Cause of Death Determination in The Drowning Case – Case Report
Istiqomah1, Setyo Trisnadi2, Maryono2, Dian Novitasari2
1Forensic and medicolegal department, Bhayangkara Hospital, Semarang
2Forensic and medicolegal department, Medical faculty of Sultan Agung Islamic University, Semarang
Email: [email protected], [email protected] ABSTRACT
Introduction. Drowning is a condition of suffocation due to asphyxia due to the entry of fluids into the respiratory tract. The process of drowning begins with respiratory distress either because a person's airway is below the surface of the liquid (submersion) or the water only covers the face (immersion).
Case report. Investigators brought a male corpse and a medical report requesting letter to Brebes Regional Hospital, allegedly dead due to drowning. From the results of external examination, there were signs of decomposition, signs of blunt force to the head leading to fracture of the skull base of the right and left sides, and signs of drowning.
Discussion. Drowning death can be caused by the vagal reflex, laryngeal spasm, and the influence of entering water into the lungs. The victim also got blunt force in the form of a linear fracture at the base of the skull which could be associated with bleeding in the brain, where the bleeding can lead to neurological problems that are fatal.
Conclusion. The results of the case reports were quite interesting. Data that are known to contain signs of drowning, decomposition and fracture of the skull base requires a detailed examination to determine the cause of death in the body. Further research into drowning deaths needs to be done.
Keywords: drowning, force, immersion, submersion, vagal reflex
PENENTUAN SEBAB KEMATIAN PADA KASUS TENGGELAM – LAPORAN KASUS
Istiqomah1, Setyo Trisnadi2, Maryono2, Dian Novitasari2
1Departemen Forensik dan Medikolegal, Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
2Departemen Forensik dan Medikolegal, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung Semarang
Email: [email protected], [email protected] ABSTRAK
Pendahuluan. Drowning atau tenggelam merupakan kondisi mati lemas dikarenakan asfiksia akibat masuknya cairan ke dalam saluran pernapasan. Proses kejadian tenggelam diawali dengan gangguan pernapasan baik karena jalan nafas seseorang berada di bawah permukaan cairan (submersion) ataupun air hanya menutupi bagian wajahnya saja (immersion).
Laporan kasus. Seorang jenazah laki-laki dikirim oleh penyidik disertai dengan surat permintaan visum et repertum ke RSUD Brebes diduga meninggal dunia akibat tenggelam. Dari hasil pemeriksaan luar ditemukan tanda-tanda pembusukan. tanda-tanda kekerasan tumpul di kepala yang menyebabkan patah tulang dasar tengkorak sisi kanan dan kiri, serta ditemukan tanda-tanda tenggelam.
Pembahasan. Kematian pada peristiwa tenggelam dapat disebabkan oleh reflek vagal, spasme laring, dan pengaruh air yang masuk ke dalam paru. Pada korban juga ditemukan kekerasan tumpul berupa patah tulang linier pada dasar tulang tengkorak yang dapat berhubungan dengan perdarahan pada otak, dimana perdarahan tersebut dapat mengakibatkan gangguan neurologis yang berakibat fatal.
Kesimpulan. Hasil laporan kasus yang didapatkan cukup menarik. Data yang diketahui terdapat tanda-tanda tenggelam, pembusukan serta patah tulang dasar tengkorak membutuhkan pemeriksaan secara mendetail untuk menentukan sebab kematian pada jenasah tersebut.
Penelitian lebih lanjut mengenai kematian akibat tenggelam masih perlu dilakukan.
Keyword : imersi,,kekerasan, reflek vagal, submerse, tenggelam PENDAHULUAN
Drowning atau tenggelam merupakan kondisi mati lemas dikarenakan asfiksia akibat masuknya cairan ke dalam saluran pernapasan1. Pada peristiwa tenggelam, seluruh tubuh tidak harus berada di dalam air. Asal lubang hidung dan mulut berada di dalam air maka peristiwa tersebut sudah dikatakan tenggelam2. Pengertian terbaru yang diadopsi World Health Organization (WHO) tahun 2002 menyatakan bahwa tenggelam merupakan suatu proses kejadian gangguan pernapasan akibat perendaman (submersion) atau pencelupan (immersion) dalam cairan. Proses kejadian tenggelam diawali dengan gangguan pernapasan baik karena jalan nafas seseorang berada di bawah permukaan cairan (submersion) ataupun air hanya menutupi bagian wajahnya saja (immersion)3. Berdasarkan data WHO pada tahun 2016, terdapat sekitar 320.000 orang kehilangan nyawa akibat tenggelam dan 60% korban berumur kurang dari 30 tahun. Tenggelam merupakan penyebab kematian ketiga pada anak-anak dan 90% kematian karena tenggelam terjadi pada negara berkembang seperti Indonesia. Prevalensi kejadian tenggelam di Indonesia itu sendiri menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) angka kematian tenggelam sebanyak 44 orang pada tahun 2013.
Berdasarkan data RSUP Sanglah tahun 2010-2012, dari 97 kasus tenggelam didapatkan sebanyak 84,5% korbaannya berjenis kelamin laki-laki4. Terdapat berbagai istilah drowning, seperti wet drowning yaitu keadaan dimana cairan masuk ke saluran napas setelah korban tenggelam; dry drowning yaitu keadaan dimana cairan tidak masuk ke dalam saluran pernapasan dikarenakan spasme laring; secondary drowning yaitu keadaan dimana korban meninggal setelah beberapa hari tenggelam (sudah diangkat dari air) dan mengalami komplikasi, serta immersion syndrome dimana korban meninggal akibat refleks vagal setelah tenggelam pada air dingin1.
Korban tenggelam dapat berada dalam air tawar maupun air asin, pada korban tenggelam dalam air tawar akan ditemukan absorbsi cairan yang masif dikarenakan konsentrasi elektrolit air tawar lebih rendah daripada konsentrasi darah, pada tubuh akan terjadi hemodelusi atau pengenceran darah lalu air akan masuk ke kapiler alveoli yang nantinya akan menyebabkan hemolisis. Selain itu, pengenceran darah juga memaksa tubuh untuk melepaskan ion kalium dari serabut jantung yang mengakibatkan ketidakseimbangan ion yang menyebabkan fibrilasi ventrikel dan penurunan tekanan darah yang dapat berujung kematian dalam 5 menit akibat anoksia otak. Berbeda halnya dengan korban yang tenggelam dalam air asin, dimana korban mengalami hemokonsentrasi karena konsentrasi elektrolit air asin lebih tinggi dari konsentrasi elektrolit darah sehingga air akan ditarik dari sirkulasi pulmoner ke interstitial paru yang menyebabkan edema pulmoner, hipovolemi, kenaikan kadar magnesium dalam darah, payah jantung dan kematian dalam 8-9 menit1. Insiden paling banyak terjadi pada negara berkembang, terutama pada anak-anak berumur kurang dari 5 tahun. Selain umur, faktor resiko lain yang berkontribusi meningkatkan terjadinya kasus tenggelam di antaranya jenis kelamin terutama laki- laki yang memiliki angka kematian dua kali lipat terhadap perempuan, penggunaan alkohol atau penyalahgunaan obat pada 50% kasus yang melibatkan remaja maupun dewasa, anak-anak tanpa pengawasan saat berada di air, perburukan dari kondisi medis sebelumnya (kejang, sakit jantung, pingsan), dan percobaan bunuh diri 3.
LAPORAN KASUS
Seorang jenazah laki-laki dikirim oleh penyidik disertai dengan Surat Permintaan Visum et Repertum ke Rumah Sakit Umum Daerah Brebes di Jalan Jendral Sudirman Nomor 181, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah pada hari Kamis tanggal 8 Oktober 2020. Ditemukan jenazah seorang laki-laki dengan luka akibat kekerasan tumpul di kepala yang menyebabkan patah tulang basis cranii kanan dan kiri, serta ditemukan tanda-tanda tenggelam.
Korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Brebes pada tanggal 8 Oktober 2020 pukul 15.00 WIB . Korban meninggal dunia diduga akibat tenggelam. Kemudian dilakukan otopsi berupa pemeriksaan luar dan dalam pada jenazah setelah diterima atas izin penyidik ( Gambar 1 ).
Gambar 1. Keadaan umum jenazah
Pada pemeriksaan luar ditemukan data sebagai berikut: Seorang jenazah laki-laki, panjang badan 162 cm, warna kulit tak dapat dinilai, rambut warna hitam lurus pendek dan tidak ada cacat fisik.
Didapatkan 10 buah tato pada tubuh korban. Pada kepala, di daerah berambut ditemukan tanda- tanda pembusukan dan telur lalat pada rambut kepala sisi belakang. Pada bagian wajah terdapat tanda-tanda pembusukan ( Gambar 2 ).
Gambar 2. Tanda pembusukan pada wajah
Pada leher, bahu, dada, punggung, pinggang, perut, bokong, dan anus tidak ada tanda-tanda kekerasan. Lingkaran dubur dan liang dubur melemas. Pada anggota gerak atas kanan dan kiri didapatkan temuan bahwa telapak tangan tampak basah dan keriput, kuku dan jaringan di bawah kuku tampak biru gelap. Pada anggota gerak bawah kanan dan kiri didapatkan temuan bahwa telapak kaki tampak basah dan keriput, ujung jari kaki dan jaringan bawah kuku tampak pucat. (Gambar 3)
Gambar 3. Telapak kaki basah dan keriput
Pada alis mata terdapat tanda pembusukan berupa telur lalat di kedua alis. Kelopak mata tampak pucat, tidak ada tanda kekerasan. Selaput bening mata tampak keruh. Bibir berwarna
pucat, tidak ada tanda kekerasan. Selaput lendir mulut tampak kebiruan. Pada kantung pelir terdapat dua buah biji pelir dalam kantung pelir, tampak menggembung.
Pada pemeriksaan dalam ditemukan data sebagai berikut :
Pada kulit kepala bagian dalam terdapat resapan darah pada kulit bagian dalam semua sisi dengan ukuran panjang dua puluh sembilan sentimeter dan lebar dua puluh sentimeter (Gambar 4)
Gambar 4. Resapan darah pada kulit kepala bagian dalam
Otot kepala tidak ada kelainan. Pada tulang tengkorak terdapat patah tulang pada basis cranii kanan dengan ukuran panjang empat sentimeter dan lebar tiga sentimeter (Gambar 5)
Gambar 5. Patah tulang basis cranii kanan
Terdapat patah tulang pada basis cranii kiri dengan ukuran panjang lima sentimeter dan lebar dua sentimeter Selaput otak tidak ada kelainan. Otak tampak membubur (Gambar 6). Leher bagian dalam tidak ada kelainan. Pada tulang dada, kulit dada, tulang-tulang iga, dan dinding dada tidak ada kelainan.
Gambar 6. Patah tulang basis cranii kiri
Paru kanan terdiri dari tiga bagian, permukaan licin, perabaan seperti spons, tidak tampak bintik kehitaman, dengan berat lima ratus empat puluh delapan gram, dengan ukuran panjang dua puluh satu sentimeter, lebar dua belas sentimeter, tinggi dua sentimeter. Paru kiri terdiri dari dua bagian, permukaan licin, perabaan seperti spons, tidak tampak bintik kehitaman, dengan berat tiga ratus sembilan puluh tujuh gram, dengan ukuran panjang tujuh belas sentimeter, lebar dua belas sentimeter, tinggi tiga sentimeter. Selaput pembungkus paru berwarna merah tua. Berat jantung dua ratus sembilan puluh lima gram dengan ukuran panjang tiga belas sentimeter, lebar sebelas sentimeter, tinggi tiga sentimeter, panjang lintang katup kanan tiga belas sentimeter, jumlah katup tiga, tebal otot nol koma lima sentimeter, panjang jantung lingkar katup kiri sepuluh sentimeter, tebal jantung kiri satu sentimeter, panjang katup aorta enam sentimeter, cairan kandung jantung kering. Tidak terdapat massa pada bilik kanan dan bilik kiri.
Pada rongga perut didapatkan hasil pemeriksaan berupa kulit perut bagian dalam, rongga perut, tirai usus, usus besar, usus halus tidak ada kelainan. Hati berwarna mozaik, permukaan licin, perabaan kenyal, berat seribu dua ratus empat puluh satu gram, dengan ukuran panjang dua puluh dua sentimeter, lebar tujuh belas sentimeter, tinggi lima sentimeter pada pengirisan warna coklat kehitaman. Limpa memiliki berat dua puluh tujuh gram, panjang sebelas sentimeter, lebar dua koma lima sentimeter, tinggi dua sentimeter, pada pengirisan tidak ditemukan kelainan.
Lambung kosong dengan ukuran panjang lingkar besar tiga puluh tujuh sentimeter, panjang lingkar kecil sebelas sentimeter, berat seratus delapan puluh satu.
Ginjal kanan berwarna merah kecoklatan, konsistensi kenyal, tampak, simpai mudah dilepas. Ukuran ginjal panjang sebelas sentimeter, lebar tujuh sentimeter, berat tujuh puluh lima, pada pengirisan tidak terdapat kelainan. Ginjal kiri berwarna merah kecoklatan, konsistensi kenyal, simpai mudah dilepas. Ukuran ginjal panjang sebelas sentimeter, berat sembilan puluh delapan gram, lebar delapan sentimeter, pada pengirisan tidak terdapat kelainan. Kandung kemih tidak ada kelainan. Dilakukan pemeriksaan tambahan berupa pengambilan sampel organ berupa hati, resapan otot kepala, apeks jantung, ginjal kiri, ginjal kanan, paru, limpa, dan otot dada untuk dilakukan pemeriksaan patologi anatomi.
Dari hasil pemeriksaan didapatkan kesimpulan, jenazah seorang laki-laki, umur diantara 20 tahun sampai 30 tahun. Didapatkan tanda-tanda pembusukan, tanda-tanda kekerasan tumpul
di kepala yang menyebabkan patah tulang basis cranii kanan dan kiri dan ditemukan tanda-tanda tenggelam. Sebab kematian diduga karena tenggelam.
DISKUSI
Tenggelam (drowning) adalah proses terjadinya gagguan pernapasan akibat jalan napas terendam air (submersion) atau terguyur di seluruh wajah (immersion). Pada kejadian tenggelam dapat menyebabkan terjadinya komplikasi pada korban tenggelam yang selamat dapat terjadi komplikasi acute respiratory distress syndrome (ARDS), pneumonia (12%), kerusakan neurologis permanen, sepsis, koagulasi intravascular diseminata (KID). Korban dengan gangguan pernapasan merupakan keadaan darurat yang sesegera mungkin diberikan pertolongan.
Gangguan pernapasan dimana ketidakmampuan sistem pernapasan untuk mempertahankan oksigen dengan normal, akibat penumpukan cairan pada paru-paru, terjadinya infeksi serta perdarahan menurut riset yang dibuktikan hal tersebut yang mengakibatkan terjadinya penurunan kesadaran pada korban tenggelam bahkan terjadi kematian. Hasil pemeriksaan medik dari otopsi pada kasus tersebut didapatkan tanda-tanda tenggelam, tanda- tanda pembusukan, dan tanda- tanda kekerasan tumpul yang menyebabkan patah tulang basis cranii kanan dan kiri . Sebab kematian adalah asfiksia karena tenggelam. Menurut pengertiannya sendiri, seseorang dikatakan tenggelam apabila lubang hidung dan mulut berada di bawah permukaan air. Jumlah air yang mematikan jika dihirup oleh paru-paru orang dewasa sekitar 2 liter. Kematian pada peristiwa tenggelam dapat disebabkan oleh2:
1. Vagal reflek, disebut juga tenggelam kering (dry drowning) dikarenakan pada saat pemeriksaan post mortem tidak ditemukan adanya tanda-tanda asfiksia ataupun air dalam paru-paru.
2. Spasme laring, disebabkan karena rangsangan air yang masuk ke laring. Pada pemeriksaan post mortem biasa ditemukan tanda-tanda asfiksia, tetapi paru-paru tidak terisi air. Kematian akibat spasme laring ini sangat jarang terjadi.
3. Pengaruh air yang masuk ke dalam paru, jika korban tenggelam di air tawar maka akan terjadi anoksia, hemodilusi dan hemolisis disertai gangguan elektrolit, sedangkan jika di air asin akan menyebabkan anoksia dan hemokonsentrasi tanpa gangguan elektrolit. Pada pemeriksaan post mortem akan ditemukan tanda-tanda asfiksia, buih, dan benda-benda air pada paru-paru.
Pada kelainan post mortem akibat tenggelam, biasanya ditemukan tanda-tanda berikut:
1. Pemeriksaan luar, pada pemeriksaan luar biasanya ditemukan pakaian basah dan kadang disertai lumpur, kulit basah, keriput, dan kadang seperti kulit angsa, washer woman hands, lebam mayat terutama pada kepala dan leher, tanda-tanda asfiksia, cadaveric spasm, dan buih halus yang merupakan petunjuk kuat dari peristiwa tenggelam
2. Pemeriksaan dalam, ditemukan buih pada saluran napas, paru-paru membesar dan pucat, lebih berat dan basah dibandingkan dengan paru-paru penderita asma, terdapat gambaran marmer dan akan keluar buih pada pengirisan (emphysema aquosum), ditemukan air, butir- butir pasir dan algae di dalam lambung dan esofagus dan bercak-bercak hemolisis pada dinding aorta apabila terjadi hemolisis.
Temuan pemeriksaan luar dalam kasus kematian akibat tenggelam bervariasi. Beberapa temuan hanyalah indikasi durasi perendaman dimana telah terjadi kontak dengan air dalam waktu yang cukup menyebabkan perubahan yang terlihat. Karakteristik interval submersi post mortem (PMSI) seperti suhu dan arus air, waktu yang telah berlalu antara pemulihan dan otopsi, intervensi medis, dan waktu bertahan hidup di rumah sakit merupakan faktor yang mempengaruhi apa yang mungkin terlihat atau tidak pada saat dokter forensik melakukan pemeriksaan. Semakin lama PMSI, temuan akan semakin kurang menonjol atau berpotensi lebih membingungkan pada saat otopsi dilakukan.7
Termoneutral adalah istilah untuk suhu air di mana kehilangan panas sama dengan produksi panas. Kebanyakan peristiwa tenggelam pada air panas, terjadi di air suhu di bawah titik termoneutralitas, yaitu 35 ° C + 0,5. Namun, beberapa kasus tenggelam terjadi di bak air panas, sambil menuangkan air panas di atas kepala, atau selama menyelam atau pertandingan berenang di air hangat. Di sisi lain, kasus tenggelam terjadi di air yang lebih dingin dari suhu termoneutral, sehingga tubuh memulai respons fisiologis yang terkait dengan pendinginan.
Dalam air dingin, respon yang bertindak sebagai prekursor tenggelam disebabkan oleh pendinginan kulit (syok dingin), kemudian pendinginan saraf dan otot superfisial masuk anggota badan, dan akhirnya mendinginkan jaringan tubuh bagian dalam (hipotermia). Air yang dihirup masuk ke paru-paru di alveolar ruang yang merusak surfaktan yang menyebabkan edema daerah paru dengan transudasi cairan protein di ruang alveolar. Hal ini menyebabkan hipoksemia sekunder akibat non-oksigenasi darah mengalir melalui bagian paru-paru yang kurang ventilasi.
Untuk mengetahui penyebab kematian pada jenazah yang ditemukan di air tersebut menantang.
Hanya setelah penyelidikan kematian menyeluruh dan otopsi lengkap, ahli patologi menyatakan kematian sebagai makhluk hidup dari asfiksia karena tenggelam, karena merupakan diagnosis pengecualian. Namun meskipun utilitas terbukti dari file otopsi untuk prosedur medis dan peradilan, prosedurnya jarang diminta bahkan ketika diindikasikan.9 Kehadiran plankton menunjukkan bahwa ketika cairan yang tenggelam memenuhi paru-paru, aktivitas kardiosirkulasi efektif, memungkinkan pengangkutan bahan ini, melalui sirkulasi darah, ke dalam organ dalam.
Penemuan diatom hanya di paru-paru memiliki nilai diagnostik yang kecil karena air beserta diatomnya dapat secara pasif masuk ke saluran udara selama jenazah tenggelam. Oleh karena itu, harus ditekankan bahwa untuk diagnosis kematian karena tenggelam, jumlah plankton yang ditemukan di organ dan organ.10 Pada korban sendiri ditemukan kedua telapak tangan dan kaki tampak basah, keriput, kuku dan jaringan di bawah kuku tampak pucat yang menunjukkan adanya peristiwa tenggelam.Pada korban juga ditemukan kekerasan akibat benda tumpul yang mengakibatkan patah tulang basis cranii kanan dan kiri. Patah tulang basis cranii merupakan sebuah fraktur linier yang terjadi pada dasar tulang tengkorak.8 Fraktur pada tulang tengkorak berhubungan dengan perdarahan pada otak, dimana perdarahan sebanyak 35-100 mL dapat mengakibatkan gangguan neurologis yang dapat menyebabkan kejadian fatal 5. Pada korban, perdarahan otak tidak dapat dinilai akibat keadaan otak yang sudah membubur. Kekerasan tumpul sendiri dapat menyebabkan berbagai macam jenis luka, diantaranya:
1. Memar (kontusi), kerusakan jaringan tanpa disertai diskontinuitas permukaan kulit. Memar ditandai dengan bentuk yang tidak beraturan, batas tidak tegas, warna merah kebiruan, setelah 4-5 hari menjadi kuning kehijauan dan ≥ 7 hari akan tampak kekuningan.
2. Luka Lecet (abrasi), rusaknya lapisan luar kulit yang ditandai dengan bentuk tidak teratur, batas luka tidak teratur, tepi tidak teratur, kadang disertai sedikit perdarahan, permukaan luka tertutup oleh krusta, warna coklat kemerahan, dan tampak bagian yang masih ditutupi epitel dan reaksi jaringan pada pemeriksaan mikroskopis.
3. Luka robek (laserasi), disebabkan karena kontak dengan benda tumpul dengan kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan di bawahnya yang ditandai dengan batas luka tidak teratur, tepi luka tidak rata, bila kedua tepi ditautkan tidak bias membentuk garis lurus, tebing luka tidak rata dan kadang disertai jembatan jaringan, terdapat memar sekitar batas luka, lokasi pada daerah yang dekat dengan tulang.
Pembusukan (dekomposisi) terbentuk oleh dua proses yaitu autolisis (penghancuran sel dan organ oleh enzim intraseluler) dan putrefaction (disebabkan oleh bakteri dan fermentasi).
Dimana hal tersebut akan tampak kira-kira 24 jam pasca kematian, berupa warna kehijauan pada perut kanan bawah, secara bertahap akan menyebar ke seluruh perut dan dada serta menimbulkan bau busuk. Menurut hukum Casper, media tempat mayat berada juga berperan dalam proses pembusukan. Perbandingan kecepatan pembusukan mayat yang berada dalam udara, air, dan tanah adalah 1:2:8.1,6 Pada korban tanda pembusukan yang ditemukan berupa kulit berwarna kehijauan dari bagian dada sampai paha, kulit ari terkelupas, rambut mudah dicabut, wajah menggembung, bibir tebal, serta ditemukan telur lalat pada belakang kepala.
KESIMPULAN
Hasil laporan kasus yang didapatkan cukup menarik. Data yang diketahui terdapat tanda-tanda tenggelam dan pembusukan serta patah tulang basis cranii. Berdasarkan data-data tersebut, korban diduga meninggal dunia akibat tenggelam. Penelitian tentang kematian akibat tenggelam perlu diteliti lebih lanjut lagi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Budiyanto, A. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2. Dahlan, S., Trisnadi, S., 2019. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum Edisi Ke-5. Cetakan Revisi. Semarang: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Univesitas Islam Sultan Agung.
3. World Health Organization. 2016. Drowning Section.
4. Usaputro R. Yulianti K. 2014. Karakteristik Serta Faktor Resiko Kematian Akibat Tenggelam Berdasarkan Data Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah 2010 – 2012. Vol 3 No 5 (2014):E-Jurnal Medika Udayana
5. Bardale, R. 2011. Principle of Forensic Medicine and Toxicology. New Delhi: Jaypee Brothers Medikal Publishers (P) LTD.
6. DiMaio DJ, DiMaio VJ. 2001. Forensic Pathology 2nd Edition. New York: CRC Press LLC.
7. Armstrong, Erskine. 2018. Investigation Of Drowning Deaths. Academic Forensic Pathology: The Official Publication Of The National Association Of Medical Examiners.
Academic Forensic Pathology International. Available from : www.afpjournal.com 8. Bierens J.L.M et al. 2016. Physiologi of Drowning : A Review. PHYSIOLOGY 31:
147–166, 2016. Published February 17, 2016; doi:10.1152/physiol.00002.2015
9. Sugatha M. Parwathi K. 2019. Analysis of Deaths due to Drowning – a Retrospective Study. Volume 6 Issue 4. Internationla Journal of Contemporary Medical Research.
10. Marella GL, et al. 2019. Diagnosis of drowning, an everlasting challenge in forensic medicine: review of the literature and proposal of a diagnostic algorithm.
DOI: 10.19193/0393-6384_2019_2_140. Available from :
https://www.researchgate.net/publication/332093281_Diagnosis_of_drowning_an_everl asting_challenge_in_forensic_medicine_review_of_the_literature_and_proposal_of_a_di agnostic_algorithm
PENENTUAN SEBAB KEMATIAN PADA KASUS TENGGELAM –
LAPORAN KASUS
Istiqomah 1 , Setyo Trisnadi 2 , Maryono 2 , Dian Novitasari 2
1 Departemen Forensik dan Medikolegal, Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
2 Departemen Forensik dan Medikolegal, Fakultas Kedokteran,
Universitas Islam Sultan Agung Semarang
PENDAHULUAN
Pada tenggelam, seluruh tubuh tidak harus berada di dalam air Drowning atau tenggelam
merupakan kondisi mati lemas karena asfiksia
Terjadi akibat masuknya cairan ke dalam saluran
pernapasan
Pengertian terbaru dari World Health Organization (WHO) tahun 2002
--- Tenggelam merupakan suatu proses kejadian gangguan pernapasan
akibat perendaman (submersion) atau pencelupan (immersion) dalam cairan.
PENDAHULUAN
Tenggelam merupakan penyebab kematian ketiga pada anak-anak, terutama <5 tahun
90% kematian karena
tenggelam terjadi di negara berkembang seperti
Indonesia.
ISTILAH DALAM TENGGELAM
Wet drowning
Keadaan dimana cairan masuk ke saluran napas setelah korban tenggelam
Dry drowning
Keadaan dimana cairan tidak masuk ke dalam saluran pernapasan dikarenakan spasme laring
Secondary drowning
Keadaan dimana korban meninggal setelah beberapa hari tenggelam (sudah diangkat dari air) dan mengalami
komplikasi
Immersion syndrome
Korban meninggal akibat refleks vagal setelah tenggelam
pada air dingin
Korban tenggelam --> air tawar dan air asin
Air tawar
- Absorbsi cairan yang massif - Konsentrasi elektrolit lebih
rendah daripada konsentrasi darah - Pada tubuh terjadi hemodelusi - Air masuk ke kapiler alveoli dan menyebabkan hemolisis.
- Tubuh melepaskan ion kalium dari serabut jantung fibrilasi ventrikel dan penurunan tekanan darah kematian dalam 5 menit
Air asin
- Terjadi hemokonsentrasi
konsentrasi elektrolit air asin lebih tinggi dari darah - Air ditarik dari sirkulasi pulmoner ke interstitial paru
- Terjadi edema pulmoner, hipovolemi, kenaikan kadar magnesium dalam darah, payah jantung dan
kematian dalam 8-9 menit.
FAKTOR RESIKO
Anak-anak <5 tahun
Jenis kelamin laki-laki
Penggunaan
alkohol Penyalahgunaan obat
Anak-anak tanpa pengawasan saat
berada di air
Riwayat kondisi medis sebelumnya
(kejang, sakit jantung, pingsan)
Percobaan bunuh
diri
LAPORAN KASUS
Seorang jenazah laki-laki dikirim oleh penyidik disertai dengan Surat Permintaan Visum et
Repertum dilakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Umum Daerah Brebes pada hari Kamis tanggal 8 Oktober 2020.
• Jenazah seorang laki-laki dengan luka akibat kekerasan tumpul di kepala yang menyebabkan patah tulang basis cranii kanan dan kiri
• Terdapat tanda-tanda tenggelam.
• Korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Brebes pada tanggal 8 Oktober 2020 pukul 15.00 WIB .
• Korban meninggal dunia diduga akibat tenggelam.
LAPORAN KASUS
Gambar 1. Keadaan umum jenazah
PEMERIKSAAN LUAR
Seorang jenazah laki-
laki
Panjang badan 162 cm
Warna kulit tak dapat
dinilai Rambut warna
hitam lurus pendek
Tidak ada cacat fisik.
Didapatkan 10 buah tato pada
tubuh korban.
PEMERIKSAAN LUAR
PEMERIKSAAN LUAR
• kepala, di daerah berambut ditemukan tanda pembusukan dan telur lalat pada rambut kepala sisi belakang.
• wajah terdapat tanda pembusukan
• leher, bahu, dada, punggung, pinggang, perut, bokong, dan anus tidak ada kekerasan.
• Lingkaran dubur dan liang dubur melemas.
Gambar 2. Tanda pembusukan pada wajah
PEMERIKSAAN LUAR
• anggota gerak atas kanan dan kiri telapak tangan tampak basah dan keriput, kuku dan jaringan di bawah kuku tampak biru gelap.
• anggota gerak bawah kanan dan kiri telapak kaki tampak basah dan keriput, ujung jari kaki dan jaringan bawah kuku tampak pucat.
Gambar 3. Telapak kaki basah dan keriput
PEMERIKSAAN LUAR
• Alis mata terdapat tanda pembusukan berupa telur lalat di kedua alis.
• Kelopak mata pucat, tidak ada tanda kekerasan.
• Selaput bening mata tampak keruh.
• Bibir berwarna pucat, tidak ada tanda kekerasan.
• Selaput lendir mulut tampak kebiruan.
• Kantung pelir terdapat dua buah biji pelir dalam kantung pelir, tampak menggembung.
PEMERIKSAAN LUAR
PEMERIKSAAN DALAM
Kulit kepala bagian dalam terdapat resapan darah pada kulit bagian dalam semua sisi dengan ukuran panjang dua puluh
sembilan sentimeter dan lebar dua puluh sentimeter
Gambar 4. Resapan darah pada kulit kepala bagian dalam
PEMERIKSAAN DALAM
• Otot kepala tidak ada kelainan.
• Tulang tengkorak terdapat patah tulang pada basis cranii kanan dengan ukuran panjang empat sentimeter dan lebar tiga sentimeter
Gambar 5. Patah tulang basis cranii kanan
PEMERIKSAAN DALAM
• Terdapat patah tulang pada basis cranii kiri dengan ukuran panjang lima sentimeter dan lebar dua sentimeter
• Selaput otak tidak ada kelainan.
• Otak tampak membubur
Gambar 5. Patah tulang basis cranii kiri
PEMERIKSAAN DALAM
• Leher bagian dalam tidak ada kelainan.
• Pada tulang dada, kulit dada, tulang-tulang iga, dan dinding dada tidak ada kelainan.
PEMERIKSAAN DALAM
• Paru kanan terdiri dari tiga bagian, permukaan licin, perabaan seperti spons, tidak tampak bintik kehitaman, dengan berat 548 gram, panjang 21 cm, lebar 12 cm, tinggi 2 cm.
• Paru kiri terdiri dari dua bagian, permukaan licin, perabaan seperti spons, tidak tampak bintik kehitaman, dengan berat 397 gram, panjang 17 cm, lebar 12 cm, tinggi 3 cm.
• Selaput pembungkus paru berwarna merah tua.
PEMERIKSAAN DALAM
• Ginjal kanan berwarna merah kecoklatan, konsistensi kenyal, tampak, simpai mudah dilepas. Ukuran ginjal panjang 11 cm, lebar 7 cm, berat 75 gram, pada pengirisan tidak terdapat kelainan.
• Ginjal kiri berwarna merah kecoklatan, konsistensi kenyal, simpai mudah dilepas.
Ukuran ginjal panjang 11 cm, berat sembilan 98 gram, lebar 8 cm, pada pengirisan tidak terdapat kelainan.
• Kandung kemih tidak ada kelainan.
• Dilakukan pemeriksaan tambahan berupa pengambilan sampel organ berupa hati,
resapan otot kepala, apeks jantung, ginjal kiri, ginjal kanan, paru, limpa, dan otot
dada untuk dilakukan pemeriksaan patologi anatomi.
DISIMPULKAN
• Jenazah seorang laki-laki, umur diantara 20- 30 tahun.
• Didapatkan tanda-tanda pembusukan
• Tanda-tanda kekerasan tumpul di kepala yang menyebabkan patah tulang basis cranii kanan dan kiri
• Ditemukan tanda-tanda tenggelam.
• Sebab kematian diduga karena tenggelam.
DISKUSI
Komplikasi tenggelam
• Acute respiratory distress syndrome (ARDS)
• Pneumonia (12%)
• Kerusakan neurologis permanen
• Sepsis
• Koagulasi intravascular diseminata (KID)
• Penurunan kesadaran
• Kematian.
Hasil pemeriksaan medik dari otopsi
pada kasus
Tanda-tanda tenggelam,
Tanda- tanda pembusukan
Tanda-tanda kekerasan tumpul
Menyebabkan patah tulang basis cranii kanan dan kiri SEBAB KEMATIAN
ADALAH ASFIKSIA
KARENA TENGGELAM.
DISKUSI
Penyebab kematian pada tenggelam
1. Vagal reflek 2. Spasme laring
3. Pengaruh air yang masuk ke dalam paru
Vagal reflek disebut juga tenggelam kering (dry drowning)
Pada pemeriksaan post mortem tidak ditemukan tanda-tanda asfiksia ataupun air dalam paru-paru.
Spasme laring disebabkan karena rangsangan air yang masuk ke laring.
Pada pemeriksaan post mortem ditemukan tanda-tanda asfiksia, tetapi paru- paru tidak terisi air.
Kematian akibat spasme laring ini sangat jarang terjadi.
Pengaruh air yang masuk ke dalam paru
air tawar --> anoksia, hemodilusi dan hemolisis disertai gangguan elektrolit, air asin --> anoksia dan hemokonsentrasi tanpa gangguan elektrolit.
Pada pemeriksaan post mortem akan ditemukan tanda-tanda asfiksia, buih,
dan benda-benda air pada paru-paru.
DISKUSI
Temuan pada pemeriksaan
• Temuan pemeriksaan luar dalam kasus kematian akibat tenggelam bervariasi
• Dipengaruhi oleh karakteristik interval submersi post mortem (PMSI) seperti suhu dan arus air, waktu yang telah berlalu antara pemulihan dan otopsi, intervensi medis, dan waktu bertahan hidup di rumah sakit
• Semakin lama PMSI, temuan akan semakin kurang menonjol
Pemeriksaan
luar Pakaian basah disertai lumpur, kulit basah, keriput, dan kadang seperti kulit angsa, washer woman hands, lebam mayat terutama pada kepala dan leher, tanda-tanda
asfiksia, cadaveric spasm, dan buih halus yang merupakan petunjuk kuat dari peristiwa tenggelam
Pemeriksaan
dalam, Buih pada saluran napas, paru-paru membesar dan pucat,
lebih berat dan basah, terdapat gambaran marmer dan
emphysema aquosum, ditemukan air, butir-butir pasir dan
algae di dalam lambung dan esofagus dan bercak-bercak
hemolisis pada dinding aorta apabila terjadi hemolisis.
DISKUSI
Temuan pada pemeriksaan
• Pada korban ditemukan kedua telapak tangan dan kaki tampak basah, keriput, kuku dan jaringan di bawah kuku tampak pucat.
Air yang dihirup masuk ke paru-paru
di ruang alveolar Merusak surfaktan
Edema paru dengan transudasi cairan
protein di ruang alveolar.
Hipoksemia
sekunder
DISKUSI
Temuan pada pemeriksaan
• Pada korban juga ditemukan kekerasan akibat benda tumpul yang mengakibatkan patah tulang basis cranii kanan dan kiri.
• Pada korban, perdarahan otak tidak dapat dinilai akibat keadaan otak yang sudah membubur.
Fraktur pada tulang tengkorak
berhubungan dengan perdarahan pada otak
Perdarahan sebanyak 35-100 mL dapat
mengakibatkan gangguan neurologis
LUKA AKIBAT KEKERASAN
TUMPUL
• Memar (kontusi), kerusakan jaringan tanpa disertai diskontinuitas permukaan kulit. Memar ditandai dengan bentuk yang tidak beraturan, batas tidak tegas, warna merah kebiruan, setelah 4-5 hari
menjadi kuning kehijauan dan ≥ 7 hari akan tampak kekuningan.
• Luka Lecet (abrasi), rusaknya lapisan luar kulit, ditandai dengan bentuk, batas, dan tepi tidak teratur, kadang disertai sedikit perdarahan,
permukaan luka tertutup oleh krusta, warna coklat kemerahan, dan tampak bagian yang masih
ditutupi epitel dan reaksi jaringan pada pemeriksaan mikroskopis.
• Luka robek (laserasi), robekkan seluruh lapisan
kulit dan jaringan di bawahnya, batas luka tidak
teratur, tepi luka tidak rata, tebing luka tidak rata,
kadang disertai jembatan jaringan, terdapat memar
sekitar batas luka, lokasi pada daerah yang dekat
dengan tulang.
PEMBUSUKKAN / DEKOMPOSISI
• Terbentuk oleh dua proses
• Autolisis (penghancuran sel dan organ oleh enzim intraseluler)
• Putrefaction (disebabkan oleh bakteri dan fermentasi).
• Tampak dalam 24 jam pasca kematian, berupa warna kehijauan pada perut kanan bawah, menyebar ke seluruh perut dan dada,
menimbulkan bau busuk.
• Dipengaruhi oleh media
• Udara, air, dan tanah 1:2:8.
Tanda pembusukan pada korban kulit
kehijauan dari bagian dada sampai paha, kulit ari
terkelupas, rambut mudah dicabut, wajah
menggembung, bibir tebal, serta ditemukan telur
lalat pada belakang kepala.
KESIMPULAN
• didapatkan tanda-tanda
tenggelam dan pembusukan serta patah tulang basis cranii.
• diduga meninggal dunia akibat
tenggelam.
DAFTAR PUSTAKA
•
Budiyanto, A. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
•
Dahlan, S., Trisnadi, S., 2019. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum Edisi Ke-5.
Cetakan Revisi. Semarang: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Univesitas Islam Sultan Agung.
• World Health Organization. 2016. Drowning Section.
•
Usaputro R. Yulianti K. 2014. Karakteristik Serta Faktor Resiko Kematian Akibat Tenggelam Berdasarkan Data Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah 2010 – 2012. VOL 3 NO 5 (2014):E-JURNAL
MEDIKA UDAYANA•
Bardale, R. 2011. Principle of Forensic Medicine and Toxicology. New Delhi: Jaypee Brothers Medikal Publishers (P) LTD.
•
DiMaio DJ, DiMaio VJ. 2001. Forensic Pathology 2
nd Edition. New York: CRC Press LLC.•
Armstrong, Erskine. 2018. Investigation Of Drowning Deaths. Academic Forensic Pathology: The Official Publication Of The National Association Of Medical Examiners. Academic Forensic Pathology International.
Available from : www.afpjournal.com
•
Bierens J.L.M et al. 2016. Physiologi of Drowning : A Review. PHYSIOLOGY 31: 147–166, 2016. Published February 17, 2016; doi:10.1152/physiol.00002.2015
•
Sugatha M. Parwathi K. 2019. Analysis of Deaths due to Drowning – a Retrospective Study. Volume 6 Issue 4.
Internationla Journal of Contemporary Medical Research.
•
Marella GL, et al. 2019. Diagnosis of drowning, an everlasting challenge in forensic medicine: review of the
literature and proposal of a diagnostic algorithm. DOI:
10.19193/0393-6384_2019_2_140. Available from :https://www.researchgate.net/publication/332093281_Diagnosis_of_drowning_an_everlasting_challenge_in_f
orensic_medicine_review_of_the_literature_and_proposal_of_a_diagnostic_algorithm