ASUHAN KEBIDANAN POST NATAL CARE PADA NY. USIA TAHUN P A DENGAN
DI RSUD
Disusun Oleh:
Siti Khoidaroh NIM P17324221039
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG PROGRAM STUDI KEBIDANAN (KAMPUS BOGOR)
PROGRAM DIPLOMA III
2025
ASUHAN KEBIDANAN POST NATAL CARE PADA NY. USIA TAHUN P A DENGAN
DI RSUD
Disusun Oleh:
Siti Khoidaroh NIM P1732421039
LAPORAN TUGAS AKHIR
Untuk memenuhi salah satu syarat ujian Guna memperoleh gelar Ahli Madya Kebidanan
Program Studi Kebidanan Bogor
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG PROGRAM STUDI KEBIDANAN (KAMPUS BOGOR)
PROGRAM DIPLOMA III
2025
LEMBAR PERSETUJUAN
LEMBAR PENGESAHAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
ABSTRAK
ABSTRAK BISING
PERNYATAAN PLAGIARISME
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT karena atas berkatnya, rahmat dan karunia-Nya sehingga Laporan Tugas Akhir ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya, shalawat serta salam senantiasa selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat dan seluruh umat-Nya.
Adapun Laporan Tugas Akhir yang berjudul “Asuhan Kebidanan Nifas pada Ny. usia Tahun PA dengan di “ sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Pendidikan Diploma III Kebidanan di Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Bandung Program Studi Kebidanan Bogor.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa nifas adalah masa setelah melahirkan yang dimulai setelah lahirnya bayi, plasenta dan selaputnya yang membutuhkan waktu pemulihan selama kurang lebih 6 minggu. Terjadinya robekan perineum disebabkan oleh proses persalinan ketika bayi lahir secara spontan dengan alata tau Tindakan. Menurut data World Health Organization terdapat 2,9 juta kasus robekan perineum pada ibu melahirkan dan diperkirakan akan meningkat menjadi 6,8 juta di tahun 2050. Di Indonesia 75% dari 100.000 wanita yang melahirkan yaitu 75.000 wanita mengalami mengalami robekan perineum. Berdasarkan data yang diperoleh dari RSIA Masyita Makassar pada Januari sampai Desember 2022 jumlah keseluruhan ibu nifas yang melahirkan normal sebanyak 623 orang tidak disertai rupture 230 orang dan disertai rupture 393 orang.1
Luka perineum adalah robekan yang terjadi karena adanya rupture spontan maupun episiotomi pada saat proses persalinan, prosedur episiotomi dilakukan atas indikasi kelainan letak janin, bayi besar, perineum kaku, persalinan dengan menggunakan forceps atau vacum. Apabila episiotomi dilakukan tanpa indikasi tertentu maka akan menyebabkan tingginya insiden dan beratnya kerusakan di daerah perineum, luka perineum memiliki dampak bagi ibu yaitu rasa tidak nyaman berupa nyeri. 1
Prevalensi ibu bersalin yang mengalami rupture perineum di indonesia sebesar 52%
dikarenakan persalinan dengan bayi berat lahir besar, tindakan episiotomi dan faktor usia ibu. Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan mencatat sebanyak 75 kasus kematian ibu hamil dan melahirkan yang terjadi hingga Juli 2019, dan berdasarkan Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, angka kematian ibu melahirkan 115 kasus dan tahun 2018 naik lagi menjadi 139, kasus kematian tersebut banyak dijumpai di RSUD dengan persentase 79,13% atau sebanyak 91 kasus. Kemudian terjadi di rumah dengan 9 kasus atau sekitar 7,83%, lalu ditemukan di Puskesmas dengan persentase 6,08% atau sebanyak 7 kasus, kemudan di Pustu sebanyak 2 kasus atau 1,74% dan di rumah bersalin 1 kasus atau 0,87%.2
Di negara Asia prosedur episiotomi juga merupakan masalah yang banyak dialami oleh waita yang melahirkan pervaginam, 50% robekan perineum di dunia terjadi di Asia, presentase ibu melahiran dengan robekan perineum pada kelompok umur 25-30
tahun adalah 24% pada kelompok 32-29 tahun adalah 62%. Menurut laporan Kementerian Kesehatan RI tahun 2020, diketahui 4.627 ibu meninggal setelah melahirkan terutama kematian akibat gangguan sistem peredaran darah 230 kasus dan sebanyak 1.330 kasus perdarahan pasca melahirkan. Oleh karena itu perawatan pada masa nifas sangat penting untuk menimalisir terjadinya resiko infeksi, mastitis, robekan, infeksi saluran kemih, dan episiotomi. 1
Hampir 90% proses persalinan mengalami robekan perineum, ruptur perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Namun hal ini dapat dihindarkan dan juga dikurangi dengan menjaga dan jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan cepat dan adanya robekan perineum ini dibagi menjadi 4 derajat, derajat I, II, III, dan derajat IV.2
Dampak dari terjadinya ruptur perineum pada ibu dapat mengakibatkan terjadinya infeksi pada luka jahitan dimana dapat merambat pada saluran kandung kemih ataupun pada jalan lahir yang dapat berakibat pada muculnya komplikasi disparenia dikarnakan jaringan parut yang terbentuk sesudah laserasi perineum, dan demi kesehatan, kesejahteraan wanita dikemudian hari, maka tindakan identifikasi penyebab ruptur perineum yang benar dan perbaikannya pada saat yang tepat merupakan persoalan yang sangat penting.3
Perawatan luka perineum yang tepat setelah melahirkan normal penting untuk mencegah serangan infeksi. Di sisi lain, menerapkan perawatan luka jahit pada perineum dengan baik dan benar juga mempercepat penyembuhan area sekitarnya.
Pengetahuan ibu tentang perawatan pasca persalinan dan cara perawatan luka dapat menentukan lama penyembuhan luka perineum, ibu yang mengetahui cara untuk merawat luka perineum akan merawat lukanya dengan baik sehingga diharapkan bisa berpengaruh terhadap penyembuhan luka perineum.3
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk mengambil kasus tentang
“ASUHAN KEBIDANAN POSTPARTUM PADA NY. USIA TAHUN PA DENGAN LUKA PERINEUM DI RSUD” Agar luka perineum bisa tertangani dengan baik dan penyembuhan yang lebih cepat untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius yaitu infeksi pada masa nifas.
B. Rumusan Masalah 1. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka rumusan masalah nya yaitu “Bagaimana Asuhan Kebidanan Postpartum pada Ny. Usia tahun PA dengan luka perineum di RSUD “
2. Lingkup Masalah
Ruang lingkup laporan tugas akhir ini meliputi asuhan kebidanan postpartum pada N y. Dengan luka perineum. Asuhan ini dilakukan sejak tanggal 2025 hingga tanggal 2025.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk menerapkan Asuhan Kebidanan pada ibu nifas dengan luka perineum di RSUD
2. Tujuan Khusus
a. Diperoleh data Subjektif dari Ny. dengan Luka Perineum di RSUD.
b. Diperoleh data Objektif dari Ny. dengan Luka Perineum di RSUD . c. Ditegakkannya Analisa dari Ny. dengan Luka Perineum di RSUD . d. Dibuatnya penatalaksaan dari Ny. dengan Luka Perineum di RSUD . D. Manfaat
1. Teoritis
Hasil asuhan ini diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan yang menambah wawasan khususnya mengenai penatalaksanaan dalam asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan perawatan luka perineum.
2. Aplikatif
a. Manfaat Bagi Tenaga Kesehatan
Dalam asuhan ini dapat meningkatkan ataupun masukan kepada Pelayanan Kesehatan khususnya dalam Upaya memberikan pelayanan Kesehatan khususnya pada Asuhan Kebidanan.
b. Manfaat Bagi Klien / Masyarakat
Sebagai bahan masukan untuk menambah pengetahuan ibu tentang cara perawatan luka perineum dengan benar. Sehingga ibu nifas dengan luka perineum bisa melakukan perawatan luka nya dengan sendiri seperti yang telah diajarkan agar tidak terjadi infeksi pada luka perineum.
c. Manfaat Bagi Bidan
Pendidikan dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam pemberian asuhan komprehensif pada ibu nifas dengan perawatan luka perineum di RSUD
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. NIFAS (POSTPARTUM) 1. Pengertian Masa Nifas
Masa Nifas (postpartum/puerperium) berasal dari bahasa latin yaitu “Puer” yang artinya bayi dan “Parous” yang melahirkan merupakan masa setelah lahirnya plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula ini berlangsung selama 6 minggu. Pada masa ini di perlukan asuhan yang berlansung secara konfrensif mulai dari ibu masih dalam perawatan pasca persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan sampai ibu nifas kembali ke rumahnya. Banyak perubahan yang terjadi pada masa nifas seperti perubahan fisik, involusio uteri, laktasi.
Masa Nifas (puerperium) adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar atau lepas dari rahim, sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan saat melahirkan. 3,4
Dalam pemberian asuhan pada ibu masa nifas yaitu dengan selalu mengayomi dan mendukung ibu untuk membangun kepercayaan diri dalam menjaga buah hatinya.
Dalam masa transisi ini diperlukan keterlibatan bidan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan klien melalui penerapan pemberian asuhan dengan mengedepankan sensitivitas dan kompetensi sehingga bidan dapat menentukan perencanaan asuhan sesuai dengan kebutuhan klien. 4
2. Tujuan Asuhan Masa Nifas
Berdasarkan standar pelayanan kebidanan untuk ibu nifas meliputi perawatan bayi baru lahir (standar 13), penanganan 2 jam pertama setelah persalinan (standar 14), serta pelayanan bagi ibu dan bayi pada masa nifas (standar 15). Apabila merujuk pada kompetensi 5 (standar kompetensi bidan), maka prinsip asuhan kebidanan bagi ibu pada masa nifas dan menyusui harus yang bermutu tinggi serta tanggap terhadap budaya setempat. Jika dijabarkan lebih luas sasaran asuhan kebidanan masa nifas meliputi hal-hal sebagai berikut: 5
Asuhan yang diberikan kepada ibu nifas bertujuan untuk:
a. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologi ibu dan bayi Dengan diberikannya asuhan, ibu akan mendapatkan fasilitas dan dukungan dalam Upaya
untuk menyesuaikan peran barunya sebagai ibu (pada kasus ibu dengan kelahiran anak pertama) dan pendampingan keluarga dalam membuat pola baru saat kelahiran anak kedua.
b. Pencegahan, diagnosa dini, dan pengobatan komplikasi pada ibu nifas Dengan diberikannya asuhan pada ibu nifas, kemungkinan munculnya permasalahan dan komplikasi akan lebih cepat terdeteksi sehingga penanganannya dapat lebih maksimal.
c. Merujuk ibu ke asuhan tenaga ahli jika diperlukan Meskipun dari keluarga mengetahui ada permasalahan kesehatan pada ibu nifas yang memerlukan rujukan, namun tidak semua Keputusan dapat diambil secara tepat.
d. Mendukung dan meningkatkan keyakinan ibu, serta memungkinkan ibu untuk mampu melaksanakan perannya dalam situasi keluarga dan budaya khusus Pada saat memberikan asuhan nifas, keterampilan seorang bidan sangat di tuntut untuk memberikan Pendidikan kesehatan terhadap ibu dan keluarga. Keterampilan yang harus di kuasai oleh bidan, antara lain berupa materi pendidikan, teknik penyampaian, dan media yang digunakan, serta pendekatan psikologis yang efektif sesuai dengan budaya setempat.
e. Imunisasi ibu terhadap tetanus. Dengan pemberian asuhan yang maksimal pada ibu nifas kejadian tetanus dapat dihindari, meskipun saat ini angka kejadian tetanus telah mengalami penurunan. Akan tetapi tetap memerlukan suatu Tindakan untuk menghindari kejadian tetamus datang kembali.
f. Mendorong pelaksanaan metode yang sehat tentang pemberian makan anak, serta peningkatan pengembangan hubungan yang baik antara ibu dan anak.5
3. Periode Masa Nifas a. Puerperium Dini
Puerperium Dini merupakan masa kepulihan yang dalam ini ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjaan-jalan. Dalam agama islam, dianggap bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
b. Puerperium Intermedial
Puerperium Intermedial merupakan masa kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya sekitar 6-8 minggu.
c. Remote Puerperium
Remote Puerperium merupakan masa yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai
komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna dapat berlangsung selama berminggu- minggu, bulanan, bahkan tahunan.3
4. Tahapan Masa Nifas
Tahapan yang terjadi pada masa nifas adalah sebagai berikut:
a. Periode Immediate Postpartum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat banyak masalah, misalnya pendarahan karena atonia uteri. Oleh karena itu, bidan dengan teratur harus melakuan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lochea, tekanan darah dan suhu.
b. Periode Early Postpartum
Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak ada pendarahan, lochea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.
c. Periode Late Postpartum
Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta konseling KB.3,5
5. Adaptasi Fisiologis pada Masa Nifas
Adaptasi fisiologis merupakan perubahan pad tubuh ibu pada masa nifas. Adapun beberapa perubahan yang dialami oleh ibu nifas, yaitu:
a. Uterus
Pada uterus setelah proses persalinan akan terjadi proses involusi. Proses involusi merupakan proses kembalinya uterus seperti keadaan sebelum hamil dan persalinan. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot- otot polos uterus. Observasi yang dilakukan oleh bidan mengenai involusi uterus harus didasarkan pada warna, jumlah dan durasi pengeluaran darah melalui darah dan kondisi kesehatan ibu secara umum pada saat itu.
Adapun proses involusi uterus yang dialami oleh ibu nifas, yaitu:
1) Iskemia Myometrium
Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus-menerus menyebabkan Rahim menjadi anemia dan serat otot menjadi atrofi.6
2) Autolisis
Autolisis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterus. Enzim preteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga panjangnya 10 kali dari semula dan lebar lima kali
dari semula selama kehamilan atau dapat juga dikatakan sebagai perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Sitoplasma sel yang berlebihan akan tercerna sendiri sehingga tertinggal sebagai jaringan fibro elastic dalam jumlah renik sebagai bukti kehamilan. Hal ini disebabkan karena penurunan hormon estrogen dan progesteron.
3) Atrofi jaringan
Jaringan yang berprofilase dengan adanya estrogen dalam jumlah besar, kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi terhadap penghentian produksi estrogen yang menyertai pelepasan plasenta. Selain perubahan atrofi pada otot- otot uterus, lapisan desidua akan mengalami atrofi dan terlepas dengan meninggalkan lapisan basal yang akan beregenerasi menjadi endometrium yang baru.
4) Efek oksitosin
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir. Hal tersebut diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterine yang sangat besar. Hormon oksitosin yang dilepas dari kelenjar hypofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, dengan mengompresi pembuluh darah, dan membantu proses homeostatis. Kontraksi dan retraksi otot uteri akan mengurangi suplai darah ke uterus. Proses ini akan membantu mengurangi bekas luka tempat implantasi plasenta dan mengurangi terjadinya perdarahan. 6
Tabel 2.1 Involusi Uterus
b. Pengeluaran lochea
Pengeluaran lochea dapat dibagi berdasarkan waktu dan warnanya di antaranya sebagai berikut:
1) Lochea Rubra/Merah
Lochea ini muncul pada hari pertama sampai hari ke-3 masa postpartum.
Sesuai dengan namanya, warnanya biasanya merah dan mengandung darah
dari perobekan/luka pada plasenta dan serabut dari desidua dan chorion.
Lochea terdiri atas sel desidua, verniks caseosa, rambut lanugo, sisa mekonium, dan sisa darah.
2) Lochea Sanguinolenta
Lochea ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir karena pengaruh plasma darah, pengeluarannya pada hari ke-4 hingga hari ke-7 postpartum.
3) Lochea serosa
Lochea ini muncul pada hari ke-7 hingga hari ke-14 postpartum. Warnanya biasanya kekuningan atau kecoklatan. Lochea ini terdiri atas lebih sedikit darah dan lebih banyak serum, juga terdiri atasleukosit dan robekan laserasi plasenta.
4) Lochea alba
Lochea ini muncul pada minggu ke-2 sampai minggu ke-6 postpartum.
Warnanya lebih pucat, putih kekuningan, serta lebih banyak mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lender serviks, dan serabut jaringan yang mati. Lochea yang menetap pada periode awal postpartum menunjukkan adanya tanda-tanda perdarahan sekunder yang mungkin dapat disebabkan oleh tertinggalnya sisa atau selaput plasenta.3–5
c. Perineum, vulva, vagina dan anus
Berkurangnya sirkulasi progesteron membantu pemulihan otot panggul, perineum, vagina, dan vulva ke arah elastisitas dari ligamentum otot rahim.
Merupakan proses yang bertahap akan berguna jika ibu melakukan ambulasi dini, dan senam nifas. Involusi serviks terjadi bersamaan dengan uterus kira-kira 2-3 minggu, serviks menjadi seperti celah. Ostium eksternum dapat dulalui oleh 2 jari, pinggirannya tidak rata, tetapi retak-retak karena robekan dalam persalinan.
Pada akhir minggu pertama dilalui oleh satu jari. Karena hyperplasia dan retraksi dari serviks, robekan serviks menjadi sembuh.
Pada awal masa nifas, vagina dan muara vagina membentuk suatu lorong luas berdinding licin yang berangsur-angsur mengecil ukurannya tapi jarang kembali ke bentuk nulipara. Rugae mulai tampak pada minggu ketiga. Himen muncul kembali sebagai kepingan-kepingan kecil jaringan, yang setelah mengalami sikatrisasi akan berubah menjadi caruncule mirtiformis. Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae.
Mukosa vagina tetap atrofi pada wanita yang menyusui sekurang-kurangnya
sampai menstruasi dimulai kembali. Penebalan mukosa vagina terjadi seiring pemulihan fungsi ovarium. Kekurangan estrogen menyebabkan penurunan jumlah pelumas vagina dan penipisan mukosa vagina.
Kekeringan lokal dan rasa tidak nyaman saat koitus (Dyspareunia) menetap sampai fungsi ovarium kembali normal dan menstruasi dimulai lagi. Mukosa vagina memakan waktu 2-3 minggu untuk sembuh tetapi pemulihan luka sub- mukosa lebih lama yaitu 4-6 minggu. Beberapa laserasi superficial yang dapat terjadi akan sembuh relative lebih cepat. Laserasi perineum sembuh pada hari ke- 7 dan otot perineum akan pulih pada hari ke 5-6. Pada anus umumnya terlihat hemoroid (varises anus), dengan ditambah gejala seperti rasa gatal, tidak nyaman, dan perdarahan berwarna merah terang pada waktu defekasi. Ukuran hemoroid biasanya mengecil beberapa minggu postpartum. 3
d. Payudara
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara alami.
Proses menyusui mempunyai dua mekanisme fisiologi, yaitu sebagai berikut:
1) Produksi ASI
2) Sekresi susu atau let down
Selama sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, Ketika hormon yang dihasilkan plasenta tidak ada lagi untuk menghambatnya kelenjar pituitare akan mengeluarkan hormon prolactin. Sampai hari ke III setelah melahirkan, efek prolactin pada payudara mulai dirasakan. Pembuluh darah payudara menjadi bengkak berisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak dan rasa sakit. Sel-sel acinin yang menghasilkan ASI juga mulai berfungsi.3 e. Perubahan sistem pencernaan
Ibu menjadi lapar dan siap untuk makan pada 1-2 jam setelah bersalin.
Konstipasi dapat menjadi masalah pada awal puerperium akibat dari kurangnya makanan dan pengendelian diri terhadap BAB. Ibu dapat melakukan pengendalian terhadap BAB karena kurang pengetahuan dan kekhawatiran lukanya akan terbuka bila BAB. Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun. Selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, kurang makan, atau dehidrasi.
Ibu seringkali sudah menduga nyeri saat defekasi karena nyeri yang dirasakannya di perineum akibat episiotomi, laserasi, atau hemoroid. Kebiasaan buang air yang teratur perlu dicapai kembali setelah tonus usus Kembali ke normal.6
f. Perubahan TTV pada masa nifas 1) Suhu badan
Dalam 24 jam postpartum, suhu badan akan meningkat sedikit (37,5 – 38℃) sebagai akibat kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Apabila dalam keadaan normal suhu badan akan menjadi biasa.
Biasanya pada hari ke-3 suhu badan naik lagi karena adanya pembekuan ASI.
2) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa adalah 60-80 kali permenit. Denyut nadi setelah melahirkan biasanya akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100x/menit adalah abnormal dan hal ini menunjukkan adanya kemungkinan infeksi.
3) Tekanan Darah
Tekanan darah biasanya tidak berubah. Kemungkinan tekanan darah akan lebih rendah setelah ibu melahirkan karena adanya perdarahan. Tekanan darah tinggi pada saat postpartum dapat menandakan terjadinya preeklampsia postpartum. 7
4) Pernafasan
Frekuensi normal pernapasan orang dewasa yaotu 16—24 kali per menit.
Keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan suhu dan denyut nadi. Bila suhu dan nadi tidak normal, pernapasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran pernafasan.
6. Psikologis pada Masa Nifas
Banyak faktor yang diduga berperan pada sindrom post-partum blues, salah satu yang penting adalah kecukupan dukungan sosial dari lingkungannya (terutama suami). Kurangnya dukungan sosial dari keluarga dan teman khususnya dukungan suami selama periode pasca salin (nifas) diduga kuat merupakan faktor penting dalam terjadinya post partum blues. Ada banyak perubahan yang telah terjadi di masa 9 bulan saat kehamilan, dan bahkan bisa lebih yang terjadi pada masa nifas, bahkan mungkin merasa sedikit ditinggalkan atau dipisahkan dari lingkungannya.
Banyak hal yang dapat menambah beban hingga membuat seorang Wanita merasa down. Banyak juga Wanita yang merasa tertekan setelah melahirkan, sebenarnya hal tersebut juga Wanita yang merasa tertekan setelah melahirkan, sebenarnya hal tersebut adalah wajar. Perubahan peran seorang ibu semakin besar dengan lahirnya bayi yang baru lahir. Dukungan positif dan perhatian dari seluruh anggota keluarga lainnya merupakan suatu hal yang dibutuhkan oleh ibu.
Dalam menjalani adaptasi masa nifas, sebagian ibu dapat mengalami fase taking in yang merupakan fase pada waktu segera setelah persalinan Dimana pada masa ini ibu cenderung pasif. Berlangsung 24-48 jam setelah kelahiran bayi. Ibu butuh banyak bantuan untuk melakukan hal yang mudah dan juga dalam pengambilan Keputusan. 5
a. Fase Taking in
Fase Taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Ibu baru umumnya pasif dan tergantung, perhatiannya tertuju pada kekhawatiran akan tumbuhnya. Berikut gangguan psikologis yang mungkin dirasakan ibu pada fase ini adalah sebagai berikut:
1) Kekecewaan karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan tentang bayinya misalkan: jenis kelamin tertentu, warna kulit, dan sebagainya.
2) Ketidaknyamanan sebagai akibat dari perubahan fisik yang dialami ibu misalnya rasa mules akibat dari kontraksi Rahim, payudara bengkak, akibat luka jahitan, dan sebagainya.
3) Rasa bersalah karena belum bisa menyusui bayinya
4) Suami atau keluarga yang mengkritik ibu tentang cara merawat bayinya dan cenderung melihat saja tanpa membantu. Ibu akan merasa tidak nyaman karenanya.
5) Dalam memberikan asuhan, bidan harus dapat memfasilitasi kebutuhan psikologis ibu. Pada tahap ini bidan dapat menjadi pendengar yang baik Ketika ibu menceritakan pengalamannya. Berikan juga dukungan mental atau apresiasi atas hasil perjuangan ibu dalam melahirkan bayinya.
b. Fase taking hold
Fase taking hold adalah fase/periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Ibu memiliki perasaan yang
sangat sensitive sehingga mudah tersinggung dan gampang marah sehingga kita perlu berhati-hati dalam berkomunikasi dengan ibu.
c. Fase letting go
Fase letting gomerupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya, serta kepercayaan dirinya sudah meningkat. Pendidikan kesehatan yang kita berikan pada fase sebelumya akan sangat berguna bagi ibu agar lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan diri dan bayinya.3
7. Tanda-tanda Bahaya pada Masa Nifas
Tanda-tanda bahaya postpartum adalah suatu tanda yang abnormal yang mengindikasikan adanya bahaya atau komplikasi yang terjadi selama masa nifas, berikut yang perlu diperhatikan pada masa nifas adalah:
a. Demam tinggi hingga melebihi 38℃
b. Peradarahan vagina yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah banyak (lebih dari perdarahan haid biasa atau bila memerlukan penggantian pembalut 2 kali dalam setengah jam), disertai gumpalan darah yang besar-besar dan berbau busuk.
c. Nyeri perut hebat/rasa sakit dibagian bawah abdomen atau punggung serta ulu hati.
d. Sakit kepala parah/terus menerus dan pandangan nanar/masalah penglihatan e. Pembengkakan pada wajah, jari-jari atau tangan.
f. Rasa sakit, merah atau bengkak dibagian betis atau kaki.
g. Payudara membangkak, kemerahan, lunak disertai demam.
h. Putting payudara berdarah atau merekah, sehingga sulit untuk menyusui.
i. Tubuh lemas dan terasa seperti mau pingsan, merasa sangat letih atau nafas terengah-engah
j. Kehilangan nafsu makan dalam waktu lama
k. Tidak bisa buang air besar selama tiga hari atau rasa sakit waktu buang air kecil l. Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh bayinya atau diri sendiri.7 8. Kebutuhan pada Masa Nifas
a. Kebutuhan cairan dan nutrisi
Kebutuhan gizi ibu membutuhkan nutisi 500 kalori (5-6 kali) atau 2500- 3000 kalori per hari dengan porsi makan gizi seimbang, kemudian untuk vitamin dan mineral dibutuhkan minum minimal 8-12 gelas tiap hari dan pil penambah darah (zat besi) diminum sehari 1 tablet untuk memenuhi gizi ibu nifas setidaknya sampai 40 hari setelah melahirkan. Makanan yang dikonsumsi ibu bermanfaat untuk menjaga daya tahan tubuh, mempercepat pengembalian alat-alat reproduksi seperti keadaan sebelum hamil, berguna untuk metabolisme dan aktivitas tubuh, dapat memperbanyak produksi ASI dan membantu penyembuhan luka-luka yang diakibatkan dari proses persalinan.
Asupan makanan ibu nifas yang seimbang harus mempunyai kanduangan sebagai sumber tenaga, pembangunan dan pengatur.8
Selama menyusui, jika ibu dengan status gizi yang baik rata-rata memproduksi ASI sekitar 800cc yang mengandung sekitar 600 kkal, sedangkan pada ibu dengan status gizi kurang biasanya memproduksi ASI kurang. Walaupun demikian, status gizi tidak berpengaruh besar terhadap mutu ASI, kecuali volumenya.
Kebutuhan kalori selama menyusui proporsional dengan jumlah ari susu ibu yang dihasilkan dan lebih tinggi selama menyusui di banding selama hamil.
Rata-rata kandungan kaliro ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70 kkal/100 ml dan kira-kira 85 kkal diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml yang dihasilkan. Rata-rata ibu menggunakan 640 kkal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kkal/hari selama 6 bulan kedua untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus mengonsumsi 2300-2.700 kkal ketika menyusui.
Makanan yang dikonsumsi ibu berguna untuk melakukan aktivitas, metabolisme, cadangan dalam tubuh, proses produksi ASI, serta sebagai ASI itu sendiri yang akan dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Makanan yang dikonsumsi juga perlu memenuhi syarat, seperti:
susunannya harus seimbang, porsinya cukup dan teratur, tidak terlalu asin, pedas atau berlemak, serta tidak mengandung alkohol, nikotin, bahan pengawet, dan pewarna. Ibu memerlukan tambahan 20 gr/hari protein di atas kebutuhan normal ketika menyusui.
Dasar kebutuhan ini adalah tiap 100cc ASI mengandung 1,2 gram protein.
Dengan demikian, 830cc ASI mengandung 10 gram protein. Efisiensi konversi
protein makanan menjadi protein susu hanya 70% (dengan variasi perorangan). Peningkatan kebutuhan ini ditujukan bukan hanya untuk transformasi menjadi protein susu, tetapi juga untuk sintesis hormone yang memproduksi (prolaktin), serta yang mengeluarkan ASI (oksitosin). Protein diperlukan untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang rusak atau mati.
Sumber protein dapat diperoleh dari protein hewani dan nabati. Protein hewani antara lain telur, daging, ikan, udang, kerrang, susu, dan keju.
Sementara itu, protein nabati banyak terkandung dalam tahu, tempe, kacang- kacangan, dan lain-lain. Ibu nifas juga dianjurkan untuk mendapatkan asupan dari nutrisi lain, berikut adalah perbandingan tambahan nutrisi ibu menyusui pada Wanita asia dan amerika.9
Tabel 2.2 Tabel Nutrisi Ibu Nifas
Selain nutisi tersebut, ibu menyusui juga dianjurkan makan makanan yang mengandung asam lemak omega 3 yang banyak terdapat dalam ikan kakap, tongkol, dan lemeru. Asam ini akan diubah menjadi DHA yang akan dikeluarkan melalui ASI. Kalsium terdapat pada susu, keju, teri, kacang- kacangan. Zat besi banyak terdapat pada makanan laut. Vitamin C banyak terdapat pada buah-buahan yang memiliki rasa asam, seperti jeruk, mangga, sirsak, apel, tomat dll. Vitamin B1 dan B2 terdapat pada kacang-kacangan, hati telur, ikan, dan sebagainya. Ada beberapa sayuran yang menurut pengalaman Masyarakat dapat memperbanyak pengeluaran ASI, misalnya sayur daun turi (daun katuk) dna kacang-kacangan.
Jika kekurangan gizi pada ibu menyusui dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada ibu dan bayinya. Gangguan pada bayi meliputi proses tumbuh kembang anak, bayi mudah sakit, dan mudah terkena infeksi. Kekurangan xat- xat esensial menimbulkan gangguan pada mata maupun tulang.10
b. Ambulasi dan Mobilisasi Dini
Ambulasi dini adalah latihan aktifitas ringan membimbing ibu untuk segera pulih dari trauma ppersalinan, dengan cara membimbing ibu mulai dari miring kanan miring kiri, latihan duduk, berdiri bangun dari tempat tidur, kemudian dilanjutkan latihan berjalan. Menurut penelitian ambulasi dini tidak mempunyai pengaruh buruk bagi ibu post partum, perdarahan abnormal, luka episiotomi, dan tidak menyebabkan terjadinya prolapse uteri atau terjadinya retrofleksi.
Ambulasi dini sangat bermanfaat bagi ibu nifas dengan kondisi normal namun tidak buat ibu nifas dengan penyakit anemia, jantung, paru-paru, demam, dan keadaan lain yang masih membutuhkan istirahat. Perawatan mobilisasi dini mempunyai keuntungan, yaitu:
1) Melancarkan pengeluaran lochea, mengurangi infeksi puerperium 2) Mempercepat involusi uteri
3) Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat kelamin
4) Meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.
Ambulasi dini dilakukan secara perlahan namun emningkat secara berangsur-angsur, mulai dari jalan-jalan ringan dari jam ke jam sampai hitungan hari hingga pasien dapat melakukannya sendiri tanpa pendamping sehingga tujuan memandirikan pasien dapat terpenuhi.8
c. Eliminasi
Biasanya dalam 6 jam pertama postpartum, pasien sudah dapat buaang air kecil. Semakin lama urine ditahan, maka dapat mengakibatkan infeksi. Maka dari itu bidan harus dapat meyakinkan ibu supaya segera buang air kecil, karena biasanya ibu malas buang air kecil karena takut akan merasa sakit.
Segera buang air kecil setelah melahirkan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi post partum. Dalam 24 jam pertama, pasien juga sudah harus dapat buang air besar. Buang air besar tidak akan memperparah luka jalan lahir, maka dari itu buang air besar tidak boleh ditahan-tahan. Untuk memperlancar buang air besar, anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan tinggi serat dan minum air putih.3,8
d. Personal Hygiene dan Perineum
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman pada ibu. Vulva hygiene adalah membersihkan vulva dan daerah sekitarnya pada pasien Wanita yang sedang nifas atau tidak dapat melakukannya sendiri. Pasien yang harus istirahat di tempat tidur (misalnya, karena hipertensi, pemberian infus, sectio caesarea) harus dimandikan setiap hari dengan pencucian daerah perineum yang dilakukan dua kali sehari dan pada waktu sesudah selesai membuang hajat. Meskipun ibu yang akan bersalin biasanya masih muda dan sehat, daerah-daerah yang tertekan tetap memerlukan perhatian serta perawatan protektif. 3,8
e. Istirahat
Ibu postpartum sangat membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan kembali keadaan fisik. Kurang istirahat pada ibu postpartum akan mengakibatkan beberapa kerugian, misalnya:
1) Mengurangi jumlah produksi ASI.
2) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan.
3) Menyebabkan depresi dan ketidaknyamanan untuk merawat bayi dan diri sendiri.
4) Bidan harus menyampaikan kepada pasien dan keluarga agar ibu kembali melakukan kegiatan-kegiatan rumah tangga secara perlahan dan bertahap.
Namun harus tetap melakukan istirahat minimal 8 jam sehari, 1 jam disiang hari dan 7 jam di malam hari.6,9
f. Seksual
Secara fisik, aman untuk melakukan hubungan seksual begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Tetapi banyak budaya dan agama yang melarang sampai masa waktu tertentu misalnya 40 hari atau 6 minggu setelah melahirkan. Namun keputusan itu tergantung pada pasangan yang bersangkutan.6
g. Keluarga Berencana
Ibu postpartum dan keluarga juga harus memikirkan tentang menggunakan alat kontrasepsi setelah persalinan untuk menghindari kehamilan yang tidak direncanakan. Penggunaan alat kontrasepsi setelah persalinan dapat melindungi ibu dari resiko kehamilan, karena menjalani proses kehamilan
seorang Wanita membutuhkan fisik dan mental yang sehat serta stamina yang kuat. Adapun beberapa metode kontrasepsi yang dapat ibu pilih yaitu:
1) Metode amenorrhea laktasi (MAL) 2) Pil progestin (mini pil)
3) Suntikan progestin
4) Kontrasepsi implant, alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau intra uterin device (IUD).3
9. Kunjungan Asuhan Masa Nifas
Kunjungan rumah pada masa nifas dilakukan sebagai suatu Tindakan untuk pemeriksaan postpartum lanjutan. Kunjungan rumah direncanakan untuk bekerjasama dengan keluarga dan dijadwalkan berdasarkan kebutuhan. Pada program terdahulu, kunjungan bisa dilakukan sejak 24 jam setelah pulang. Jarang sekali suatu kunjungan rumah ditunda sampai hari ketigas setelah pulang ke rumah.
Kunjungan berikutnya direncanakan sepanjang minggu pertama jika diperlukan.
Kunjungan masa nifas dilakukan sedikitnya empat kali untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir juga mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah-masalah yang terjadi. Berdasarkan program dan kebijakan teknis kunjungan masa nifas minimal dilakukan sebanyak empat kali untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.
10. Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas
a. Teman terdekat, sekaligus pendamping ibu nifas dalam menghadapi situasi kritis saat masa nifas. Pada awal masa nifas, ibu mengalami masa-masa sulit.
Saat itulah ibu sangat membutuhkan teman dekat yang bisa diandalkan oleh ibu untuk mengatasi kesulitan yang dialami. Bagaimana pola hubungan yang terbentuk antara ibu dan bidan akan sangat ditentukan oleh keterampilan bidan dalam memberikan asuhan, serta sebagai teman dekat pendamping ibu. Jika pada tahap ini hubungan yang terburuk sudah baik maka tujuan dari asuhan akan lebih mudah tercapai.
b. Pendidik dalam usaha pemberian pendidikan kesehatan terhadap ibu dan keluarga. Masa nifas merupakan masa yang paling efektif bagi bidan dalam menjalankan perannya sebagai pendidik. Dalam hal ini, tidak hanya ibu yang mendapatkan materi kesehatan, tetapi juga keluarga. Hal ini merupakan salah satu teknik yang tepat dalam pemberian Pendidikan kesehatan, selain itu setiap
pengambilan Keputusan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan bayi bidan harus melibatkan keluarga dalam pelaksanaan pemberian asuhan.
c. Pelaksan asuhan kepada pasien dalam hal Tindakan perawatan, pemantauan, penanganan masalah, rujukan, dan deteksi dini komplikasi masa nifas. Dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya, bidan sangat di tuntut kemampuannya dalam menerapkan teori yang sesuai kepada pasien.3,8
11. Kebijakan Program Nasional pada Masa Nifas
Kebijakan program masa nifas paling sedikit 4 kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk:
a. Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.
b. Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayi.
c. Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.
d. Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.6
B. LUKA PERINEUM 1. Pengertian
Luka perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik secara spontan maupun dengan menggunakan alat atau tindakan. Robekan perineum umumnya terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin terlalu cepat keluar.1,11
Perawatan luka perineum pada ibu setelah melahirkan berguna untuk mengurangi rasa ketidaknyamanan, menjaga kebersihan, mencegah infeksi dan mempercepat penyembuhan. Perawatan perineum umumnya bersamaan dengan perawatan vulva. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah mencegah kontaminasi dengan rectum, menangani dengan lembut jaringan luka, membersihkan darah yang menjadi sumber infeksi dan bau.
2. Klasifikasi Luka Perineum a. Episiotomi
Episiotomi adalah tindakan insisi pada perineum yang dilaksanakan segera sebelum kelahiran bayi pada proses persalinan. Dimana tindakan tersebut bertujuan untuk memperluas permukaan vagina untuk mempercepat kelahiran bayi. Bagian terbawah janin harus sudah sampai di perineum dan sebelum
pelaksanaan tindakan harus diberikan analgesia/penghilang rasa sakit.
Analgesia yang diberikan bersifat lokal.3 b. Ruptur
Ruptur perineum dapat terjadi karena adanya robekan spontan maupun episiotomi. Ruptur perineum yang dilakukan dengan episiotomi itu sendiri harus dilakukan atas indikasi antara lain: bayi besar, perineum kaku, persalinan yang kelainan letak, persalinan dengan menggunakan alat (forceps atau vacum). Karena apabila episiotomi itu tidak dilakukan atas indikasi di atas, maka menyebabkan peningkatan kejadian dan beratnya kerusakan pada daerah perineum yang lebih berat. Sedangkan luka perineum itu sendiri akan mempunyai dampak tersendiri pada ibu yaitu gangguan ketidaknyamanan dan perdarahan, sedangkan ruptur perineum spontan terjadi karena beban psikologis menghadapi proses persalinan dan yang lebih penting lagi ruptur perineum terjadi karena ketidaksesuaian antara jalan lahir dan janinnya, oleh karena efek yang ditimbulkan dari ruptur perineum sangat kompleks.3
c. Macam-macam luka pada perineum 1) Derajat 1
Meliputi mukosa vagina, kulit perineum tepat dibawahnya. Umumnya robekan tingkat 1 dapat sembuh sendiri, penjahitan tidak diperlukan jika tidak ada perdarahan dan luka dapat menyatu dengan baik.
2) Derajat 2
Meliputi mukosa vagina, kulit perineum dan otot perineum. Perbaikan luka dilakukan setelah diberi anastesi lokal kemudian otot-otot diafragma urogenitalis dihubungkan di garis tengah dengan jahitan kemudian lluka pada vagina dan kulit perineum ditutupi dengan mengikut sertakan jaringan-jaringan dibawahnya.
3) Derajat 3
Meliputi mukosa vagina, kulit perineum, otot perineum dan otot spingterani eksternal. Pada laserasi partialis denyut ketiga yang robek hanyalah spingter.
4) Derajat 4
Pada laserasi yang total spingter recti terpotong dan laserasi meluas sehingga dinding anterior rectum dengan jarak yang bervariasi.3
Gambar 2.1 Derajat Ruptur Perineum
3. Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka perineum a. Gizi
Nutrisi yang dibutuhkan untuk mempercepat proses penyembuhan luka perineum akibat persalinan adalah dengan mengkonsumsi makanan yang tinggi serat dan protein. Protein banyak didapatkan pada makanan, khususnya daging dan ikan. Semua jenis ikan umumnya merupakan sumber protein yang sangat baik.12
b. Mobilisasi Dini
Mobilisasi dini adalah aktivitas segera oada masa nifas, dilakukan segera setelah istirahat beberapa jam dengan bangun dari tempat tidur pada persalinan normal. Gerakan ini dapat menurunkan lochea dan di dalam rahim, meningkatkan aliran darah di sekitar genitalia dan mempercepat kembalinya genital pada keadaan semua.
Mobilisasi dini yang baik dapat membentu penyembuhan luka perineum dengan cepat dikarenakan mobilisasi dini yang dilakukan ibu postpartum memperlancar sirkulasi darah membantu pemulihan dan mencegah infeksi.13 c. Sosial ekonomi
1) Faktor sosial
Secara sosial terjadi perubahan-perubahan pada wanita yang sudah melahirkan, perlu menyesuaikan diri terhadap dasar sebagai ibu, atau penambahan anak. Terdapat konflik rasa kewanitaan dan rasa keibuan pada masa nifas. Sebagian Wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik pada masa nifas, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri
dengan keadaan sosialnya sehingga mengalami gangguan-gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau sindroma. Berarti secara langsung bahwa perubahan sosial menentukan psikologis ibu nifas.
Perubahan sosial yang akan dialami oleh ibu setelah melahirkan di antaranya:
a) Menjadi orang tua yang sempurna maksudnya di sini adalah bagi pasangan yang baru pertama kali memiliki anak terdapat perubahan sosial besar dimana sebelumnya hanya ada 2 orang (suami istri) tiba- tiba berubah menjadi orangtua yang sempurna ketika buah hati lahir.
Pada masa ini, suami istri dituntut untuk menjadi orangtua yang siap siaga 24 jam dalam kehidupannya, dimulai dengan mengatur jadwal bersama demi si buah hati untuk memenuhi kebutuhannya. Mulai dari pemberian ASI, bangun di tengah malam, memasang popok, memandikan, dan lain-lain. Semua itu harus dipersiapkan dengan baik-baik agar perubahan sosial menjadi orang tua dapat dicapai dengan maksimal. Dan bagi orangtua yang sebelumnya telah memiliki anak, pekerjaan tambahannya adalah memberikan pengertian dan keadilan kasih sayang terhadap anak sebelumnya dan yang baru saja dilahirkan. Di sini orang tua dituntut memberikan pemahaman yang baik pada anak sebelumnya tentang kehadiran anggota keluarga baru agar tidak terjadi kesenjangan kasih sayang yang diberikan.
b) Penerimaan anggota baru oleh keluarga besar dengan kehadirannya seorang anggota baru dalam sebuah keluarga, secara tidak langsung mengubah suasana seluruh anggota besar. Disini dimaksudkan dengan adanya kelahiran bayi diharapkan anggota keluarga besar (seperti kakek, nenek, mertua, dan lain-lain) bisa digerakkan dalam membantu serta untuk merawat si bayi. Hal ini dimaksudkan agar tercipta suasana kekeluargaan yang erat antara kehadiran si buah hati dengan keluarga besarnya.9
2) Faktor Ekonomi
Status ekonomi merupakan simbol status sosial di masyarakat.
Pendapatan yang tinggi menunjukkan kemampuan masyarakat dalam memenuhi zat gizi untuk ibu hamil. Sedangkan kondisi ekonomi keluarga
yang rendah mendorong ibu nifas untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan kesehatan.2
4. Etiologi luka perineum a. Penyebab Maternal
1) Partus prisipitatus yang tidak dikendalikan dan tidak ditolong.
2) Pasien tidak mampu berhenti mengejan, partus diselesaikan secara tergesa-gesa dengan dorongan fundus yang berlebihan.
3) Edema dan kerapuhan pada perineum.
4) Areus pubis sempit dengan pintu bawah panggul yang sempit pula sehingga menekan kepala bayi ke arah posterior.
5) Perluasan episiotomi.8 b. Faktor Janin
Faktor utama yang mempengaruhi angka kejadian rupture perineum adalah ibu primigravida yang melahirkan bayi baru lahir dengan berat badan >3500 gr, ukuran kepala janin >35 cm, faktor distosia bahu, posisi ibu meneran, dan episiotomi yang sengaja dilakukan menggunakan alat.8
5. Perawatan luka perineum a. Pengertian
Perawatan luka perineum guna membantu penyembuhan luka perineum. Agar tidak terjadi infeksi tersebut maka diperlukan perawatan luka perineum yang bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan luka jaringan atau luka dari episiotomi.14
b. Waktu perawatan luka perineum Waktu perawatan perineum adalah:
1) Saat mandi
Pada saat mandi, ibu postpartum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
2) Setelah buang air kecil
Pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi kontaminasi air seni pada rektum akibatnya dapat memicu
pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
3) Setelah buang air besar
Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anuh dan perineum secara keseluruhan.3
6. Penyembuhan luka perineum
Yang mengalami penyembuhan luka perineum dalam waktu 7 hari sebagian besar adalah responden yang tidak mendapatkan lidokain selama proses penjahitan dan ada yang mengalami kelambatan dalam penyembuhannya. Jika luka jahit, terjadi penutupan jaringan yang disatukan dan tidak ada ruang yang kosong. Perawatan luka perineum yang tepat setelah melahirkan normal penting untuk mencegah serangan infeksi. Di sisi lain, menerapkan perawatan luka jahit pada perineum dengan baik dan benar juga mempercepat penyembuhan area di sekitarnya.15,16 C. APLIKASI MANAJEMEN KEBIDANAN MASA NIFAS dengan LUKA
PERIENUM
Manajemen kebidanan adalah suatu pendekatan proses pemecahan masalah yang diinginkan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, keterampilan dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus pada klien.
1. Data Subjektif
a. Menanyakan keluhan ibu saat ini apakah merasakan keluar darah berlebih atau tidak, dan berbau atau tidak pada area genitalia.
b. Menanyakan kepada ibu apakah bayinya sudah mencoba atau sudah berhasil dilakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Jika bayi sudah berhasil IMD maka hubungan ibu dan bayi sudah terjalin melalui Bounding Attechment.
c. Menanyakan kepada bagaimana cara ibu agar bayinya tetap hangat untuk mencegah hipotermia.
d. Menanyakan perasaan setelah persalinan.
e. Menanyakan kepada ibu tanda bahaya masa nifas.
f. Menanyakan kepada ibu pola nutrisi dan hidrasinya apakah cukup terpenuhi atau tidak.
g. Menanyakan kepada ibu apakah sudah menyusui bayinya dengan baik.
2. Data Objektif
Untuk dapat menentukan diagnosa bidan harus melakukan pemeriksan fisik secara head to toe dengan inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi yang dilakukan secara berurutan. Adapun langkah pemeriksaan dalam asuhan nifas normal:
a. Keadaan Umum (Apakah baik atau tidak) b. Kesadaran (Composmentis atau yang lainnya) c. Pemeriksaan Tanda-tanda Vital
1) Tekanan darah 2) Nadi
3) Respirasi 4) Suhu
d. Pemeriksaan Fisik
1) Mata (Apakah terdapat pucat pada konjungtiva) 2) Leher (Apakah ada pembengkakan atau tidak)
3) Payudara (Bentuk, gangguan, pengeluaran ASI, keadaan putting, kebersihan)
4) Abdomen (Kontraksi, uterus, TFU, kandung kemih) 5) Esktermitas (Apakah terdapat edema ataupun dehidrasi)
6) Genitalia (Pengeluaran lochea, adakah luka jahitan dan keadaannya bersih atau tidak)
7) Anus (Kebersihan, ada haemoroid atau tidak) 3. Analisa
Ny...Usia...P..A..Postpartum 2 jam dengan luka perineum.
4. Penatalaksanaan
a. Mengingatkan kepada ibu untuk selalu menjaga kebersihan area genitalianya terutama pada luka jahitan dengan prinsip bersih dan kering, membasuhnya dari arah depan ke belakang.
b. Memberitahu ibu tanda bahaya masa nifas seperti demam, sakit perut hebat, bengkak pada payudara, dan pendarahan.
c. Memberitahu ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayinya dengan tidak membiarkan dekat udara, dekat benda dingin, selalu memakaikan topi dan selimut pada bayi untuk mencegah hipotermia.
d. Memberitahu ibu mengenai nutrisi dan hidrasi yang harus terpenuhi pada ibu nifas.
e. Mengajarkan kepada ibu untuk melakukan senam nifas untuk membantu proses involusi uterus atau proses pengecilan Rahim menjadi seperti keadaan sebelum hamil.
f. Memberitahu ibu untuk selalu memberikan bayinya ASI ekslusif sampai usia 6 bulan dan tidak diberi tambahan cairan ataupun makanan lainnya.
g. Mengajarkan ibu teknik menyusui yang baik dan benar.
h. Memberikan konseling kepada ibu untuk menunda memiliki anak lagi dan memberitahu mengenai KB pasca salin yang akan digunakan ibu.
BAB III
METODOLOGI LAPORAN KASUS
A. Metodologi penulisan
B. Teknik Pengumpulan Data
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
1. Wa Ode Rahayu, Saputri, L. H. & Nurhayati. Asuhan Kebidanan Post Natal pada Ny.
N dengan Nyeri Luka Perineum. Wind. Midwifery J. 05, 94–101 (2023).
2. Dian Anisya, M, A. & Abeng, A. T. Asuhan Kebidanan Postpartum pada Ny. Y dengan Nyeri Luka Jahitan Perineum. Wind. Midwifery J. 03, 60–68 (2023).
3. Kasmiati. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Masa Nifas; Dilengkapi Dengan Evidence Based Perawatan Luka Perineum Masa Nifas. Paper Knowledge Toward a Media History of Documents vol. 135 (2023).
4. Nurul Azizah, N. A. Buku Ajar Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Nifas Dan Menyusui.
Buku Ajar Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui (2019).
doi:10.21070/2019/978-602-5914-78-2.
5. Triana et al. Modul Ajar Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. 92 (2018).
6. Savita;, R. ï H. H. C. J. S. S. T. M. D. N. F. Buku Ajar Nifas Diii Kebidanan Jilid III.
Mahakarya Citra Utama Group (2023).
7. No Title. (2022).
8. Maya Saputri STIKes Hang Tuah Pekanbaru Jl Mustafa Sari No, E. & Selatan, T.
Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Pada 6 Jam S/D 6 Hari Postpartum. J. Komun. Kesehat.
XI, 96 (2020).
9. Firdausi, N. I. No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連指標
に関する共分散構造分析Title. Kaos GL Derg. 8, 147–154 (2020).
10. Asiva Noor Rachmayani. No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健
康関連指標に関する共分散構造分析Title. 6 (2015).
11. Asma, Evi Istiqamah & Andi Masnilawati. Asuhan Kebidanan Post Natal pada Ny. J dengan Nyeri Luka Perineum. Wind. Midwifery J. 03, 173–180 (2022).
12. Sebayang, W. B. & Ritonga, F. Nutrisi Efektif Mempercepat Penyembuhan Luka Perineum pada Ibu Post Partum (Systematic Review). J. Kesehat. 12, 330–336 (2021).
13. Sidqi, L. Hubungan Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Nutrisi Ibu Nifas dengan
Pecepatan Penyembuhan Luka Perineum di Puskesmas Grogol, Kotasari Tahun 2022.
SIMFISIS J. Kebidanan Indones. 3, 676–681 (2024).
14. Pinggarsiwi, C. & Suparyanto. Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Pada Perawatan Luka Perineum Di Ruang Nifas Puskesmas Cukir Diwek Jombang. Stikes Pemkab Jombang 1, 1–2 (2015).
15. Dhirah, U. H., Meilina, R. & ZA, R. N. Penyuluhan Kesehatan Tentang Kesembuhan Luka Perineum Pada Ibu Post Partum Di Puskesmas Padang Tiji Kabupaten Pidie. J.
Pengabdi. Masy. 3, 125–127 (2021).
16. Nurafifah, D. Pengaruh Pemberian Povidone Iodine Terhadap Kecepatan
Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu Post Partum. J. Media Med. Muda 1–6 (2016).