Selain menguntungkan, aliran modal asing tersebut berpotensi menimbulkan risiko pembalikan aliran modal asing yang dapat menimbulkan instabilitas di pasar keuangan domestik. Untuk meminimalisasi potensi risiko dalam pengelolaan arus modal internasional tersebut, diperlukan pemahaman yang lebih baik mengenai pola perilaku capital inflow di pasar keuangan, khususnya di pasar SUN, seiring dengan meningkatnya porsi kepemilikan asing di pasar tersebut. Temuan studi ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang tepat untuk mengelola arus masuk modal, khususnya di pasar keuangan.
Tujuan penulisan ini adalah pertama untuk mengidentifikasi perilaku investor asing di pasar SUN, baik investor jangka panjang maupun jangka pendek secara keseluruhan maupun individual khususnya transaksi neto (pembelian dikurangi penjualan) di pasar SUN sekunder. Kedua, mensimulasikan prospek investor asing di pasar SUN dengan menggunakan hasil uji estimasi, dan ketiga, merekomendasikan aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan arus modal internasional berdasarkan temuan dari dua tujuan kajian ini. Jika investor khususnya investor asing memiliki dua pilihan portofolio investasi yang berisiko yaitu investasi di pasar keuangan Indonesia yang memiliki return RD dan variance σ2D dan di pasar keuangan internasional dengan return RF dan variance σ2F.
Agung et al (2011) menggunakan metode OLS dengan data bulanan dari Januari 2004 sampai Desember 2010 dan mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi aliran modal di pasar saham, SBI dan SUN. Di pasar keuangan (saham dan SUN) terdapat hubungan positif antara volatilitas harga dan volume perdagangan. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi investor asing di pasar SUN, dilakukan pengujian model ekonometrika persamaan (24) dengan menggunakan metode GARCH.
Sumber data transaksi investor asing diperoleh dari transaksi SUN pasar sekunder yang diperoleh dari sistem Bank Indonesia Scriptless Securities Settlement System (BI-SSSS).
HASIL DAN ANALISIS
Analisa Deskriptif Perkembangan Pasar Surat Utang Negara (SUN)
Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan investor jangka panjang adalah investor institusi asing yang mengalami kenaikan posisi SUN secara signifikan sejak tahun 2009, yang merupakan awal derasnya arus masuk modal ke pasar SUN. Sebaliknya, investor jangka pendek adalah investor institusi asing yang tidak mengalami perubahan signifikan pada posisi SUN dalam periode yang sama. Berdasarkan definisi tersebut, menurut Tabel 4, investor yang termasuk dalam kategori investor jangka panjang adalah investor A, B dan C dan investor jangka pendek adalah investor D, E, F dan G.
Berdasarkan kategori tersebut, dari Tabel 4 tahun 2011, saat terjadi capital inflow yang besar, investor jangka panjang dan jangka pendek memiliki porsi yang relatif berimbang yaitu 46:34 (Grafik 9). Sedangkan investor jangka pendek sudah lama aktif bertransaksi di pasar SUN Indonesia, pergerakannya juga sangat fluktuatif, dan motifnya cenderung mengharapkan capital gain (terlihat dari aktivitas jual beli yang sangat tinggi).
Hasil Estimasi
Berbeda dengan investor jangka panjang, perilaku investor jangka pendek dipengaruhi baik oleh push factor maupun pull factor (faktor domestik) dalam bertransaksi di pasar SUN. Hasil uji regresi ini menunjukkan bahwa tingginya frekuensi transaksi investor jangka pendek di pasar SUN didorong oleh sensitivitas yang lebih besar terhadap setiap perubahan faktor penarik (pull factor) atau faktor pendorong (push factor). Hal ini sesuai dengan sifat transaksi investor jangka pendek yang cenderung hanya melihat keuntungan jangka pendek melalui capital gain.
Tingginya frekuensi transaksi investor jangka pendek yang tidak dibarengi dengan peningkatan posisi dapat menyebabkan tingginya volatilitas di pasar SUN yang pada akhirnya dapat mempengaruhi stabilitas pasar keuangan secara keseluruhan. Oleh karena itu, mengingat transaksi investor jangka pendek sangat fluktuatif, maka pemerintah dan Bank Indonesia dari sisi domestik hendaknya memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi investor jangka pendek, yaitu dengan menjaga kondisi perekonomian domestik, antara lain menjaga tingkat suku bunga domestik yang kompetitif dan menjaga tingkat risiko domestik pada tingkat yang cukup rendah. Sementara itu, untuk menghadapi risiko pembalikan arus modal, pemerintah dan Bank Indonesia harus terus mewaspadai risiko di pasar keuangan internasional dan menyiapkan contingency plan.
Hasil dari individual impulse response pada Gambar 13 menunjukkan bahwa shock kenaikan Yield5 sebesar 100 basis poin akan menyebabkan investor jangka pendek menurunkan posisi transaksi netonya (atau dengan kata lain melakukan penjualan neto) sekitar Rp 25,5 miliar pada saat itu. waktu. waktu (t=0 ) dengan dampak kumulatif sebesar Rp 31,05 miliar. Sementara itu, guncangan kenaikan indeks UST-Notes 5 tahun sebesar 100 bp menyebabkan investor jangka pendek menjual Rp 80,7 miliar dengan dampak kumulatif Rp 98,3 miliar. Walaupun hasil uji regresi pada investor jangka pendek individual secara umum menunjukkan perilaku yang mirip dengan perilaku kelompok, namun faktor pendorong lebih menunjukkan konsistensi dibandingkan faktor penarik.
Sementara itu, tingkat pengembalian domestik yang diproksikan dengan Yield5 hanya berpengaruh signifikan terhadap 2 investor jangka pendek individu (Investor F dan G) dari 4 investor individu yang diuji. Untuk mengetahui prospek arus modal ke depan, dilakukan simulasi dengan menggunakan hasil estimasi di atas baik untuk investor jangka panjang maupun jangka pendek. Tabel tersebut menunjukkan bahwa investor jangka pendek lebih sensitif terhadap guncangan yang terjadi pada empat variabel penjelas.
Hal ini karena empat variabel penjelas dapat mempengaruhi keputusan investor jangka pendek secara signifikan, sedangkan investor jangka panjang hanya dipengaruhi oleh dua faktor pendorong yaitu US T Notes dan indeks VIX. Temuan ini juga menegaskan bahwa jika terjadi shock yang menyebabkan perubahan pada keempat variabel penjelas, investor jangka pendek menjadi investor yang lebih reaktif dalam merespon shock tersebut. Atau dengan kata lain, jika terjadi guncangan, pasar akan berfluktuasi secara liar akibat reaksi jangka pendek investor.
Besarnya pengaruh faktor global di pasar SUN akan menyebabkan tingginya volatilitas di pasar SUN jika terjadi shock di pasar keuangan global. Investor asing khususnya investor jangka pendek akan merespon shock tersebut dengan melakukan aksi jual yang diperkirakan dapat mengganggu stabilitas pasar keuangan secara keseluruhan maupun stabilitas pasar valuta asing yang pada akhirnya dapat mempengaruhi stabilitas pasar valuta asing. nilai tukar.
KESIMPULAN
IMF (2011), “Recent Experiences in Managing Capital Inflows - Cross-cutting Themes and Possible Policy Frameworks,” Prepared by the Strategy, Policy and Audit Department. Determinants of Capital Flows to Developing Countries: A Structural VAR Analysis,” Journal of Economic Studies, Vol. The pricing of bonds and bank loans in international markets: an empirical analysis of developing countries.