Keseimbangan barang di suatu negara dapat dijelaskan berdasarkan interaksi perilaku maksimisasi keuntungan produsen dan maksimisasi utilitas konsumen. Dengan adanya perdagangan, suatu negara dapat lebih fokus pada satu jenis produk yang dapat dihasilkannya dengan tingkat efisiensi yang relatif tinggi. Dengan adanya perdagangan di suatu negara yang sebelumnya perdagangannya tidak memiliki atau sangat terbatas aksesnya terhadap suatu jenis produk, maka perdagangan akan memenuhi kebutuhan akan jenis produk tersebut.
Adanya perdagangan internasional membuka peluang bagi suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efisien dan modern. Literatur menyatakan bahwa suatu negara akan cenderung mengekspor produk yang tersedia melimpah di negara tersebut, atau dengan kata lain akan cenderung mengekspor produk yang kelebihan pasokan. Sementara itu, model Ricardian memprediksi bahwa suatu negara akan fokus untuk menghasilkan jenis produk yang memiliki keunggulan komparatif terbesar.
Teorema Heckscher-Ohlin menyatakan bahwa suatu negara akan cenderung mengekspor barang yang menggunakan faktor produksinya yang melimpah secara intensif. Suatu negara yang dapat memproduksi suatu jenis produk secara relatif lebih efisien akan cenderung menjadi pengekspor produk tersebut.
METODE PENELITIAN
- Model Computable General Equilibrium
- Alur Analisis
- Setting Simulasi Model GTAP
- Pengujian Korelasi Indikator Perdagangan Internasional
- Data
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dampak ACFTA terhadap perdagangan internasional Indonesia dan bagaimana pengaruhnya terhadap barang ekspor Indonesia. Kemudian menjalankan model CGE dengan menggunakan model GTAP yang merupakan model CGE untuk melakukan simulasi terkait perdagangan internasional. Secara lebih rinci, hasil simulasi model GTAP akan dihadapkan pada analisis indikator perdagangan internasional pada data ekspor dan impor dari UNCOMTRADE periode 2001-2008.
Beranjak dari hasil simulasi model GTAP sebelumnya untuk melihat peta daya saing komoditas Indonesia serta tantangan dan peluang yang dihadapi akibat terbentuknya forum ACFTA perdagangan internasional Indonesia, analisis dilanjutkan dengan menggunakan beberapa indikator perdagangan, yaitu (i ) mengungkapkan keunggulan komparatif. Indikator perdagangan internasional digunakan untuk memperjelas dan memberikan informasi tambahan atas temuan perhitungan menggunakan GTAP. Indikator perdagangan intra-industri, atau sering disebut indeks Grubel-Lloyd (IIT), digunakan untuk menunjukkan arus perdagangan internasional.
Secara umum indikator tersebut menjelaskan bahwa suatu barang dari suatu negara cenderung memiliki keterkaitan dalam rantai perdagangan internasional jika memiliki nilai mendekati 1. Sedangkan untuk analisis dengan indikator perdagangan internasional menggunakan sumber data UNCOMTRADE, khususnya meliputi data ekspor-impor untuk negara-negara dalam lingkup pengamatan, yaitu ACFTA.
HASIL DAN ANALISIS
Hasil Perhitungan dengan Model GTAP
Hasil simulasi GTAP untuk mengukur total efek perdagangan (net effect) bagi negara anggota ACFTA ditunjukkan pada Grafik III.5 dan Grafik III.6. Dari masing-masing negara anggota ACFTA, Vietnam dan Thailand memiliki trade creation terbesar, masing-masing sebesar 9,1% dan 2,5%, sedangkan Singapura memperoleh yield minimal 0,4% (Grafik III.5). Impor barang dari Vietnam dan Thailand yang berasal dari China mengalami peningkatan masing-masing sebesar 147% dan 101%, sedangkan Singapura mencatatkan penurunan impor sebesar 1,2% (Grafik III.7).
Dengan dinamika perubahan ekspor dan impor akibat perubahan tarif dalam lingkup ACFTA, hal ini tercermin dalam grafik III.8. Setelah penerapan ACFTA, hasil simulasi menunjukkan perubahan besar pada total ekspor dan impor masing-masing sebesar 6,4% dan 11,5%. Untuk Indonesia, net creation impact sebesar 2,0%, berasal dari trade creation 10,3% dan trade deviasi -1,5% (Grafik III.5 dan III.6).
Secara keseluruhan, surplus neraca perdagangan Indonesia turun sebesar 2,3% atau USD 247 juta (Grafik III.9 dan lihat Lampiran 1 untuk hasil lengkap penciptaan bersih dengan menghitung total ekspor, impor dan ekspor bersih). Sebagai gambaran, ekspor Indonesia (level database GTAP) dengan mitra dagang ROW mencapai 74%, atau jauh lebih tinggi dibandingkan mitra sesama anggota ACFTA yang mencapai 26% (Grafik III.10). Hasil simulasi menunjukkan bahwa perubahan ekspor-impor Indonesia dengan semua mitra dagang tumbuh masing-masing sebesar 11,7% dan 9,1% di antara anggota ACFTA.
Akibat peningkatan ekspor yang lebih besar dari impor, berdampak pada surplus perdagangan Indonesia yang tercatat meningkat sebesar 6,5% atau 253 USD (Grafik III.9). Sementara itu, transaksi ekspor impor Indonesia dengan mitra dagang ROW masing-masing tercatat turun -1,7% dan -1,3%, sehingga neraca perdagangan turun 3,5% atau USD 499 juta. Berdasarkan grafik III.9 di atas terlihat bahwa hasil simulasi pertumbuhan neraca perdagangan mengalami penurunan sebesar 2,3%.
Oleh karena itu, hasil simulasi ekspor-impor yang diperoleh dari GTAP dapat dirinci lebih lanjut untuk analisis yang lebih detail, salah satunya adalah analisis komoditas yang dapat diperdagangkan. Untuk memudahkan tabulasi, ke-42 bahan baku yang dapat diperdagangkan tersebut selanjutnya dapat digabungkan menjadi 6 jenis komoditas utama yang dapat diperdagangkan seperti yang ditunjukkan pada Tabel III.2 dan III.3 (tabel konversi 6 jenis komoditas utama yang dapat diperdagangkan dan 1 komoditas jasa dapat ditemukan di Lampiran 5). Dari grafik III.12 dan tabel 4.2 terlihat bahwa hasil simulasi untuk total ekspor neto dari 42 komoditas (tradable) tumbuh sebesar 0,5%.
Hasil Analisis Indikator Perdagangan Internasional
Pada dua periode pengamatan yaitu periode I dan II, pada Grafik III.13 √ III.16 diperoleh gambaran umum adanya kecenderungan penurunan kualitas daya saing komoditas ekspor Indonesia di kawasan ACFTA. Berdasarkan pola distribusi komoditas pada dua periode yang digambarkan pada Grafik III.13 dan III.14, diperoleh gambaran pergeseran pangsa ekspor per kuadran. Kondisi yang relatif ideal terjadi apabila perkembangan menunjukkan peningkatan pangsa ekspor yang lebih besar di kuadran I.
Menggunakan data periode II, pangsa komoditas ekspor di kuadran I turun dari 19% menjadi 12%. Untuk memberikan hasil yang lebih lengkap, penelitian ini juga memberikan gambaran tentang tantangan dan peluang komoditas ekspor Indonesia di pasar ACFTA. Setelah menghasilkan indikator IES dan IEO masing-masing negara, langkah selanjutnya adalah membandingkan hasil yang diperoleh antara dua periode pengamatan yaitu periode I dan periode II.
Dari hasil pengukuran intensitas persaingan produk ekspor masing-masing negara di ASEAN dan China, secara umum gambaran perkembangan intensitas persaingan cenderung menurun pada dua periode pengamatan (Grafik III.17)10. Dari dua periode pengamatan kedua indikator tersebut, ditemukan bahwa perkembangan produk Indonesia cenderung menurunkan intensitas persaingan dengan produk ekspor China. Berkurangnya intensitas persaingan produk Indonesia dengan China sejalan dengan peningkatan pangsa ekspor produk-produk berbasis sumber daya alam dari Indonesia seperti hasil pertambangan dan hasil alam lainnya seperti minyak dan gas, CPO dan karet seiring dengan kenaikan harga dan permintaan global.
Untuk mendukung kesimpulan analisis di atas, dimana intensitas persaingan komoditas ekspor khususnya Indonesia dan China menurun, maka dilakukan pengujian dengan alat analisis tambahan. Koefisien rho Spearmans yang negatif berarti terdapat perbedaan struktur persaingan ekspor Indonesia dan Cina. Hasil ini juga dapat diartikan bahwa ekspor utama Indonesia bukanlah ekspor utama China.
Pengujian pada dua periode observasi menunjukkan hasil yang konsisten untuk Indonesia, masih dengan koefisien negatif dan signifikan. Hal ini menimbulkan kesan bahwa barang ekspor China ke ASEAN bukanlah bahan baku yang unggul dari negara ASEAN lainnya. Indikator intensitas persaingan dan pengujian SRC untuk indikator RCA memperkuat kesimpulan bahwa penurunan intensitas persaingan antara China dan Indonesia disertai dengan struktur komoditas ekspor yang tidak kompetitif.
KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan
Saran
Pengembangan komoditas ekspor yang memiliki daya saing tinggi juga harus memperhatikan karakteristik komoditas yang memiliki keterkaitan tinggi dalam rantai perdagangan internasional. Dari hasil kajian ini, komoditas potensial dengan indikator IIT tinggi dan harus memperkuat daya saing adalah mesin dan peralatannya, industri kimia, peralatan elektronik, serta industri logam dan besi. Sedangkan komoditas potensial dengan RCA tinggi namun membutuhkan nilai tambah tinggi umumnya merupakan komoditas berbasis sumber daya alam namun belum diolah lebih lanjut dalam bentuk diversifikasi produk atau produk bernilai tinggi.
Sementara itu, saran mengenai tantangan yang dihadapi pertumbuhan produk China adalah memanfaatkan impor China untuk barang-barang berteknologi menengah dan tinggi yang selama ini bersumber dari luar daerah. Dengan demikian, pilihan yang lebih besar terbuka bagi produsen untuk berinvestasi pada mesin dan peralatan dengan pilihan barang dari China dengan harga yang lebih kompetitif. Proposal dasar mengenai pembentukan serikat pabean. ∆Journal of International Economics The Pure Theory of International Trade.
Dermoredjo, Wahida dan Budiman Hutabarat; Analisis dampak penurunan subsidi ekspor di negara maju terhadap produksi pertanian Indonesia. Shujiro Urata dan Kozo Kiyota; Dampak FTA Asia Timur terhadap Perdagangan Luar Negeri di Asia Timur. Tubagus Feridhanusetyawan, Yose Rizal Damuri; Krisis Ekonomi dan Liberalisasi Perdagangan: Analisis CGE di Sektor Kehutanan.
Hasil Running Model GTAP
Hasil Running Model GTAP Lanjutan 1
Hasil Running Model GTAP Lanjutan 2
Hasil Running Model GTAP Lanjutan 3
Region Aggregation
Transport, other; maritime transport; Air traffic; communication; Financial services, n.e.c.; Insurance; Business services, n.e.c.; Recreational and other services; Public Administration/Defence/Health/Education; Apartments. Agricultural product Paddy rice, wheat, cereal grains, ds, vegetables, fruits, nuts, oilseeds, sugar cane, sugar beet, vegetable crops, ds, cattle, sheep and goats, horse, animal products, raw milk, wool, silk - worm cocoons, cattle, sheep and goats, horsemeat products Food Meat products, fat, vegetable oil and fats, dairy products, processed rice, sugar, food. Technologically intensive Metal products, motor vehicles and parts, means of transport, nec, Production of electronics, machinery and equipment, nec manufacturing.
Kuadran Jumlah kode klasifikasi komoditas utama RCA IIT Nilai ekspor Bagian ekspor Periode I (rata-rata 2001-2004). Kuadran Jumlah kode klasifikasi komoditas utama RCA IIT Nilai ekspor Bagian ekspor Periode II (rata-rata 2005-2008). Catatan: Penghitungan didasarkan pada konversi data SITC (tidak termasuk minyak dan gas) dari UNCOMTRADE ke 42 komoditas yang diperdagangkan di GTAP.
Kuadran Jumlah Kepala Kode Klasifikasi Komoditi RCA IIT Nilai Ekspor Bagian Ekspor Periode II (Rata-rata.