Nandra Eko Nugroho - PSMB UPN "Veteran" Yogyakarta Penyusun Modul 7: Penyusunan Rencana Kontinjensi Indra Baskoro Adi - PSMB UPN "Veteran" Yogyakarta Henricus Hari Wantoro - Desa Lestari. Sejak tahun 2012, BNPB melalui Direktorat Pemberdayaan Masyarakat, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan telah menginisiasi proses pembangunan dalam rangka pengurangan risiko bencana melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat. Program bertajuk Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana) ini merupakan program pengelolaan risiko berbasis masyarakat dengan harapan masyarakat tidak hanya tunduk pada proses saja, namun dapat terlibat aktif dalam mengkaji, menganalisis, mengelola, memantau dan menilai dampak yang ditimbulkan. bencana. upaya untuk mengurangi risiko di wilayahnya dengan memaksimalkan sumber daya lokal yang ada.
Modul ini disusun oleh para pelaku PRBBK di lapangan sehingga penuh dengan pengalaman dan pembelajaran (best practice), oleh karena itu diharapkan dengan modul ini dapat mewujudkan kemandirian dan ketahanan masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana. Untuk menjawab kebutuhan upaya pengurangan risiko bencana, khususnya berbasis masyarakat, secara lebih komprehensif dan terintegrasi dengan pembangunan, BAPPENAS-UNDP berupaya menginisiasi integrasi upaya PRBBK dalam pembangunan di tingkat desa. Kegiatan yang dirintis melalui kegiatan “Pembangunan Model Desa Berketahanan” pada tahun 2008 ini menghasilkan gambaran implementasi PRBBK yang lebih komprehensif, yang dapat dicapai.
Inisiatif ini didukung BNPB melalui Peraturan Kepala BNPB Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana). Pada tahun 2017, Destana mendapat referensi baru setelah Badan Standardisasi Nasional Indonesia menerbitkan Standar Nasional Indonesia Nomor SNI 8357-2017 tentang Desa/Kelurahan Tangguh Bencana. Pada akhirnya, semua instrumen ini dikumpulkan menjadi satu. Berikut adalah alat utama untuk ketahanan di tingkat keluarga: Keluarga Tangguh Bencana.
Waktu yang diperlukan untuk mempelajari modul ini secara menyeluruh diperkirakan 8 jam pembelajaran (JPL) atau dapat dibagi dalam beberapa tahapan pembelajaran sesuai waktu yang tersedia.
Latar Belakang
Tujuan Pembelajaran
Ruang Lingkup dan Pengorganisasian Pembelajaran
Ruang lingkup
Pengorganisasian pembelajaran
KEGIATAN PEMBELAJARAN
Pengantar
Indikator Pencapaian Tujuan
Uraian Materi
- Pengertian, tujuan dan landasan perencanaan kontinjensi
- Penyusunan skenario
- Penetapan tujuan dan strategi penanganan darurat bencana
- Penetapan struktur komando tanggap darurat
- Perencanaan bidang operasi/sektor
Merupakan kesiapsiagaan dalam merespon keadaan darurat dengan menentukan langkah-langkah dan sistem penanganan yang akan dilakukan sebelum keadaan darurat terjadi. Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana sebagai turunan dari Undang-undang Penanggulangan Bencana No. 24 Tahun 2007 menyatakan pentingnya disusun rencana darurat untuk memberikan arahan dan pedoman dalam operasi tanggap darurat ketika terjadi bencana. Sesuai dengan amanat UU PB No. 24 Tahun 2007 tentang penyempurnaan sistem penanggulangan bencana pada setiap tingkat baik nasional, provinsi, kabupaten/kota bahkan di tingkat masyarakat, untuk mempercepat perbaikan sistem tersebut, Pemerintah dengan dukungan kuat dari DPR RI melalui BNPB telah memprioritaskan perbaikan kelembagaan penanggulangan bencana di daerah melalui kegiatan penyusunan rencana kontinjensi.
Seluruh prosedur dalam rencana kontinjensi harus wajar, dapat dilaksanakan, mudah dipahami, dan dapat dijadikan dasar rencana operasional 6. Rencana kontinjensi harus selalu dikaji ulang secara berkala agar selalu sesuai dengan perkembangan ancaman, perkiraan populasi dan dampak. Perlu ditegaskan bahwa penyusunan rencana kontinjensi bukan sekedar menyiapkan dokumen, melainkan mengatur kesiapsiagaan bencana.
Latar Belakang Berisi penjelasan latar belakang mengapa diperlukan rencana darurat, ruang lingkupnya, serta landasan formal dan pengertian rencana darurat. Pengembangan skenario Meliputi skenario ancaman dan kerugian pada aspek manusia, sosial, ekonomi, politik, infrastruktur, dan lingkungan/alam. Tujuan yang dimaksud di sini merupakan tujuan spesifik dan indikatif yang ingin dicapai dari manajemen kesiapsiagaan bencana.
Tujuan dan strategi penanganan darurat harus merupakan hasil kesepakatan bersama dalam penyusunan rencana darurat. Tujuan penanggulangan bencana diungkapkan dalam kalimat yang jelas (tidak bermakna ganda) dan mudah dipahami. Sedangkan strategi penanganan darurat diungkapkan dalam kalimat tegas yang merinci bagaimana sesuatu harus dilakukan.
Setelah semua bagian telah membuat rencana aksi, proses lokakarya dapat dilanjutkan dengan menyiapkan struktur komando tanggap darurat (ERC). Beberapa sektor atau bidang yang paling umum dalam rencana tersebut adalah SAR, perumahan pengungsi, layanan kesehatan, air dan sanitasi. Jadi, hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam penyusunan rencana sektoral adalah hubungan dan sinergi antara satu sektor dengan sektor lainnya.
Kegiatan Pembelajaran
- Praktek penyusunan skenario
- Praktek penetapan tujuan dan strategi penanganan darurat bencana
- Penetapan struktur komando tanggap darurat
- Praktek perencanaan bidang operasi
Setelah domain operasional ditetapkan, proses lokakarya dapat dilanjutkan dengan mengembangkan struktur komando tanggap darurat (ERC). Jenis Ancaman: Desa/Banjir Kecamatan: Pakansari Kecamatan: Kabupaten/Kota Cibinong: Bogor Provinsi: Situasi di Jawa Barat.
PENUTUP
Latihan/Kasus/Tugas
Refleksi dan Tindak Lanjut
Paripurno, ET & Purwanto, S (Ed.), 2010, Panduan Pendamping Pelatihan Penanggulangan Bencana Gunung Api, PSMB UPN 'Veteran' Yogyakarta. Sigit Widdiyanto - Paguyuban Kappala Siti Mulyani - Paguyuban Paluma Nusantara Slamet Tri Usaha - Paguyuban Lingkar Sulistyo - LPTP Solo. Para penulis panduan fasilitator ini menyadari betul bahwa metode, materi dan alat bantu pengajaran yang digunakan oleh fasilitator masyarakat dalam memandu proses diskusi masyarakat untuk menghasilkan dokumen yang diinginkan dan benar-benar bermanfaat sangatlah beragam.
Penting juga untuk memandu diskusi masyarakat sedemikian rupa sehingga memudahkan anggota masyarakat untuk i) memahami pengetahuan dan isu-isu yang sedang dibahas, ii) merangsang rasa ingin tahu mereka untuk mengajukan pertanyaan yang relevan dengan komunitas dan desa mereka, iii) merasa bebas dan nyaman untuk terlibat, menyampaikan pendapat dan berkontribusi dengan cara apa pun, dan iv) memiliki rasa memiliki terhadap proses dan hasil pekerjaannya. Diakui pula bahwa pendekatan yang ditawarkan dalam Panduan edisi ini masih mempunyai banyak kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kontribusi dari para pengguna Panduan ini sangat kami harapkan guna meningkatkan kegunaan dan kemudahan penggunaan buku ini.
Kirimkan data Anda ke alamat email [email protected] atau ke alamat sekretariat Pusat Studi Penanggulangan Bencana UPN Veteran Yogyakarta, Gedung Sudirman 1.4, Kampus Unit II, Jl.