CHAPTER REPORT
PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN
“Teori-Teori Fungsionalistik Dominan Clark Leonard Hull”
Disusun Oleh : Kelompok 3
1. Aprilia Kartika Sari Nim 1512300145 2. Hendrix Setyawan Nim 1512300176 3. Mochamad Fahmi Sardi NIM 1512300024 4. Richard Julio Dwi Sujarwo Nim 1512300076 5. Rudik NIM 1512300040
Dosen Pengampu :
Dr. Mamang Effendy, S.Pd., M.Psi PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA 2023
A. BIOGRAFI
Clark Leonard Hull (24 Mei 1884 – 10 Mei 1952) adalah seorang psikolog Amerika yang terkenal dengan metode eksperimental kuantitatif untuk pembelajaran dan fenomena hipnosis serta upayanya untuk memberikan ekspresi matematis pada teori psikologi.
Ia memulai pendidikan di Universitas Michigan dan kemudian melanjutkan ke Universitas Wisconsin-Madison, di mana ia menerima gelar Ph.D. pada tahun 1918.
Setelah menyelesaikan studinya, Hull menjadi pengajar di Universitas Wisconsin- Madison dan kemudian pindah ke Universitas Yale pada tahun 1929. Di sana, ia menjadi salah satu psikolog pertama yang secara empiris mempelajari hipnosis. Selain itu, Hull juga mengembangkan teori pengurangan dorongan (drive reduction theory) yang menjelaskan bahwa kebutuhan biologis menciptakan dorongan yang kemudian memotivasi perilaku.
Karya-karyanya meliputi “Aptitude Testing” (1928), “Hypnosis and Suggestibility”(1933b), “Mathematico-Deductive Theory of Rote Learning” (1940),
“Principles of Behavior” (1943), dan “A Behavior System” (1952).
Buku pertama Hull tentang belajar, Principles of Behavior (1943), memberikan perubahan drastis pada studi mengenai belajar. Karya ini merupakan upaya pertama untuk menerapkan teori ilmiah yang komprehensif ke dalam studi fenomena psikologi yang kompleks. Hull adalah orang pertama yang menggunakan teori yang solid untuk mempelajari dan menjelaskan proses belajar. Teori Hull yang disajikan pada 1943 tersebut kemudian dikembangkan pada 1952 dalam buku berjudul A Behavior System.
Hull, sama seperti kebanyakan ahli teori belajar fungsionalis lainnya, sangat terpengaruh oleh karya Darwin. Hull ingin membuat sebuah teori yang dapat menjelaskan perilaku yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan memahami faktor- faktor yang mempengaruhinya. Hull tertarik untuk menemukan sebuah teori yang dapat menggambarkan bagaimana kebutuhan fisik, lingkungan dan perilaku berinteraksi untuk meningkatkan kemungkinan organisme bertahan hidup.
B. Pendekatan Teorisasi Hull
Pendekatan teorisasi Hull adalah hypothetical deductive atau logical deductive.
Hull mengembangkan teori belajar dengan menggunakan metode deduktif, yaitu dengan menyusun postulat-postulat dasar yang kemudian digunakan untuk menurunkan proposisi-proposisi yang dapat diuji secara empiris. Hull terinspirasi oleh Darwinisme dan ingin menjelaskan perilaku adaptif organisme dalam berbagai situasi lingkungan.
Hull juga menggunakan konsep-konsep seperti kebutuhan, dorongan, stimulus, respons, penguatan, dan habituasi untuk menjelaskan proses belajar.
C. Konsep Teoritis Utama Hull
Konsep teoritis utama Hull adalah teori belajar yang berdasarkan pada metode deduktif dan menggunakan rumus-rumus matematika untuk menjelaskan hubungan antara stimulus, organisme, dan respons. Hull menganggap belajar sebagai proses adaptif yang dipengaruhi oleh penguatan, dorongan, kebutuhan, dan kebiasaan. Hull juga memperkenalkan konsep variabel intervensi, yaitu faktor-faktor yang tidak dapat diamati secara langsung tetapi memediasi antara stimulus dan respons.
Beberapa variabel intervensi yang digunakan oleh Hull adalah reaksi potensial, reaksi efektif, penundaan respon, dan jejak stimulus. Teori belajar Hull memiliki beberapa postulat dasar yang kemudian diturunkan menjadi proposisi-proposisi yang dapat diuji secara empiris. Teori belajar Hull sangat berpengaruh dalam bidang psikologi eksperimental dan perilaku hewan. Teori ini juga memberikan kontribusi untuk mengembangkan teknik-teknik pembelajaran yang efektif dan memahami proses-proses kognitif dan emosional yang terlibat dalam belajar.
Teori belajar Hull adalah salah satu teori belajar yang paling berpengaruh dalam sejarah psikologi. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku organisme dipengaruhi oleh konsekuensi-konsekuensi yang mengikuti perilaku tersebut. Hull berpendapat bahwa organisme belajar untuk mengulangi perilaku yang menghasilkan penguatan positif atau menghindari penguatan negatif, dan menghentikan perilaku yang tidak menghasilkan penguatan atau menghasilkan hukuman.
Teori belajar Hull memiliki beberapa komponen utama, yaitu:
• Kebutuhan (need): adalah kondisi fisiologis atau psikologis yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam organisme. Contoh kebutuhan adalah lapar, haus, rasa sakit, atau rasa ingin tahu.
• Dorongan (drive): adalah keadaan motivasional yang mendorong organisme untuk mencari pemenuhan kebutuhan. Dorongan merupakan fungsi dari kebutuhan dan intensitasnya berbanding lurus dengan besarnya kebutuhan. Contoh dorongan adalah rasa lapar, rasa haus, atau rasa ingin tahu.
• Stimulus (stimulus): adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi organisme. Stimulus dapat bersifat internal atau eksternal, dan dapat bersifat spesifik atau umum. Contoh stimulus adalah makanan, air, suara, atau cahaya.
• Respons (response): adalah reaksi organisme terhadap stimulus. Respons dapat bersifat motorik atau verbal, dan dapat bersifat sederhana atau kompleks. Contoh respons adalah mengunyah, minum, berbicara, atau menulis.
• Penguatan (reinforcement): adalah konsekuensi dari respons yang mempengaruhi probabilitas respons tersebut terjadi kembali. Penguatan dapat bersifat positif atau negatif, dan dapat bersifat primer atau sekunder. Contoh penguatan positif adalah makanan, air, atau pujian. Contoh penguatan negatif adalah penghilangan rasa sakit, ketakutan, atau hukuman.
• Habituasi (habituation): adalah penurunan probabilitas respons terhadap stimulus yang berulang-ulang tanpa disertai penguatan. Habituasi merupakan mekanisme adaptif yang membuat organisme tidak bereaksi terhadap stimulus yang tidak relevan atau tidak penting. Contoh habituasi adalah tidak merasa lapar setelah makan, tidak merasa haus setelah minum, atau tidak merasa kaget setelah mendengar suara yang sama.
Teori belajar Hull memiliki beberapa implikasi penting untuk bidang psikologi dan pendidikan. Teori ini menjelaskan bagaimana organisme belajar melalui pengalaman dan bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka. Teori ini juga memberikan dasar untuk mengembangkan teknik-teknik pembelajaran yang efektif, seperti menggunakan penguatan positif, memberikan umpan balik, memberikan latihan berulang-ulang, dan memberikan variasi stimulus. Teori ini juga memberikan inspirasi untuk penelitian-penelitian selanjutnya tentang proses-proses kognitif dan emosional yang terlibat dalam belajar.
16 Postulat Hull
16 postulat Hull adalah serangkaian asumsi dasar yang digunakan oleh Clark L.
Hull untuk mengembangkan teori belajar deduktifnya. Postulat-postulat ini mencakup konsep-konsep seperti stimulus, respons, dorongan, penguatan, jejak stimulus, reaksi potensial, reaksi efektif, penundaan respons, dan lain-lain. Postulat-postulat ini dirumuskan dalam bentuk matematika dan digunakan untuk menurunkan proposisi- proposisi yang dapat diuji secara empiris. Berikut adalah 16 postulat Hull beserta penjelasan ringkasnya :
1. Sensing the External Environment and the Stimulus Trace. Stimulasi eksternal memicu dorongan neural (sensoris) afferent, yang bertahan lebih lama daripada stimulasi environmental. Jadi, Hull mempostulatkan adanya suatu stimulus traces (jejak stimulus) yang bertahan selama beberapa detik setelah kejadian stimulus berhenti.
2. The Interaction of Sensory Impulses. Interaction of sensory impulses (s) (interaksi dorongan sensoris [indrawi) mengindikasikan kompleksitas stimulasi dan karenanya menunjukkan kesulitan dalam memprediksi perilaku.
Perilaku jarang merupakan sebuah fungsi dari hanya satu stimulus. Ia adalah fungsi dari banyak stimulus yang di hadapan suatu organisme pada satu waktu. Banyak stimuli dan jejaknya itu saling berinteraksi satu sama lain dan sintesisnya akan menentukan perilaku.
3. Unlearned Behavior. Hull percaya bahwa organisme dilahirkan dengan hierarki respons, unlearned behavior (perilaku yang tak dipelajari), yang akan aktif jika dibutuhkan. Misalnya, jika suatu objek asing masuk mata, maka secara otomatis akan berkedip-kedip dan keluarlah air mata. Jika suhu melebihi suhu yang optimal untuk fungsi tubuh, maka tubuh akan berkeringat.
Demikian pula, rasa sakit, lapar, atau haus akan memicu respons bawaan tertentu yang berprobabilitas tinggi mereduksi efek dari kondisi-kondisi tersebut.
Istilah hierarki dipakai untuk menyebut respons-respons ini karena ada lebih dari satu reaksi yang mungkin terjadi. Jika pola respons bawaan pertama tidak memenuhi kebutuhan, maka akan muncul pola lainnya. Jika respons kedua ini juga tidak mereduksi kebutuhan, akan muncul lagi pola ketiga, dan begitu seterusnya. Jika tak satu pun dari pola-pola perilaku bawaan itu yang efektif
dalam memenuhi kebutuhan, maka organisme harus mempelajari pola respons baru.
Jadi, menurut Hull, belajar hanya dibutuhkan jika mekanisme neural bawaan dan respons yang dihasilkannya gagal untuk memenuhi kebutuhan organisme.
Secara umum, selama respons bawaan atau respons yang telah dipelajari sudah efektif dalam memenuhi kebutuhan, tidak ada alasan untuk mempelajari respons baru.
4. Contiguity and Drive Reduction as Necessary Conditions for Learning. Jika satu stimulus menimbulkan respons dan jika respons itu bisa memuaskan kebutuhan biologis, maka asosiasi antara stimulus dan respons akan diperkuat. Semakin sering stimulus dan respons yang menghasilkan pemenuhan kebutuhan dipasangkan, semakin kuat hubungan antara stimulus dan respons tersebut. Pada poin dasar ini, Hull sepenuhnya sependapat dengan hukum efek Thorndike yang direvisi. Tetapi, Hull lebih spesifik dalam hal apa yang merupakan “keadaan yang memuaskan.”
Reinforcement (penguatan) primer menurut Hull harus memuaskan kebutuhan, atau apa yang oleh Hull dinamakan drive reduction (reduksi dorongan). Postulat 4 juga mendeskripsikan reinforcer (penguat) sekunder sebagai “stimulus yang diasosiasikan secara erat dan konsisten dengan pengurangan kebutuhan” .
Penguatan sekunder setelah suatu respons juga akan meningkatkan kekuatan asosiasi antara respons itu dengan stimulus yang berkaitannya dengannya.
Ringkasnya, kita dapat mengatakan bahwa jika satu stimulus diikuti dengan satu respons, yang pada gilirannya diikuti dengan penguatan (entah itu primer atau sekunder), asosiasi antara stimulus dan respons akan menguat. Juga dapat dikatakan bahwa “kebiasaan” (habit) memberi respons terhadap stimulus itu akan menjadi lebih kuat.
5. Stimulus Generalization. Hull mengatakan bahwa kemampuan suatu stimulus (selain stimulus yang digunakan selama pengkondisian) untuk menimbulkan respons yang dikondisikan ditentukan oleh kemiripannya dengan stimulus yang digunakan selama training. Jadi, SHR akan digeneralisasikan dari satu stimulus ke stimulus lain sepanjang dua stimulus itu sama. Postulat stimulus generalization (generalisasi stimulus) ini juga mengindikasikan bahwa pengalaman sebelumnya akan memengaruhi proses belajar yang sekarang;
artinya, belajar yang pernah terjadi dalam kondisi yang sama akan ditransfer ke situasi belajar yang baru. Hull menyebut proses ini sebagai generalized habit strength (kekuatan kebiasaan yang digeneralisasikan (SĦR).
6. Stimuli Associated with Drives. Defisiensi biologis dalam organisme akan menghasilkan drive (dorongan [D]), dan setiap dorongan diasosiasikan dengan stimuli spesifik. Contohnya adalah rasa perut lapar yang mengiringi dorongan lapar, dan mulut kering, bibir kering, dan tenggorakan kering yang mengiringi dorongan haus. Adanya stimuli dorongan spesifik memungkinkan kita untuk mengajari hewan agar berperilaku tertentu di dalam satu keadaan dorongan dan berperilaku lain dalam keadaan dorongan lain. Misalnya, hewan bisa diajari berbelok ke kanan dalam jalan berbentuk T apabila ia lapar dan berbelok kiri jika ia haus.
7. Reaction Potential as a Function of Drive and Habit Strength. Kemungkinan respons yang dipelajari akan terjadi pada satu waktu tertentu dinamakan reaction potential (potensi reaksi [SER]). Potensi reaksi adalah fungsi dari kekuatan kebiasaan (SHR) dan dorongan (D). Agar respons yang dipelajari terjadi, SHR harus diaktifkan oleh D. Dorongan tidak mengarahkan perilaku;
ia hanya membangkitkannya dan mengintensifkannya. Tanpa dorongan, hewan tidak akan melakukan respons yang telah dipelajari meskipun telah ada banyak pasangan yang diperkuat antara stimulus dan respons. Jadi, jika seekor hewan belajar menekan tuas dalam kotak Skinner untuk mendapatkan makanan, ia hanya akan menekan tuas itu saat ia lapar saja.
8. Responding Causes Fatigues, Which Operates Against the Elicitation of a Conditional Response. Respon memerlukan kerja, dan kerja menyebabkan keletihan. Keletihan pada akhirnya akan menghambat respons. Reactive inhibition (hambatan reaktif [IR]) disebabkan oleh kelelahan akibat aktivitas otot dan kegiatan dalam menjalankan tugas. Karena bentuk penghambat ini berhubungan dengan keletihan, maka ia secara otomatis akan hilang jika organisme berhenti beraktivitas. Konsep ini dipakai untuk menjelaskan pemulihan spontan atas respons yang terkondisikan setelah pelenyapan (extinction). Yakni, hewan mungkin berhenti merespons karena munculnya IR. Setelah istirahat, IR hilang dan hewan akan melakukan respons lagi.
Menurut Hull, pelenyapan bukan hanya merupakan fungsi dari non- penguatan, tetapi juga dipengaruhi oleh adanya penghambat reaksi.
9. The Learned Response of Not Responding. Kelelahan adalah pendorong negatif, dan karenanya tidak memberikan respons akan menghasilkan penguatan. Tidak memberi respons akan menyebabkan IR menghilang, dan karenanya mengurangi dorongan kelelahan. Respon untuk tidak merespons ini dinamakan conditioned inhibition (SIR) (hambatan yang dikondisikan).
Baik itu IR maupun SIR beroperasi melawan munculnya respons yang telah dipelajari dan karenanya merupakan pengurangan dari potensi reaksi (SER).
Ketika IR dan SIR dikurangkan dari SER, hasilnya adalah efective reaction potential (potensi reaksi efektif [(SĒR]).
10. Factors Tending to Inhibit a Learned Response Change from Moment to Moment. Menurut Hull, ada “potensi penghambat” yang bervariasi dari satu waktu ke waktu lainnya dan menghambat munculnya respons yang telah dipelajari. “Potensi penghambat” ini dinamakan oscillation effect (efek guncangan [SOR]).
Efek guncangan ini adalah “wild card” dalam teori Hull—ini adalah caranya dalam membahas sifat probabilistik dari prediksi perilaku. Menurutnya, ada faktor yang beroperasi menghambat pemunculan respons yang dipelajari, yang efeknya bervariasi dari satu momen ke momen selanjutnya tetapi selalu beroperasi dalam kisaran nilai tertentu; artinya, walaupun rentang faktor penghambat ini tetap, nilainya mungkin bervariasi dalam rentang itu. Nilai dari penghambat ini diasumsikan terdistribusi secara normal, dengan nilai tengah adalah yang paling mungkin terjadi. Jika, secara kebetulan, muncul nilai penghambat yang besar, maka ia akan mereduksi peluang munculnya respons yang telah dipelajari. Efek guncangan ini menjelaskan mengapa respons yang telah dipelajari mungkin muncul pada satu percobaan tetapi tidak muncul pada percobaan selanjutnya. Prediksi perilaku berdasarkan nilai
SĒR akan selalu dipengaruhi oleh nilai SOR yang fluktuatif dan akan selalu bersifat probabilistik. Nilai SOR harus dikurangkan dari potensi reaksi efektif (SĒR), yang menciptakan momentary effective reaction potential (SĖR) (potensi reaksi efektif sementara).
11. Momentary Effective Reaction Potential Must Exceed a Certain Value Before a Learned Response Can Occur. Nilai SE R yang harus lebih tinggi sebelum respons yang terkondisikan dapat muncul dinamakan reaction threshold
(ambang reaksi [SLR]). Karenanya, respons yang telah dipelajari akan muncul hanya jika SER lebih besar daripada SLR.
12. The Probability That a Learned Response Will Be Made Is a Combined Function of SĖR, SOR , and SLR. Dalam tahap awal training, yakni hanya setelah beberapa percobaan yang diperkuat, SER akan dekat dengan SLR, sehingga, karena efek dari SOR, respons yang terkondisikan akan muncul di beberapa percobaan tetapi tidak di percobaan lainnya. Sebabnya adalah pada beberapa percobaan nilai SOR yang dikurangkan dari SER akan cukup besar untuk mereduksi SĒR ke nilai di bawah SLR. Setelah training dilanjutkan, pengurangan SOR dari SER akan mengurangi efek sebab nilai SĒR akan menjadi lebih besar ketimbang nilai SLR. Bahkan setelah banyak latihan, adalah mungkin bagi SOR mendapatkan nilai yang lebih besar, dan karenanya mencegah munculnya respons yang dikondisikan.
13. The Greater the Value of SĖR the Shorter Will Be the Latency between S and R. Latency (latensi [StR ]) adalah waktu antara presentasi stimulus ke organisme dan respons yang dipelajarinya. Postulat ini menyatakan bahwa waktu reaksi antara awal stimulus dan kemunculan respons yang telah dipelajari akan turun jika nilai SĖR naik.
14. The Value of SĖR Will Determine Resistance to Extinction. Nilai SĖR di akhir training menentukan resistensi terhadap pelenyapan, yakni berapa banyak dibutuhkan respons yang tak diperkuat sebelum terjadi pelenyapan. Semakin besar nilai SĖR, semakin besar pula jumlah respons tak diperkuat yang dibutuhkan sebelum pelenyapan terjadi. Hull menggunakan n untuk melambangkan jumlah percobaan yang tak diperkuat yang terjadi sebelum terjadi pelenyapan.
15. The Amplitude of a Conditioned Response Varies Directly with SĖR. Beberapa respons yang dipelajari terjadi bertingkat-tingkat, misalnya, keluarnya air liur atau galvanic skin response (GSR). Ketika respons yang terkondisikan adalah respons yang terjadi secara bertingkat, besarannya akan terkait langsung dengan besarnya SĖR, potensi reaksi efektif potensial. Hull menggunakan A untuk melambangkan amplitudo respons ini.
16. When Two or More Incompatible Response Tend to Be Elicited in the Same Situation, the One with the Greatest SE R Will Occur.
D. Perbedaan Utama Teori Hull 1943 vs 1952.
Perbedaan utama antara teori Hull tahun 1943 dengan tahun 1952 adalah sebagai berikut:
1. Motivasi insentif (k): Pada tahun 1943, Hull menganggap motivasi insentif sebagai variabel intervensi yang mempengaruhi reaksi potensial. Motivasi insentif adalah kekuatan dorongan sekunder yang berasal dari harapan akan penguatan. Pada tahun 1952, Hull mengubah motivasi insentif menjadi variabel independen yang mempengaruhi intensitas dorongan. Motivasi insentif menjadi faktor yang menambah atau mengurangi intensitas dorongan primer.
2. Dinamisme intensitas-stimulus: Pada tahun 1943, Hull mengasumsikan bahwa intensitas stimulus tidak mempengaruhi reaksi potensial secara langsung, tetapi hanya melalui kekuatan hubungan stimulus-respons. Pada tahun 1952, Hull mengakui bahwa intensitas stimulus juga mempengaruhi reaksi potensial secara langsung, dengan cara meningkatkan atau menurunkan reaksi potensial sesuai dengan sifat stimulus.
3. Perubahan dari reduksi dorongan ke reduksi stimulus dorongan: Pada tahun 1943, Hull berpendapat bahwa penguatan terjadi karena adanya reduksi dorongan primer yang menyebabkan peningkatan kekuatan hubungan stimulus-respons. Pada tahun 1952, Hull merevisi konsepnya dengan mengatakan bahwa penguatan terjadi karena adanya reduksi stimulus dorongan yang menyebabkan peningkatan kekuatan hubungan stimulus-respons. Stimulus dorongan adalah stimulus yang menimbulkan atau meningkatkan dorongan primer.
4. Respons tujuan pendahulu fraksional: Pada tahun 1943, Hull mengemukakan konsep respons antisipasi fraksional tujuan, yaitu respons parsial yang terjadi sebelum organisme mencapai tujuan atau penguatan. Respons ini berfungsi sebagai stimulus sekunder yang meningkatkan motivasi insentif. Pada tahun 1952, Hull mengganti istilah ini dengan respons tujuan pendahulu fraksional, yaitu respons parsial yang terjadi sebelum organisme mencapai tujuan atau penguatan. Respons ini berfungsi sebagai penguatan bersyarat yang meningkatkan kekuatan hubungan stimulus-respons.
5. Hirarki rumpun kebiasaan: Pada tahun 1943, Hull mengusulkan konsep rumpun kebiasaan, yaitu kumpulan hubungan stimulus-respons yang saling berkaitan dan membentuk suatu pola perilaku kompleks. Rumpun kebiasaan dapat dibedakan menjadi rumpun kebiasaan primer dan sekunder. Rumpun kebiasaan primer adalah hubungan stimulus-respons yang dipelajari secara langsung melalui penguatan.
Rumpun kebiasaan sekunder adalah hubungan stimulus-respons yang dipelajari secara tidak langsung melalui generalisasi atau diskriminasi. Pada tahun 1952, Hull menambahkan konsep hirarki rumpun kebiasaan, yaitu susunan rumpun kebiasaan yang memiliki tingkat kompleksitas dan abstraksi yang berbeda-beda. Hirarki rumpun kebiasaan dapat dibedakan menjadi hirarki rumpun kebiasaan motorik dan verbal. Hirarki rumpun kebiasaan motorik adalah susunan rumpun kebiasaan yang berkaitan dengan gerakan tubuh. Hirarki rumpun kebiasaan verbal adalah susunan rumpun kebiasaan yang berkaitan dengan Bahasa.
6. Ringkasan sistem terakhir Hull: Pada tahun 1952, Hull merangkum sistem teorinya dalam sebuah rumus matematika sebagai berikut :
𝑠𝐸𝑟 = 𝑠𝐻𝑟 × 𝐷 × 𝑉 × 𝐾 × 𝐽 × 𝑠𝑂𝑟 − 𝐼𝑟 − 𝑠𝐼𝑟 − 𝐴𝑟 − 𝑠𝐴𝑟
Ada tiga macam variabel dalam teori Hull:
1. Variabel bebas (independen), yang merupakan kejadian stimulus yang secara sistematis dimanipulasi oleh eksperimenter.
2. Variabel pengintervensi (intervening), yakni proses yang dianggap terjadi di dalam organisme tetapi tidak dapat diamati secara langsung. Semua variabel pengintervensi dalam sistem Hull didefinisikan secara operasional.
3. Variabel terikat (dependen), yakni beberapa aspek dari perilaku yang diukur oleh eksperimenter dalam rangka menentukan apakah variabel bebas punya efek atau tidak. Perlu dicatat bahwa teori Hull tahun 1952 terdiri dari 17 postulat dan 133 teorema. Karenanya di makalah ini hanya memuat ringkasan teori hull saja, sebab teori Hull terkenal karena kerumitan dan komprehensivitasnya.
E. Pandangan Hull tentang Pendidikan
Teori belajar Hull adalah teori behavioristik yang menekankan pada pentingnya dorongan dan penguatan dalam proses pembelajaran. Menurut Hull, pembelajaran terjadi ketika dorongan berkurang sebagai akibat dari respon yang dipelajari.
Konsep-konsep kunci dalam teori belajar Hull
• Dorongan: Suatu kebutuhan atau keinginan yang mendorong seseorang untuk bertindak.
• Penguatan: Suatu stimulus yang meningkatkan kemungkinan terjadinya respon tertentu di masa depan.
• Kontinguitas: Kejadian dua stimulus atau respon yang terjadi secara berdekatan.
Aplikasi teori belajar Hull dalam pendidikan
• Guru harus menciptakan lingkungan belajar yang memotivasi siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan tujuan yang jelas, tugas yang menantang, dan penguatan yang tepat.
• Guru harus membagi materi pembelajaran menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mudah dipelajari. Hal ini untuk menghindari kelelahan siswa dan meningkatkan peluang keberhasilan.
• Guru harus menggunakan berbagai metode pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan siswa yang berbeda.
Revisi teori belajar Hull oleh Spence
Spence, seorang pengikut Hull, berpendapat bahwa pembelajaran terjadi melalui tindakan siswa. Oleh karena itu, Spence adalah seorang teoretikus kontiguitas. Menurut Spence, pembelajaran terjadi ketika dua stimulus atau respon terjadi secara berdekatan dalam waktu dan ruang.
Kesimpulan
Teori belajar Hull adalah salah satu teori belajar behavioristik yang paling berpengaruh. Teori ini memiliki implikasi penting bagi pendidikan, karena dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Berikut adalah beberapa rangkuman tambahan dari teori belajar Hull:
• Hull berpendapat bahwa pembelajaran terjadi ketika dorongan berkurang sebagai akibat dari respon yang dipelajari.
• Dalam konteks pembelajaran di kelas, dorongan dapat berupa kecemasan, motivasi, atau kebutuhan untuk menguasai materi pelajaran.
• Penguatan adalah suatu stimulus yang meningkatkan kemungkinan terjadinya respon tertentu di masa depan.
• Dalam konteks pembelajaran di kelas, penguatan dapat berupa pujian, nilai, atau hadiah.
• Kontinguitas adalah kejadian dua stimulus atau respon yang terjadi secara berdekatan.
• Dalam konteks pembelajaran di kelas, kontiguitas dapat dicapai dengan menggunakan metode pembelajaran yang melibatkan interaksi antara siswa dan materi pelajaran.
F. Evaluasi Teori Hull
Teori belajar Hull adalah teori behavioristik yang berpengaruh besar, tetapi juga memiliki beberapa masalah. Kritik terhadap teori ini meliputi:
• Teori ini tidak dapat menjelaskan perilaku di luar laboratorium. Teori Hull didasarkan pada hasil eksperimen yang dilakukan di laboratorium. Namun, hasil eksperimen ini tidak selalu dapat diterapkan pada perilaku manusia di dunia nyata.
• Teori ini terlalu menekankan pada konsep yang didefinisikan secara operasional.
Konsep-konsep dalam teori Hull, seperti dorongan dan penguatan, didefinisikan secara operasional, yaitu berdasarkan cara mengukurnya. Hal ini membuat teori ini sulit dipahami dan diaplikasikan.
• Teori ini memberikan prediksi yang tidak konsisten. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa prediksi yang dihasilkan oleh teori Hull tidak selalu sesuai dengan hasil penelitian.
Selain kritik-kritik di atas, teori Hull juga dikritik karena:
• Teori ini terlalu kompleks. Teori Hull terdiri dari banyak konsep dan variabel yang saling terkait. Hal ini membuat teori ini sulit dipahami dan diaplikasikan.
• Teori ini tidak menjelaskan bagaimana dorongan terbentuk. Teori Hull hanya menjelaskan bagaimana dorongan dihilangkan. Namun, teori ini tidak menjelaskan bagaimana dorongan terbentuk.
• Teori ini tidak menjelaskan bagaimana siswa belajar dari pengalaman yang negatif.
Teori Hull hanya menjelaskan bagaimana siswa belajar dari pengalaman yang positif.
Namun, teori ini tidak menjelaskan bagaimana siswa belajar dari pengalaman yang negatif, seperti hukuman.
Kontribusi teori belajar Hull
Meskipun memiliki beberapa masalah, teori belajar Hull juga memiliki beberapa kontribusi yang signifikan bagi psikologi. Teori ini telah memicu banyak eksperimen dan penelitian tentang pembelajaran. Selain itu, penjelasan Hull mengenai penguatan, dorongan, pelenyapan, dan generalisasi telah menjadi kerangka standar acuan dalam diskusi konsep-konsep tersebut sampai saat ini.
Pengaruh teori belajar Hull
Teori belajar Hull telah mempengaruhi banyak ahli psikologi, termasuk Kenneth W. Spence, Neal E. Miller, Robert R. Sears, dan O. Hobart Mowrer. Para ahli ini mengembangkan dan memperluas teori Hull ke berbagai bidang, seperti personalitas, konflik, perilaku sosial, dan psikoterapi.
Kesimpulan
Teori belajar Hull adalah teori behavioristik yang berpengaruh besar, tetapi juga memiliki beberapa masalah. Kritik terhadap teori ini telah mendorong para ahli untuk mengembangkan teori belajar yang lebih komprehensif dan dapat diandalkan.
Referensi :
Hergernhan, B.R. & Olson, Matthew H. Theories of Learning (Teori Belajar). Edisi Ketujuh.
2008. Jakarta, Penerbit Kencana.