• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU PERENC PARIWISATA CITRA

N/A
N/A
tinna utami

Academic year: 2023

Membagikan "BUKU PERENC PARIWISATA CITRA"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

Hal ini berimplikasi pada perubahan pola perjalanan dan komunikasi wisatawan di dunia, termasuk di Indonesia dan Provinsi Lampung. Perkembangan pariwisata di Provinsi Lampung dari segi supply dan demand terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

PENDAHULUAN

Dibandingkan periode sebelumnya, jumlah hotel di Provinsi Lampung mengalami peningkatan yang sangat pesat dalam 5 tahun terakhir. Bagian kelima membahas tentang teori dan praktik desa wisata serta desa studi kasus di Provinsi Lampung.

PERENCANAAN DAN PERKEMBANGAN PARIWISATA DAERAH

TEORI: PERENCANAAN PARIWISATA 2.1.1 Pengertian Perencanaan

  • Karakteristik, Komponen Dan Sistem Kepariwisataan
  • Konsep Perencanaan Pariwisata
  • Proses Perencanaan Pariwisata
  • Perencanaan Pariwisata di Tingkat Internasional (PPI)
  • Perencanaan Pariwisata di Tingkat Wilayah (PPW)
  • Perencanaan Pariwisata di Tingkat Provinsi (PPP)
  • Perencanaan Pariwisata di Tingkat Kabupaten/Kota (PPK)
  • Perencanaan Pariwisata Kawasan (PPKw)
  • Rencana Tapak Kawasan Pariwisata (RTKP)

Lebih lanjut Paturusi (2008) mengemukakan bahwa bentuk orientasi perencanaan ada dua, yaitu: a) perencanaan berdasarkan kecenderungan yang ada (trend oriented Planning), yaitu rencana pencapaian tujuan di masa depan berdasarkan pertimbangan dan prosedur yang ada dan berkembang saat ini. b) Perencanaan berdasarkan pertimbangan sasaran (target oriented Planning), yaitu suatu rencana yang menentukan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai di masa depan. RTKP merupakan teknik arsitektur suatu fasilitas wisata (hotel, villa, restoran). 1) perencanaan proyek (gedung dan/atau kompleks bangunan); (2) penataan ruang dan organisasi massa bangunan dan; 3) denah, tampilan, bagian, detail dan perspektif Berdasarkan hierarki perencanaan di atas, Desa Pelaga dapat ditempatkan dalam hierarki perencanaan pariwisata daerah.

Gambar 2.1.1 Proses Perencanaan Regional untuk Pariwisata Sumber............................
Gambar 2.1.1 Proses Perencanaan Regional untuk Pariwisata Sumber............................

HIRARKI PERENCANAAN PARIWISATA

KASUS

PERENCANAAN PARIWISATA LAMPUNG DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH

  • Pariwisata Lampung Dalam Perencanaan Wilayah (1990-2015)
  • Perencanan Pariwisata di Provinsi Lampung
  • Integrasi Rencana Tata Ruang Wilayah dan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata
  • Penutup

Setiap kabupaten/kota di Provinsi Lampung mulai memetakan potensi wisatanya dan menyusun kalender event. Selain RIPPAR Provinsi Lampung, kabupaten/kota di Provinsi Lampung yang telah memiliki Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA), seperti Kota Bandarlampung yang ditetapkan pada tahun 2001, dan Kabupaten Tulang Bawang yang disusun pada tahun 2008.

Tabel 2.2.2 : Kebijakan Pariwisata dalam RTRW Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung   NO  KABUPATEN/KOTA  PERDA RTRW  TUJUAN RTRW  ASPEK PARIWISATA
Tabel 2.2.2 : Kebijakan Pariwisata dalam RTRW Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung NO KABUPATEN/KOTA PERDA RTRW TUJUAN RTRW ASPEK PARIWISATA

MODEL PERENCANAAN PARIWISATA BERKELANJUTAN

BAGIAN: 3.1 TEORI : PERENCANAAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT

  • Pariwisata Berbasis Masyarakat
  • Perencanaan Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat
  • Proses Perencanaan Pariwisata Berbasis Masyarakat
  • Penutup
  • KASUS STUDI

Perencanaan pariwisata berkelanjutan – Kawasan Citra Persada 46 - Produk pariwisata untuk menggambarkan identitas lokal - Mengatasi permasalahan yang muncul sebelum dikembangkan lebih lanjut. Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan - Citra Persada 47 pengetahuan pengunjung terhadap lingkungan dan budaya setempat serta memberikan rasa bangga terhadap budaya setempat kepada masyarakat setempat. Perencanaan pariwisata berkelanjutan – Citra Persada 48 pengembangan masyarakat kemudian dapat dijelaskan tidak hanya sebagai suatu proses yang berpusat pada pembangunan modal dan kapasitas sosial, namun juga sebagai hasil dalam dimensi permasalahan masyarakat – sosial, lingkungan dan ekonomi hingga jenis-jenis utama (Phillips dan Pittman, 2009).

Pendekatan perencanaan pariwisata berbasis masyarakat ini berfokus pada desentralisasi dan memfasilitasi koordinasi antara pemangku kepentingan pariwisata yang berbeda. Perencanaan pariwisata berbasis masyarakat di pedesaan akan diawali dengan pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan di desa yang diawali dengan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDe) dan pelaksanaan Musrenbangdes. Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan - Citra Persada 50 Sebelum dilakukan musyawarah di tingkat desa, ketua RT dan RW harus mengajak konsultasi dengan warga mengenai kebutuhan apa saja yang harus diajukan sebagai usulan kepada pemerintah desa, kemudian dilakukan musyawarah pembangunan di desa. . dangkal.

Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan - Citra Persada 51 Masyarakat di Indonesia memiliki karakter gotong royong dan karakter tersebut tercermin dalam bentuk organisasi kemasyarakatan yang memiliki tujuan berbeda-beda, baik sosial, budaya, ekonomi, maupun lingkungan.

PERAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT DALAM

PERENCANAAN PARIWISATA DI PULAU-PULAU KECIL DAN PESISIR (Studi Kasus: Pulau Sebesi, Teluk Kiluan dan

Puhawang Provinsi Lampung)

  • Peran Kelembagaan Masyarakat Dalam Pengembangan Pariwisata
  • Penutup
  • TEORI : MENUJU PERENCANAAN KOLABORATIF DALAM PEMBANGUNAN PARIWISATA
    • Definisi Kolaboratif
    • Perencanaan Kolaboratif
    • Proses Kolaboratif
    • Perencanaan Pariwisata Kolaboratif
    • Penutup
  • KASUS: PERENCANAAN KOLABORATIF

Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan – Citra Persada 54 anggota dan menjaga laut dari kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh nelayan asing atau nelayan Pulau Sebesi sendiri. Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan - Citra Persada 57 telah dilakukan masyarakat bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM) sejak 20 tahun lalu. Peran LSM dan masyarakat dalam pengembangan Pulau Pahawang sebagai destinasi wisata sangat besar, khususnya dalam konservasi mangrove dan terumbu karang.

Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan - Citra Persada 59 Selain program yang dilaksanakan oleh lembaga swadaya masyarakat, keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata di Pulau Pahawang sangat tinggi. Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan - Pembangunan Citra Persada 61 seringkali tidak tepat sasaran atau tidak sejalan dengan kebutuhan nyata masyarakat pedesaan. Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan - Citra Persada 64 perencanaan berbasis komunikasi yang merupakan elemen penting dalam pembangunan berbasis kerjasama, seperti dijelaskan pada Gambar 3.3.1.

Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan - Citra Persada 67 berimplikasi pada kondisi identitas bersama, pemahaman bersama, penemuan baru dan inovasi.

Tabel 3.2.2  Peran stakeholders dalam pengembangan Pulau Pahawang
Tabel 3.2.2 Peran stakeholders dalam pengembangan Pulau Pahawang

DALAM PEMBANGUNAN PARIWISATA LAMPUNG

  • Kebutuhan Perencanaan Kolaboratif
  • Aktor Perencanaan Kolaboratif
  • Pelaksanaan Pembangunan Pariwisata di Provinsi Lampung
  • Penutup

Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan - Citra Persada 73 Sebagai suatu sistem yang kompleks, pariwisata merupakan industri jasa yang memiliki karakteristik multidimensi yang unik (multi aspek, multi sektor, multi aktor dan multi wilayah). Sifat pariwisata yang multidimensi membuat sektor ini sangat bergantung pada koordinasi dan pengelolaan terpadu untuk mencapai tujuan pembangunan pariwisata yang diinginkan. Pemerintah daerah yang berhasil mengembangkan pariwisata sangat menyadari sifat multidimensi sektor pariwisata, sehingga pendekatan perencanaan pariwisata juga dilakukan secara multisektoral.

Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan - Citra Persada 74 Di lingkungan pemerintahan, lembaga berupa Kementerian Pariwisata masih kesulitan mengembangkan pariwisata daerah, terutama lembaga yang mempunyai nomenklatur panjang (Dinas A, B, C, ..dan Pariwisata) . Asosiasi profesi atau perusahaan pariwisata yang telah lama berdiri di Provinsi Lampung adalah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) dan Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (ASITA). Pengembangan destinasi wisata yang berkualitas memerlukan pendekatan kreatif sesuai dengan karakter multidimensi pariwisata.

Pembangunan pariwisata sudah seharusnya menjadi bagian dari perencanaan pembangunan daerah, sehingga perencanaan pariwisata harus dituangkan dalam dokumen RPJMD dan RTRW di setiap kabupaten/kota di provinsi Lampung.

PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PARIWISATA PERKOTAAN

KONSEP PARIWISATA PERKOTAAN

  • Sejarah Perkembangan Pariwisata Perkotaan
  • Pariwisata Perkotaan Dan Kota Wisata
  • Konsep Pariwisata Perkotaan
  • Penutup

Dua definisi penting yang harus dipahami sebelum mendefinisikan pariwisata perkotaan adalah pemahaman tentang istilah kota dan urban. Mengacu pada definisi-definisi tersebut di atas, maka pariwisata perkotaan dapat diartikan secara lebih luas sebagai: suatu bentuk pariwisata umum yang mencakup unsur-unsur perkotaan (bukan pertanian) dan segala sesuatu yang berhubungan dengan aspek kehidupan kota (pusat pelayanan dan kegiatan ekonomi) sebagai daya tarik wisata. dimanfaatkan. Pariwisata perkotaan misalnya dapat dikembangkan di wilayah pesisir (pulau atau pantai) dengan mengembangkan hal-hal yang berhubungan dengan perkotaan sebagai daya tarik wisata.

Pariwisata perkotaan dapat mempengaruhi moral masyarakat setempat dan citra kota yang positif, sehingga meningkatkan investasi dan produktivitas tenaga kerja lokal. Tipologi yang dikemukakan Page di atas memungkinkan suatu kawasan perkotaan mempunyai dua tipologi wisata perkotaan. Konsep kota wisata sejarah merupakan konsep wisata perkotaan yang memanfaatkan sejarah sebagai daya tarik wisatanya.

Pariwisata perkotaan dapat diartikan sebagai fenomena psikososial dan budaya yang secara geografis berasal dari perkotaan/perkotaan.

KASUS : MENYIAPKAN KOTA BANDAR LAMPUNG SEBAGAI DESTINASI EKOWISATA

  • Mengapa Kota Bandarlampung?
  • Potensi Obyek dan Daya Tarik Wisata Kota Bandarlampung
  • Kebijakan Pengembangan Wisata Kota Bandarlampung
  • Bentuk alternatif wisata kota untuk Bandarlampung
  • Penutup

Dalam tinjauan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Lampung, posisi Kota Bandarlampung merupakan salah satu destinasi terpenting di antara tujuh kawasan besar pariwisata Provinsi Lampung. Hal ini tentunya dapat menjadi titik awal pengembangan wisata ramah lingkungan atau ekowisata di kota Bandarlampung di masa depan. Kota Bandarlampung sebagai pusat jasa dan perdagangan merupakan pusat aktivitas malam hari baik wisatawan domestik maupun mancanegara, sehingga diperlukan pengelolaan dan perancangan ruang kota.

Oleh karena itu, sangat penting agar ekowisata berbasis kota Bandarlampung direncanakan dan dikelola dengan lebih matang. Kota Bandarlampung mempunyai pemandangan alam yang sangat indah yang terdiri dari pantai, gunung/bukit dan dataran. Perencanaan kota dan perencanaan pariwisata Bandarlampung harus terlaksana secara harmonis, agar kota Bandarlampung nyaman sebagai tempat tinggal dan juga menarik wisatawan.

Penataan kawasan sisi barat Kota Bandarlampung yang mempunyai potensi sebagai kawasan ekowisata hendaknya dilakukan secara terpadu dengan pertimbangan pelestarian lingkungan.

PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN DESA DAN KAMPUNG WISATA

TEORI: PENGEMBANGAN DESA DAN KAMPUNG WISATA

  • Definisi Desa dan Kampung Wisata
  • Kriteria dan Prinsip Pengembangan Desa dan Kampung Wisata
  • Tipe dan Jenis Desa dan Kampung Wisata
  • Penutup

Perkembangan desa wisata belum banyak dibicarakan, padahal desa wisata sudah banyak bermunculan di Indonesia. Desa wisata yang terletak di kawasan wisata Gunung Kelimutu ini memiliki aset wisata budaya berupa rumah tinggal dengan arsitektur khas. Masyarakat dan aparat desa menerima dan memberikan dukungan yang besar kepada desa wisata dan wisatawan yang datang ke desanya.

Desa wisata budaya yang potensial dan terkenal secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua bagian. Desa wisata ekonomi kreatif adalah desa atau desa wisata yang potensi ekonomi kreatifnya menjadi daya tarik desa tersebut. Desa Wisata Agrowisata merupakan desa wisata yang mewakili daya tarik utama pertanian dan perkebunan.

Selebihnya potensi desa wisata cagar budaya, ekonomi kreatif dan berbagai jenis wisata alam lainnya.

Gambar 5.1.3 Desa Ubud, Bali dan Desa Sribu Rumah Gadang, Solok, Sumatera Barat  Sumber: www.berdesa.com; 2017
Gambar 5.1.3 Desa Ubud, Bali dan Desa Sribu Rumah Gadang, Solok, Sumatera Barat Sumber: www.berdesa.com; 2017

KASUS: POTENSI DAN PELUANG DESA DAN KAMPUNG WISATA PROVINSI LAMPUNG

  • Perkembangan Desa Wisata di Provinsi Lampung
  • Potensi Kampung Wisata di Kota Bandarlampung
  • Penutup

Desa wisata yang juga berkembang menjadi destinasi wisata adalah Desa Braja Harjosari di Lampung Timur. Perkembangan desa wisata di provinsi lampung dimulai pada awal tahun 1990an ketika desa Wana ditetapkan sebagai salah satu desa tua di wilayah lampung timur, menjadi desa wisata yang penuh dengan wisatawan dan desa Olok Gading di kota Bandarlampung. Beberapa tahun belakangan ini berkembang desa wisata tematik berbasis pertanian di Provinsi Lampung, seperti: Desa Coklat (Rumah Coklat) di Negeri Sakta Kabupaten Pesawaran, Desa Agrowisata Braja Harjosari Kabupaten Lampung Timur.

Potensi wisata Desa Wana telah lama diakui oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Timur bahkan telah diusulkan menjadi desa wisata sejak tahun 1994. Diperlukan bimbingan dan bantuan dari pemerintah dalam mengembangkan Pulau Pasaran menjadi destinasi desa wisata di Kota Bandar Lampung. Pemerintah daerah menyoroti persoalan status Pulau Pasaran sebagai desa wisata dalam dokumen kebijakan pariwisata daerah.

Perlu adanya kebijakan dan program yang mengutamakan konservasi Kampung Tua di Provinsi Lampung untuk dikembangkan sebagai Desa Budaya, serta pengembangan desa wisata berbasis alam (laut, gunung dan pertanian) dan ekonomi kreatif.

Gambar 5.2.1: Desa Wisata Coklat, Negeri Sakti, Kecamatan Gedong Tatan, Kabupaten  Pesawaran
Gambar 5.2.1: Desa Wisata Coklat, Negeri Sakti, Kecamatan Gedong Tatan, Kabupaten Pesawaran

PENUTUP

PERENCANAAN PARIWISATA BERKELANJUTAN

  • Pariwisata dan Pembangunan Berkelanjutan
  • Prinsip Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan
  • Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan
  • Penutup

Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan – Citra Persada menghimbau pemerintah negara bagian dan daerah untuk segera menetapkan rencana aksi pembangunan berkelanjutan di bidang pariwisata dan merumuskan, mempromosikan dan mengusulkan piagam pariwisata berkelanjutan. Perencanaan pariwisata berkelanjutan adalah cara di mana prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dapat diintegrasikan ke dalam proses perencanaan pariwisata. Syarat pariwisata berkelanjutan menurut PBB (2005) adalah: (1) melibatkan masyarakat lokal, (2) adanya keseimbangan antara kebutuhan wisatawan dan masyarakat, (3) melibatkan pemangku kepentingan (kolaborasi), (4) adanya adalah kemudahan bagi pengusaha lokal, (5) membangkitkan usaha lain khususnya dalam skala lokal, (6) masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam menciptakan atraksi wisata, (7) menjamin keberlanjutan, (8) mengoptimalkan sumber daya yang ada, (9 ) monev berkala, (10) transparansi atau keterbukaan dalam penggunaan sumber daya, (1).

Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan – Citra Persada 116 melaksanakan program peningkatan sumber daya manusia, serta (12) peningkatan kualitas hidup, pengalaman dan keuntungan. Prinsip perencanaan pariwisata berkelanjutan dapat terlaksana apabila perencanaannya mempunyai tiga ciri utama (3T), yaitu terarah, terpadu, dan terlibat. Perencanaan pariwisata berkelanjutan – Citra Persada 117 Hal penting dalam merencanakan suatu kawasan wisata adalah mampu menilai potensi suatu kawasan di masa depan sehingga dapat menarik wisatawan.

Dalam skala internasional, pembangunan pariwisata berkelanjutan dapat dikaitkan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Gambar 6.2.1 Prinsip-prinsip Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan, (Sumber: UN, 2005)
Gambar 6.2.1 Prinsip-prinsip Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan, (Sumber: UN, 2005)

PROFIL PENULIS

PERENCANAAN PARIWISATA

DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH BERKELANJUTAN

Gambar

Gambar 2.1.1 Proses Perencanaan Regional untuk Pariwisata Sumber............................
Gambar 2.1.3: Materi RIPPARNAS (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional)  Sumber: Paparan BPDIP, Pariwisata Dunia, 2016
Gambar 2.1.4 Kerangka muatan RIPPAR PROV dan RIPPAR Kab/Kota  menurut Permenpar 10/2016
Tabel 2.2.2 : Kebijakan Pariwisata dalam RTRW Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung   NO  KABUPATEN/KOTA  PERDA RTRW  TUJUAN RTRW  ASPEK PARIWISATA
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pusat Data dan Informasi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif atau dapat disingkat PUSDATIN, merupakan salah satu divisi pemerintahan yang bertugas melaksanaan

Sejalan dengan konsep pengembangan priwisata minat khusus (Destination Management Organization atau DMO) oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terhadap

Keputusan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor : KM/694/PL.07.02/M- K/2020 tentang Petunjuk Teknis Hibah Pariwisata Dalam

Lampiran I sampai dengan Lampiran IV Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 17 Tahun 2021 tentang Tata

Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 11 Tahun 2020 tentang Pelayanan Informasi Publik di Lingkungan

Merujuk kepada Pengumuman Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Sekretaris Utama Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif selaku Ketua Panitia Seleksi Nomor:

Jika pemohon datang langsung ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui Bagian Pelayanan Informasi yang akan

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung khususnya bagian Destinasi menyediakan informasi tempat wisata khususnya di Provinsi Lampung melalui website yang sudah ada dengan