• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cerita dari Kehidupan Seekor Kucing

N/A
N/A
Naean Gold

Academic year: 2025

Membagikan "Cerita dari Kehidupan Seekor Kucing"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Cat Diaries:

Wagahai wa Tada no Neko de wa Nai!

Ya, seperti yang sudah kalian semua ketahui, namaku Reus, dan aku adalah kucing peliharaan Geru. Tugas yang kuemban dari ibunya yang berkuasa hanyalah mengabdikan diri kepada Geru, dengan cara apapun. Di samping dari itu, hidupku sudah sangat mudah, terutama dibandingkan hidupku yang sebelumnya.

Makanan ikan mahal setiap saat, ruang bermain yang sangat luas, majikan yang cuek tapi perhatian, ditambah lagi lingkungan yang mewah sudah dengan mudahnya disediakan untukku.

Sangat jauh berbeda dari hidupku sebelumnya dimana aku harus menyediakan sendiri semua itu, ditambah dengan ketidakpuasan yang selalu menggunung karena terlalu bebasnya. Aku akhirnya mengerti kalau keterbatasan adalah berkah. Hanya orang gila yang mau-maunya mencari

kebebasan, mereka akan segera tersesat, seperti diriku yang dulu. Pada akhirnya, semuanya hanyalah tentang aturan-aturan yang cocok di lidah kita saja. Mereka yang mengusung

kebebasan pun pada akhirnya akan mengikatkan dirinya kepada aturan-aturan buatannya sendiri.

Lihat, tidak bebas, kan?

Tugas sehari-hariku sangat mudah, dan berlimpah. Pada malam hari, aku akan menggelung diri di dalam selimut salah satu tuanku atau pun teman-temannya, walau ada satu makhluk jelek yang tidak berhak sama sekali untuk kumanjakan. Lalu pada pagi harinya, aku akan tetap

bergelung di kasur itu sampai tuanku bangun, dan turun untuk latihan paginya. Setelah beberapa saat, aku akan turun ke ruang perjamuan untuk makan bersama dengan tuanku dan

‘keluarga’nya.

Setelah itu, tugasku yang tersisa hanyalah mengantarkan tuanku berangkat sekolah maupun menyambutnya pulang sekolah, dan sisanya adalah waktunya bagiku untuk hidup. Selama enam jam lebih tuanku bersekolah, aku bebas mau melakukan apa maupun pergi ke mana. Rumah tuanku ini membentang lebih luas daripada batas imajinasi kucing biasa.

Terkadang aku akan ingin berlari kencang melintasi taman dan menerobos sesemakan.

Terkadang aku akan pada mood ingin memanjati pohon-pohon besar di halaman, duduk angkuh di dahannya bagaikan leluhurku macan pemangsa burung raksasa ratusan tahun lalu. Terkadang aku juga ada di suasana ingin berburu burung-burung yang juga diidamkan si makhluk,

menyambar mereka dengan mudah dari dahan tempat mereka hinggap.

Terkadang aku juga akan memancing, merasakan sendiri rasanya menangkap ikan langsung dari dalam air, meniru nenek moyangku yang lain dari laut atau sungai. Setelahnya, aku akan

(2)

segera bermandi pasir dari bak nya, bak pasir mandi khusus untuk diriku seorang. Bau amisnya memang masih akan menempel, tapi jauh berkurang. Sisanya tinggal membuang tulang ikan hasil tangkapanku itu di tempat sampah, dan segalanya akan beres. Ikan di rumah ini sangatlah banyak, mereka berkembang biak dengan pesat sejak pertama kali beberapa ekor dari mereka dilepaskan. Sangat banyak, sampai-sampai setiap kali panen tuan-nonanya yang lain, Leonard dan Berry akan terpaksa membagikannya kepada tetangga (meski terpisah beberapa ratus meter), ataupun menyajikannya sepanjang hari. Mereka malah akan merasa terbantu jika aku

menangkapi mereka.

Namun biasanya, aku akan berada pada suasana ingin tidur sepanjang hari. Di atas pohon yang sejuk dan berkuasa, di atas atap rumah yang cukup hangat sampai siang harinya menyengat, di lantai marmer yang sejuk dan nyaman, diantara semak-semak yang liar dan harum, di

perabotan rumah yang hangat dan nyaman, maupun di keranjang tidurku seperti kucing baik biasanya. Pokoknya, selama masih di dalam tembok Wisma, semuanya adalah taman bermainku.

Lagipula, aku tahu betul kalau aku lebih baik untuk tidak mencoba memanjat tembok luar Wisma. Di bagian atasnya, ada kawat berduri yang mampu menyengatkan listrik tegangan tinggi, cukup untuk membuat tubuhmu pingsan kaku dan terjun bebas ke bawah. Pernah ada maling bodoh yang mencoba memotong kawat itu, tapi bodohnya tetap menyenggolnya dan akhirnya terjatuh ke kolam ikan di luar tembok setelah bergelotakan di selusur luar. Kasihan, meskipun satpam segera sampai dalam beberapa menit, dia sudah nyaris tewas tenggelam dengan kaki patah sebelah.

Yah, bahkan tanpa semua itu pun, siapa juga yang mau memanjat tembok setinggi lima meter lebih begitu? Hanya manusia dan monyetlah yang cukup tolol dan sombong untuk melakukan itu.

Pada saat matahari sudah mulai condong ke barat, sudah saatnya bagiku untuk bangun. Aku akan berada di pintu depan rumah untuk menyambut kepulangannya dari sekolah. Pada saat itu, aku akan membiarkannya untuk mengelus-elus kepalaku sedikit.

Sering, tuan mudaku itu juga akan membawa serta teman-temannya untuk menginap maupun hanya mampir. Yah, kalau sudah punya rumah semewah ini, untuk apa pula nongkrong di tempat lain, kan? Pada saat itulah tugasku akan meningkat. Aku akan berada di sekitar mereka selaa mereka bermain-main bersama. Ya, aku mendengar banyak sekali hal-hal tentang mereka selama itu. Mereka jelas tidak akan bisa menduga kalau aku bisa mengerti percakapan mereka, kan?

Sore harinya, adalah waktu belajar tuan mudaku. Entah itu dengan guru imporan mereka, atau mereka akan belajar sendiri dengan dibantu Nyonya Rathora dari seberang samudera sana.

Pada saat itu, aku kembali bebas lagi. Hidup yang enak dan mudah, kan?

(3)

Pada jam tujuh, aku kembali makan bersama keluarga tuan mudaku, dan kembali mereka akan pergi belajar, dengan aku menempel di sekitar mereka. Dan setelah itu, kembali lagi ke jam tidur. Kira-kira hanya begitu lah kehidupanku sehari-harinya.

***

Sebagai kucing orang kaya, tentu saja aku sering bepergian. Ke seberang samudera, melintasi benua, adalah hal yang biasa bagiku. Bahkan pernah aku diajak ikut ke Antartika.

Mengejar-ngejar pinguin asik juga waktu itu, huehehehehe. Tidak-tidak, aku tahu betul aku tidak boleh menangkap-makannya. Aku itu kucing yang baik dan pintar tahu? Aku hanya menakut- nakutinya sedikit, kok…

Tuan mudaku adalah anak yang sibuk. Sedikit-sedikit dia akan langsung meloncat ke negara mana untuk memimpin suatu apa, sedikit-sedikit lainnya lagi dia akan sampai di mana

melakukan suatu lomba apa. Dan tentunya, sebagai bagian dari keluarganya, aku, Leonard dan Nessie akan dengan setia ikut meloncat ke keranjang masing-masing untuk dibawa serta. (Itu hanya humor kucing, hei, humor kucing! Jangan anggap terlalu serius!)

Dan suatu hari, aku kembali diterbangkan ke seberang samudera, tapi kali ini tuan mudaku tidak ikut serta. Aku diterbangkan bersama dengan segudang lainnya barang-barang pribadi tuan mudaku, dibawa oleh perusahaan pindahan profesional, PT. Pintu Kemana Saja. Ya, itu adalah waktu saat tuan mudaku diculik oleh teroris.

Mereka adalah perusahaan yang sudah terbiasa mengangkut berbagai macam barang bahkan ke seberang samudera. Perusahaan pos tingkat internasional, deh. Aku pun tidak bisa

menemukan keluhan dari pelayanan yang mereka berikan. Yah, entahlah sih kalau dengan pelayanan mereka yang lebih murah, tapi ini cukup, lah. Walau masih lebih nyaman juga dibawa serta oleh tuan mudaku di pesawat kelas bisnis atau bahkan di pesawat pribadi keluarga, sih.

Seperti biasanya, aku kurang menyukai gagasan untuk kembali ke rumah utama. Bukan karena perjalanan panjangnya membuat stres, tapi karena di sana ada dua makhluk yang kurang kusukai.

Pertama tentunya adalah Rathora, ibu dari tuan mudaku dan juga penguasaku. Bukan-bukan, bukan berarti aku membencinya. Aku memiliki semua kewajiban untuk tunduk kepadanya, dan bukan berarti aku tidak menyukainya juga. Aku segan kepadanya, tapi rasanya hanya kurang enak saja kalau berada di sekitarnya… seperti hubungan antara direktur dengan karyawan biasa.

Bahkan meskipun si direktur memperlakukannya dengan ramah, si karyawan juga pastinya akan salah tingkah di sekitarnya. Yah, kecuali kalau karyawannya adalah orang tidak tahu diri yang serakah ingin mendapatkan muka, sih. Kira-kira begtu perasaanku kepada nyonya besarku.

Dan yang kedua, adalah kucing milik nyonyaku itu, Porevle. Makhluk sialan yang selalu mempermasalahkan ras kami dan berisik itu, aku sama sekali tidak menyukainya sedikit pun.

(4)

Kucing sombong sialan, selalu merendahkanku kapanpun dia bisa. Sialan, menjadi kucing pertama nyonyaku tidak membuatmu menjadi kucing terhebat, tahu? Dia hanya tidak tahu saja seberapa hebat diriku yang dahulu. Kalau sekarang sih, walau menyebalkan mengakuinya, dia memang jauh lebih kuat daripada diriku. Karena itulah aku tidak menyukainya, aku hanya bisa diam dan menganggapnya rendah dalam hatiku saja setiap kali diejek. Tidak memiliki

kemampuan sungguhan untuk melawan.

Untungnya, rumah utama keluarga tuan mudaku sangatlah luas. Bahkan meskipun di luar bersalju deras pun, tetap saja ada sangat banyak tempat untuk menghindar darinya, sekaligus cukup nyaman dan berkelas untuk bersantai. Di dalam kamar nona mudaku, contohnya. Dan karena sekarang tidak ada tuan muda yang harus kuhibur, aku bisa menghabiskan seluruh waktuku bermanja dengan nona mudaku itu.

Nona muda Piku adalah seorang gadis yang jatuh cinta. Tentu saja jelas, dia sedang jatuh cinta kepada tuan mudaku Geru. Hasil alami dari tumbuh besar bersama sebagai dua bintang terang dari keluarga ini, dibawah lingkungan dan pendidikan yang serupa. Sebaliknya, tuan mudaku bersikap pasif soal cinta. Dia menerima saja apa yang ditawarkan padanya. Baik itu pertunangannya dengan nona muda Berry maupun perhatian dari nona muda Piku, dia menerima semuanya tanpa mengeluh. Aku tidak memiliki hak apapun untuk mengomentari hal ini,

mengingat hidup lamaku yang liar dan beringas, dimana aku berpikir kalau pasangan-teman- rekan dan sejenisnya hanyalah calon musuh. Bawahan pun hanya tolak ukur kekuasaanku. Ya, pengalaman cintaku sendiri nol, jadi terserahlah.

Kurasa memang sudah menjadi rahasia umum kalau pertunangan antara nona Berry dan tuan Geru hanyalah cara bagi nyonya Rathora untuk membuat mereka menjadi lebih akrab, sebagai kakak dan adik. Cara yang aneh dan ekstrim memang, tapi ya begitulah. Toh sejak awal keluarga ini memang sudah terlalu ekstrim. Memang tidak selama Porevle, tapi aku juga sudah berada di keluarga ini cukup lama, bahkan lebih lama daripada tuan besarnya, Naean. Percaya saja, tidak ada yang normal dari keluarga ini.

Hubungan antara sang tunangan dan sepupu dari tuan Geru terbilang akrab. Bahkan, jika dibandingkan dengan hubungannya dengan ‘kakak-kakak’ keluarga ini. Dia mendukung sepenuhnya rasa cinta nona Piku kepada tuan Geru. Dia sudah siap mengundurkan diri dari sisi Geru segera setelah waktunya telah tiba.

Aduh, malah ngomongin apa aku ini. Menguping pembicaraan gadis itu tidak baik, kan.

Yang jelas, hubungan mereka berdua itu sangat akrab sampai-sampai hampir setiap hari mereka tidur di satu kamar, dengan nona Yume yang ikut sebagai tambahan. Aku memang jarang-jarang ikut masuk sih, tapi mereka tampak sangat bersenang-senang.

Dan sebaliknya, Porevle si bangs*t itu sering ikut-ikutan masuk ke dalam pesta piyama mereka. Dasar kucing rendahan, tahunya hanya nempel-nempel dengan perempuan saja.

Bagaimana bisa dia berani mengoceh tentang kelas rendah, ras rendah dan segala jenis kucing

(5)

kampung itu kepadaku saat sikapnya secacat itu? Aku benar-benar tidak habis pikir. Nilai seekor kucing itu diukur dari sikapnya. Kucing ras langka-mahal pun pastinya hanya akan dikurung di bak sampah kalau sikapnya buruk, kan? Yah, meski ini dikatakan oleh aku yang pengalaman sebagai peliharaannya lebih sedikit daripada dia, sih. Tapi jijik tahu, melihat dia mintanya dielus- elus terus. Kucing itu seharusnya memiliki lebih banyak kebanggaan. Bukannya menempel mengemis perhatian dari makhluk lain.

Hohoho, aku jadi dapat satu amunisi yang mungkin cukup ampuh untuk membalas ejekan makhluk itu, nih.

***

Langsung saja, aku mendapatkan kesempatan untuk langsung mencoba sendiri peluru jenis baruku itu. Suatu waktu, aku pun bertemu juga dengannya meskipun sudah berusaha

menghindar. Dasar, memang nasib jelek. Siapa pula yang akan menduga kalau dia akan nongol begitu saja kalau kau lengah sedikit saja pada saat jalan-jalan? Dan langsung saja dia menghina,

“Wah, wah, bukannya itu si kucing kampung rendahan?” sambil memandang rendah ke arahku.

Membuat kesal seperti biasa. Tapi tenang saja, karena kali ini aku memiliki balasan untuknya. Lebih baik langsung membalas tembakannya daripada nanti karena terpancing, damagenya akan turun drastis soalnya. “Dikatakan oleh seekor kucing pemanja, tumben sekali kamu tidak sedang menempel dengan para gadis-gadis itu. Kukira ada apa gerangan, kiamat kah, sampai seekor kamu mau keluar dari pelukan wanita manusia?” kataku sinis dan sambil lalu, menganggapnya remeh.

“Mengapa pula aku harus selalu menempel pada gadis manusia, hmm?” jawabnya dengan nada rendah. Bagus, dia terpancing.

“Tidak… harus kuakui aroma mereka memang sangat menggoda, sampai-sampai kamu jadi terpikat… Atau kalau kamu tidak menyukai aroma para anak laki-laki… Tapi kamu harus tetap ingat kalau kamu hanya seekor makhluk peliharaan, loh.” Lanjutku.

Respon yang kudapat benar-benar berbeda dari yang kuharapkan-bayangkan. Dia hanya memandangiku dengan wajah datar, sama sekali tidak mengerti sindiranku. Ah sialan, inilah mengapa berurusan dengan makhluk biasa sangat menyulitkan… dia mungkin memang berumur panang, mungkin memang sudah waktunya untuk menjadi pikun dan oon…

Aku baru saja akan bergegas kabur dengan salah tingkah dan perasaan kalah kalau saja dia tidak berkata, dengan nada yang sangat heran dan merendahkan, “Tampaknya otakmu sama kampungannya dengan spesiesmu ya, kucing buluk… sejak kapan aku ini ‘jantan’? Untuk apa pula aku harus memperbanyak interaksi dengan tuan muda kita, aku itu peliharaan khusus para wanita. Itulah tugasmu sebagai kucing kampung untuk dibuat mainan oleh mereka, tahu. Justru

(6)

kamu yang aneh karena malah lebih sering menghindari para anak laki-laki dan bermain dengan para wanita. Satu-satunya yang salah adalah, kau, otak gurita…”

Aku bengong, tidak mampu mencerna semua itu. Tunggu sebentar… dia… betina? Lalu…

Porevle melanjutkan, “Tapi tadi kamu bilang kalau kamu tidak menyukai aroma anak laki- laki, ya… bagus, mungkin aku akan menggoda anak-anak laki-laki itu untuk menyukai kucing, dan dengan begitu akan mengejar-kejarmu…”

Aku hanya bisa terbengong atas kegagalan-perangkat-yang-berujung-kerusakan-di-pihak- sendiri itu.

Dan begitulah awalnya hidup kacauku di Manor dimana aku akan segera dikejar dan ditangkap para anak laki-laki yang kecapekan sehabis berlatih dengan nyonya besar untuk dijadikan boneka. Dan membutuhkan waktu yang cukup lama sampai ahirnya aku bisa menebalkan mukaku dari rasa malu itu untuk berbicara lagi dengannya.

***

“Nah, karena ini akan menjadi kali terakhir kita akan berada di Manor ini, pastikan kalian menikmatinya sepuas-puasnya, ya. Seharian ini kalian bebas pergi kemana saja. Simpanlah cukup banyak kenangan dari rumah kesayangan kita semua ini untuk yang terakhir kalinya!”

Itulah yang dikatakan oleh nyonya besarku saat dia melepaskan kami berdua ke halaman berumput luar biasa luas dari Manor. Dia sendiri kemudian kembali, untuk berpiknik dengan tuan-tuan dan nyonya lainnya.

Halaman Manor berkilau dalam embun pagi pegunungan, angin dingin bertiup nyaman ke hamparan rumput luas yang bergoyang itu. burung-burung berkicau, daun-daun baru mulai tumbuh, menyambut musim semi. Tidak, ini bahkan sudah hampir musim panas. Menyejukkan hati dengan perasaan sejenis nostalgia.

“Hmph.” Dengus Porevle selagi dia berbaring di lantai marmer beranda depan Manor.

Yah, aku tidak bisa menyalahkannya. Aku sendiri juga bukan kucing penetap. Sama seperti rumah-rumah-rumahku sebelumnya, aku tidak memiliki suatu perasaan khusus kepada kediaman mewah ini. Ini hanyalah satu dari rangkaian kediaman yang kutempati. Yah, akaluada hal yang kusesali, maka itu adalah…

Aku ikut berbaring di dekatnya, mendapatkan tatapan sinis. “Hei, kenapa kamu tidak pergi bermain di halaman saja? Kita akan meninggalkan tempat ini selamanya, loh.”

Jawaban yang kuterima memang pedas. “Kuperingatkan ya, kamu juga salah kalau berpikir aku itu betina yang bisa kamu rayu. Itu sebabnya otakmu membusuk dan kampungan, kamu masih saja menganggap penting sesuatu seperti gender. Kalau kamu memang mau, silahkan saja

(7)

kamu berlarian, berenang menangkap ikan, dan berjumpalitan memanjat tebing… aku tidak peduli. Aku sendiri tida menganggap penting kediaman ini. Aku ini hanya peliharaan bagi Tuan Putri Rathora, tidak lebih. Hanya dia segalanya bagiku, jadi soal yang lainnya aku sama sekali tidak peduli. Juga, aku takut akan merusak halamannya. Kasihan nanti pemilik baru kediaman ini.”

“…”

“…”

Kami hanya saling terdiam, sampai akhirnya dia pun bangkit. “Terserahlah. Mungkin aku akan sedikit bersenang-senang untuk yang terakhir kalinya di sini. Siapa pula yang akan peduli dengan satu-dua kawah di halamannya kalau halamannya itu seluas berhektar-hektar. Mungkin aku akan pergi memburu beberapa kawanan rusa, memanjat beberapa tebing, atau merobohkan satu-dua pohon… menangkap ikan pegunungan asli juga ide bagus. Bahkan di tempat tuuan kita, hal kampungan seperti itu tidak akan ada, soalnya…”

Aku ikut bangkit bersemangat. “Ada rusa di kediaman ini? Bagus, tuh. Di mana?”

Porevle mengangkat telapak cakarnya. “Cobalah kamu memburu mereka dan terinjak-injak sampai mati, atau cobalah kamu menggangguku dan kamu akan kuinjak-injak sampai sekarat selama berhari-hari. Kujamin keduanya tetap akan membuatmu mati menggenaskan sebagai kucing kampung biasa seperti kodratmu.” Katanya mengancam.

“Kalau begitu kuharap kamu mengingatkanku kalau saja aku hampir melewati batas.”

“Terserah kamu… kamu cukup diam di atas pohon saja menontonku, “ katanya sebelum mulai berjalan pergi, rambutnya yang berwarna krim-merah muda tampak sangat indah di bawah sinar matahari pagi.

Aku menengok ke belakang, ke bangunan Manor yang sudah dikosongkan oleh truk-truk besar yang datang sejak beberapa hari yang lalu itu. Mungkin aku memang tidak terlalu peduli di kediaman apa aku hidup selama ini, tapi setidaknya aku ingin menghormati yang satu ini.

Hidupku benar-benar berubah karena kediaman ini juga, soalnya.

“Terima kasih, atas semua jasamu sampai hari ini.” gumamku sambil tersenyum tipis.

Nah, kalau tidak cepat, Porevle pastinya sudah akan menghilang ke hutan di lereng sana, jadi aku harus cepat menyusulnya. Aku pun berbalik dan baru akan berlari secepat cakarku bisa saat melihat Porevle sendiri sedang menunduk singkat ke arah Manor ini. Tidak tergesa-gesa, dia baru selesai beberapa menit kemudian. Tanpa kata, dia melanjutkan berjalan ke arah hutan.

Memulai pembicaraan, aku pun berkata, “Mungkin dari semua kediaman kita, kita akan paling ingat dan mengenang yang satu ini, ya…”

(8)

Mata Porevle menerawang, teringat dengan masa lalunya dengan sang Tuan Putri dan keluarga besarnya.

“Tidak juga.” Katanya sebelum mengambil ancang-ancang, dan mulai berlari dengan kecepatan luar biasa ke arah hutan.

Sigap, aku pun mengikutinya, melesat melintasi padang rumput segar menuju ke alam liar.

***

~Im not a Common Cat!~

Referensi

Dokumen terkait

Pengembangan buku cerita bergambar tentang kehidupan sehari-hari pada pembelajaran bahasa Prancis untuk keterampilan membaca merupakan salah satu alternatif

Di dalam hutan itu terdapat rawa tua, di sanalah hidup seekor kappa. Gambar 4 menampilkan tokoh kappa dalam cerita rakyat KA, yang tidak menyamar sebagai manusia sejak pertama

Tulisan ini menguraikan nilai-nilai budaya etnis Sasak dalam cerita rakyat Monyeh yang dihubungkan dengan hakikat dasar kehidupan manusia, yaitu hakikat

Dalam realitas sosial kehidupan bersama, manusia memerlukan aturan hidup agar tercipta keteraturAan sosial. Aturan hidup tersebut tidak selalu diwujudkan secara nyata, tetapi

Melalui bahan ajar berbasis integrasi keilmuan ini, guru berharap siswa akan lebih mampu memahami makna hidupnya melalui penggalian nilai-nilai kehidupan yang ada dalam

Kisah atau cerita asal usul adat isti­ adat tersebut menunjukkan pola pandang masyarakat Dayak Benuaq tentang aturan dalam sistem kehidupan mereka.. Mereka beranggapan bahwa tidaklah

Makna Kehidupan dalam Lirik Lagu pada Album “Manusia” Karya Tulus: Kajian Semiotika Ferdinan De Saussure 204 Pada bait ketiga baris pertama menggunakan makna denotatif pada kalimat

Teks ini membahas tentang pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan manusia, membentuk individu yang taat aturan dan sadar akan kewajiban serta