• Tidak ada hasil yang ditemukan

BukuTeknologiAgroindustriKelapaSawit compressed

N/A
N/A
Endratno Syahrial

Academic year: 2025

Membagikan "BukuTeknologiAgroindustriKelapaSawit compressed"

Copied!
198
0
0

Teks penuh

(1)

Buku Teknologi Agroindustri Kelapa Sawit

Book · August 2019

CITATIONS

17

READS

36,099

1 author:

Agung Nugroho

Lambung Mangkurat University 74PUBLICATIONS   1,141CITATIONS   

SEE PROFILE

(2)
(3)

Buku Ajar

TEKNOLOGI AGROINDUSTRI KELAPA SAWIT

Agung Nugroho

Diterbitkan oleh:

Lambung Mangkurat University Press, 2019 d.a. Pusat Pengelolaan Jurnal dan Penerbitan ULM Lantai 2 Gedung Perpustakaan Pusat ULM

Jl. H. Hasan Basry, Kayu Tangi, Banjarmasin 70123 Telp/Faks. 0511-3305195

Anggota APPTI (004.035.1.03.2018)

Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang.

Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali untuk kutipan singkat demi penelitian ilmiah atau resensi.

xii + 183 hlm, 17,6 x 25 cm Cetakan pertama, Agustus 2019 Cover : Zulpahnor

Lay out : Agung Nugroho ISBN: 978-602-6483-97-3

(4)

PRAKATA

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulisan buku ajar Teknologi Agroindustri Kelapa Sawit ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi pada penulisan buku ini. Buku ajar Teknologi Agroindustri Kelapa Sawit ini ditulis sebagai bahan pengajaran untuk mata kuliah Teknologi Kelapa Sawit dan Turunannya bagi mahasiswa Teknologi Industri Pertanian. Buku ini juga dapat dijadikan sebagai bahan ajar bagi mahasiswa yang mengambil peminatan pada bidang agribisnis dan agroindustri kelapa sawit, termasuk bidang agronomi atau agroteknologinya.

Sebagai buku ajar, buku Teknologi Agroindustri Kelapa Sawit disusun secara sistematis dan komprehensif, di mana pada setiap babnya dirumuskan mengenai deskripsi singkat, relevansi, kompetensi yang akan dicapai, isi materi, metode, rangkuman serta evaluasi. Susunan bab dari buku ini disesuaikan dengan rencana pembelajaran mata kuliah Teknologi Kelapa Sawit dan Turunannya, yang pada dasarnya meliputi aspek-aspek dasar agroindustri seperti sifat bahan dan teknik penanganannya, teknologi proses pengolahan, penanganan produk, pengendalian mutu, peningkatan nilai tambah produk, produk turunan, pengelolaan produk samping dan limbah, dan juga manajemen perawatan mesin dan peralatan industri.

Ada sepuluh bab yang disajikan dalam buku ini dalam rangka untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai teknologi agroindustri kelapa sawit. Bab pertama dimulai dari pembahasan tentang tanaman kelapa sawit, dilanjutkan dengan bab mengenai panen dan pengangkutan tandan buah sawit, ekstraksi minyak sawit, klarifikasi minyak sawit, pemrosesan biji kelapa

(5)

limbah pabrik kelapa sawit, dan bab tentang proses pengolahan biodiesel. Bagian terakhir dari buku ini membahas mengenai pemeliharaan mesin dan peralatan pabrik kelapa sawit yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari agroindustri kelapa sawit. Materi yang disajikan merupakan penuangan pengetahuan dan pengalaman penulis yang diperoleh melalui aktivitasnya di bidang industri pangan dan kelapa sawit, dan juga dari proses pendampingan/pembimbingan penelitian dan kegiatan praktik lapang mahasiswa di beberapa industri pengolahan kelapa sawit, serta dari kajian literatur-literatur seputar agroindustri kelapa sawit.

Penulis telah berusaha keras untuk dapat menyajikan yang maksimal, baik dari aspek materi maupun aspek visualiasasi atau ilustrasinya. Namun, tentunya masih ada kekurangan dan kelemahan yang harus selalu diperbaiki untuk terus meningkatkan mutu buku ini selanjutnya. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sangat terbuka bagi penulis.

Banjarbaru, Agustus 2019.

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

Prakata ... ii

Daftar Isi ... iv

Daftar Tabel ... x

Daftar Gambar ... xi

1. Tanaman Kelapa Sawit ... 1

1.1. Deskripsi Singkat ... 1

1.2. Relevansi ... 1

1.3. Kompetensi ... 2

1.4. Botani Kelapa Sawit ... 2

1.5. Sejarah Kelapa Sawit di Indonesia ... 5

1.6. Bagian-Bagian Buah Sawit ... 6

1.7. Varietas Kelapa Sawit ... 7

1.8. Syarat Hidup Tanaman Kelapa Sawit ... 9

1.9. Teknik Penanaman Kelapa Sawit ... 10

1.10. Pemeliharaan Tanaman ... 12

1.11. Rangkuman ... 13

1.12. Latihan ... 14

1.13. Bahan Bacaan Pendukung ... 15

2. Panen dan Pengangkutan Tandan Buah Sawit ... 16

2.1. Deskripsi Singkat ... 16

2.2. Relevansi ... 16

2.3. Kompetensi ... 17

2.4. Persiapan Panen ... 17

2.4.1. Kriteria matang panen ... 18

2.4.2. Rotasi panen ... 19

2.4.3. Sistem ancak panen ... 20

2.4.4. Kerapatan panen ... 20

(7)

2.5. Cara panen ... 21

2.6. Pengangkutan TBS ... 22

2.7. Rangkuman ... 23

2.8. Latihan ... 24

2.9. Bahan Bacaan Pendukung ... 24

3. Ekstraksi Minyak Sawit ... 26

3.1. Deskripsi Singkat ... 26

3.2. Relevansi ... 26

3.3. Kompetensi ... 27

3.4. Gambaran Umum Proses Ekstraksi Minyak Sawit (CPO) ... 27

3.5. Penerimaan Buah Sawit ... 28

3.5.1. Penimbangan ... 28

3.5.2. Sortasi ... 29

3.6. Perebusan Buah ... 32

3.7. Perontokkan Buah dari Tandan ... 35

3.8. Proses Pencacahan dan Pengepresan Buah ... 36

3.9. Rangkuman ... 38

3.10. Latihan ... 38

3.11. Bahan Bacaan Pendukung ... 39

4. Klarifikasi Minyak Sawit ... 40

4.1. Deskripsi Singkat ... 40

4.2. Relevansi ... 41

4.3. Kompetensi ... 41

4.4. Proses Klarifikasi CPO ... 41

4.4.1. Vibrating screen ... 44

4.4.2. Crude oil tank (COT) ... 45

4.4.3. Continuous settling tank (CST) ... 46

4.4.4. Oil tank ... 47

4.4.5. Oil purifier (oil centrifuge) ... 48

4.4.6. Vacuum dryer ... 49

(8)

4.4.7. Storage tank ... 50

4.5. Pemrosesan Sludge ... 51

4.5.1. Sludge tank ... 51

4.5.2. Sand cyclone dan buffer tank ... 52

4.5.3. Sludge separator ... 52

4.6. Neraca Massa Proses Produksi CPO ... 53

4.7. Komposisi CPO ... 55

4.8. Rangkuman ... 57

4.9. Latihan ... 58

4.10. Bahan Bacaan Pendukung ... 58

5. Pemrosesan Biji Kelapa Sawit ... 60

5.1. Deskripsi Singkat ... 60

5.2. Relevansi ... 60

5.3. Kompetensi ... 61

5.4. Tahapan Pengolahan Biji Kelapa Sawit ... 61

5.4.1. Pemisahan serat ... 62

5.4.2. Pemecahan cangkang biji ... 66

5.4.3. Pemisahan cangkang ... 68

5.4.4. Pengeringan inti sawit ... 70

5.4.5. Penyimpanan dan pengiriman inti sawit ... 72

5.5. Rangkuman ... 73

5.6. Latihan ... 73

5.7. Bahan Bacaan Pendukung ... 74

6. Pengendalian Mutu Minyak Sawit ... 75

6.1. Deskripsi Singkat ... 75

6.2. Relevansi ... 76

6.3. Kompetensi ... 76

6.4. Pentingnya Pengendalian Mutu CPO ... 76

6.5. Parameter Uji dan Metode Analisis ... 79

6.5.1. Asam lemak bebas (free fatty acid) ... 79

(9)

6.5.2. Kadar air (moisture) ... 82

6.5.3. Deterioration of bleachability Index (DOBI) ... 83

6.5.4. Karotenoid (β-carotene) ... 84

6.5.5. Kotoran (dirt) ... 84

6.5.6. Rendemen (oil content) ... 85

6.5.7. Neraca massa (material balance) ... 86

6.6. Titik Pengambilan dan Pengujian Sampel ... 86

6.6.1. Condensate sterilizer ... 87

6.6.2. Bunch press ... 87

6.6.3. Press ... 87

6.6.4. Stasiun klarifikasi ... 88

6.7. Rangkuman ... 89

6.8. Latihan ... 90

6.9. Bahan Bacaan Pendukung ... 90

7. Pemurnian Minyak Sawit ... 92

7.1. Deskripsi Singkat ... 92

7.2. Relevansi ... 92

7.3. Kompetensi ... 93

7.4. Tujuan Pemurnian Minyak Sawit ... 93

7.5. Tahapan Proses Pemurnian Minyak Sawit ... 94

7.6. Refining ... 97

7.6.1. Degumming dan bleaching ... 97

7.6.2. Filtrasi ... 100

7.6.3. Deodorisasi ... 103

7.7. Fraksinasi ... 106

7.7.1. Tahap kristalisasi ... 109

7.7.2. Tahap filtrasi ... 110

7.8. Standar Mutu dalam Proses Pemurnian CPO ... 111

7.8.1. Free fatty acid ... 113

7.8.2. Iodine value ... 114

(10)

7.8.3. Deterioration of bleachability index ... 115

7.9. Rangkuman ... 116

7.10. Latihan ... 117

7.11. Bahan Bacaan Pendukung ... 117

8. Penanganan Limbah Pabrik Kelapa Sawit ... 119

8.1. Deskripsi Singkat ... 119

8.2. Relevansi ... 119

8.3. Kompetensi ... 120

8.4. Jenis Limbah Pabrik Kelapa Sawit ... 120

8.5. Penanganan Limbah Padat ... 121

8.6. Penanganan Limbah Cair ... 124

8.6.1. Sumber limbah cair pabrik kelapa sawit ... 124

8.6.2. Parameter fisika dan kimia limbah cair pabrik kelapa sawit ... 127

8.6.3. Penanganan limbah cair pabrik kelapa sawit ... 131

8.7. Limbah B3 ... 137

8.8. Rangkuman ... 140

8.9. Latihan ... 141

8.10. Bahan Bacaan Pendukung ... 141

9. Proses Pengolahan Biodiesel ... 143

9.1. Deskripsi Singkat ... 143

9.2. Relevansi ... 143

9.3. Kompetensi ... 144

9.4. Biodiesel ... 144

9.5. Proses Produksi Biodiesel ... 147

9.6. Parameter Standar Proses Produksi Biodiesel ... 152

9.7. Proses Pemurnian Gliserin ... 153

9.8. Rangkuman ... 154

9.9. Latihan ... 155

9.10. Bahan Bacaan Pendukung ... 155

10.Pemeliharaan Mesin & Peralatan Pabrik Kelapa Sawit ... 157

(11)

10.1. Deskripsi Singkat ... 157

10.2. Relevansi ... 157

10.3. Kompetensi ... 158

10.4. Pengantar ... 158

10.5. Definisi dan Tujuan Perawatan dan Pemeliharaan ... 159

10.6. Jenis Pendekatan dalam Kegiatan Perawatan dan Pemeliharaan ... 160

10.6.1. Perawatan pasca terjadi kerusakan (breakdown maintenance) .. 160

10.6.2. Perawatan pencegahan (preventive maintenance) ... 162

10.6.3. Total productive maintenance (TPM) ... 166

10.7. Struktur Organisasi ... 167

10.8. Workshop / Bengkel ... 169

10.9. Rangkuman ... 169

10.10. Latihan ... 170

10.11. Bahan Bacaan Pendukung ... 170

Daftar Pustaka Pendukung ... 172

Glosarium ... 176

Index ... 180

Profil Penulis ... 183

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Produktivitas umum kelapa sawit di Indonesia ... 3

Tabel 2. Varietas unggul kelapa sawit yang dihasilkan oleh PPKS ... 9

Tabel 3. Standar fraksi matang panen tandan buah sawit ... 18

Tabel 4. Pengaruh fraksi panen terhadap rendemen dan kadar ALB ... 19

Tabel 5. Kriteria mutu TBS yang dapat diterima. ... 31

Tabel 6. Urutan proses perebusan dengan metode tiga puncak. ... 34

Tabel 7. Komposisi asam lemak pada CPO. ... 57

Tabel 8. Parameter dan nilai mutu bahan dan produk pada proses pemurnian CPO ... 112

Tabel 9. Sumber-sumber limbah cair pada pabrik kelapa sawit ... 126

Tabel 10. Karakteristik limbah cair pabrik kelapa sawit ... 131

Tabel 11. Kandungan komponen kimia limbah cair PKS selama tahap pengolahan ... 133

Tabel 12. Baku mutu air limbah pabrik sawit yang dapat dialirkan ke sungai ... 135

Tabel 13. Standar mutu bahan baku produksi biodiesel (FAME) ... 146

Tabel 14. Parameter standar produksi biodisel ... 152

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Bagian-bagian dari buah kelapa sawit. ... 6

Gambar 2. Perbedaan proporsi bagian buah dari tiga jenis kelapa sawit. ... 7

Gambar 3. Peta desain pertanaman kelapa sawit pola segitiga sama sisi. ... 11

Gambar 4. Cara panen TBS menggunakan dodos (kiri) dan egrek (kanan). ... 21

Gambar 5. Pemilahan buah sawit di tempat penampungan hasil. ... 22

Gambar 6. Proses memuat (loading) tandan buah ke atas bak truk. ... 23

Gambar 7. Alur proses produksi CPO. ... 28

Gambar 8. Jembatan timbang di sebuah pabrik kelapa sawit. ... 29

Gambar 9. Areal loading ramp dan proses sortasi yang dilakukan. ... 30

Gambar 10. Proses perebusan buah pada sterilizer. ... 33

Gambar 11. Kurva perebusan metode triple peak. ... 34

Gambar 12. Mesin perontok buah sawit menggunakan drum thresher. ... 35

Gambar 13. Mesin screw press yang terintegrasi dengan mesin digester. ... 36

Gambar 14. Mekanisme kerja sand trap tank. ... 37

Gambar 15. Alur proses klarifikasi minyak sawit. ... 43

Gambar 16. Penampakan stasiun klarifikasi pada pabrik kelapa sawit. ... 44

Gambar 17. Mekanisme filtrasi dengan ayakan ganda pada vibrating screen ... 45

Gambar 18. Crude oil tank (COT). ... 46

Gambar 19. Vertical clarifier tank (VCT). ... 47

Gambar 20. Mekanisme kerja oil tank. ... 48

Gambar 21. Mekanisme kerja oil centrifuge. ... 49

Gambar 22. Prinsip kerja vacuum dryer pada stasiun klarifikasi. ... 50

Gambar 23. Storage tank. ... 51

Gambar 24. Buffer tank. ... 52

Gambar 25. Neraca massa produksi CPO dari tanda buah sawit. ... 55

Gambar 26. Struktur kimia dari trigliserida. ... 56

Gambar 27. Alur proses pengolahan biji sawit (nut) menjadi inti sawit (kernel). ... 62

Gambar 28. Ilustasi bagian-bagian dari cake breaker conveyor. ... 63

(14)

Gambar 29. Ilustrasi unit depericarper yang terdiri dari cake breaker conveyor, fiber

cyclone, dan nut polishing drum. ... 64

Gambar 30. Tampak luar dan tampak dalam dari unit nut polishing drum. ... 64

Gambar 31. Nut silo beserta bagian hopper-nya. ... 65

Gambar 32. Bagian-bagian dari ripple mill. ... 66

Gambar 33. Bentuk claybath. ... 69

Gambar 34. Gambaran unit silo dryer. ... 71

Gambar 35. Aliran proses pemrosesan biji kelapa sawit menjadi inti sawit. ... 72

Gambar 36. Proses kimia terbentuknya asam lemak bebas dari trigliserida. ... 80

Gambar 37. Alur proses pengolahan CPO menjadi olein dan stearin. ... 95

Gambar 38. Diagram input dan output proses pemurnian minyak sawit. ... 96

Gambar 39. Alur proses degumming dan bleaching. ... 99

Gambar 40. Niagara filter. ... 101

Gambar 41. Tahapan pada proses filtrasi. ... 102

Gambar 42. Alur proses deodorisasi. ... 104

Gambar 43. Penampakan fisik dari RBDPO (kiri) dan PFAD (kanan). ... 106

Gambar 44. Alur proses fraksinasi RBDPO menjadi olein dan sterin. ... 108

Gambar 45. Unit tangki crystallizer. ... 109

Gambar 46. Unit filter press. ... 110

Gambar 47. RBD olein (kiri) dan RBD stearin (kanan). ... 111

Gambar 48. Penampungan tandan kosong sawit. ... 122

Gambar 49. Limbah serat sebagai hasil samping pengolahan kelapa sawit. ... 123

Gambar 50. Timbunan cangkang hasil pengolahan biji sawit. ... 124

Gambar 51. Sumber-sumber limbah cair dari alur proses produksi CPO. ... 125

Gambar 52. Limbah cair pabrik kelapa sawit (POME). ... 127

Gambar 53. Alur pengolahan limbah cair (POME) pabrik kelapa sawit. ... 133

Gambar 54. Pengolahan limbah cair dengan sistem kolam terbuka. ... 135

Gambar 55. Praktik land application pada sebuah kebun sawit. ... 136

Gambar 56. Karakteristik dan potensi bahaya serta simbol limbah B3. ... 138

Gambar 57. Reaksi transesterifikasi dari trigliserida dengan metanol. ... 145

Gambar 58. Alur proses produksi biodiesel. ... 147

(15)

1. TANAMAN KELAPA SAWIT

1.1. Deskripsi Singkat

Bab pertama buku ini membahas tentang gambaran umum mengenai tanaman kelapa sawit serta perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Tentang tanaman kelapa sawit, ada penjelasan mengenai aspek botani dan morfologi kelapa sawit termasuk bagian-bagian dari buah kelapa sawit dan jenis- jenisnya, serta sejarah masuk dan berkembangnya perkebunan sawit di Indonesia. Selain itu juga ada penjelasan mengenai aspek agronomi atau budidaya kelapa sawit yang meliputi syarat hidup, teknik penanaman, dan pemeliharaan.

1.2. Relevansi

Dalam memahami industri pengolahan sawit, maka mutlak diperlukan pemahaman mengenai mengenai berbagai aspek yang terkait bahan baku dalam hal ini produksi tandan buah segar sebagai bahan baku utama. Sebagai produk hasil pertanian, buah sawit juga memiliki banyak kelemahan dalam penanganannya, seperti sifat kimia yang cepat berubah (mudah menurun mutunya), bersifat musiman dan sangat tergantung musim, variasi yang tinggi, serta rasio antara dimensi dan isi intinya yang kecil. Untuk itu pengetahuan dan pemahaman terkait seluruh aspek yang mempengaruhi mutunya perlu untuk dikuasai. Sebagai media untuk penguasaan tersebut maka bab tentang tanaman kelapa sawit, yang merupakan sektor hulu dari industri pengolahan sawit, sangat relevan untuk diberikan.

(16)

1.3. Kompetensi

Setelah menyelesaikan bab ini, mahasiswa akan memiliki kemampuan untuk:

1. Menjelaskan aspek botani dan karakteristik dari tanaman kelapa sawit secara rinci dan komprehensif.

2. Menjelaskan sejarah masuk dan berkembangnya tanaman dan perkebunan kelapa sawit di Indonesia hingga saat ini.

3. Menjelaskan aspek budidaya kelapa sawit secara umum, dari mulai penyiapan lahan, bibit, penanaman, dan pemeliharaan.

1.4. Botani Kelapa Sawit

Kelapa sawit (Elaeis guineensis) telah menjadi spesies tanaman dan komoditas penting di dunia. Sebagai salah satu sumber bahan baku minyak nabati, kelapa sawit adalah jenis tanaman yang paling produktif dalam menghasilkan minyak nabati. Satu individu tanaman kelapa sawit pada usia produktif (di atas 6 tahun) dapat menghasilkan sekitar 200 kg tandan buah segar per tahunnya atau setara dengan 40 kg minyak sawit kasar (CPO).

Pada luas lahan yang sama (1 ha), rata-rata kelapa sawit dapat menghasilkan minyak 5.000 kg per tahun, sementara tanaman penghasil minyak nabati lainnya seperti kedelai dan jagung hanya mampu menghasilkan 375 kg dan 145 kg. Fakta ini selain disebabkan oleh tingginya produktivitas buah pada tanaman kelapa sawit, juga disebabkan tingginya rendemen minyak pada buah sawit, yaitu sekitar 22%, di mana angka ini belum termasuk minyak dari bagian kernel. Sebagai pembanding, rendemen minyak dari kedelai hanya sekitar 15%. Pada Tabel 1 berikut ini disajikan beberapa informasi mengenai produktivitas kelapa sawit di Indonesia saat ini.

(17)

Tabel 1. Produktivitas umum kelapa sawit di Indonesia

Parameter Proporsi

Berat tandan 2327 kg

Persentase bagian buah (berondolan) 6065%

Persentase kandungan minyak dalam tandan 2123%

Persentase bagian daging buah (mesocarp) pada setiap buah 7176%

Persentase bagian daging buah pada setiap tandan 4446%

Persentase bagian cangkang pada setiap buah 1011%

Persentase bagian kernel pada setiap tandan 57%

Persentase bagian kernel pada setiap buah 2122%

Produktivitas tandan buah per hektar per tahun 2530 ton

Produktivitas CPO per hektar per tahun 56 ton

Jumlah pohon per hektar 130140

Tingginya produktivitas dan nilai ekonomi kelapa sawit dibanding komoditas lainnya, menjadikan kelapa sawit sebagai komoditas andalan di beberapa negara tropis, terutama Indonesia dan Malaysia. Kelapa sawit merupakan spesies tanaman tropis, dan tidak dapat ditumbuhkan di daerah subtropis. Termasuk ke dalam kelompok palma (suku Arecaceae), kelapa sawit satu keluarga dengan kelapa dan kelompok pinang-pinangan (palem) lainnya. Seperti anggota keluarga Arecaceae lainnya, kelapa sawit memiliki ciri daun majemuk berwarna hijau yang menyirip yang menempel pada sebuah pelepah. Pada setiap pelepah yang memiliki panjang antara 7–9 m terdapat 250–400 helai daun. Pada fase awal perkembangannya, setiap tahun dapat tumbuh 20–30 pelepah, dan akan terus menurun dengan semakin bertambahnya umur tanaman, dengan rata-rata per bulan sekitar 1,5 pelepah. Dengan demikian, kelapa sawit menghasilkan biomassa yang melimpah, yaitu lebih dari 6 ton/ha/tahun.

(18)

Selain tipe daun menyirip, ciri utama kelompok palma adalah batang tanaman berupa kolom tunggal yang menjadi tempat tumbuhnya pelepah.

Pangkal dari pelepah menjadi tempat munculya tangkai bunga/buah, yang keberadaannya dilindungi oleh adanya pelepah tersebut. Dalam satu pohon atau individu, kelapa sawit dapat menghasilkan bunga jantan dan bunga betina. Bunga betina memiliki ukuran lebih besar dan mekar, sementara bunga jantan berbentuk lancip dan panjang. Penyerbukan tanaman kelapa sawit bergantung pada bantuan angin dan hewan seperti lebah. Rasio atau proporsi jumlah bunga jantan dan bunga betina (sex ratio) merupakan faktor utama yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit. Semakin tinggi jumlah bunga betina maka potensi produksi buah sawit juga semakin tinggi.

Kelapa sawit mulai berbunga pada umur 3–4 tahun. Bunga betina akan menjadi buah dalam waktu 6 bulan. Proses pematangan buah sawit dapat diamati dari perubahan warna dari kulit buahnya, berawal dari warna hijau menjadi merah jingga pada saat telah matang. Kandungan minyak pada buah akan bertambah seiring dengan perkembangan kematangan buah. Setelah fase matang mencapai puncaknya, kandungan asam lemak bebas cenderung akan meningkat dan diikuti merontoknya buah (memberondol).

Klasifikasi ilmiah kelapa sawit:

Kerajaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Ordo : Arecales Famili : Arecaceae Genus : Elaeis

Spesies : Elaeis guineensis Jacq.

(19)

1.5. Sejarah Kelapa Sawit di Indonesia

Kelapa sawit (Elaeis guineensis) berasal dari daerah tropis di Afrika barat. Keberadaan kelapa sawit di Indonesia bermula dari tahun 1848 yaitu dengan dibawanya dua bibit kelapa sawit dari daerah Mauritius dan dua lainnya dari Hortus Botanicus (Belanda) oleh pemerintah Hindia Belanda yang kemudian ditanam sebagai tanaman hias di Kebun Raya Bogor.

Perkembangan revolusi industri menimbulkan ledakan permintaan akan minyak nabati. Hal ini memicu para produsen untuk menggenjot produksi minyak nabati. Salah satu yang potensial adalah minyak sawit dari daerah tropis. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menggiatkan perkebunan kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit pertama berada di Deli, Sumatra Utara dan Aceh dengan luas perkebunan mencapai 5000 ha. Pada awal abad ke-20, perkebunan kelapa sawit di Hindia Belanda berkembang sangat pesat.

Namun, sejak pendudukan Jepang pada 1940, perkembangan kelapa sawit mulai menunjukkan penurunan karena perbedaan orientasi dari penjajah Jepang.

Setelah pendudukan Jepang berakhir, perkebunan kelapa sawit diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia. Pada saat itu, sekitar tahun 1960-an pemerintah membentuk badan kerja sama militer dengan buruh perkebunan yang dikenal dengan istilah Bumil (buruh militer) sebagai badan yang mengelola perkebunan sawit. Tidak kondusifnya kondisi politik dan keamanan pada masa orde lama, menyebabkan produksi minyak sawit Indonesia tidak maksimal. Sementara perkembangan sawit di negara tetangga, Malaysia berjalan sangat baik, yang menjadikannya sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia.

Pada masa orde baru, perkembangan sawit Indonesia mulai menunjukkan perkembangan yang positif. Pemerintah mendorong

(20)

penciptaan lapangan kerja, kesejahteraan masyarakat, dan juga devisa negara. Pada era ini dikenal kebijakan PIR-BUN (Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan), yang menyebabkan perkembangan luas kebun sawit hingga saat ini. Sekarang Indonesia kembali menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia menggesar posisi Malaysia.

1.6. Bagian-Bagian Buah Sawit

Pada dasarnya buah sawit terdiri dari empat bagian utama, yaitu eksokarp, mesokarp, endokarp, dan endosperma (Gambar 1). Eksokarp (exocarp) merupakan bagian terluar dari buah sawit yang berupa kulit buah yang bertekstur licin dan berwarna merah jingga pada buah yang matang.

Mesokarp (mesocarp) adalah bagian penting dari buah sawit, karena bagian inilah sebagian besar minyak (crude palm oil) tersimpan. Bagian ini adalah daging buah yang berserabut dan berwarna kuning terang. Sementara itu, endokarp (endocarp) adalah bagian lebih dalam setelah mesokarp yang berupa cangkang atau tempurung yang melindungi bagian dalam yang berupa inti sawit atau kernel (endosperm). Pada kernel inilah embrio sawit berada, yang mana merupakan bagian yang menghasilkan minyak inti sawit (palm kernel oil).

Gambar 1. Bagian-bagian dari buah kelapa sawit.

(21)

1.7. Varietas Kelapa Sawit

Secara umum, dilihat dari ketebalan daging buah dan ukuran kernel ataupun ketebalan cangkangnya, dikenal tiga jenis kelapa sawit, yaitu Dura, Psifera, dan Tenera. Walaupun sebenarnya ada banyak sekali varietas sawit baik yang telah lama ada maupun yang baru saja dikembangkan melalui persilangan guna mendapatkan karakteristik unggul. Pada Gambar 2 di bawah ini disajikan perbedaan visual dari penampang melintang buah sawit dari ketiga jenis tersebut.

Gambar 2. Perbedaan proporsi bagian buah dari tiga jenis kelapa sawit.

Jenis Dura merupakan kelapa sawit dengan ukuran kernel yang besar serta tempurung yang tebal (4–8 mm). Dengan demikian bagian daging buahnya sangatlah tipis (35–65%) sehingga kandungan minyaknya sedikit. Walaupaun memiliki ukuran kernel yang besar, namun kandungan minyak inti sawitnya relatif rendah. Dengan karakteristik seperti itu, maka jenis Dura ini kurang produktif untuk dikembangkan sebagai bahan produksi minyak, baik CPO maupun PKO.

(22)

Jenis yang kedua, yaitu Psifera, memiliki sifat berkebalikan dengan Dura, yaitu memiliki ukuran kernel yang sangat kecil dengan cangkang yang sangat tipis atau hampir tidak ada. Dengan demikian, maka ukuran daging buahnya sangatlah tebal. Meskipun memiliki keunggulan daging buah yang tebal, kelemahan jenis ini adalah tidak dapat berkembang biak secara alami sehingga perkembangbiakannya harus dibantu dengan metode perkawinan silang.

Jenis yang ke tiga yaitu Tenera, merupakan hasil perkawinan silang antara Dura sebagai induk betina dengan Psifera sebagai induk jantan yang menghasilkan keturunan yang memiliki sifat-sifat unggul perpaduan dari kedua induknya, yaitu daging buah yang tebal dengan cangkang yang lebih tipis (1-4 mm). Proporsi daging buah dari jenis ini mencapai antara 60-96%

serta dengan jumlah tandan per pohon yang lebih banyak walupun dengan ukuran tandan yang relatif lebih kecil. Jenis ini dijadikan sebagai bibit unggul bersertifikat yang dibudidayakan oleh perusahaan kelapa sawit karena memiliki produktivitas yang tinggi.

Selain ketiga jenis di atas, ada banyak varietas kelapa sawit lainnya.

Berdasarkan warna dari kulitnya, juga dapat dibedakan menjadi tiga varietas, yaitu Nigrescens, Virescens, dan Abescens. Nigrescens memiliki warna kulit ungu kehitaman pada fase mudanya dan berangsur menjadi jingga kehitaman ketika mencapai fase matang buahnya. Untuk Virescens memiliki warna kulit hijau dan ketika sudah matang akan berubah menjadi jingga kemerahan. Sementara Abescens berawal dari warna kulit keputih-putihan dan menjadi kekuning-kuningan dengan ujung ungu kehitaman pada buah matangnya.

Sebagai pusat penelitian kelapa sawit di Indonesia, PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) telah menghasilkan puluhan varietas unggul.

(23)

Kriteria unggul dapat dilihat pada beberapa aspek tergantung pada kebutuhannya, seperti produktivitas tinggi, ketahanan terhadap hama dan penyakit, kemampuan tumbuh di daerah marjinal atau ekstrim, keseragaman pertumbuhan, pelepah yang pendek, serta faktor kemudahan dalam perawatan. Pada Tabel 2 disajikan beberapa varietas unggul hasil pengembangan oleh PPKS yang berpusat di Medan, Sumatra Utara.

Tabel 2. Varietas unggul kelapa sawit yang dihasilkan oleh PPKS

Verietas

Rerata Jumlah Tandan (tdn/phn/thn)

Rerata Berat Tandan (kg/tdn)

Potensi TBS (ton/ha/thn)

Rendemen (%)

Potensi CPO (ton/ha/thn)

Kerapatan tanam (phn/ha)

Dy x SP-1 (Dumpy) 8 25 32 26 7,5 130

D x P AVROS be12 16 30 26 7,8 130

D x P Simalungun 13 19,2 33 26,5 8,7 143

D x P PPKS 540 14,1 15,4 33 29,9 9,6 143

D x P Yangambi 13 16 39 26 7,5 130

D x P PPKS 718 9,3 22,8 28 25,17 8,11 143

D x P PPKS 239 15,3 17,2 38 25,8 8,4 130

D x P Langkat 12,5 19 31 26,3 8,3 143

Sumber: PPKS.

1.8. Syarat Hidup Tanaman Kelapa Sawit

Habitat asli tanaman kelapa sawit adalah di daerah tropis yaitu daerah yang berada pada posisi antara 15ᵒ lintang utara sampai dengan 15ᵒ lintang selatan. Kelapa sawit akan dapat tumbuh dan berkembang baik pada ketinggian di bawah 500 m dari permukaan laut. Di atas ketinggian tersebut, pertumbuhan kelapa sawit tidak akan optimal dan tingkat produktivitas yang rendah.

Kelapa sawit juga akan tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan yang stabil yang turun merata sepanjang tahun (2.500–3.000 mm) dengan kelembaban yang tinggi (80–90%). Pola curah hujan tahunan sangat mempengaruhi perilaku pada proses pembungaan dan produksi buah sawit. Variasi suhu yang tidak terlalu tinggi yaitu berkisar antara 25–27°C sangat cocok untuk pertumbuhannya.

(24)

merah kuning, tanah aluvial, dan cocok juga pada tanah organosol atau tanah gambut yang tipis pada pH optimum antara 5,0–5,5, meskipun dapat tumbuh pada toleransi pH antara 4,0 sampai dengan 6,5.

1.9. Teknik Penanaman Kelapa Sawit

Untuk mendapatkan produktivitas yang maksimal, penanaman kelapa sawit harus mengikuti prosedur yang tepat. Teknik penanaman kelapa sawit yang tepat akan menghasilkan tanaman yang sehat dan juga seragam. Tanaman yang sehat ditandai dengan tidak ditemukannya ciri-ciri abnormal, non produktif, ataupun mati, sehingga kebutuhan benih sisipan dapat dikurangi. Tanaman yang sehat menjadi dasar dari tercapainya produktivitas yang baik. Tanaman yang sehat akan mampu berproduksi secara lebih awal dalam kurun waktu yang lebih singkat (3 tahun) serta dengan hasil awal yang lebih tinggi. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penanaman, seperti pembuatan lobang tanam, jarak tanam, pemancangan, serta teknik penanamannya sendiri.

Lubang tanam sebaiknya telah disiapkan satu bulan sebelum penanaman.

Hal ini dalam rangka mengurangi keasaman tanah. Tanah lapisan atas (top soil) yang lebih subur sebaiknya dipisahkan dari tercampurnya dengan tanah lapisan bawah (sub soil). Nantinya pada proses penanaman, tanah lapisan atas ini perlu dicampur dengan pupuk (TSP) dan ditimbun di bagian bawah dekat dengan posisi perakaran untuk meningkatkan efektifitas penyerapan oleh akar tanaman yang baru beradaptasi. Pembuatan lobang tanam dapat dilakukan secara manual menggunakan cangkul atau hole digger untuk skala kecil. Sementara untuk skala besar sebaiknya menggunakan excavator. Ukuran lobang sebaiknya dibuat lebih besar dengan diameter 90 cm dan tinggi minimal 60 cm.

Pola jarak tanam yang dianjurkan pada perkebunan kelapa sawit adalah dengan pola segitiga sama sisi. Penentuan jarak tanam disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan, topografi lahan, dan karakter tanaman itu sendiri. Jarak tanam

(25)

yang teratur akan diperoleh jika dilakukan dengan proses pemancangan yang baik pula. Pemancangan merupakan kegiatan mengatur posisi atau letak tanaman dengan jarak tertentu. Arah barisan tanaman kelapa sawit pada umumnya adalah arah utara - selatan, namun pada keadaan tertentu dapat disesuaikan dengan topografi. Skema pemancangan untuk lahan dengan topografi datar dapat dilihat seperti pada Gambar 3.

Gambar 3. Peta desain pertanaman kelapa sawit pola segitiga sama sisi.

Untuk teknik penanaman dimulai dari persiapan bibit yang sebaiknya dilakukan dua minggu sebelum ditanam. Persiapan ini meliputi adaptasi bibit yaitu memulai memutar bibit pada polybag agar akarnya yang menembus tanah dapat terputus dan beregenerasi. Benih yang akan ditanam sebaiknya berumur antara 10–12 bulan. Sehari sebelum penanaman, bibit harus sudah disebar atau diposisikan di samping lobang tanam yang telah dibuat sebelumnya. Sebelum ditanam, dasar polybag dari bibit harus disayat terlebih dahulu untuk kemudian dimasukkan ke dalam lubang tanam. Setelah bibit benar-benar tegak posisinya,

(26)

dengan menariknya ke atas. Selanjutnya bibit ditimbun dengan tanah atas (top soil) yang telah dicampur dengan pupuk dan kemudian dipadatkan. Setalah itu ditimbun kembali dengan tanah bawah (sub soil) dan dipadatkan sampai bibit berdiri dengan kokoh. Piringan di sekitar tanaman dapat dibuat dengan diameter 1 m. Piringan ini sebagai cikal bakal piringan tanaman untuk seterusnya.

1.10. Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan atau perawatan tanaman dilakukan pada dua fase setelah tanam yaitu fase tanaman belum menghasilkan (TBM) dan fase tanaman menghasilkan (TM) (Sulistyo, 2010). TBM yaitu tanaman yang dipelihara sejak bulan pertama penanaman sampai dapat dipanen buahnya pada umur 30–36 bulan. Selama periode TBM ini perlu dilakukan beberapa pekerjaan, yaitu konsolidasi tanaman, penyisipan tanaman, pemeliharaan piringan, pemeliharaan penutup tanah, pemupukan, tunas pasir, pengendalian hama dan penyakit, persiapan sarana panen, serta pemeliharaan jalan dan parit drainase.

Pemeliharaan periode TBM adalah lanjutan dan penyempurnaan pekerjaan dari pembukaan lahan dan persiapan untuk mendapatkan tanaman yang berkualitas baik.

Kelapa sawit mulai berbunga pada umur 12 bulan dan panen pertama dapat dilakukan secara ekonomis setelah tanaman berumur 2,5 tahun atau 30 bulan. Periode inilah yang menjadi batas dimulainya pemeliharaan periode TM (tanaman menghasilkan). Beberapa pekerjaan pada periode TM ini meliputi pengendalian gulma, penunasan pelepah, pengendalian hama dan penyakit, pengawetan tanah dan air, pemupukan, serta pemeliharaan jalan.

Pengendalian gulma perlu dilakukan pada piringan pohon, jalan pikul, dan di gawangan. Pengendalian gulma di piringan pohon bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pemupukan dan memudahkan pada saat pengutipan brondolan. Sementara pengendalian gulma di jalan pikul bertujuan agar akses

(27)

jalan untuk pekerja tetap terpelihara. Untuk pengendalian gulma pada gawangan memiliki tujuan untuk mengurangi persaingan dalam penyerapan air, unsur hara, serta dalam rangka menjaga kelembaban kebun.

Penyakit yang sering ditemukan pada tanaman kelapa sawit menghasilkan (TM) adalah busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh Ganoderma boninense (Purba, 2009). Ganoderma sendiri adalah jamur patogenik tular tanah (soil borne) yang sebenarnya banyak ditemukan pada hutan-hutan primer yang menyerang berbagai jenis tanaman hutan (Susanto, et al., 2010). Ganoderma dapat bertahan di dalam tanah dalam kurun waktu yang lama dan dengan sangat cepat mampu menyebar. Penyebarannya melalui akar tanaman yang saling bersinggungan di dalam tanah. Ciri-ciri kelapa sawit yang terserang Ganoderma ini adalah tidak terbukanya daun tombak, kemudian pelepah yang mulai sengkleh, dilanjutkan dengan pembusukkan pada batang, dan akhirnya tanaman akan mati.

Kelapa sawit yang telah terserang Ganoderma ini harus dibongkar dan dimusnahkan supaya tidak menyebar ke tanaman lain di sekitarnya.

Pada tanaman menghasilkan (TM), kegiatan penunasan dilakukan saat proses panen mulai dilakukan yaitu dengan cara menyisakan dua pelepah di bawah buah yang akan dipanen. Setelah buah tersebut dipanen maka pelepah yang menyangganya dapat dibuang. Jumlah pelepah per pohon dapat mempengaruhi produksi TBS, bobot TBS, dan juga pertumbuhan akar. Selain penunasan, pekerjaan lainnya adalah pemupukan. Pemupukan merupakan pos biaya yang paling besar pada periode pemeliharaan, yaitu dapat menyerap sekitar 40-50% dari total biaya pemeliharaan.

1.11. Rangkuman

1. Tanaman kelapa sawit termasuk ke dalam suku palma (Arecaceae) yang tumbuh optimal di dataran rendah wilayah tropis yang panas dan lembab.

(28)

2. Tanaman kelapa sawit yang berkembang di Indonesia saat ini (Elaeis guineensis) berasal dari derah Afrika barat, yang dimasukkan pada masa pemerintahan Hindia Belanda (1848) sebagai tanaman hias di Kebun Raya Bogor.

3. Pada buah sawit terdapat empat bagian utama, yaitu kulit (exocarp), daging buah (mesocarp), cangkang atau tempurung (endocarp), dan kernel atau inti (endosperm). Bagian mesocarp merupakan sumber minyak sawit (CPO), dan bagian kernel sebagai sumber minyak inti (PKO).

4. Ada banyak varietas dari kelapa sawit. Tiga varietas yang dibedakan berdasarkan ukuran proporsi dari daging buah dan kernel (inti) adalah Dura, Psifera, dan Tenera. Tenera memiliki karakteristik yang unggul, sehingga menjadi varietas yang dibudidayakan pada perkebunan sawit.

5. Tiga aspek utama dalam budidaya kelapa sawit meliputi kualitas bibit dan pemeliharaan bibit, penanaman, serta pemeliharaan. Pemeliharaan terbagi dalam dua periode, yaitu periode pada saat tanaman belum menghasilkan (TBM) dan periode setelah tanaman menghasilkan (TM).

1.12. Latihan

1. Jelaskan aspek botani dan karakteristik dari tanaman kelapa sawit secara rinci dan komprehensif!

2. Jelaskan sejarah masuk dan berkembangnya tanaman dan perkebunan kelapa sawit di Indonesia hingga saat ini!

3. Jelaskan bagian-bagian dari buah kelapa sawit serta jelaskan perbedaan antara buah kelapa sawit jenis Dura, Psifera, dan Tenera!

4. Pada penanaman kelapa sawit, dikenal istilah pola tanam segitiga sama sisi, jelaskan mengenai pola ini secara lengkap!

5. Sebut dan jelaskan kegiatan-kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit baik pada periode TBM maupun TM!

(29)

1.13. Bahan Bacaan Pendukung

Afrizon, 2017. Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dengan Pemberian Pupuk Organik dan Anorganik. Jurnal Agritepa, 3:95-105.

Allorerung, D., Syakir, M., Poeloengan, Z., Syafaruddin, dan Rumini, W., 2010. Budidaya Kelapa Sawit. Aska Media, Bogor.

Darmosarkoro, W., Sutarta, E. S., dan Winarna, 2003. Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.

Kiswanto., Purwanta, J. H., Wijayanto, B., 2008. Teknologi Budidaya Kelapa Sawit. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor.

Kurniawan, A., Amalia, R., dan Nasution, Z. P. S., 2017. Tekno Ekonomi Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.

Kushairi, A., Nurulhidayah, A. S., Maisarah, N. J., Syahanim, S., dan Mardziah, A. M., 2011. Oil Palm Biology: Facts & Figures. Malaysian Palm Oil Board, Malaysia.

Lubis, A. U., 2008. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Indonesia Edisi ke 2. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan

Mangoensoekarjo, S. dan Semangun, H., 2005. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Pahan, I., 2012. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya, Jakarta.

Purba, R. Y., 2009. Penyakit-Penyakit Kelapa Sawit di Indonesia. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.

Respati, E., Nuryati, L., Yasin, A., 2016. Outlook Kelapa Sawit. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian – Kementerian Pertanian, Jakarta.

Rofiq, R., Sayuti, J., Solikin., Tanjung, A. J., dan Sahadi, 2014. Buku Panduan:

Petani Mandiri Menuju Sertifikasi Minyak Sawit Berkelanjutan.

Yayasan Setara, Jambi.

Sulistyo, B., 2010. Budi Daya Kelapa Sawit. Balai Pustaka, Jakarta.

Sunarko, 2009. Budi Daya dan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit Dengan Sistem Kemitraan. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Susanto, A., Purba, R. Y., Prasetyo, A. E., 2010. Hama dan Penyakit Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.

(30)

2. PANEN DAN PENGANGKUTAN TANDAN BUAH SAWIT

2.1. Deskripsi Singkat

Pada bab ke dua ini dibahas hal-hal yang terkait tahap panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Pada dasarnya ada tiga hal penting pada tahap panen yaitu persiapan panen, proses panen, dan penanganan setelah panen sebelum masuk proses pengolahan. Persiapan panen meliputi penentuan matang panen, persiapan sumberdaya manusia (tenaga kerja), persiapan lokasi panen dan sarana prasarana yang diperlukan, serta perencanaan panen seperti penentuan waktu rotasi panen dan sistem ancak panen yang akan diterapkan. Pentingnya penentuan matang panen, teknik panen, dan juga penanganan setelah panen dalam menjaga mutu minyak sawit juga dibahas dalam bab ini.

2.2. Relevansi

Pada industri minyak sawit, parameter mutu dari bahan baku dan produk yang sangat penting adalah kadar asam lemak bebas (ALB). Kadar ALB sangat dipengaruhi oleh mutu bahan baku awal yaitu buah sawit. Untuk menjamin mutu bahan baku buah sawit diperlukan pemahaman mengenai hal-hal yang berpotensi mempengaruhi kadar ALB pada bahan, baik pada saat prapanen, saat panen, maupun pascapanen. Untuk itu maka penjelasan mengenai teknik panen dan pengangkutan atau penanganan TBS ini penting untuk diberikan.

(31)

2.3. Kompetensi

Setelah menyelesaikan bab ini, mahasiswa akan memiliki kemampuan untuk:

1. Menjelaskan pendekatan yang dapat digunakan dalam menentukan saat matang panen yang tepat dalam rangka mengoptimalkan mutu TBS sekaligus memaksimalkan produktivitas, dalam hal ini kandungan minyaknya.

2. Menjelaskan berbagai aspek baik prapanen, saat panen, ataupun pascapanen yang dapat mempengaruhi mutu TBS.

3. Menjelaskan kriteria-kriteria yang spesifik dari buah yang siap dipanen.

4. Menjelaskan segala hal yang perlu dipersiapkan dan metode panen yang tepat sesuai dengan kondisi tanaman dan kondisi kebun.

2.4. Persiapan Panen

Pada umumnya status tanaman kelapa sawit beralih dari periode tanaman belum menghasilkan (TBM) menjadi periode tanaman menghasilkan (TM) pada umur 30 bulan. Paramater lain yang dapat digunakan dalam menentukan kategori kelapa sawit siap panen adalah dari jumlah pohon yang sudah berbuah matang panen, yaitu jika sudah berada pada angka lebih dari 60%. Pada keadaan ini rata-rata berat tandan telah mencapai 4 kg dan pelepasan brondolan dari tandan akan lebih mudah.

Proses panen dimulai dari pemotongan tandan buah hingga pengangkutan ke pabrik. Urutan kegiatan panen meliputi pemotongan tandan buah matang panen, pengutipan brondolan, pemotongan pelepah, pengangkutan hasil ke TPH (tempat penampungan hasil), dan terakhir pengangkutan hasil menuju pabrik.

Persiapan panen yang akurat akan memperlancar pelaksanaan panen.

Persiapan ini meliputi kebutuhan tenaga kerja, peralatan, pengangkutan,

(32)

tingkat pengetahuan dan ketrampilannya. Kebutuhan tenaga kerja bergantung pada keadaan topografi, kerapatan panen, dan umur tanaman.

Persiapan sarana panen seperti pengerasan jalan, pembuatan titik panen, jalan panen (pikul), dan TPH. Jalan pikul dibuat selang dua barisan tanaman, dengan lebar 1 m, sedangkan TPH dapat dibuat secara bertahap. Pada tahap awal dibuat satu TPH untuk 3 jalan pikul (6 baris tanaman), kemudian 1 TPH untuk setiap 2 jalan pikul (4 baris tanaman) dan selanjutnya 1 TPH untuk setiap 1 jalan pikul (2 baris tanaman). TPH pada umumnya memiliki ukuran 3 m x 2 m.

2.4.1. Kriteria matang panen

Kriteria kematangan dapat dilihat dari perubahan warna. Proses perubahan warna yang terjadi pada tandan yaitu dari hijau berubah kehitaman kemudian berubah menjadi merah mengkilat (jingga). Kriteria matang panen juga dapat dilihat dari jumlah brondolan yang gugur tergantung pada berat tandan, untuk berat tandan >10 kg sebanyak 2 brondolan per kg tandan, dan untuk berat tandan <10 kg sebanyak 1 brondolan per kg tandan. Mutu buah panen ditentukan oleh fraksi matang panen. Fraksi matang panen terdiri dari 7 kelas dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Standar fraksi matang panen tandan buah sawit

Fraksi Persentase jumlah brondolan Derajat kematangan Tidak ada, buah masih hitam sangat mentah

0 Membrondol 1–12,5% mentah

1 Membrondol 12,5–25% kurang matang

2 Membrondol 25–50% matang I

3 Membrondol 50–75% matang II

4 Membrondol 75–100% lewat matang I

5 Buah dalam ikut membrondol lewat matang II

6 Semua buah membrondol tandan kosong

(33)

Fraksi panen ini sangat berpengaruh terhadap rendemen minyak dan kadar asam lemak bebas (ALB). Semakin tinggi fraksi panen (matang) rendemen minyak akan meningkat, sedangkan kadar mutu minyak semakin menurun sebagai akibat naiknya kadar ALB. Tabel 4 menyajikan nilai umum pengaruh fraksi panen terhadap rendemen dan kadar ALB.

Tabel 4. Pengaruh fraksi panen terhadap rendemen dan kadar ALB Fraksi panen Rendemen minyak (%) Kadar ALB (%)

0 16,0 1,6

1 21,4 1,7

2 22,1 1,8

3 22,2 2,1

4 22,2 2,6

5 22,9 3,8

Memanen buah yang terlalu mentah juga dapat merusak rotasi panen dan rendahnya rendemen yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan kandungan minyak pada buah yang belum optimal, di mana berdasarkan Tabel 4, buah mentah menghasilkan rendemen sebesar 16%. Sedangkan memanen buah yang terlalu matang juga berpengaruh buruk pada kualitas minyak kelapa sawit karena mengandung minyak dengan kadar ALB yang tinggi, selain itu memanen buah yang terlalu matang juga sangat berisiko apabila pada situasi dan kondisi tertentu di lapangan menyebabkan TBS harus bermalam di lapangan dan menjadi buah restan. Hal ini meningkatkan peluang meningkatnya kadar ALB dengan lebih cepat dibandingkan TBS dengan fraksi matang I dan matang II.

2.4.2. Rotasi panen

Rotasi panen merupakan selang waktu antara panen yang satu dengan panen berikutnya pada satu ancak panen. Rotasi panen tergantung pada

(34)

umumnya panjang rotasi panen sekitar tujuh hari. Jika rotasi panen semakin panjang, maka kerapatan panen meningkat tetapi kualitas panen cenderung menurun. Rotasi panen juga dipengaruhi oleh iklim yang menimbulkan adanya panen puncak dan panen kecil. Dengan demikian standar rotasi panen tujuh hari dapat berubah disesuaikan dengan keadaan produksi.

2.4.3. Sistem ancak panen

Sistem ancak panen bergantung pada keadaan topografi lahan dan ketersediaan tenaga kerja. Ancak tetap yaitu setiap pemanen diberikan ancak panen yang sama dengan luasan tertentu dan harus selesai pada hari tertentu. Ancak giring yaitu setiap pemanen diberikan ancak per baris tanaman dan digiring bersama-sama.

Kelebihan sistem ancak tetap yaitu setiap pemanen bertanggung jawab terhadap ancak panen dan mudah dikontrol kualitasnya. Sementara pada sistem ancak giring pelaksanaan panen cenderung lebih cepat dan buah cepat sampai di TPH. Kelemahan sistem ancak tetap yaitu buah terlambat sampai di TPH, sedangkan kelemahan pada sistem ancak giring yaitu setiap pemanen selalu mencari buah yang mudah dipanen dan pengontrolan kualitasnya lebih sulit.

2.4.4. Kerapatan panen

Kerapatan panen yaitu jumlah pohon yang dapat dipanen (jumlah tandan matang panen) dari suatu luasan tertentu. Angka kerapatan panen (AKP) digunakan untuk meramalkan produksi, kebutuhan pemanen, kebutuhan truk, dan pengolahan TBS pada esok harinya. Kegunaan perhitungan kerapatan panen adalah untuk meramalkan produksi tanaman, menetapkan angka kerapatan panen (AKP), dan jumlah pemanen.

(35)

2.5. Cara panen

Panen merupakan pemotongan tandan dari pohon hingga pengangkutan ke pabrik. Urutan kegiatan panen adalah pemotongan tandan buah matang panen, pengutipan brondolan, pemotongan pelepah, pengangkutan hasil ke TPH, dan pengangkutan hasil ke pabrik. Sebelum pemotongan tandan, pemanen terlebih dahulu mengamati buah matang panen di pohon pada ancaknya masing-masing. Hal ini dimaksudkan untuk melihat kematangan buah. Tandan buah dipotong tandas dengan menggunakan dodos jika umur tanaman berkisar 3–5 tahun dan menggunakan egrek untuk tanaman dengan umur di atas 8 tahun, seperti terlihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Cara panen TBS menggunakan dodos (kiri) dan egrek (kanan).

Pemotongan pada tangkai tandan sebaiknya membentuk huruf V.

Pelepah yang berada di bawah tangkai buah biasanya dipotong untuk memudahkan proses pemotongan tandan buah. Meskipun demikian, jika jumlah pelepah dari pohon kurang dari standar pelepah yang harus ada, maka pelepah di sekitar tandan tidak perlu dipotong. Namun jika jumlah pelepah lebih dari standar pelepah yang menyangga buah tersebut, maka diperbolehkan untuk dilakukan pemotongan. Tandan buah yang telah dipotong kemudian diangkut ke TPH dan harus disusun secara rapi. Tandan disusun menurut baris yakni 5–10 tandan per baris, dengan tangkai

(36)

menghadap ke atas arah jalan dan tangkai tandan dipotong berbentuk huruf V. Tandan sebaiknya terhindar dari pelukaan pada saat pemotongan.

Brondolan yang ada di piringan pohon dan ketiak pelepah dikutip dan diangkut ke TPH dengan menggunakan karung bekas pupuk. Brondolan ditumpuk di sebelah tumpukan tandan dan diberi alas. Tandan dan brondolan harus bebas dari pasir, sampah, tangkai tandan, dan kotoran lainnya. Tandan kosong harus ditinggalkan di lapangan (gawangan mati), dan tidak boleh terangkut ke pabrik.

2.6. Pengangkutan TBS

Pada dasarnya proses pengangkutan dilakukan dengan memindahkan TBS dari lahan ke TPH untuk diperiksa dan dilakukan pemilahan (Gambar 5).

Selanjutnya TBS kembali diangkut menuju ke PKS untuk dilakukan proses ekstraksi minyak sawit kasar (CPO). Alat transportasi yang biasa digunakan untuk mengangkut TBS tersebut berupa truk.

Gambar 5. Pemilahan buah sawit di tempat penampungan hasil.

Pengangkutan buah sawit dari TPH menuju pabrik harus dilakukan dengan segera untuk mencegah naiknya kadar asam lemak bebas (ALB).

Secara umum persentase ALB sesaat setelah tandan buah dipotong berkisar

(37)

1,0% untuk setiap 24 jamnya. Tandan buah segar yang dipanen harus diangkut dan sampai ke pabrik kelapa sawit pada hari itu juga.

Pengangkutan pada malam hari akan menyulitkan proses sortasi buah di loading ramp. Buah restan atau buah yang tertinggal di kebun harus semaksimal mungkin dihilangkan. Buah restan mengakibatkan kenaikan asam lemak bebas (ALB) minyak sawit yang dihasilkan. Selain itu, buah restan juga menimbulkan kerawanan terhadap pencurian TBS.

Pengangkutan buah dapat dilakukan dengan kendaraan sendiri atau pemborong. Kebutuhan kendaraan angkut buah setiap hari dihitung berdasarkan estimasi produksi yang sudah diketahui pada sore hari (sehari sebelum panen) dan realisasi pengangkutan pada hari sebelumnya.

Fluktuasi produksi harian biasanya tidak jauh berbeda. Pengangkutan tandan buah menggunakan truk didahului dengan proses pemuatan (loading) baik secara manual (Gambar 6) ataupun secara mekanis menggunakan truk yang dilengkapi alat pengangkat (crane).

Gambar 6. Proses memuat (loading) tandan buah ke atas bak truk.

2.7. Rangkuman

1. Kegiatan panen pertama dapat dilakukan apabila jumlah pokok yang siap dipanen telah mencapai 60% dari total populasi yang ada.

(38)

2. Persiapan panen meliputi persiapan tenaga kerja dan persiapan sarana dan prasarana panen termasuk jalan panen, titian panen TPH, serta ancak panen.

3. Kriteria matang panen dapat dilihat dari jumlah brondolan yang jatuh serta melalui perubahan warna kulit buah.

4. Rotasi panen tergantung pada kerapatan panen (produksi), kapasitas panen, dan keadaan pabrik, namun pada umumnya adalah tujuh hari.

5. Kerapatan panen merupakan jumlah pohon yang dapat dipanen (jumlah tandan matang panen) dari suatu luasan tertentu.

6. TBS yang sudah dipanen segera diangkut ke pabrik agar segera diolah menjadi CPO guna mencegah meningkatnya kadar asam lemak bebas (ALB).

2.8. Latihan

1. Jelaskan bagaimana cara menentukan kriteria buah yang siap dipanen!

2. Jelaskan fraksi-fraksi kematangan buah yang dianjurkan untuk dipanen!

3. Jelaskan akibat yang dapat terjadi jika buah terlambat dipanen!

4. Jelaskan metode pemanenan TBS yang tepat!

5. Jelaskan alasan mengapa buah tidak diperbolehkan menginap di lahan lebih dari 24 jam?

2.9. Bahan Bacaan Pendukung

Allorerung, D., Syakir, M., Poeloengan, Z., Syafaruddin, dan Rumini, W., 2010. Budidaya Kelapa Sawit. Aska Media, Bogor.

Kiswanto., Purwanta, J. H., Wijayanto, B., 2008. Teknologi Budidaya Kelapa Sawit. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor.

Kurniawan, A., Amalia, R., dan Nasution, Z. P. S., 2017. Tekno Ekonomi Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.

Lubis, A. U., 2008. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Indonesia Edisi ke 2. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan

(39)

Mangoensoekarjo, S. dan Semangun, H., 2005. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Pahan, I., 2012. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya, Jakarta.

Rofiq, R., Sayuti, J., Solikin., Tanjung, A. J., dan Sahadi, 2014. Buku Panduan:

Petani Mandiri Menuju Sertifikasi Minyak Sawit Berkelanjutan.

Yayasan Setara, Jambi.

Sulistyo, B., 2010. Budi Daya Kelapa Sawit. Balai Pustaka, Jakarta.

Sunarko, 2009. Budi Daya dan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit Dengan Sistem Kemitraan. Agromedia Pustaka, Jakarta.

(40)

3. EKSTRAKSI MINYAK SAWIT

3.1. Deskripsi Singkat

Pada bab tiga ini mulai dibahas mengenai proses ekstraksi minyak sawit pada pabrik kelapa sawit (PKS). Pabrik kelapa sawit dalam konteks industri kelapa sawit di Indonesia dipahami sebagai unit ekstraksi atau produksi minyak sawit kasar (crude palm oil) dan juga inti sawit dari tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Bab ini secara khusus membahas tahap awal dari proses ekstraksi minyak sawit yang terdiri dari enam proses, yaitu sortasi atau pemilahan TBS, perebusan TBS, perontokkan buah, pencacahan buah, pengepresan buah, dan pembersihan minyak fase awal. Sementara tahapan lanjutannya yaitu klarifikasi dibahas pada bab selanjutnya. Output dari ekstraksi tahap awal ini adalah minyak sawit kasar yang masih memiliki viskositas tinggi dikarenakan masih tingginya konsentrasi bahan non minyak yang perlu dipisahkan pada tahap klarifikasi atau pemurnian selanjutnya.

Proses ekstraksi ini memanfaatkan kombinasi perlakuan mekanis, fisik, dan kimia. Beberapa hal tersebut dibahas pada bab ini.

3.2. Relevansi

Ekstraksi merupakan inti dari proses pengolahan buah sawit yang menjadi tahap penting pada industri pengolahan minyak sawit. Pemahaman pada bab ini menjadi mutlak bagi mahasiswa yang berkompetensi pada bidang industri pengolahan kelapa sawit. Dengan demikian, uraian mengenai teknologi proses ekstraksi minyak sawit menjadi sangat penting untuk disajikan.

(41)

3.3. Kompetensi

Setelah menyelesaikan bab ini, mahasiswa akan memiliki kemampuan untuk:

1. Menjelaskan secara lengkap alur proses produksi minyak sawit kasar (CPO) mulai dari penerimaan buah sampai penyimpanan produknya.

2. Menjelaskan secara rinci mekanisme dan fungsi dari tahap penimbangan dan sortasi tandan buah segar (TBS).

3. Menjelaskan secara detail teknik perebusan TBS dan tujuannya.

4. Menjelaskan prinsip kerja proses perontokkan buah dari tandannya dan mesin yang digunakan.

5. Menjelaskan secara lengkap mekanisme proses pencacahan dan pengepresan buah sawit dalam menghasilkan minyak sawit kasar.

3.4. Gambaran Umum Proses Ekstraksi Minyak Sawit (CPO)

Sebelum penjelasan lebih rinci dari tahapan awal proses ekstraksi minyak sawit, pada bagian ini diberikan gambaran umum proses ekstraksi minyak sawit kasar (CPO). Alur proses pengolahan tandan buah sawit menjadi CPO disajikan pada Gambar 7. Proses ini dimulai dari penerimaan TBS sampai penyimpanan dan pengiriman CPO. Di antara tahapan tersebut buah sawit akan mengalami proses perebusan (sterilisasi), perontokkan, pencacahan, pengepresan, dan proses klarifikasi. Selain itu juga ada proses pembersihan dan pengeringan inti sawit (kernel), yang mana pengolahan kernelnya akan dilakukan pada pabrik lain.

Selain CPO sebagai produk utama, proses ekstraksi minyak sawit juga menghasilkan beberapa material lain sebagai produk samping, seperti tankos (tandan kosong), cangkang atau tempurung, serat, sludge, dan juga inti sawit (kernel). Hampir seluruh material tersebut dapat dimanfaatkan untuk fungsi lainnya seperti sebagai pupuk dan bahan bakar.

(42)

Gambar 7. Alur proses produksi CPO.

3.5. Penerimaan Buah Sawit

Di pabrik kelapa sawit, buah sawit akan memulai perlakuan tahap pertama pada stasiun penerimaan TBS. Setelah proses penerimaan, selanjutnya buah akan menjalani proses-proses lanjutan yang pada akhirnya akan dihasilkan minyak sawit kasar (crude palm oil). Pada stasiun penerimaan TBS ini, dilakukan proses penerimaan, penampungan sementara, dan sortasi. Stasiun penerimaan TBS secara umum terbagi menjadi dua area utama yaitu area jembatan timbang dan area sortasi.

3.5.1.Penimbangan

Buah-buah sawit yang sudah dipanen diangkut menggunakan mobil truk kemudian dibawa menuju pabrik untuk diterima di stasiun penerimaan buah yang kemudian ditimbang di jembatan timbang (weight bridge) dan ditampung di penampungan sementara pada area loading ramp. Jembatan timbang menjadi alat untuk mengetahui tonase TBS yang diterima pabrik.

(43)

Tonase atau berat tandan buah harus selalu diketahui dan dicatat untuk berbagai keperluan baik dari sisi administratif maupun teknis. Dari sisi teknis, berat buah penting diketahui dalam rangka analisis rendemen dan aspek produktivitas lainnya. Sementara dari sisi administratif, tonase diperlukan untuk transaksi pembelian buah dari petani atau juga evaluasi kinerja di sektor hulu atau kebun.

Prinsip kerja dari jembatan timbang yaitu mobil angkut truk yang melewati jembatan timbang berhenti ± 5 menit, kemudian dicatat berat truk awal sebelum tandan buah segar (TBS) dibongkar dan disortir.

Kemudian setelah dibongkar truk kembali ditimbang. Selisih berat awal dan akhir adalah berat TBS yang diterima di pabrik. Wujud fisik jembatan timbang dapat dilihat pada Gambar 8 berikut ini.

Gambar 8. Jembatan timbang di sebuah pabrik kelapa sawit.

3.5.2. Sortasi

Sortasi atau grading adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk mengetahui mutu dan memilah TBS yang masuk ke pabrik pengolahan untuk diproses menjadi CPO. Pada tahap ini buah yang datang dari kebun,

(44)

baik itu kebun inti, plasma, maupun kebun masyarakat dilakukan pemeriksaan untuk beberapa tujuan, antara lain:

1. Mengetahui mutu atau kualitas dari TBS yang diterima pihak pabrik.

2. Sebagai laporan kepada pihak kebun (estate) atas mutu TBS yang diterima. Ini sekaligus sebagai bahan evaluasi bagi pihak kebun.

3. Sebagai acuan atau dasar dalam perhitungan pembayaran yang harus ditanggung pabrik kepada pihak ketiga (penyuplai buah).

4. Sebagai parameter dalam menganalisis mutu hasil produksi oleh pabrik.

Gambar 9. Areal loading ramp dan proses sortasi yang dilakukan.

(45)

Kegiatan sortasi ini dilakukan di area loading ramp (Gambar 9). Sortasi dapat dilakukan dengan dua metode yaitu pemeriksaan secara acak atau pemeriksaan secara total. Pemeriksaan acak dilakukan dengan pemeriksaan terhadap minimal 5% dari jumlah truk yang datang dari suatu kebun (afdeling). Sementara pemeriksaan total dilakukan terhadap seluruh truk yang masuk. Pemeriksaan dilakukan dengan membongkar TBS dari truk di lantai loading ramp. Ada 10 kriteria mutu TBS yang dapat diterima oleh pabrik (Tabel 5).

Tabel 5. Kriteria mutu TBS yang dapat diterima.

No Kriteria TBS Standar

1 Buah sangat muda (hard & black)

Tandan buah tidak ada fraksi yang membrondol dan buah berwarna hitam

0%

2 Buah muda (under ripe)

Tandan buah lapisan luar telah lepas brondolan < 10 brondolan dalam satu tandan

< 5%

3 Buah matang

(ripe) Tandan buah lapisan luar telah lepas brondolan >10 brondolan per tandan atau 25–75% lapisan luar telah membrondol dan berwarna merah mengkilat

≥ 90%

4 Buah lewat matang

(over ripe) Tandan buah lapisan luar telah lepas brondolan >75% dan sebagian brondolan bagian dalam juga telah lepas

≤ 5%

5 Tangkai panjang (long stalk)

Tangkai/gagang TBS yang panjangnya lebih dari 2,5 cm diukur dari pangkal tandan dan potongan tangkai huruf V

0%

6 Brondolan Brondolan diterima pabrik bersama TBS dengan jumlah brondolan minimal 12,5% dari berat TBS keseluruhan

≥ 12,5%

7 Buah/brondolan busuk

(rotten loose fruit)

Sebagian janjangan atau seluruhnya telah lembek atau menghitam warnanya, busuk, atau berjamur.

0%

8 Sampah/kotoran

(trash loose fruit) Tanah, pasir, batu, sampah lainnya yang

terikut bercampur brondolan/TBS ≤ 2%

9 Tandan kosong Tandan yang jumlah brondolan lapisan

dalam lebih dari 90% telah lepas 0%

10 Buah pasir Buah pasir yang diterima pabrik

beratnya minimal 3 Kg per tandan ≥ 3 Kg /tandan

(46)

3.6. Perebusan Buah

Tahap selanjutnya setelah TBS selesai disortasi adalah proses perebusan atau sterilisasi (sterilization). Perebusan TBS memiliki beberapa tujuan yaitu untuk menghentikan aktivitas enzim (lipase), memudahkan pelepasan buah dari tandan atau janjangan, melunakkan daging buah, dan untuk mengurangi kadar air dalam buah.

Enzim lipase yang secara alamiah terdapat pada buah sawit bekerja untuk memecah molekul-molekul lipid (trigliserida) menjadi molekul- molekul yang lebih sederhana yaitu asam lemak bebas (ALB) atau free fatty acid (FFA) yang akan dioksidasi dalam rangka menghasilkan energi untuk mempertahankan siklus hidup dari buah. Pada proses produksi CPO, keberadaan enzim ini tentu saja akan menurunkan kandungan dari trigliserida. Untuk itu aktivitas dari enzim ini perlu dihentikan dengan cara pemanasan. Enzim pada umumnya tidak aktif pada suhu di atas 50°C.

Perebusan TBS sendiri dilakukan pada suhu 120°C. Aktivitas enzim juga dapat meningkat jika buah terluka. Dengan demikian menjadi sangat penting untuk menjaga buah tidak terluka atau utuh.

Perebusan juga bermanfaat untuk mempermudah proses pelepasan buah atau brondolan dari tandannya. Pemanasan akan merusak seluruh sel- sel dan jaringan-jaringan dari TBS, termasuk bagian pangkal buah yang menempel pada tandan. Hal ini menyebabkan buah akan mudah lepas.

Selain itu juga akan melunakkan bagian daging buah sehingga mempermudah proses pemecahan sel-sel minyak dan mempermudah mengeluarkannya.

Tujuan lain perebusan adalah mengurangi kadar air pada buah.

Dengan perebusan, karakter dari bagian daging buah akan berubah dengan kadar air semakin menurun. Semakin rendah kadar air pada daging buah

(47)

akan memberikan dampak positif dalam mempermudah proses ekstraksi dan pemisahan minyak dari komponen-komponen non lemak (non-oil solid) yang tercampur di dalamnya. Dengan perebusan kadar air pada inti sawit juga berkurang. Hal ini menyebabkan daya lekat inti dengan cangkang atau tempurungnya semakin berkurang, sehingga nantinya akan mempermudah proses pemisahan cangkang.

Untuk mencapai tujuan dari perebusan seperti yang dijelaskan di atas, maka pada dasarnya perebusan dapat dilakukan pada temperatur dan tekanan yang tinggi sehingga akan mempercepat waktu proses. Namun demikian, temperatur dan tekanan yang terlalu tinggi dapat berakibat buruk pada mutu minyak yang dihasilkan. Dari berbagai pengujian, diperoleh kondisi perebusan terbaik dan optimal dengan tekanan uap sebesar 2,8 kg/cm2 dalam waktu 80–90 menit. Kondisi ini mampu menghasilkan minyak dengan mutu yang baik. Perebusan dilakukan pada unit sterilizer yang berupa bejana uap bertekanan tinggi (Gambar 10).

Gambar 10. Proses perebusan buah pada sterilizer.

Pola perebusan yang umum dilakukan adalah dengan metode dua puncak (double peak) dan tiga puncak (triple peak). Perebusan dengan

Gambar

Gambar 2. Perbedaan proporsi bagian buah dari tiga jenis kelapa sawit.
Gambar 3. Peta desain pertanaman kelapa sawit pola segitiga sama sisi.
Gambar 4. Cara panen TBS menggunakan dodos (kiri) dan egrek (kanan).
Gambar 5. Pemilahan buah sawit di tempat penampungan hasil.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sehubungan dengan berakhirnya masa berlaku Harga Patokan Ekspor (HPE) Kelapa Sawit, Minyak Kelapa Sawit dan Produk Turunannya dan menyusul surat kami Nomor 262/DJPLN/VI/2002 tanggal

Sehubungan dengan telah ditetapkannya Pajak Ekspor yang baru untuk Kelapa Sawit, Minyak Kelapa Sawit dan Produk Turunannya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan yang

Sehubungan dengan berakhirnya masa berlaku Harga Patokan Ekspor (HPE) Kelapa Sawit, Minyak Kelapa Sawit dan Produk Turunannya dan menyusuli surat kami nomor 182/DJ-PLN/IX/2000 tgl..

Sehubungan dengan berakhirnya masa berlaku Harga Patokan Ekspor (HPE) Kelapa Sawit, Minyak Kelapa Sawit dan Produk Turunannya dan menyusuli surat kami Nomor 138/DJ- PLN/VII/2000

Taksonomi dari kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq. Kelapa sawit berkembang biak dengan biji dan akan berkecambah untuk selanjutnya tumbuh menjadi tanaman. Susunan buah kelapa

Rencana Aksi Nasional (RAN) Kelapa Sawit Berkelanjutan Forum Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FoKSBI). Bagian

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Dalam penelitian ini penulis melihat dampak perusahaan kelapa sawit dalam dua aspek,pertama aspek sosial dan kedua aspek

Mampu menggabungkan strategi, rencana, pengaturan, tujuan, dan prioritas kerja Aspek Keterampilan Khusus Guna terpenuhinya capaian mata kuliah Pengetahuan Bahan Agroindustri maka perlu