Demam berdarah di Asia Tenggara pertama kali terdeteksi di Manila pada tahun 1954 dan Bangkok pada tahun 1958 (Soegijanto, 2004). Kasus DBD pertama di Indonesia dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah 58 kasus dengan 24 kematian (41,3%). Selanjutnya penyakit demam berdarah cenderung menyebar ke seluruh Indonesia, mencapai puncaknya pada tahun 1988 dengan angka kejadian 13,45% per tahun. 100.000 jiwa (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
Seluruh wilayah Indonesia berisiko terkena penyakit demam berdarah karena virus penyebabnya dan nyamuk utama penularannya yaitu Aedes aegypti tersebar luas baik di rumah maupun di tempat umum, kecuali yang berada di ketinggian di atas 1000 meter. permukaan laut. Surabaya sebagai bagian dari Provinsi Jawa Timur juga menjadi daerah endemis penyakit demam berdarah karena tingginya jumlah kasus demam berdarah yang terjadi setiap tahunnya. Bagaimana status angka kepadatan kontainer dan distribusi frekuensi di daerah endemis DBD di Kelurahan Kedung Cowek Kecamatan Bulak Surabaya.
Mengetahui status tingkat kepadatan di daerah endemis DBD di Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Surabaya. Selanjutnya penyakit demam berdarah cenderung menyebar ke seluruh wilayah Indonesia (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007) Penularan penyakit demam berdarah saat ini semakin mudah disebabkan oleh berbagai faktor seperti mobilitas penduduk yang tinggi, faktor lingkungan dan perilaku masyarakat dalam menjaga keindahan lingkungan. , terutama kebersihan tempat penampungan air dan limbah yang mampu menampung air (Meiliasari dan Satari, 2004). DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, khususnya Aedes aegypti.
DBD diawali dengan demam tinggi mendadak yang berlangsung selama 2 – 7 hari kemudian turun dengan cepat.
Diagnosis DBD
Pengobatan DBD
Pencegahan penyakit DBD
Vektor Penyakit DBD .1 Jenis vektor
Taksonomi Ae. aegypti
Morfologi A.aegypti 1. Telur
Pupa
Dewasa
- Kontainer
- Definisi kontainer
- Karakteristik kontainer
- Populasi dan Sampel Penelitian
- Variabel Penelitian .1 Klasifikasi Variabel
- Alat dan Bahan Penelitian
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Prosedur Pengambilan atau Pengumpulan data 1. Pengambilan Sampel Larva
- Analisis Data
- Situasi daerah lokasi penelitian dan penduduk sebagai responden penelitian Kelurahan Kedung Cowek dibagi menjadi 3 Rukun Warga, mempunyai luas wilayah
- Hasil Penelitian Analisis
- Mengetahui Distribusi Frekwensi Kontainer didaerah endemis DBD di Kelurahan Mojo dan Kelurahan Kedung Cowek , Surabaya
- Jumlah kontainer
- Kontainer Indoor
Singh et al (2011) mengandung 76,24% lebih banyak larva Aedes aegypti di wadah dalam ruangan dibandingkan wadah luar ruangan. Sesuai dengan preferensi nyamuk ini untuk beristirahat di tempat yang gelap, lembab dan tersembunyi di dalam rumah atau bangunan yang terlindung dari sinar matahari langsung (Gandahusada, 2002). Jenis bahan dasar wadah yang beresiko terhadap keberadaan jentik Aedes aegypti yaitu semen, kemudian logam, tanah, dan lain-lain.
Nyamuk Aedes aegypti bertelur pada atau sedikit di atas permukaan air pada dinding wadah, jarang berada di bawah permukaan air, dan tidak akan bertelur jika tidak ada air di dalam wadah (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007 ). Tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti sangat dekat dengan masyarakat yang menggunakan air bersih sebagai kebutuhan sehari-hari (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004) Kondisi wadah tersebut berkaitan dengan keberadaan jentik Aedes aegypti, dimana jelas air lebih banyak mengandung jentik Aedes aegypti. Dari tinjauan literatur pada bab 2 diketahui bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kepadatan populasi dan persebaran Ae.aegypti antara lain perilaku komunitas, perilaku Aedes aegypti dan iklim yang terdiri dari suhu (Vezzani¸2008), curah hujan dan kelembaban (Watts ) dkk, 1987).
Wadah tersebut berisi air yang dikuras satu hari sebelum pengambilan sampel (dengan asumsi tidak ada larva A. aegypti). Wadah berisi air berisi ikan sebagai predator larva A. aegypti (dengan asumsi tidak ada larva A. aegypti). Indeks Rumah (HI) adalah jumlah rumah yang terdapat jentik Aedes aegypti dari seluruh rumah yang disurvei dikalikan 100%.
Indeks wadah adalah jumlah wadah yang berisi jentik Aedes aegypti dari seluruh wadah yang diperiksa dikalikan 100%. Keadaan wilayah lokasi penelitian dan populasi sebagai responden penelitian. Desa Kedung Cowek terbagi menjadi 3 kesatuan masyarakat, mempunyai luas lahan. Desa Kedung Cowek terbagi menjadi 3 wilayah masyarakat, mempunyai luas 91.926 Ha dengan kondisi geografis 1 m diatas permukaan laut termasuk dataran rendah dan suhu rata-rata 36°C. Berdasarkan latar belakang penelitian yaitu pengetahuan tentang status angka kepadatan dan sebaran frekuensi kontainer di daerah endemis DBD di Kelurahan Kedung Cowek Kecamatan Bulak Surabaya dilakukan beberapa observasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepadatan jentik Ae.aegypti di Desa Kedung Cowek Surabaya. Dari tabel 5.1 diatas diperoleh hasil bahwa indeks larva Ae.aegypti di desa Kedung Cowek pada musim hujan termasuk tinggi. Sedangkan tingkat kepadatan jentik (angka kepadatan) Ae.aegypti di Kecamatan Kedung Cowek berada di atas 5-7 dan indeks Breteau di atas 50 sehingga kemungkinan terjadinya penularan DBD sangat tinggi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran frekuensi kontainer di daerah endemis DBD di Kelurahan Mojo dan Kelurahan Kedung Cowek Surabaya. Dapat disimpulkan bahwa di Desa Kedung Cowek lebih banyak container indoor dibandingkan container outdoor.
Jumlah
Jadi kesimpulannya, container outdoor yang paling banyak terdapat di Desa Kedung Cowek adalah ember, sedangkan yang paling sedikit adalah bak dan tempat makan burung.
Density Figure larva Ae.aegypti didaerah endemis DBD di Kelurahan Mojo dan Kelurahan Kedung Cowek , Surabaya
Distribusi Frekwensi kontainer didaerah endemis DBD di Kelurahan Mojo dan Kelurahan Kedung Cowek , Surabaya
- Saran
Status angka kepadatan di wilayah endemis DBD Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Surabaya adalah 5-7. Pendistribusian container tersebut adalah container indoor dan container outdoor, dimana frekuensi container indoor lebih tinggi dibandingkan container outdoor pada daerah endemis DBD di Kelurahan Kedung Cowek Kecamatan Bulak Surabaya yaitu sebanyak 100 container. Frekuensi kontainer outdoor di daerah endemis DBD di Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Surabaya sebanyak 17 kontainer. Frekuensi tertinggi adalah ember.
Hasil penelitian ini perlu disosialisasikan kepada pemegang program penanggulangan DBD agar lebih mengetahui prevalensi DBD di Kel. Peran faktor lingkungan dan perilaku terhadap penularan penyakit demam berdarah dengue di kota Mataram. Jurnal Kesehatan Lingkungan. Hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku (PSP) masyarakat terhadap vektor penyakit demam berdarah di kota palembang provinsi sumatera selatan.
Supartha IW, 2008. Pengendalian Terpadu Vector Virus Demam Berdarah Dengue, Aedes aegypti(Linn.) and Aedes albopictus (Skuse)(Diptera: Culicidae). A laboratory study of oviposition responses of Aedes aegypti to some common household substances and water of conspecific larvae.