Siswa juga akan memahami pentingnya latihan (riyadh), disiplin (tahżīb), dan upaya sungguh-sungguh mengendalikan diri (mujahad). Siswa juga memahami pengertian toleransi dalam tradisi Islam berdasarkan ayat Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Siswa juga memahami pengertian toleransi dalam tradisi Islam berdasarkan ayat Al-Qur’an dan Hadist Nabi.
Al-Qur'an dan Hadits Siswa mampu menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits tentang perintah berkompetisi dalam kebaikan dan etos kerja.
CAPAIAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN BUDI PEKERTI
Pada Unsur Kemanusiaan dan Nilai-Nilai Kristiani, siswa belajar tentang hakikat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang terbatas. Siswa memahami pentingnya kehadiran gereja bagi umat Kristiani dan dunia serta mengkritik berbagai bentuk pelayanan gereja. Tahap A (Umum Kelas I dan II SD/Program Paket A) Siswa memahami kasih Tuhan melalui keberadaannya sendiri.
Tahap C (Umum untuk kelas IV dan V SD/program Paket A) Siswa mengenal kemahakuasaan Tuhan yang hadir dalam kehidupannya melalui berbagai peristiwa.
CAPAIAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI
Pelajar diperkenalkan kepada tokoh iman dalam Perjanjian Lama (Nuh, Abraham, Ishak dan Yakub). Pelajar dapat mengenali diri mereka sebagai individu yang berkembang dan berkembang serta mampu melakukannya dengan baik. Pelajar memahami kisah-kisah suci dalam Perjanjian Lama (Sepuluh Perintah Tuhan sebagai panduan hidup, Bangsa Israel memasuki tanah yang dijanjikan, Tuhan memberkati para pemimpin Israel: Samuel, Saul dan Daud); dan Perjanjian Baru (kisah Yesus mengisytiharkan Kerajaan Tuhan melalui perumpamaan dan mukjizatnya).
Pelajar Gereja mengenal sakramen-sakramen yang ada di Gereja (sakramen baptisan, sakramen Ekaristi dan sakramen tobat). Mahasiswa komunitas memahami keimanan mereka terhadap masyarakat melalui kebiasaan menghormati tokoh masyarakat, menghormati tradisi masyarakat, dan menjaga kelestarian lingkungan alam. Siswa mampu memahami dirinya sebagai perempuan atau laki-laki sebagai gambaran Tuhan, yang setara dan saling melengkapi.
Siswa Yesus Kristus mengenal dan memahami pribadi Yesus yang penyayang dan pemaaf sehingga dapat membangun hubungan dengan-Nya. Pada akhirnya, siswa dapat mewujudkan dirinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai murid Yesus dan anggota Gereja. Siswa mampu memahami dirinya sebagai individu yang unik, setara antara laki-laki dan perempuan, serta memiliki keinginan untuk menjadi gambaran Tuhan;
Pada akhirnya siswa mampu meneladani Yesus sebagai berhala, sahabat sejati, Anak Allah dan Juru Selamat serta membangun kehidupan sesuai pribadi Yesus Kristus sebagai perwujudan imannya dalam masyarakat. Mahasiswa Gereja mampu memahami makna dan makna Gereja, hakikat Gereja (Satu, Kudus, Katolik, Apostolik), peran hierarki dan awam dalam Gereja, karya pastoral Gereja (Liturgi, Kerygma ) untuk memahami, Kemartiran, Koinonia, Diakonia).
CAPAIAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI
Selain itu, siswa dapat meneladani nilai-nilai tokoh Hindu yang relevan dengan kehidupan masyarakat lokal, nasional, dan internasional. Siswa Sraddha dan Bhakti diperkenalkan dengan aspek Iman dan Ketuhanan. Siswa dapat mengenal karya Hyang Widhi Wasa. Pada akhir Tahap B, siswa mampu memahami nilai-nilai dalam kitab Ramayana dan Purana, memahami kearifan lokal.
Siswa Sraddha dan Bhakti mampu menunjukkan kemahakuasaan Hyang Widhi Wasa sebagai pencipta alam semesta dalam aspek trimurti dan caduśakti. Para santri kemudian memahami pelajaran guru tentang catur dan catur pesantren sebagai aspek moral dalam kehidupan. Peristiwa Siswa dapat menganalisis dan mengidentifikasi bentuk-bentuk kearifan lokal dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya nasional dan nasional.
Siswa dapat menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran positif dalam kehidupan masa kini dan berusaha melestarikan warisan sejarah dan budaya umat Hindu di Indonesia. Siswa Sraddha dan Bhakti dapat menerapkan prinsip-prinsip ajaran Punarbhawa sebagai salah satu aspek untuk meningkatkan kualitas diri. Acara Siswa dapat menganalisis, mengidentifikasi dan menciptakan yajna-yajna kreatif dalam bentuk Ramayana dan kearifan lokal dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya bangsa dan bangsa.
Siswa dapat menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran positif dalam kehidupan modern dan berupaya melestarikan warisan sejarah dan budaya Hindu di Asia. Siswa dapat menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran positif dalam kehidupan saat ini dan berupaya melestarikan warisan sejarah dan budaya Hindu di dunia.
CAPAIAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DAN BUDI PEKERTI
Pendidikan Agama Budha dan Karakter ditujukan untuk membentuk peserta didik yang berakhlak mulia dan berwawasan keberagaman global berdasarkan nilai-nilai agama Buddha dan nilai-nilai Pancasila yang dipadukan dalam ajaran moralitas, semedi dan kebijaksanaan. Nilai-nilai agama Buddha menjadi landasan bagi siswa untuk memiliki empat pengembangan, sehingga menjadi siswa yang berakhlak mulia dan berkeberagaman global. Ritual Unsur ritual merupakan salah satu cara untuk menginternalisasikan pengetahuan tentang keberagaman dan nilai-nilai ritual berbagai aliran atau tradisi dalam agama Budha, serta keberagaman agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia.
Pengetahuan tentang keberagaman dan nilai-nilai ritual dalam agama Budha secara holistik menjadi dasar penerapan nilai-nilai dasar negara Pancasila, sebagai cara untuk memperkokoh keyakinan, mengembangkan kemampuan keagamaan dan terbentuknya kesadaran spiritual, moral, kedisiplinan dan sikap keagamaan peserta didik. Ritual Pada akhir tahap A, siswa menerima keberagaman identitas dan simbol agama Buddha serta agama dan kepercayaan lain di lingkungan rumah dan sekolahnya; Sejarah Pada akhir tahap C, siswa merangkum informasi dan menelusuri ciri-ciri tokoh pendiri bangsa dalam membela NKRI dengan bersikap arif dan terbuka terhadap keberagaman budaya di lingkungan sosialnya, serta mengenali peran budaya dan bahasa dalam kehidupan. Agama Budha dan bangsa sebagai pembentuk identitas diri dalam masyarakat;.
Ritual Pada akhir Tahap D, siswa merencanakan dan mengapresiasi makna dan tata cara hidup dalam kesadaran (meditasi) dan budaya hormat (puja), serta budaya merayakan hari raya di berbagai sekte atau tradisi agama Budha; menghormati keberagaman hari besar agama Buddha maupun hari raya agama dan kepercayaan lain dengan mengikuti berbagai kegiatan. Siswa mendeskripsikan peranan nilai-nilai Hukum Kebenaran sebagai cara berpikir dalam menafsirkan fenomena kehidupan dan permasalahan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan agama Budha; dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mengamalkan nilai-nilai agama Buddha (moralitas, meditasi dan kebijaksanaan) dan nilai-nilai dasar negara Pancasila; sebagai wujud manusia yang beragama, berbangsa dan bernegara. Etika Pada akhir Tahap E, siswa mendeskripsikan peran nilai-nilai Hukum Kebenaran sebagai cara berpikir dalam menafsirkan fenomena kehidupan dan permasalahan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta agama Buddha; dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mengamalkan nilai-nilai agama Buddha (moralitas, meditasi dan kebijaksanaan) dan nilai-nilai dasar negara Pancasila; sebagai wujud manusia yang beragama, berbangsa dan bernegara.
Siswa mendeskripsikan pentingnya nilai-nilai Hukum Kebenaran sebagai cara berpikir dalam menafsirkan fenomena kehidupan dan permasalahan yang berkaitan dengan seni budaya dan agama Budha; dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya selaras dengan nilai-nilai agama Buddha (moralitas, meditasi dan kebijaksanaan) dan nilai-nilai dasar Pancasila negara sebagai wujud manusia yang beragama, berbangsa dan bernegara. Etika Pada akhir tahap F, siswa mendeskripsikan pentingnya nilai-nilai hukum kebenaran sebagai cara berpikir dalam menafsirkan fenomena kehidupan dan permasalahan yang berkaitan dengan seni budaya dan agama Budha; dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya sesuai dengan nilai-nilai agama Buddha (moralitas, meditasi dan kebijaksanaan) dan nilai-nilai dasar Pancasila negara sebagai wujud manusia yang beragama, berbangsa dan bernegara.
CAPAIAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KHONGHUCU DAN BUDI PEKERTI
Di bahagian Sejarah Suci, pelajar menceritakan sejarah dan keluarga Nabi Kongzi, menceritakan contoh Nabi Kongzi semasa kecil (bersungguh-sungguh belajar, menghormati Tian). Di bahagian Kitab Suci, pelajar mengetahui ayat-ayat suci dari kitab Bakti, Sishu dan Wujing yang berkaitan dengan kisah anak-anak yang solehah dan mengetahui ayat-ayat suci dari kitab Sishu dan Wujing yang berkaitan dengan teladan Rasulullah. Kongzi dan semangat belajar. Dalam unsur Ritual Ibadah, murid menjelaskan postur berdoa (Ba De posture), serta pengertian berdoa dan berdoa, disebutkan berdoa dan berdoa kepada Tuhan, dan Nabi Kongzi, yang mengamalkan doa mudah dan berdoa kepada Tian, Nabi Kongzi dan nenek moyang, yang mengetahui fungsi dan memanggil semua jenis kemenyan (xiang), peralatan sembahyang di altar leluhur, dan mengamalkan penghormatan dengan Bai (berganding bahu), Ju Gong (membungkuk), Gui (menghormati dengan berlutut) mengikut tahap dan keperluan.
Sejarah Suci Pelajar menceritakan sejarah dan keluarga Nabi Kongzi, menceritakan contoh Nabi Kongzi semasa kecil (bersungguh-sungguh belajar, menghormati Tian). Mengenai unsur-unsur Kitab Suci, murid-murid menyebut kenikmatan yang mendatangkan manfaat dan tiga kenikmatan yang membawa mudarat dalam kitab Sishu dan Wujing, bahagian kitab yang menjadi pokok (Sishu) dan yang mendasari (Wujing). , dan pilih salah satu ayat dalam buku Sishu yang berkaitan dengan Ba De. Dan dalam unsur tingkah laku Junzi, pelajar mencontohi akhlak nabi Kongzi, akhlak mulia.
Pada unsur Alkitab, siswa merujuk pada ayat-ayat suci dalam kitab Sishu yang berhubungan dengan Tian Zi Mu Duo, temukan ayat-ayat yang ada di dalam kitab tersebut. Pada Elemen Alkitab, siswa mengenal tahap-tahap perkembangan kitab suci agama Konghucu dan mengenal bagian-bagian kitab Wujing. Pada unsur Tata Ibadah, siswa menganalisis hakikat dan makna ibadah serta menggunakan doa untuk Tian.
Kitab Suci Pelajar mengenal pasti peringkat perkembangan kitab suci agama Khonghucu dan mengenal pasti bahagian kitab Wujing. Dalam elemen Sejarah Suci, pelajar menerangkan nabi Kongzi sebagai Tian Zhi Mu Duo, mengamalkan prinsip moral yang diajar oleh Mengzi, kad tersebut dengan lebih jelas. Dalam Elemen Kitab Suci, pelajar memilih semua ayat yang terdapat dalam buku Sishu yang berkaitan dengan Lima Kebajikan, memilih semua ayat yang terdapat dalam buku Wujing yang berkaitan dengan Lima Hubungan Sosial, mengamalkan kitab suci utama (Sishu ) dan kitab asas (Wujing). ) ), menganalisis semua ayat suci yang terdapat dalam buku Sishu yang berkaitan dengan cita-cita nabi Kongzi dan Persatuan Besar Kebersamaan (Da Tong).
Pelajar Kitab Suci memilih semua ayat yang terdapat dalam buku Sishu berkaitan dengan Lima Kebajikan, memilih semua ayat yang terdapat dalam buku Wujing yang berkaitan dengan Lima Hubungan Sosial, mengamalkan kitab suci utama (Sishu) dan kitab suci yang mendasari (Wujing), menganalisis semua ayat-ayat suci yang terdapat dalam kitab Sishu berkaitan dengan cita-cita Nabi Kongzi dan Persatuan Kebersamaan Agung (Da Tong).