DAFAR PUSTAKA
1. WHO. Reducing stunting in children: Equity Considerations for Achieving Global Nutrition Target 2025. 2018.
2. Rukmana E, Briawan D, Ekayanti I. faktor risiko stunting pada anak usia 6- 24 bulan di Kota Bogor. 2016;12(3):192–199
3. Nurlaela D, Sari P, Martini N, Wijaya M, Judistiani RTD. Efektivitas pendidikan kesehatan melalui media kartu cinta anak tentang 1000 hari pertama kehidupan dalam meningkatkan pengetahuan pasangan calon pengantin di KUA Kecamatan Jatinangor. J Kesehatan Vokasional.
2018;3(2):62
4. Kementrian Kesehatan RI. Situasi balita pendek. Info Datin. 2016;2442–
7659.
5. Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
Buku saku desa dalam penanganan stunting. 2017;7-41.
6. Sari EM, Mohammas J, Neti N, Mei NS . Asupan protein kalsium dan fospor pada anak stunting usia 24-59 bulan .2016;12(4):152-159.
7. Fatimah NSH, Bambang W. Tingkat kecukupan vitamin A, seng dan zat besi serta frekuensi infeksi pada balita stunting dan non stunting.2018;13(2):168
8. Dewi EK, Nindya TS. Hubungan tingkat kecukupan zat gizi dan seng dengan kejadian stunting pada balita 6-23 bulan. 2017;1(4):361-368.
9. Kusudaryati DPD. Kekurangan Asupan Besi dan Seng sebagai Faktor Penyebab Stunting pada Anak. 2014: 57-61
10. Saputri MR, Erike YV. Status gizi dan riwayat ASI ekslusif dengan kejadian stunting.2019;6(1):59-68
11. Lestari W, Margawati A, Rahfiludin MZ. Faktor risiko stunting pada anak umur 6-24 bulan di kecamatan Penanggalan kota Subulussalam provinsi Aceh. 2014;3(1):37–45.
12.NS TD. Gizi dan 1000 HPK. Gizi dan 1000 HPK. 2017;13(2):125–33.
13.Trihono DKK.Pendek (stunting) di Indonesia, Masalah dan solusinya 2017.
399-404 p
14.Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Edisi ke-2.Januari:Penerbit buku kedokteran EGC.2012.
15.Tridjaja B, Pulungan A, penyunting. Buku Ajar Endokrinologi Anak. Edisi ke-1. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2010.h. 19-42.
16.Satino, Setyorini Y. Analisis faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif pada ibu primipara di Kota Surakarta. J Terpadu Ilmu Kesehat.
2014;3(2):106–214.
17.Batubara JRL, Hardjoedi Adji Tjahjono dan Aditiawati. Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia.Ikantan Dokter Anak Indonesia,2017.
H 1-2.
18.Kementerian Kesehatan. Pedoman PGSKesehatan,. 2014;1–99.
19.Sukmawati, Lilis M, WitdiawatiFaktor yang berhubungan dengan kekurangan energi kronis di puskesmas pembangunan. 2018;VI(1):1–11.
20.Mahirawati VK. Related Factors of Chronic Energy Deficiency at Pregnant Woman in Kamoning and Tambelangan Sub District , Sampang District , West Java. Bul Penelit Sist Kesehat. 2014;17(2):193–202.
21. Kementrian kesehatan. Profil kesehatan Indonesia tahun2016.Jakarta.
Kementrian kesehatan Republik Indonesia.2017.
22.Ashari, Saptana dan TBPP. Potensi dan Prospek Pemanfaatan Lahan Pekarangan untuk Mendukung Ketahanan Pangan. 2012;30:13–30.
23.Herlambang A, Pusat P, Lingkungan T. Pencemaran Air Dan Strategi Penggulangannya. 2006;2(1):16–29
24.Prendergast AJ, Humphrey JH. The stunting syndrome in developing countries.Pediatrics and International Child Healat.2014.34(4);250-265 25.Ferrari M dan F.Branca. Impact of Micronutrient Deficiencies on Growth :
The Stunting Syndrome.2002;46(1):8-17
26.Vonaesch DKK. Identifying the etiology and pathophysiology underlying stunting and environmental enteropathy. BMC pediatrics. 2018.18(1);1-18 27.Haryani H, Pratiwi YS, Rusmil K, Dharmayanti M, Husin
F,Wiranatakusumah FF. Hubungan status pemberian ASI dan makanan Pendampin ASI Terhadap Stunting pada Anak Usia 1-2 Tahun di Cisolok Kabupaten Sukabumi Tahun 2015. 2016; 55-69
28.Martono BW. Kurva pertumbuhan WHO.IDAI [internet]. 2013 [diakses 2 feb 2019] tersedia dari http://www.idai.or.id/professional- resources/growth-chart/kurva-pertumbuhan-who
29.Soetjiningsih. ASI Petunjuk untuk tenaga kesehatan. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC;1997.16-27p.
30.Maryunani A. Inisiasi Menyusui Dini, ASI Eksklusif, dan Manajemen Laktasi. Jakarta: CV Trans Info Media; 2015.
31.Aryono HKP. Nilai nutrisi air susu ibu. IDAI. 2013 [diunduh 9 januari 2019]
32.Fields DA, Demerath EW. Human Milk Composition: Nutrients and Bioactive Factors. Pediatric clinics North America [Internet].
2013;60(1):49–74. Available
from:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3586783/pdf/nihms- 413874.
33.Sherwood L. Fisiologi Manusia. Edisi 8.Jakarta: ECG; 2013. Hlm 707-708 34.Roesli U.Mengenal ASI Eksklusif.:penerbit puspa swara;2000.6-12p 35.Ikatan Dokter Anak Indonesia. Air susu ibu dan kekebalan tubuh
[internet]. 2013 [diakses 5 Januari 2019]. Tersedia dari : http://www.idai.or.id/artikel/klinis/asi-susu-ibu-dan-kekebalan-tubuh 36.Pangkong M, Rattu AJM, Malonda NSH. Hubungan antara Pemberian ASI
Ekslusif dengan Kejadian Stunting pada anak usia 13-36 bulan di wilayah kerja puskesmas Sonder. Kesmas [Internet].2017;6(3).available from:
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/kesmas/article/view/23065/22761 37.Tira TOK, Nova HK dan Nita RM. Hubungan antara riwayat pemberian
ASI dengan status gizi anak usia 25-59 bulan di kecamatan Pasan kabupaten Minahasa Tenggara.2018;7(4)
38.Pesik LF, Maureen I, Marsella DA. Hubungan antara pemberian ASI ekslusif dengan status gizi anak pada usia 6-24 bulan di desa Kima Bajo kecamatan Wori. 2019;8(6):388-94.
39.Halim LA. Sarah MW dan Jeanett ICM. Hubungan faktor-faktor risiko dengan stunting pada anak usia 3-5 tahun di TK/PAUD kecamatan Tuminting.2018;1(2):1-8.
40.Tandang VSY, I Ketut AA, Kadek N. Hubungan ASI ekslusif dan riwayat
penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita di wilayah puskesmas Wae Nakeng tahun 2018. 2018;128–33.
41.Wulandari R, Rachmanida N, Mertien S, Lintang PD dan Harna. Hubungan antara riwayat BBLR, riwayat ASI ekslusif dan panjang badan saat lahir terhadap kejadian stunting pada anak usia 7-23 bulan di puskesmas panongan kabupaten Tanggerang.2017
42.Farapti RADLM. Pebedaan tingkat kecukupan zat gizi dan riwayat pemberian ASI eksklusif pada balita stunting dan non stunting. Media Gizi Indonesia. 2016;11(1):61–9.
43.Azmii F, Arini FA. Karakteristik ibu, riwayat ASI ekslusif dan riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita 12-59 bulan di wilayah kerja puskesmas Sukmajaya. 2018;13:17–23.
44.Muniroh L dan Cholifatun N. Hubungan tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan dan pola asuh ibu dengan Wasting dan stunting pada balita keluarga miskin. :84–90.
45.Juliyanti W, Wahyu T. Hubungan pengetahuan ibu, asupan protein dan zink dengan stunting pada balita usia 12-36 bulan.2014 Ags 2;8(2):100-204.
46.Yanti AMD, Apri S. Kuranynya Asupan Makan sebagai Penyebab Kejadian Balita Pendek (stunting). 2013;5:71–5.
47.Arisanti Y, Eka Mustika, Riri N. Hubungan pola asuh makan dan karakteristik ibu dengan kejadian stunting pada anak usia 2-5 tahun di desa marong lombok tengah.2018.3
48.Sukmawati, Hendrayati, Chaerunnimah, Nurhumaira. Status Gizi Ibu Saat Hamil, Berat Badan Lahir Bayi dengan Stunting Pada Balita. Media Gizi
Pangan [Internet]. 2018;25:18–25. Available from:
https://media.neliti.com/media/publication/265332-status-gizi-ibu-saat- hamil-berat-badan-I-8054beb3.pdf
49.Kusumawati E, Setiyowati R dan Hesti PS. Model pengendalian faktor risiko stunting pada anak di bawah tiga tahun .Februari 2015. Vol 9 no 3 50.Rio P dan Zairinayati. Hubungan hygeine dan sanitasi lingkungan dengan
kejadian stunting pada balita. Juni 2019.vol 9.no1