PENDAHULUAN
Kondisi Energi Saat Ini
- Minyak Bumi
- Gas
- Batubara
- Energi Baru dan Energi Terbarukan
- Ketenagalistrikan
Dari total produksi batubara nasional, pangsa ekspor batubara tahun 2017 mencapai 65%, dan sebagian besar digunakan untuk memenuhi permintaan China dan India. Sedangkan total kapasitas pembangkit (fosil dan non fosil) pada tahun 2017 mencapai 60,1 GW, sehingga kapasitas pembangkit EBT hanya 15% dari kapasitas pembangkit saat ini.
Metodologi
- Kerangka Analisis
- Skenario Prakiraan Energi
- Asumsi Pemodelan
- Asumsi Kebijakan Terkait Energi
Skenario ini juga mengacu pada target bauran energi dan pengurangan intensitas energi dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan RUEN, Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN dan Renstra masing-masing kementerian yang telah disesuaikan dengan realisasi saat ini. Dalam analisisnya penyediaan tenaga listrik dengan model Balmorel, digunakan beberapa asumsi tambahan, antara lain kapasitas pembangkitan menurut RUPTL tanpa memperhitungkan pembangkit yang masih dalam status rencana), asumsi biaya dalam pengembangan teknologi di PLT Bayu dan PLTBiomasa mengacu pada skenario moderat yang masuk dalam Katalog Teknologi (publikasi Sekretariat Jenderal DEN dan DEA) dan untuk harga energi, fosil mengacu pada World Energy Outlook 2016 (IEA). Selain itu, asumsi biaya pengembangan PLTB mengacu pada Katalog Teknologi dan asumsi pengembangan teknologi PLT Biomassa dengan yield lebih tinggi dapat direalisasikan 10 tahun lebih awal, asumsi harga biomassa (kulit sawit) lebih murah ( 80% dari harga batubara) dan asumsi harga biomassa (wood pellet) mengacu pada harga pasar aktual nasional, namun menurun dari tahun 2030.
Motor listrik Harga energi fosil mengacu pada World Energy Outlook 2016, IEA 7 Kapasitas pembangkit listrik mengacu pada RUPTL hingga tahun 2027 (tidak termasuk proyek dengan status rencana). Asumsi pengembangan teknologi PLT Biomassa dengan efisiensi yang lebih tinggi dapat terealisasi 10 tahun lebih awal.11 Asumsi harga biomassa (sabut kelapa sawit) mengacu pada harga sebenarnya Perhepi****) sebesar Rp 1000 per Kg. Asumsi harga biomassa (wood pellet) mengacu pada harga pasar nasional saat ini dan akan turun mulai tahun 2030 menjadi sama dengan harga batu bara.
Beberapa tujuan dalam KEN yang juga diperhitungkan dalam prakiraan kebutuhan energi antara lain rasio elektrifikasi sebesar 100% pada tahun 2020, optimalisasi penggunaan gas domestik dan pengutamaan penggunaan energi fosil untuk bahan baku industri nasional. RUEN merupakan turunan dari KEN sehingga kebijakan energi yang tertuang dalam RUEN juga mengacu pada KEN.
SKENARIO KEBIJAKAN SAAT INI
Permintaan Energi Final
- Sektor Industri
- Sektor Transportasi
- Sektor Rumah Tangga
- Sektor Komersial
- Sektor Lainnya
Pada tahun 2050, permintaan energi final akan mencapai 475,1 MTOE atau tumbuh dengan laju pertumbuhan rata-rata 4,5% per tahun. Berdasarkan sektor pengguna energi, permintaan energi final nasional hingga tahun 2050 masih akan didominasi oleh sektor transportasi dan industri seperti tahun 2017. Pangsa permintaan energi tahun 2050 menunjukkan tren yang sama dengan tahun 2025 dengan konsumsi semen. , industri logam dan makanan masing - masing sebesar 54,5 MTOE, 37,4 MTOE dan 21,2 MTOE atau 66% dari total konsumsi energi di sektor industri.
Namun pada tahun 2050 akan terjadi pergeseran teknologi dari mesin pembakaran ke tenaga listrik yang lebih efisien dan peralihan dari angkutan bermotor ke angkutan massal akan mengakibatkan pangsa permintaan energi sepeda motor turun menjadi 23% ( 38 MTOE). Sementara itu, moda angkutan truk (truk) mengalami peningkatan kebutuhan energi rata-rata sebesar 6,4% selama periode 2017-2025, sehingga volume permintaannya meningkat menjadi 20 MTOE pada tahun 2025 dan 44,1 MTOE pada tahun 2050. Kebutuhan energi rumah tangga didominasi oleh perkotaan. rumah tangga dengan pangsa 78% (19 MTOE) pada tahun 2025 dan 88% (77,5 MTOE) pada tahun 2050 sejalan dengan meningkatnya urbanisasi.
Kondisi ini akan menjadi indikator keberhasilan program pemerintah dalam upaya memenuhi kebutuhan energi per bentuk transportasi. Hampir 50% kebutuhan energi sektor komersial dikonsumsi oleh subsektor perdagangan dan hotel dan restoran, masing-masing mencapai 3 MTOE dan 1,9 MTOE pada tahun 2025 serta 12 MTOE dan 8,2 MTOE pada tahun 2050.
Pasokan Energi Primer
Selain digunakan sebagai energi di sektor industri, batubara juga dapat digunakan sebagai bahan baku proses gasifikasi batubara dan pencairan batubara serta DME. Permintaan gas yang meliputi gas, LPG dan LNG akan meningkat menjadi 50,1 MTOE pada tahun 2025 dan 105,9 MTOE pada tahun 2050 seiring dengan kebijakan pemerintah yang lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan gas dalam negeri daripada ekspor gas dan LNG, terutama setelah kewajiban ekspor gas berakhir pada tahun 2035. Peningkatan pemanfaatan gas dilakukan melalui pembangunan infrastruktur gas nasional seperti jaringan pipa gas sesuai dengan Master Plan Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas, Floating Storage Regasification Unit (FSRU) untuk pemanfaatan LNG yang jauh dari sumber gas dan pembangunan jargas sektor rumah tangga hingga daerah yang dekat dengan sumber gas.
Tingginya permintaan minyak disebabkan oleh terus digunakannya minyak terutama pada sektor transportasi, baik dalam bentuk bahan bakar murni (bensin, solar dan avtur) maupun sebagai campuran biodiesel, bioetanol dan bioautotur. Kebutuhan EBT yang terdiri dari air, panas bumi, angin, matahari, limbah, biomassa, biogas dan biofuel pada tahun 2025 akan meningkat menjadi 40,8 MTOE dan 229 MTOE pada tahun 2050, sehingga pangsa EBT juga akan meningkat menjadi 17% pada tahun 2025 dan 30%. Peningkatan kebutuhan EBT ini dilakukan melalui optimalisasi pemanfaatan energi panas bumi, air, sel surya, biomassa dan angin yang memiliki potensi melimpah untuk pembangkit listrik, selain mengganti BBM dengan bahan bakar nabati, khususnya di sektor transportasi.
Upaya optimalisasi penggunaan biofuel sangat berpengaruh terhadap peningkatan pangsa bauran energi primer, mengingat pangsa minyak terhadap kebutuhan energi di sektor transportasi sekitar 95%. Mulai menggunakan mobil listrik juga menjadi salah satu faktor yang secara tidak langsung dapat meningkatkan pangsa EBT dalam bauran energi nasional.
Ketenagalistrikan
- Permintaan Energi Listrik
- Produksi Listrik
- Input Energi Primer ke Pembangkit Listrik
- Total Kapasitas Pembangkit
- Distribusi Pembangkit Menurut Wilayah
Produksi listrik selama periode proyeksi diperkirakan sebesar 421,6 TWh pada tahun 2025 dan 1.815,2 TWh pada tahun 2050 dengan asumsi susut transmisi dan distribusi sekitar 10%. Sebaliknya, pangsa produksi listrik dari pembangkit EBT akan meningkat menjadi 18% pada tahun 2025 dan 32% pada tahun 2050. Produksi listrik dari pembangkit minyak akan semakin menurun dari 0,5% pada tahun 2025 dan pada tahun 2050 tidak ada lagi pembangkit berbahan bakar minyak. generator.
Pada tahun 2025, produksi listrik dari pembangkit EBT sebesar 76,9 TWh akan berasal dari PLTP, PLTA, PLTSa, PLTS, PLTB, PLT Biomasse, PLT Biogas dan PLT Wood Pellet. Penggunaan batu bara untuk produksi listrik akan tetap tinggi pada tahun 2025 karena harga batu bara masih lebih murah dibandingkan jenis energi lainnya dan sebagian besar pembangkit listrik masih berbasis batu bara. Total kapasitas pembangkitan pada skenario KS akan mencapai 83,3 GW pada tahun 2025 yang terdiri dari pembangkit berbahan bakar batubara 41 GW, pembangkit berbahan bakar gas sekitar 22,9 GW, sedangkan pembangkit EBT akan mencapai 16,3 GW, sedangkan kapasitas pembangkit berbahan bakar minyak sebesar 3,1 GW. GW .
Pada tahun 2050, total kapasitas seluruh pembangkit akan meningkat menjadi 432,7 GW, dengan kapasitas pembangkit EBT (244 GW) menjadi dominan dibandingkan dengan pembangkit batubara (162,2 GW), seperti ditunjukkan pada Gambar 2.17. Sekitar 5,6 GW dari total kapasitas pembangkitan EBT ada di Sumatera, 2,5 GW di Sulawesi, masing-masing 0,4 GW di Numapa dan Kalimantan seperti ditunjukkan pada Gambar 2.19.
Emisi Gas Rumah Kaca (GRK)
- Emisi per Kapita
- Emisi per GDP
Hasil proyeksi OEI tahun 2018 menunjukkan bahwa total emisi akan meningkat menjadi 632,1 juta ton CO2eq pada tahun 2025 dan menjadi 1,8 miliar ton CO2eq pada tahun 2050. Oleh karena itu, hasil yang diharapkan dari emisi CO2 lebih rendah dibandingkan dengan target NDC untuk sektor energi. Hasil proyeksi OEI juga lebih rendah dibandingkan dengan target emisi dalam lampiran Perpres RUEN yang menyebutkan total emisi menjadi 893,4 juta ton CO2eq pada tahun 2025 dan 1,9 miliar ton CO2eq pada tahun 2050.
Hal ini dapat terjadi karena OEI tahun 2018 menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dibandingkan asumsi RUEN dan NDC (Grafik 2.21). Indikator yang dapat menggambarkan jumlah emisi CO2 di suatu negara adalah memperkirakan hubungan antara jumlah emisi CO2 dengan jumlah penduduk dan ekonomi. Peningkatan emisi per kapita terjadi karena laju pertumbuhan emisi lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan penduduk (Gambar 2.22).
Pada tahun 2017, total emisi per produk domestik bruto (PDB) adalah sebesar 0,045 ton CO2 per juta rupee kemudian menurun menjadi 0,040 ton CO2 per juta rupee pada tahun 2025 dan selanjutnya akan turun menjadi 0,030 ton CO2 per juta rupee pada tahun 2050. Kecenderungan indikator-indikator tersebut menunjukkan bahwa penggunaan energi akan semakin efisien di masa mendatang, yang akan berdampak pada pertumbuhan konsumsi energi yang lebih rendah.
SKENARIO GREEN
- Permintaan Energi Final
- Pasokan Energi Primer
- Ketenagalistrikan
- Emisi Gas Rumah Kaca (GRK)
Permintaan energi final dalam skenario green energy mencapai 153,4 MTOE pada tahun 2025 dan akan mencapai 394,6 MTOE pada tahun 2050, sehingga menghasilkan penghematan konsumsi energi final sebesar 6% pada tahun 2025 dan 17% pada tahun 2050 seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.1 di bawah ini. Pasokan energi primer untuk skenario green energy lebih rendah dari skenario sebelumnya yaitu 217,8 MTOE pada tahun 2025 dan 608,6 MTOE pada tahun 2050 karena kebijakan konservasi energi di berbagai sektor dan teknologi pembangkit yang lebih efisien. Lebih banyak penggunaan EBT di pembangkit listrik dan biofuel, terutama di sektor transportasi, berarti pangsa EBT dalam skenario energi hijau akan mencapai 23% pada tahun 2025 dan 41% pada tahun 2050.
Dengan berkurangnya kebutuhan listrik, maka terjadi penghematan produksi listrik sebesar 43,2 TWh pada tahun 2025 dan 629,3 TWh pada tahun 2050. Dibandingkan dengan skenario KS tahun 2050, produksi listrik terbesar juga berasal dari PLTS dan PLTA (267,6 TWh dan 169,1 TWh). . Kapasitas pembangkit listrik EBT dalam skenario green energy akan meningkat menjadi 21,1 GW pada tahun 2025 dan selanjutnya meningkat menjadi 218,1 GW pada tahun 2050.
Kebutuhan energi final tahun 2050 pada skenario yang sama masing-masing sebesar 475 MTOE dan 395 MTOE. Kebutuhan energi pada kedua skenario tersebut masih dibawah kebutuhan energi pada RUEN yaitu 248,4 pada tahun 2025 dan 641,5 pada tahun 2050.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Pada tahun 2025, bauran energi primer melalui skenario green energy adalah sebagai berikut: pangsa EBT 23%, minyak 28%, gas 22%, dan batubara 27%. Dibandingkan dengan target KEN, pada tahun 2025 target EBT dapat tercapai, dan pada tahun 2050 pencapaian EBT jauh lebih tinggi dari target KEN. Kebutuhan energi nasional final tahun 2025 berdasarkan skenario KS dan skenario green energy masing-masing sebesar 164 MTOE dan 153 MTOE.
Dengan demikian, pencapaian EBT sebesar 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050 dapat dilaksanakan dengan menggunakan asumsi-asumsi dalam skenario green energy, antara lain optimalisasi penggunaan EBT dalam pembangunan pembangkit listrik dan penerapan wajib biofuel menggunakan listrik. kendaraan dan implementasi efisiensi energi di semua sektor.
Rekomendasi
Btu (British Thermal Unit) adalah satuan jumlah panas yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 lb (1 pound) air sebesar 1oF (Fahrenheit) pada tekanan 14,7 psi (pound per inci persegi). konversi ke MMSFC dan TOE lihat setiap definisi). Energi Primer adalah energi yang disediakan oleh alam dan belum mengalami proses lebih lanjut. Gas adalah kelompok energi yang meliputi gas, produk kilang gas (LPG, LNG) dan gas nonkonvensional (CBM).
Minyak adalah kelompok energi yang meliputi minyak bumi, kondensat, cairan gas alam (NGL), dan energi yang berasal dari minyak bumi (gas kilang, etana, bahan bakar jet, bensin motor, bahan bakar jet, minyak tanah, minyak solar, minyak bakar, nafta, pelumas dan produk kilang lainnya). Skenario green energy adalah skenario yang menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan PDB yang sama dengan skenario kebijakan saat ini, namun konsumsi energi lebih kecil dari kondisi di atas karena adanya penghematan energi dalam penggunaan energi final yang besarnya bervariasi di setiap sektor. IPP : Independent Power Producer KEN : Kebijakan Energi Nasional KS : Kebijakan Saat Ini kWh : Kilo Watt hour.
LNG: Liquefied Natural Gas LPG: Liquefied Petroleum Gas LRT: Light Rail Transit Minyak dan Gas: Minyak dan Gas. PDB: Produk Domestik Bruto Permen: Peraturan Menteri Perpres: Peraturan Presiden PLN: Perusahaan Listrik Negara PLTA: Pembangkit Listrik Tenaga Air PLTB: Pembangkit Listrik.