• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Negatif K-Pop Terhadap Kehidupan Remaja di Indonesia

N/A
N/A
Gheona Priscilla

Academic year: 2024

Membagikan "Dampak Negatif K-Pop Terhadap Kehidupan Remaja di Indonesia"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Gheona Priscilla Rannaesa NIM : 2022041013

Kelas : KOM-C

Dampak Negatif K-Pop Terhadap Kehidupan Remaja di Indonesia Saat ini industri K-Pop atau Korean Pop sangat berkembang pesat, tidak hanya di Korea Selatan tapi juga menyebar secara luas ke banyak negara yang ada di dunia, termasuk Indonesia. Perkembangan industri K-Pop ini ditandai dengan banyaknya boy grup ataupun girl grup yang bermunculan selama beberapa tahun belakangan ini. Tak hanya itu, hal ini juga dapat dilihat dengan banyaknya produk-produk yang memakai para artis K-Pop tersebut untuk menjadi iklan ataupun brand ambassador produk mereka guna menarik perhatian para K-Pop fans untuk dapat membeli produk yang mereka jual. Teknologi tentunya memiliki peran penting dalam perkembangan budaya K-Pop tersebut. Dengan semakin canggihnya teknologi dan alat-alat komunikasi membuat para penggemar dapat dengan mudah untuk mengakses informasi mengenai artis atau idol favorit mereka. Perkembangan budaya K-Pop ini juga lambat laun menghadirkan dampak negatif bagi para penggemarnya khususnya anak- anak remaja yang banyak mengidolakan artis-artis Kpop tersebut. Dampak negatif tersebut meliputi gaya berpakaian yang cenderung kurang pantas, munculnya sikap atau perilaku konsumtif, dan membuat penggemarnya memiliki rasa kecintaan atau kesukaan yang berlebihan terhadap idola mereka.

Saat ini gaya berpakaian yang menyerupai artis atau idol Korea kerap menjadi trend baru yang tentunya sangat disukai oleh remaja-remaja yang ada di Indonesia. Hal

dikarenakan outif-outfit yang mereka gunakan cenderung simple, unik, namun masih memberikan kesan mewah yang membuat remaja-remaja menjadi tertarik untuk memakai baju serupa yang dipakai oleh idola mereka. Namun terkadang mereka tidak menyadari bahwa ada beberapa outfit bertema Korean look yang terkadang tidak sesuai dengan adat istiadat dan norma-norma yang ada di Indoneisa. Hal ini karena beberapa outif bertema Korean look cenderung terbuka dan memperlihatkan bagian-bagian tubuh tertentu yang seharusnya tidak diperlihatkan. Namun tetap saja banyak remaja-remaja yang cenderung senang mengikuti gaya berpakaian artis korea tersebut, hal ini karena oufit dengan tema Korean look tersebut sangat mudah ditemukan baik itu di toko baju, e-comerence, ataupun lewat media sosial. Referensi outfit yang menyerupai artis Koreapun dapat dengan mudah diakses oleh para penggemar lewat media sosial yang mereka punya seperti tiktok, Instagram, dan twitter.

Dampak negatif yang berikutnya adalah dapat membuat penggemarnya, khususnya kaum remaja menjadi pribadi yang memiliki sikap atau perilaku konsumtif. Hal ini karena kecintaan mereka terhadap idola mereka yang membuat mereka rela mengeluarkan cukup banyak uang hanya untuk membeli merchandise yang dikeluarkan oleh idol atau artis favorit mereka. Merchandise tersebut dapat berupa album, light stick, photo chard, poster, dan lain- lain. Para penggemar juga rela mengeluarkan banyak uang untu dapat memiliki barang yang sama dengan barang yang digunakan oleh idola mereka yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Para K-Pop fans juga tidak segan-segan untuk mengeluarkan banyak uang untuk bisa mengikuti konser atau fanmeeting yang digelar oleh idola mereka, yang terkandang memiliki

(2)

harga tiket yang cukup fantastis. Tak hanya itu saja, mereka juga rela untuk mengeluarkan uang lebih hanya untuk membeli produk yang diiklankan oleh idola mereka contohnya seperti BTS meal yang merupakan kolaborasi antara BTS dan Mcdonald's, tas ‘hobo belted ITZY Gabine’ yang merupakan kolaborasi antara Itzy dan Charles & Keith, dan Samsung A80 Blackpink edition yang merupakan kolaborasi anatara Blackpink dan Samsung.

Dampak negatif yang berikutnya adalah munculnya rasa kecintaan atau kesukaan yang berlebihan terhadap idola mereka. Rasa kecintaan atau kesukaan yang berlebihan tersebut membuat penggemarnya khususnya anak-anak remaja menjadi fans yang cenderung fanatik dan selalu ingin meniru atau mengikuti hal ataupun kegiatan yang dilakukan oleh idola mereka, yang terkadang hal-hal tersebut tidak sesuai dengan norma ataupun adat istiadat yang ada di Indonesia. Kecintaan atau kesukaan yang berlebihan tersebut juga membuat para penggemarnya menjadi pribadi yang denial dan selalu membela idola mereka secara berlebihan sekalipun apa yang akan dilakukan oleh idola adalah hal yang salah, namun mereka seakan-akan selalu mewajarkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh idola mereka. Mereka juga terkadang menggap bahwa idola mereka adalah hak mereka sepenuhnya, hal ini membuat merek cenderung suka apabila ada orang lain yang juga menyukai idola mereka. Dalam dunia K-Pop mereka dapat disebut dengan pengaut “Bias is Mine.”

Saat ini budaya K-Pop sangat digandrungi oleh para remaja-remaja yang ada di berbagai dunia tak terkecuali di Indonesia. Hal ini tentunya membuat banyak perusahaan tertarik untuk menjadikan idol atau artis K-Pop untuk mengiklankan ataupun menjadi brand ambassador suatu produk. Perkembangan budaya tersebut juga disebabkan oleh

perkembangan tenologi yang membuat para penggemar dapat dengan mudah mencari informasi mengenai artis atau idola mereka. Kemudahan ini tentunya dapat menghadirkan dampak negatif yang mungkin belum disadari oleh para penggemarnya. Dampak negative tersebut dilihat dari gaya berpakaian para penggemar yang terkadang mengikuti cara

berpakaian artis atau idola mereka yang cenderung menggunakan pakaian yang terbuka, hal ini tentunya tidak sesuai dengan norma ataupun adat istiadat yang ada di Indonesia. Dampak berikutnya dapat terlihat dari perilaku para penggemar yang terkesan konsumtif. Hal ini dapat dilihat dari perilaku mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk membeli barang-barang yang berhubungan dengan idola mereka. Dampak terakhir adalah munculnya rasa kecintaan atau kesukaan yang berlebihan terhadap idola mereka yang

membuat mereka terlihat seperti penggemar yang fanatik dan denial. Untuk menghindari hal- hal tersebut, sebagai K-Pop fans kita harus dapat mengapreasi karya yang mereka dengan tidak berlebihan dan tidak menjadi fans yang fanatik dan tentunya kesukaan kita terhadap budaya K-Pop jangan sampai merugikan diri kita sendiri ataupun orang lain.

(3)

Referensi

Dokumen terkait

Dampak negatif yang ditimbulkan oleh tayangan media televisi seperti tayangan-tayangan sinetron remaja terhadap pola hubungan anak (remaja) dengan orang tua di Dukuh Ngijo

Pada sesi diskusi, selain hal-hal yang telah dijelaskan di atas pada bagian materi, diskusi juga meliputi berbagai aspek seperti perkembangan budaya K-Pop di kalangan anak remaja pada

Valentine (2011) melakukan penelitian terhadap remaja yang melakukan pernikahan dini usia 15-19 tahun, ternyata didapat anak-anak dari orangtua yang menikah dini cenderung