ا ْٓوُعَجَر اَذِا ْمُهَمْوَق اْوُرِذْنُيِلَو ِ نْيِدلا ىِف اْوُهَقَفَتَيِل ٌةَفِِىۤاَط ْمُهْنِم ٍةَقْرِف ِلُك ْنِ م َرَفَن َلْوَلَف ًۗةَفۤاَك اْوُرِفْنَيِل َنْوُنِمْؤُمْلا َناَك اَمَو
ࣖ َن ْوُرَ ذ ْحَي ْمُهَلَعَل ْمِهْيَلِا 122. Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.
Surat ini termasuk ke dalam golongan surat Madaniyyah, yakni surat yang diturunkan di Kota Madinah. Dinamakan At-Taubah yang berarti pengampunan dan disebut juga sebagai Baarah yang berarti berlepas diri (pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin).
Isi Kandungan Surat At Taubah Ayat 122
Kata Taubah mengingatkan pada kata Taubat yang berarti adanya suatu perubahan atau mengadakan perubahan di dalam diri. Jadi, surat At Taubah ini adalah peringatan dari Allah SWT untuk berusaha melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Surat ini juga dipenuhi dengan ancaman dan peringatan keras bagi orang-orang kafir dan munafik. Di sisi lain, surat ini juga membuka pintu taubat.
Adapun pada ayat ke-122, Allah hendak mengingatkan bahwa meskipun setiap orang yang memenuhi syarat wajib berperang di jalan Allah yakni dengan menumpas kaum musyrikin, tetap dibutuhkan orang-orang yang menetap untuk menuntut ilmu.
Oleh sebab itu harus ada sebagian dari umat Islam yang menggunakan waktu dan tenaganya untuk menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama. Dengan demikian mereka dapat membantu menyiarkan agama Islam dengan dakwah Islamiyah. Ilmu yang dikuasai bisa membuat kaum muslim dapat memerangi kaum musyrikin dengan dua cara yakni dengan peperangan dan juga dengan ilmu.