• Tidak ada hasil yang ditemukan

daftar isi - FIB Unair

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "daftar isi - FIB Unair"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

MashitaASyukri

Husein Shahab

Amir Fatah

Masukan Bahasa dan Perolehan Bahasa Pada Anak - Membaca Cerpen Bahasa Inggris 2 -

1 11

Mempercepat Peningkatan dan Pencapaian Target Skor dengan Menggunakan Metode Analisa Item -

Simbolisasi “Pagi” dalam Kumpulan Puisi Karya Rachmat Djoko Pradopo -

Mengurai Simbol Perlawanan Budaya: Konflik Priyayi dalam Serat Dharmogandhul dan Gatholoco -

RefleksiAjaran Shinto dalam Novel Karya Eiji Yoshikawa -

Menghilangnya praktek Budaya Ritual “Dewi Sri” dari Masyarakat dan Budaya Bali - 18

Ida Nurul Chasanah

30 MochAli

46

Eli Rostinah, Syahrur Marta DS, Ida Nurul Chasanah

60 I Nyoman Naya Sujana

76 Aubade

Musashi

(2)
(3)

Pendahuluan

Proses pemerolehan bahasa pada seorang anak adalah proses yang sangat menakjubkan. Proses itu berlangsung secara cepat tanpa disadari oleh anak dan tanpa upaya khusus dari orang tua untuk menetapkan suatu program pengajaran bahasa kepada anak. Didalam proses tersebut, terdapat suatu proses yang menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan rangkaian proses pemerolehan bahasa, yakni proses pemajanan terhadap satu bahasa atau lebih.

Proses pemajanan itu sendiri sebenarnya menunjukkan bahwa lingkungan sekitar anak mempunyai andil didalam proses pemerolehan bahasa, yakni sebagai pemberi masukan bahasa kepada anak. Dalam hal itu, melalui interaksi sehari-hari dengan orang dewasa atau yang lebih tua darinya terutama dengan ibu dan ayahnya seorang anak akan mendapat masukan bahasa.

Masukan itulah yang menjadi data awal linguistiknya tidaklah untuk memperoleh atau memahami dan menguasai suatu bahasa tertentu. Hal itu tentu sangat menarik karena si anak tak ubahnya

seperti seorang linguis yang tengah berusaha memahami suatu bahasa yang belum pernah ia dengan sebalumnya.

Jika diperhatikan secara seksama, bahasa tuturan orang dewasa yang ditunjukkan kepada anak tidaklah sama dengan bahasa yang ditujukan kepada sesama yang dewasa. Mereka cenderung memodifikasi bahasa mereka yakni, menggunakan tuturan yang pendek- pendek dengan kosa kata yang mudah dipahami oleh anak dan bahkan, ada pula yang menggunakan prosodi yang berlebihan pada saat berkomunikasi dengan anak.

T e r j a d i n y a m o d i f i k a s i menimbulkan rasa ingin tahu yang begitu besar di kalangan ilmuan untuk meneliti lebih lanjut. Asumsi yang mendasari kajian masukan bahasa itu adalah bahwa bahasa orang-orang dewasa kepada anak dapat membantu anak belajar berbicara.

Dengan kata lain, masukan bahasa dianggap berpengaruh secara langsung dalam proses pemerolehan bahasa.

Abstract

Key Words: language, language input, children

Claims about the nature of language input to child language acquisition.

Enormous studies conducted on language input have triggered by Chomsky's argument (1965) regarding the language of adult as deformed and degenerated. Despite the different research results, it seems that adults tend to modify their language toward younger children merely for communication reason.

*) Departemen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya UNAIR telp (031) 5035676

(4)

Peristilahan untuk Bahasa Masukan

Periode Studi Masukan Bahas

Didalam studi masukan bahasa, istilah yang digunakan untuk bahasa yang ditujukan kepada anak tidaklah sama.

Berbagai perubahan penggunaan istilah tersebut dapat dikatakan selaras dengan perkembangan penelitian tenang masukan bahasa itu sendiri.

Pada awalnya, istilah

lebih sering digunakan karena tuturan yang sampai kepada anak mirip dengan celoteh bayi. Misalnya, Ferguson (1964) dalam Snow (1994). Kemudian, istilah lebih banyak digunakan peneliti misalnya beberapa kajian yang terhimpun didalam Snow dan Ferguson (1977) dengan anggapan yang banyak berinteraksi dengan bayi adalah si ibu.

Oleh karena itulah istilah

dianggap anti-feminis, beberapa linguis- Steinberg (1993) misalnya lebih memilih istilah Penggunaan istilah parentese itu tampaknya juga lebih menunjukkan bahwa yang memberi masukan bahasa kepada anak tidak hanya i b u t e t a p i j u g a a y a h . D a l a m perkembangannya, berbagai kajian tentang masukan bahasa menunjukkan bahwa anak tidak hanya mendapatkan masukan bahasa dari orang-orang dewasa disekitarnya-ibu, ayah, pegasuh bayi, dan lain sebagainya tetapi juga mendapatkan masukan dari anak-anak yang seusia degannya atau bahkan lebih muda darinya.

Oleh karena itu, istilah yang dianggap lebih netral dan sering digunakan dewasa ini adalah child directed speech yang disingkat dengan CDS misalnya, Richards (1994).

Menurut Snow (1994: 3-6), studi

masukan bahasa memiliki sejarah yang lebih panjang daripada penelitian bahasa anak ”modern”, yakni yang ditandai dengan penelitian Brown dan Bellugi (1964). Snow membagi periode studi masukan bahasa menjadi dua periode:

periode tahun 1950-an dan 1980-an.

Selain dua periode itu, sebenarnya dapat ditambahkan satu periode lagi, yakni periode yang dimulai pada awal tahun 1990-an. Richards dan Gallaway (1993:1910) menandai periode tersebut sebagai periode lahirnya kajian masukan bahasa lintas bahasa dan lintas budaya.

Periode tahun 1950-an dan 1960- an. Snow menyatakan bahwa pada tahun 1950-an dan 1960-an, para linguis antropologis banyak mengkaji gejala

atau celoteh bayi sebagai suatu laras bahasa khas yang merupakan gejala menarik dari sosiolinguistik yang menarik.

Dalam hal itu, diasumsikan bahwa baby talk dapat membantu anak berbicara.

Tokoh yang karya-karyanya dianggap telah memimpin kajian baby talk dapat membantu anak berbicara. Tokoh yang k a r y a - k a r y a n y a d i a n g g a p t e l a h

memimpin kajian dapat

mebantu anak berbicara. Tokoh yang k a r y a - k a r y a n y a d i a n g g a p t e l a h memimpin kajian itu adalah Charles A. Ferguson (Snow 1994:4).pada kultur masyarakat barat kelas menengah, baby talk telah dikenal sebagai laras bahasa khusus yang ditujukan kepada anak (Richards dan Gallaway 1993:1007).

Laras tersebut memiliki fitur-fitur khusus, misalnya kosa kata tertentu (doggy, tummy) dan intonasi yang dilebih- l e b i h k a n . I n g r a m ( 1 9 8 9 : 1 3 1 ) mengemukakan bahwa didalam berbagai lieteratur, dipahami secara sepit baby talk

motherese

motherese

parentese.

baby talk

baby talk

baby talk

baby talk

(5)

yakni hanya sebagai bentuk bahasa yang memiliki seperangkat fitur terbatas, misalnya perubahan (r) dalam 'rabbit' menjadi 'w' dalam 'wabbit.

Sehubungan dengan pernyataan Chomsky (1965) yang menyebutkan bahwa tuturan-tuturan yang sampai kepada anak bersifat kompleks dan degenerate, ketertarikan terhadap studi laras bahasa atau tuturan yang ditujukan kepada anak menjadi kian meningkat mulai tahun 1960-an. Beberapa hasil penelitian justru menunjukkan bahwa bahasa yang diterima anak cenderung terdiri atas tuturan yang pendek-pendek, menggunakan nada yang tinggi dan intonasi yang dibuat-buat, serta lebih banyak mengandung kata dan atau kalimat yang sederhana. Dengan demikian, berbagai penelitian masukan dan interaksi tersebut juga dapat dikatakan sebagai respon terhadap pernyataan Chomsky (Goodluck 1991:

160; Richards 1994:75; Snow 1995:180).

Periode tahun 1970-an dan 1980- an. Menurut Snow, jumlah penelitian tenang masukan dan interaksi mengalami perkembangan yang luar biasa pada tahun 1970-an dan 1980-an. Studi bahasa yang ditujukan pada anak pada saat itu telah berkembang dari studi laras menjadi studi analisi s wacana dan bahkan ia berkembang ke arah sudi fungsi sosial dan fungsi pragmatik dalam ujaran yang ditujukan pada anak, misalnya penelitian Ninio (1992).

Menurut Snow (1994:7), dengan diterbitkannya buku suntingan Snow dan Ferguson yang berjudul Talking to children: Language input and acquisition pada tahun 1977, ladang penelitian bahasa anak di Amerika Serikat semakin

berkembang luas dan mengarah pada p e r b e d a a n y a n g a m a t t a j a m . Perkembangan penelitian bahasa anak tersebu dapat dipilah-pilah berdasarkan topik (misalnya perkembangan sintaksis versus perkembangan pragmatik), disiplin peneliti (misalnya linguistik versus psikologi), isu-isu hangat yang sedang berkembang (misalnya penemuan tata bahasa universal versus penyembuhan k e t e r l a m b a t a n b e r b a h a s a ) , d a n sosiometrik (misalnya kehadiran didalam acara pertemuan bahasa anak di Boston University versus kehadiran kehadiran didalam acara yang sama di Stamford U n i v e r s i t y ) . S e m e n t a r a i t u , perkembangan penelitian bahasa anak di Eropa tidak menunjukkan perbedaan yang sangat ekstrem karena asosiasi dan pertemuan lokal mempertahankan kontak lintas teori atau lintas disiplin dalam komunitas bahasa anak regional atau nasional.

Periode tahun 1990-an sampai dengan sekarang. Menurut Schieffelin dan Ochs (1986), bahasa masukan dapat menjadi alat yang cukup ampuh untuk penyebaran budaya. Oleh karena itu, studi masukan bahasa lintas bahasa dapat menunjukkan dan menjelaskan ranah- ranah interaksi antara bahasa dan kehidupan sosial-budaya anak.

Meskipun usianya yang masih sangat muda di awal tahun 1990-an, menurut Richards dan Gallaway (1993:1910), studi masukan bahasa lintas budaya dapat menjadi kunci bahkan menjadi solusi untuk berbagai masalah teoritis yang mesih belum dapat dipecahkan. Fitur-fitur yang tidak universal menjadi kendala penting atas berbagai klaim menang fungsi masukan

(6)

bahasa. Oleh karena itu, tantangan dalam studi masukan bahasa lintas budaya adalah untuk mendapatkan fitur-fitur lingkungan bahasa anak yang ada didalam semua budaya (Borton dan Tomosello 1994).

Penelitian Snow (1972) yang kemudian dengan berbagai studi masukan bahasa yang lain pada tahun 1970-an misalnya beberapa studi masukan bahasa yang lain pada tahun 1970-an misalnya beberapa studi yang terhimpun didalam Snow dan Ferguson (1977) telah

melahirkan Snow

(1972 dalam Bernstein dan Tiegerman 1 9 8 5 : 2 1 ) m e n g a t a k a n b a h w a padaumumnya, tuturan ibu terdiri atas kalimat yang pendek-pendek (biasanya terdiri satu klausa sederhana saja), yang diucapkan secara jelas dan jarang mengandung kesalahan tata bahasa yang serius. Rutinitas yang dialami ibu dan anak, misalnya pada saat makan, berpakaian, dan bermain, menurut Snow, merupakan proses pengajaran bahasa pada anak.

S e m et a r a i t u, bu kt i - buk t i antropologi dalam data 27 bahasa yang telah diteliti menunjukkan bahwa terdapat ciri-ciri umum pada bahasa yang ditujukan kepada anak, yakni modifikasi fonologis dan sintaksis, penyederhanaan leksikon, dan penggunaan prosodi yang dilebih-lebihkan (Ferguson 1978).

Semakin berkembang struktur bahasa anak, semakin bertambah pula kompleksitas kalimat dalam tuturan ibu p a d a a n a k . U p a y a i b u u n t u k menyesuaikan kompleksitas kalimatnya dengan ingkat pemahaman anak itu

melahirkan pula apa yang disebut dengan fine-tuning hyphothesis (lihat juga Cross 1977 dalamAitchison 1998: 150).

Sehubungan dengan

di atas, Snow (1977b) terpaksa harus mengubah asumsinya tentang adanya suatu program pengajaran bahasa kepada anak yang dilakukan oleh ibu. Berdasarkan data yang diperolehnya, penyelarasan kompleksitas tuturan ibu dengan perkembangan bahasa anak yang dilakukan oleh ibu adalah semata-mata untuk tujuan komunikasi,bukan untuk mengajar bahasa. Dengan kata lain, penyelarasan kompleksitas tuturan yang ditujukan kepada anak (dengan perkembangan bahasa anak) itu adalah untuk memudahkan pemahaman anak dan menjaga perhatian anak agar anak tetap terlibat dalam percakapan yang sedang berlangsung.

Oleh karenanya yang berinteraksi dengan anak tidak hanya ibu, tetapi juga ayah, studi masukan bahasa mulai dilakukan terhadap ayah. Berko-Gleason (1975) menunjukkan bahwa dalam hal kesederhanaan struktur dan pengulangan, misalnya, tuturan ayah dan tuturan ibu dapat dikatakan sama. Akan tetapi, dibandingkan dengan ibu, tuturan ayah lebih bersifat imperatif dan sering menggunakan kosakata yang agak asing di telinga anak. Sehubungan dengan itu, BerkopGleason mengemukakan

yang mengasumsikan sang ayah sebagai jembatan bagi anak untuk berkomunikasi dengan orang-orang dewasa di sekitarnya yang bukan pengasuhnya.

Selanjutnya, peran saudara kandung juga tidak luput dari pengamatan para ahli bahasa anak. Studi masukan Beberapa Hipotesa dalam Studi

Masukan Bahasa

motherese hyphotheses.

fine-tuning hyphothesis

father bridge hypothesis

(7)

bahasa saudara kandung atau kakak kepada anak atau adik kandung menurut show (1979:365), sebenarnya juga telah dilakukan antara lain oleh Anderson dan Johnson (1973), Shartz dan Gelman (1973), serta Sachs dan Devin (1976).

B e b e r a p a h a s i l p e n e l i t i a n i t u menunjukkan bahwa bahasa yang ditujukan pada anak dengan usia tersebut adalah bahasa yang disederhanakan. Hal itu menunjukkan bahwa meskipun fitur tuturan kakak sama dengan tuturan ibu, kakak seringkali gagal dalam membuat penyesuaian pragmatis terhadap adiknya.

Sehubungan dengan itu, dengan menganalogikan kepada

Mannle dan Momasello (1987 dalam Barton dan Tomasello 1984) m e n g e m u k a k a n

yang mengatakan bahwa anak atau adik juga harus membuat penyesuaian komunikatif pada saat berinteraksi dengan kakaknya. Dalam hal itu, si adik akan memanfaatkan tuturan k a k a k u n t u k m e n g e m b a n g k a n ketrampilan sosial dan pragmatisnya dalam berkomunikasi..

S e t i d a k n y a , t e r d a p a t d u a pertanyaan yang harus dijawab untuk menunjukkan arti penting berbagai studi masukan bahasa, yakni, mengapa orang dewasa memodifikasi tuturannya pada saat berkomunikasi dengan anak dan apakah terdapat kaidah atau prinsip khusus dalam pemodifikasian itu.

Terhadap kedua pertanyaan itu Menyuk (1988:93-95) memaparkan kemungkinan jawaban berdasarkan beberapa alasan.

Untuk pertanyaan pertama, orang dewasa:

(1) menganggap dirinya sebagai guru

bahasa anak sehi nggadi a har us menggunakan teknik pengajaran yang baik untuk memperoleh hasil seperti yang diinginkan, (2) harus berperilaku secara tertentu kepada anak-anak berdasarkan nilai atau norma budaya yangdimilikinya, (3) ingin menunjukkan empatinya dengan berusaha menyesuaikan diri dengan cara anak berbahasa, dan (4) mendapati kaidah-kaidah wacana seperti ' bicaralah sejelas mungkin' dan 'beri selalu kesempatan pada anak untuk berbicara' pada saat berinteraksi dengan anak.

Menurut Menyuk alasan yang paling mungkin dapa menjelaskan m e n g a p a p a r a p e n g a s u h a n a k memodifikasi bahasa merekaa adalah alasan keempat yakni, mereka ingin tuturan mereka dapat dimengerti oleh anak sehingga percakapan dapat terjadi.

Dalam hal itu, modifikasi yang dilakukan mengikuti perkembangan pemahaman si anak dengan kata lain anaklah yang justru menjadi kunci penyesuaian bahasa yan dilakukan oleh orang dewasa. Hal itu berarti pula bahwa bahasa yang ditujukan kepada anak memainkan peranan yang tidak langsung dalam perkembangan pengetahuan bahasa anak.

Selanjutnya, terkait dengan pertanyaan kedua, modifikasi bahasa yang mereka lakukan tidak memiliki kaidah-kaidah khusus sebab modifikasi itu dilakukan dengan hanya berdasar pada intuisi mereka bahwa percakapan akan tetap dapat berlangsung selama mereka mengupayakan cara-cara logis agar dapat dimengerti oleh anak, selain itu pengasuh tentu juga tahu secara intuitif jawaban yang akan diperoleh dari suatu p e r c a k a p a n s e i r i n g d e n g a n berkembangnya usia anak. Secara singkat father-bridge

hyphothesis,

s i b l i n g - b r i d g e hyphothesis

Motivasi Modifikasi Bahasa Masukan

(8)

dapat dikatakan bahwa motivasi dalam modifikasi bahasa orang dewasa kepada anak adalah semata-mata untuk berkomunikasi bukan mengajar bahasa .

Studi masukan bahasa telah berkembang pesat dalam berbagai kajian pemerolehan bahasa bahkan, beberapa studi masukan bahasa telah melahirkan suatu pendekatan khusus dalam pemerolehan bahasa yakni, pendekatan interaksi sosial (Bohannon, 1993).

Pendekata n i nteraksi sosi al i t u menekankan bahwa tuturan yang ditujukan kepada anak (sebagai masukan bahasa awal) memiliki peran yang sama pentingnya dengan ihwal

dalam memperoleh bahasa. Keberadaan bahasa masukan iu sendiri menunjukkan adanya proses interaksi antara anak dengan orang dewasa disekitar anak.

Dengan demikian, peran lingkungan sosial budaya tempat anak tinggal tentu patut mendapat perhatian secara proporsional dalam kaitannya dengan kajian pemerolehan dan perkembangan bahasa.

Sementara itu, pendekatan nativis yang dipelopori oleh Chomsky (dengan

pandangan yang

memicu kontroversi dalam studi masukan bahasa) menegaskan bahwa masukan bahasa memiliki peran yang penting pula dalam pemerolehan bahasa yakni sebagai pemicu pekerjanya Perani Pemerolehan Bahasa atau PPB. Akan tetapi, apa yang diperoleh dari proses bekerjanya PPB itu tidak menunjukkan hubungan langsung dengan apa yang ada di dalam masukan bahasa. Dengan kata lain proses pemerolehan bahasa Dalam PPB itu

bersifat inner-directive.

Proses pemerolehan bahasa, menurut Chomsky (1999:41) bukan merupakan proses yang dilakukan anak, melainkan proses yang terjadi pada seorang anak yang berada dalam suatu lingkungan bahasa tertentu. Jadual proses tersebut telah dituntukan secara genetis dan akan terus berkembang dengan perkembangan dan kematangan fisiknya.

Perilaku semacam itu pada akhirnya akan m e n u n j u k k a n k e s a m a a n p o l a perkembangan bahasa linas bahasa dan lintas budaya.

P e n e n t u a n g e n e t i s i t u menyebabkan lingkungan atau masukan bahasa tidak lagi memiliki peran utama dalam pemerolehan bahasa. Chomsky juga menambahkan bahwa lingkungan bahasa itu sendiri tidak memberikan data yang memadai bagi anak untuk dapa sampai pada tata bahasa orang dewasa yang bersifat kompleks. Dalam hal itu, bahasa yang didengar anak di lingkungan tempat tinggalnya bersifat restricted (terbatas) degenerate (amburadul). Jadi m a s u k a n i t u d a p a t d i k a t a k a n impoverished (miskin) keadaanya jika dibandingkan pemahaman yang dimiliki dan keluaran yang dihasilkan anak.

Artinya, hubungan yang ada antara data dan apa yang diperoleh anak adalah hubungan tidak langsung.

G o o d l u c k ( 1 9 9 1 : 1 4 2 ) menunjukkan dua jenis masukan, yakni, masukan/bukti positif mengacu pada masukan yang menunjukkan bahwa suatu bentuk khusus itu ada didalam suatu bahasa. Satu keterbatasan penting dalam bukti positif itu adalah bahwa kalimat- Peran Masukan Bahasa dalam

Pemerolehan Bahasa

Keterbatasan-Keterbatasan dalam Masukan Bahasa

innatenness

the poverty of stimulus

(9)

kalimat yang di dengar anak tidak mengandung informasi yang jelas dan gamblang tentang struktur dan makna kalimat-kalimat itu meskipun konteks bisa jadi memberi kunci-kunci untuk makna yang mungkin baginya. Dengan keterbatasan semacam itu, tampak bahwa anak benar-benar mempelajari kaidah- kaidah bahasa mereka oleh orang-orang dewasa disekitarnya.

S e l a i n k e t e r b a t a s a n i t u , keterbatasan yang lain adalah bahwa jumlah sampel gramatikal yang didengar anak juga terbatas. Akan tetapi, dengan keterbatasan sampel semacam itu, anak tetap dapat memahami struktur dan makna kalimat-kalimat yang didengarnya dan bahkan mampu melahirkan kalimat yang terbatas jumlahnya meskipun ia tidak pernah mendengar atau mendapatkan masukan semacam itu sebelumnya.

Keerbatasan-keterbatasan dalam bukti positif itu justru memberi bukti kuat bahwa anak memang telah dilengkapi dengan alat khusus yang memiliki mekanisme pembentukan tata bahasa terstruktur yang sangat canggih.

Pada saat anak tidak mendapat informasi yang benar tentang suatu bentuk yang gramatikal, anak juga tidak mendapat informasi tentang bentuk yang tidak grammatikal inilah yang disebut dengan bukti negatif. Jadi, secara umum, anak hanya mendengar bentuk-bentuk yang grammatikal. Ketiadaan bukti negatif itu dapat dilihat pada kajian yang dilakukan oleh Brown dan Honlon (1970 dalam Pinker 1979, 1984; Goodluck 1991; serta Crain dan Lillo-Martin 1999).

Ketika anak membuat kesalahan itu.

Seandainya saja umpan balik dari orang tua itu ditemui, misalnya yang ditemui

dalam studi yang dilakukan oleh Bohannon dan Staniwich 1988 dalam Farrar 1992), anak teap tidak dapat memanfaatkan bukti negatif itu (Pinker 1989, 1995).

Hakekat keterbatasan masukan di atas (keterbatasan bukti positif dan kurangnya bukti negatif) itulah yang sering disebut Chomsky sebagai

Oleh karena itu, tanpa pengetahuan tentang tata bahasa universal, seorang anak tidak mungkin akan sampai pada tata bahasa orang dewasa yang bersifat kompleks: apa yang diperoleh anak terbukti jauh melebihi masukan yang diterimanya.

Akan tetapi, semua itu tidak berarti bahwa lingkungan, tidak diperlukan dalam proses pemerolehan bahasa.

Sehubungan dengan itu, Chomsky mengibaratkannya dengan perkembangan fisik membutuhkan nutrisi dan stimulasi l i n g k u n g a n y a n g m e m a d a i , perkembangan bahasa anak pun membutuhkan hal yang serupa. Oleh karena itu, itu lingkungan tetap diperlukan untuk menentukan penetapan pilihan- pilihan yang belum ditentukan oleh tata bahasa universal hingga menghasilkan bahasa yang berbeda-beda.

Secara umum, kapasitas berbahasa yang dimiliki manusia itu merupakan anugerah yang dapat dikembangkan atau dipercepat dan bahkan dapat pula dibatasi atau ditekan; hal itu tergantung pada k o n d i s i y a n g m e n d u k u n g pertumbuhannya. Goodluck (1991: 162) menyatakan bahwa kualitas dan kuantitas tuturan yang didengar anak dapat berpengaruh terhadap kecepatan proses pemerolehan bahasa. Dengan dmikian, peran masukan bahasa atau BSI tetap the proverty of stimulus.

(10)

penting dalam proses pemerolehan tetapi proses pemerol eha n i tu sendi ri padadasarnya bersifat inner directed.

Berbagai studi masukan bahasa yang telah dilakukan selama ini, pada umumnya didorong oleh keinginan untuk membuktikan kebenaran pernyataan Chomsky (1965) yang kontroversial tentang sifat masukan bahasa pada anak, yakni masukan yang kompleks dan

'amburadul' ( Masukan

bahasa memiliki peran yang penting dalam pemerolehan bahasa yakni, sebagai pemicu bekerjanya Peranti Pemerolehan Bahasa atau PPB. Akan tetapi, hubungan yang terjadi antara masukan bahasa dan apa yang diperoleh dari bekarjanya PPB itu adalah hubungan tidak langsung.

Temuan-temuan studi masukan bahasa pada dasarnya mengimplikasikan bahwa orang tua tidak memberi pengajaran bahasa secara khusus kepada anaknya ataupun memberikan perhatian secara khusus pada perkembangan bahasa anaknya. Dalam hal itu, Dardjiwijojo (2000:49) menyatakan bahwa dewasa ini, para peneliti sepakat bahwa modifikasi bahasa yang ditujukan kepada anak dilakukan oleh karena adanya motivasi untuk berkomunikasi.

DAFTAR PUSTAKA Penutup

degenerate).

Andersen, E.S., dan C.E. Johnson. 1973.

”Modification in the Speech of an Eight-Year-Old toYounger Children”.

Stanford Occassional Papers in 3 149-160.

Aitchison, Jean. 1998.

L o n d o n : Routledge.

Asher, R.E., dan J.M.YSimpson (Peny). 1993.

Oxford: Pergamon.

Barton, Michelle E., dan Michael Tomasello.

1994. “The Rest of the Family: The Role of Fathers and Siblings in Early Language Development”. Dalam (Peny), 1994.

Berko-Gleason, Jean. 1975. “Fathers and other Strangers: men's Speech to Toung Children”. (Peny), 2975.

Bernstein, Deena K., dan Ellenmorris Tiegerman. 1985.

Columbus: Charless E. Merril.

Bohannon, John Neil, III, dan Stanowitch.

1988. “The Issue of Negative Evidence: Adulth Responses to Children's Language Errors”.

24:684- 689.

Brown, R., dan U. Bellugi. 1964 “Three Processes in The Child's Acquisition of Syntax”.

34:133-151.

Brown R. dan D. Hanlon. 1970. “Derivational complexity and Order of Acquisition in Child Speech. (Peny), 1970.

Chomsky, Noam. 1965.

Cambridge, Mass: the MIT Press.

___________. 1999. “On the Nature, Use, and Acquisition of Language. Dalam

(peny), 1999.

Linguistics,

The Articulate

Mammal: An Introduction to P s y c h o l i n g u i s t i c s .

The Encyclopedia of Language and Linguistics.

Gallaway dan Richards

Dalam Dato

Language and Communication Disirders in Children.

Developmental Psychology,

Harvard Educational Review,

Dalam Hayes

Aspects of the Theory of Syntax.

Ritchie dan Bathia

(11)

Crain, Stephen, dan Diane Lillo-Martin. 1999.

Malden, Massachusetts: Blackwell Publishers.

Cross, T. 1977. “Mothers Speech Adjustment:

The Contribution of Selected Child Listener Variables”. Dalam

(Peny). 1977.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2000.

Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Dato, Daniel P. (Peny). (1975).

Washington, D.C.

20057: Geogetown University Press.

Farrar, Michael Jeffrey. 1992. “Negative E v i d e n c e a n d G r a m m a t i c a l M o r p h e m e A c q u i s i t i o n . 28:90-98.

Ferguson, C.A. 1964. “Baby Talk in Six L a n g u a g e s ” .

66, 103-14.

___________. 1978. “Talking to Children: A Searclaway, Clare, dan Brian J.

Richards (Peny). 1994.

Cambridge University Press.

Goodluck, Helen. 1991.

Cambridge, Mass: The MIT Press.

Greenberg, J.H. (Peny). 1978.

Stanford, CA:

Stanford University Press.

Hayes, J.. (Peny). 1970.

New York: Wiley.

Ingram, David. 1989.

Cambridge:

Cambridge University Press.

Mannle, S., dan M. Tomasello. 1987. “Fathers, Siblings, and The Bidge Hypothesis”.

Dalam (Peny),

1987.

M e n y u k , P a u l a . 1 9 8 8 .

Glenview, Illinois: Scott, Foresman and Company.

Nelson, Keith E., danAnne van Kleeck (Peny).

1987. Vol. VI

Hillsdale, NJ.: Erlbaum.

Ninio, A. 1992. “The Relation of Children's Single Word Utterances to Single Word Utterances in the Input”.

19:87- 110.

Pinker, Steven. 1979. “Formal Models of Language Learning.

7:217-283.

__________. 1984.

Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.

__________. 1989.

Cambridge, Massachusetts: The MIT Press.

__________. 1995.

London: Penguin Bookds.

Richards, Brian J. 1994. “Child-Directed Speech and Influences on Language Acquisition: Methodology and Interpretation”.

(Peny) 1994.

An Introduction to Linguistic Theory and Language Acquisition.

Snow dan Ferguson

Echa: Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia.

Georgetown University Round Table on Language and Linguistics 1975: Developmental Psycholinguistics: Theory and Aplications.

Developmental Psychology,

A m e r i c a n Anthropologist,

Input and Interaction in Language Acquisition.

Language Acquisition: A Linguistic Introduction.

Universals of Human Language.

Cognition and The Development of Language.

First Language Acquisition: Method, Description, and Explanation.

Nelson Van Kleeck

L a n g u a g e Development, Knowledge and Use.

Children' Language.

Journal of Child Language,

Cognition,

Language Learnability and Language Development .

Learnability and Cognition: The Acquisition of Argument Structure.

The Language Instinc:

The New Science of Language and Mind.

Dalam Gallaway dan Ricards

(12)

Richards, Brian J., dan Clare Gallaway. 1993.

“Input and Interaction in Child Language Acquisition”.

(Peny). 1993.

Ritchie, William C, dan Tej K. Bathia (Peny).

1999.

San Diego: Academic Press.

Sachs, J., dan J. Devin. 1976. “Young Childen's Use of Age-Appropriate Speech Style in Social Interaction and Role-Playing”.

3:81-98.

Schieffelin, Bambi B., dan Elinor Ochs ( P e n y ) . 1 9 8 6 .

New York: Cambridge University Press.

Shartz, M., dan R. Gelman. 1973. “The Development of Communication Skills: Modifications in The Speech of Young Children as a Function of The Listener”.

38,5:152.

Snow, Catherine E. 1972. “Mothers” Speech to Children Learning Language”.

43: 549:565.

___________.1977a. “Mothers' Speech Research: From Input to Interction”.

(Peny).

1977.

__________, 1977b. “The Development of Conversation between Mothers and Babies”.

4:1-22.

__________, 1979. “Conversations with Children”. Dalam

(Peny). 1979.

___________, 1994. “Beginning from Baby Talk: Twenty Years of Research on

Input in Interaction”. Dalam (Peny), 1994.

___________, 1995. “Issues in the Study of Input: Finetuning, Universality, Individual and Developmental Differences, and Necessary Causes”.

Dalam (Peny), 1995.

Snow, Catherine E, dan Charles A. Ferguson (Peny). 1977.

Cambridge: Cambridge University Press.

Steinberg, Danny. D., Hiroshy Nagata, dan D a v i d P . A l i n e . 2 0 0 1 . England:

Pearson Education..

Dalam Asher dan Simpson

Handbook of Child Language Acquisition.

Journal of Child Language.

L a n g u a g e Socialization across Cultures.

Monographs of The Society of Research in Child Development,

Ichild Development,

Dalam Snow dan Ferguson

Journal of Child Language,

Fletcher dan Garman

Gallaway dan Richards

Fletcher dan Mac Whynnie

Talking to Children:

Language Input and Acquisition.

Psycholinguistics: Language, Mind, and World, 2nd Edition.

(13)

Pendahuluan

Prinsip Dasar Karya sastra : Fiksi Membaca cerita pendek dalam

bahasa Inggris memang bukanlah suatu pekerjaan yang sederhana. Pada umumnya penguasaan kosa kata dan k a i d a h b a h a s a k i t a d e m i k i a n

" t e r k e n d a l i n y a " u n t u k d a p a t memungkinkan kita mengikuti alur bahasa dalam suatu karya sastra dengan segala ragam dan kompleksitas yang dikandungnya. Bahasa dalam karya sastra pada umumnya adalah bahasa yang digunakan oleh banyak orang di berbagai negara di dalam mengekspresikan kebenaran-kebenaran yang komplek perihal kehidupan manusia yang kesemuanya itu tak dapat disampaikan dengan cara biasa saja. Kesulitan memahami cerita pendek dalam bahasa Inggris bukanlah semata dirasakan oleh masyarakat Indonesia yang memandang bahasa ini sebagai bahasa asing, bahkan disadari pula oleh mereka yang telah

menggunakan bahasa Inggris sepanjang hidup mereka.

Menurut hemat saya, kesulitan sebagai dikatakan dalam pendahuluan di atas kiranya dapat dikurangi dengan memahami prinsip-prinsip dasar dari suatu karya sastra. Membaca cerita pendek yang tergolong fiksi sudah barang tentu memerlukan pendekatan yang berbeda dengan non fiksi. Joseph Conrad (1857-1924), seorang novelis Inggris yang sangat populer mengatakan bahwa tujuannya sebagai penulis adalah "

Jadi menurut Conrad, tujuan dia menulis adalah membuat kita mendengar, merasa dan diatas segalanya melihat. Tidak lain daripada itu karena, menurut dia, memang itulah segalanya.

Cerita pendek yang bagus seringkali mencoba memberikan "

to make you hear, to make you feel it is, before all to make you see. That - and no more, and it is everything."

sense of the actual Abstract

Key words: the stories, short stories, a literary language.

English as a foreign language but also for people who have spoken the language all their lives. Efforts made toward comprehending this piece of literature should not, of course, be stopped because of this hindrance.

Instead, these stories must be read and reread, talked about and thought.

Today, English is being used increasingly as a literary language all over the world. On every continent, we will find writers expressing in English the spirit of their own country, the thoughts of their own people, and there meanings of their own way of life. There are still ways that can be taken to entrance the motivation of reading short stories in English and minimizing the spots of difficulties. So we need not despair if the going is difficult. The rewards will be great. There rewards of literature, always are.

*)Departemen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya UniversitasAirlangga, tlp 031-5035676

(14)

experience"

style structure

content

"point of highest suspence"

theme atau "cita rasa pengalaman

nyata" kepada pembacanya. Seringkali cerita-cerita seperti ini meninggalkan impresi atau kesan tajam tertentu untuk dikenang berulang kali dalam benak kita.

Tatkala selesai membaca cerita seperti ini, munculah pertanyaan tentang patos atau humor kehidupan, ironi-ironi kehidupan bahkan sikap anak manusia yang sama sekali tidak terduga.

Seorang pembaca tidak akan mampu mengapresiasi sebuah cerpen dengan penuh, mendengar dan merasa, apalagi melihat kecuali jika ia mampu bereaksi bukan saja pada apa yang telah dikatakan namun juga pada bagaimana sesuatu dikatakan (Valerie, 1983:1).

Pembaca harus jeli melihat (gaya), (struktur) dan sudah barang tentu (kandungan isi) dari apa yang dibacanya. Style muncul dari kepribadian seorang penulis dan ini tampak pada pemilihan kata dan frase, tatanan kalimat, ritme serta nada tulisan.

Adapun strukture mengacu pada arsitektur cerita, cara dan pola dimana unsur-unsur kecil dipilih dan ditata guna memperoleh efek atau hasil yang ingin dicapai.

Memahami prinsip-prinsip dasar sebuah cerita pendek dalam bahasa Inggris seperti disebutkan diatas sedikit banyak akan dapat mengurangi kesulitan kita didalam mencerna karya-karya tulis seperti dimaksud.

Ada lagi sebuah prinsip penting yang seringkali terabaikan atau lewat dari perhatian kita. Pada setiap cerpen yang kita baca, pasti akan selalu terdapat berbagai insiden atau peristiwa yang senantiasa bergerak menuju suatu klimak atau

(titik ketegangan tertinggi). Sebuah cerpen yang bagus biasanya bergerak menuju suatu titik akhir dimana konflik dipecahkan, isu dijelaskan dan misteri diungkapkan.

Peristiwa yang perlahan menuju klimak dan penyelesaian inilah yang seringkali disebut plot atau alur cerita.

Namun apalah artinya memahami suatu plot yang pada hakekatnya hanyalah urut-urutan peristiwa ini jika tidak disertai dengan kemampuan melihat arti dibaliknya yang biasa disebut dengan (tema).

Sebuah tema boleh jadi melambangkan suatu kebenaran penting menyangkut kehidupan sehari-hari atau sifat alami manusia. Dalam cerpen A little Cloud karya penulis Irlandia James Joyce (1882-1941) misalnya, plot ceritanya terkesan sederhana saja: Little Chandler bertemu seorang teman lama yang tampaknya telah berubah menjadi agen koran yang sangat berhasil di kota London. Mereka berdua kemudian minum-minum dan ngobrol kesana kemari.

Tak lama sesudah itu si Little Chandler pulang, dan di sana kita melihat gambaran singkat tentang kehidupan keluarganya.

Kendatipun terkesan tak banyak yang terjadi, peristiwa-peristiwa kecil ini sangatlah bermakna. Karena peristiwa dan kejadian-kejadian inilah, beberapa jam kemudian Little Chandler menyadari seperti apa hakekat kehidupannya yang sebenarnya yaitu: perbedaan tajam antara dunia yang diimpikannya dan dunia nyata.

Inilah tema dari A little Cloud yang jika lepas dari pengamatan pembaca tentu akan menjadi salah satu kendala pemahaman karya sastra ini.

Cerita pendek dalam bahasa Inggris juga tak jarang menampilkan karakter dari berbagai latar belakang dan tingkatan sosial yang amat berbeda. Karakter yang berbeda

(15)

ini seringkali pula menggunakan kata atau frase yang tak lazim kita dapatkan pada penulisan koran, majalah atau buku-buku standar.

Munculnya khusus dan bahasa slang tak ayal lagi akan menambah problema yang dihadapi pembaca, belum lagi areal geografis yang berbeda yang ikut menjadi salah satu penentu terbacanya cerpen dengan baik. Sand City misalnya yang dijadikan setting pada cerpen Willa Cather (1873-1947) berjudul The Sculptor's Funeral sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan Dublin dalam karya James Joyce berjudulALittle Cloud.

Latar belakang, geografis yang menjadi pilihan seorang penulis sudah barang tentu mengandung arti yang dalam terhadap pemahaman suatu cerpen.

Novelis seperti John Steinbeck (1902- 1968) cenderung menjadikan tanah airnya California dengan aneka gunung karang dan lembah-lembahnya sebagai setting cerpen-cerpennya seperti The Great Mountains, sementara Ernest Hemingway (1899-1961) yang sempat melewatkan sebagian hidupnya di Spanyol seringkali memilih negeri ini sebagai latar belakang cerpen yang ditulisnya seperti A Clean, Well-Lighted Place.

Ingin saya menekankan sekali lagi dalam tulisan ini bahwa membaca cerpen bahasa Inggris bagi sebagian besar kita memang bukanlah sesuatu yang mudah.

Tampaknya latar belakang pengetahuan bahasa Inggris saja belumlah cukup untuk dapat mengikuti cerpen-cerpen ini sebagaimana mestinya. Menurut Wolfgang Iser (dalam Basnett - McGuire, 1980), dalam sebuah cerpen atau novel suatu kalimat tidak sekadar ujaran yang berdiri sendiri, tetapi kalimat itu bertujuan

untuk mengatakan sesuatu diluar yang apa yang tertulis itu, karena kalimat dalam teks sastra selalu berfungsi sebagai indikasi akan datangnya serangkaian ide yang akan menyusul. Dengan demikian, sebuah cerita bisa terasa pekat dan enak untuk terus diikuti, sehingga manakala pembaca hanya membaca kalimat- kalimat dalam cerpen itu sebagai kalimat- kalimat yang berdiri sendiri atau berdasarkan makna dari masing-masing kalimat saja, maka yang akan muncul dalam benak pembaca hanyalah suatu bacaan yang kehilangan dimensi, kedalaman serta keluasan makna yang ingin disampaikan oleh sang penulis.

Itulah sebabnya pemahaman bahasa Inggris belumlah cukup menjadi jaminan pemahaman cerpen secara baik.

Disamping bermacam kendala membaca cerpen bahasa Inggris seperti yang sudah saya utarakan dalam tulisan ini, adalagi sebuah kesulitan ungkapan yang tak jarang membuat kita kehilangan makna dari sesuatu yang kita baca.

Suryawinata (1989:42) memberikan contoh suatu situasi sewaktu seorang suami marah-marah pada istrinya dan terus mengomel. Karena tak henti- hentinya mengomel, si istri lalu berkata,

Bayangkan saja betapa lucunya terdengar apabila di dalam membaca ungkapan seperti di atas yang muncul dalam pikiran kita pengertian "John, silakan." Yang tidak selalu dapat dipahami pembaca cerpen bahasa Inggris ketika menemukan ungkapan seperti ini adalah membayangkan situasi di mana si istri bermaksud meredakan amarah suaminya dengan menyuruhnya menahan diri atau bersabar. Kemampuan term

"John, please."

(16)

membayangkan situasi seperti ini akan m e m u n g k i n k a n k i t a m e m a h a m i ungkapan di atas dengan pengertian

"John, sudahlah."

Sementara tujuan suatu cerpen adalah membuat pembaca ikut serta dalam suatu pengalaman imajiner untuk menghibur atau menyentuh perasaannya, tujuan karya non fiksi berbeda adanya.

Esai dan biografi pada dasarnya mengarah kepada usaha untuk menjelaskan, menginformasikan, membujuk atau mernberikan kesan tertentu. Meskipun boleh jadi sebuah esai informal menciptakan karakter dan situasi tertentu, atau bahkan mempunyai kemampuan membuat pembaca tertawa atau meneteskan air mata, pada hakekatnya karya-karya seperti ini tidak termuati d e n g a n s e m a n g a t m e n g g u g a h pembacanya lewat cara-cara dramatis.

Perhatikanlah misalnya tatkala Carl Sandburg (1878-1967) mencoba berkisah tentang biografi Lincoln. Meskipun tulisan Sandburg ini berbentuk cerita namun tujuan utamanya sama sekali bukanlah memberikan

kepada pembaca. Biografi ini semata d i t u j u k a n n y a d a l a m u s a h a memperkenalkan sang pembaca kepada berbagai fakta menyangkut kehidupan dan takaran kebesaran Lincoln.

Esai-esai seperti yang banyak ditulis oleh Huxley (1887-1975) pada dasarnya ditujukan dalam rangka mengkiarifikasi dan menginterpretasikan fakta, sedangkan Moorehead (1910) pada umumnya memaparkan pengalaman serta kesan yang ditimbulkannya tentang seorang penulis. Ada kalanya esai-esai seperti ini sangat subyektif karena tidak

semata menawarkan sederetan fakta tetapi juga bermacam fakta yang telah terpilah dalam pikiran sang penulis. Tengoklah bagaimana New York tergambar dalam mata Narayan (1906) pada tulisannya yang tidak saja bercirikan deskriptif namun juga impresionistis. Kesalahan- kesalahan yang dilakukannya ketika mencoba memesan makanan atau minuman di kota ini memberikan kesan tersendiri pada pembaca (Narayan : Over ACup of Coffee).

Organisasi sebuah esai bisa jadi sangat fleksibel. Sekalipun begitu, semua penulis esai yang bagus akan senantiasa mencoba melengkapi esai mereka dengan citarasa kesempurnaan ( ), kesatuan ( sebagai yang bisa ditemukan pada sebuah cerita pendek pilihan. Sebuah esai boleh jadi dibangun sekitar suatu ide sentral (esai model Huxley), mengikuti tatanan apik berdasarkan dimensi waktu (model Santha Rama Rau), atau mungkin terunifikasi oleh nada (t atau sudut pandang tertentu atau gaya (seperti pada Narayan).

Adapun gaya atau pada cerpen non fiksi, segala yang coba dituangkan oleh penulis pada subyek tulisannya dan semua makna yang dapat diberikan oleh subyek ini kepada sang penul is adalah t erama t penti ng peranannya dalam esai dan biografi.

dalam cerpen non fiksi adalah suatu ekspresi dari kepribadian dan rangkaian pikiran sang penulis. Style tumbuh dari pengalaman serta perasaan penulis terhadap bahasa yang digunakannya.

Style adalah bagai sang penulis sendiri yang menjangkau kumpulan kata-kata bermakna.

Non Fiksi

"entertainment"

completeness unity)

one)

style

Style

(17)

Style jugalah yang kerap kali tampak pada hasrat sang penulis kepada hal-hal kecil sekalipun, pada kerangka memilih kata dan frase, serta pada ritme kalimat yang digunakan. Cobalah mengingat bagaimana Carl Sundburg didalam sanjungan panjangnya kepada Abraham Lincoln serta kesabarannya di dalam menekuni sejarah telah mewarnai aneka fakta dan peristiwa melalui frase- frase yang puitis dan mendalam. Lain pula dengan Moorehead yang membersit lewat cintanya kepada Afrika. Bagaimana pula dengan Julian Huxley, sang ilmuwan, yang dengan aneka pengalaman pelatihan piawai menggunakan ini

Dengan cara yang lebih faktual.

Ringkasnya, setiap penulis telah membawa serta kepada tulisannya gambaran dan corak kepribadian berbeda dan didalam mengalirkan tulisan ini mengembangkan style yang berbeda pula.

Te ng ok l a h b a ga i m a na P r i e st l e y memanfaatkan style dalam cerita pendeknya berjudul Dreams

(1987: 101) : style

style

Now and again I have had horrible dreams but not enough of them to make me lose my delight in dreams. To begin with, I like the idea of dreaming, of going to bed and lying still and then, by some queer magic, wandering into another kind of existence. As a child I could never understand why grown- ups took dreaming so calmly when they could make such a fuss about any holiday. This still puzzles me. I am mystified by people who say they never dream and appear to have - no interest in the subject. It is much more astonishing than if they said they never went out for a walk. Most people - or at least most Western Europeans

do not seem to accept dreaming as part of their lives. They appear to see it as an irritating little habit, like sneezing or yawning. I have never understood this. My dream life does not seem as important as my waking life, if only because there is far less of it, but to me it is important. As if there were at least two extra continents added to the world and lightning excursions running to them at any moment between midnight and breakfast. Then again, the dream life, though queer and bewildering and unsatisfactory in many respects, has its own advantages. The dead are there, smiling and talking. The past is there, some times all broken and confused but occasionally as fresh as a daisy. And perhaps, as Mr. Dunne tell us, the future is there too, winking at us. This dream life is often overshadowed by huge mysterious anxieties, with luggage that cannot be packed and trains that refused to be caught; and both persons and scenes there are not as dependable and solid as they are in waking life, so that Brown and Smith merge into one person while Robinson splits into two, and there are thick woods out side the bathroom door and the dining room is somehow part of a theater balcony;

and there are moments of desolation or terror in the dream world that are worse, than anything we have known under the sun. yet this other life has its interests, its gaieties, its satisfaction, and, at certain rare intervals, a serene low or a sudden ecstasy, like glimpses of another form of existence altogether, that we cannot match with open eyes. Daft or wise, terrible or exquisite, it is a further helping of experience, a bonus after dark, another slice of life cut differently, for

(18)

which, it seems to me we are never sufficiently grateful. Only a dream!

Why only? It was there, and you had it.

"If there were dreams to sell,"

Beddoes inquires, "what would you buy?" I cannot say off hand, but certainly rather more than I could afford.

Jika kita amati dengan seksama, terasa betapa kuatnya pengaruh gaya penulis yang dikembangkan oleh Priestley (1894-1984) didalam cerpen diatas. Cobalah kita amati pemilihan kata dan kalimat yang digunakannya; didalam menggarap tulisan berjudul Dreams ini.

Betapa termangunya kita membayangkan penulis yang walau digoda oleh mimpi- mimpi mengerikan, tetap mendambakan mimpi-mimpi itu. Bagi Penulis ini, mimpi adalah hadiah sesudah gelap yang tak akan pernah membuat kita puas karenanya.

Priestley bahkan merasa teramat heran ketika mendengar orang mengatakan tak pernah tertarik pada mimpi. Betapa pula penulis ini melukiskan keheranannya terhadap masyarakat Eropa Barat yang enggan menerima mimpi sebagai bagian dari kehidupan mereka. Kesemuanya ini ditata Priestley dengan menggunakan gaya yang menarik dan memilih kata-kata yang lugu. "

Di penghujung cerpen ini Priestley mengutip sebuah pertanyaan yang pernah diajukan oleh penyair Inggris, Thomas Lovell Beddoes yang mempertanyakan

kalau saja ada yang dapat menjual mimpi.

Sastra adalah salah satu karya manusia yang luar-.biasa

(Encyclopedia Americana, - vol.17 : 559). Sayangnya tidak semua penikmat sastra dapat mengikuti misi karya ini dengan baik apabila karya ini dituliskan dalam bahasa Inggris. Latar belakang yang menjadi penyebab hambatan inimemang bermacam, dan tak diragukan lagi kita senantiasa perlu mencari penyelesaiannya. .

Cerpen adalah suatu bentuk karya sastra yang senantiasa memiliki daya tarik dan pesona tersendiri. Tatkala kita belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing, penguasaan kosa kata dan kaidah bahasa Inggris kita demikian "terkendalinya"

sehingga didalam memahami cerpen- cerpen berbahasa Inggris ini diperlukan usaha berkesinambungan yang tidak mengenal lelah.

Di samping hambatan bahasa seperti penggunaan terminologi dan kata- kata tak standar (slang), latar belakang (setting) dimana cerpen-cerpen ini mengambil tempat, adat istiadat dan b u d a y a s e r t a p a n d a n g a n h i d u p masyarakat setempat tentu saja ikut mengambil peranan berarti.

Kendatipun kendala-kendala dimaksud tidak demikian mudahnya diatasi, saya percaya masih terbuka jalan untuk setidaknya mengurangi hambatan- hambatan ini antara lain kemampuan membedakan karya fiksi dan non fiksi, mengamati prinsip-prinsip dasar cerpen

seperti dan

Karya sastra seperti cerpen mengandung unsur ekspresi si sastrawan Only a dream ! Why only ? It

was there, and you had it."

"If there were dreams to sell, what would you buy?",

"It is one of the great creative and universal means of communicating the emotional, spiritual or

intellectual concerns of man kind. Like fine music and art, fine literature is characterized toy imagination, meaning fullness of expression, and good form and technique."

plot, style theme.

Simpulan

(19)

d a n k e s a n k h u s u s y a n g i n g i n ditimbulkannya terhadap si pembaca.

Karya sastra juga mengandung unsur- unsur emosional, efek keindahan kata dan ungkapan dengan segala nuansa yang mengiringinya. Inilah yang seringkali disebut fungsi estetis. Oleh karena itu pembaca karya sastra seperti ini perlu memiliki pengetahuan sosiokultural yang luas tentang bahasa yang dipakai dalam karya ini.

Apabila semua ini dapat dicapai dengan baik, maka membaca cerpen bahasa Inggris tidak akan lagi terasa sebagai beban yang membosankan melainkan benar-benar terasa sebagai

atau

Kesulitan membaca cerpen bahasa Inggris tidak boleh membuat kita berhenti ditengah. Membaca karya ini berulang- ulang, membahas dan merenungkannya tentu akan memberikan yang berarti. Bukankah karya sastra selalu demikian .

Cook, Luella. B. 1964.

: New York, Me Graw- Hill Company.

Damono, Spardi Djoko. "Apresiasi Sastra, dalam Budi Darma.

nomor 2 tahun 1987.

Damono, Spardi Djoko. "Kemampuan Mengebor Sukma", dalam James Joyce. nomor 7 tahun 1984

.

_______, New York: The

Viking Press, Inc.

Ridout, Ronald. 1970.

London, Macmillan and Co.Ltd.

Shaw, Valerie. 1983.

Longman.

S u r y a w i n a t a , Z u c h r i d i n . 2 0 0 3 . : Yogyakarta:

Penerbit Kanisius.

Walter, Allen. 1981.

O x f o r d : O x f o r d University Press.

Warner, Alan. 1964.

Bungay, Suffolk, Oxford University Press.

"reading for pleasure" "reading for enjoyment."

"reward"

reward

Literature in English

Horison,

Horison

Dubliners.

A Reference Book of English.

The Short Story. A Critical Introduction,

Translation

The Short Story in E n g l i s h .

A Short Guide to English Style.

DAFTAR PUSTAKA

(20)

Pendahuluan

Globalisasi diberbagai sektor yang ditunjang dengan perkembangan teknologi komuniksai dan informasi telah melanda seluruh sektor termasuk perguruan tinggi. Oleh karena itu pendidikan tinggi sebagai agen t r a n s f o r m a s i d a n i n o v a s i i l m u pengetahuan dan teknologi termasuk di Indonesia dihadapkan dengan tuntutan mobilitas tinggi dalam akses dan publikasi

hasil-hasil riset inovatif yang sangat dibutuhkan dalam peningkatan nilai tambah disektor industri, bisnis, dan layanan publik.

Universitas Airlangga yang termasuk lembaga pendidika tinggi terkemuka di Indonesia juga berhadapan dengan tuntutan di atas. Salah satu kebutuhan mendesak untuk mendukung mobilitas akses dan publikasi informasi p e r k e m b a n g a n m u t a k h i r i l m u Abstract

Amir Fatah

Key Words : Item analysis-based method, target score achievement, instrument format.

Global quality in higher education has inevitable implicated the increase of university output quality including in English proficiency based on international standard. Therefore, research on strategy to improve the TOEFL scores as an internationally recognized English proficiency indicator is required to support the implementation quality assurance. The research objective was to analyze the effectiveness of TOEFL item analysis- based method usage to accelerate the target score achievement within the short term training.

The research population and samples covered the analyzed item taken from high frequency evaluation results of TOEFL sort-term training between 2004-2005. The data collecting was conducted by using purposive sampling technique , while the data were analyzed by using TOEFL item analysis based method, constructing an instrument format designed by the researcher.

The results showed that all the 15 classes of training using item analysis- based method obtained their target scores 400-550 within 20-50 hour with the achievement level 80% - 100%. Of all the classes, one class took 15 hours, three classes finished 20 hours, four classes completed 30 hours, and seven others programmed 50 hours. If compared with two classes which programmed 30 and 50 hour training within 6 months with 18% achievement and did not use the item analysis-based method, the previous ones indicated significantly fast with the higher achievement. Finally it may be concluded that the TOEFL item analysis-based method was effective to improve the TOEFL scores faster.

*)Departemen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya UniversitasAirlangga, tlp 031-5035676

(21)

pengetahuan dan teknologi adalah profisiensi berbahasa inggris di kalangan sivitas akademika terutama mahasiswa baik program S1, S2, maupun S3. Selain ILETS (

), GMAT (

), dan TOEFL

( )

merupakan instrumen uji kemampuan berbahasa inggris bertaraf internasional khusus bagi penutur asing khususnya bagi mereka yang berminat melanjutkan studi di Amerika meskipun kemudian sejumlah lembaga diluar pendidikan juga mengunakan TOEFL sebagai standar kemampuan berbahasa Inggris dalam sistem rekruitmen atau kenaikan jenjang karir profesi. Hal ini karena TOEFL dipandang sebagai alat ukur yang memiliki kredibilitas tinggi dikalangan akademisi dan eksekutif profesional apalagi diketahui bahwa TOEFL adalah produk lembaga uji mutu pendidikan bahasa dan penelitian pendidikan terkemuka di dunia,

, yang berpusat di Preceton, New Jersey, Amerika. Itulah barangkali alasan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia seprti UNAIR dan ITS sebagai bagian dalam program

mensyaratkan mahasiswanya mengikuti tes TOEFL.

Akan tetapi, berdasarkan hasil tes TOEFL mahasiswa baru UNAIR periode 2002-2005 diperoleh data bahwa kemampuan berbahasa inggris untuk kepentingan studi ditingkat pendidikan tinggi dikalangan mayoritas mahasiswa baru masih sanggat rendah (

), yakni 83% dengan skor TOEFL

>450, 12% (rentang skor antara 451-500) tergolong kurang ( ), 3,5%

(501-500) kategori sedang ( ), 1% (551-600) baik ( ), dan hanya

0,5% (>601) baik sekali ( ).

Kategori ini digunakan oleh

Amerika. Data tersebut mengimplikasikan bahwa peningkatan s k o r TO E F L s e b a g a i i n d i k a t o r peningkatan profisiensi berbahsa Inggris menjadi sangat mendesak terutama dalam menghadapi tekanan eksternal di era perdagangan bebas AFTA (

)tahun 2003, dan APEC ( ) tahun 2020.

U n t u k m e n i n g k a t k a n d a n m em pe rce pat pe nin gkat an se rt a pencapaian target skor TOEFL hingga pada kategori yang dideskripkan diatas diperlukan suatu metode pembelajaran TOEFL yang lebih efektif, terukur dan mantap. Salah satu metode pembelajaran TOEFL terutama untuk mempercepat peningkatan dan pencapaian target skor adalah metode analisa item, yaitu suatu cara untuk menambah skor TOEFL secara bertahap dengan menemukan Topik/sub- topik berdasarkan jawaban salah pada item naskah ujian. Penemuan atau pengidentifikasian topik/sub-topik dapat mempercepat waktu proses diagnostik sejumlah topik/sub-topik yang belum di kuasai. Di satu sisi, jarak antara tes berakir dan laporan hasil tes berupa identifikasi topik/sub-topik hanya 10 menit untuk program 20 jam privat individu, dan 30 menit untuk program 30 dan 50 jam yang terdiri dari 15 peserta per kelas. Dengan demikian peserta training TOEFL, dapat mendiagnosa sejumlah kelemahan berdasarkan data empiris yang memiliki tingkat akurasi lebih tinggi dan terukur.

Metode ini telah diterapkan dalam program training TOEFL di UPT PINLABS Universitas Airlangga sejak 2002 untuk meningkakan dan mencapai target skor TOEFL peserta karena metode International english language

testing system Graduate

management admission test

test Of English As Forign Language

Educational Testing Service

“Quality Assurance”

too low and non user

less adequate adequate efective

proficient Educational Testing Service,

Asean Free

Trade Area Asia

Pasific Economic Cooperation

(22)

dipandang lebih efektif, terukur, dan mantap.

Yang menarik untu diangkat sebagai masalah dalam penelitian ini adalah proses mempercepat, penigkatan dan pencapaian skor TOEFL yang meliputi 3 komponen bahasa, yaitu

Hal ini karena masing- masing komponen memiliki variabel dan standar konversi penilaian yang berbeda dan di lain pihak pencapaian target skor TOEFL dihadapkan dengan batasan waktu 20, 30, atau 50 jam tatap muka dikelas. Dengan demikian pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan k o n d i s i t e r s e b u t m e n j a d i b u a h permasalahan.

Berdasarkan deskripsi di atas metode analisa item di pandang memenhi kondisi, akan tetapi hingga kini belum ada penjelasan ilmiah tentang akurasi pandangan tersebut. Oleh karena itu, secara lebih spesifik metode analisa item sebagai permasalahan akan diteliti lebih jauh dari aspek proses aplikasinya dalam m e m p e r c e p a t p e n i n g k a t a n d a n pencapaian target skor pada masing- masing komponen yang diformulasikan dalam pertanyaan sebagai berikut:

Bagaimana proses mempercepat peningkatan dan pencapaian target skor

?

Brown (1996)berpandangan bahwa naskah ujian ditentukan oleh komposisi tingkat kesukaran butir soal.

Umumnya naskah ujian yang memenuhi standar kualitas baik menurut Zainul (1997) menggunakan butir soal dengan

tingkat kesukaran berimbang, yaitu sukar (25%), sedang (50%), dan Mudah (25%).

Selanjutnya dijelaskan bahwa apabila komposisi butir soal dalam suatu naskah ujian tidak berimabang, pengunaan penilaian acuan norma tidak tepat, karena informasi kemampuan yang dihasilkan tidak terdistribusi dalam suatu kurva normal.

Dilain pihak, Brown (1996) mengajukan lima kategori distribusi tingkat kesukaran butir soal, yaitu sangat mudah, mudah, sedang, sukar, dan sangat sukar. Kedua pakar evaluasi diatas sepakat bahwa komposisi prosentase tingkat kesukaran butir soal berbeda.

N a m u n B r o w n ( 1 9 9 6 ) t i d a k memformulasikan komposisi prosentase tingkat kesukaran butir soal. Dalam kaitan terakir ini, peneliti mengajukan komposisi butir soal sukar mendudukia prosentase hampir seimbang dengan prosentase jumlah butir soal dengan tingkat kesukaran sedang untuk meningkatkan jumlah lulusan dengan kualitas diatas rata-rata.

Untuk mendapatkan proses dan hasil belajar TOEFL yang Diharapkan sebagaimana dirumuskan dalam tujuan instruksional, tentu banyak faktor yang m e m p e n g a r u h i . D a l a m k o n s e p pembelajaran TOEFL berbasis data item, faktor yang sangat berpengaruh antara lain pembelajar, instruktur, materi belajar, instrumen analisa item, sistem evaluasi hasil belajar berfrekuensi tinggi, metode pembelajaran, staf analisa data hasil evaluasi, dan manajemen proses pengendalian peningkatan skor TOEFL.

Sebagai sebuah sistem, masing-masing komponen dituntut berfungsi secara proporsional dan berinteraksi maksimal untuk mencapai terget skor secara terukur Listening Comprehension, Structue and

Writen Expression, dan Reading Comprehension.

Listening Comprehension, Structure and Written Expresion, dan Reading Comprehension

Kajian Pustaka

(23)

dan terkendali. Agar setiap komponen dalam sistem tersebut dapat berfungsi dan berinteraksipositif dan optimal, perlu diketahui secara jelas kriteria masing- masing komponen sebagai berikut :

eserta m em iliki karakteristik antara lain berkemauan keras mencapai skor yang ditargetkan, memahami sistem mencapai target skor b e r b a s i s a n a l i s a i t e m , m a m p u menerapkan sistem tersebut dengan meningkatkan skor LC, SWE dan RC secara bertahap melalui modul, dan berkonsultasi intensif tentang masalah- masalah yang terkait perkembangan skor selama proses belajar

Instruktur memiliki keahlian tinggi dalam mengaplikasikan instrument analisa sistem, mampu menjelaskan proses peningkatan skor dengan menggunakan metode tahapan kenaikan skor secara konstan, serta teruji dan terbukti secara ajeg dapat mencapai target skor sesuai jadwal.

Modul berisi konsep seluruh topik disertai contoh kasus dan diperkuat dengan contoh soal tes TOEFL secara berjenjang plus instrumen analisa item dan identifikasi variabel bebas yang berupa topik yang terjawab salah untuk mempermudah dan mempercepat upaya p e r b a i k a n p r o s e s p e m b e l a j a r a n selanjutnya.

nstrumen analisa item berisi laporan cepat hasil tes tentang topik/sub topik yang salah, dan kolom untuk latihan mengurangi jumlah jawaban salah sesuai target skor dan waktu yang terjadwal.

alam proses pelatihan digunakan sistem evaluasi berfrekwensi tinggi selama proses pencapaian target skor dan laporan cepat setiap hasil tes.

Untuk mempercepat pencapaian

target skor TOEFL digunakan metode analisa item dengan tahapan; (1) Identifikasi kemajuan awal melalui pre- test. (2)Penguasaan konsep LC, SWE, dan RC. (3) Pengukuran tingkat penguasaan konsep secara bertahap: topik, per-klaster t o p i k , p e r - m u l t i t o p i k . ( 4 ) Rekapitulasi dan remedial materi pembelajaran yang belum dikuasai. ( Pengukuran koprehensial hasil belajar melalui

I n d i k a t o r k e b e r h a s i l a n pelaksanaan program training dan tes TOEFL diukur berdasarkan pencapaian skor minimal sesuai jadwal, misalnya

<400, <450, <500, <550, < atau <600.

Wacana teoritis tentang proses p e m b e l a j a r a n t e l a h b a n y a k d i k e m b a n g k a n p a r a a h l i t e o r i pembelajaran. B.F Skinner, pakar psikologi perilaku dalam Dugan Laird (1983) mengemukakan teori stimulus- respons. Teori ini memandang bahwa pembahasan positif dalam proses belajar mengajar terjadi melalui hubungan timbal balik stimul respons. Semakin efektif stimulus yang diberikan oleh instruktur, semakin besar respons dari pembelajar.

Selain itu Dr. Carl Rogers (1983)

mengemukakan teori yang

lebih memfokuskan pada intensitas p r o s e s s t i m u l u s r e s p o n u n t u k mempercepat pencapaian target belajar- mengajar. Kedua teori pembelajaran tersebut mencakup jumlah aspek seperti kurikulum, perencanaan pelajaran, evaluasi hasil belajar dan metode belajar mengajar. Dalam hal metode belajar mengajar terdapat bagian metode yang memiliki keunggulan, disamping kelemahan. Untuk itu, dalam proses pembelajaran diperlukan metode yang Pertama, p

Kedua,

Ketiga,

Keempat, i

Kelima, d

post test.

reinforcement .

5)

Landasan Teori

(24)

masing-masing sesuai sehingga hasil belajar menjadi optimal. Selain ceramah, tugas, membuat catatan rangkuman, diskusi, tanya jawab, uji coba dan studi kasus, metode pengumpulan data juga perlu digunakan. Bahkan metode yang disebut terakhir dipandang sangat efektif untuk menangani tujuan belajar-mengajar TOEFL. Ada kegiatan utama dalam metode analisa item sebagai salah satu bentuk metode pengumpulan data, yaitu:

Mengidentifikasikan topik/sub topik yang belum dipelajari tuntas berdasarkan jawaban salah pada item setiap hasil kuis 10-30 menit sesudah kuis berakhir dengan menggunakan metode analisa.

Melakukan pembelajaran ulang terhadap seluruh topik/sub topik yang teridentifikasi salah melalui tahap kegiatan, yaitu: (a) pendalaman materi soal yang dikelompokkan berdasarkan m u l t i t o p i k / s u b t o p i k ( b )

p e n d a l a m a n m a t e r i s o a l y a n g dikelompokkan berdasarkan multi topik sub topik untuk mengukur penguasaan beragam untuk mengukur penguasaan beragam topik seperti naskah ujian sesungguhnya bagaimana terdapat pada 1-4 Model Test LC, Model Test 1-8 RC.

(c) Merekapitulasi topik/sub topik yang teridentifikasi salah berdasarkan hasil evaluasi 3-5 kali kuis. Daftar topik/sub topik hasil rekapitulasi digunakan sebagai dasar untuk pembelajaran ulang dan pendalaman materi soal baik single topik mapun model test. (d) Mela kukan di agnosa kelemahan berdasarkan hasil rekapitulasi sejumlah kuis dengan menggunakan materi soal Model Test. Secara teknis diagnosa bertujuan untuk mengurangi jumlah jawaban salah pada kolom instrumen analisa item yang tersedia.

Semakin berkurang jumlah kesalahan, semakin tinggi skor yang diperoleh.

Pertama,

Kedua,

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis cerpen dengan menggunakan model pembelajaran advance organizer pada siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 7

(3) Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak, impor Barang Kena Pajak, serta pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau pemanfaatan Jasa

Penerapan "Genre-Based Approachl'Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Formal Letter dalam Mata Kuliah Writing IV Pada Program Studi Bahasa Inggris FKIp Unri Indah Tri Purwanti

Diagram di samping adalah data dari siswa dalam suatu kelas yang gemar IPA, IPS, Bahasa Inggris dan Matematika.. Jika banyaknya siswa dalam kelas itu 48 orang, maka banyaknya

Penyusunan SBK merupakan inventarisasi, menentukan tahapan/komponen masukan, dan menentukan volume serta alokasi anggaran yang diusulkan dalam pencapaian keluaran kegiatan

Kata minat berasal dari bahasa Inggris yaitu interest, yang memiliki makna dorongan untuk bertingkah laku secara terarah terhadap objek kegiatan atau pengalaman