BUNGA YANG TIDAK SEPENUH NYA BUSUK
ABSTRAK
Hari itu, Bibim duduk di depan kantor kepala sekolah. Aku bisa melihat raut wajahnya yang bingung sekaligus sedih. Bibim baru saja mendapat masalah hingga melibatkan orang tuanya.
Aku paham betul, pasti Bibim merasa sangat malu saat itu. Apalagi orang tuanya terkenal sangat baik di lingkungan kami.
orientasi
Bibim selalu saja baik membagikan makanan yang dimilikinya, membantu keluar dari masalah, terkadang Ia juga memukul anak-anak lain di sekolah karena mereka
mengganggu.
Meskipun aku sering memarahinya agar berhenti memukul, namun Ia masih saja sulit berhenti.
Aku juga berusaha memahami bahwa kenakalan Bibim berasal dari keadaan di rumahnya.
Aku sering mengetahui ayah Bibim suka memukuli istri dan anaknya meskipun selalu tampak baik-baik saja di luar.
Hari itu ketika Bibim dipanggil bersama orang tuanya ke kantor kepala sekolah, aku bisa melihat ayah Bibim sangat marah namun berusaha menahannya.
Bibim dipanggil ke ruang kepala sekolah karena memukuli anak lain sampai masuk ke rumah sakit. Tentu saja ini bukan masalah kecil.
KOMPLIKASI
Aku sudah sangat yakin Bibim akan mendapat masalah malam ini. Kebetulan saja rumahku terletak di sebelah rumahnya sehingga mudah untuk mendengar apa yang
sedang terjadi.
Saat hari menjelang malam, aku mendengar suara piring pecah berkali-kali dari rumah sebelah. Aku berasumsi ayahnya sedang marah-marah.
Kemudian Bibim keluar dari rumahnya sambil marah-marah. Ia berteriak membenci ayahnya.
“Aku mau pergi! Ayah harus berhenti memukuli ibu! Jika tidak aku akan kembali untuk membunuhmu” Tegasnya.
Kemudian, Bibim berlari jauh dari rumah. Aku berusaha berlari mengikutinya, tapi Ia meminta waktu untuk sendirian
Akhirnya aku kembali ke rumah, aku melihat ayah Bibim Nampak stress karena masalah ini. Ia duduk di teras rumah dengan pandangan kosong. Aku menghampirinya
“Om nggak papa?”
“Om sudah berbuat apa sampai dia seperti itu. Om bingung. Kamu kan temannya, dia bilang apa sama kamu?” tanya Ayah Bibim.
EVALUASI
Aku kemudian ikut duduk di teras rumah itu, aku juga mendengar suara ibu Bibim menangis terisak di dalam.
“Mungkin ini karena Bibim selalu melihat kekerasan sejak kecil om. Menurutku dia marah dan melampiaskannya pada teman-teman. Aku pikir Om harus minta maaf sama
anak om itu dan berjanji tidak mengulangi kekerasan di rumah lagi” jawabku.
“Om memang mudah marah. Tapi tidak tahu kalau perbuatan om bisa mempengaruhi Bibim” ujar ayah Bibim. Air matanya mengalir, kemudian tangannya menghapus air
mata itu.
“Om belum pernah minta maaf sama dia tentang masalah ini. Sekarang dia sudah lari dari rumah, jadi semakin susah saja”
Aku mengelus punggung ayah Bibim. Memang Bibim terlihat sangat marah saat itu.
Aku bahkan tidak yakin jika Ia akan pulang ke rumah.
Ternyata benar saja, sejak hari itu sudah terhitung 2 tahun aku tidak pernah melihat Bibim.
RESOLUSI
tahun bukan waktu yang sebentar. Aku juga sudah lulus SMA tanpa mengetahui kabar dari sahabat karibku tersebut.
Sampai suatu hari, teleponku berdering karena nomor yang tidak dikenal. Aku mengangkatnya dan terkejut dengan suara di telepon tersebut.
“Bibim?” tanyaku.
“Halo Bro, kabarmu baik kan?” tanyanya.
Aku langsung menceritakan banyak hal dan memarahinya karena membuat semua orang khawatir. Bibim meminta maaf dan menyampaikan kabar bahwa kini Ia berkarir
sebagai petinju.
Ia menyuruhku datang untuk menonton pertandingannya, namun Ia melarangku memberitahu orang tuanya.
Namun aku merasa ini bukan hal benar. Akhirnya aku memberitahu ayah dan ibu Bibim.
Tentu saja keduanya sangat bahagia, apalagi setelah mencari nama Bibim di internet banyak orang yang memberi ulasan tentang performa keren Bibim di atas gelanggang.
Aku mengajak ayah dan ibu Bibim untuk menonton pertandingan itu. Mereka berdua ikut dan melihat anaknya berdiri gagah di atas gelanggang.
Aku tahu Ia pasti kesal, namun aku ingin membuka kesempatan agar orang tuanya bisa meminta maaf.
Bibim bertanding dengan keren. Ia langsung menang hanya dalam waktu singkat saja.
Ketika Ia turun dari gelanggang, ayah Bibim langsung menghampiri dan memeluk Bibim.