BNPB melalui Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan sejak tahun 2012 telah memulai proses pembangunan dalam rangka pengurangan risiko bencana melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat. Program bertajuk Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana) ini merupakan program pengelolaan risiko berbasis masyarakat dengan harapan masyarakat tidak hanya menjadi subjek proses saja namun dapat terlibat aktif dalam pengkajian, analisis, penanganan, pemantauan bencana dan penilaian. upaya pengurangan risiko di wilayah dengan memaksimalkan sumber daya lokal yang ada. Modul ini disusun oleh para pelaku OSHPBK di lapangan agar penuh dengan pengalaman dan pembelajaran (best practice), oleh karena itu diharapkan dengan modul ini kemandirian masyarakat dan keberlanjutan dalam upaya pengurangan risiko bencana akan terwujud.
Untuk menjawab kebutuhan upaya pengurangan risiko bencana, khususnya berbasis masyarakat, secara lebih komprehensif dan terintegrasi dengan pembangunan, BAPPENAS-UNDP berupaya menginisiasi integrasi upaya PRBBK dalam pembangunan di tingkat desa. Pelaksanaan program pengembangan Destana mempunyai empat landasan: i) landasan empiris. fakta bencana yang menunjukkan realitas ancaman di Indonesia, ii) landasan filosofis kearifan lokal yang menunjukkan akar sosial budaya pengurangan risiko bencana, iii) pembangunan berkelanjutan yang menempatkan pengurangan risiko bencana sebagai bagian penting, dan iv) otonomi desa yang memberdayakan desa untuk berorganisasi, termasuk dalam hal pengurangan risiko bencana. Upaya membangun masyarakat berketahanan yang mampu beradaptasi dan berkembang dalam menghadapi risiko bencana sangatlah penting.
Modul ini merupakan hasil perpaduan pengalaman dan praktik penyelenggaraan Destana dan pengembangan ketahanan masyarakat di berbagai daerah yang dilakukan oleh banyak lembaga/organisasi; pemerintah, lembaga swadaya masyarakat/LSM dan individu. Modul yang dilengkapi dengan Praktik Pendampingan Desa Berketahanan dan PRBBK ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2015 dan terus disempurnakan hingga edisi ini. Kehadiran modul ini dapat memberikan ruang dan bahan untuk pengembangan modul Fasilitator Destana di masa depan.
Waktu yang diperlukan untuk mempelajari modul ini secara menyeluruh diperkirakan 8 jam mengajar (JPL) atau dapat dibagi menjadi beberapa tahap pembelajaran sesuai ketersediaan waktu.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan Pembelajaran
Ruang Lingkup dan Pengorganisasian Pembelajaran
- Ruang lingkup
- Pengorganisasian pembelajaran
Dalam proses pembelajaran modul ini peserta akan melakukan kegiatan secara individu dan kelompok berupa belajar, mendengarkan, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat dan melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan pengembangan sistem peringatan dini di masyarakat.
KEGIATAN PEMBELAJARAN
Pengantar
Indikator Pencapaian Tujuan
Uraian Materi
- Pengertian, tujuan dan landasan perencanaan kontinjensi
- Penyusunan skenario
- Penetapan tujuan dan strategi penanganan darurat bencana
- Penetapan struktur komando tanggap darurat
- Perencanaan bidang operasi/sektor
Merupakan kesiapsiagaan dalam merespon keadaan darurat dengan menentukan langkah-langkah dan sistem penanganan yang akan dilakukan sebelum keadaan darurat terjadi. Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana sebagai turunan dari Undang-undang Penanggulangan Bencana No. 24 Tahun 2007 menyatakan pentingnya disusun rencana darurat untuk memberikan arahan dan pedoman dalam operasi tanggap darurat ketika terjadi bencana. Sesuai dengan amanat UU PB No. 24 Tahun 2007 tentang penyempurnaan sistem penanggulangan bencana pada setiap tingkat baik nasional, provinsi, kabupaten/kota bahkan pada tingkat masyarakat, untuk mempercepat perbaikan sistem tersebut, Pemerintah dengan dukungan kuat dari DPR RI melalui BNPB telah memprioritaskan perbaikan kelembagaan penanggulangan bencana di daerah melalui kegiatan penyusunan rencana kontinjensi.
Perlu ditekankan bahwa penyusunan rencana darurat bukan sekedar penyiapan dokumen, melainkan pengorganisasian kesiapsiagaan bencana. Pengembangan skenario Meliputi skenario ancaman dan kerugian pada aspek manusia, sosial, ekonomi, politik, infrastruktur, dan lingkungan/alam. Tujuan yang dimaksud di sini merupakan tujuan spesifik dan indikatif yang ingin dicapai dari manajemen kesiapsiagaan bencana.
Tujuan dan strategi penanganan darurat harus merupakan hasil kesepakatan bersama dalam penyusunan rencana darurat. Tujuan penanggulangan bencana diungkapkan dalam kalimat yang jelas (tidak bermakna ganda) dan mudah dipahami. Sedangkan strategi penanganan darurat diungkapkan dalam kalimat tegas yang merinci bagaimana sesuatu harus dilakukan.
Setelah seluruh seksi membuat rencana aksi, kita dapat melanjutkan proses workshop dengan penyusunan Struktur Komando Tanggap Darurat (ESRC). Beberapa sektor atau bidang yang paling umum dalam rencana tersebut adalah SAR, tempat penampungan pengungsi, layanan kesehatan, sanitasi air. Jadi, hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam menyusun rencana sektoral adalah hubungan dan sinergi antara satu sektor dengan sektor lainnya.
Kegiatan Pembelajaran
- Praktek penyusunan skenario
- Praktek penetapan tujuan dan strategi penanganan darurat bencana
- Penetapan struktur komando tanggap darurat
- Praktek perencanaan bidang operasi
Mengelola bantuan dari beberapa pihak (menampung, mencatat keluar masuknya, dan mendistribusikan ke wilayah operasional terkait).
PENUTUP
Latihan/Kasus/Tugas
Refleksi dan Tindak Lanjut
Paripurno, ET & Purwanto, S (Ed.), 2010, Panduan Pendamping Pelatihan Penanggulangan Bencana Gunung Api, PSMB UPN 'Veteran' Yogyakarta. Penerima Sasakawa Award dari UNISDR atas upayanya dalam manajemen risiko bencana berbasis komunitas, sehari-hari beliau mengajar di Fakultas Teknologi Mineral UPN “Veteran” Yogyakarta. Saat ini beliau mengemban amanah sebagai Ketua Pusat Kajian Penanggulangan Bencana (PSMB) dan Ketua Program Magister Manajemen (MMB) di universitas yang sama, serta Presidium Persatuan Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI).
Pria ini aktif sebagai konsultan penanggulangan bencana di berbagai lembaga pemerintah dan non-pemerintah, serta konsultan pro-bono bagi masyarakat yang berisiko terkena bencana ekologi. Sejak tahun 1998 aktif membantu masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup, pangan dan energi, khususnya pengembangan teknologi tepat guna di tingkat masyarakat. Pria ini juga aktif dalam jaringan yaitu Komite Pengurus JKGEI (Jaringan Kerja Gender dan Energi Indonesia, Badan Pengurus Jaringan Kerja Pertanian Organik/Jaker-‐PO hingga tahun 2016).
Sejak tahun 2007, sehari-harinya aktif di Pusat Studi Penanggulangan Bencana (PSMB-‐UPN) UPN "Veteran" Yogyakarta. Kerja dan praktik baik pengurangan risiko bencana di masyarakat diperoleh melalui proses sekitar 10 tahun. Selain aktif di PSMB-UPN, beliau juga aktif di Persatuan Kappala Indonesia, sebagai fasilitator masyarakat dan praktisi pengurangan risiko bencana masyarakat.
Pekerjaan ini telah dilakukan sejak tahun 2005 di beberapa wilayah Indonesia, antara lain Aceh, Nias, Pacitan, Magelang, Yogyakarta, dan lain sebagainya. Pria kelahiran Magelang tahun 1978 ini aktif dalam pengorganisasian masyarakat sejak tahun 2005. Sebelumnya pernah terlibat dalam penelitian di universitasnya UGM dan juga merupakan lulusan Magister Manajemen Bencana UGM dan mulai berkecimpung di dunia pasca DIY. -bencana gempa bumi. .
Selain itu beliau juga merupakan anggota Forum DIY Pengurangan Resiko Bencana dan pernah terlibat sebagai trainer dalam penyampaian Fasilitator Desa Tangguh Bencana BNPB sejak tahun 2016 dan Fasilitator Kota Tangguh BNPB sejak tahun 2015. Lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP, Atma Universiteti Jaya, Yogyakarta, aktif mengorganisir kerja masyarakat sejak ia masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta Green Indonesia Club 09 (KIH-09) sebagai relawan pada tahun 2000. Kerja dan praktik pengurangan risiko berbasis bencana di masyarakat (PRBBK) dan sekolah (PRBBS) telah dilakukan dilaksanakan sejak tahun 2008.
Saat ini beliau juga aktif menjadi relawan di Forum PRB DIY dan Jaringan Pendidikan Lingkungan Hidup (JPL) serta menjadi Fasilitator Madya di Pujiono Center dan sejak itu terlibat sebagai pelatih dalam Pelatihan Fasilitator Desa Tangguh Bencana BNPB. Sigit Sugiarto - Paguyuban Kappala Sigit Widdiyanto - Paguyuban Kappala Siti Mulyani - Paguyuban Tri Usaha Slamet Paluma Nusantara - Paguyuban Lingkar Sutrisno - Paguyuban Sumino Kappala - LPTP Solo.