangunan;
b. Perkiraan Mengenai Dampak dan Risiko Lingkungan Hidup;
c. Kinerja Layanan atau Jasa lingkungan;
d. Efisiensi Pemanfaatan Sumber Daya Alam;
e. Tingkat Kerentanan dan Kapasitas Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim;
f. Tingkat Ketahanan dan Potensi Keanekaragaman Hayati.
Penilaian isu strategis berdasarkan 6 (enam) Muatan KLHS melihat pada kondisi keterkaitan isu strategis dengan masing-masing muatan KLHS. Isu yang memiki keterkaitan memiliki nilai 1, sedangkan yang tidak memiliki keterkaitan memiliki nilai 0. Kemudian dilakuan pembobotan pada masing-masing muatan KLHS sebesar 10. Selengkapnya sebagai berikut penilaian kelompok isu strategis terhadap 6 (enam) Muatan KLHS dapat dilihat pada tabel berikut.
TABEL IV. 8 PENILAIAN ISU STRATEGIS BERDASARKAN 6 (ENAM) MUATAN KLHS
No Isu Strategis
Kapasitas Daya Dukung dan Daya
Tampung Lingkungan Hidup
untuk Pembangunan
Perkiraan Mengenai Dampak dan Risiko Lingkungan
Hidup
Kinerja Layanan atau Jasa lingkungan
Efisiensi Pemanfaatan
Sumber Daya Alam
Tingkat Kerentanan dan Kapasitas
Adaptasi Terhadap Perubahan
Iklim
Tingkat Ketahanan dan
Potensi Keanekaragaman
Hayati
Jumlah Bobot
1 Perlunya peningkatan daya saing daerah 0
0 0 0 0 0 0 0
2 Perlunya upaya peningkatan keamanan dan ketertiban
0 0 0 0 0 0 0 0
3 Penurunan ketersediaan dan kualitas air 1 1 1 1 1 1 6 60
4 Perlunya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
0 0 0 0 0 0 0 0
5 Masih perlunya upaya peningkatan kualitas dan pelayanan kesehatan
0 0 0 0 0 0 0 0
6 Perlunya peningkatan pengelolaan limbah domestik dan non domestik
1 1 1 0 0 1 4 40
7 Masih perlunya pemerataan pelayanan pendidikan
0 0 0 0 0 0 0 0
8 Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana
0 0 1 1 1 1 4 40
9 Perlunya peningkatan kualitas dan pelayanan data statistik daerah
0 0 0 0 0 0 0 0
10 Masih perlunya peningkatan tata kelola pemerintahan
0 0 0 0 0 0 0 0
11 Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah
1 0 1 1 0 1 4 40
12 Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan
1 1 1 0 0 1 4 40
13 Perlunya pengendalian alih fungsi lahan 1 1 1 0 1 1 5 50
14 Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim
1 1 1 1 1 1 6 60
15 Masih perlunya pemenuhan kebutuhan infrastruktur wilayah
0 0 0 0 0 0 0 0
Sumber: Analisis Penyusun, 2023
c. Kondisi capaian indikator pada masing-masing kelompok isu strategis pada tahun 2029
Ketercapaian pada tahun 2029 dihitung berdasarkan perbandingan jumlah indikator yang mencapai target di tahun 2029 terhadap jumlah indikator keseluruhan pada masing-masing kelompok isu. Selanjutnya hasil perbandingan dilakukan perankingan dan pembobotan dengan rumusan berikut.
TABEL IV. 9 PEMBOBOTAN KRITERIA KETERCAPAIAN PADA TAHUN 2029
No Ketercapaian Ranking Bobot
1 0% - 25% 1 10
2 26% - 50% 2 10
3 51% - 75% 3 10
4 76% - 100% 4 10
Sumber: Analisis Penyusun, 2023
Selengkapnya kondisi ketercapaian indikator pada masing-masing isu strategis pada tahun 2029 sebagai berikut.
TABEL IV. 10 PENILAIAN ISU STRATEGIS BERDASARKAN CAPAIAN INDIKATOR DI TAHUN 2029
Isu Strategis Jumlah
indikator
Ketercapaian Indikator di tahun 2029
Ketercapaian
(%) Ranking Bobot
Perlunya peningkatan daya saing daerah 19 4 21% 1
10 Perlunya upaya peningkatan keamanan dan
ketertiban
5 2 40% 2 20
Penurunan Ketersediaan dan kualitas Air 13 10 77% 4 40
Perlunya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
4 0 0% 1 10
Masih perlunya upaya peningkatan kualitas dan pelayanan kesehatan
29 4 14% 1 10
Perlunya peningkatan pengelolaan limbah domestik dan non domestik
9 8 89% 4 40
Masih perlunya pemerataan pelayanan pendidikan 4 2 50% 2 20
Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana
14 9 64% 3 30
Perlunya peningkatan kualitas dan pelayanan data statistik daerah
3 2 67% 3 30
Masih perlunya peningkatan tata kelola pemerintahan
10 6 60% 3 30
Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah 4 2 50% 2 20
Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan 2 1 50% 2 20
Perlunya pengendalian alih fungsi lahan 5 4 80% 4 40
Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim
2 2 100% 4 40
Masih perlunya pemenuhan kebutuhan infrastruktur wilayah
3 2 67% 3 30
Sumber: Analisis Penyusun, 2023
Setelah dilakukan analisis pada 3 (tiga) kriteria di atas, perumusan isu paling strategis dinilai berdasarkan jumlah total bobot pada masing kriteria. Selengkapnya penilaian isu paling strategis sebagai berikut.
TABEL IV. 11 PENILAIAN ISU PALING STRATEGIS
Isu Strategis
Bobot Kriteria Isu
Strategis
Bobot keterkaitan terhadap 6 (enam) muatan
KLHS
Bobot Ketercapaian
di tahun 2029
Jumlah
Perlunya peningkatan daya saing daerah 40 0 10 50
Perlunya upaya peningkatan keamanan dan ketertiban
10 0 20 30
Penurunan Ketersediaan dan kualitas Air 50 60 40 150
Perlunya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
10 0 10 20
Masih perlunya upaya peningkatan kualitas dan pelayanan kesehatan
30 0 10 40
Perlunya peningkatan pengelolaan limbah 40 40 40 120
Isu Strategis
Bobot Kriteria Isu
Strategis
Bobot keterkaitan terhadap 6 (enam) muatan
KLHS
Bobot Ketercapaian
di tahun 2029
Jumlah
domestik dan non domestik
Masih perlunya pemerataan pelayanan pendidikan 30 0 20 50
Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana
30 40 30 100
Perlunya peningkatan kualitas dan pelayanan data statistik daerah
10 0 30 40
Masih perlunya peningkatan tata kelola pemerintahan
20 0 30 50
Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah 30 40 20 90
Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan 30 40 20 90
Perlunya pengendalian alih fungsi lahan 40 50 40 130
Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim
40 60 40 140
Masih perlunya pemenuhan kebutuhan infrastruktur wilayah
10 0 30 40
Sumber: Analisis Penyusun, 2023
Berdasarkan hasil analisis dari tabel skoring di atas, maka isu paling strategis yang menjadi prioritas dalam KLHS RPJMD dipilih berdasarkan jumlah skor ≥ 75, sehingga isu strategis KLHS RPJMD adalah :
1. Penurunan ketersediaan dan kualitas air
2. Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim 3. Perlunya pengendalian alih fungsi lahan
4. Perlunya peningkatan pengelolaan limbah domestik dan non domestik
5. Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana 6. Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah
7. Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan
Penjabaran kondisi dari isu paling strategis KLHS RPJMD Kabupaten Boyolali diuraikan berikut ini.
1. Penurunan ketersediaan dan kualitas air
Kondisi ketersediaan air di Kabupaten Boyolali berdasarkan status daya dukung air memiliki defisit atau terlampaui. Sehingga perlunya upaya yang dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan air. Sedangkan kondisi berdasarkan jasa lingkungan penyedia air bersih, di Kabupaten Boyolali didominasi oleh kelas sangat rendah sebesar 35.029,06 ha atau 32% dan kelas rendah sebesar 30.974,57 ha atau 28% yang menunjukkan bahwa kinerja jasa pelayanan lingkungan penyedia air termasuk dalam kategori rendah dalam penyediaan air bersih. Adapun kondisi kualitas air berdasarkan nilai IKA tahun 2022 sebesar 48,42 yang termasuk kategori kurang kondisi tersbut mengalami penurunan dari nilai pada tahun 2021 yang sebesar 52,5. Beberapa kondisi tersebut menujukkan bahwa perlunya upaya dalam pengendalian penurunan ketersediaan dan kualitas air di Kabupaten Boyolali.
2. Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim
Terjadinya perubahan iklim menimbulkan perubahan pada kondisi ekosistem lingkungan.
Perubahan iklim dapat dipengaruhi adanya peningkatan emisi. Pada tahun 2018 jumlah emisi di Kabupaten Boyolali yaitu 718,6 Gg/CO2 mengalami peningkatan menjadi 1.273,00 Gg/CO2 di tahun 2021. Adapun berdasarkan kondisi distribusi kelas pada jasa lingkungan pengaturan iklim didominasi oleh kelas sedang sebesar 46.963,21 ha atau 42,8% dan dominasi kedua kelas tinggi sebesar 24.262,72 ha atau 22,1%. Kondisi tersebut berarti bahwa Kabupaten Boyolali memiliki kemampuan yang sedang dalam pengaturan iklim.
3. Perlunya pengendalian alih fungsi lahan
Terjadinya penurunan luas kawasan non hijau dipengaruhi adanya pengembangan daerah.
Berdasarkan dokumen IKPLHD perubahan terjadi pada sawah di tahun 2021 memiliki luas 25,537.43 ha menjadi 25,529.91 ha ditahun 2022. Luasan perkebunan juga mengalami penurunan, di tahun 2021 seluas 3,188.43 ha menjadi 3,171.42 ha di tahun 2022. Hal ini menunjukkan semakin tahun terjadi alih fungsi lahan dengan meningkatnya luas permukiman dan industri. Adapun kedepannya perlu adanya pengendalian alih fungsi lahan untuk mengurangi dampak yang terjadi akibat alih fungsi lahan.
4. Perlunya peningkatan pengelolaan limbah domestik dan non domestik
Pada pengelolaan limbah domestik khususnya pada pengelolaan grey water (air limbah dari dapur, mandi, cuci, dan bersih rumah) di permukiman perkotaan Kabupaten Boyolali umumnya dialirkan menuju drainase lingkungan yang kemudian menyatu menuju sungai. Kondisi ini berpengaruh terhadap dampak pencemaran air sungai. Sedangkan kondisi pengelolaan limbah non domestik dipengaruhi limbah industri dan UMKM, limbah fasilitas kesehatan dan limbah ternak. Kondisi saat ini masih banyak industri yang memiliki belum Instalasi Pengolahan Air Limbah, begitu juga dengan kegiatan UMKM belum memiliki fasilitas pengolahan air limbah dan peternak yang belum sepenuhnya mengelola limbah ternak. Hal ini perlu ditingkatkan dengan upaya penyediaan sarana pengolahan limbah baik domestik maupun non domestik.
5. Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana Potensi bencana yang terjadi di Kabupaten Boyolali yaitu tanah longsor, banjir, kekeringan, angin puting beliung/angin ribut, kebakaran hutan, dan erupsi Gunung Merapi. Sedangkan kondisi Kabupaten Boyolali memiliki tingkat kelas risiko sedang dengan skor 130,32. Adapun saat ini baru terbentuk 18 desa tangguh bencana (destana), 14 diantaranya adalah Destana Erupsi Merapi di Kecamatan Selo, Musuk, dan Cepogo. Kondisi distribusi kelas jasa lingkungan pengaturan mitigasi bencana di Kabupaten Boyolali didominasi oleh kelas sedang yaitu seluas 39.203,25 ha atau 37%. Kondisi tersebut mengartikan bahwa Kabupaten Boyolali memiliki kemampuan lahan yang rendah dalam pengaturan pencegahan dan perlindungan bencana.
Sehingga perlunya upaya dalam peningkatan mitigasi dan penanganan bencana.
6. Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah
Daya dukung lahan sawah Kabupaten Boyolali masih mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Namun, dengan adanya potensi alih fungsi lahan dapat berpengaruh terhadap produksi pertanian. Produksi beras Kabupaten Boyolali mencapai 442.116 ton di tahun 2022 dan mengalami penurunan menjadi 379.044 ton di tahun 2029. Hal ini perlu upaya dalam peningkatan produktivitas maupun pengendalian alih fungsi lahan pertanian. Kondisi Kabupaten Boyolali berdasarkan jasa lingkungan penyedia pangan di Kabupaten Boyolali didominasi oleh jasa lingkungan kelas sedang sebesar 56.625,68 ha (52%), untuk dominasi kedua berupa kelas rendah sebesar 39.882,11 ha (36%).
7. Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan
Timbulan sampah Kabupaten Boyolali mengalami kenaikan 1,01% pada tahun 2020-2021, dan kenaikan 0,59% pada tahun 2021-2022. Adapun kondisi sampah yang terkelola di tahun 2022 sebesar 56,64%, sehingga masih terdapat 43,36% yang tidak terkelola. Hal ini perlu diupayakan untuk meningkatkan pengelolaan persampahan untuk penanganan timbulan sampah yang semakin meningkat, sehingga dapat meminimalisasi dampak adanya pencemaran lingkungan di Kabupaten Boyolali akibat sampah.