Caping Goenawan Mohammad Dan
Kritik Terhadapnya; Coen Husain Pontoh
Proletariat
Senin, 03 Mei 2010— Hari Buruh, 2010
PADA suatu hari di tahun 2010, seorang perempuan dari Utara membayar lebih dari satu juta dolar untuk membeli beberapa ekor anjing.
Dan kita tercengang: Cina bukan lagi Mao. Saya tak tahu masih adakah orang di sana yang ingat Mao Zedong yang pernah berbicara berapi-api tentang ”proletariat”, ”proletariat gelandangan”, dan ”semi- proletariat”, kelompok miskin yang akan membebaskan Cina dari ”keadaan setengah feodal dan setengah kolonial”.
Tampaknya kini yang membebaskan—atau yang menjerat?—adalah uang dan hasrat, dan dengan itu banyak batas diterobos. Perempuan dari Utara itu, seperti ditulis China Daily, pada hari itu mengirimkan 30 mobil Mercedes-Benz ke bandara untuk menjemput hewan yang dipesannya.
Ia pasti salah seorang dari 835.000 orang miliarwan yang ada di Republik Rakyat yang berpenduduk sekitar 1.330.000.000 ini. Ia pasti bagian dari 0,06 persen warga yang hidup berkelimpahan dan tak merasa berdosa atau rikuh di negeri yang setengah abad yang lalu diguncang ”Revolusi Kebudayaan Proletar” itu.
Setengah abad yang lalu itu para pengikut Mao yang militan bahkan siap membunuh seekor babi yang dimiliki tetangga dengan granat; babi itu tanda kelas ”borjuis”. Pada awal abad ke-21 sekarang orang berduit membayar dengan harga mahal anjing jenis Mastiff Tibet.
Walhasil, kita tak pernah paham benar bahwa Cina masih menganggap diri ”komunis” tapi hidup dengan ketimpangan sosial yang demikian tajam.
Tentu harus dicatat, indeks Gini, yang menunjukkan ketimpangan itu, di Cina sudah mulai menurun. Kini angkanya sekitar 40,8. Tetapi dibandingkan dengan itu, Indonesia sedikit lebih baik: 39,4. Tak meratanya pembagian kekayaan di Cina bahkan kurang-lebih sama dengan keadaan di negeri kapitalis yang paling timpang, yakni Amerika Serikat, dan jauh lebih buruk ketimbang Inggris, yang mencatat koefisien Gini 36.
Agaknya bayang-bayang Marx tak pernah berkelibat lagi di Mausoleum Mao di Beijing. Marx menganggap milik privat (anjing Mastiff, mobil Mercedes-Benz, babi kurus, atau sepetak tanah) sebagai sumber keterasingan manusia dari proses kerja. Ia pernah mengumandangkan bahwa justru kaum buruh—yang tak punya apa-apa, kecuali ”rantai yang membelenggunya”—yang akan jadi pelopor penggerak ke masa depan yang bebas dari keterasingan. Tapi di Cina kini Marxisme telah jadi benda museum prasejarah. Dan kita tak tahu lagi di mana pula mereka, proletariat.
Sejak mula sebenarnya ”proletariat” memang sebuah kelas sosial yang ganjil di Cina. Dalam sebuah tulisan pada 1926, ”Analisis Kelas dalam Masyarakat Cina”, Mao mengakui, proletariat hanya berjumlah dua juta. Buruh industri itu terutama bekerja di kereta api, pertambangan, pengangkutan laut, tekstil, dan pembuatan kapal, ”dan sejumlah yang sangat besar di antaranya diperbudak dalam perusahaan
modal asing”. Tapi, sebagaimana layaknya seorang Marxis sejati, Mao percaya, kelas buruh ini ”yang paling progresif” pantas jadi ”kekuatan memimpin dalam gerakan revolusioner”.
Sebab, berbeda dengan kalangan lain, buruh industri tinggal dan bekerja memusat, di sekitar lokasi yang sama. Lebih penting lagi, tulis Mao, ”mereka telah kehilangan alat produksinya, tinggal punya dua tangan saja…”.
Tapi persoalan yang timbul segera setelah itu: bagaimana kelas buruh, dalam posisi bukan mayoritas, dapat menggunakan cara pandang mereka yang menurut Marxisme bersifat istimewa, untuk jadi standar masyarakat umumnya?
Kita tahu, Mao—setelah Lenin—menganggap penting bukan hanya buruh, tapi juga peran petani untuk menggerakkan Revolusi. Mao tak akan mengatakan orang-orang pedalaman itu bagian dari apa yang disebut Marx sebagai ”kedunguan dusun”. Tapi para petani, juga yang paling tak berpunya, selalu ingin punya tanah. Mereka bagaimanapun tak ingin merayakan heroisme kaum yang tak punya apa-apa.
Hasrat itu, ”borjuis” sifatnya, pada akhirnya memang tak teredam. Kita tak bisa mengatakan bahwa kodrat manusia adalah ingin empunya dan makin rakus, tapi Marx punya kesalahan ketika ia menganggap milik pribadi dengan sendirinya penyebab alienasi manusia, ketika manusia mengutamakan apa yang jadi miliknya dan tak lagi jadi tuan dari benda dan kerja.
Dalam perkembangan politik Cina, alienasi justru berlangsung ketika manusia merunduk di hadapan buah tangannya sendiri yang lain—kali ini bukan milik diri sendiri, melainkan justru sesuatu yang hampir sepenuhnya sosial: tata simbolik—kata, slogan, dan doktrin. Juga organisasi, baik dalam bentuk kontrol kehidupan sehari-hari dari unit tetangga maupun, lebih agung lagi, Partai Komunis.
Di Cina, kediktatoran proletariat berbeda dari yang dibayangkan Marx. Ketika ia menyusun teori sejarahnya, Marx memperhitungkan bahwa pada suatu tahap perkembangan kapitalisme, proletariat akan jadi golongan yang melimpah. Borjuis kecil akan dicaplok borjuis besar dan, seperti kaum buruh, akhirnya tak punya apa-apa lagi. Yang papa jadi mayoritas.
Tapi, dengan jumlah kaum buruh industri yang begitu kecil di tengah kaum yang lain, yang terjadi adalah kediktatoran yang cemas. Ia harus defensif dan ofensif sekaligus. Ia harus meyakinkan. Ia harus ketat, dalam manajemen tubuh dan pikiran orang ramai.
Akhirnya ia jebol juga. Partai boleh tetap berkuasa, tetapi etos proletariatnya telah dihapus.
Pembebasan ternyata bukan datang dari mereka yang tak punya apa-apa, tapi dari punya dan keinginan untuk punya.
Bersama itu, segala yang ganjil dan gila-gilaan pun bisa terjadi, juga sebuah alienasi lain: 30 mobil Mercedes-Benz untuk menjemput anjing….
Mungkin sesekali kita perlu bertanya, bagaimana dengan milik dan bukan-milik manusia bisa bebas.
Goenawan Mohamad
Kritik terhadap Goenawan Mohamad
Oleh Coen Husain Pontoh
DALAM Catatan Pinggir-nya yang terkenal itu, dengan judul “Proletariat” (3/5/2010), GM menulis soal alienasi atau keterasingan sebagai kondisi dimana manusia tidak boleh memiliki barang untuk dirinya sendiri (private property).
“Marx menganggap milik privat (anjing Mastiff, mobil Mercedes-Benz, babi kurus, atau sepetak tanah) sebagai sumber keterasingan manusia dari proses kerja,” demikian tulis GM. Dari penafsiran itu, GM kemudian melaju pada pernyataan, “Ia pernah mengumandangkan bahwa justru kaum buruh—yang tak punya apa-apa, kecuali ”rantai yang membelenggunya”—yang akan jadi pelopor penggerak ke masa depan yang bebas dari keterasingan.”
Ada dua kejanggalan serius dalam kutipan ini. Pertama, penafsiran GM atas teori Marx tentang alienasi itu merupakan reduksi yang kasar terhadap konsep yang sangat vital tersebut. Sepanjang bacaan saya atas karya-karya Marx, tidak saya temukan ia mengatakan bahwa proletariat tidak boleh memiliki barang-barang pribadi. Benar bahwa Marx dan Engels bicara soal penghapusan milik pribadi, tapi yang dimaksudkannya adalah “private property” yang merujuk pada kontrol pribadi atas ekonomi (private control of the economy). Dalam Manifesto Partai Komunis, mereka menulis begini, “Komunisme tidak mencabut kekuasaan seseorang untuk memiliki produk-produk sosial; apa yang dicabutnya adalah kekuasaan manusia untuk menindas kerja orang lain melalui cara-cara kepemilikan semacamnya.”
Dengan kata lain, silahkan saja buat seorang proletariat itu untuk punya "anjing Mastiff, mobil Mercedes-Benz, babi kurus atau sepetak tanah."
Penafsiran GM terhadap teori alienasi ini, mengingatkan saya pada pemahaman ngawur dari prosesor Tjipta Lesmana akan Marxisme, yang mengatakan bahwa “Kata Marx, manusia adalah makhluk ekonomi dan yang selalu dipikirkan adalah materi, secara lebih spesifik: uang.”
Kedua, karena Marx tidak melarang proletariat untuk memiliki barang-barang pribadi, maka (1) frasa bahwa kaum buruh tidak punya apa-apa, kecuali “rantai yang membelenggunya” itu bukan merujuk pada konteks teori alienasi dalam pemahaman GM tersebut; (2) juga karena Marx tidak melarang proletariat untuk memiliki barang-barang pribadi, maka jelas bahwa akar keterasingan bukan bersumber dari sana. Lantas dari mana?
Tulisan ini membatasi diri pada pengertian Marx yang sesungguhnya tentang alienasi, yang menyebabkan tafsir GM terhadapnya tidak hanya reduksionis tapi juga distortif. Dengan demikian, tulisan ini tidak masuk pada tawaran solusi yang diajukan Marx untuk mengatasi kondisi keterasingan tersebut.
Level Filosofis
Konsep Marx tentang alienasi (Entfremdung/Jerman atau Estrangement/Inggris) atau pada bagian lain ia menggunakan kata Entäusserung/externalization/alienation, akarnya bisa ditelusuri dari karya-karyanya seperti Critique of Hegel's Philosophy of Right, On the Jewish Question, The Holy Family, dan The
Poverty of Philosophy. Namun, muncul secara utuh dalam karyanya Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, yang selanjutnya saya sebut Manuscripts”.
Dalam rentetan perkembangan intelektualnya, Marx pertama kali mencetuskan teorinya tentang alienasi sebagai kritik terhadap metode berpikir Hegelian. Seperti kita ketahui, bagi Hegel alienasi muncul dalam kerja-kerja epistemologis dimana alienasi adalah kondisi kesadaran (state of conciousness) yang berkaitan erat dengan keadaan eksternal, obyektif, dan dunia fenomenal. Pada momen ini, obyek yang tampak pada manusia bersifat eksternal dan terasing, dan kesadaran itu sendiri terasing. Sehingga bagi Hegel, kesadaran mengemansipasikan dirinya sendiri dari keterasingan melalui pemahaman bahwa apa yang tampak sebagai obyek eksternal itu tidak lain merupakan proyeksi kesadaran itu sendiri.
Dalam bahasa yang lebih mudah, bagi Hegel obyek yang tampak eksis di luar kesadaran, misalnya,
“anjing Mastiff, babi kurus, mobil Mercedez-Benz, dan sepetak tanah,” sebenarnya pada akhirnya hanyalah ekspresi fenomenal dari kesadaran itu sendiri. Benda-benda itu dasarnya tidak ada (non-being) dan baru menjadi ada (being) ketika pikiran atau kesadaran kita mengatakan, “oh itu anjing Mastiff, babi kurus, mobil Mercedez-Benz, dan sepetak tanah.” Dengan demikian, upaya untuk membebaskan manusia dari keterasingan, sepenuhnya merupakan proses kerja kesadaran. Dalam Manuscripts, Marx mengatakan, “proses ini menampakkan dirinya sebagai subyek. Tetapi, subyek ini pertama-tama muncul sebagai hasil. Hasil ini, subyek yang mengetahui dirinya sendiri sebagai kesadaran-diri absolut, dengan demikian adalah Tuhan – Spirit absolut-yang mengetahui dirinya sendiri dan Gagasan yang manifes dengan sendirinya.”
Tetapi, inilah ironinya. Karena keterasingan itu berkaitan dengan obyek di luar diri manusia, dimana obyek itu sendiri hanyalah hasil proyeksi atau fantasi dari kesadaran, maka sesungguhnya alienasi itu sendiri sebenarnya hanyalah sebentuk fantasi.
Konsep Hegel inilah yang kemudian dikritik secara telak oleh Marx, dengan menempatkan obyektivitas sebagai sesuatu yang riil, yang primer, bukan hasil proyeksi kesadaran manusia. Bahwa “anjing Mastiff, babi kurus, mobil Mercedez-Benz, dan sepetak tanah” itu memang nyata adanya, bisa diraba dan dirasa oleh panca indra. Frasa paling terkenal dari Marx tentang pasal ini berbunyi, “karena sesuatu itu pada mulanya tidak dimulai dari gagasan dan kesadaran manusia, tapi pada manusia yang nyata dan kondisi- kondisi nyata kehidupannya, maka kesimpulannya adalah “bukan kesadaran yang menentukan kehidupan, tapi kehidupanlah yang menentukan kesadaran”. Dalam Capital, ia menegaskan kembali perbedaannya dengan Hegel, “Metode dialektika saya tidak hanya berbeda dari Hegelian, tapi bertentangan langsung dengannya. Pada Hegel, cara kerja otak manusia, yakni proses berpikirnya, yang mengatasnamakan “Gagasan,” yang kemudian ia transformasikan ke dalam subyek yang independent, adalah pencipta dunia nyata, dan dunia nyata itu sendiri hanyalah sesuatu yang bersifat eksternal, bentuk fenomenal dari “Gagasan.” Pada saya, sebaliknya, gagasan tidak lain adalah refleksi dunia material oleh pemikiran manusia, dan selanjutnya dipindahkan ke dalam bentuk pemikiran.”
Konsekuensinya, jika pada Hegel manusia adalah mahluk non-obyektif, non-real, makhluk spiritual yang abstrak, yang egois, maka pada Marx manusia adalah mahluk yang nyata dan aktif, mahluk yang
membuat sejarah. Dalam hubungannya dengan teori alienasi, maka bagi Marx manusia hanya bisa membebaskan dirinya dari keterasingaan jika ia bertindak aktif dalam hubungannya dengan obyek yang riil atau dunia nyata tersebut.
Level Ekonomi Politik
Dalam konteks hubungan manusia dengan alam tersebut, dalam the German Ideology Marx mengatakan, “dasar dari seluruh keberadaan manusia dan lebih dari itu, dasar dari seluruh sejarah, bahwa manusia untuk bisa hidup maka ia mesti “membuat sejarah.” Tetapi, sebelum hidup meliputi yang lain, manusia pertama-tama mesti makan dan minum, memiliki rumah, pakaian, dan beragam benda lainnya. Maka, tindakan historis manusia yang pertama kali adalah memproduksi alat-alat untuk memenuhi kebutuhannya, produksi kehidupan material itu sendiri.” “Tindakan bersejarah ini,”
demikiran Marx, “merupakan syarat fundamental dari seluruh sejarah yang berlaku setiap hari dan setiap jam saat ini. Tindakan mana juga telah berlangsung ribuan tahun lalu, bahwa manusia agar bisa mempertahankan hidupnya maka ia terlebih dahulu mesti memenuhi kebutuhannya.”
Tetapi untuk memenuhi kebutuhannya tersebut, Manusia tidak bisa memenuhinya sendiri tanpa interaksinya dengan alam. Di sini, manusia bertindak aktif melalui tenaga kerjanya (aktivitas produktif), sementara alam yang menyediakan sumbernya. Di sini, kata kuncinya adalah aktivitas produktif tersebut, karena hanya dengannya manusia bisa terus-menerus berinteraksi dengan alam dan otomatis memungkinkannya membuat sejarah. Itulah sebabnya, demikian tulis filsuf Istvan Meszaros dalam bukunya Marx’s Theory of Alienation, aktivitas produktif tersebut merupakan sumber kesadaran dan konsekuensinya, “kesadaran yang teralienasi” adalah pertanda atau refleksi dari aktivitas yang teralienasi atau keterasingan aktivitas, yakni kerja yang terasing pada dirinya sendiri.
Namun, Marx juga mengatakan bahwa keterasingan bersifat historis. Artinya, keterasingan itu adalah produk sejarah, bukan sesuatu yang telah ada dengan sendirinya. Pada sistem produksi prakapitalis, tindakan manusia terhadap alam atau aktivitas produktifnya, adalah untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan komunitasnya yang terbatas, produk yang dihasilkannya adalah yang memiliki nilai-guna. Pada periode ini, aktivitas produktif manusia berlangsung secara bebas dan bersifat personal sekaligus universal. Di sini hubungan manusia dengan alam digambarkan Marx sebagai “manusia hidup dengan alam, yang berarti alam adalah tubuhnya, dimana ia harus selalu berhubungan dengannya jika ia tidak ingin mati. Kehidupan Fisik dan spiritual manusia terhubung dengan alam dan alam itu sendiri terhubung pada manusia, sehingga manusia menjadi bagian dari alam.”
Tetapi pada sistem produksi kapitalis, aktivitas produktif manusia terhadap alam adalah ditujukan untuk pasar pertukaran. Produk yang dihasilkannya adalah yang memiliki nilai-tukar, dimana kegunaan sebuah barang/produk diukur bukan dari kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan mendesak manusia tetapi pada seberapa jauh barang tersebut bisa dipertukarkan. Artinya, pada diri pemiliknya, barang tersebut tidak memiliki nilai-guna, tapi nilai-guna itu muncul pada orang lain yang membeli barang itu.
Dalam Manuscripts, produk kerja yang mewujud dalam bentuk obyek, yang telah berujud material (mobil Mercedes-Benz), misalnya, disebut Marx sebagai obyektivikasi dari kerja. Berbeda dengan masa pra-kapitalis dimana produk kerja berada dalam kontrol produser, maka dalam sistem kapitalis
proletariat kehilangan kontrolnya terhadap barang-barang ciptaannya itu. Tugasnya hanya membuat mobil Mercedes-Benz, dan begitu mobilnya jadi ia tak tahu lagi kemana, digunakan oleh siapa dan untuk kegunaan apa mobil tersebut. Inilah momen pertama dari keterasingan, menurut Marx, yaitu manusia terasing dari alam (man alienated from nature).
Selanjutnya Marx mengatakan, produk yang merupakan obyektivikasi dari kerja tersebut, yang kini terasing dari si proletariat, pada akhirnya mendominasi hidup si proletariat. Untuk bisa hidup, ia harus bekerja. Tapi agar kerjanya itu bisa membuatnya bekerja lagi pada keesokan harinya, maka produk kerjanya itu mesti bisa dipertukarkan di pasar. Jika tidak, kerjanya menjadi tidak bermanfaat, kerja yang sia-sia. Di sini, kerja atau aktivitas produktif proletariat di dalam proses produksi tidak lagi merupakan aktivitas produktif yang bebas dan sukarela. Kerjanya adalah kerja yang dipaksakan (forced labor) baik secara mental maupun fisik. Ia tidak lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya yang personal, melainkan untuk memenuhi kebutuhan pasar pertukaran yang impersonal. Ia baru hidup sebagai manusia bebas ketika ia berhenti bekerja, ketika ia telah berada di rumah. Di luar rumah, lebih tepatnya di tempat kerja, ia menjadi budak upah (wage slavery).
Dari sini, kita lihat, proletariat dalam aktivitas produktifnya tidak lagi berada di bawah kendali kesadarannya. Oleh karena itu, Marx berbicara bahwa keterasingan yang dialami proletariat tidak hanya dalam hubungannya dengan alam atau produk kerjanya, tetapi berkaitan langsung dengan aktivitas produktif itu sendiri. Dalam bahasa yang lain, keterasingan itu tidak hanya berkaitan dengan hasil produksi, melainkan juga dengan proses produksi. Maksudnya begini, karena obyektivitas kerja itu kini teralienasi darinya, maka kerja yang memroduksi obyek itu otomatis adalah kerja yang teralienasi. Inilah poin kedua dari alienasi menurut Marx, bahwa manusia teralienasi dari aktivitasnya sendiri (man alienated from his own activity).
Karena manusia, dalam hal ini proletariat dalam aktivitas produktifnya mengalami alienasi, maka yang dilakukannya terbatas pada aktivitas fisikal belaka: makan, minum, dan reproduksi. Sementara fakultas mental dan spiritualnya mengalami represi. Dalam bahasa Herbert Marcuse, ia terjatuh pada subyek bersatu dimensi, yang memroduksi sesuatu dalam bingkai kebutuhan fisik mendesaknya, pada dirinya sendiri, dan dimana standar produksinya hanya ditujukan untuk konsumsinya sendiri. Di sini, proletariat kehilangan jati dirinya sebagai manusia yang utuh, yang memroduksi sesuatu yang bersifat universal, dimana standarnya berlaku tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga pada yang lain di tempat yang berbeda.
Pada titik ini, Marx mengatakan bahwa manusia sesungguhnya tidak berbeda dengan binatang: makan, minum dan reproduksi. “What is animal becomes human and what is human becomes animal,” ujarnya dalam Manuscripts. Inilah poin ketiga dari alienasi, bahwa manusia terasing dari keberadaannya sebagai manusia atau dari keberadaannya sebagai anggota dari spesies manusia (man alienated from his species being).
Keterasingan manusia dari spesiesnya itu, pada akhirnya melahirkan keterasingan manusia dari manusia lainnya (man alienated from other man). Inilah poin terakhir dari alienasi menurut Marx. Pertanyaannya, siapa manusia yang lain? Di sini, Marx kembali pada hubungan manusia yang terasing dari obyek
kerjanya, dimana obyektivitas kerja itu berada di luar kontrol dan kendali proletariat. Dan lebih dari itu, produk kerja tersebut malah mengontrol dan mendominasi hidup proletariat.
Nah, Marx mengatakan, kontrol dan kendali atas obyektivitas kerja proletariat itu berada di tangan manusia yang lain, yakni borjuasi. Melalui kontrol terhadap obyektivitas kerja tersebut, otomatis borjuasi juga mengontrol proletariat. Sehingga bagi Marx, ketika ia bicara tentang keterasingan manusia dari manusia lainnya, yang ia maksudkan adalah keterasingan proletariat dari borjuasi. Hubungan keduanya bukanlah hubungan yang setara dan bebas, melainkan hubungan yang dominatif dan eksploitatif. Proletariat menjual tenaga kerjanya kepada borjuasi, dan sebaliknya, borjuasi membutuhkan tenaga kerja proletariat sejauh mendatangkan keuntungan baginya.
Penutup
Dari uraian singkat ini, bisa kita lihat betapa Marx tidak pernah mengalamatkan teorinya tentang keterasingan (alienasi) pada pemilikan barang-barang pribadi, seperti yang dimengerti oleh GM.
Keterasingan pada Marx berhubungan dengan produk kerja, aktivitas produktif di sektor produksi, dirinya sebagai manusia, dan hubungannya dengan manusia lainnya. Dengan kata lain, proletariat boleh jadi memiliki “anjing Mastiff, mobil Mercedes-Benz, babi kurus dan sepetak tanah,” tetapi posisinya tetaplah proletariat, si budak upah.***
Caping GM dng judul Proletariat, di link ini:
http://www.tempointeraktif.com/hg/caping/2010/05/03/mbm.20100503.CTP133446.id.html
Untuk Coen H. Pontoh
Oleh Goenawan Mohamad
ACAPKALI kita baca Marx sebagai orang beriman – dan itulah problemnya. Jika Marxisme kita pandang sebagai agama sesat, kita cenderung menganggap seluruh pemikirannya berdasar satu tesis yang salah, dan sebab itu semuanya salah. Sebaliknya jika kita terima Marxisme sebagai iman kita, kita cenderung bertolak dari premis bahwa Marx tak pernah salah – dan kalau pun kita menemukan kesalahannya, itu pasti kesalahan kita.
Atau kita membaca Marx dengan cara yang tak-Marxis: menjadikan pikirannya tak tersentuh oleh perubahan ruang, waktu, dan tafsir. Tafsir pada gilirannya juga sesuatu yang historis.
Masalah alienasi adalah contoh yang baik. Pengertian Marx tentang ini berkembang dari waktu ke waktu, sejak ia hidup di Paris dan menulis sejumlah besar manuskrip yang kemudian sering disebut
“Manuskrip Paris” (selesai tahun 1844) sampai dia menulis ratusan halaman catatan yang kemudian disebut Grundrisse der Kritik der Politischen Ökonomie (1857-58), kumpulan tulisan yang belum rapi sebelum ia menyelesaikan Das Kapital di London.
Dalam perjalanan itu, kita bisa lihat perubahan dan kontinuitas pemikiran Marx tentang masalah ini. Kita tahu alienasi adalah konsep yang datang dari Hegel – dan bahkan lebih tua dari itu. Bagi Hegel, alienasi atau Entfremdung terjadi karena ada kesenjangan antara kerja dan kebutuhan manusia, satu hal yang tak akan berakhir. Tapi Hegel juga menyebut sebuah pengertian lain, Entässuerung, yakni
“keterasingan” yang terjadi antara manusia dan apa yang diproduksi dan diciptakannya.
Sejak ia berumur 26 tahun, Marx masuk ke problematik “keterasingan” melalui Hegel. Dari beberapa penjelasan yang saya baca, terdapat kesan kuat bahwa Marx lebih dekat dengan pengertian Entässuerung. Tapi kita tahu, berbeda dari Hegel, bagi Marx alienasi ini bukanlah sesuatu yang akan terus menerus menyengsarakan manusia.
Perkembangan pikirannya menunjukkan, tulisan-tulisan dari tahun 1840-an berubah. Marx kurang menampilkan pemikiran spekulatif filsafat. Ia lebih tertarik untuk menjadikan teorinya sebagai sebuah karya ilmiah – dengan dasar-dasar empiris -- terutama setelah 10 sampai 15 tahun kemudian ia mengembangkan teori “nilai-lebih”-nya.
Dalam Kapital jilid pertama, yang terbit sekitar dua dasawarsa kemudian, hanya terdapat enam kali kata
“alienasi” disebut. Dalam pada itu, dalam buku ini, Marx menggunakan tiga istilah untuk menunjukkan gejala yang sama: “alienasi”, “reifikasi” (Verdinglichung) dan “fetisisme komoditi.” Terkadang makna di balik kata “alienasi” juga diberi nama lain: “eksploitasi” atau “dehumanisasi”.
Kita tahu optimisme dalam pandangan Marx: dengan berlangsungnya dialektika dalam sejarah,
“dehumanisasi” itu akan membangkitkan oposisinya sendiri. Pahlawan Marx sejak muda adalah Prometheus: makhluk setengah dewa yang ditambatkan di gunung karang, tapi tak menyerah. Sejarah, yang ia gambarkan sebagai perjuangan kelas, adalah perjalanan pembebasan.
Dengan thema itu sekalipun, tetap ada perbedaan dalam penjelasan Marx tentang sebab-sebab dasar alienasi. Bagian ke-3 “Manuskrip Paris”, misalnya, punya coretan yang cukup panjang yang mengurai hubungan alienasi dengan milik privat atau perorangan.
Milik perorangan yang bersifat material, langsung dan kasat indra (sinnliche), kata Marx, adalah ekspresi (yang juga kasat indra) dari kehidupan manusia yang terasing. Dengan itu manusia menjadi objek untuk dirinya sendiri dan sekaligus ia, bagi dirinya sendiri pula, jadi objek yang asing dan tak manusiawi bagi.
Di situ sebenarnya ada satu faktor penting (yang kelak akan memegang peran lebih besar ketimbang semata-mata “milik”): kekuasaan. Sebab yang jadi masalah bukanlah hewan piaraan dan benda-benda yang ada sebagai bagian dari hidup privat seseorang. Yang jadi masalah ialah bagaimana hubungan antara dia dan mereka.
Dalam tulisan-tulisannya kemudian, Marx tak lagi menekankan hubungan milik perorangan, alienasi, dan dampaknya bagi manusia. Atau lebih tepat, ia telah melihat bahwa ada evolusi dalam kepemilikan.
Dalam Manifesto Komunis Marx menyebutkan bahwa milik yang diperoleh dengan susah payah, yang didapat sendiri dan dengan jerih payah sendiri, milik para tukang kecil dan petani miskin, pada akhirnya tak ada perlunya ditiadakan. Sebab, “Perkembangan industri banyak menghancurkannya, dan terus menghancurkannya tiap hari.”
Dari ini Marx lebih berbicara tentang kepemilikan kelas burjuis: modal. Perlu ditambahkan bahwa modal adalah sebuah kekuasaan/kekuatan (Macht) yang tak terbatas di rumah; ia membentuk masyarakat. Dan itulah yang harus ditiadakan.
Bertahun-tahun kemudian, orang menemukan bahwa Marx tetap benar – tapi hanya separuh benar.
Modal memang sebuah kekuasaan/kekuatan sosial, tapi kekuatan/kekuasaan sosial tak identik dengan modal. Dengan kata lain, bukan ada dan bertautnya modal dalam kelas itu yang penting, melainkan hadirnya kekuasaan lain, kekuasaan politik, yang seakan-akan berdiri sendiri, menyisihkan manusia dari dirinya. Inilah yang kemudian muncul dalam perdebatan di Republik Rakyat Cina.
Di tahun 1980, pasca-Mao, Wang Ruoshui, seorang pemikir dan juga wakil editor Harian Rakyat, mengedepankan persoalan “alienasi sosialis”. Disebutnya tiga alienasi: pertama alienasi pemikiran (yang disebabkan oleh pemujaan terhadap Ketua Mao); kedua alienasi politik; ketiga alienasi ekonomi. Bagi Wang, alienasi jenis kedua itu yang jadi pangkal dan puncak keterasingan dalam masyarakat ketika modal sebagai kekuatan/kekuasaan sosial sudah bukan lagi di tangan burjuasi. 1
Di Cina, semenjak Revolusi, alat-alat produksi telah diambil alih dari kepemilikan pribadi. Tapi ada kekuasaan dalam bentuk lain yang pada akhrinya menumbuhkan keterasingan pula. Dalam hal ini Wang mendapatkan pengaruh dari Adam Schaff, anggota Komite Sentral Partai Komunis Polandia yang tulisannya beberapa kali diterjemahkan dalam Zhexue yicong antara tahun 1979 dan 1982.
Bagi Schaff, dalam masyarakat sosialis, alienasi berkembang karena meluasnya kekuasaan Negara dalam kehidupan dan juga karena “kultus perorangan”. Yang terakhir ini oleh Wang dikaitkannya dengan pemujaan kepada Mao.
Hal-hal itulah yang di abad ke-19 tak diperhitungkan Marx. Di abad ke-21 ini, dalam perkembangan kapitalisme yang lanjut, saya kira akan lebih mendarik, dan mungkin tetap relevan, melihat kembali pemikian Marx sebagai kelanjutan dari telaahnya semula tentang milik atau empunya – sebuah penelaahan fenomenologis, sebenarnya.
Dalam “Manuskrip Paris”, Marx menyebut, kepemilikan privat membuat orang “begitu dungu dan satu- sisi” karena menganggap sebuah barang hanya jadi milik kita (atau lebih tepat: milikku) bila aku memilikinya – baik ketika ia jadi modalku atau ketika aku langsung menguasainya, memakannya, meminumnya, mengenakannya, menghuninya.
Penguasaan dan kepemilikan atas benda-benda ini punya analoginya – tentu saja tak sepenuhnya tepat – dengan hubungan majikan atas budak dalam sebuah dialektik yang dibahas Hegel. Yang merasa menguasai benda-benda pada gilirannya masuk ke dalam keadaan di mana ia dikuasai benda-benda.
Di sini sesungguhnya kita temukan insight Marx yang penting, satu hal yang jarang dilihat orang – dan pada hemat saya bisa dianggap menduhului tesis utama dalam filsafat Gabriel Marcel, yakni beda antara être dan avoir, “ada” dan “empunya” – yang nanti kita bicarakan lebih lanjut sedikit.
Dalam argumen Marx, (dengan kalimat panjang yang tak selamanya sistematis), manusia berada dalam status sebagai obyek ketika ia memperlakukan apa yang dicapainya sebagai kenikmatan langsung yang bersifat satu-sisi: “dalam arti semata-mata menguasai, memiliki”.
Membebaskan diri dari hubungan milik dan kekuasaan, itulah sebenarnya tujuan komunisme. Marx melihat komunisme sebagai “tindakan mengatasi secara positif kepemilikan privat”. Kata “positive Aufhebung”, yang dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan sebagai “positive transcendence”, tak mengacu ke pembasmian atau peniadaan. Ia mengacu kepada suatu laku yang mengambil jarak yang cukup dari, atau mengatasi, benda-benda sebagai obyek kekuasaan. Atau kepada kekuasaan itu sendiri.
Pandangan ini agaknya ditegaskannya lagi dalam sekalimat pendek di sebuah catatan kaki: “Dalam praktek, aku dapat menghubungkan diri aku dengan sebuah benda secara manusiawi (menschlich) hanya bila benda itu menghubungkan dirinya dengan manusia secara manusiawi”.
Menghubungkan diri secara manusiawi adalah memposisikan yang-lain, dalam hal ini: benda-benda, dalam kebebasan. Aku tak mengurung benda itu dan sebaliknya benda itu tak mengurung aku; atau dalam kalimat yang sudah dikutip di atas, “dalam arti semata-mata menguasai, memiliki”.
Di sini saya ingin melanjutkan yang sudah saya singgung di atas: uraian Gabriel Marcel dalam Esquisse d'une phénoménologie de l'Avoir.
Marcel membedakan dua pendekatan terhadap benda-benda (atau dunia, termasuk orang lain). Jika kita mendekatinya dalam hubungan Ada (l’être), dunia akan tampak bukan sebagai obyek, melainkan sebagai “kehadiran”; benda atau orang lain itu bukan kongkrit, bukan hasil abastraksi.
Jika kita mendekatinya dalam hubungan “milik” atau “empunya” (l’avoir), ada ketegangan, antara yang empunya dan yang dipunyai, antara qui dan quid. Di satu pihak, sesuatu yang dipunyai, quid, adalah sesuatu yang di luar aku yang empunya, qui. Tapi dilain pihak, ia bagian dari diriku.
Dalam hubungan “empunya” semacam itu ada selalu semacam tendangan balik, ada semacam choc en retour. Apa yang aku miliki, quid, tampak menggunakan satu daya/kekuasaan (puissance) atas diriku, kekuasaan yang diberikan oleh keterikatanku kepadanya, dan tumbuh sebanding persis dengan keterikatan itu. Analog dengan dialektika Hegel tentang majikan-dan-hamba, “empunya” cenderung melenyapkan diriku sebagai subyek yang bebas ke dalam benda. Dalam milik, benda menguasai sang tuan yang semula mengira mengendalikannya.
Itulah alienasi. Milik kita melulur kita, kata Marcel, “bila kita ada dalam suatu keadaan intertia, di hadapan objek-objek yang mereka sendiri juga mandeg”. Dalam kata-kata Marx, bila hubungan itu tak
“manusiawi”.
Tapi hubungan itu tak harus kekal. Manusia, kata Marcel, bisa menghidupkan kembali hubungan yang tak manusiawi dengan benda-benda, melalui suatu “kreasi personal” – seperti ilmuwan dengan laboratoriumnya, musikus dengan violanya.
Namun Marcel, yang bukan seorang Marxis, tak menjelaskan bagaimana “kreasi personal” bisa jadi pembebasan sosial, di dalam sebuah kondisi ketika “empunya” demikian dominan dalam ruang sosial- ekonomi. Setidaknya sepanjang yang saya ketahui, Marcel tak melanjutkan telaahnya terhadap ambivalensi lain dari “empunya”: di satu sisi, kungkungan milik atas manusia bisa kian intens, tapi di lain sisi, sang pemilik, seperti halnya sang majikan, meningkatkan kapasitas dan kekuasannya dengan akumulasi.
Tapi dalam hal ini, dalam masalah akumulasi, ada percikan pikiran Marcel yang pada akhirnya juga paralel dengan percikan pikiran Marx, ketika ia berbicara tentang “hasrat” (le désir). Baginya, hasrat dan sikap menginginkan (convoitise - yang dalam bahasa Jawa disebut mélik) sama dengan sikap memmiliki.
“Menghasratkan, dalam arti tertentu, adalah punya tanpa mempunyai”.
Sebab itulah, dengan “hasrat”, manusia merasa dalam kekurangan. Dorongan ke arah akumulasi (“kemajuan”, “pertumbuhan”) pun berlangsung.
Di pihaknya, Marx memang tak cukup berbicara tentang faktor “hasrat” ini; itu sebabnya para teoritisi yang tergolong dalam “Freudo-Marxism”, seperti Herbert Marcuse, mencoba melengkapi kekurangan itu. Tapi bila ditelaah lebih cermat, ada yang dikatakan Marx tentang masalah ini. Dalam “Manuskrip Paris” dapat diperoleh indikasi pentingnya masalah ini dalam “kemajuan” manusia. 2
Terutama dalam satu bagian yang khusus melakukan kritik atas pemikiran Hegel, Marx membuka pintu ke arah analisa materialis dari “hasrat” – analisa yang bertautan dengan tubuh manusia sebagai mahkluk yang berpancaindera. Di sini pun ada paralelisme antara Marx dan Marcel: menghubungkan “hasrat”
dengan “penderitaan”.
Marcel: “Menghasratkan adalah…punya tanpa mempunyai. Itu sebabnya ada semacam penderitaan atau perasaan terbakar yang merupakan satu bagian hakiki dari hasrat”. Marx: “Manusia, sebagai wujud obyektif dan berpancaindera, adalah wujud yang menderita”. Der Mensch als ein gegenständliches sinnliches Wesen ist daher ein leidendes…
Dan dengan gairah (die Leidenschaft, die Passion) manusia mendapatkan kekuatannya dalam berjuang menggapai obyeknya. Dari sinilah kiranya borjuasi, sebagaimana digambarkan dalam Manifesto Komunis, menggerakkan sejarah dan mengubah dunia – beserta penderitaan yang ditimbulkannya.
Yang dulu tak disangka sebagian kaum Marxis ialah bahwa kondisi itu tak juga berakhir sampai sekarang.
Manusia tetap “wujud yang menderita”. Ketika ia membicarakan hasrat dalam perspektif materialisme -- manusia sebagai tubuh yang menderita – Marx tentu tak menyangka, bahwa di abad ke-20 ia akan bersua dengan psikoanalisa Lacan, yang terkenal dengan thesisnya tentang “subyek sebagai kekurangan”. Dalam hubungan ini, Lacan menggambarkan “nilai-lebih” yang disebut Marx sebagai akibat dari “hasrat” tempat sebuah perekonomian membangun prinsipnya – yakni produksi yang ekstensif dan tak pernah terpuaskan. Kata “tak pernah terpuaskan” (insatiable) penting, sebab kapitalisme akhirnya bukan saja anti-sosial, tapi juga manque-à-jouir, selalu dalam kekurangan untuk mencapai kenikmatan permainan. 3
Itu juga simptom alienasi. Pembebasannya bagi Lacan, yang bukan seorang Marxis abad ke-19, tentu saja bukan revolusi. Pembebasannya adalah membangun sikap dan institisi-institusi yang bisa melakukan Aufhebung terhadap milik privat seraya siap menghadapi dan melawan bentuk kekuasaan lain yang akan menghadang. Mungkin jika ada yang melankolis di abad ke-21 ini – zaman yang lebih menyadari keterbatasan manusia – ialah bahwa apa yang diutarakan Lacan bisa lebih meyakinkan. ***
Kepustakaan:
1 Dari High culture fever: politics, aesthetics, and ideology in Deng's China, oleh Jing Wang, terbitan University of California Press, Berkeley + Los Angeles, 1996.
2 Uraian dan analisa yang layak dibaca dalam hal ini oleh Bradley J. MacDonald, “Marx and the Figure of Desire”, dalam Rethinking Marxim, Vol. 11 No. 4, 1999.
3 Dikutip dalam uraian Frédéric Declerq, “Lacan on the Capitalist Discourse: Its consquences for libidinal enjoyment and sosial bonds”, Psychoanalysis, Culture and Society, Vol. 11, 2006.
Untuk GM
Oleh Coen Husain Pontoh
ARTIKEL Goenawan Mohamad (GM) dengan judul Tentang Hak Milik dan Keterasingan mengandung beberapa isu yang perlu saya tanggapi. Pertama, isu tentang beriman atau tidak beriman terhadap Marx; kedua, isu tentang metodologi pembacaan atas Marx; dan ketiga soal Alienasi (Keterasingan) itu sendiri. Fokus utama tanggapan ini tetap soal konsep keterasingan itu, sementara dua isu pertama akan saya tanggapi secara singkat.
Ketika GM membuka artikelnya dengan kalimat “Acapkali kita baca Marx sebagai orang beriman – dan itulah problemnya”, kening saya sedikit berkerut. Dalam tradisi Marxis, sepanjang pengetahuan saya, terma “beriman” selalu dilekatkan pada rejim Stalinis Uni Sovyet. Istilah ini dilekatkan, karena rejim itu memang hanya membolehkan adanya satu tafsir terhadap Marxisme, yakni tafsirnya Stalin, melalui bukunya the Foundation of Marxism. Dalam buku itu, Stalin menggunakan pisau analisis “determinisme teknologis” dalam membaca karya-karya Marx. Mereka yang mengikuti tafsir ini dikenal dengan sebutan
“official marxism” untuk para birokratnya atau “preacher marxism” untuk para intelektualnya, sementara para pembangkangnya harus menanggung akibat yang sangat brutal: penjara, kamp kerja paksa, pengasingan, dan kematian.
Iman, dalam konteks ini, bukan sesuatu yang bersifat sadar dan sukarela, tapi terutama adalah hasil dari paksaan. Setuju memperoleh manfaat, tidak setuju diganjar derita. Dengan demikian, iman senantiasan berkaitan dengan relasi kekuasaan. Nah, ketika GM berbicara soal iman terhadap Marx, saya kira ia kehilangan konteksnya. Saya tidak yakin, jika ia menuduh saya, misalnya, sebagai seorang Stalinis, hanya karena saya mencoba menafsirkan karya-karya Marx dari apa yang ditulisnya secara langsung. Dan itu biasa saja, sebagaimana orang membaca Hayek, Smith, Keynes, atau Friedman.
Dari sini, saya melaju ke isu soal metodologi membaca Marx. Pembedaan metodologi cara membaca Marx atas cara marxis dan non-marxist, menurut saya sulit dipertanggungjawabkan secara akademik.
Apa itu cara non-Marxist? Dalam pengantar untuk Grundrisse yang diterjemahkannya, Martin Nicolaus mencatat bahwa Lenin pernah mengatakan, “adalah mustahil untuk memahami secara utuh karya Marx tentang Capital, khususnya bab pertama, tanpa melakukan studi dan pemahaman mendalam atas karya Hegel tentang Logic secara keseluruhan. Konsekuensinya dalam setengah abad terakhir (di masa Lenin hidup), tak ada seorang pun Marxis yang memahami Marx.” Menurut Nicolaus pernyataan Lenin mengenai kesulitan membaca Capital itu, karena saat itu Grundrisse belum diterbitkan. Selanjutnya, Nicolaus, dengan meminjam aforisme Lenin, mengatakan "untuk bisa memahami Capital yang tebalnya 4.000 halaman itu secara menyeluruh, kita pertama-tama mesti memahami dulu 800 halaman Grundrisse dan 1.000 halaman Logic. Membaca Grundrisse dengan baik adalah cara terbaik untuk memahami Logic, dan selanjutnya untuk membaca Capital. Atau dengan kata lain, akan sangat sulit untuk bisa memahami relevansi keberadaan Logic bagi Capital tanpa pertama-tama, membaca secara menyeluruh Grundrisse".
Dari sini saja sudah muncul pertanyaan, bagaimana kita bisa memahami Logic-nya Hegel itu, kalau kita tidak memahami metode berpikir Hegelian? Pengaruh Hegelian ini, begitu kuatnya, sehingga ada begitu
banyak penafsir Marx dari sisi ini. Gyorgi Lukacs tentu yang paling terkenal, walaupun ada yang muncul sebelum dirinya dengan tafsir Hegelian yang sangat ketat, yakni filsuf Rusia Isaak Illich Rubin.
Karena penggunaan istilah “cara" dan "bukan cara Marx” ini bermasalah, maka digunakan kategorisasi yang lain untuk bisa mengetahui bagaimana cara seseorang menafsirkan karya-karya Marx. Ambil contoh Harry Cleaver, yang membagi para penafsir Marx atas tiga kategori: pertama, cara membaca Marx (tepatnya Capital) secara filosofis; kedua, membacanya secara ekonomi-politik; dan ketiga, membaca karya itu secara politik. Ketiga kategorisasi ini pun, kemudian memiliki cara penafsiran yang berbeda-beda pula. Intinya, bukan apakah cara membaca saya merupakan cara yang Marxis atau bukan, tapi sejauh mana cara pembacaan itu menangkap apa yang dimaksudkan Marx dalam karyanya. Atau sebaliknya, seperti kalangan post-Marxis, yang membaca Marx dari tradisi Marxist untuk selanjutnya menyanggah tesis-tesis Marx sendiri.
Kini saya mau masuk pada inti tulisan ini, keterasingan sebagai kritik ekonomi politik.
Sejak karyanya Manuscripts of 1844, Marx tidak pernah meninggalkan tema keterasingan ini dalam karya-karya selanjutnya. Baginya, keterasingan tetap merupakan isu sentral, namun dalam makna yang lebih kompleks, konkret, dan detail. Jika dalam Manuscripts of 1844 ia berbicara alienasi dalam konteks yang lebih abstrak, maka dalam Capital, ia berbicara dengan sangat konkret. Itu sebabnya, sejarahwan ekonomi Ronald L. Meek, dalam bukunya Studies in the Labor Theory of Value menyebut “…. Capital in a very real and important sense, is in fact a book about alienation…”
Merujuk Meek maka dalam Capital, perbincangan Marx soal Alienasi harus kita tempat dalam konteks kritik ekonomi politik atas kapitalisme. Dan sejauh pemahaman saya atas Capital, bagi Marx esensi dari buku itu adalah untuk menunjukkan bagaimana wujud sesungguhnya dari “hubungan buruh-kapital”
dalam corak produksi kapitalis. Dengan mengetahui hubungan buruh-kapital ini, kita diharapkan mengetahui bagaimana corak produksi kapitalisme ini bekerja dan selanjutnya bagaimana melawannya.
Di situ Marx berusaha sekuat tenaga untuk menjabarkan bagaimana proses keterasingan itu berlangsung dan mengapa sulit untuk mengatasi problem keterasingan ini.
Karena keterbatasan ruang dan waktu, di sini saya coba merangkum soal alienasi ini dalam Capital, dan kemudian menunjukkan perbedaan dengan apa yang dibahasnya dalam Manuscripts of 1844.
Salah satu ciri terpenting kapitalisme, adalah keberadaan kerja-upahan (wage-labour)., dimana kita mesti berurusan dengan dua hal: pertama, bagaimana asal-mula terbentuknya buruh upahan ini; dan kedua, bagaimana relasi sosial yang terbentuk di antara buruh-kapitalis. Untuk soal pertama, kita mesti meloncat jauh ke bagian delapan Capital Vol. I, dalam apa yang disebutnya sebagai “Rahasia Akumulasi Primitif.”
Saya ingin singkat saja soal ini. Ketika membahas soal rahasia akumulasi primitif, dengan mengambil contoh Eropa, Marx mengatakan, struktur ekonomi masyarakat kapitalis berkembang di atas reruntuhan struktur ekonomi masyarakat feodal. Struktur ekonomi baru ini membutuhkan tenaga kerja bebas agar bisa berkembang lebih jauh, dimana sumberdayanya berasal dari struktur ekonomi lama. Nah, untuk menjadi buruh yang bebas menjual tenaga kerjanya, syarat pertama yang harus dipenuhi adalah mereka
harus terlepas dari ikatan-ikatan struktur ekonomi sebelumna, misalnya bebas dari rejim gilda, bebas dari mereka yang mengatur kerja dan pekerjaannya, serta bebas dari aturan-aturan yang membatasi kerja mereka. Dengan menjadi buruh bebas, di satu sisi mereka mengemansipasi dirinya dari tahap perhambaan, dan di sisi lain keberadaan mereka menjadi syarat utama kelangsungan masyarakat borjuis.
Tetapi, menurut Marx, kita tidak bisa memahami hubungan sosial buruh-kapital yang menindas tanpa memperhatikan sejarah terbentuknya manusia bebas ini. Di sini ia melihat terbentuknya buruh bebas ini terjadi setelah alat-alat produksinya dirampas secara paksa dari tangannya. Orang-orang itu dipaksa untuk meninggalkan tanah miliknya, sehingga tak ada pilihan lain kecuali bermigrasi ke kota. Mereka yang mencoba melawan pemaksaan itu, ditindak melalui cara-cara kekerasan berupa pembunuhan massal, pengenaan pajak uang, atau pemindahan paksa penduduk asli ke tanah-tanah miskin dan dipaksa bekerja untuk menghasilkan kapital. Itu sebabnya, ujar Marx, sejarah terbentuknya manusia bebas ini ditulis dengan darah dan api (blood and fire).
Begitu manusia bebas ini terbentuk, tenaga kerjanya memiliki nilai-guna untuk produksi komoditi. Di sini, mereka memasuki hubungan sosial buruh-kapital: si kapitalis membeli kerja buruh dengan uang dan kemudian menjual hasil kerja si buruh tersebut untuk uang. Tetapi, situasi ini melulu hal yang kasat mata. Kata Marx, pada kenyataannya, yang dijual oleh buruh kepada si kapitalis adalah tenaga kerjanya (labour power). Tenaga kerja buruh telah menjadi komoditi yang dipertukarkan di pasar. Ekonom M.C.
Howard dan J.E. King, dalam buku mereka “The Political Economy of Marx” menulis,
The capitalist does not buy the worker’s labour, but his or her labour power: not the worker’s productive activity, or what the worker creates in specified period of time; but labour power, the worker’s capacity for labour, or control over the worker’s creative capacity for a specified time period.
Si Kapitalis tidak membeli kerja si buruh, tapi tenaga kerjanya: bukan aktivitas produktif buruh, atau apa yang buruh hasilkan dalam periode waktu tertentu; tapi tenaga kerjanya, kapasitas buruh untuk kerja, atau kontrol atas kapasitas kreatif buruh pada sebuah periode waktu tertentu.
Tenaga kerja sebagai komoditi inilah, yang kemudian menjadi salah satu penanda paling penting dari kapitalisme. Sebagai komoditi, tenaga kerja memiliki nilai-guna, yang kelak menciptakan nilai-guna yang lain. Dan dalam masyarakat kapitalis, nilai-guna diproduksi untuk dijual, dan karena itu padanya melekat apa yang disebut waktu kerja abstrak (abstract labour time). Dengan kata lain, dalam kapitalisme, kerja tidak lagi memproduksi nilai-guna melainkan, nilai-guna untuk menghasilkan nilai-tukar. Pada titik ini, Roger Garaudy dalam bukunya “Karl Marx: the Evolution Of His Thought” menyebutkan, berlaku dua pengertian ganda: pertama, tenaga kerja buruh terpisah dari kebutuhannya, sejak apa yang diproduksinya itu diperuntukkan bagi kebutuhan pasar yang impersonal; kedua, tenaga kerjanya sendiri terpisah dari kerja itu sendiri, sejak kerja produktif yang menghasilkan komoditi itu sama-sama impersonal, homogen, dan tidak bisa dibedakan kecuali berdasarkan aspek kuantitasnya.
Mengapa ia mesti menjual tenaga kerjanya kepada si kapitalis? Sebab si buruh ingin terus hidup, ujar Marx. Dalam Grundrisse ia mengatakan,
The object of his exchange is a direct object of need, not exchange value as such. He does obtain money, it is true, but only in its role as coin; i.e only as a self-suspending and vanishing mediation. What he obtain from the exchange is therefore not exchange-value, not wealth, but a means of subsistence, objects for the preservation of his life, the satisfaction of his needs in general, physical, social, etc.
Hasil yang diperoleh dari pertukaran yang dilakukannya adalah sebuah hasil langsung untuk memenuhi kebutuhannya, bukan nilai-tukar sebagaimana layaknya. Memang benar bahwa dalam pertukaran itu, ia memperoleh uang, tapi uang dalam pengertian sebagai koin; dalam makna uang yang hanya sekadar untuk dibelanjakannya sendiri dan kemudian melenyap sebagai perantara. Lebih dari itu, apa yang ia dapatkan dari pertukaran bukanlah nilai-tukar, bukan kekayaan, tapi sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan minimalnya, sarana untuk bertahan hidup, alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara umum, fisik, sosial, dan seterusnya.
Kita lihat, betapa perbincangan ini melulu berkutat pada soal keterasingan tapi dalam bentuknya yang konkret, dalam proses produksi komoditi sehari-hari. Masalahnya, tenaga kerja adalah aktivitas hidup buruh itu sendiri, manifestasi dari kehidupannya sendiri. Dengan begini, sebenarnya si buruh tidak hanya menjual tenaga kerjanya tetapi ia telah menjual kehidupannya kepada si kapitalis. Dengan menjual tenaga kerjanya, ia telah menyelamatkan kebutuhan hidup subsistennya. Lebih dari itu, ujar Marx dalam Capital, dengan menjual tenaga kerjanya si buruh telah menggadaikan dirinya dari seorang manusia bebas (free man) menjadi seorang budak (slave) atau budak upah (wage slave), dari seorang pemilik komoditi menjadi komoditi itu sendiri. Dengan demikian, aktivitas hidupnya hanya dimaksudkan agar dirinya tetap eksis. Kerja, dengan demikian, bukan lagi bagian dari kehidupannya, sehingga produk dari aktivitasnya itu bukan lagi obyek dari aktivitasnya. Itu sebabnya, Marx mengatakan, hidup buruh justru baru dimulai ketika aktivitas produktifnya berhenti, ketika ia sedang berada di meja makan, di ruang publik, atau di tempat tidur, misalnya.
Kita lihat, terjadi penajaman konsep alienasi yang tertuang dalam Manuscripts of 1844 dengan yang tertera dalam Capital. Jika dalam Manuscripts of 1844 Marx berbicara tentang keterasingan dalam hubungannya dengan obyek ciptaannya (komoditi) yang berada di luar kontrolnya dan kemudian mengontrol dirinya, maka dalam Capital Marx langsung mengatakan bahwa si buruh itu sendiri telah menjadi komoditi. Ini berimplikasi bahwa dalam Manuscripts of 1844 Marx sepertinya masih berbicara tentang Manusia (Man) dalam pengertian yang abstrak, yakni seluruh yang bisa kita sebut manusia. Di sana ia bicara tentang hubungan antara manusia dengan manusia sebagai individu. Sementara dalam Capital ia telah berbicara tentang Manusia (Man) dalam pengertian yang konkret, yakni kelas pekerja (proletariat). Di sini ia bicara hubungan sosial antara buruh vs kapital, buruh sebagai kelas bukan sebagai individu. Tidak heran jika ada yang menafsir, dalam Manuscripts of 1844 Marx menempatkan manusia individu sebagai titik berangkat (point of departure) analisanya, sementara dalam Capital manusia individu merupakan titik tibanya (point of arrival).
Selanjutnya, Marx memberikan penekanan pada keberadaan buruh bebas yang merupakan prasyarat keberlangsungan masyarakat borjuis, yang membedakannya dari sistem masyarakat perbudakan maupun feodal. Kata Marx, tenaga kerja tidak selalu merupakan komoditi. Buruh tidak selalu berarti buruh upahan tetapi buruh bebas atau free worker. Ini yang membedakannya dengan budak dimana
budak tidak menjual tenaga kerjanya kepada pemiliki budak. Budak bersama dengan tenaga kerjanya hanya dijual sekali dan untuk selamanya kepada pemilik budak. Budak adalah komoditi yang bisa berpindah tangan dari pemilik budak yang satu kepada pemilik budak yang lain. Sebagai budak, ia adalah komoditi tetapi tenaga kerjanya bukanlah komoditi.
Buruh bebas juga berbeda dari petani-hamba. Petani hamba, kata Marx, hanya menjual sebagian dari tenaga kerjanya. Ia tidak menerima upah dari pemilik tanah, malah pemilik tanah memperoleh penghormatan dari si petani-hamba. Lebih dari itu, ia juga memiliki tanah dan sewaktu-waktu posisinya bisa berubah menjadi pemilik tanah.
Lalu bagaimana dengan si buruh bebas? Apa keunikannya? Marx menjelaskan, keunikan si buruh bebas ini adalah ia menjual dirinya sendiri, lebih dari itu, menjual karakter dirinya. Ia menjual sejumlah delapan, sepuluh, dua belas, lima belas jam dalam sehari, setiap harinya, kepada pembeli tertinggi, pemilik alat-alat produksi, dan alat-alat subsisten yakni, si kapitalis. Pada saat yang sama, si buruh bebas ini bebas meninggalkan si kapitalis kapan saja ia mau. Demikian juga si kapitalis, bebas menendang si buruh bebas jika ia menganggap si buruh tidak lagi mendatangkan keuntungan baginya.
Sampai di sini kita lihat baik si buruh maupun si kapitalis sama-sama memiliki kebebasan (freedom).
Dalam Grundrise Marx menjelaskan soal ini, bahwa baik buruh maupun kapitalis secara formal memiliki hubungan yang setara dan bebas untuk saling melakukan pertukaran (freedom of exchange). Kebebasan formal itu mereka miliki, ujar John E. Elliot, dalam bukunya Marx and Engels on Economics, Politics and Society Essential Readings With Editorial Commentary, karena keduanya (buruh dan kapitalis) sama- sama merupakan pemilik pribadi (private owners): kapitalis memiliki alat-alat produksi fisik dan buruh memiliki kapasitas untuk bekerja.
Tetapi, kata Marx, secara substansial hubungan buruh-kapitalis ini sangatlah timpang. Kembali dalam Grundrisse, ia mengatakan “pada faktanya, kesetaraan itu runtuh karena buruh dalam hubungannya dengan kapitalis hanya sebatas nilai-guna….” Sehingga, masih dalam Grundrise,
without labour they would not be useless but without them labour would be equally useless.
tanpa buruh mereka (si kapitalis) tidak akan kehilangan apa-apa tapi, tanpa si kapitalis si buruh menjadi sia-sia.
Hubungan yang timpang ini juga ditulisnya dalam Manuscripts of 1844,
Victory goes necessarily to the capitalist. The capitalist can live longer without the worker than the worker without the capitalist.
Kemenangan dengan segera menjadi milik kapitalis. Si kapitalis dapat hidup lebih lama tanpa si buruh ketimbang si buruh tanpa si kapitalis.
Sumber ketimpangan itu karena si buruh tidak memiliki alat-alat produksi fisik sehingga, untuk bisa hidup ia harus bekerja kepada si kapitalis yang memiliki pabrik, pertambangan, pertanian, dan tempat- tempat produksi lainnya. Dengan demikian, walaupun si buruh adalah buruh bebas, ia tidak bisa melepaskan dirinya dari keseluruhan klas yang membelinya, klas kapitalis. Di sisi lain, kapitalis sebagai
pemilik alat-alat produksi berusaha menciptakan tatanan hukum, politik, sosial-budaya, dan ekonomi, yang membuatnya bisa terus-menerus mengeksploitasi tenaga kerja si buruh bebas demi akumulasi kapital. Di sinilah keunikan sistem kapitalis, dimana hubungan buruh-kapital berlangsung dalam suasana penuh ketegangan, dimana perjuangan kelas merupakan inti dari hubungan buruh-kapitalis. Dengan demikian, relasi ini ini melampaui hubungan personal buruh-kapitalis tapi, membentuk hubungan eksploitaif antara klas buruh dengan klas kapitalis yang diikat oleh dinamika perjuangan kelas.
Dengan demikian, tema pembebasan manusia dari keterasingan dalam Capital, bukan lagi membebaskan manusia dari obyek (komoditi) yang menindasnya, tetapi melalui perjuangan kelas dari kelas buruh melawan eksploitasi kapital adalah menghapuskan keberadaan kelas-kelas sosial itu. Proyek perjuangannya adalah revolusi, bukan reformasi.
***