• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU IPUU FULL

N/A
N/A
Made Krisna

Academic year: 2025

Membagikan "BUKU IPUU FULL"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/362530524

Ilmu Perundang-Undangan (Modul Ajar)

Book · August 2022

CITATIONS

0

READS

654

1 author:

Zaki Ulya Samudra University 27PUBLICATIONS   81CITATIONS   

SEE PROFILE

(2)

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasd fghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg hjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg hjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg

ILMU PERUNDANG-UNDANGAN

(Modul Ajar)

ZAKI ULYA,S.H.,M.H.

(3)

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Peristilahan dan Ruang Lingkup --- 1

1.2. Peraturan Perundang-Undangan Dalam Kerangka Ilmu Perundang-Undangan --- 3

BAB II NORMA 2.1. Pembentukan Norma --- 6

2.2. Kodifikasi dan Modifikasi --- 7

BAB III TEORI DALAM ILMU PERUNDANG-UNDANGAN 3.1. Sistem Norma --- 10

3.2. Teori Berjenjang --- 12

3.3. Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan --- 14

BAB IV HIRARKHI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA 4.1. Peraturan Perundang-Undangan Indonesia Pra Kemerdekaan --- 17

4.2. Peraturan Perundang-Undangan pasca Kemerdekaan --- 20

4.3. Kedudukan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat --- 25

BAB V LEMBAGA PEMBENTUK PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 5.1. Sistem Pemerintahan Negara Republik Indonesia --- 30

5.2. Penyelenggara Negara dalam Membentuk Peraturan Perundang-undangan --- 31

5.3. Kekuasaan DPR Dalam Fungsi Legislasi --- 34

BAB VI JENIS DAN FUNGSI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN (Tingkat Pusat dan Daerah) --- 36

BAB VII DASAR PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 7.1. Dasar Filosofis --- 41

7.2. Dasar Yuridis --- 42

7.3. Dasar Sosiologis --- 43

BAB VIII MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 8.1. Materi Muatan Undang-Undang --- 44

8.2. Materi Muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang --- 44

8.3. Materi Muatan Peraturan Pemerintah --- 44

8.4. Materi Muatan Peraturan Presiden --- 44

8.5. Materi Muatan Peraturan Daerah --- 45

(4)

BAB IX PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK

9.1. Dasar Hukum Naskah Akademik --- 46

9.2. Proses Penyusunan Naskah Akademik --- 48

9.3. Sistematika Naskah Akademik --- 49

BAB X HAL KHUSUS DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 10.1. Penjelasan dan Lampiran --- 50

10.2. Delegasi dan Wewenang --- 52

10.3. Pengaturan Sanksi --- 55

10.4. Bahasa Hukum --- 57

DAFTAR PUSTAKA --- 62

(5)

- 1 -

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Peristilahan & Ruang Lingkup

Istilah ”Hukum Perundang-undangan” digunakan dalam dua pengertian:

 Aturan hukum,mencakup dua jenis:

o Produk pengaturan.

o Instrumen pengaturan.

 Bidang kajian hukum.

Hukum Perundang-undangan dalam pengertian produk pengaturan, tampak dalam pengertian berikut:

a. Hukum perundang-undangan adalah hukum tertulis yang dibentuk dengan cara- cara tertentu, oleh pejabat yang berwenang dan dituangkan dalam bentuk tertulis.

Disebut hukum perundang-undangan karena dibuat atau dibentuk dan ditetapkan oleh badan yang menjalankan fungsi perundang-undangan (legislasi) (Bagir Manan 1995).

b. Hukum dalam suatu negara dapat menjelma dalam berbagai wujud, antara lain dalam bentuk Hukum Tertulis berupa peraturan perundang-undangan (Bagir Manan dan Kuntana Magnar 1987).

c. Jadi, istilah ”hukum perundang-undangan” mendasarkan pada pendapat Bagir Manan, adalah peraturan perundang-undangan

.

Hukum Perundang-undangan dalam pengertian instrumen pengaturan.

a. Hukum Perundang-undangan adalah hukum tentang perundang-undangan;

hukum tentang pembentukan peraturan perundang-undangan. Lebih lanjut akan diuraikan pada butir berikutnya, setelah uraian tentang perundang-undangan.

b. Cara megertikan hukum perundang-undangan seperti ini sejajar dengan cara mengertikan Hukum Ekonomi, Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara, dsb, yakni ”Hukum tentang ... ”. Bandingkan dengan Hukum Tata Pengaturan yakni hukum tentang peraturan perundang-undangan dan peraturan kebijakan (A. Hamid S. Attamimi 1993).

Dalam dunia hukum, kata/istilah “peraturan perundang-undangan” merupakan terminologi hukum yang terkait dengan istilah “wetgeving” atau “wettelijke regelingen”.

kata “wetgeving” diartikan : 1) perbuatanmembentuk peraturan-peraturan negara tingkat pusat atau tingkat daerah menurut tata cara yang ditentukan; 2) keseluruhan peraturan-peraturan negara tingkat pusat dan tingkat daerah. Inilah yang dimaksud dengan “Peraturan Perundang-undangan”. Sementara itu, kata

wettelijkeregeling”diartikan sebagai peraturan-peraturan yang bersifat perundang- undangan.

Dengan perkataan lain, wetgeving atau perundang-undangan mempunyai dua pengertian:

a. Dari segi proses, perundang-undangan adalah perbuatan membentuk peraturan-peraturan negara tingkat pusat atau tingkat daerah.

(6)

b. Dari segi produk, perundang-undangan adalah keseluruhan peraturan- peraturan negara tingkat pusat dan tingkat daerah.

A. Hamid S Attamimi yang mengutip Bezemer dari buku: Beknopte Encyclopedie van Nederlandsch-Indie, menjelaskan bahwa pada zaman Hindia Belanda yang tergolong:

wettelijkeregelingen” adalah: “internationale tractaten”, “politieke contracten”, “algemene verordeningen”, locale verordeningen”, waterschapsverordeningen”, dan “verordeningen van hoofden van gewestelijk bestuur”. Selanjutnya, pada Indische Staatsregeling (IS) 1925 Pasal 95 ayat (1) istilah “algemeneverordeningen” (peraturan umum) terdiri atas : 1) regeringsverordeningen”; 2)ordonnanties; 3) algemene maatregelen van bestuur(AMvB); dan 4)wetten.

Berdasarkan uraian di atas, menurut A. Hamid S Attamimi menyebutkan bahwa apabila istilah “peraturan-perundang-undangan” merupakan terjemahan "wettelijke regelingen", maka ia lebih sempit karena tidak termasuk “wetten” (undang-undang) dan AmvB (tindakan umum pemerintah yang ditetapkan dengan Koninklijk Besluit (KB);

AmvB ini kadang diterjemahkan dengan “peraturan pemerintah” yang dibuat di Belanda dan ordonansi yang dibuat di Hindia Belanda. Kemudian, “peraturan perundang-undangan” merupakan terjemahan dari "algemeneverordeningen", ia lebih luas karena mencakup undang-undang (wet), peraturan pemerintah (AmvB), dan ordonansi.

lmu Hukum membedakan antara undang-undang dalam arti materiil (wet in materiele zin) dan undang-undang dalam arti formal (wet in formele zin). Dalam arti materiil, undang-undang adalah setiap keputusan tertulis yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang yang berisi aturan tingkah laku yang bersifat atau mengikat secara umum. Inilah yang dimaksud dengan peraturan perundang- undangan.1Dalam arti formal, undang-undang adalah keputusan tertulis yang ditetapkan oleh pemerintah bersama parlemen sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam UUD2.

Dari seluruh uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian umum yang dapat diambil dari istilah peraturan perundang-undangan adalah:

a) setiap putusan tertulis yang dibuat, ditetapkan dan dikeluarkan oleh Lembaga atau Pejabat Negara yang mempunyai (menjalankan) fungsi legislatif sesuai dengan tata cara yang berlaku (Bagir Manan dan Kuntana Magnar 1987).

b) peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang telah ditetapkan (Pasal 1 angka 2 UU No. 12 Tahun 2011).

Setidaknya dalam keberlakuannya, peraturan perundang-undangan memiliki beberapa unsur diantaranya: (a) norma hukum (rechtsnormen); (b) berlaku ke luar (naar buiten werken); dan (c) bersifat umum dalam arti luas (algemeenheid in ruime zin).3

Dengan demikian unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian peraturan perundang-undangan: a) Bentuknya, yakni peraturan tertulis (untuk membedakan

1Bagir Manan, Dasar-Dasar Perundang-undangan Indonesia, Jakarta: Ind. Hill, co. 1992, hal. 3

2Jimly Asshiddiqie, Prihal Undang-Undang, Rajawali Pers, Jakarta, 2014, hal. 21

3A. Hamid S. Attamimi, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara, Disertasi, Fakultas Hukum Pascasarjana Universitas Indonesia, 1990, hal. 59

(7)

dengan peraturan yang tidak tertulis). b) Pembentuknya, ialah lembaga negara atau pejabat yang berwenang di bidang perundang-undangan, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. c) Sifat mengikatnya, yakni mengikat secara umum.

1.2. Peraturan Perundang-Undangan Dalam Kerangka Ilmu Perundang-Undangan

Dalam Ilmu Perundang-undangantentunya akan mempelajari mengenai peraturan Perundang-undangan. Istilah ‘peraturan Perundang-undangan’ digunakan oleh A. Hamid S. Attamimi, Sri Soemantri, dan Bagir Manan. Menurut A. Hamid S. Attamimi,istilah tersebut berasal dari istilah wettelijke regels atau wettelijke regeling,namun istilah tersebut tidak mutlak digunakan secara konsisten. Ada kalanya istilah ‘Perundang-undangan’ saja yang digunakan. Penggunaan istilah

‘peraturan Perundang-undangan’ lebih relevan dalam pembicaraan mengenai jenis atau bentuk peraturan (hukum), namun dalam konteks lain lebih tepat digunakan istilah Perundang-undangan, misalnya dalam menyebut teori Perundang-undangan, dasar-dasar Perundang-undangan, dan sebagainya.4

Sehubungan dengan definisi Perundang-undangan, Bagir Manan memberikan gambaran umum tentang pengertian Perundang-undangansebagai berikut: 1) Peraturan Perundang-undanganmerupakan keputusan tertulis yang dikeluarkan Pejabat atau lingkungan jabatan yang berwenang, berisi aturan tingkah laku yang bersifat mengikat umum. 2) Merupakan aturan-aturan tingkah laku yang berisi ketentuan-ketentuan mengenai hak, kewajiban, fungsi, status, atau suatu tatanan.

3) Merupakan peraturan yang mempunyai ciri-ciri umum-abstrak atau abstrak- umum, artinya tidak mengatur atau tidak ditujukan pada objek, peristiwa atau gejala konkret tertentu.

Sehubungan dengan definisi tersebut, Bagir Manan juga menyatakan bahwa peraturan Perundang-undanganmemiliki peranan yang makin besar dari hari ke hari, khususnya di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh hal-hal berikut:

a) Peraturan Perundang-undanganmerupakan kaidah hukum yang mudah dikenal (diidentifikasi), mudah diketemukan kembali, dan mudah ditelusuri. Sebagai kaidah hukum tertulis, bentuk, jenis,dan tempatnya jelas.

Begitu pula pembuatnya.

b) Peraturan Perundang-undanganmemberikan kepastian hukum yang lebih nyata karena kaidah-kaidahnya mudah diidentifikasi dan mudah diketemukan kembali.

c) Struktur dan sistematika peraturan Perundang-undanganlebih jelas sehingga memungkinkan untuk diperiksa kembali dan diuji baik segi-segi formal maupun materi muatannya.

d) Pembentukan dan pengembanan peraturan Perundang-undangandapat direncanakan. Faktor ini sangat penting bagi negara-negara yang sedang membangun termasuk membangun sistem hukum baru yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat.5

4H. Rosjidi Ranggawidjaja, Pengantar Ilmu Perundang-undangan Indoneisa, Bandung: PT. Mandar Maju, 1998, hal. 17

5Bagir Manan,Op., Cit, hal 8

(8)

A.Hamid S. Attamimi juga memberikan batasan terhadap pengertian peraturan perundangan sebagai semua aturan hukum yang dibentuk oleh semua tingkat lembaga dalam bentuk tertentu, dengan prosedur tertentu, biasanya disertai sanksi dan berlaku umum serta mengikat rakyat. T.J. Buys memberikan pengertian peraturan Perundang-undangansebagai peraturan-peraturan yang mengikat secara umum (algemeen bindende voorschriften). Kemudian, J.H.A. Logemann menambahkan definisi tersebut dengan istilah naar buiten werkende voorschriften, sehingga definisinya menjadi peraturan-peraturan yang mengikat secara umum dan berdaya laku keluar. Berdaya laku keluar memiliki makna bahwa peraturan tersebut ditujukan kepada masyarakat (umum) tidak ditujukan kepada pembentuknya (ke dalam).6

Di Indonesia, nomenklatur (istilah) ‘Perundang-undangan’diartikan dengan segala sesuatu yang bertalian dengan undang-undang, seluk beluk undang-undang.

Misalnya: ceramah mengenai Perundang-undanganpers nasional, falsafah negara itu dilihat pula dari sistem Perundang-undangannya. Nomenklatur ‘Perundang- undangan’ dapat didahului dengan kata lain. ‘Peraturan’ misalnya, sehingga menjadi ‘peraturan Perundang-undangan’, yang tediri dari kata ‘peraturan’ dan kata

‘Perundang-undangan’. Nomenklatur ‘peraturan’ adalah aturan-aturan yang dibuat oleh yang berkuasa untuk mengatur sesuatu; misal peraturan gaji pegawai, peraturan pemerintah, aturan-aturan(petunjuk, ketentuan dan sebagainya) yang dibuat oleh pemerintah, yang salah satu bentuknya adalah undang-undang, sedangkan ‘aturan’ adalah cara (ketentuan, patokan, petunjuk, perintah, dan sebagainya) yang telah ditetapkan supaya diturut; misalnya, seseorang harus menurut aturan lalulintas, bagaimana aturan minum obat ini, semuanya dikerjakan dengan aturan. Nomenklatur ‘aturan’ dalam bahasa Arab disebut ‘kaidah’ dan dalam bahasa Latin disebut dengan ‘norma’. Dengan demikian nomenklatur ‘peraturan Perundang-undangan’ mempunyai arti yang lebih terfokus yakni aturan (kaidah, norma) yang dibuat oleh yang berkuasa untuk mengatur sesuatu.7

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undanganjuga memberikan definisi berkaitan dengan hal di atas. Pasal 1 angka 1 dan angka 2 undang-undang yang bersangkutan memberikan definisi sebagai berikut:

“PembentukanPeraturan Perundang-undanganadalah pembuatan Peraturan Perundang-undanganyang mencakup tahapan perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan, atau penetapan, dan pengundangan.”

“Peraturan Perundang-undanganadalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau Pejabat yang berwenang melalui prosedur yangditetapkan dalam Peraturan Perundang-undangan.”

Terhadap pengertian tersebut, Maria Farida memiliki kritik yang juga diajukan terhadap pengertian yang diberikan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yaitu undang-undang

6A. Hamid S. Attamimi,Op., Cit, hal. 61

7Bagir Manan, Peranan Peraturan Perundang-undangan Dalam Pembinaan Hukum Nasional, Bandung: Armico, 1987, hal. 65

(9)

yang berlaku sebelum Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 muncul. Istilah pengesahan dalam Pasal 1 angka 1 undang-undang yang bersangkutan, tidaklah tepat.

Istilah ‘pengesahan’ berakibat yang dimaksud peraturan Perundang- undanganhanyalah undang-undang, oleh karena peraturan Perundang- undanganlain tidak memerlukan pengesahan, tetapi cukup suatu penetapan

(10)

BAB II NORMA

2.1. Pembentukan Norma

Secara umum hukum merupakan suatu instrumen untuk mengatur tata prilaku manusia guna mencapai kedamaian. Gustav Radbruch dalam buku Sudikno Mertokusumo menyatakan bahwa hukum ada untuk mencapai 3 (tiga) tujuan:

kepastian, keadilan, dan kemanfaatan.8Oleh karenanya, norma hukum perlu dibentuk untuk dapat menciptakan keteraturan dalam masyarakat.

Dalam konteks yang demikian, norma hukum tergolong sebagai norma eksternal yaitu norma yang tumbuh dari luar dan mengatur bagaimana manusia berinteraksi.9Ia bersifat umum dan berlaku bagi siapa saja. Selain norma hukum, dalam kelompok kaedah eksternal terdapat pula norma kesopanan. Soerjono Soekanto menyatakan bahwa norma hukum diperlukan karena:

a. Tidak semua kepentingan atau tata tertib telah dilindungi atau diatur oleh norma kesopanan serta norma internal berupa norma keagamaan dan norma kesusilaan.

b. Sanksi-sanksi pelanggaran terhadap norma internal bersifat psikis, sangat abstrak, sedangkan sanksi terhadap pelanggaran norma hukum bersifat fisik dan nyata (konkret).

c. Sifat memaksanya sangat jelas dan dapat dipaksakan oleh alat negara (pemerintah), sedangkan norma etika tidak dapat dipaksakan oleh pemerintah karena penerapannya didasari atas dorongan dari dalam diri pribadi manusia.10 Norma hukum muncul karena kaidah eksternal berupa norma kesopanan ternyata belum cukup untuk mengatur masyarakat. Hal ini disebabkan karena norma kesopanan tidak memiliki kaidah yang tegas dan memaksa. Pelanggar norma kesopanan hanya dikenai sanksi sosial seperti dicemooh dan dikucilkan dari masyarakat.

Pembentukan hukum, dalam hal ini hukum tertulis atau undang-undang, pada dasarnya merupakan suatu kebijakan politik negara yang dibentuk oleh dewan perwakilan rakyat dan presiden (di Indonesia atau pada umumnya di negara lain).

Kebijakan di atas merupakan kesepakatan formal antara dewan perwakilan rakyat dan

8Soedikno Mertokusumo,Mengenal Hukum,Yogyakarta: Penerbit Atmajaya, 1999, hal 65.

9ibid

10Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto,Perihal Kaedah Hukum,Bandung: Alumni, 1978, hal 10.

(11)

Pemerintah, dalam hal ini presiden, untuk mengatur seluruh kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kedua badan tersebut mengatasnamakan negara dalam membentuk hukum atau undang-undang. Termasuk suatu kebijakan politik negara adalah pada saat dewan perwakilan rakyat dan presiden menentukan suatu perbuatan yang dapat dikenakan sanksi atau tidak (sanksi pidana, administrasi, dan perdata).

Pembentukan peraturan Perundang-undangan di bawah undang-undang, dalam hal ini peraturan pemerintah, peraturan presiden, dan peraturan menteri atau peraturan lembaga negara tertentu, juga merupakan suatu kebijakan, baik dibentuk berdasarkan delegasian maupun atas keinginan sendiri (mandiri), dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan atau suatu pengaturan prosedur dalam rangka pelayanan publik.

Paradigma pembentukan norma hukum yang banyak diterapkan adalah bagaimana menciptakan hukum yang dapat merangsang pembangunan dan perkembangan kehidupan di dalam negara. Hal itulah salah satu poin penting dalam konsep negara modern atau yang biasa disebut sebagai negara hukum materiil. Negara modern bertugas untuk menyediakan kesejahteraan bagi rakyatnya dengan berbagai tindakan, salah satunya dengan menginisiasi pembentukan kebijakan dalam bentuk norma hukum.

2.2. Kodifikasi dan Modifikasi

Menurut Black Law Dictionary 9th Edition pengertian kodifikasi adalah:

Codification - the process of compiling, arranging, and systematizing the laws of a given jurisdiction, or of a discrete branch of the law into an ordered code. Kodifikasi hukum menurut R. Soeroso dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum adalah pembukuan hukum dalam suatu himpunan undang-undang dalam materi yang sama.11

Tujuan dari kodifikasi hukum adalah agar didapat suatu rechtseenheid (kesatuan hukum) dan suatu rechts-zakerheid (kepastian hukum).12 Menurut Satjipto Rahardjo dalam bukunya Ilmu Hukum, tujuan umum dari kodifikasi adalah untuk membuat kumpulan peraturan-undangan itu menjadi sederhana dan mudah dikuasai, tersusun secara logis, serasi, dan pasti.13

Yang dianggap sebagai suatu kodifikasi nasional yang pertama adalah Code Civil Perancis atau Code Napoleon. Dinamakan Code Napoleon karena Napoleon-lah yang memerintahkan dan mengundangkan Undang-Undang Perancis sebagai Undang-

11R. Soeroso. Pengantar Ilmu Hukum. Sinar Grafika. Jakarta: 2011, hal. 77

12ibid

13Satjipto Rahardjo. Ilmu Hukum. PT. Citra Aditya Bakti. Bandung: 1991. hal. 55

(12)

Undang Nasional pada permulaan abad XVIII setelah berakhirnya revolusi politik dan sosial di Perancis. Contoh kodifikasi adalah hukum pidana dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana, hukum perdata dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, hukum dagang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

Mengapa tumbuh kodifikasi hukum? Adalah untuk mengatasi tidak adanya kepastian hukum dan kesatuan hukum di suatu negara. Di Indonesia, sebelum adanya kodifikasi atau hukum nasional yang berlaku adalah hukum adat. Menurut V.

Vollenhoven di Indonesia terdapat 19 macam masyarakat hukum adat atau rechtsgemeenschappen. Tiap-tiaprechtsgemeenschapmemiliki hukum adatnya sendiri yang berbeda dengan hukum adat direchtsgemeenschapyang lain, sehingga bagi keseluruhan wilayah Indonesia tidak ada kesatuan dan kepastian hukum.14

Jadi secara nasional tidak terdapat kesatuan hukum dan kepastian hukum karena masing-masing daerah memakai hukumnya sendiri-sendiri yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Maka demi adanya kesatuan dan kepastian hukum, Indonesia memerlukan hukum yang bersifat nasional, yang berlaku bagi seluruh warga negara Indonesia. Oleh karenanya, diperlukan kodifikasi.

Dalam modifikasi, arah perkembangan masyarakat dapat ditentukan sesuai dengan norma hukum yang dibuat. Hal ini sesuai dengan konsepsi bahwa hukum adalah alat reka sosial atau law as a tool of social engineering yang dinyatakan Roscoe Pound. Menurut Pound, Modifikasi lebih fleksibel dan lebih visioner jika dibandingkan dengan kodifikasi. Selain itu, modifikasi tidak membutuhkan waktu yang lama karena tidak harus menunggu norma tersebut mengendap terlebih dahulu di dalam kesadaran masyarakat.

Oleh karenanya, modifikasi meletakkan hukum di depan masyarakat. Situasi- situasi yang terjadi di tengah masyarakat, khususnya yang bersifat darurat, lebih banyak diselesaikan dengan norma hukum yang dibentuk secara modifikasi karena memang tujuannya adalah menjadi respon. Hal ini sesuai dengan teori hukum responsif yang dinyatakan oleh Nonet dan Selztnick, bahwa hukum itu harus menjadi tanggapan atas permasalahan yang terjadi dalam masyarakat supaya hal tersebut dapat menemukan penyelesaian. Hukum dipandang sebagai fasilitator respons atau sarana tanggapan terhadap kebutuhan dan aspirasi sosial.15

14Ibid.

15Bernard L. Tanya,Teori Hukum: Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi,Yogyakarta: Genta Publishing, 2010, hal 80.

(13)

Konsep hukum responsif ini merupakan perkembangan dari tatanan hukum represif, yakni konsep bahwa hukum dipandang sebagai abdi kekuasaan represif dan perintah dari yang berdaulat dan tatanan hukum otonomus, yakni konsep bahwa hukum dipandang sebagai institusi mandiri yang mampu mengendalikan represi dan melindungi integritasnya sendiri.

Moh. Mahfud M.D., dalam bukunya, menjelaskan keadaan pembentukan hukum di Indonesia yang cenderung mengarah kepada mekanisme modifikasi, namun sering diselubungi dengan keperluan politik. Menurutnya, hukum tidak steril dari subsistem kemasyarakatan lainnya.16 Politik kerap kali melakukan intervensi atas pembuatan dan pelaksanaan hukum sehingga muncul juga pertanyaan berikutnya tentang subsistem mana antara hukum dan politik yang dalam kenyataannya lebih suprematif.

Pandangan Mahfud tersebut menggambarkan keadaan pembentukan undang- undang di Indonesia yang menitikberatkan pada politik daripada hukum, walaupun produk akhir politik tersebut tetap sebagai produk hukum yang harus dipatuhi oleh seluruh masyarakat. Hal inilah yang belum disadari oleh pembentuk undang-undang bahwa keputusan politik yang dituangkan dalam suatu undang-undang merupakan produk hukum yang secara yuridis, isinya harus dilaksanakan, walaupun kemudian disadari bahwa undang-undang tersebut sulit dilaksanakan karena substansinya sarat dengan elemen-elemen politik. Mahfud sendiri menyatakan bahwa hukum terpengaruh oleh politik karena subsistem politik memiliki konsentrasi energi yang lebih besar daripada hukum.

16Moh. Mahfud MD,Politik Hukum di Indonesia,Jakarta: LP3ES, 2002, hal. 11

(14)

BAB III

TEORI DALAM ILMU PERUNDANG-UNDANGAN

3.1. Sistem Norma

Hukum tidak lepas dari kehidupan manusia. Maka untuk mmbicarakan hukum kita tidak dapat lepas membicarakannya dari kehidupan manusia.17Secara harfiah, norma berarti aturan, kaidah, patokan, dan ukuran hukum. Maka secara umum, Norma merupakan aturan, pedoman atau petunjuk bagi seseorang untuk berbuat dan bertingkah laku sebagaimana mestinya, sebagaimana seharusnya terhadap sesama manusia dalam lingkungan suatu masyarakat tertentu.Norma merupakan ukuran yang melandasi seseorang untuk bergaul dengan orang lainnya ataupun dengan lingkungan sekitarnya. Norma berasal dari bahasa Latin, yang dalam bahasa Arab disebut kaidah, sedangkan dalam bahasa Indonesia umumnya.18

Aturan-aturan tersebutlah yang menjadi acuan seseorang individu, untuk mengarahkan bagaimana dia bertingkah laku dan bersikap. Tetapi, kemudian bagaimana mungkin untuk mengukur tindakan-tindakan atau tingkah laku tersebut sehingga bisa dikatakan sebuah norma itu telah sesuai dengan apa yang seharusnya. Dengan demikian, disinilah norma terbagi –bagi dan berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Antara lain adalah Norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, dan norma hukum.

Slogan-sloganUbi Sociates Ibi Ius, Fiat Jutitia Ruat Caelum, dan lain-lainya menegaskan bahwa dalam masyarakat yang paling sederhana sekalipun keberadaan norma hukum sebagai suatu pranata sosial secaranyata telah menjadi qonditio sine quanonbagi keberlangsungan masyarakat tersebut sebagai suatu entitas.Hukum tidak sama dengan kebiasaan.Jika hukum hadir pada masyarakat dalam bentuk budaya apapun dan inheren dalam kehidupan masyarakat, kebiasaan itusesuatu yang acap kali dilakukan berulang-ulang yang dapat berupa ritual penting, menimbulkan reaksi bila terjadi pelanggaran, dan kebiasaan dapat menjadi hukum kebiasaan apabila masyarakat menerima sebagai aturan yang harus dilakukan.

Banyak teori hukum mengajarkan bahwa hukum harus stabil(stable), tetapi dia tidak boleh diam (still) atau kaku (rigid). Sepintas kelihatannya pernyataan

17Sudikno Mertokusumo,Op;, Cit.,hal. 1

18Maria Farida Indrati S, Ilmu Perundang-Undangan I, Kanisius, Yogyakarta, 2007, hal. 18

(15)

tersebut saling bertentangan satu sama lain, tetapi sebenarnya tidak saling bertentangan. Karena, demikianlah salah satu facet hakiki dari hukum di mana di satu pihak hukum harus mengandung unsur kepastian, dan prediktabilitas, sehingga dia harus stabil. Tetapi di lain pihak hukum haruslah dinamis,sehingga selalu dapat mengikut dinamika perkembangan kehidupan manusia.19

Pada landasan suatu sistem kaidah hukum terdapat kaidah yang fundamental, yakni asas-asas hukum. Menurut Paul Scholten, asas adalah pikiran-pikiran dasar, yang terdapat di dalam dan di belakang sistem hukum masing-masing yang dirumuskan dalam aturan-aturan perundang- undangan dan putusan-putusan hakim.20

Hukum dan norma-norma sosial lainnya dibedakan dari berbagai segiantara lain dari segi tujuan adanya norma, hukum menitikberatkan kepada pengaturan aspek manusia sebagai makhluk sosialdan aspek lahiriyah manusia. Norma hukum diadakan dalam rangka mempertahankan bentuk kehidupan bermasyarakat sebagai modus survival.Dari segi wilayah yang diaturnya, hukum mengatur tingkah laku lahiriyahmanusia. Oleh karena itu, hukum tidak akan bertindak manakala tndakan seseorang tersebut tidak melanggar aturan hukum meskipun batin orang tersebut sebenarnya ingin melakukan tindakan yang melanggar hukum.

Norma hukum adalah sistem aturan yang diciptakan oleh lembaga kenegaraan yang ditunjuk melalui mekanisme tertentu. Artinya, hukum diciptakan dan diberlakukan oleh institusi yang memang memilikikompetensi atau kewenangan dalam membentuk dan memberlakukan hukum , yaitu badan legislatif. Dengan demikian, hukum di Indonesia dibentuk oleh lemabaga-lembaga seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakialan Rakyat (DPR) dan atau pemerintah sesuai dengan kapasitas dan jangkauan yang ingin dicapai oleh hukum tersebut.

Contoh, Undang-Undang Dasar dan Ketetapan MPR. Undang-undang merupakan produl hukum ciptaan DPR dan pemerintah. Peraturan pemerontah merupakan produk hukum yang diciptakan oleh pemerintah yang

19Munir Fuady, Teori-Teori Dalam Hukum Kencana, Jakarta, 2013, hal. 1

20J.J.H. Bruggink, Refleksi Tentang Hukum (alih bahasa : B. Arief Sidharta), Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999,hal. 119.

(16)

memiliki fungsi menjalankan perintah undang-undang. Norma hukum memuat sanksi yang tegas dan akan segera dijatuhkan apabila dilanggar.

Oleh karena itu, Secara sistemik berarti hukum dilihat sebagai suatu kesatuan, yang unsure-unsur, sub-sub sistem atau elemen-elemennya saling berkaitan, saling pengaruh memengaruhi,serta saling memperkuat atau memperlemah antara satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan.

3.2. Teori Berjenjang

Dalam Ilmu hukum, memahami jenis, hirarki dan asas dari suatu peraturan perundang-undangan sangatlah penting, sebab dengan memahami jenis, hirarki dan asas dari suatu peraturan perundang-undangan, maka setiap orang akan mudah memahami sistem hukum di negara tersebut. Sebelum membahas bagaimana jenis, hirarki dan asas dari suatu peraturan perundang-undangan di Indonesia, maka penting untuk memahami teori jejaring norma hukum (the hierarchy of law) yang dikembangkan oleh Hans Kelsen.

Hans kelsen dalam teori jejaring norma hukum yang dikembangkannya dengan istilah Stufenbau de recht theory mengatakan norma hukum itu berjenjang-jenjang dan berlapis-lapis dalam suatu hierarki susunan suatu norma yang lebih rendah berlaku, bersumber, dan berdasar pada norma lain yang lebih tinggi. Norma yang lebih tinggi itu berlaku, bersumber dan berdasar norma yang lebih tinggi lagi. Demikianlah seterusnya norma itu berlaku, bersumber, dan berlaku pada norma yang lebih tinggi sampai pada suatu norma tidak dapat ditelusuri lagi karena bersifat hipotesis dan fiktif, yang disebut norma dasar (grundnorm),yang disepakati lebih dulu oleh masyarakat.21

Dalam perkembangannya, Teori Hans Kelsen dikembangkan oleh Hans Nawiasky dalam Die Theorie vonstufennordnung der Rechtsnorm dengan mengelompokkan norma hukum menjadi 4 (empat) kelompok, yaitu:

 Norma fundamental negara (Staatfundamentalnorm),

 Aturan dasar/aturan pokok negara (Staatgrundgesetz),

 Undang-Undang formal (Formell Gesetz),

 Aturan pelaksana dan aturan otonomom (Verordnung & Autonome Satzung).22 A. Hamid S. Attamimi salah satu ahli hukum yang memperkenalkan dan mengemukakan pentingnya adannya hierarki tata hukum dalam membentuk sistem hukum Indonesia, artinya hukum yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan

21Rosjidi Ranggawidjaja, Pengantar Ilmu Perundang-undangan Indonesia. Bandung: Mandar Maju 1998, hal. 26

22Maria Farida Indrati Soeprapto, Ilmu Perundang-undangan Dasar dan Pembentukan, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1998, hlm. 25

(17)

hukum yang lebih tinggi. Dengan menggunakan teori Hans Nawiasky, A. Hamid S.

Attamimi membuat strutktur hierarki tata hukum Indonesia, yaitu :

Staatsfundamentalnorm: Pancasila (Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945),

Staatsgrundgesetz: Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945, Tap MPR, dan Konvensi Ketatanegaraan,

Formell gesetz: Undang-Undang,

Verordnung en Autonome Satzung: Secara hierarkis mulai dari PeraturanPemerintah hingga Keputusan Bupati atau Walikota.23

Dalam perkembangannya, istilah “hierarki tata hukum di Indonesia” telah berubah menjadi “hierarki peraturan perundang-undangan”. Adanya perubahan istilah tersebut sangat wajar, mengingat istilah “hukum” memiliki makna lebih luas daripada istilah peraturan perundang-undangan yang memiliki makna peraturan yang tertulis. Kemudian selain itu, Indonesia menganut sistem hukum yang lebih cenderung ke eropa kontinental yang menganggap hukum adalah yang tertulis.

Jenis dan Hirarki Peraturan Perundang-Undangan saat ini diatur dalam Pasal 7 ayat (1) dan (2) UU No. 12 Tahun 2011 sebagaimana telah diubah menjadi UU No. 15 Tahun 2019 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, yaitu sebagai berikut :

(1)Jenis dan hirarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:

a) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;

c) Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;

d) Peraturan Pemerintah;

e) Peraturan Presiden;

f) Peraturan Daerah Provinsi; dan g) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

(2)Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Namun, selain jenis peraturan perundang-undangan disebutkan diatas, terdapat beberapa jenis peraturan perundang-undangan yang masih diakui keberadannya walaupun tidak masuk dalam hirarki yang disebutkan dalam Pasal 7 ayat (1) diatas, yaitu :

Pasal 8

23A. Hamid Attamimi,Op., Cit.,hal. 287

(18)

(1)Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang- Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat.

(2)Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan

3.3. Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan

Dalam memahami ilmu peratuan perundang-undangan, maka terdapat beberapa asas preverensi hukum yang harus diketahui, yaitu :

 Asas lex superior derogat legi inferior yaitu asas hukum yang menempatkan peraturan rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi, atau peraturan lebih tinggi akan mengesampingkan peraturan yang lebih rendah.

Lex specialis derogat legi generali yaitu asas hukum yang menempatkan peraturan yang lebih khusus (lex specialis) dapat mengesampingkan peraturan yang bersifat umum (lex generali).

 Asas Lex Posterior Derogat Legi Priori yaitu asas hukum yang menempatkan peraturan yang baru akan mengesampingkan peraturan yang lama. Artinya, apabila peraturan tersebut telah dicabut dengan peraturan baru, maka secara hukum peraturan lama tersebut dikesampingkan dan telah digantian dengan peraturan yang baru.24

Pembentukan peraturan perundang-undangan ini dilakukan berdasarkan asas- asas sebagai berikut: (Pasal 5 UU No.12/2011)

a) Kejelasan tujuan; adalah bahwa setiap pembentukan peraturan perundang- undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai.

b) Kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat; adalah bahwa setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga negara atau pejabat pembentuk peraturan perundang-undangan yang berwenang. Peraturan perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum apabila dibuat oleh lembaga negara atau pejabat yang tidak berwenang.

c) Kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan; adalah bahwa setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatanyang tepat sesuai dengan jenis dan hierarki peraturan perundang- undangan.

24Maria Farida Indrati Soeprapto,Op., Cit.,hal. 27

(19)

d) Dapat dilaksanakan; adalah bahwa setiap pembentukan peraturan perundang- undangan harus memperhitungkan efektivitas peraturan perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat, baik secara filosofis, sosiologis, maupun yuridis.

e) Kedayagunaan dan kehasilgunaan; adalah bahwa setiap pembentukan peraturan perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

f) Kejelasan rumusan; adalah bahwa setiap pembentukan peraturan perundang- undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundang-undangan, sistematika, pilihan kata atau istilah, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah dimengerti sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya.

g) Keterbukaan; adalah bahwa dalam pembentukan peraturan perundang-undangan mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundanganbersifat transparan dan terbuka. Dengan demikian, seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan Berdasarkan asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan tersebut di atas, maka materi muatan sebuah peraturan perundang-undangan juga berdasarkan pada asas-asas sebagai berikut: (Pasal 6 UU No.12/2011)

a) Asas pengayoman; adalah bahwa setiap amteri muatan peraturan perundang- undangan harus berfungsi memberikan perlindungan untuk menciptakan ketenteraman masyarakat.

b) Asas kemanusiaan; adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang- undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara porposional.

c) Asas kebangsaan; adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang- undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang majemuk dengan tetap menjaga prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

d) Asas kekeluargaan; adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang- undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan.

e) Asas kenusantaraan; adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang- undangan yang dibuat didaerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

f) Asas bhinneka tunggal ika; adalah bahwa materi muatan peraturan perundang- undangan harus memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku dan golongan, kondisi khusus daerah serta budaya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

g) Asas keadilan; adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang- undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara.

h) Asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh memuat hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang, antara lain, agama, suku, ras, golongan, gender, atau status sosial.

(20)

i) Asas ketertiban dan kepastian hukum; adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus dapat mewujudkanketertiban dalam masyarakat melalui jaminan kepastian hukum.

j) Asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan; adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan kesimbangan, keserasian, dan keselarasan, antara kepentingan individu, masyarakat dan kepentingan bangsa dan negara.

k) Asas lain sesuai dengan bidang hukum peraturan perundang-undangan yang bersangkutan.

Asas-asas tersebut di atas merupakan dasar dibuat atau dirumuskannya sebuah peraturan, dimana peraturan-peraturan tersebut dibedakan menurut tingkatan dan jenisnya

(21)

BAB IV

HIRARKHI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA

4.1. Peraturan Perundang-Undangan Indonesia Pra Kemerdekaan

Dasar hukum dari tetap berlakunya peraturan kolonial adalah Aturan Peralihan UUD 1945, yang menyatakan ―Semua peraturan yang ada hingga saat Indonesia merdeka masih tetap berlaku selama belum diadakan yang baru‖,(dan ketentuan ini kemudian dimuat kembali dalam PP 2/1945). Contoh penting peraturan kolonial yang masih digunakan sampai saatiniadalah KUHPdt (BW) di bidang perdata dan KUHP (WvS) di bidang pidana. Selain dari dua peraturan, yang masuk dalam kelompok ―basic law‖, ini masih banyak peraturan kolonial lain yang sedikit banyak masih berperan dalam hukum Indonesia.

Ada perbedaan pandangan dan sikap orang terhadap peraturan peninggalan kolonial. Pada sebagian orang ada perasaan secara umum bahwa memang ada masalah di bidang ini, tapi kesulitan untuk menjelaskan lebih lanjut apa persisnya masalah yang dihadapi, dan, pada kelompok orang lain lagi yang jumlahnya jauh lebih besar, malah ada perasaan bahwa tidak adamanfaat praktis untuk memahami seluk-beluk tentang peran dan pengaruh peraturan kolonial, karena tanpa itu pun sistem hukum yang ada sekarang ini tetap berjalan seperti biasa.

Penggunaan ketentuan peraturan kolonial selama ini merupakan suatu anomali yuridis. Adalah suatu kenyataan bahwa saat ini ketentuan-ketentuan (baca:

pasal-pasal) peraturan kolonial yang digunakan hampir selalu menggunakan bahasa Indonesia dan tidak dalam bahasa aslinya. Salah satu contoh adalah KUHP.

Sebelum tahun 1945 Indonesia telah mengalami pendudukan oleh bangsa yang berbeda dengan jangka waktuyang berbeda. Meskipun Belanda sudah masuk ke Indonesia sejak tahun 1602 (cq. VOC), namun pendudukan dalam arti sebenarnya baru dimulai pada tahun 1800 ketika kekuasaan VOC diambilalih oleh pemerintah Belanda. Antara thn 1811 sampai thn 1816 Indonesia dikuasai oleh Inggris di bawah pimpinan Raffles. Pengaruh Inggris terhadap sistem hukum dapat diabaikan karena setelah itu selama lebih dari 200 tahun Indonesia (d/h Nederlandsch Indie) berada lagi di bawah kekuasaan Belanda sampai thn 1942.

Dari tahun 1942 sampai tahun 1945 Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang.

Dari sejarah hukum di Hindia Belanda, dapat dilihat bahwa setiap kali terjadi suatu perubahan besar pada sistem pemerintahan di negeri Belanda, terjadi pula

(22)

perubahan besar pada pengelolaan pemerintahan di Hindia Belanda, yang pada gilirannya mempengaruhi pula sistem hukumnya. Perubahan sistem hukum di Hindia Belanda pada umumnya ditandai dengan diberlakukannya suatu kebijakan tertentu, yang dapat dianggap sebagai aturan dasar untuk mengatur pemerintahan di daerah jajahan.

1. MasaBesluiten Regering(1814-1855)

Pada masa ini hanya Kroon (raja) saja yang berwenang mengurus dan mengatur segala sesuatu di Belanda dan daerah jajahannya. Pengaturan oleh Kroon dilakukan dengan mengeluarkan Koninklijk Besluit-KB (keputusan atau penetapan). Besluit dapat memuat tindakan eksekutif misalnya pengangkatan komisaris jenderal yang mengurus pemerintahan di daerah jajahan, dan dapat memuat tindakan legislatif berupa peraturan, misalnya Algemene Maatregel van Bestuur-AMvB (utk Belanda) danAlgemene Verordening(utk daerah jajahan).

Pada tahun 1830 Belanda mulai melakukan kodifikasi hukum perdatanya. Setelah itu timbul pemikiran untuk melakukan juga kodifikasi hukum di Hindia Belanda. Untuk tujuan itu pada tahun 1839 dibentuk komisi undang-undang bagi Hindia Belanda. Peraturan penting yang dibuat oleh komisi ini adalah Algemene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie(AB) (Stb 1847 No.

23) - Ketentuan-ketentuan Umum tentang Perundang-undangan.

Beberapa kodifikasi yang dihasilkan oleh komisi ini antara lain:

a. a. Reglement op de Rechterlijke Organisatie (RO) - Peraturan Organisasi Peradilan.

b. Burgerlijk Wetboek(BW) - Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt), c. Wetboek van Koophandel(WvK) - KUHD.

d. Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering (Rv) (Stb. 1848-16) - Peraturan Tentang Acara Perdata.

e. e.Inlandsch Reglement(IR) -Reglemen Bumiputera (Peraturan Tentang Acara Perdata yang berlaku untuk bumi putera) yang belakangan diperbaharui menjadiHerziene Inlandsch Reglement(HIR).

2. MasaRegerings Reglement(R.R.) (1855-1926)

Pada tahun 1848 ketika terjadi perubahan Grondwet (UUD) di negeri Belanda, sistem pemerintahan Belanda berubah dari sistem monarki menjadi sistem parlementer. Peraturan-peraturan untuk mengatur daerah jajahan tidak

(23)

ditetapkan hanya oleh Kroon, tetapi secara bersama oleh Kroon dan Staten Generaal(baca: parlemen).

Peraturan terpenting adalah Reglement op het beleid der regering in Nederlandsh Indie (alias: Regerings Reglement-RR) dalam Stb 1854-2. Dilihat dari isinya R.R. mengatur tentang kebijakan pemerintahan di Hindia Belanda.

Pada masa berlakunya RR dibuat peraturan, antara lain:

a. WvS voor Nederlandsch-Indie(Stb.1915-732) yang berlaku bagi semua golongan penduduk dan mulai berlaku sejak 1 Januari 1918.Sebelumnya, hukum pidana yang berlaku dibedakan antara: golongan Eropa, yaitu WvS voor Europeanen (Stb 1866-55); dan golongan pribumi, yaitu WvS voor Inlander (Stb 1872-85).

b. Rechtsreglement voor de Buitengewesten-RBg (Reglement untuk daerah seberang) (Stb. 1927-227)

c. Agrarisch Wet(1870) (Agraria)

d. Indishe Comptabiliteitswet-ICW (Stb 1925-448) (Perbendaharaan Negara) e. Auteursrecht(Stb.1912-600) (Hak Cipta)

f. Faillisementsverordening(Stb 1905:217 jo. 1906:348) (Kepailitan)

3. MasaIndische Staatsregeling( I.S.) (1926-1942)

Indische Staatsregeling(I.S.) (Stb 1925-415) adalah peraturan yang mengganti R.R dan mulai berlaku pada 1 Januari 1926. Penggantian ini disebabkan oleh perubahan Grondwet (UUD) negeri Belanda pada 1922, yang mengakibatkan.terjadi juga perubahan pada sistem pemerintahan di Hinda Belanda. Pada masa berlakunya I.S., pembentukan peraturan di Hindia Belanda dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda bersama-sama denganVolksraad(lembaga perwakilan rakyat yang terdiri dari orang Indonesia asli).

Beberapa peraturan penting pada masa ini antara lain:

a. Herziend Inlandsch Reglement(HIR) (Stb 1926-559 jo. 1941-44) -Reglemen Indonesia yang Diperbaharuhi.

b. Rechtsreglement Buitengewesten (RBg) (Stb 1927-227) - Reglemen Acara Hukum untuk Daerah Luar Jawa dan Madura.

c. Bedrijfsreglementerings Ordonnantie 1934 (Stb 1938-86) - Ordonansi Perdagangan.

(24)

4.2. Peraturan perundang-Undangan Pasca Kemerdekaan

Sehari pasca kemerdekaan, yakni pada tanggal 18 Austustus 1945, UUD 1945 berhasil disahkan sebagai konstitusi melalui Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI, Dokuritsu Junbi Inkai). Sebagai negara yang berdasar atas hukum (rechtsstaat, etat de droit), tentu saja eksistensi UUD 1945 sebagai konstitusi di Indonesia mengalami sejarah yang panjang hingga akhirnya dapat diterima (acceptable) sebagai landasan hukum (juridische gelding) bagi implementasi ketatanegaraan di Indonesia.

Dalam sejarahnya, UUD 1945 dirancang sejak 29 Mei 1945 sampai 16 Juni 1945 oleh badan penyelidik usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau dalam bahasa jepang dikenal denganDokuritsu Zyunbi Tyoosakaiyang beranggotakan 21 orang, diketuai Ir. Soekarno dan Drs. Moh, Hatta sebagai wakil ketua dengan 19 orang anggota yang terdiri dari 11 orang wakil dari Jawa, 3 orang dari Sumatra dan masing- masing 1 wakil dari Kalimantan, Maluku, dan Sunda kecil. Badan tersebut (BPUPKI) ditetapkan berdasarkan maklumatgunsei-kan nomor 23 bersamaan dengan ulang tahun Tenno Heikapada 29 April 1945.

Latar belakang terbentuknya konstitusi (UUD’45) bermula dari janji Jepang untuk memberikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia di kemudian hari. Janji tersebut antara lain berisi “sejak dari dahulu, sebelum pecahnya peperangan asia timur raya, Dai Nippon sudah mulai berusaha membebaskan bangsa Indonesia dari kekuasaan pemerintah hindia belanda. Tentara Dai Nippon serentak menggerakkan angkatan perangnya, baik di darat, laut, maupun udara, untuk mengakhiri kekuasaan penjajahan Belanda”.25

Keputusan rapat paripurna PPKI sejatinya sangat krusial lantaran Konvensi Montevideo (1933) tandas menyebutkan syarat minimal eligibilitas untuk diakuinya sebuah negara disandarkan pada dua unsur. Pertama, unsur deklaratif, yakni adanya pengakuan dari negara lain, dan kedua, unsur konstitutif, sebagai anasir pokok yang meliputi adanya rakyat, wilayah, dan pemerintahan yang berdaulat.

Pada 17 Agustus 1945, menurut fakta (ipso facto) kita memang menyatakan merdeka sebagai sebuah negara. Namun terkait pemerintahan yang berdaulat, dan wilayah, secara yuridis (ipso jure) sesungguhnya baru sah ‘dimiliki’ dan ‘diakui’ pada 18 Agustus 1945 melalui rapat paripurna PPKI yang menetapkan Soekarno sebagai

25 https://vivajusticia.law.ugm.ac.id/2018/02/26/sejarah-undang-undang-dasar-negara-republik-indonesia-tahun-1945-sebagai- konstitusi-di-indonesia/

(25)

presiden dan Mohammad Hatta selaku wakil presiden, juga menetapkan UUD 1945 sebagai konstitusi Republik Indonesia.

Transfigurasi konstitusi dalam hal ini (casu quo) dapat dianggap merupakan piagam kelahiran bagi negara baru (a birth certificate of new state), sehingga relasi (betrekking) konstitusi dengan negaranya amat erat berkelindan, begitu inheren, dan menjadi sesuatu yang mutlak adanya (conditio sine qua non). Tidak ada satupun negara di dunia ini yang tidak memiliki konstitusi. Bayangkan sebuah rumah tanpa fondasi.

Berdiri, namun tidaklah kokoh. Begitulah personifikasi fungsi konstitusi, ia menopang dan menjamin tegak kokohnya rumah besar yang bernama negara.

Tentang makna Konstitusi, Sri Soemantri menyebutnya sebagai dokumen formal yang berisi:

a) Hasil perjuangan politik bangsa di waktu lampau;

b) Tingkat-tingakat tertinggi perkembangan ketatanegaraan bangsa;

c) Pandangan tokoh-tokoh bangsa yang hendak diwujudkan, baik untuk waktu sekarang, maupun untuk masa yang akan datang, dan

d) Suatu keinginan dengan perkembangan kehidupan ketatanegaraan bangsa hendak dipimpin.26

Berbagai literatur menyebutkan hierarki atau tata urutan peraturan perundang- undangan di Indonesia telah mengalami 4 (empat) kali perubahan sejak kemerdekaan, sebagaimana diatur di dalam Ketetapan MPRS Nomor XX/MPRS/1966, Ketetapan MPR Nomor III/MPR/2000, UU No. 10 Tahun 2004, dan UU No. 12 Tahun 2011.

Keempat aturan tata urutan peraturan perundang-undangan tersebut memiliki persamaan dan perbedaan yang cukup mencolok

Pada awal kemerdekaan, secara umum tidak dikenal adanya hierarki peraturan perundang-undangan. Pada masa itu dengan sistem pemerintahan yang executive centris, dikenal adanya peraturan dan keputusan yang tidak lazim dikenal di zaman sekarang ini seperti adanya Maklumat Presiden, Penetapan Presiden, UU darurat, UU Federal, Intruksi Presiden dan Dekrit Presiden. Selain itu, pada masa ini hanya dikenal 3 (tiga) jenis peraturan perundang-undangan di luar Undang-Undang Dasar, yaitu: (1) undang-undang; (2) Peraturan Pemerintah Sebagai Pengganti undang-undang; dan (3) Peraturan Pemerintah. Tidak terdapat jenis peraturan perundang-undangan lainnya yang disebut dan tidak ada ketentuan

26Ibid.

(26)

yang memerintahkan diaturnya jenis-jenis peraturan perundang-undangan dalam undang-undang oleh UUD 1945 (sebelum perubahan).27

Namun demikian, antara periode 1945-1949 juga berkembang jenis-jenis peraturan perundang-undangan lainnya, seperti:

1. Penetapan Presiden;

2. Peraturan Presiden;

3. Penetapan Pemerintah;

4. Maklumat Pemerintah; dan 5. Maklumat Presiden.28

Selain itu, pada masa awal kemerdekaan juga masih dikenal adanya undang-undang peninggalan Belanda seperti wet, ordonantie, gemeentelijke raadverordeningen, dan besluit Beberapa di antaranya masih memiliki kekuatan hukum dan berlaku di Indonesia hingga sekarang ini, antara lain, Hinder Ordonantie (Ordonanti Gangguan/HO) berdasarkan Staatblad Nomor 226 tahun 1926, Wetboek van Strafrecht(WvS) atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Burgerlijk Wetboek (BW) atau Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHpdt). Saat itu belum dikenal hierarki peraturan perundang-undangan, namun di bidang peraturan diberlakukan ketentuan umum peraturan perundang-undangan di negeri jajahan yaitu dengan dikeluarkannya Algemene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie Indie (AB). Di dalam Pasal 2 AB dikenal aturan umum bahwa undang-undang tidak boleh berlaku surut.29

Kemudian pada 2 Februari 1950, Pemerintah RI Yogjakarta menetapkan undang-undang yang mengatur tentang jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan melalui UU No. 1 Tahun 1950 tentang Peraturan tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat, antara lain:

1. Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;

2. Peraturan Pemerintah; dan 3. Peraturan Menteri.

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sebagai landasan yuridis berlakunya kembali UUD 1945 membawa implikasi terhadap hierarki peraturan perundang-undangan. Hal ini dikarenakan jenis peraturan perundang- undangan sebagaimana disebutkan dalam UUD 1945 (sebelum perubahan)

27Ibid.

28Ibid.

29A. Rosyid Al Atok, Konsep Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Malang: Setara Press, 2015, hal. 41

(27)

yang terdiri dari undang-undang, Perppu, dan Peraturan Pemerintah dipandang belum dapat memenuhi kebutuhan.

Oleh karena itu, Presiden Soekarno melalui Surat Presiden Nomor 2262/HK/1959 tertanggal 20 Agustus 1959 meminta ketua DPR-GR untuk segera mengeluarkan jenis-jenis peraturan perundang-undangan lain selain yang telah disebut sebagaimana di dalam UUD 1945, antara lain:

1. Penetapan Presiden, untuk melaksanakan Dekrit Presiden/Panglima tertinggi Angkatan Perang 5 Juli 1959;

2. Peraturan Presiden, antara lain:

a. Peraturan Presiden yang dikeluarkan berdasarkan Pasal 4 ayat (1) UUD 1945;

b. Peraturan Presiden yang untuk melaksanakan Penetapan Presiden;

3. Peraturan Pemerintah, untuk melaksanakan Peraturan Presiden;

4. Keputusan Presiden, untuk melaksanakan Peraturan Presiden dalam melakukan atau meresmikan pengangkatan-pengangkatan;

5. Peraturan Menteri, untuk mengatur sesuatu yang dibuat oleh departemen- departemen; dan

6. Keputusan Menteri, untuk melaksanakan atau meresmikan pengangkatan- pengangkatan.

Dengan dikeluarkannya berbagai peraturan perundang-undangan tersebut, menyebabkan terjadinya permasalahan dan kerancuan dalam tata urutan peraturan perundang-undangan, terutama tata urutan antara undang-undang dan penetapan presiden serta antara peraturan pemerintah dan peraturan presiden.Penetapan presiden berdasarkan Surat Presiden kepada ketua DPR-GR tersebut pada awalnya dimaksudkan untuk melaksanakan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan Peraturan Presiden dikeluarkan untuk melaksanakan UUD 1945, tetapi dalam praktiknya banyak materi muatan yang seharusnya diatur dengan undang-undang justru diatur dengan Penetapan Presiden atau dengan Peraturan Presiden atau bahkan Perppu.

Pada tahun 1966, Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mengeluarkan Ketetapan MPRS Nomor XX/MPRS/1966 tentang Memorandum Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong mengenai Sumber Tertib Hukum dan Tata urutan Peraturan Perundang-Undangan (Tap MPRS No. XX/MPRS/1966), yang dilatarbelakangi adanya kerancuan-kerancuan dari sumber tertib hukum di Indonesia. Menurut Sri Soemantri, diajukannya

(28)

hierarki peraturan perundang-undangan dalam Tap MPRS No.

XX/MPRS/1966, dilatarbelakangi oleh adanya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang telah dijadikan dasar hukum bagi Penetapan Presiden yang sederajat dengan Undang-Undang. Selain itu, Tap MPRS No. XX/MPRS/1966 secara tersirat memuat susunan kekuasaan dalam Negara Republik Indonesia yang semuanya bersumber pada Presiden RI (executive heavy).30

Menurut Tap MPRS No. XX/MPRS/1966, tata urutan peraturan perundang- undangan sebagai berikut: 1. Undang-Undang Dasar 1945; 2. Ketetapan MPRS; 3.

Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; 4. Peraturan Pemerintah; 5. Keputusan Presiden; 6. Peraturan Menteri; dan 7. Peraturan Pelaksana Lainnya seperti: a. Peraturan Menteri; b. Instruksi Menteri; dan c. Lain-lainnya.

Pasca reformasi, MPR mengeluarkan Tap MPR No. III/MPR/2000 tentang Tata Urutan Peraturan Perundang-Undangan untuk menggantikan Tap MPRS No. XX/MPRS/1966, yang dilatarbelakangi adanya keinginan untuk menertibkan dan menyelesaikan permasalahan yuridis perundang-undangan yang tidak terselesaikan dengan menggunakan Tap MPRS No. XX/MPRS/1966.

Di dalam Tap MPR No. III/MPR/2000 ini, untuk pertama kalinya Peraturan Daerah (perda) dimasukkan ke dalam hierarki peraturan perundang-undangan.

Adapun bentuk dan jenis peraturan perundang-undangan yang diatur di dalam Tap MPR No. III/MPR/2000, antara lain: 1. Undang-Undang Dasar 1945; 2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat; 3. Undang-Undang; 4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; 5. Peraturan Pemerintah; 6. Keputusan Presiden; dan 7.

Peraturan Daerah.

Banyaknya permasalahan yuridis dalam Tap MPR No. III/MPR/2000 tersebut menyebabkan pembaruan hukum yang terjadi pada 24 Mei Tahun 2004 dengan disahkannya UU No. 10 Tahun 2004 yang berlaku secara efektif mulai November 2004 untuk menggantikan tata urutan peraturan perundang-undangan dalam Tap MPR No. III/MPR/2000. Pasal 7 ayat (1) UU No. 10 Tahun 2004 menentukan bahwa jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan di Indonesia sebagai berikut:

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang/Peraturan pemerintah Pengganti Undang-Undang;

3. Peraturan Pemerintah;

30Riri Nazriyah, MPR RI Kajian Terhadap Produk Hukum dan Prospek di Masa Depan, Yogjakarta: FH UII, 2007, hal. 69

(29)

4. Peraturan Presiden; dan 5. Peraturan Daerah;

a. Peraturan Daerah Provinsi;

b. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota; dan

c. Peraturan Desa/Peraturan yang setingkat.

Kelemahan dan permasalahan yang terdapat di dalam UU No. 10 Tahun 2004 kemudian diperbaiki dalam UU No. 12 Tahun 2011 yang menurut pembentuk undang-undang dapat dikatakan lebih sempurna dari sebelumnya. Hal ini diuraikan secara rinci di dalam Penjelasan Umum UU No. 12 Tahun 2011 bahwa lahirnya UU No. 12 Tahun 2011 dilatarbelakangi untuk menyempurnakan kelemahan-kelemahan UU No. 10 Tahun 2004.

Secara umum, lahirnya UU No. 12 Tahun 2011 telah memberikan penyempurnaan terhadap UU No. 10 Tahun 2004 khususnya dengan mengembalikan kedudukan dari Ketetapan MPR di dalam hierarki peraturan perundang-undangan. Ketetapan MPR diletakkan setingkat di bawah UUD NRI Tahun 1945 dan setingkat di atas undang-undang, jenis dan hierarkinya sebagai berikut:

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Ketetapan Majelis Permusyawaran Rakyat;

3. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;

4. Peraturan Pemerintah;

5. Peraturan Presiden;

6. Peraturan Daerah Provinsi; dan 7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota

4.3. Kedudukan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat

Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat atau yang disingkat TAP MPR, merupakan salah satu wujud peraturan perundang-undangan yang sah dan legitimate berlaku di Negara Indonesia. Bahkan didalamhierarki peraturan perundang-undangan, TAP MPR memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan UU, Perpu, PP, Perpres dan Perda. Hal ini ditegaskan dalam pasal 7 ayat (1)

(30)

Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.31

Dimasukkannya kembali TAP MPR dalam tata urutan perundang- undangan berdasarkan apa yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, hanya merupakan bentuk penegasan saja bahwa produk hukum yang dibuat berdasarkan TAP MPR, masih diakui dan berlaku secara sah dalam sistem perundang-undangan Indonesia.

Kedudukan TAP MPR tidak bisa dipisahkan dengan kedudukan dan kewenangan MPR dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Amandemen UUD 1945 pasca reformasi membawa konsekuensi terhadap kedudukan serta kewenangan yang melekat kepada MPR. Salah satu perubahan penting dalam UUD 1945 yang mempengaruhi kedudukan dan kewenangan MPR adalah perubahan pada bagian bentuk dan kedaulatan Negara khususnya pada Pasal 1 ayat (2) UUD.

Sebelum amandemen disebutkan bahwa, “Kedaulatan adalah ditangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat”. Sedangkan setelah amandemen dirubah menjadi, “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. Perubahan yang signifikan juga terlihat pada Pasal 3 UUD 1945. Jika sebelum amandemen MPR diberikan kewenangan untuk menetapkanGaris-Garis Besar daripada Haluan Negara (GBHN), maka pasca amandemen kewenangan tersebut sudah tidak diberikan lagi.32

Secara garis besar, TAP MPR dikategorikan sebagai aturan dasar Negara (staatsgrundgesetz) atau dapat juga disebut sebagai norma dasar (grundnorm). Akan tetapi kategorisasi yang dilakukan oleh Attamimi ini dilakukan disaat kedudukan MPR masih sebagai lembaga tertinggi Negara atau sebelum perubahan UUD 1945. Kedudukan TAP MPR sebelum perubahan UUD, memang menjadi salah satu produk hukum yang berada setingkat dengan UUD. Hal tersebut mengacu kepada kewenangan dan kedudukan MPR sebagai lembaga perwujudan kedaulatan rakyat dalam sistem ketatanegaraan Indonesia16. Hal ini sejalan dengan penjelasan Pasal 3 UUD 1945, yang menyatakan bahwa, “Oleh karena Majelis Permusyawaratan Rakyat memegang kedaulatan negara, maka

31 Herdiansyah Hamzah, Kedudukan TAP MPR Dalam Sistem Perundang-Undangan Indonesia, Makalah ini disampaikan dalam Seminar Nasional bertajuk, “Keberadaan TAP MPR RI Dalam Konsep Negara Hukum Indonesia Pasca Pemberlakuan Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2011”, kerjasama antara MPR-RI dengan Universitas Mulawarman di Hotel Aston Samarinda, 23 Mei 2013, hal. 1

32Ibid.,hal. 4

(31)

kekuasaannya tidak terbatas, mengingat dinamik masyarakat, sekali dalam 5 tahun Majelis memperhatikan segala yang terjadi dan segala aliran-aliran pada waktu itu dan menentukan haluan-haluan apa yang hendaknya dipakai untuk di kemudian hari”.33

Mengutip pendapat Mahfud MD, bahwa TAP MPR tetap saja boleh ada dan dikeluarkan oleh MPR, tetapi terbatas hanya untuk penetapan yang bersifat beschikking (kongret dan individual) seperti TAP tentang pengangkatan Presiden, TAP tentang pemberhentian Presiden dan sebagainya. Bahkan TAP MPR tetap dijadikan sebagai sumber hokum yang bersifat materiil. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Mahfud MD, bahwa sebagai sumber hokum, TAP MPR dapat dijadikan sebagai sumber hokum materiil (bahan pembuatan hokum), namun bukan sumber hokum formal (peraturan perundang-undangan). Sebagai sumber hokum materiil, TAP MPR bisa menjadi bahan hokum seperti halnya nilai-nilai keadilan yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat, keadaan social dan ekonomi masyarakat, warisan sejarah dan budaya bangsa dan lain-lain.34

Mengapa TAP MPR masih dinyatakan berlaku? Dalam TAP MPR Nomor I/MPR/2003 TAP MPR yang ada, diberikan status hukum baru yang dikelompokkan ke dalam 6 (enam) pasal, antara lain :

1. Pasal 1 tentang Ketetapan MPR/MPRS yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (8 Ketetapan)

2. Pasal 2 tentang Ketetapan MPRS/MPR yang dinyatakan berlaku dengan ketentuan (3 Ketetapan)

3. Pasal 3 tentang Ketetapan MPRS/MPR yang dinyatakan tetap berlaku sampai dengan terbentuknya pemerintahan hasil pemilihan umum tahun 2004 (8 Ketetapan)

4. Pasal 4 tentang Ketetapan MPRS/MPRyang dinyatakan tetap berlaku sampai terbentuknya UU (11 Ketetapan)

5. Pasal 5 tentang Ketetapan MPRS/MPR yang dinyatakan masih berlaku sampai ditetapkannya peraturan tata tertib yang baru oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia hasil pemilihan umum tahun 2004 (5 Ketetapan)

33Ibid.

34Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi. Rajawali Pers : Jakarta. 2010. hal. 32

Referensi

Dokumen terkait

Kenusantaraan adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang- undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan

Ditempatkannya kembali Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR RI sebagai salah satu jenis perundang-undangan dalam hierarki perundang-undangan sebagaimana diatur

Dengan demikian, Undang-undang yang keberadaannya diperintahkan oleh suatu Undang-Undang untuk diatur dengan Undang-Undang tidak mengandung materi muatan rumusan politik hukum

Ditempatkannya kembali Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR RI sebagai salah satu jenis perundang-undangan dalam hierarki perundang-undangan sebagaimana diatur dalam

Adapun asas-asas lain yang diharapkan dalam muatan materi perundang- undangan adalah asas keadilan, setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-

12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, dari segi substansi undang-undang, materi muatan yang perlu diatur dalam undang-undang meliputi materi

Apabila Notaris dianggap oleh Majelis Pemeriksa telah melakukan tugasnya sesuai dengan apa yang diperintahkan dan diatur oleh peraturan perundang-undangan dan dianggap tidak ada

maupun dalam arti materiil, yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang- undangan namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai