• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISU STRATEGIS DAERAH

Dalam dokumen ! Buku I Lap Induk KLHS RPJMD Kab Boyolali (Halaman 149-163)

BAB IV ANALISIS TUJUAN PEMBANGUNAN

4.3. ISU STRATEGIS DAERAH

Isu strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal 11 Permendagri No 7 Tahun 2018 berupa rumusan isu utama dalam pencapaian tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Isu strategis dirumuskan dari hasil pengkajian capaian indikator tujuan pembangunan berkelanjutan dengan target yang merupakan indikator dengan kriteria:

1. Indikator tidak tercapai

 Indikator TPB yang sudah dilaksanakan tetapi belum mencapai target nasional (SBT).

 Indikator TPB tidak ada target daerah dan belum tercapai (TBC).

 Indikator TPB yang tidak/belum ada data (TAD).

2. Indikator tercapai namun mengalami tekanan DDDTLH

 Indikator TPB yang sudah dilaksanakan dan sudah mencapai target nasional (SST).

3. Isu lintas, yang ditemukan pada beberapa dokumen perencanaan lain (Evaluasi RPJP, RPJPD lama, isu RPJMD lama, RTRW, IKPLHD)

Adapun indikator yang memiliki karakteristik kesamaan isu pada kelompok isu strategis TPB selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

TABEL IV. 5 ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BERDASARKAN PENGELOMPOKAN ISU KABUPATEN BOYOLALI

No Karakteristik Kesamaan Isu Keterkaitan dengan dokumen lain dan Konsultasi Publik Kelompok

Isu Strategis 1 TPB 2, TPB 8, TPB 9, TPB 10

8.1.1* Laju pertumbuhan PDB per kapita.

8.3.1* Proporsi lapangan kerja informal sektor non-pertanian

8.3.1.(a) Persentase tenaga kerja formal.

8.3.1.(b) Tenaga kerja informal sektor pertanian

8.3.1.(c) Persentase akses UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) ke layanan keuangan.

8.5.2* Tingkat pengangguran terbuka

8.5.2.(a) Tingkat setengah pengangguran.

8.6.1* Persentase usia muda (15-24 tahun) yang sedang tidak sekolah, bekerja atau mengikuti pelatihan (NEET).

8.9.1* Kontribusi pariwisata terhadap PDB

8.9.1.(c) Jumlah devisa sektor pariwisata.

8.9.2* pekerja pada industri pariwisata

8.10.1.(a) Jarak lembaga keuangan

8.10.1.(b) Proporsi kredit UMKM terhadap total kredit.

9.2.2* Proporsi tenaga kerja pada sektor industri manufaktur.

9.3.1* nilai tambah industri kecil

9.3.2* Proporsi industri kecil dengan pinjaman atau kredit.

10.1.1* Koefisien Gini

10.1.1.(d) Jumlah Desa Mandiri.

10.2.1* Penduduk hidup di bawah 50% median pendapatan

Isu RPJP (2005-2025)

Belum optimalnya peningkatan pendapatan asli daerah

Masih rendahnya pertumbuhan ekonomi dan pengembangan usaha ekonomi rakyat

Masih cukup tingginya jumlah pencari kerja dan pengangguran terbuka

Masih rendahnya upaya pemberdayaan masyarakat dalam penurunan angka kemiskinan

Isu Strategis RPJMD (2021-2026)

Pertumbuhan Ekonomi dan Iklim Investasi yang Berwawasan Lingkungan

Penanggulangan Kemiskinan dan Kesenjangan Revisi RTRW (2011-2031)

Pengembangan Kawasan Pariwisata

Pengembangan Kawasan Peruntukan Industri Isu RPJPN

Kontribusi UMKM dan koperasi kecil

Pariwisata di bawah potensinya

Deindustrialisasi dini

Perlunya

peningkatan daya saing daerah

2 TPB 3, TPB 16

3.4.2* Angka kematian akibat bunuh diri.

3.5.1.(e) Prevalensi penyalahgunaan narkoba.

3.5.2* Konsumsi alkohol.

16.1.1.(a) Jumlah kasus kejahatan pembunuhan

16.2.3.(a) Proporsi perempuan dan laki-laki yang mengalami kekerasan seksual

Isu RPJP (2005-2025)

Masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dari aspek pendidikan dan kesehatan

Perlunya upaya peningkatan keamanan dan ketertiban

3 TPB 6, TPB 7, TPB 11, TPB 12, TPB 15

1.4.1.(d) Akses air minum layak

6.1.1.(a) Akses air minum layak

6.1.1.(b) Kapasitas prasarana air baku

6.1.1.(c) Akses air minum aman dan berkelanjutan

6.3.2.(a) Kualitas air danau.

6.3.2.(b) Kualitas air sungai

6.4.1.(b) Insentif penghematan air pertanian/perkebunan dan industri

6.5.1.(a) RPDAST yang diinternalisasi ke dalam RTRW

6.5.1.(c) jaringan informasi sumber daya air

6.5.1.(g) penataan kelembagaan sumber daya air

6.5.1.(f) wilayah sungai yang memiliki partisipasi masyarakat dalam pengelolaan daerah tangkapan sungai dan danau

12.6.1.(a) perusahaan yang menerapkan sertifikasi SNI ISO 14001

12.7.1.(a) produk ramah lingkungan

Isu RPJP (2005-2025)

Belum optimalnya infrastruktur dan pemanfaatan IPTEK dalam pengembangan industri dan jasa

Kurang terintegrasinya pengelolaan sumber daya alam, lingkungan hidup, dan penanggulangan bencana guna mendukung pembangunan berkelanjutan

Isu Strategis RPJMD (2021-2026)

Peningkatan Infrastruktur Dasar yang Berkelanjutan IKPLHD 2022

Kualitas dan kuantitas air Isu RPPLH

Penurunan Ketersediaan Air Bersih Isu KLHS RPJPN

Polusi dan kerusakan lingkungan Isu RPJPN

Penurunan Ketersediaan dan kualitas Air

No Karakteristik Kesamaan Isu Keterkaitan dengan dokumen lain dan Konsultasi Publik Kelompok Isu Strategis

Pembangunan belum terbarukan

Infrastruktur dan literasi digital rendah 4 TPB 5, TPB 16

5.2.1.(a) kekerasan terhadap anak perempuan

5.5.2* perempuan yang berada di posisi managerial

5.6.1* Proporsi perempuan umur 15-49 tahun yang membuat keputusan sendiri terkait hubungan seksual, penggunaan kontrasepsi, dan layanan kesehatan reproduksi.

16.7.1.(a) keterwakilan perempuan di DPR dan DPRD

Isu Strategis RPJMD (2021-2026)

Pembangunan SDM yang Inklusif dan Berdaya Saing

Perlunya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

5 TPB 1, TPB 2, TPB 3, TPB 5

1.3.1.(a) jaminan kesehatan

1.4.1.(a) Persentase perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun

1.4.1.(b) anak yang menerima imunisasi lengkap.

1.4.1.(c) penggunaan metode kontrasepsi (CPR)

2.1.1.(a) Kekurangan gizi

2.1.2.(a) asupan kalori minimum di bawah 1400 kkal/kapita/hari

2.2.1* Ketidakcukupan Konsumsi Pangan

2.2.2* Malnutrisi

2.2.2.(a) Anemia pada ibu hamil

3.1.1* AKI

3.1.2* Proporsi perempuan yang melahirkan ditolong tenaga kesehatan terlatih.

3.2.1* AKBa

3.2.2* Angka Kematian Neonatal (AKN)

3.2.2.(a) AKB

3.2.2.(b) imunisasi dasar lengkap pada bayi.

3.3.5* Filariasis dan Kusta

3.4.1.(a) merokok pada umur ≤18 tahun

3.4.1.(b) Prevalensi tekanan darah tinggi.

3.4.1.(c) Prevalensi obesitas pada penduduk umur ≥18 tahun.

3.7.1* perempuan KB dan menggunakan alat kontrasepsi metode modern

3.7.1.(a) penggunaan metode kontrasepsi (CPR)

3.7.1.(b) penggunaan MKJP

3.7.2* Angka kelahiran pada perempuan umur 15-19 tahun (Age Specific Fertility Rate/ASFR).

3.8.1.(a) Unmet need pelayanan kesehatan.

3.a.1* merokok pada umur ≥15 tahun

5.3.1* perempuan berstatus kawin sebelum umur 15 tahun dan sebelum umur 18 tahun.

5.6.1.(a) Unmet need KB

2.2.1.(a) Prevalensi stunting (pendek dan sangat pendek) pada anak baduta.

2.2.2.(b) bayi usia kurang dari 6 bulan ASI eksklusif.

Isu RPJP (2005-2025)

Masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dari aspek pendidikan dan kesehatan

Isu Strategis RPJMD (2021-2026)

Pembangunan SDM yang Inklusif dan Berdaya Saing Isu RPJPN

Kualitas SDM yang semakin rendah

Masih perlunya upaya peningkatan kualitas dan pelayanan kesehatan

6 TPB 1, TPB 6, TPB 11, TPB 12

1.4.1.(e) akses layanan sanitasi layak dan berkelanjutan.

6.2.1.(f) rumah tangga yang terlayani sistem pengelolaan air limbah terpusat

Isu Strategis RPJMD (2021-2026)

Peningkatan Infrastruktur Dasar yang Berkelanjutan IKPLHD 2022

Perlunya peningkatan pengelolaan limbah

No Karakteristik Kesamaan Isu Keterkaitan dengan dokumen lain dan Konsultasi Publik Kelompok Isu Strategis

6.2.1.(b) akses layanan sanitasi layak

6.2.1.(c) kelurahan yang melaksanakan STBM

6.2.1.(d) kelurahan ODF/SBS

6.2.1.(e) infrastruktur air limbah dengan sistem terpusat skala kota, kawasan dan komunal.

6.3.1.(a) pengelolaan lumpur tinja dan pembangunan IPLT

6.3.1.(b) rumah tangga yang terlayani sistem pengelolaan lumpur tinja

12.4.2.(a) limbah B3

Kualitas dan kuantitas air Isu KLHS RPJPN

Polusi dan kerusakan lingkungan Isu RPJPN

Infrastruktur dan literasi digital rendah

domestik dan non domestik

7 TPB 1, TPB 4

1.4.1.(g) APM SD/MI/sederajat

4.1.1* anak-anak dan remaja yang mencapai standar kemampuan minimum

4.1.1.(d) Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/sederajat.

4.5.1* APM di SD, SMP, SMA dan APK di Perguruan Tinggi.

Isu RPJP (2005-2025)

Masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dari aspek pendidikan dan kesehatan

Isu Strategis RPJMD (2021-2026)

Pembangunan SDM yang Inklusif dan Berdaya Saing Revisi RTRW (2011-2031)

Inklusif dan berdaya saing Isu RPJPN

Kualitas SDM yang semakin rendah

Masih perlunya pemerataan pelayanan pendidikan

8 TPB 1, TPB 11, TPB 13

1.5.1.(a) Lokasi pengurangan resiko bencana

1.5.1.(d) Pendidikan layanan khusus bencana

1.5.1.(e) Indeks risiko bencana

1.5.2.(a) Kerugian akibat bencana

1.5.3* Dokumen strategi PRB

11.5.1.(a) IRBI

11.5.2.(a) Kerugian akibat bencana

11.b.2* Dokumen strategi PRB

13.1.1* Dokumen strategi PRB

1.5.1* Korban bencana

1.5.1.(b) Kebutuhan dasar korban bencana

1.5.1.(c) Pendampingan psikososial korban bencana

11.5.1* Korban bencana

13.1.2* Korban bencana

Isu RPJP (2005-2025)

Kurang terintegrasinya pengelolaan sumber daya alam, lingkungan hidup, dan penanggulangan bencana guna mendukung pembangunan berkelanjutan

Isu Strategis RPJMD (2021-2026)

Penanganan Bencana Alam dan Non Alam Isu KLHS RPJPN

Perubahan Iklim

Masih perlunya upaya

pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana

9 TPB 16, TPB 17

17.18.1.(a) Persentase konsumen BPS yang merasa puas dengan kualitas data statistik.

17.18.1.(c) Jumlah metadata kegiatan statistik dasar, sektoral, dan khusus yang terdapat dalam Sistem Informasi Rujukan Statistik (SIRuSa).

16.9.1.(a) Persentase kepemilikan akta lahir untuk penduduk 40% berpendapatan bawah.

Isu Strategis RPJMD (2021-2026)

Inovasi dan Teknologi Informatika

Perlunya peningkatan kualitas dan pelayanan data statistik daerah

10 TPB 1, TPB 9, TPB 16, TPB 17

1.a.1* sumber daya yang dialokasikan untuk program pemberantasan kemiskinan.

1.a.2* Pengeluaran untuk layanan pokok (pendidikan, kesehatan dan perlindungan sosial)

9.5.1* Proporsi anggaran riset pemerintah terhadap PDB.

Isu RPJP (2005-2025)

Masih rendahnya dukungan stakeholder dalam kegiatan penanaman modal

Masih lemahnya kerjasama kemitraan pemerintah daerah dan terbatasnya anggaran pemerintah guna membiayai pembangunan

Masih perlunya peningkatan tata kelola

pemerintahan

No Karakteristik Kesamaan Isu Keterkaitan dengan dokumen lain dan Konsultasi Publik Kelompok Isu Strategis

17.1.2* anggaran domestik yang didanai pajak domestik.

17.17.1.(b) alokasi pemerintah untuk penyiapan proyek, transaksi proyek, dan dukungan pemerintah dalam KPBU

16.6.1.(b) Persentase peningkatan SAKIP

16.6.1.(c) Persentase penggunaan E procurement terhadap belanja pengadaan.

16.6.2.(a) Persentase Kepatuhan pelaksanaan UU Pelayanan Publik

16.10.2.(c) Jumlah kepemilikan sertifikat Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID)

15.6.1* Tersedianya kerangka legislasi, administrasi dan kebijakan untuk memastikan pembagian yang adil dan merata.

Belum optimalnya tata kelola pemerintahan daerah sesuai dengan asas kepemerintahan yang baik (good governance) dan masih kurang profesionalnya aparatur pemerintah daerah

Kurang terintegrasinya pengelolaan sumber daya alam, lingkungan hidup, dan penanggulangan bencana guna mendukung pembangunan berkelanjutan

Isu Strategis RPJMD (2021-2026)

Reformasi Birokrasi yang Akuntabel dan Agile

Inovasi dan Teknologi Informatika Isu RPJPN

IPTEKIN dan riset rendah

Tata kelola pemerintahan belum optimal 11 TPB 2

2.3.1* Nilai Tambah Pertanian dibagi jumlah tenaga kerja di sektor pertanian (rupiah per tenaga kerja)

2.1.2* kerawanan pangan

2.2.2.(c) skor Pola Pangan Harapan (PPH)

2.1.1* Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan

Isu RPJP (2005-2025)

Masih rendahnya produktivitas, nilai tambah produk-produk pertanian dalam arti luas dan belum optimalnya pendayagunaan serta pengembangan sumber daya pertanian

Isu RPJPN

Produktivitas rendah

Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah

12 TPB 11, TPB 12

11.6.1.(a) Sampah yang tertangani

12.5.1.(a) Sampah yang didaur ulang

IKPLHD 2022

Persampahan Isu RPPLH

Persampahan Isu KLHS RPJPN

Polusi dan kerusakan lingkungan Isu RPJPN

Infrastruktur dan literasi digital rendah

Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan

13 TPB 15, TPB 11

15.1.1.(a) Proporsi tutupan hutan

15.3.1.(a) Proporsi luas lahan kritis

15.9.1.(a) Dokumen rencana pemanfaatan keanekaragaman hayati

11.6.1.(b) Jumlah kota hijau yang mengembangkan dan menerapkan green waste di kawasan perkotaan metropolitan.

11.7.1.(a) ruang terbuka hijau

Revisi RTRW (2011-2031)

Pengendalian dan Pelestarian Kawasan Lindung IKPLHD 2022

Alih Fungsi Lahan Isu RPPLH

Alih Fungsi Lahan Isu KLHS RPJPN

Hilangnya keanekaragaman hayati

Polusi dan kerusakan lingkungan Isu RPJPN

Pembangunan belum terbarukan

Perlunya

pengendalian alih fungsi lahan

14 TPB 7, TPB 11

7.2.1* Bauran energi terbarukan.

11.5.1.(c) Sistem peringatan dini

Isu RPJP (2005-2025)

Belum optimalnya infrastruktur dan pemanfaatan IPTEK dalam pengembangan industri dan jasa

Kurang terintegrasinya pengelolaan sumber daya alam, lingkungan hidup, dan penanggulangan bencana guna mendukung pembangunan berkelanjutan

Isu Strategis RPJMD (2021-2026)

Perlunya

peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim

No Karakteristik Kesamaan Isu Keterkaitan dengan dokumen lain dan Konsultasi Publik Kelompok Isu Strategis

Penanganan Bencana Alam dan Non Alam Isu KLHS RPJPN

Perubahan Iklim Isu RPJPN

Pembangunan belum terbarukan 15 TPB 1, TPB 11, TPB 12

1.4.1.(k) Persentase rumah tangga miskin sumber penerangan utamanya listrik

11.3.2.(b) Jumlah lembaga pembiayaan infrastruktur.

12.8.1.(a) Jumlah fasilitas publik yang menerapkan Standar Pelayanan Masyarakat (SPM) dan teregister.

- Masih perlunya

pemenuhan kebutuhan infrastruktur wilayah Sumber: Analisis Penyusun, 2023

Daftar isu strategis TPB dilakukan pengelompokkan berdasarkan kesamaan karakteristik isu terhadap keterkaitan TPB. Kondisi dan pengelompokkan isu strategis TPB selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3 Tabel 4 Isu-Isu Strategis Pembangunan Berkelanjutan Kabupaten Boyolali (Lampiran Buku I - Halaman 46-67).

Berdasarkan hasil analisis pengelompokan isu, maka dapat diketahui kelompok isu strategis dalam pencapaian TPB maupun dalam peningkatan daya dukung daya tampung lingkungan hidup adalah:

1. Perlunya peningkatan daya saing daerah

2. Perlunya upaya peningkatan keamanan dan ketertiban 3. Penurunan Ketersediaan dan kualitas Air

4. perlunya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan 5. Masih perlunya upaya peningkatan kualitas dan pelayanan kesehatan 6. Perlunya peningkatan pengelolaan limbah domestik dan non domestik 7. Masih perlunya pemerataan pelayanan pendidikan

8. Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana 9. Perlunya peningkatan kualitas dan pelayanan data statistik daerah

10. Masih perlunya peningkatan tata kelola pemerintahan 11. Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah 12. Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan 13. Perlunya pengendalian alih fungsi lahan

14. Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim 15. Masih perlunya pemenuhan kebutuhan infrastruktur wilayah

Setelah mengetahui kelompok isu strategis di atas, kemudian dilakukan perumusan isu paling strategis yang mempertimbangkan 3 (tiga) kriteria yaitu:

a) Keterkaitan isu strategis terhadap kriteria isu strategis

b) Keterkaitan kelompok isu strategis terhadap 6 (enam) Muatan KLHS

c) Kondisi capaian indikator pada masing-masing kelompok isu strategis pada tahun 2029.

Selengkapnya perumusan isu paling strategis berdasarkan 3 (tiga) kriteria tersebut diuraikan sebagai berikut.

a. Keterkaitan isu strategis TPB terhadap kriteria isu strategis

Identifikasi kriteria isu strategis dapat dilakukan dengan metode kuantitatif. Metode kuantitatif dilakukan dengan metode skoring yang menunjukkan ada tidaknya keterkaitan kelompok isu strategis TPB terhadap kriteria isu strategis. Beberapa kriteria dan keterangan penilaian skor isu strategis TPB sebagai berikut:

 Pertimbangan dokumen lain (Evaluasi RPJP, Isu RPJP (2005-2025), Isu Strategis RPJMD (2021-2026), Revisi RTRW (2011-2031), IKPLHD 2022, RPPLH, Isu RPJPN, Isu KLHS RPJPN) 1 = memiliki keterkaitan pada dokumen lain

0 = tidak memiliki isu pada dokumen lain

 Hasil Konsultasi Publik 1 = memiliki isu pada hasil KP 0 = tidak memiliki isu pada hasil KP

 Dampak, Resiko, Ancaman, Manfaat

1 = memiliki dampak, resiko, ancaman, manfaat 0 = tidak memiliki dampak, resiko, ancaman, manfaat

 Urgensi dengan prioritas nasional, SPM, dan prioritas daerah

1 = memiliki urgensi dengan prioritas nasional, SPM, dan prioritas daerah 0 = tidak memiliki urgensi dengan prioritas nasional, SPM, dan prioritas daerah

 Kemampuan anggaran dan kontribusi para pihak

1 = memiliki kemampuan anggaran dan kontribusi para pihak 0 = tidak memiliki kemampuan anggaran dan kontribusi para pihak

Adapun hasil jumlah keterkaitan dilakukan perankingan dan pembobotan masing-masing kelompok isu strategis TPB berikut.

TABEL IV. 6 PEMBOBOTAN KRITERIA ISU STRATEGIS

No Jumlah keterkaitan Ranking Bobot

1 1-2 1 10

2 3-4 2 10

3 5-6 3 10

4 7-8 4 10

5 9-10 5 10

Sumber: Analisis Penyusun, 2023

Hasil skoring pada kelompok isu TPB terhadap kriteria isu strategis selengkapnya diuraikan pada tabel berikut.

TABEL IV. 7 SKORING NILAI KELOMPOK ISU STRATEGIS

No Isu Strategis

Evaluasi RPJP Isu RPJP (2005- 2025) ISU Strategis RPJMD (2021- 2026) Revisi RTRW (2011-2031) IKPLHD 2022 Hasil KP RPPLH Isu KLHS RPJPN Isu RPJPN Dampak, Resiko, Ancaman, Manfaat Urgensi dengan prioritas nasional, SPM, dan prioritas daerah Kemampuan anggaran dan kontribusi para pihak Jumlah Ranking Bobot

1 Perlunya peningkatan daya saing daerah 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 7 4 40

2 Perlunya upaya peningkatan keamanan dan ketertiban

0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 10

3 Penurunan Ketersediaan dan kualitas Air 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 10 5 50

4 Perlunya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 10

5 Masih perlunya upaya peningkatan kualitas dan pelayanan kesehatan

1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 6 3 30

6 Perlunya peningkatan pengelolaan limbah domestik dan non domestik

1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 7 4 40

7 Masih perlunya pemerataan pelayanan pendidikan

1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 6 3 30

8 Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana

1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 0 6 3 30

9 Perlunya peningkatan kualitas dan pelayanan data statistik daerah

0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 10

10 Masih perlunya peningkatan tata kelola pemerintahan

1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 4 2 20

11 Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah

1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 5 3 30

12 Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan

1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 6 3 30

13 Perlunya pengendalian alih fungsi lahan 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 7 4 40

14 Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim

0 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 7 4 40

15 Masih perlunya pemenuhan kebutuhan infrastruktur wilayah

1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 1 10

Sumber: Analisis Penyusun, 2023

b. Keterkaitan kelompok isu strategis terhadap 6 (enam) Muatan KLHS

Dalam melihat keterkaitan kelompok isu strategis terhadap kondisi lingkungan hidup digambarkan melalui 6 (enam) Muatan KLHS. Muatan KLHS merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2016 terdiri dari:

a. Kapasitas Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup untuk Pembangunan;

b. Perkiraan Mengenai Dampak dan Risiko Lingkungan Hidup;

c. Kinerja Layanan atau Jasa lingkungan;

d. Efisiensi Pemanfaatan Sumber Daya Alam;

e. Tingkat Kerentanan dan Kapasitas Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim;

f. Tingkat Ketahanan dan Potensi Keanekaragaman Hayati.

Penilaian isu strategis berdasarkan 6 (enam) Muatan KLHS melihat pada kondisi keterkaitan isu strategis dengan masing-masing muatan KLHS. Isu yang memiki keterkaitan memiliki nilai 1, sedangkan yang tidak memiliki keterkaitan memiliki nilai 0. Kemudian dilakuan pembobotan pada masing-masing muatan KLHS sebesar 10. Selengkapnya sebagai berikut penilaian kelompok isu strategis terhadap 6 (enam) Muatan KLHS dapat dilihat pada tabel berikut.

TABEL IV. 8 PENILAIAN ISU STRATEGIS BERDASARKAN 6 (ENAM) MUATAN KLHS

No Isu Strategis

Kapasitas Daya Dukung dan Daya

Tampung Lingkungan Hidup

untuk Pembangunan

Perkiraan Mengenai Dampak dan Risiko Lingkungan

Hidup

Kinerja Layanan atau Jasa lingkungan

Efisiensi Pemanfaatan

Sumber Daya Alam

Tingkat Kerentanan dan Kapasitas

Adaptasi Terhadap Perubahan

Iklim

Tingkat Ketahanan dan

Potensi Keanekaragaman

Hayati

Jumlah Bobot

1 Perlunya peningkatan daya saing daerah 0

0 0 0 0 0 0 0

2 Perlunya upaya peningkatan keamanan dan ketertiban

0 0 0 0 0 0 0 0

3 Penurunan ketersediaan dan kualitas air 1 1 1 1 1 1 6 60

4 Perlunya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

0 0 0 0 0 0 0 0

5 Masih perlunya upaya peningkatan kualitas dan pelayanan kesehatan

0 0 0 0 0 0 0 0

6 Perlunya peningkatan pengelolaan limbah domestik dan non domestik

1 1 1 0 0 1 4 40

7 Masih perlunya pemerataan pelayanan pendidikan

0 0 0 0 0 0 0 0

8 Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana

0 0 1 1 1 1 4 40

9 Perlunya peningkatan kualitas dan pelayanan data statistik daerah

0 0 0 0 0 0 0 0

10 Masih perlunya peningkatan tata kelola pemerintahan

0 0 0 0 0 0 0 0

11 Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah

1 0 1 1 0 1 4 40

12 Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan

1 1 1 0 0 1 4 40

13 Perlunya pengendalian alih fungsi lahan 1 1 1 0 1 1 5 50

14 Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim

1 1 1 1 1 1 6 60

15 Masih perlunya pemenuhan kebutuhan infrastruktur wilayah

0 0 0 0 0 0 0 0

Sumber: Analisis Penyusun, 2023

c. Kondisi capaian indikator pada masing-masing kelompok isu strategis pada tahun 2029

Ketercapaian pada tahun 2029 dihitung berdasarkan perbandingan jumlah indikator yang mencapai target di tahun 2029 terhadap jumlah indikator keseluruhan pada masing-masing kelompok isu. Selanjutnya hasil perbandingan dilakukan perankingan dan pembobotan dengan rumusan berikut.

TABEL IV. 9 PEMBOBOTAN KRITERIA KETERCAPAIAN PADA TAHUN 2029

No Ketercapaian Ranking Bobot

1 0% - 25% 1 10

2 26% - 50% 2 10

3 51% - 75% 3 10

4 76% - 100% 4 10

Sumber: Analisis Penyusun, 2023

Selengkapnya kondisi ketercapaian indikator pada masing-masing isu strategis pada tahun 2029 sebagai berikut.

TABEL IV. 10 PENILAIAN ISU STRATEGIS BERDASARKAN CAPAIAN INDIKATOR DI TAHUN 2029

Isu Strategis Jumlah

indikator

Ketercapaian Indikator di tahun 2029

Ketercapaian

(%) Ranking Bobot

Perlunya peningkatan daya saing daerah 19 4 21% 1

10 Perlunya upaya peningkatan keamanan dan

ketertiban

5 2 40% 2 20

Penurunan Ketersediaan dan kualitas Air 13 10 77% 4 40

Perlunya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

4 0 0% 1 10

Masih perlunya upaya peningkatan kualitas dan pelayanan kesehatan

29 4 14% 1 10

Perlunya peningkatan pengelolaan limbah domestik dan non domestik

9 8 89% 4 40

Masih perlunya pemerataan pelayanan pendidikan 4 2 50% 2 20

Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana

14 9 64% 3 30

Perlunya peningkatan kualitas dan pelayanan data statistik daerah

3 2 67% 3 30

Masih perlunya peningkatan tata kelola pemerintahan

10 6 60% 3 30

Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah 4 2 50% 2 20

Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan 2 1 50% 2 20

Perlunya pengendalian alih fungsi lahan 5 4 80% 4 40

Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim

2 2 100% 4 40

Masih perlunya pemenuhan kebutuhan infrastruktur wilayah

3 2 67% 3 30

Sumber: Analisis Penyusun, 2023

Setelah dilakukan analisis pada 3 (tiga) kriteria di atas, perumusan isu paling strategis dinilai berdasarkan jumlah total bobot pada masing kriteria. Selengkapnya penilaian isu paling strategis sebagai berikut.

TABEL IV. 11 PENILAIAN ISU PALING STRATEGIS

Isu Strategis

Bobot Kriteria Isu

Strategis

Bobot keterkaitan terhadap 6 (enam) muatan

KLHS

Bobot Ketercapaian

di tahun 2029

Jumlah

Perlunya peningkatan daya saing daerah 40 0 10 50

Perlunya upaya peningkatan keamanan dan ketertiban

10 0 20 30

Penurunan Ketersediaan dan kualitas Air 50 60 40 150

Perlunya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

10 0 10 20

Masih perlunya upaya peningkatan kualitas dan pelayanan kesehatan

30 0 10 40

Perlunya peningkatan pengelolaan limbah 40 40 40 120

Isu Strategis

Bobot Kriteria Isu

Strategis

Bobot keterkaitan terhadap 6 (enam) muatan

KLHS

Bobot Ketercapaian

di tahun 2029

Jumlah

domestik dan non domestik

Masih perlunya pemerataan pelayanan pendidikan 30 0 20 50

Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana

30 40 30 100

Perlunya peningkatan kualitas dan pelayanan data statistik daerah

10 0 30 40

Masih perlunya peningkatan tata kelola pemerintahan

20 0 30 50

Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah 30 40 20 90

Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan 30 40 20 90

Perlunya pengendalian alih fungsi lahan 40 50 40 130

Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim

40 60 40 140

Masih perlunya pemenuhan kebutuhan infrastruktur wilayah

10 0 30 40

Sumber: Analisis Penyusun, 2023

Berdasarkan hasil analisis dari tabel skoring di atas, maka isu paling strategis yang menjadi prioritas dalam KLHS RPJMD dipilih berdasarkan jumlah skor ≥ 75, sehingga isu strategis KLHS RPJMD adalah :

1. Penurunan ketersediaan dan kualitas air

2. Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim 3. Perlunya pengendalian alih fungsi lahan

4. Perlunya peningkatan pengelolaan limbah domestik dan non domestik

5. Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana 6. Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah

7. Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan

Penjabaran kondisi dari isu paling strategis KLHS RPJMD Kabupaten Boyolali diuraikan berikut ini.

1. Penurunan ketersediaan dan kualitas air

Kondisi ketersediaan air di Kabupaten Boyolali berdasarkan status daya dukung air memiliki defisit atau terlampaui. Sehingga perlunya upaya yang dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan air. Sedangkan kondisi berdasarkan jasa lingkungan penyedia air bersih, di Kabupaten Boyolali didominasi oleh kelas sangat rendah sebesar 35.029,06 ha atau 32% dan kelas rendah sebesar 30.974,57 ha atau 28% yang menunjukkan bahwa kinerja jasa pelayanan lingkungan penyedia air termasuk dalam kategori rendah dalam penyediaan air bersih. Adapun kondisi kualitas air berdasarkan nilai IKA tahun 2022 sebesar 48,42 yang termasuk kategori kurang kondisi tersbut mengalami penurunan dari nilai pada tahun 2021 yang sebesar 52,5. Beberapa kondisi tersebut menujukkan bahwa perlunya upaya dalam pengendalian penurunan ketersediaan dan kualitas air di Kabupaten Boyolali.

2. Perlunya peningkatan upaya adaptasi perubahan iklim

Terjadinya perubahan iklim menimbulkan perubahan pada kondisi ekosistem lingkungan.

Perubahan iklim dapat dipengaruhi adanya peningkatan emisi. Pada tahun 2018 jumlah emisi di Kabupaten Boyolali yaitu 718,6 Gg/CO2 mengalami peningkatan menjadi 1.273,00 Gg/CO2 di tahun 2021. Adapun berdasarkan kondisi distribusi kelas pada jasa lingkungan pengaturan iklim didominasi oleh kelas sedang sebesar 46.963,21 ha atau 42,8% dan dominasi kedua kelas tinggi sebesar 24.262,72 ha atau 22,1%. Kondisi tersebut berarti bahwa Kabupaten Boyolali memiliki kemampuan yang sedang dalam pengaturan iklim.

3. Perlunya pengendalian alih fungsi lahan

Terjadinya penurunan luas kawasan non hijau dipengaruhi adanya pengembangan daerah.

Berdasarkan dokumen IKPLHD perubahan terjadi pada sawah di tahun 2021 memiliki luas 25,537.43 ha menjadi 25,529.91 ha ditahun 2022. Luasan perkebunan juga mengalami penurunan, di tahun 2021 seluas 3,188.43 ha menjadi 3,171.42 ha di tahun 2022. Hal ini menunjukkan semakin tahun terjadi alih fungsi lahan dengan meningkatnya luas permukiman dan industri. Adapun kedepannya perlu adanya pengendalian alih fungsi lahan untuk mengurangi dampak yang terjadi akibat alih fungsi lahan.

4. Perlunya peningkatan pengelolaan limbah domestik dan non domestik

Pada pengelolaan limbah domestik khususnya pada pengelolaan grey water (air limbah dari dapur, mandi, cuci, dan bersih rumah) di permukiman perkotaan Kabupaten Boyolali umumnya dialirkan menuju drainase lingkungan yang kemudian menyatu menuju sungai. Kondisi ini berpengaruh terhadap dampak pencemaran air sungai. Sedangkan kondisi pengelolaan limbah non domestik dipengaruhi limbah industri dan UMKM, limbah fasilitas kesehatan dan limbah ternak. Kondisi saat ini masih banyak industri yang memiliki belum Instalasi Pengolahan Air Limbah, begitu juga dengan kegiatan UMKM belum memiliki fasilitas pengolahan air limbah dan peternak yang belum sepenuhnya mengelola limbah ternak. Hal ini perlu ditingkatkan dengan upaya penyediaan sarana pengolahan limbah baik domestik maupun non domestik.

5. Masih perlunya upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan upaya mitigasi bencana Potensi bencana yang terjadi di Kabupaten Boyolali yaitu tanah longsor, banjir, kekeringan, angin puting beliung/angin ribut, kebakaran hutan, dan erupsi Gunung Merapi. Sedangkan kondisi Kabupaten Boyolali memiliki tingkat kelas risiko sedang dengan skor 130,32. Adapun saat ini baru terbentuk 18 desa tangguh bencana (destana), 14 diantaranya adalah Destana Erupsi Merapi di Kecamatan Selo, Musuk, dan Cepogo. Kondisi distribusi kelas jasa lingkungan pengaturan mitigasi bencana di Kabupaten Boyolali didominasi oleh kelas sedang yaitu seluas 39.203,25 ha atau 37%. Kondisi tersebut mengartikan bahwa Kabupaten Boyolali memiliki kemampuan lahan yang rendah dalam pengaturan pencegahan dan perlindungan bencana.

Sehingga perlunya upaya dalam peningkatan mitigasi dan penanganan bencana.

6. Perlunya peningkatan ketahanan pangan daerah

Daya dukung lahan sawah Kabupaten Boyolali masih mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Namun, dengan adanya potensi alih fungsi lahan dapat berpengaruh terhadap produksi pertanian. Produksi beras Kabupaten Boyolali mencapai 442.116 ton di tahun 2022 dan mengalami penurunan menjadi 379.044 ton di tahun 2029. Hal ini perlu upaya dalam peningkatan produktivitas maupun pengendalian alih fungsi lahan pertanian. Kondisi Kabupaten Boyolali berdasarkan jasa lingkungan penyedia pangan di Kabupaten Boyolali didominasi oleh jasa lingkungan kelas sedang sebesar 56.625,68 ha (52%), untuk dominasi kedua berupa kelas rendah sebesar 39.882,11 ha (36%).

7. Perlunya peningkatan pengelolaan persampahan

Timbulan sampah Kabupaten Boyolali mengalami kenaikan 1,01% pada tahun 2020-2021, dan kenaikan 0,59% pada tahun 2021-2022. Adapun kondisi sampah yang terkelola di tahun 2022 sebesar 56,64%, sehingga masih terdapat 43,36% yang tidak terkelola. Hal ini perlu diupayakan untuk meningkatkan pengelolaan persampahan untuk penanganan timbulan sampah yang semakin meningkat, sehingga dapat meminimalisasi dampak adanya pencemaran lingkungan di Kabupaten Boyolali akibat sampah.

Dalam dokumen ! Buku I Lap Induk KLHS RPJMD Kab Boyolali (Halaman 149-163)