t-6
4IERPUSTAKAAN KEARSIPAN ISI
JAWATIMUR
11.381POE
i.3
Poerwanto
Jultza Hidayati
Anizar
a
o
il
@ cnaHA rLMU
ln$tumGntasi
fiat Ukur
Poerwanto
Juliza Hidayati
Anizar
lnstrumentasi dan Alat Ukur
Oleh :
PoerwantoJuliza HidaYati Anizar
I t. r K---l (''
I
DI trdrrr
C rrr Ior ir.'
It ar 7lrI rlv Iltt X, rrrtq','1 i .lr wr I t nrrtr
1/6,fbr
Irit,l
1r,,1,., _,,.)Edisi Pertama
Cetakan Pertama, 2008 Cetakan Kedua,2012
Hak Cipta O 2008 pada
penulis,
nclahkanHak Cipta dilindungi uniung-'ndung' Dilarang memperbany'tk 'rl'ttt trtt'mtt sebagian atau seluruh
iti-n'['
i"i j"iam bentukapa pun' secara .l|k]tr'tri-s maupun mekanis, termasuk *"nltltokopi, merekam' atau clengan teknik pt'rek'rrtr'tri lainnya' tanpa izin tertulis dari penerbit'GRAHA ILMU
Candi Cebang Permai Blok U6 Yogyakarta 5551 1
T;i-p :
Q274-882262;0274-4462135Fax. :
02744462136E-mail :
info@grahailmu'co'idI(ATAPENGAIVTAR
-t/l
erkembangan teknologi dewasaini,
semakin terasa bertam-' llJ
bah maju, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan yangll
sepadan dengan kemajuanteknologi.
Diharapkan dengan terbitnyabuku ini,
pembaca dapat mengenal, mengevaluasi prinsip kerja instrumen dan alat ukur serta mampu menggunakannya untuk kepentingan pengukuran yang lebih akurat.lnstrumentasi merupakan salah satu
ilmu teknik yang
makin terasa keperluannya dalam kehidupan sehari-hari untuk mendapatkannilai
pengukuran yang lebih akurat. Bukuini
disusun sebagai penun-tun
untuk memahami cara kerja dan teknik pengoperasian instrumen dan alat ukur untuk mengawasi sistem dan lingkungan keria, serta di- rangkum dari berbagai buku teknologi yang tercantum dalam daftar pustaka.Penyusun menyadari bahwa buku yang disusun
ini jauh
dari kesempurnaan dankritik
serta saran dari berbagai pihak sangat kami harapkan demi sempurnanya buku ini.Medan, Februari 2007
Pen ulis, TIM
i
Poerwanto; HidaYati
, Juliza;
AnizarInstrumentasi
danAlat
Ukur/Poerwanto;JuIiza Hidayati;
Anizar
-Edisi
Pertama-
Yogyakarta; GrahaIlmu'
2012viii +
128hIm, 1 JiI' z 23
cm'ISBN:
glB-g1g-756-350-B1.
Teknik Ju<lu Iil
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI
BAB
I
INSTRUMENTASI ('NSTRUMENTATION)1.'l
Pendahuluan1.2
Tujuan1.3
DefinisiBAB
2
DASAR.DASARAIAT
UKUR2.1
Pendahuluan2.2
Konsep Umum Alat Ukur2.3
TransduserAktif
Dan Pasif2.4
Karakteristik Kerja Alat Ukur BAB3
TEKNIK PENGUKURAN3.1
Pendahuluan3.2
Jenis Dan Cara Pengukuran3.3
Konstruksi Umum Dari Alat Ukur3-4
Penunjuk/pencatat BAB4
PENGAWASAN MUTUv
vil
1 1
1
2 5 5 7
I I
19 19 24 28 5'l 67
BAB
5
ALAT UKUR5.1
Standar Pengukuran5.2
Blok Ukur Presisi5.3
Klasifikasi Alat Ukur5.4
Alat Ukur Panjang5.5
Alat OPtik5.6
Kaliper dan Pembagi5.7
Pengukuran Sudut5.8
Bilah Sinus5.9
PengukuranPermukaan5.1
0
Pengukur PermukaanBAB
6
ALAT UKUR KAPASITAS KERIA6.'l
Tujuan6.2
Definisi6.3
Kerja Fisik6.4
Peralatan/Alat Ukur Kapasitas Kerja BAB7
ALAT UKUR KELELAHAN OTOT7.1
Tujuan7.2
Definisi7.3
Piranti Ukur Kelelahan Otot7.4
Hubungan Antara Lelah Mental Dan Lelah Otot BABB
ANTROPOMETRI8.1
Tujuan8.2
Definisi8.3
Piranti Ukur/alat Ukur Tubuh DAFTAR PUSTAKATENTANG PENULIS
75 75 75 78 79 B2 B4 B4 B4 B5 B6 87 B7 B7 B8 BB 101 10'l 101 102 113 117 1'17 117 120 123 125
goroSc8c8'
vnl lnstrumentasi & AIat Ukur
INSTRUMENTA,SI
(r nsrRUMENTArrON)
1.1. PENDAIIULUAN
-l1nstumentasi
merupakan salah satu ilmu teknikyang makin terasa' ff
lr.p.rluannya dalam kehidupan sehari-hari untuk mendapatkanfl
nilai pengukuran yang lebih akurat. Keberhasilan para ilmuwan danahli
teknologi seluruhnya tergantung pada kemampuannya me.milih
dan keberhasilan memanfaatkan secara optimum sistem-sistem instrumen.1.2 TUJUAN
a.
Mempelajari dasar sistem instrumentasi berdasarkan teknik digi- talb.
Memahami konsep dasar pengukuran dan klasifikasi transduserc.
Mengetahui karakteristik dan unjuk kerja sistem instrumentasi ber- dasarkan teknik digital (elektronika)d.
Mengimplementasikan sistem instrumentasi pada bidang keseh'at- an kerja1.5 DEFINISI
1.3.1 lnstrumentasi (Instrumentation)
a.
Penggunaan piranti ukur (instrumen) untuk menentukan harga be- saran yang berubah-ubah, yang seringkali pula untuk keperluan pengemudian besaran yang perlu beradadi
batas-batas harga ter- tentub.
Semuapiranti (kimia, listrik, hidrolik,
magnit, mekanik, optik, pneumatik) yang digunakan untuk: menguji, mengamati, meng- ukur, memantau, mengubah, membangkitkan, mencatat, menera/memelihara, atau mengemudikan sifat-sifat badani (fisik) gerakan atau karakteristik lain.
1.3.2 tnstrumen (lnstrument)
lnstrumen atau piranti ukur merupakan piranti untuk mengukur harga sesuatu kuantitas selama pengamatan.
Piranti itu dapat berupa instrumen tuding (indicating instument) dan dapat berupa instrumen rekan (recording instrument)
lstilah "INSTRUMEN" digunakan dua maksud yaitu:
a.
lnstrumen murni yang terdiri dari mekanisme dan bagian-bagian yang dibangun di dalam wadah (rumah) atau piranti yang berkait- an dengan itub.
lnstrumen murni berikut sembarang alat-alat imbuhan (auxliary) seperti misalnya: tahanan kondensator atau transformator instru- men.Sebagai pengganti kata
"lnstrumen'
(piranti) seringkali dipakai pula kata"alat ukur"
(meter). Katapiranti
digunakan pula sebagai peng- indonesiaan "device'.1.3.3 Digital
Definisi Digital:Aksara yang melambangkan satu bilangan utuh Sembarang aksara dapat juga disebut digit
Aksara yang dipakai untuk menyatukan salah satu bilangan utuh yang lebih kecil dari radiknya (bilangan dasarnya)
Contoh:
salah satu aksara
0
sampai dengan9
adalah se- aksara 0 dan 1 adalah digit:
berkaitan dengan katayang
berbentukdigitdigit
(secara digit)Dalam sistem
digit :
,yang ditangani adalah bilangan-bilangan yang sama sekali tidak terpengaruh oleh variasi fisik, karena itu hasilnya sangatlah cermatKonversi dari isyarat analog ke isyarat digit disebut pemodulasian sandi
1.3.4 Elektronik
Definisi:1.
Menyangkut piranti-piranti, kalang atau sistem yang mengguna- kan piranti elektron.2.
lstilah elektronik yang berkaitan dengan kegiatan elektron-elek-tron dan
lubang-lubang (hole)di
dalam piranti semi konduktor seperti dioda dan transistor3.
Elektronik: secara umum dikenakan kepada arus yang terdiri dari jumlah kecil elektron-elektron yang bergerak dalam hampa4.
Elektrik: berkaitan dengan arus elektron dalam jumlah besar dalam penghantar logam atau kawat1.
2.
3.
b)
Dinotasi dasar, bagai digit Dinotasi biner, Digital
lnstrumentasi &, Alat Ukur I nstrumentasi (l nstrumentoti on) 3
5. Digital elektronik adalah piranti
di git-d igit dengan menggunakan
yang bekerja berdasarkan bentuk piranti elektron
somScece
lnstrumentasi & Alat Ukur
DASAR-DASARAI-AT UKUR
2.1 PENDAIIULUAN
/.-lalancangan dan
pengembangansebuah mesin atau
suatu' ll(
sistem,nilai
praktisnya masih dipertanyakankecuali
jikaf I \operasi
dan daya gunanya telahdiuji.
Semua operasiini
me- merlukaFfengukuran yaitu membandingkan secara kuantitatif suatu standar yang telah ditentukan sebelumnya dengan suatu besaran yang tidak diketahui.status standar pengukuran yang disepakati secara internasional untuk satuan dasar pengukuran adalah sebagai berikut:
2.1.1
Standar PanjangPada tanggal
14 Oktober 1960,
KonferensiUmum ke
Sebe- las tentang Beratdan
Ukuran (The Eleventhceneral
Conference on Weights and Measures) mengadopsi definisi meter (satuan panjang) yang terbaruyaitu
1650763.73 panjang gelombangdi
dalam ruang hampa udara dari radiasi atom Kripton yang mengalami transisi di an- tara tingkat 2p,o dan 5d.2.1.2
Standar Massasatuan massa adalah kilogram, yang didefinisikan
oleh
massa The lnternational Prototype Kilogram, terbuatdari
platinum-irridium dan disimpan oleh Biro lnternasional untuk Berat dan Ukuran di dekat Paris2.1.3
StandarWaktu dan
FrekuensiDi
Paris, pada tanggal 13 Oktober 1967, Konferensi Umum ke Tiga Belas tentang Beratdan
Ukuran (The Thirteenthceneral
Con- ferenceon
Weights and Measures) secara resmi mengadopsi detik se-bagai Satuan Waktu lnternasional, yang didefinisikan sebagai berikut:
,,Detik adalah jangka waktu 9192631770 periode radiasi atom cesium 133 yang mengalami transisi
di
antara dua tingkat yang sangat kecil pada keadaan dasar"."Jam" cesium merupakan
stanlar
frekuensi dasar' Pendulum, garpu tala, osilator elektronikdan
sebagainya dapat digunakan se- bagai standar sekunder. Frekuensi adalahjumlah
pengulangan geja- lalfenomena atau satu rangkaian keiadian selama satu interval waktu tertentu (satuannya adalah Hertz) dan kebalikan dari frekuensi adalahperiode.
2.1.4
Standar SuhuPada tahun 1948 Konferensi Umum ke Sembilan tentang Berat dan Ukuran (The
Ninth
Ceneral Conference onWeights and Measures) menetapkan dua skala suhu internasional: pertama, Skala Kelvin Ter- modinamika (TKS:
Thermodynamic Kelvin Sca/e), berdasarkan suhu yang berkaitan dengan hubungan termodinamika, dan kedua, skala Suhu Praktis lnternasional (IPTS:
lnternational Practical Tempera- ture Sca/e), merupakan dasar pengukuran yanglebih
umum. Sistem TKS meliputi metode magnetis, gas ultrasonik dan optis, sedangkan sistem IPTS berdasarkan suhu yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik seperti pemuaian panas dan variasi termolistrik. Titik nol derajat (jugalnstrumentasi & Alot Ukur Dasar-dasar Alat Ukur
I I
diberi nama celsius untuk menghormati Anders Celsius, pencipta ska- la 100 satuan antara
titik
uap dantitik
beku air) adalah suhudi
mana terjadi keseimbangan antara es murni dengan udara jenuhair
murni pada tekanan atmosfer normal. Hubungan antara nilai derajat Kelvin dan Fahrenheit masing-masing adalah 273,15 dera.iat dan 32 derajat.2.1.5
Standarlistrik
Sebelum
tahun 1948
standarlistrik
didasarkanpada
Ohm, Amper danVolt
'lnternasional" yang diakui pada tahun 1893. Ohm internasional didefinisikan sebagai tahanan kolomair
raksa dengan penampang melintang yang sama, mempunyai panjang106,3
cm dan massa '14,4521 gram pada temperatur0
derajat celsius. Amper lnternasional didefinisikan sebagai "arus konstan yang apabila melalui Iarutan perak nitrat dalam air yang sesuai dengan spesifikasi standar, dapat mengendapkan perak dengan kecepatan 0,001 1 1B gram per de-tik." Volt
internasional didefinisikan sehingga sel Clark pada 15 de- rajat celsius mempunyaiggl
1 ,434Yolt.
Standarlistrik
internasionalini
dimodifikasi menjadi sistem absolut pada tanggal 1 Januari 1948 sebagai berikut:Ohm
internasional
1,00049 ohm absolut Voltinternasional
'1,000330 volt absolutAmper
internasional :
0,99835 amper absolut2.2 KONSEP UMUM AIITT UKUR
Secara umlrm, konsep alat ukur dapat digambarkan dalam dua kategori pokok pertama operasi dan daya guna dilihat dari unsur-unsur fungsional sistem alat ukur, dan kedua, dilihat dari karakteristik statis dan dinamisnya.
Unsur-unsur fungsional alat ukur atau sistem pengukuran secara umum meliputi unsur penginderaan primer, unsur pengkonversi peu- bah (variabel), unsur pengubah (manipulator), peubah unsur pengirim-
an data dan unsur penyaji data dalam bentuk oleh indera manusia (Cambar 2.1)
yang dapat ditanggapi
Gambar 2.1. U nsur-unsur Fungsional Sistem Pengukuran Unsur pengindera primer adalah unsur pertama yang menerima energi
dari
medium yangdiukur dan
menghasilkan keluaran yang dalam batas-batas tertentu tergantung pada kuantitas yang diukur. Ti- dak diragukan bahwa alat ukur menyerap sejumlah energidari
me- dium yang diukur. Karenaitu
kuantitas yang diukur selalu tergangguoleh tindakan
pengukuran, menyebabkan suatu pengukuran yang sempurna adalah mustahil.Unsur pengkonversi peubah,
jika
diperlukan, dapat menukar keluaran dari unsur pengindera primer dengan peubah yang lebih co- cok, sedangkan informasi dalam peubah sebelumnya tetap disimpan.Unsur manipulasi peubah secara spesifik menimbulkan perubah- an-perubahan
nilai
numerik sesuai aturan tertentu sehingga memper- tahankansifat fisik
peubah. Suatu penguat operasional elektronik dapat mengilustrasikan konsep ini,di
mana dihasilkan sinyal keluaran yang mempunyai satuan sama dengan sinyal masukan tetapi dengan besaran beberapa kali dari masukan.lnformasi yang telah diolah perlu dikirimkan dan disajikan oleh unsur pengirim data dan unsur penyaji data kepada manusia untuk tu- juan pemantauan, pengendalian atau analisis. Sebagai contoh adalah sistem telementri untuk mengirimkan sinyal
dari
peluru kendali ke- pada peralatandi
daratoleh
radio mencatat informasiini
pada pita magnetis untuk analisis selanjutnya.lnstrumentasi & Alat Ukur Dasar-dasar Alot Ukur
2.5 TKANSDUSEK AI{TIF DAN PASIF
Konsep umum mengenai bagaimana fungsi-fungsi seperti yang ditunjukkan dalam
cambar 2.1
dijalankan, dapat digeneralisasi de- ngan memperhatikan energinya. Jadi suatu komponen fisik dapat ber- tindak sebagai transduser aktif atau transduser pasif.satu komponen yang sebagian besar atau seluruh keluaran ener- ginya berasal
dari
sinyal masukandikenal
sebagai transduser pasif, sedangkan transduseraktif
mempunyai sumber tenaga tambahan yang menyediakan sebagian besar energi keluaran sedangkan sinyal masukan hanya menyediakan sebagian kecil saja. Alat ukur tekanan, termometer tekanan merupakan transduser pasif. penguat elektronik, counterdigital dan
mekanisme servo merupakan beberapa contoh transduser aktif.2.4 KAKAI{TERISTIK KEKJA AIIIT UKUR
Pasal-pasal berikut akan membahas komponen-komponen fung-
sional
suatu sistem pengukuran.Masih
tersisa pertanyaan penting yang belum dijawab seperti seberapajauh
ketepatan suatu alat ukurdan
sistem pengukuran mampu mengukur masukan yang dikehen- daki, dan bagaimana alat ukur tersebut menolak masukan palsu. Karak- teristik efektif alat ukur secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu karakteristik statis dan dinamis. secara umum karakteristik statis juga mempengaruhi kualitas pengukurandi
bawah kondisi-kondisi dinamis. Dalam kenyataannya persamaan-persamaan diferensial daya guna dinamis mengabaikan pengaruh gesekan kering, gerak-balik (blacklash), histerisis, sebaran statistikdan
sebagainya, walaupun persamaan-persamaan tersebut mempunyai pengaruh pada tingkah laku dinamis. Tentu saja pendekatan ini merupakan perkiraan, namun sangat berguna.I
2.4.1 Karakteristik
StatisDapat ditetapkan suatu kriteria daya-guna alat ukur yang mem-
berikan
gambaranyang
bermakna mengenai kualitas pengukuran tanpa memperhatikan gambaran dinamis yang melibatkan persamaan diferensial. Dengan kata lain, karakteristik statis suatu alat ukur adalah karakteristik yang harus diperhatikan apabila alat tersebut digunakan untuk mengukur suatu kondisi yang tidak berubah karena waktu atau hanya berubah secara lambat laun.2.4.2 Kalibrasi
Kalibrasi mengacu kepada satu keadaan
di
mana semua masuk-an
(yang dikehendaki, yang mengganggu, yang mengubah) kecuali satu masukan dipertahankan padanilai
tetap. Masukan yang dipela- jari tersebut kemudian diubah-ubah sepanjang rentang nilai konstanta yang sama, yang menyebabkan nilai keluaran berubah sepanjang ren- tang nilai konstanta tertentu. Prosedur yang sama diulangi secara ber- variasi sesuai dengan setiap masukan yangditeliti
berdasarkan minat, sehingga mengembangkan satu kumpulan hubungan masukan-kelu- aran statis.Tidak mungkin melakukan kalibrasi suatu alat ukur dengan kete- patan lebih besar dari standar yang
diikuti
adalah suatu standar kali- brasi yang paling sedikit mempunyai ketepatan 10 kali alat ukur yang dikalibrasi. Jadi adalah amat penting bahwa orang yang melakukan kalibrasi alatukur
harusyakin
bahwa standar kalibrasi mempunyai ketepatan yang memadai sebagai pembanding.Pada penggunaan
yang
berkesinambungan, mungkin- terjadi bahwa setelah beberapa waktu alat ukur mengalami kesalahan penye- telan menyebabkan kesalahan nilai nol. Jadi bagi semua jenis alat ukur kalibrasi angka nol dan jangka waktunya perlu dilakukan. Penting pula bagi pemakai untuk mengetahui bagaimana kalibrasi dilakukan.2.4.3 Ketelitian
Ketelitian juga dikenal
sebagaireproduksibilitas.
Ketelitian pembacaan merupakan kecocokan antara pembacaan-pembacaan itu sendiri. Jika nilai yang sama dari peubah yang terukur, diukur bebera- pa kali dan memberikan hasil yang kurang-lebih sama, maka alat ukur tersebut dikatakan mempunyai ketelitian atau reproduksibilitas tinggi, dan juga berarti alat ukur tidak mempunyai penyimpangan. Penyim- pangan nilai alat ukur yang telah dikalibrasi disebabkan oleh berbagai faktor seperti, kontaminasi logam pada termokopel.Hal ini
terjadi secara berangsur-angsur dalam satu periode waktu, dan nampaknya tidak diperhatikan. Penyimpanganini
hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan secara berkala kalibrasi alat ukur.2.4.4
KetepatanKetepatan didefinisikan sebagai tingkat perbedaan yang seke- cil-kecilnya antara
nilai
pengamatan dengannilai
sebenarnya. Untuk memperoleh ketepatan yang diharapkan kalibrasi alat ukur, perlu di- lakukan secara berkala dengan menggunakan standar konstan yang telah diketahui.Meskipun semua pemakai alat ukur bertujuan agar selalu mem- peroleh tingkat ketepatan setinggi mungkin, namun kesalahan relatif tetap harus diingat. Ukuran relatif suatu kesalahan biasanya dinyatakan dalam lingkup nilai sesungguhnya dari kuantitas yang diukur, sebagai prosentase. Sebagai contoh, bila termokopel digunakan untuk meng- ukur suhu api, misalnya pada 1.000.C dengan ketepatan + 5oC, maka prosentase kesalahannya adalah
t-=x100:+100:+0,5%
1.000
Namun bila kesalahan
+
5oC terjadi pada pengukuran suhuair
men- didih pada 100oC, maka prosentase kesalahannya adalah10 lnstrumentasi & Alat ukur
Dasar-dosar Alot Ukur 11
il
t 5 x100%:tlo6
1.O
Jauh lebih serius kesalahannya.
2.4.5
KepekaanKepekaan
alat ukur
secaraumum
mengacu kepadadua
hal.Pada beberapa kasus kepekaan menyatakan perubahan terkecil nilai peubah yang diukur
di
mana alat ukur memberikan tangSapan semen- tara aliran pemikiran lain menganggap kepekaan sebagai ukuran pe- rubahan yang dihasilkan oleh alat ukur untuk suatu perubahan peubah yang diukur.Daerah
mati (dead
zone) adalah rentangnilai
terbesar dari peubah yang diukurdi
mana alat ukur tidak memberikan tanggapan.Daerah mati biasanya terjadi karena gesekan pada alat pencatat. Juga ditemukan jenis mekanisme tertentu yang hanya dapat menunjukkan sedikit perubahan dan perubahan diskrit
dari nilai
peubah yang di- ukur.2.4.6
f angkauan(Rangebility)
Jangkauan (rangeabilitas) dari instrumen biasanya diartikan per- bandingan pembacaan meter maksimum ke pembacaan meter mini- mum,
di
mana kesalahan kurang dari harga yang dinyatakan. Dalam hal pengukuran yang mempLlnyai jarum atau pena, ketidakmampuan pemakai untuk menafsirkan perpindahan kecil dari jarum atau pena secara tepat, membatasi jangkauan.2.4.7
Kesalahan PengukuranDalam melakukan pengukuran
fisik, tujuan
utamanya adalah memperoleh suatunilai
yang terdiri dari satuan yangdipilih
dan be- sarannya, yang akan menyatakan besar kuantitas fisik yang diukur. Se- bagai contoh, dalam pengukuran tekanan, satuan yangdipilih
adalah bar dan besarnya adalah 100. Jadi, 100 bar. Tingkat kegagalan dalam menspesifikasi besaran ini dilakukan secara pasti, danini
berarti pulavariasi kuantitas
nilai
yang dinyatakandari nilai
sebenarnya, meru- pakan kesalahan pengukuran.Kesalahan
ini
muncul dalam sistem pengukuran itu sendiri dan dari standar yang digunakan untuk kalibrasi sistem tersebut. Sebagai tambahan untuk kesalahan yang dihasilkan dari kalibrasi sistem peng- ukuran yang salah, ada sejumlah sumber kesalahan yang perlu diperik-sa. Sumber kesalahan
ini
meliputi (1)derau (noise), (2)waktu tanggap (response time),(3)
keterbatasan rancangan (designlimitation),
(4) pertambahan atau kehilangan energi karena interaksi, (5) transmisi, (5) keausan atau kerusakan sistem pengukuran, (7) pengaruh ruangan terhadap sistem, (B) kesalahan penafsiranoleh
pengamat. Untuk ba- hasanterinci
mengenai karakteristikini
pembaca disarankan untuk menelusuri rujukan.Dalam
memperkirakan besar ketidakpastianatau
kesalahan dalam menetapkannilai
kuantitas sebagaihasil
pengukuran, harus dibedakan antara dua golongan kesalahan: sistematis dan acak. Ke- salahan sistematis adalah kesalahan yang secara konsisten terulang apabila dilakukan pengulangan percobaan. Kesalahan kal ibrasi sistem pengukuran atau suatu perubahan dalam sistem yang menyebabkan penunjuk menyimpang secara konsisten dari nilai kalibrasi merupakan kesalahan jenis ini.2.4.8 Karakteristik Dinamis
Karakteristik
dinamis suatu alat ukur adalah fungsi
waktu.Hubungan masukan-keluaran dinyatakan
dalam bentuk
persamaan diferensial. Karakteristik utama adalah kecepatan dalam tanggapan dan kecermatan.Kecepatan tanggapan (respons)
adalah
kecepatanalat
ukur dalam memberi tanggapan terhadap perubahan kuantitas yang diukur.Keterlambatan dalam pengukuran yang berkaitan dengan kecepatan tanggapan adalah perlambatan atau penundaan tanggapan suatu alat ukur terhadap perubahan kuantitas yang diukur. Perlambatan demiki-
12 lnstrumentasi & AIot Ukur Dasar-dasor Alat Ukur 13
I
an
merupakan karakteristikyang tidak dikehendaki.
Kecermatan adalah tingkat yang memberi gambar apakah alat ukur menunjukkan perubahan peubah yang diukur tanpa kesalahan dinamis. Kesalahandinamis
adalah perbedaan antara kuantitasnilai
sebenarnya yangberubah menurut waktu, dan nilai yang ditunjukkan alat ukur jika di- asumsikan tidak ada kesalahan statis. Waktu mati (Dead Time) yan8 berkaitan dengan tipe retardasi dalam pengukuran kesenjangan hanya mengubah tanggapan alat ukur sepanjang skala waktu dan menyebab- kan kesalahan dinamis. Secara umum, kesenjangan pengukuran jenis ini sangat kecil dan dapat dinyatakan dalam sepersekian detik-
waktu
mati disebabkan oleh daerahmati
(dead zone) dalam alat ukur dan oleh gesekan awal atau pengaruh yang serupa'Karakteristik dinamis
dari
sistem pengukuran tebih baik diba- has dehgan mengembangkan suatu model matematika yang berlaku umum yang mencakup hal-hal penting berkenaan dengan karakteris-tik
hubungan dinamis antara masukan-keluaran.Model
matematika yang digunakanpaling
luasuntuk
mempelajari tanggapan dinamis sistem pengukuran adalah persamaan diferensial linear biasa dengan koefisien-koefisien tetapan yang dapat dirumuskan sebagai berikut.^ dnuo dn-'e.
d,"
;f*?n-r 17;f
+"'
+ arEeo
+ aoeo.dt,dt-l dr-
-
b,nfu",
+b'-t 6g,-, "'
+"'
+ b111e1 + Doeldi mana
eo:
keluaraner :
maSukandan a dan b adalah tetapan-tetapan yanS berkaitan dengan kombinasi parameter-parameter fisi k sistem'
persamaan umum di atas dapat diselesaikan baik dengan meng- gunakan teori operator,D, yang klasik atau menSgunakan transformasi
Laplace.
Marilah kita definisikan operator diferensial sebagai berikut:
Persamaan umum menjadi
(anDn
+
an-1Dn-1+ ... +
a1D+
ao)eo: (b.D, +
b,_,D,-l+ ... + b,D +
b.)e,Dengan menggunakan metode operator
'D'
penyelesaian eo secara lengkap diperoleh dalam dua bagian yang terpisah sebagaiEo:e^-+e
oLF oprdi
mana
eocr:
bagian penyelesaian fungsi pelengkapeoo'
:
bagian penyelesaian integral tertentuPenyelesaiaD eocr mempunyai
n
tetapan sembarang; eoo, tidak memiliki tetapan. Tetapan sembarang n ini dapat dievaluasi secara nu- merik dengan menentukann
kondisiawal
pada persamaan umum.Penyelesaian eo., diperoleh dengan menghitung n akar persamaan al- jabar karakteristik.
anDn
+
?n-' Dn-t+ ... + arD +
?o:
0Bila akar r1, r2, r7,... r, telah diperoleh maka penyelesaian fungsi pelengkap dapat ditulis dengan bantuan beberapa hukum yang telah cukup dikenal (lihatlah buku-buku persamaan diferensial).
Bagian penyelesaian integral teftentu dapat dikerjakan menggu- nakan metode koefisien tak ditetapkan sehingga diperoleh penyele- saiannya. Jika metode tersebut dapat diterapkan, penyelesaian eopi
ditulis sebagai berikut:
eoPi
:
Af(t) +bf'(t) + cf" (l) +
...Di
mana sisi kanan persamaanmeliputi
satu istilah untuk tiap bentuk yang berbeda secara fungsional yang diperoleh dengan meng- hitung f (t) dan semua turuannya. TetapanA,
B, C dan seterusnya juga dapat dihitung tanpa banyak kesulitan.D:
ddt
14 lnstrumentosi & Alot Ukur Dosar-dosar Alat Ukur 15
Ada cara lain yang disederhanakan untuk menemukan penye- lesaian persamaan diferensial biasa yang bersifat umum
di
atas. Per- bandingan keluaran dengan masukan dinyatakan dengan fungsi pin- dah operasional seperti terlihatdi
bawah ini:lq(D)
=e1
:K
Gambar
2.2.
Fungsi Pindah Operasional UmumFungsi transfer (fungsi pindah) sangat berguna dalam menggam- barkan karakteristik dinamis sistem dengan simbol yaitu menggunakan diagqam blok. Misalkan satu sistern terdiri dari empat subsatua,n yang mempunyai fungsi pindah K,, K2, K, dan Ko. Seluruh fungsi pindah dari sistem adalah
"o -*,xKrxKrxKo:Ku
€1
(seperti terlihat pada Cambar 2.3)
€o
: K*t
Gambar
2.3.
Fungsi Pindah Keseluruhan€o:€rXKu
Walaupun demikian transformasi Laplace fungsi pindah umum dari persamaan diferensial umum biasa seperti
di
atas dapat diperoleh de' ngan mengganti"D'dengan
"S'anDn + dn-rDn-l +... + arD + bo
16 lnstrumentasi & Alat Ukur i'trlrn pr;pr"sr- L l+ll j,
dan f(',''r';'cn
I
T
e o ,",,
_
bn.'S* +br-tS'-l
+... + brS + boel
ansn + ?n_rSn-l +... + arS + b,,Di mana S adalah peubah kompleks transformasi Laplace. Dalam kasus masukan sinusoidal, karena frekuensi sama, maka hubungan an- tara gelombang sinus masukan dan keluaran dispesifikasi sepenuhnya dengan memberikan
nilai
perbandinganamplitudo dan
perubahan fase kedua kuantitas ini berubah bila frekuensi ro berubah. Fungsi pin- dah sinusoida satu sistem diperoleh dengan mengganti D dani
ro di manapun ia muncul pada fungsi pindah operasional.:
:q(i<o)a e.r_ b-(iro)'
+ b,,-,(iot)--1 +...b.,(iro)+ boar(iol)'
+ an-r(ico)'-l +... + a,(ior)+ aoDi mana
fi
frekuensi, rad/waktu
Untuk setiap frekuensi
o
persamaandi
atas memperlihatkan bahwa5(ir)
merupakan bilangan kompleks yang dapat dinyatakan dalame1
bentuk polar M/$ yang menspesifikasi variasi amplitudo dan perubah- an fase pada setiap waktu.
2.4.9 Alat Ukur Urutan Nol
Alat ukur atau sistem apapun yang mengasumsikan bahwa kecu- ali ao dan bo semua nilai a dan b persamaan diferensial umum Iinear, sama dengan
nol
disebut alat ukur urutannol.
Sehingga persamaan umum menjadi persamaan aljabar sederhana.aoeo
:
boe,Sebenarnya tidak diperlukan dua tetapan ao dan bo, dan dengan demikian kepekaan statis atau keadaan mantap didefinisikan sebagai
i-
o
berikut
Dasar-dasar Alat Ukur
(" rrtLi;-j
eo: ber
=Kerao
di mana
K- bo :
Kepekaan statis aoKarena persamaan eo
:
Ke, merupakan persamaan aljabar, maka tidak boleh tidak, e, dapat berubah menurut waktu dan keluaran alat ukur mengikuti secara sempurna tanpa penyimpangan atau kesenjang- an waktu. Jadi alat ukur urutan nol memperlihatkan penampilan dina- mis yang ideal atau sempurna. Potensiometer pengukur perpindahan merupakan satu contoh praktis. Namun bila orang memeriksa sistem ini secara kritis ternyata ia bukan benar-benar alat ukur urutan nol.2.4.10 Alat Ukur Urutan
PertamaAlat ukur yang mengikuti persamaan sederhana model matema- tika kecuali a,, ao dan bo.
argoScece
18 lnstrumentasi & Alat Ukur
I
TEKNIK PENGUKURAN
8.1 PENDAIIULUAN
engukuran dalam
arti
yang luas adalah: membandingkan suatu besaran dengan besaran standar.Besaran standar tersebut harus memenuhi syarat-syarat se.
bagai berikut:
Dapat didefinisikan secara fisik Jelas dan tidak berubah dengan waktu
Dapat digunakan sebagai pembanding,
di
mana saja di dunia ini Satuandari
besaran standaruntuk
setiap pengukuran dapat merupakan salah satu atau gabungan dari satuan-satuan dasar. Dalam sistem satuan yangtelah
disepakati secara internasional(Sl
Units, lnternational System of lJnits, [e Systeme lnternationa/ d'Unites) dike- nal tujuh satuan dasar, setiap satuan dasar mempunyai satuan standar dengan simbol yang biasa digunakanuntuk
menandainya sebagai- mana yang diperlihatkan pada Tabel 3.1.Besaran dasar Nama satuan dasar Simbol Panjang
Massa Waktu Arus listrik
Temperatur termodinamika Jumlah zat
lntensitas cahaya
Meter (meter) Kilogram (kilogram) Detik (second) Amper (ampere)
Kwlvin (kelvin) Mol (mole) Lilin (candela)
m kg
S
A
K mol
cd Satuan tambahan
Sudut bidang Sudut ruang
Radial (radial) Steradial (steradian)
rad *)
ST
Tabel 3.1.Satuan Dasar Dari Sl
+) satu derajat adalah sama dengan
: _r
radSemua satuan standar dari setiap pengukuran yang bukan me- rupakan satuan dasar tersebut
di
atas adalah merupakan turunan (gabungan)dari
beberapa satuan dasar, beberapa contoh adalah se-perti Tabel 3.2.
Tabel 3.2. Contoh satuan turunan
Beberapa nama awalan biasanya digunakan untuk membentuk hasil kali dengan bilangan dasar sepuluh bagi nama-nama satuan stan- dar di atas adalah seperti Tabel 3.3.
Besaran Nama satuan standar Simbol
Luas bidang Volume (isi)
Kecepatan Percepatan Gaya Tekanan Energi, (kerja) Daya
Potensial listrik Tahanan listrik
meter persegi meter kubik meter per detik
meter per kuadrat detik newton
pascal
joule watt volt ohm
m2 m3 m/s m/s2 N, kg.m/s2
Pa, N/m2, kg (m.s2) J, Nm, kg.m2/s2' W, J/s, kg.m2/s2
V,W/A, kg.m'zl(s3.A)
{r,V/A, kg.m2l(s3.A2)
20 lnstrumentasi &. Alat Ukur Teknik Pengukuran
21
T
Untuk pengukuran geometris maka besaran dasar yang diguna- kan adalah jelas, yaitu besaran panjang dengan satuan panjang yang
diberi
nama dengan meter (m) serta satuan tambahan yaitu sudut bi- dang dengan nama derajat (") atau radial (rad).setelah mengalami perubahan-perubahan
dalam
mendefinisi- kan meter, maka akhirnya saat ini telah disepakati secara internasional bahwa yang disebut dengan satu meter adalah:-
Panjang yang sama dengan 1650763,73 kali panjang gelombang dalam ruang hampa dari radiasi (sinar) yang timbul akibat perubah- an tingkatan energi antara 2p,o dan 5d, dari atom Kripton 86.Definisi mengalami satu meter yang seteliti
ini
dibuat dengan maksud untuk menrenuhi syarat-syarat penentuan besaran standar un-tuk
pengukuran sebagaimana yang dibicarakan pada permulaan dari bab ini.Tabe! 3.3. Nama awalan untuk membentuk hasil ka,li dengan bilang- an dasar sepuluh bagi satuan standar (fraksi satuan standar)
Faktor Pengali Nama awalan Simbol Contoh
'l 018 1015 1012 10e 106 '103 102 101 't 0-1
10'2 10r
10-6 10-e 10-r 'l 0-1s 10-18
eksa (exa) peta (peta) tera (tera) giga (giga) mega (mega)
kilo (kilo) hekto (hecto) deka (deca) desi (deci) senti (centi) mili (milli) mikro (micro) nano (nano)
piko (pico) femto (femto) ato (atto)
E P
T C M k h da
d
C
m p n p
f
a
1kg:1039
1 MW
:
1O6W 1 cm:
l0-2m1mm:10rm
l pm:
10-6mDengan hanya memandang definisi pengukuran dan definisi me- ter ini, maka kelihatannya adalah mustahil untuk melakukan pengukur- an atas dimensi suatu produk. Memang dalam prakteknya pengukur- an tidak dilakukan dengan secara langsung membandingkan dengan standar meter, melainkan digunakan alat pembanding yaitu alat ukur.
Pada bermacam-macam jenis alat ukur akan kita temukan skala ukur- an. Skala tersebut menunjukkan satuan panjang yang berupa bagian dari meter, dapat merupakan milimeter ataupun mikrometer. Berdasar- kan skala
ini
maka kita dapat membaca berapa panjang atau dimensi dari suatu objek ukur (bagian dari benda ukur). Tentu saja prinsip kerja dari alat ukur harus direncanakan sedemikian rupa sehingga ada yang ditunjukkan pada skala ukuran adalah sesuai dengan apa yang diukur.Dengan demikian untuk memastikan bahwa harga yang ditunjukkan oleh alat ukur
tidak
menyimpang dari satuan standar panjang maka harus dilakukan kalibrasi.Untuk mengkalibrasikan alat ukur biasanya digunakan blok ukur tgauge block/slip gauge) yaitu balok segi empat, umumnya dibuat dari baja karbon tinggi, baja paduan atau karbida, di mana jarak antara dua sisinya
telah diketahui.
Dengan menyusun bermacam-macam blok ukur dari bermacam-macam ukuran maka praktis dapat dibuat ukuran panjang sebagaimana yang dikehendaki. Selanjutnya balok ukur blok ukur tersebut dapat dikalibrasi dengan memakai prinsip interferome- ter yang menggunakan sinar secara langsung sebagai standar panjang.Panjang gelombang dari beberapa sinar yang dipakai dapat ditentukan secara
fisik
(dengan menggunakan spektrometer) sehingga diketahui hubungan-hubungannya dengan standar meter seperti yang didefinisi- kan di atas.Prinsip pengukuran yang diterangkan
di
atasini
adalah meru- pakan bagiandari ilmu
yang dikenal dengan Metrologi lndustri. Se-jajar
denganilmu-ilmu teknik
lainnya makaMetrologi lndustri
ini berkembang menuju penyempurnaan. Semakin maju teknologi pem- buatan suatu produk menuntut ketelitian dan kepercayaan atas cara22 lnstrumentasi & Alot Ukur Teknik Pengukuran 23
I
Idan
alat
untuk mengukur. Banyakalat
ukur-alatukur
modern yang diperkenalkan orang dengan konstruksinya yang telah diperbaharui ataupun yang memakai prinsip kerja yang baru (elektronik). Jenis alat ukur yang dikenaldi
dalamMetrologi
lndustriini
beraneka ragam, mulai dariyang khusus dibuat untuk suatu macam pengukuran sampai jenis yang lebih umum pemakaiannya.Bab ketiga dari buku ini dapat dianggap sebagai pengantar me- ngenai
ilmu
metrologi industri,di
mana akan kita bahas antara lain mengenai:Jenis dan cara pengukuran, termasuk
di
dalamnya pembahasan mengenai klasifikasi umum dari alat ukurKonstruksi umum dari alat ukur, yaitu mengenai komponen-kom- ponen utama yang membentuk alat ukur (prinsip kerja alat ukur secara umum)
Sifat-sifat dari alat ukur (beberapa definisi istilah yang penting dari sifat-sifat alat ukur)
Penyimpangan yang terjadi sewaktu proses pengukuran, definisi mengenai ketelitian dan ketepatan, sumber-sumber yang meng- akibatkan penyimpangan di dalam proses pengukuran
Analisa hasil pengukuran dengan metoda statistik, untuk meng- analisa data hasil pengukuran sehingga mempunyai arti yang jelas atau dengan kata lain bagaimana cara mengolah data pengukuran sehingga kita dapat memperoleh informasi yang dianggap pating baik
Pembahasan yang lebih terperinci mengenai alat ukur akan di- berikan pada bab berikutnya, yaitu mengenai alat ukur-alat ukur yang umum digunakan
oleh
operator-operator mesin sertaalat
ukur-alat ukur yang biasanya dipunyaioleh
suatu Laboratorium Metrorogi tn- dustri.il
5.2 JENIS DAN CARA PDNGUKURAN
Pengukuran geometris
adalah
mencakupketiga
aspek dari geometris yaitu ukuran, bentuk dan kekasaran permukaan. Lebih ter- perinci lagi maka jenis pengukuran dapat dibedakan sebagai berikut:'l
.
Linear2.
Sudut atau kemiringan3.
Kedataran4.
Profil5. Ulir 6.
Roda gigi7.
Penyetelan posisiB.
Kekasaran permukaanDari bermacam-macam ienis pengukuran tersebut
di
atas han-ya
pengukuranlinear yang paling
banyakdipakai.
Macam-macam masalah pengukuran dapat dipecahkan dengan menggunakan peng- ukuran linear, misalnya pengukuran dimensi dengan toleransinya danjuga
penentuan kesalahanbentuk. Untuk
melaksanakan jenis-jenis pengukuranini
maka dibuat bermacam-macam alat ukur masing-ma- sing dengan cara pemakaian yang tertentu.Berdasarkan sifat dari alat ukur maka dikenal 5 macam alat ukur yaitu:
1.
Alat ukur langsung, yang mempunyai skala ukur yang telah dika- librasi. Hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada skala terse- but.2. Alat
ukur pembanding, yang mempunyai skala ukur yang telah dikalibrasi. Karena daerah skala ukurnya terbatas, alatini
hanya digunakan sebagai pembacaan besarnya selisih suatu dimensi ter- hadap ukuran standar.3. Alat
ukur standar, yang mampu memberikan atau menunjukkan suatu harga ukuran tertentu. Digunakan bersama-sama denganalat ukur
pembanding untuk menentukan dimensi suatu obyek ukur.4.
AIat ukur pembatas (kaliber), yang mampu menunjukkan apakah suatu dimensi terletak di dalam ataudi
luar daerah toleransi ukur- an5. Alat
ukur bantu, bukan merupakan alat ukur dalam arti yang se- sungguhnya akan tetapi peranannya adalah penting sekali dalam melaksanakan suatu pengukuran.Hasil pengukuran yang paling baik dapat dicapai dengan me-
milih
alat ukur dan cara pengukuran yang tepat tergantung dari kon-disi
benda ukur dan ketentuan hasil yang diinginkan. Beberapa cara pengukuran adalah sebagai berikut:1.
Pengukuran langsung2"
Pengukuran tak langsung3.
Pengukuran dengan kaliber batas dan4.
Pengukuran dengan cara mengandungkan dengan bentuk stan- dar3.2.1
Pengukuran LangsungAdalah pengukuran dengan menggunakan alat ukur yang mana hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada skala yang telah dika- librasi yang terdapat pada alat ukur tersebut (alat ukur standar). Con- tohnya adalah mengukur panjang dengan mikrometer, lihat Cambar 3.1a.
3.2.2
PengukuranTak
LangsungAdalah pengukuran yang dilaksanakan dengan memakai alat ukur-alat ukur dari .ienis pembanding, standar dan pembantu. Perbe- daan harga yang ditunjukkan oleh skala alat ukur pembanding sewak-
tu
mengukur obyek ukur dan ukuran standar (pada alat ukur standar) dapat digunakan untuk menentukan dimensi dari obyek ukur. Contoh pengukuran semacam ini ditunjukkan pada Cambar 3.'lb.24 lnstrumentasi &. Alat Ukur Teknik Pengukuran 25
H
3.2.3
Pengukurandengan Kaliber
BatasAdalah pengukuran yang
tidak
menentukan ukuran suatu di- mensi dengan pasti, melainkan hanya menunjukkan apakah dimensi tersebut terletakdi
dalam ataudi
luar daerah toleransi ukuran. Di-mensi yang terletak
di
dalam daerah toleransi berarti dianggap baik, sedang dimensi yang terletakdi
luar daerah toleransi adalah jelek.Produk dengan dimensi jelek mungkin masih dapat diperbaiki dengan membuang kelebihan material atau sama sekali harus dibuang (tak dapat diperbaiki). Cara pengukuran seperti
ini
dimaksudkan untuk mempercepat pemeriksaan atas produk yang dibuat dalarn jumlah be' sar, dan alat ukur yang digunakan adalah dari jenis kaliber (go & notgo
gauges),lihat Cambar 3.1c.3.2.4 Perbandingan
denganBentuk
StandarBentuk suatu produk dapat dibandingkan dengan suatu bentuk standar pada layar dari alat ukur proyeksi. Ketepatan bentuk suatu
ko'
nis dapat diperiksa dengan menggunakan Morse Konis. Jadi pada prin- sipnya pengukuran seperti
ini
tidaklah menentukan dimensi ataupun toleransi suatu benda ukur secara langsung, lihat Gambar 3'1d'Alat
ukur dapat pula diklasifikasikan menurut prinsip kerlanya yaitu:1.
Mekanis2.
Elektris3.
OPtis4.
Hidrolis5.
Pneumatis atau AerodinamisSebetulnya dalam banyak hal sulit bagi kita untuk mengklasifi- kasikan alat ukur berdasarkan prinsip kerja seperti
di
atas, karena be- berapa jenis alatukur
menggunakan kombinasidari
cara-cara kerja tersebut. Dalam paragraf berikut akan kita bahas bagian-bagian yang penting dari alat ukur secara umum.26 lnstrumentasi & Alat Ukur Teknik Pengukuran 27
(al Prntrukurun recaru lairgnrng (dangan mlkromcerl,
(cl Fengukuran dmgan krtibar b.ui
(dsQoan krlbor porol untuk rncnto- rlkra tolerand lubrnel.
{dt Fifbadllle.n d.rngan b.ntuk d.n.
dar lmrmcrlks bontuk dcnO.n pro- fllc proycktorl.
lbl Pcngukurrn tsk lrngall.f Uonenn alat rikur rtrnd.r (rl, rht ukur prmbttdlrq {bl,.lrt
ukur b.fitu lcl,rolblh Ldsngan M dlukr ol.h kompaatorl.
Gambar 3.1 Beberapa contoh cara pengukuran
5.3 KONSTKUI(SI UMUM DAKI AII(T UKUK
Mungkin alat ukur yang paling sederhana yang dikenal semua orang adalah mistar yang mempunyai garis-garis skala ukuran. Kedua ujung dari benda ukur berfungsi sebagai penunjuk pada skala ukur- an sehingga kita dapat membaca dan mengetahui panjang dari benda ukur. Untuk beberapa hal tertentu
di
mana kecermatantidak
begitu penting, maka mistar ini dapat digunakan. Akan tetapi apabila bentuk dari obyek ukur adalah sedemikian rupa sehingga sulit untuk memakai mistarukur,
misalnyauntuk
mengukur diameter dari tengah-tengah poros, ataujika
diinginkan kecermatan yangtinggi,
maka harus di- gunakan alat ukur dari jenis yang lain. Memang masalah pengukuran geometrisini
dalam banyak hal tidaklah semudah mengukur suatu panjang benda ukur dengan mistar seperti contohdi
atas, masalah pengukuran pada umumnya memerlukan beraneka ragam alat ukur masing-masing dengan cara kerja yang berlainan. Bagaimanakah suatu alat ukur tersebut dapat berfungsi ?Yang membedakan suatu alat ukur dengan alat ukur yang lain adalah konstruksinya, atau dengan kata
lain
cara berfungsinya alat ukur tersebut.Untuk
memahami cara kerja alat ukur mungkin akan lebih jelas kalau kita terangkan melalui ketiga komponen utama yang membentuk suatualat ukur yaitu
sensor, pengubahdan
penunjuk/pencatat.
3.3.1
SensorSensor adalah "peraba" dari alat ukur, yaitu yang menghubung- kan alat ukurdengan benda ukur. Ujung-ujung kontakdari mikrometer, kedua lengan dari mistar ingsut (vernier caliper), jarum dari alat ukur kekasaran permukaan adalah merupakan contoh dari sensor mekanis.
Sistem lensa (obyektiO adalah merupakan sensor dari alat ukur optis.
suatu poros dengan lubang-lubang
kecil
melalui mana udara tekan mengalir keluar adalah suatu contoh dari sensor pneumatis.28 lnstrumentasi & Alat Ukur Teknik Pengukuran z9
!
3.3.2
PengubahPengubah adalah bagian yang terpenting dari alat ukur, melalui mana isyarat dari sensor diteruskan, diubah atau diolah terlebih da- hulu sebelum diteruskan ke bagian lain dari alat ukur (bagian penun- .iuk). Pada bagian inilah diterapkan bermacam-macam prinsip kerja, mulai clari prinsip kinematis, optis, elektris, pneumatis sampai pada sistem gabungan, yang kesemuanya
ini
pada dasarnya adalah bertu- juan untuk memperbesar dan memperjelas perbedaan yang kecil dari geometri suatu obyek ukur.3.3.2.1
Pengubah MekanisPrinsip kerja dari pengubah alat ukur mekanis semata-mata ber- dasarkan prinsip kinematis yang meneruskan serta mengubah gerakan (biasanya gerakan translasi) menjadi gerakan lain (biasanya gerakan ro- tasi) yang relatif lebih besar perubahannya. contohnya adalah sistem roda gigi dan batang bergigi dari jam ukur
(dial
indicatorl serta sistem ulir dari mikrometer, lihat Cambar 3.2.Gambar
3.2.
Prinsip pengubah kinematisdari
jamukur
dan mikrometerBeberapa alat uku r pemband i n E @ i al com parator) yang menggu- nakan prinsip pengubah gerakan secara mekanis dengan perencanaan yang istimewa yaitu
bila
ditinjau dari cara kerjanya yang sederhanadlid.r tll&Ur.
.lmt
l;-
ii're
\ iti
|!dr \ -.
'/-
dst
r
lm u&ut n&ro0ralar
T
tetapi
menghasilkan perubahan gerakan yangcukup
besar. Contoh dari cara kerja mekanis yang istimewa ini adalah peubah gerakan dari Eden-Rolt"milionth"
comparator, .lohansson Mikrokatordan
Sigma Comparator.Perubah mekanis dari Eden Rolt comparator menggunakan dua buah blok yang diikat dengan pelat tipis seperti yang ditunjukkan pada Cambar
3.3. Blok
ukur yang akan dikalibrasi apabila diletakkan di antara landasan tetap dengan kontak pengukur (sensor mekanis) akan mengakibatkan gerakan translasidari blok M relatif
terhadap blok yang diam F. karena kedua blokini
pada ujung yang lain masing-ma- sing mempunyai pelat yang tipis yang disatukan pada suatu batang penunjuk, maka akanterjadi
lenturan pada batang penunjuk (yang sebelumnya posisinya adalah lurus). Perubahan posisi batang penun-juk ini
dapat diamati dengan menggunakan sistem optis yang mem- perlihatkan suatu bayangan garis penunjuk yang bergerak pada skala yangdiam.
Pembesaran pengubah mekanis adalah4000 x,
bagian pengubah optis 50 x,jadi
pembesaran adalah 20.000 x.blotlIrOfi Cdrgfr
a
-**.
Gambar 3.3. Sistem pengubah mekanis
dari
Eden-Rolt"milionth"
comparator
Bagian pengubah dari alat ukur pembanding Johanson Mikroka- tor mempunyai pelat tipis dengan jarum penunjuk (yang sangat ringan)
ditempelken
di
tengahtengahnya. Mulai dari bagian tengahini
pelat tipis tersebut secara pemanen dipuntir dalam arah yang berlawanan sehingga membentuk spiralkiri
dan spiral kanan, lihat Cambar 3.4.Salah satu ujung pelat yang terpilih dipasang tetap pada batang peng- atur, sedang ujung yang lain dipasangkan pada lengan sualu penyiku (dari pegas baja)
di
mana lengan yang lainnya dihubungkan dengan poros pengukur. Apabila poros pengukur ini bergerak naik ataupun tu- run, sesuai dengan perubahan dimensi dari obyek ukur, maka penyiku akan berubah bentuknya sehingga mengakibatkan pelat yang terpilih (spiral) mengalami perubahan panjang. Karena perubahan panjang maka spiral ini akan menjadi lebih terpilin atau kurang terpilin dengan demikianjarum
yang terpasangdi
tengah-tengahnya akan bergerak sesuai dengan perubahan panjang. Segilain
yang menarik dari alatini
adalah cara pemasangan poros pada rumah dari alat ukur,di
sini digunakancincin
pegas dengan maksud untuk menghindari gesekan.Pembesaran dari alat ini dapat sampai 5000x.
mcarbdd
ra.rtErr. - gtl lvr.n n
| . p.|lite $t llr.drf.tfrilrjl
* . l-.. totd 10,06 ml a . &it hpofttri.
m/ I
l*ou".,t
r.,ro.*Gambar
3.4.
Konstruksi dari pengubah alatukur
pembanding lohansson MikrokatorTeknik Pengukuron lnstrumentasi & Alat Ukur
31
T
Contoh
alat ukur
pembanding dengan prinsip pengubah me- kanis dari jenis yang lain adalah buatan pabrik instrumen Sigma. Peng- ubah dari Sigma Comparatorini
menggunakan "engsel" yang bebas gesekan, yaitu terdiri dari dua blok yang disatukan dengan tiga pelat tipis yang saling menyilang, lihat Cambar 3.5. Apabila pada salah satu blok (yang bebas bergerak) diberi suatu beban maka blok ini akan ter- putar relatif terhadap blok yang diam, persis seperti gerakan pada eng- sel. Lengan yang berbentuk akan memperbesar gerakan serta memu- tar silinder dari batang penunjuk dengan perantaraan pita dari logam.penekan yang berujung runcing dapat diatur jaraknya terhadap sumbu engsel dengan cara mengencangkan salah satu baut dan mengendor- kan baut yang
lain
yang keduanya terpasang pada poros pengukur' Karena gerakandari
poros pengukurini
relatifkecil
maka pemasan- gannya pada rumah alat ukur dapat dilaksanakan dengan memakai di- afragma, dengan demikian gesekan yang merugikan dapat dihindari.mekanis biasanya berupa batang kinematis yang berfungsi untuk mem- perbesar perubahan gerakan dari silinder pengukur menurut perban- dingan jarak antara kedua ujung batang terhadap engselnya. pengubah mekanis ini akan menyebabkan perubahan kemiringannya suatu kaca yang berfungsi sebagai pemantul berkas cahaya dari pengubah optis.
Dalam hal
ini
pengubah optis sesungguhnya merupakan sistem pem- bentuk bayangan yang berupa garis yang diproyeksikan pada layar dari gelas yang diasah serta diberi skala ukuran. Apabila perbandingan jarak antara kedua ujung batang kinematis terhadap engselnya adalah2:1,
sedang perbandinganjari-jari
skala dengan jarak antara engsel dan ujungdari
kaca pemantul adalah 50:1, maka pembesaran total dari alat ukur adalah:-
Pembesaranmekanis: 1x2Ox1 : 20
satuan-
Pembesaranoptis :
50 x2 : 100
satuan-
Pembesarantotal :
20x 100 : 2000
satuanFaktor pembesaran sebesar
2
dari sistemoptis ini
adalah ber- asaldari pengaruh perubahan kemiringan kaca pemantul, seperti yang dijelaskan ada Cambar 3.6.* rilindcr p.ngukur
porubdtan trrh bcrklr cahayr.
- zti+6t-N
Cambar 3.6. Prinsip kerja
dari
alatukur
mekanis optisTeknik Pengukuran Gambar 3.5. Skematis prinsip pengubah
dari
sigma Comparator3.3.2.2.
PengubahMekanis
OPtis Beberapaalat ukur
Pembanding gabunganyaitu
pengubah mekanis dan 32menggunakan prinsiP kerja pengubah
optis.
Pengubahlnstrumentasi & Alat Ukur 33
3.3.2.3
Pengubah ElektrisPengubah yang memakai prinsip kerja elektris berfungsi untuk mengubah isyarat perubahan sebesar non elektris (misalnya perubah-
an
panjang), baikyang
berasal langsungdari
sensor ataupun yang telah melalui pengubah primer (biasanya pengubah mekanis), menjadi isyarat perubahan besaran elektris. Perubahan berasal elektris (arus atau tegangan listrik) dapat diolah dan diperbesar dengan memakai prinsip elektronik sehingga dapat diketahui hubungan antara isyarat mula dengan isyarat akhir yang diukur dan ditunjukkan pada skala dari alat ukur. Dua contoh yang akan kita bahas adalah pengubah dengan prinsip kapasitor dan transformator.ponoubarr k$adtlp
pelut kapacltor
v
o- I vc,9n-r
o Kr. IK
Gambar 3.7. Pengubah kapasitif dengan skema penguat operasional
34 lnstrumentasi &. Alat Ukur Teknik Pengukuran 35
Kapasitor dapat terbentuk apabila dua buah pelat metal (dengan luas yang sama) didekatkan sampai sejarak
l.
Besarnya kapasitas un- tuk mengumpulkan muatan listrik dari kapasitor ini adalah berbanding terbalik dengan jarakl,
artinya semakinjauh
jarak antara dua pelat kapasitasnya akan menurun atau semakin dekat jaraknya maka kapa- sitasnya makin naik, dengan demikian dapat kita katakan bahwa pelat kapasitorini
adalah sensitif terhadap perubahan jarak. Suatu sirkuit elektronis dapat direncanakan untuk mengetahui besarnya perubahan kapasitasdari
kapasitor, salah satu cara yang umum dipakai adalah dengan penguat operasional dengan skema seperti Cambar3.7.Te-
gangan keluar Vo (output) dalam hal ini adalah sesuai dengan jarak (l) dikalikan dengan faktor penguat (K,).
Pengubah dari jenis Transformator Beda Linier (Linear Variable Differential Transformer, LVDT) bekerja dengan prinsip transforma- tor yaitu timbulnya tegangan imbas pada kumparan sekunder akibat adanya tegangan listrik pada kumparan primer. Tegangan imbas pada kedua kumparan sekunder akan sama besarnya apabila kedudukan inti (core), yaitu suatu batang dari metal, adalah tepat di tengah-tengah, li- hat Cambar 3.8. Apabila letak
inti
bergeser dari posisi semula (posisi nol) maka tegangan imbas pada salah satu kumparan sekunder akan menurun, sedang tegangan imbas pada kumparan sekunder yang lain akan naik sebanding dengan perubahan jarak pergeseraninti,
yaitu seperti rumus berikut (hanya berlaku pada daerah linier):Vr:v.,ru *9v-,,,,.A1 2
murav -v .-"v
2 mula C ..Al 2 mutaApabila kedua kumparan sekunder ini dihubungkan secara seri, maka tegangan keluar akan sama dengan:
Vo
:
V,-
V2 -- CV.,h. AlDi mana C adalah konstanta yang tergantung dari konstruksi alat ini.
Kurnprnn
rskunder, Kt
primer, Ks rckundrr, K1
HubungEn rcri :
Ko
K1=l
il
Gambar
3.8.
Linear Variable Differential Transformer, LVDT3.3.2.4
PengubahOptis-EIektris
Photosel adalah merupakan komponen yang banyak digunakan pada alat ukur dengan optis-elektris. Apabila intensitas cahaya yang diterima oleh photosel berubah, maka arus listrik pada sirkuit elektro- nis,
di
mana photoselini
termasuk sebagai salah satu komponennya, juga akan berubah. Konstruksi dari pengubah alat ukur direncanakan sedemikian rupa sehingga suatu perubahan jarak (panjang) akan meng- akibatkan perubahan cahaya yang diterima oleh photosel.Salah satu cara untuk mengubah intensitas cahaya yang diterima
oleh
photosel adalah dengan menggunakan dua buah pelat tembus cahaya yang berbeda ukuran panjangnya. Pada masing-masing pelatdibuat
garis-garistipis
yang sejajar dengan jarak yang sangat dekat dan konstan. Apabila kedua pelatini
saling didekatkan dengan posisilnstrumentasi &
Alat
UkurTeknik Pengukuran 37
q
garis-garisnya sedikit miring, maka akan terlihat beberapa pita gelap dan terang yang saling bergantian pada posisi tegak lurus garis-garis yang sejajar. Pita-pita gelap dan terang ini disebut dengan nama pita- pita Moire (Moire Fringes) yang lebarnya tergantung dari jarak antara dua garis dan kemiringan antara kedua pelat. Jika pelat yang panjang bergerak relatif terhadap pelat yang pendek maka pita-pita Moire akan bergerak dalam arah tegak lurus arah gerakan pelat, dengan demikian empat buah photosel yang disusun
di
belakang kedua pelat akan me.nerima cahaya, dari sumber cahaya yang dipasang
di
depan kedua pelat, dengan intensitas yang bergantian antara kuat dan lemah, rihat Cambar 3.9.Gambar 3.9. Pita-pita Moire dengan susunan photosel yang mampu membedakan perubahan iarak
Satu photosel akan kembali menerima intensitas cahaya yang
kuat
untuk suatu gerakanpelat
sejauh satu skala (jarak antara dua garis), oleh karena itu dengan kombinasi empat buah photoser maka alat ukur mampu membedakan perubahan jarak sebesar seperempat skala.ffMffiUffi IIIIIMIMfl
]flflililWtfiffit[l
mula
ci
Z. garirc$
r
garlsQ
!( garlr_Y
'
Perpindahan relatif antara kedua pelatini
dapat diketahui de' ngan cara menghitung jumlah pulsa yang diisyaratkan oleh keempat photosel. Karena penghitungan di laksanakan secara elektronis dengan kecepatan sampai 100.000 hitungan per detik, maka batas kecepat-an
gerakan pelat sewaktu proses pengukuran dilangsungkan adalah cukup besar.Alat
ukur semacamini
banyak digunakan pada mesin perkakas yang modern untuk mengetahui posisi dari suatu komponen relatif terhadap komponen yang lain, misalnya posisi dari meja freis (di mana produk ditempatkan) relatif terhadap pisau pemotongnya.3.3.2.5.
Pengubah PneumatisAIat ukur dengan pengubah pneumatis bekerja atas dasar suatu gejala bahwa
kondisi
suatualiran
udara yang tertentu (tetap) akan berubah apabila ada perubahan pada celah antara permukaan benda ukur dengan permukaan sensor alat ukur (di mana udaraini
mengalir melaluinya). Perubahan kondisialiran
udaraini
dapat diketahui de' ngan cara mengukur perubahan tekanannya ataupun kecepatan aliran- nya. Alat ukur pneumatis ini secara keseluruhannya dianggap sebagai suatu sistem aliran udara yang terdiri dari bagian-bagian sebagai ber- ikut:l.
Sumber udara tekan2.
Sensor yang berfungsi juga sebagai pengubah3.
Alat pengukur perubahan kondisi aliran udaraBerdasarkan cara pengukuran perubahan kondisi aliran udara maka kita temukan dua jenis alat ukur pneumatis, yaitu:
1.
Sistem Tekanan Balik (Back Pressure System)2.
Sistem Kecepatan Aliran (Flow-Velocity System) Sistem TekananBalik
Prinsip kerja
dari
alatukur
pneumatis dengan sistem tekanan balik dapat kita terangkan dengan menggunakan skema seperti Cam- bar 3.'10.Udara dengan tekanan Ps, mengalir melalui lubang pengontrol (yang dapat diatur diameter efektifnya) menuju
ke
ruang perantara.Karena diameter lubang pengontrol adalah tetap, D,, sedang diameter efektif D, (melalui mana udara tekan ini mengalir keluar) adalah selalu berubah sesuai dengan perbedaan antara diameter benda ukur dan diameter sensor, maka tekanan udara pada ruang perantara, Po, lugia akan berubah.
r---1
pongatur taktnt r P,
/.pengatat
diameter D1
Sumbcr udsra
tekan baromsls; 1Pt1
rutn9 parantara
baromaer (Ptl
A7lA1
Gambar 3.10. Alat ukur pneumatis dengan sistem tekanan balik Dengan mengatur diameter efektif D, dan D, (mengatur luas lu- bang efektif
A,
dan Ar) serta tekanan Ps (biasanya 1 sampai dengan29,6
N/cm2) maka dapat diperoleh suatu daerah linear yang cukup38 lnstrumentasi &, Alot Ukur Teknik Pengukuron 39
Pb ,A2 -=a-b-- Ps
A1atau
pb:
ps.a-A4L.p,
A1
dPb b
n---., J
dAz
A1Kepekaan (lihat definisi kepekaan pada paragraf
3.4
dari alat ukur pneumatis dengan demikian dapat dicari dengan mendeferensir Pb (besaran yang ditunjukkan alat ukur) terhadapA,
(besaran yang diukur perubahannya).lebar dari kurva yang menggambarkan hubungan antara koefisien Pb/
Ps dengan koefisien A2lAr Di antara harga Pb/Ps sebesar 0,6 dan 0,8 yaitu pada daerah linier, maka berlaku rumus berikut:
tekanan ke atas dari aliran udara yang mengalir melalui celah antara pengapung dan dinding dari tabung konis. Apabila celah antara sen- sor dengan benda ukur menyempit, maka kecepatan aliran udara akan turun, akibatnya pengapung akan turun sampai suatu kedudukan ter- tentu yang mana terjadi lagi suatu kesetimbangan (karena celah antara pengapung dengan dinding tabung konis dalam hal ini juga menjadi sempit), demikian
pula untuk hal
yang sebaliknya.Oleh
sebab itu kedudukan dari pengapung relatif terhadap tabung konis yang diberi suatu skala menggambarkan ukuran dari celah antara sensor dengan benda ukur.Gambar 3.11. Alat ukur pneumatis dengan sistem kecepatan aliran (3.1)
(3.2)
(3.3)
Rumus (3.3) menyatakan bahwa kepekaan adalah berbanding lurus dengan tekanan Ps dan berbanding terbalik dengan luas penam- pang dari lubang pengontrol A,, atau kuadrat dari diameter efektif D,.
Sistem Kecepatan
Aliran
Berbeda dengan sistem tekanan balik yang berdasarkan atas per- ubahan tekanan, maka alat ukur pneumatis dengan sistem kecepatan
aliran
bekerja atas dasar perubahan kecepatan aliran udara. Dalam sistemini
lubang pengontrol dengan diameter efektifD,
tidak diper- lukan, jadi kecepatan aliran udara hanya dipengaruhi oleh perubahan penampang efektifA,
yaitu celah antara permukaan sensor dan per- mukaan benda ukur. Biasanya kecepatan aliran udara diukur dengan menggunakan tabung konis (dari gelas) dan suatu pengapung, lihat Cambar3-11.
Karena adanyaalir