• Tidak ada hasil yang ditemukan

d31e7726-e686-45ac-8636-0299022aaa33 10-13 (1)

N/A
N/A
Muhammad Yusran

Academic year: 2023

Membagikan "d31e7726-e686-45ac-8636-0299022aaa33 10-13 (1)"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/345453503

Pusat Wisata Kuliner di Badung, Bali: Aplikasi Material Alami dalam Konteks Arsitektur Hijau

Article · July 2018

CITATIONS

0

READS

320

3 authors, including:

Ni Ketut Agusintadewi Udayana University 52PUBLICATIONS   39CITATIONS   

SEE PROFILE

(2)

Ni Made Mas Gina Larasati Dewi (1304205003)1), Ni Ketut Agusintadewi2), dan I Gusti Bagus Budjana3)–Pusat Wisata

Kuliner di Badung, Bali

169

PUSAT WISATA KULINER DI BADUNG, BALI Aplikasi Material Alami dalam Konteks Arsitektur Hijau

Ni Made Mas Gina Larasati Dewi1), Ni Ketut Agusintadewi2), dan I Gusti Bagus Budjana3)

1)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]

2)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]

3)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]

ABSTRACT

Badung district is the center of Bali tourism, North Badung region especially. Besides being knows for its tourism desti- nantion, culture is one of the factor that affect the tourist to visit this region because the local people still accentuate Bali- nese traditional culture itself. One of the local culture that still exsist until now is Balinese culinary, with pork, chicken, duck, or fish as the main ingridients. Besides tourist destination such as beaches, malls,and cafes, North Badung espe- cially Canggu region known well as a region that still present the natural beauty of Bali that can be characterize by the presence of many villas and other commercial industries. As efforts in preserving the local area and Balinese culture, the material that will be use in this project must be adjusted in order to create a natural atmosphere remain beautiful yet still give an impression of harmony with the surruounding buildings.

Keywords: Balinese Culinary, Tourism, Balinese Culture, Natural

ABSTRAK

Kabupaten Badung merupakan sentra pariwisata Bali, khususnya wilayah Badung Utara. Selain terkenal karena destinasi wisatanya, kebudayaan merupakan salah satu faktor yang mengundang para wisatawan datang ke daerah ini dikarenakan masyarakat lokal tetap menonjolkan dan mengutamakan kebudayaan tradisional Bali. Salah satu kebudayaan lokal yang masih terjaga hingga saat ini yaitu warisan kuliner Bali, dengan menu andalan berupa olahan berbahan dasar daging babi, ayam, bebek, maupun ikan. Selain wisata alam, belanja dan kuliner, Badung Utara khususnya daerah Canggu dikenal dengan wilayahnya yang masih asri yang ditandai dengan banyaknya villa dan juga usaha komersil lainnya yang mengandalkan keasrian daerah ini, selain itu daerah ini juga dekat dengan beberapa titik wisata pantai yang terkenal seperti Pantai Berawa dan Pantai Batu Bolong. Sebagai upaya untuk melestarikan keasrian daerah setempat dan kebudayaan Bali, pemilihan material yang tepat pada rancangan proyek harus disesuaikan agar dapat mendukung konsep yang terpilih yaitu konsep arsitektur hijau dimana konsep ini membantu mewujudkan lingkungan yang asri, dapat membantu kelestarian lingkungan setempat, dan tetap memperlihatkan bagaimana rancangan dapat menunjukkan kesan harmonis dengan bangunan-bangunan lain yang ada pada daerah tersebut.

Kata Kunci: Wisata Kuliner, Budaya Bali, Material, Arsitektur hijau

PENDAHULUAN

Salah satu daya tarik wisata yang ada di Bali yaitu pada bidang kulinernya. Kuliner tradisional Bali memiliki cita rasa khas dan daya tarik yang mampu memikat para wisatawan dikarenakan bahan- bahan dan proses pengolahannya yang bisa dibilang unik akan tetapi, keberadaan fasilitas yang menjual hidangan khas Bali secara komersil masih terbilang sedikit dikarenakan semakin maraknya restoran- restoran komersil yang lebih memilih menghidangkan menu-menu internasional sebagai menu andalannya. Maka dari itu dibutuhkan fasilitas-fasilitas penunjang kuliner seperti Pusat Wisata Kuliner yang dapat memfasilitasi perdagangan kuliner khas daerah Bali. Dalam perancangan suatu fasilitas yang masih kental kaitannya dengan kebudayaan daerah, diperlukan konsep maupun tema yang mendukung agar dapat tercipta suasana yang nyaman serta mengundang bagi para pengunjung. Terwujudnya tema dan konsep yang sesuai tidak lepas dari peran material yang akan digunakan pada perancangan fasilitas ini. Sesuai dengan konsep yang terpilih yaitu konsep arsitektur hijau, dalam arsitektur hijau peran material sangatlah penting dikarenakan ada material yang bersifat alami maupun buatan. Untuk menyesuaikan dengan konsep yang terpilih yaitu konsep

(3)

arsitektur hijau, maka pemilihan materialpun tidak jauh dari material yang memiliki kesan alami serta ramah lingkungan.

SPESIFIKASI RANCANGAN

Definisi

Pusat wisata kuliner merupakan suatu wadah yang digunakan untuk mendukung kegiatan kepariwisataan dalam kegiatan kulinernya, fasilitas ini menyajikan kuliner khas Bali sebagai menu utamanya. Menu utama yang disajikan merupakan menu hidangan khas Bali seperti babi guling, bebek goreng, sup ikan serta ayam betutu. Dikarenakan fasilitas ini berlokasi di daerah Canggu, Kuta Utara, dimana daerah tersebut masih asri dan memiliki unsur budaya yang kental, banyak wisatawan yang menghabiskan waktu berliburnya di daerah tersebut. Fasilitas wisata kuliner ini akan memiliki luas lahan yang terbangun sebesar ±3500 m2. Sesuai dengan konsep terpilih yaitu arsitektur hijau, fasilitas wisata kuliner ini akan menggunakan material bambu pada bangunan utamanya yaitu area stand makanan, dan area duduk indoor. Pengunaan material bambu pada fasilitas ini bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan material alami pada bangunan sehingga mampu mendukung konsep yang sudah ditentukan, bambu sendiri memiliki sifat tumbuh yang cepat dan mudah diadur ulang. Selain itu, bambu juga memberikan nilai estetis tinggi serta mampu menampilkan kesan alami sehingga sesuai dengan konsep yang sudah ditentukan sebelumnya. Selain bambu, penggunaan material alami lainnya adalah ilalang, dimana ilalang ini digunakan sebagai penutup atap.

Adapun fasilitas-fasilitas yang diberikan di pusat wisata kuliner ini yaitu, area stand makanan, area duduk indoor, outdoor area, VIP room, dan ruang kelas memasak.

Lokasi Terpilih

Lokasi terpilih untuk fasilitas ini berda di daerah Canggu, Kcamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Area ini merupak lahan kosong yang dikelilingi sawah. Pada daerah ini jga banyak terdapat destinasi wisata seperti pantai, taman hiburan, dan juga banyak terdapat villa ataupun penginapan. Pusat wisata kuliner ini merupakan fasilitas yang akan menjadi penunjang dalam bidang kuliner pada daerah tersebut.

PEMILIHAN JENIS MATERIAL PADA BANGUNAN

Tema yang digunakan pada bangunan ini adalah natural harmoni yang lebih mengarah kepada konsep arsitektur hijau. Salah satu konsep yang digunakan untuk mewujudkan suatu bangunan yang ramah lingkungan dengan memaksimalkan sumber daya alam yang ada seperti penggunaan material-material alami, pemanfaatan cahaya matahari, pemanfaatan air hujan serta angin alami adalah konsep arsitektur hijau. Selain dengan cara memanfaatkan sumber daya alam yang ada, penerapan arstektur hijau dapat juga dilakukan dengan cara memanfaatkan material-material alami secara maksimal. Ciri-ciri dari arsitektur hijau dapat diwujudkan dengan menggunakan material bangunan yang mudah diperbaharui dan bersifat alami, contohnya adalah bambu ataupun ilalang serta pemanfaatan cahaya matahari, dan memaksimalkan penghawaan alami. Pemanfaatan sumber daya alam ini dapat membantu meminimalisir penggunaan energi listrik. Pemanfaatan sumber daya alam secara maksimal dapat dilakukan pada saat perancangan tapak.

Masa bangunan diarahkan langsung ke arah matahari terbit dengan pertimbangan memaksimalkan cahaya yang masuk ke dalam bangunan. View pada tapak juga berpengaruh pada peletakan masa bangunan.

Gambar 1. Lokasi Pusat Wisata Kuliner Di Badung Sumber : Dewi, 2017:79

(4)

Ni Made Mas Gina Larasati Dewi (1304205003)1), Ni Ketut Agusintadewi2), dan I Gusti Bagus Budjana3)–Pusat Wisata

Kuliner di Badung, Bali

171

Area belakang yang merupakan area duduk outdoor dilngkapi dengan taman serta kolam buatan.

Penempatan kolam pada area ini bertujuan untuk menambah suasana asri pada area belakang agar suasana menjadi lebih sejuk. Selain itu pada area outdoor juga langsung dihadapkan ke view sawah agar pengunjung dapat menikmati view yang ada.

Penggunaan material alam seperti bambu dan juga atap ilalang akan memberi kesan natural dan alami.

Penggunaan material pada bangunan ini juga memiliki nilai tambah dalam segi estetika pada bangunan.

Pemilihan material bambu tidak hanya bertujuan untuk menampilkan nilai estetika, bambu merupakan material alami yang cukup kuat serta mudah didapat di derah setempat. Bambu mampu bertahan hingga kurang lebih 15 tahun dengan perawatan yang tepat. Sedangkan penggunaan atap ilalang pada bangunan dapat memberikan banyak dampak positif bagi bangunan, yaitu atap ilalang tidak berbahaya dan mengandung bahan beracun, mampu memberikan kesan sejuk pada bangunan, cara pemasangan penutup atap jenis ilalang juga terbilang sederhana, dan lain-lain. Selain penguunaan bambu dan juga atap ilalang, pada bangunan ini juga dilengkapi dengan material batu alam yang juga menambah nilai estetika dari corak dan warna yang ditampilkan. Pemilihan batu alam dapat memberikan kesan estetis dari pemilihan warnanya dan coraknya yang beragam.

Area duduk outdoor pada fasilitas ini lebih ditonjolkan dengan softscapenya yaitu peletakan beberapa vegetasi serta kolam. Tujuan dari diletakkannya kolam dan juga beberapa vegetasi tersebut adalah untuk

Gambar 2. Orientasi Bangunan Sumber : Dewi, 2017:80

Gambar 3. Penggunaan Material Bambu Sumber : Dewi, 2017

(5)

memberikan kesan sejuk pada area ini. Selain itu juga terdapat aerea hardscape yang berfungsi sebagai pedestrian yang juga dikelilingi oleh vegetasi berupa rumput. Penggunaan material alami pada area outdoor ini lebih diarahkan dengan penggunaan batu alam pada hardscapenya.

Implikasi

Penggunaan material alam pada bangunan mampu mendukung konsep yang sudah terpilih sebelumnya yai- tu konsep arsitektur hijau. Konsep ini mampu memberikan kesan natural dan alami serta nyaman bagi pengunjung yang datang maupun pengelola atau pegawai. Selain itu, konsep ini juga mampu menjaga ke- lestarian lingkungan dikarenakan material-materila yang digunakan untuk mendukung konsep ini merupakan material alami yang ramah lingkungan seperti bambu, ilalang maupun batu alam.

HASIL PERANCANGAN

Penggunaan material alam seperti bambu, ilalang, maupun batu alam dapat mendukung konsep yang digunakan pada rancangan yaitu arsitektur hijau. Penggunaan material alam dapat dikatakan berpengaruh pada arsitektur hijau karena material-material tersebut mudah didapat, mudah didaur ulang serta dapat menampilkan estetika yang alami. Pada desain bangunan menggunakan atap ekspose limasan dengan ma- terial bambu sebagai struktur dan bahan penutup ilalang. Orientasi massa menghadap ke arah timur dengan bangunan utama yang semi terbuka mampu memanfaatkan cahaya matahari dan juga angin secara maksi- mal, selain itu bangunan utama yang semi terbuka juga lebih bersifat mengundang. Sedangkan untuk area outdoor lebih difokuskan untuk softscape seperti kolam dengan tujuan untuk memberikan kesan sejuk pada rancangan.

SIMPULAN

Penggunaan material alam ini dirasa sudah cocok dengan konsep yang digunakan yaitu konsep arsitektur hijau. Perancangan pusat wisata kuliner dengan konsep arsitektur hijau memberikan nuansa yang asri.Gaya arsitektur hijau dapat dikatakan cocok dengan fasilitas ini serta lingkungan sekitarnya. Pemilihan material pada bangunan ini diharapkan mampu memberikan kenyamanan baik bagi pengunjung maupun pengelola, selain itu juga diharapkan desainnya mampu membantu kelestarian lingkungan, serta terlihat lebih menyatu dengan lingkungan sekitar fasilitas pusat wisata kuliner ini. Untuk fasilitas komersil seperti pusat wisata kuliner ini diharapkan mampu memberikan suasana alami Bali yang dicurahkan dalam desain bangunannya, namun tidak meninggalkan kesan nyaman untuk civitas yang ada pada fasilitas tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Attman, Osman. 2010. ‘Green Architecture: Advanced Technologies and Materials’. Cetakan Kedua. Chica- go: McGraw-Hill Book

Bromberek, Zbigniew. 2009. 'Planning And Design For The Tropics’. Cetakan Pertama. New York: Architec- tural Press

Karyono, Tri Harso. 2010. ‘Green Architecture, Pengantar Pemahaman Arsitektur Hijau Di Indonesia’.

Cetakan Kedua. Depok: Raja Garfindo Persada.

Larasati, Gina. 2017. ‘Pusat Wisata Kuliner Di Badung’. Tugas Akhir. Jimbaran: Universitas Udayana Lawson, Fred. 1994. ‘Restaurants, Clubs, and Bars’. Cetakan Kedua. New York: Architectural Press

Gambar 4. Area Outdoor Sumber : Dewi, 2017

Referensi

Dokumen terkait

tempat hiburan, fasilitas ini juga mampu menjadi dampak untuk lingkungan sekitarnya. Tidak hanya baik ke dalam, tetapi juga keluar. Konsep perancangan juga harus

Konsep Sekolah Ramah Anak didefinisikan sebagai program untuk mewujudkan kondisi aman, bersih, sehat, peduli, dan berbudaya lingkungan hidup, yang mampu menjamin

Selain praktis dalam pemasangan, Dengan adanya alat ini, diharapkan mampu membuka wacana kita tentang adanya Termoelektrik yang lebih ramah lingkungan bila

Hal ini selain dikarenakan adanya fertilitas yang cukup tinggi (pertumbuhan penduduk alami), juga disebabkan adanya pertumbuhan penduduk migrasi, dimana terdapat migrasi

Tujuan dari penelitian ini guna menghasilkan peptisida nabati bagi hama wereng coklat di sawah yang ramah lingkungan, serta dapat menjaga kualitas dari hasil pertanian

Dengan kegiatan ini juga masyarakat Randudongkal diharapkan mampu berperan aktif dalam usaha menjaga kesehatan lingkungan yang bisa mendatangkan uang dengan memulai usaha Nata De

Material yang digunakan juga harus sesuai dengan konsep citra ruang yang ingin ditampilkan, yaitu material yang dapat mendukung suasana art deco di dalam interior..

Konsep Sekolah Ramah Anak didefinisikan sebagai program untuk mewujudkan kondisi aman, bersih, sehat, peduli, dan berbudaya lingkungan hidup, yang mampu menjamin pemenuhan