Cause of Child Drops Out On Mandatory Age Studies nine Years At Nagari Tanjung Bonai District Lintau Buo Utara, Regency Tanah Datar
by:
Nofrialdi
*
Slamet Rianto**
Elvi Zuriyani**
*Education Of Geography STKIP PGRI Sumatera Barat
**Lacturer At Education Geografhy Department Of STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACK
This research intent to know environmentally / home become child cause drop out on mandatory age studies nine years, income zoom become child cause drop out on mandatory age studies nine years, education zoom person as child cause drop out on mandatory age studies nine years, and causes any other child causation drop out on mandatory age studies nine years
This observational type which is Research qualitative. Subject is this research through tech snowball , the data gathered by: 1 ) interviews, 2 ) observations. Informan in observational it is oldster and child drop out on year 2014 one have gotten married. Data authenticity examination in observational it did by data reduction, data representation, data interpretation, and takes conclusion. Observational result Nagari Tanjung Bonai District Lintau Buo Utara, Regency Tanah Datar is found that: 1 ) the environmentally / place lives at Nagari Tanjung Bonai’s one of cause child drops out on mandatory age studies nine years since be affected unschooled playmate. For the present oldster gets effort commemorate its children for not very commune with unschooled person. 2 ) oldster Income just play favorites little that declare for that cause oldster income child drops out, since major oldster says income don't become its child cause drops out. 3 ) oldster education Zooms at Nagari Tanjung Bonai excluding child cause drops out on mandatory age studies nine years. Oldster expects its child education overbid from its oldster, since enough oldster notices just how the importance for current child education. 4 ) other Causes that become the root cause child drop out is problem give a damn, since a large part child declares for to give a damn that cause of they drop out on mandatory age study nine years.
Keywords: Managing, Agricultural, Young People Pendahuluan
Pendidikan sebagai sesuatu yang paling utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Begitu juga Indonesia menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang paling penting dalam rangka pembangunan bangsa. Maka ini dapat kita lihat secara seksama dalam isi pembukaan UUD 1995 alinea IV yang menegaskan bahwa indonesia mempunyai salah satu tujuan pendidikan bangsa di Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Selain itu juga tertera dalam Undang – Undang RI NO. 20 pasal 3 Tahun 2013 tentang Sistem pendidikan Nasional.
Bahwa pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, serta untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraqlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri danmenjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab ( Tujuan Pendidikan Nasional. (online). http : //WWW. Docttoc. Com, diakses 15 februari 2015 )
Pendidikan adalah sesuatu yang universal dan berlansung terus tak terputus dari generasi ke generasi dimana pun di dunia ini. Upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan iti diselenggarakan sesuai dengan pandangan hidup dan dalam
latar sosial-kebudayaan setiap masyarakat terentu. (Sulo, 2010: 82.)
Menurut UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan setiap warga negara diwajibkan mengikuti pendidikan formal minimal sampai tamat SMP.
Masalah putus sekolah merupakan masalah yang selalu ada dalam dunia pendidikan, terutama pada negara–negara yang sedang berkembang. Dilihat dari sudut SDM jelas masalah putus sekolah menimbulkan kerugian yang besar, sebab ada kemungkinan dari anak yang memiliki potensi yang cukup tinggi dan yang berbakat yang apabila mendapat kesempatan untuk sekolah dapat berprestasi baik.
Jumlah anak putus sekolah di Indonesia pada tahun 2014 usia 7 – 12 tahun mencapi 0,67 %, usia 13 – 15 tahun 2,21 %, dan usia 16 – 18 tahun 3,14 % ( BPS, 2014 ).
Jumlah anak usia putus sekolah pada umumnya banyak dijumpai pada daerah pedesaan, karena sebagian besar (80%) penduduk Indonesia berada pada daerah pedesaan. Permasalahan anak usia putus sekolah juga dilihat di Nagari Tanjung Bonai Kecamatan Lintau Buo Utara. Jumlah anak usia putus sekolah pada usia wajib belajar sembilan tahun di daerah ini tahun 2014 masih banyak yang tersebar di beberapa daerah.
Kemungkinan anak putus sekolah biasanya disebabkan oleh berbagai hal, misalnya kemampuan ekonomi orang tua yang masih rendah terhadap pentingnya pendidikan dan lain sebagainya, termasuk
didalamnya keadaan tampat
tinggal/lingkungan. Di Nagari Tanjung Bonai dijumpai banyak anak usia wajib belajar yang putus sekolah. Untuk itu perlu dilakukan invertarisasi penyebab anak putus sekolah yang dilihat dari anak usia putus sekolah maupun dilihat dari segi latar belakang keluarga.
Berdasarkan hasil observasi awal saya pada tanggal 11 November 2014 maka jumlah anak putus sekolah pada usia wajib belajar Sembilan tahun di Nagari Tanjung Bonai Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar berjumlah 221 orang dari total 1.442 peserta didik yang wajib belajar sembilan tahun pada tahun 2014.
Dengan sudut pandang yang kita lihat, maka banyak sekali anak-anak yang putus sekolah Di Nagari Tanjung Bonai Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar, untuk mengetahui lebih lanjut penyebab yang dialami oleh anak yang putus sekolah ini, maka peneliti tertarik meneliti lebih lanjut
“ Penyebab Anak Putus Sekolah Pada Usia Wajib Belajar Sembilan Tahun Di Nagari Tanjung Bonai Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar”.
METODOLOGI PENELITIAN
Sesuai dengan masalah dan tinjaun peneliti yang dikemukakan pada bagian terdahulu, maka penelitian ini merupakan jenis penelitian Kualitatif.
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Nagari Tanjung Bonai Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar, dimana daerah ini masih banyak ditemukan anak putus sekolah pada usia wajib belajar.
Jenis Sumber Data 1. Jenis dan Sumber Data
Adapun Jenis Dan Sumber Data Yang Penulis Gunakan Dalam Penelitian Di Lapangan adalah
a. Data Primer yaitu data pokok tentang masalah penelitian yang diperoleh langsung dari informan penelitian yang berkaitan penyebab anak putus sekolah pada usis wajib belajar Sembilan tahun di Nagari Tanjung Bonai Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar.
b. Data Skunder yaitu penunjang yang relevan yang kajian penelitian yang diperoleh dari dokumen dinas pendidikan Kecamatan, tentang georafis nagari, keadaan penduduk, dan mata pencarian penduduk.
2. Teknik dan Alat Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian dilapangan adalah teknik wawancara dan observasi.
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan mengunakan wawancara langsung dengan para subjek dan informan peneliti yang telah ditentukan.
Dalam penelitian di lapangan, peneliti mengunakan alat pengumpulan data sebagai pedoman wawancara sebagai rumusan. Pertanyaan yang diajukan kepada informan mengenai masalah yang akan diteliti.
Teknis Analisis Data
1. Reduksi Data (Data reduction)
Yaitu dengan cara merangkum dan memilih hal-hal pokok dan penting kemudian disusun secara sistematis sehingga lebih mudah dikendalikan 2. Penyajian Data (Data Display) yaitu
dengan memuat berbagai tabel dari seluruh data yang telah diperoleh, sehingga lebih mudah untuk menganalisis data yang diperoleh.
3. Interpretasi data yaitu data yang telah diperoleh atau dikumpulkan, dicari makna terkandung didalamnya yang kemudian dipaparkan dengan menggunakan kata-kata, kalimat- kalimat yang dimengerti.
4. Mengambilan kesimpulan yaitu data yang diperoleh kemudian dikumpulkan dengan kata-kata dan kalimat-kalimat yang dapat dimengerti
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertama, bahawa lingkungan/tempat tinggal di Nagari Tanjung Bonai salah satu penyebab anak putus sekolah pada usia wajib belajar sembilan tahun karena terpengaruh teman sepermainan yang tidak sekolah. Untuk saat ini orang tua berupaya memperingati anak-anaknya untuk tidak terlalu bergaul denga orang yang tidak sekolah.
Hal ini sesuai dengan pendapat Made (2013:
31) mengatakan bahwa pendidikan merupakan sistem terbuka, sebab tidak mungkin pendidikan dapat melaksanakan fungsinya dengan baik bila ia mengisolasi dengan lingkungannya. Pendidikan berada di masyarakat, ia adalah milik masyarakat.
Itulah sebabnya pemerintah menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat, maka sudah selayaknya subsistem lingkungan ini perlu diperhatikan oleh manajer pendidikan.
Kedua, tingkat pendidikan orang tua di Nagari Tanjung Bonai tidak termasuk
penyebab anak putus sekolah pada usia wajib belajar sembilan tahun. Orang tua mengharapkan pendidikan anaknya lebih tinggi dari orang tuanya, karena orang tua cukup memperhatikan betapa pentingnya pendidikan anak saat ini.
Hal ini sesuai dengan pendapat Supriyatno (2001) mengatakan bahwa tingkat pendidikan diinterprestasikan dengan makna mempertahankan individu dengan kebutuhan-kebutuhan senantiasa bertambah dan merupakan suatu harapan untuk dapat mengembangkan diri agar berhasik serta untuk memperluas, mengidentifikasi ilmu pengetahuan elemen-elemen yang ada disekitarnya.
Ketiga, dilihat dari pendapatan orang tua hanya sebagian kecil yang menyatakan bahwa pendapatan orang tua penyebab anak putus sekolah, karena tidak memiliki biaya yang cukup untuk membiayai pendidikan anaknya. Sedangkan sebahagian besar orang tua mengatakan pendapatan bukan menjadi penyebab anaknya putus sekolah.
Hal ini sesuai dengan pendapat Syafri dalam Oktarina (2004) tingkat pendidikan seseorang sangat berpengaruh dalam kehidupannya, karena hal ini akan berhubungan lansung dengan pendapatannya, semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat semakin mudah pula bagi mereka dalam menerima inovasi- inovasi baru untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
Keempat, penyebab lain yang menjadi penyebab utama anak putus sekolah adalah masalah minat, karena sebagian besar anak menyatakan lebih ingin bekerja meski sebagai kuli bangunan dan pelayan rumah makan demi mencari uang untuk kebutuhannya sendiri, dan sebahagian kecil anak mengatakan tidak sanggup datang ke sekolah karena jarak tempuh yang jauh dari tempat tinggal mereka.
. Hal ini sesui dengan pendapat Jersild dan tasich yang dikutip oleh Nurkencana (1996) mengatakan bahwa minat adalah menyangkut aktifitas- aktifitas yang dipilih secara bebas oleh individu.
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk mempehatikan dan mengenang
beberapa kegiatan, berarti belajar membutuhkan minat. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar karena bila bahan belajar yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik- baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
1. Bahawa lingkungan/tempat tinggal di Nagari Tanjung Bonai salah satu penyebab anak putus sekolah pada usia wajib belajar sembilan tahun karena terpengaruh teman sepermainan yang tidak sekolah. Untuk saat ini orang tua berupaya memperingati anak-anaknya untuk tidak terlalu bergaul denga orang yang tidak sekolah.
2. Tingkat pendidikan orang tua di Nagari Tanjung Bonai tidak termasuk penyebab anak putus sekolah pada usia wajib belajar sembilan tahun. Orang tua mengharapkan pendidikan anaknya lebih tinggi dari orang tuanya, karena orang tua cukup memperhatikan betapa pentingnya pendidikan anak saat ini 3. Dilihat dari pendapatan orang tua
hanya sebagian kecil yang menyatakan bahwa pendapatan orang tua penyebab anak putus sekolah, karena sebahagian besar orang tua mengatakan pendapatan bukan menjadi penyebab anaknya putus sekolah.
4. Penyebab lain yang menjadi penyebab utama anak putus sekolah adalah masalah minat, karena sebagian besar anak menyatakan minat yang manjadi penyebab mereka putus sekolah pada usia wajib belajar sembilan tahun.
B. Saran
1. Orang tua dan lingkungan tempat tinggal harus lebih giat lagi untuk memberikan dorongan kepada anak supaya minat dari anak untuk sekolah tetep tinggi dan terjaga.
2. Pemerintah kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar hendaknya senantiasa memberikan dukungan dan motivasi kepada setiap peserta didik maupun masyarakat mengenai pentingnya pendidikan.
3. Seharusnya guru harus lebih bekerja keras lagi untuk mamberikan perhatian
kepada anak didiknya supaya tidak ada lagi anak yang putus sekolah pada usia wajib belajar.
4. Diharapkan kepada peserta didik untuk memahami akan pentingnya pendidikan demi terbentuknya masa depan yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Aiken, Lewis, R.1994 Psychologycal testing and assessment. MA. Allyd and Bacon.
Anies.(2006). Seri Lingkungan dan Penyakit Manajemen Berbasis Lingkungan Solusi Mencegah dan Menanggulangi Penyakit Menular.
Jakarta: Elex Media Komputindo.
Ginting. (2006). IPS Geografi. Jakarta:PT.
Gelora Aksara Pratama.
Idris, Zahara. 1999. Pengantar pendidikan.
Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Moeleong. 2007. Metedologi penelitian kualitatif. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Monaliza, Selly. 2009. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Dengan Keberadaan Pertambangan Batu Bara Di Desa Lebam Kecamatan Rantau Pandan Kabupaten Bungo.
Padang: FIS UNP.
Made Pidarta. (2007). Landasan Pendidikan, Jakata: PT Renika Cipta.
Nurkencana. 1996. Faktor penghambat dalam belajar. di ambil dari situs http://wnawimala.Word
press.com/2011/03/24. Diakses pada tanggal 22 september 2014.
Naja, Daeng. (2007). Bank Hijau Kebijakan Kredit Yang Berwawasan Lingkungan. Yogyakarta: PT. Buku Kita.
Oktarina, (2004) peranan wanita nelayan dalam upaya pemenuhan pangan dan gizi keluarga di Keluraha Pasie Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Padang:
Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta.
Radja Mudyahardjo. (2013). Pengantar Pendidikan, PT RajaGrafindo Persada. Jakrta: Raja Wali Pres.
Sugiyono. 2013. Metodologi penelitian bisnis. Bandung :Aalfabeta
Susenas. Indikator Kesejahteraan Rakyat.
2013. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Padang.
Setyono, Prabang. (2008) Cakrawala Memahami Lingkungan. Jakarta: UNS Press.
Slameto.2010. Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta. Rineka Cipta
Supriyatno, (2001) http/www.com pengertian pendidikan. Di akses 27/05/15 Umar Tirtarahardja dan Drs. S. L. La Sulo.
(2010). Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta