DAMPAK PERILAKU BULLYING TEMAN SEBAYA PADA ANAK AUTISME MENURUT GURU BK
DI SMKN 4 PADANG
JURNAL
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (STRATA 1)
PRATIWI DARMASTUTI NPM. 11060301
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT PADANG
2015
DAMPAK PERILAKU BULLYING TEMAN SEBAYA PADA ANAK AUTISME MENURUT GURU BK
DI SMKN 4 PADANG
Oleh:
Pratiwi Darmastuti
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRACT
This research is motivated by children with autism which often bulied by peer impacting in impaired their physical and psychological healt, such: headache, abdominal pain, sleep problem, not confident, insecure, afraid of intimated, do not socialize with environment, distrust environment (friend), and stress. The purpose of this study is a portrait of the impact of the behavior of bullying peer in children with autism in terms of physical according to the guidance and counseling teacher.
This reaserch conducted with a qualitative approach pertrait of symfoms, facts, reality on the actual state. Informants in this research were: key informants three guidance and counseling teacher and two leaners as added informants. This instruments used in this study is interview, the techniques used in the processing of date through reduction, presentation and conclusion.
The result obtained by studying the impact of peer bullying behavior children with autism, experience headaches, abdominal pain, sleep in the class room during learning process and often sleep in the prayer room. Impact accurance bullying behavior against children with autism looked of psychological aspects that after of peer children with autism bullied, they will have no confidence, feeling insecure, intimidated fear, do not socialize with autism the enviroments (friend) and also stress. Children with autism should always be accompanied with guidance and counseling teacher while studying or going to class, always screean, speak for themselves, flapping hands, crying, atecking by others like kicking, hitting and beating. Based on the these result, guidance and counseling teacher should prevent peer bullying behavior in children with autism by providing information services.
Keyword: Bullying, autism childrend, counseling
Pendahuluan
Manusia tumbuh dan berkembang di dalam lingkungan. Lingkungan itu dapat dibedakan atas lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan sosial memberikan banyak pengaruh terhadap pembentukan berbagai aspek kehidupan, terutama kehidupan sosio-psiklogis.
Manusia sebagai makhluk sosial, senantiasa berhubungan dengan sesama manusia.
Begitupun dengan remaja yang mengikuti pendidikan formal pasti akan senantiasa berhubungan dengan sesama manusia terutama guru dan teman sebaya.
Teman sebaya merupakan hubungan individu pada anak-anak atau remaja dengan tingkat usia yang sama serta melibatkan keakraban yang relatif besar dalam kelompoknya (Santrock, 2007:55).
Begitupun dengan anak-anak atau remaja yang autisme, akan membutuhkan teman sebaya untuk dia dapat bermain, belajar dan membentuk suatu kelompok di sekolah.
Istilah autisme diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner, 1943 (Iswari, 2008:76) yang menyatakan anak yang sangat asyik dengan dirinya sendiri seolah-olah ia hidup dalam dunianya
sendiri. Dengan demikian autisme adalah merupakan suatu keadaan ketidakmampuan seseorang melakukan kontak sosial dengan lingkungannya, dengan berbagai komunikasi.
Aksi kekerasan yang dilakukan oleh teman sebaya kepada anak autisme semakin hari semakin marak. Julukan bangsa yang penuh adab, sopan, toleransi dan memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat, lambat laun mulai menghilang dari khazanah kehidupan, baik dalam konteks hidup bermasyarakat maupun berbangsa. Budaya kekerasan telah menjelma dalam berbagai bentuk, seolah-olah telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan mulai diterima sebagai sesuatu yang wajar.
Kebanyakan orang beranggapan kekerasan hanya dalam konteks sempit, yang biasanya berkaitan dengan perang, pembunuhan atau kekacauan padahal kekerasan itu bentuknya bermacam-macam.
Tingkat kekerasan juga terjadi di dunia pendidikan yakni di sekolah, sekolah merupakan tempat berlangsungnya proses pendidikan dan memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik.
Pada anak autisme, teman sebaya yang satu sekolah dengannya tidak mau terlibat akrab dalam kelompoknya. Mereka lebih cenderung memperolok-olok anak autisme tersebut atau sering berperilaku bullying terhadap anak autisme tersebut.
Bullying menurut Rigby, 1996 (Astuti, 2008:3) adalah sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita.
Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau kelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang. Dari perilaku bullying yang dilakukan oleh teman sebaya kepada anak autisme tersebut akan menimbulkan perasaan cemas dan mengganggu dalam perkembangan sosial anak autisme tersebut.
Selain itu anak yang mendapat bullying mengalami gangguan emosi yang signifikan, anak autisme bisa mengalami ledakan agresifitas saat mereka marah dan pelaku bullying sengaja melakukan hal tersebut agar anak autisme dipicu kekondisi tersebut.
Pada dasarnya anak autisme mempunyai perbedaan dan keterbatasan yang sangat jauh dibandingkan dengan teman sebayanya (remaja normal).
Perbedaan inilah yang membuat anak
autisme maupun teman sebayanya sulit untuk mengerti dan menerima kekurangan dan kelebihan mereka. Banyak hal yang membuat anak autisme mengalami kesulitan dalam bersosialisasi di lingkungan sekolah.
Beberapa masalah yang dapat diidentifikasi berdasarkan latar belakang di atas yaitu sebagai berikut:
1. Adanya anak autisme mengalami kesulitan dalam bergaul dengan teman sebaya.
2. Adanya anak autisme dijadikan bahan olokan atau ejekan oleh teman sebaya.
3. Adanya anak autisme sering mengamuk jika diejek dan diberi julukan oleh teman sebayanya.
4. Adanya anak autisme lebih memilih main game di komputer ruang BK jika
teman sebayanya sering
menertawakannya.
5. Adanya anak autisme kehilangan rasa percaya kepada teman sebayanya yang sering menyakitinya.
6. Adanya anak autisme sering mengalami stress dan mengakibatkan sakit kepala dan juga sering sakit perut(buang air besar) karena perlakuan teman sebayanya yang tidak menyenangkan terhadap dirinya.
7. Adanya anak autisme tidak percaya diri dan merasa takut dan juga terintimidasi oleh teman sebayanya jika pergi ke kelasnya sendirian.
8. Adanya anak autisme lebih memilih menyendiri ketika jam istirahat di sekolah.
9. Adanya anak autisme yang harus didampingi oleh guru pendamping (BK) belajar di kelas( belum mandiri).
10. Adanya anak autisme mengalami kesulitan dalam menjalin emosional yang baik saat bergaul dengan teman sebaya.
11. Adanya anak autisme yang merasa tidak aman jika di dalam kelas tidak didampingi guru pendamping (BK).
12. Adanya anak autisme yang belum dapat menempatkan dirinya sebagai pria ataupun wanita.
13. Adanya anak autisme yang tidak diperhitungkan saat belajar ataupun bermain oleh teman sebaya.
14. Adanya anak autisme yang belum mampu mengontrol diri dalam bergaul.
15. Adanya anak autisme yang lambat dalam beraktifitas dibandingkan dengan teman sebaya (anak normal lainya).
16. Adanya anak autisme yang belum maksimal mendapatkan pelayanan BK.
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: Dampak Perilaku Bullying Teman Sebaya terhadap Anak Autisme Menurut Guru BK dilihat dari Segi Fisik dan Psikologis
Berdasarkan observasi penulis saat melakukan praktik pelaksanaan lapangan bimbingan dan konseling sekolah (PPLBKS) di SMK Negeri 4 Padang pada tanggal 07 Agustus-20 Desember 2014 penulis menemukan terdapat 8 orang peserta didik autisme dari 893 orang peserta didik di SMK Negeri 4 Padang. Terlihat bahwa 3 dari 8 peserta didik autisme yang berada di SMK Negeri 4 Padang sering mendapatkan perilaku yang tidak menyenangkan dari teman sebaya yang satu sekolah dengannya. Mereka sering memperolok-olok dan memberi julukan kepada anak autisme tersebut dan bahkan barang-barang milik anak autisme tersebut sering disembunyikan. Teman sebaya sengaja melakukan bullying karena dengan dibully anak autisme tidak bisa mengendalikan emosi sehingga membuatnya mengamuk sampai akhirnya menangis, dan hal itulah yang membuat teman sebaya senang untuk membully anak autisme tersebut.
Anak autisme jika sudah dibully tidak mau belajar dikelas bersama teman- temannya, meskipun mau masuk ke dalam kelas harus didampingi oleh guru pendamping (BK) jika tidak didampingi maka anak autisme akan teriak-teriak sehingga mengganggu proses pembelajaran.
Peserta didik autisme memang harus diperlakukan secara istimewa (khusus) dan hal inilah yang membuat teman sebanya merasa iri ingin diperlakukan sama sehingga mereka melakukan bullying terhadap peserta didik autisme.
Wawancara yang dilakukan dengan guru BK pada saat melakukan praktik pelaksanaan lapangan bimbingan dan konseling sekolah (PPLBKS) di SMK Negeri 4 Padang pada tanggal 07 Agustus- 20 Desember 2014 diperoleh informasi bahwa keterbatasan yang dimiliki oleh anak autisme membuat mereka lambat dalam beraktifitas sosial, yang menjadikan salah satu hambatan mereka dalam berinteraksi sosial dengan teman sebaya di lingkungan sekolah. Anak autisme mengalami kesulitan dalam mengontrol sikap dan emosi diri
yang membuat teman sebaya menjadi gemar atau suka melakukan bullying kepada anak autisme tersebut. Anak autisme juga sering dijadikan sebagai bahan olokan dan ejekan teman sebaya, sehingga membuat anak autisme merasa minder, tidak diperhitungkan saat belajar maupun bermain oleh teman sebaya, tidak dihargai dan memilih untuk menyendiri saat jam istirahat sekolah yang mengakibatkan anak autisme tidak memiliki teman dekat atau sahabat untuk berbagi suka dan duka selama berada di sekolah. Anak autisme juga bermasalah dalam menempatkan peran sosial mereka sebagai pria ataupun wanita.
Metode Penelitian
Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan, maka jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang mana untuk memahami dan memperoleh gambaran yang terjadi di lapangan sebagaimana adanya tanpa melakukan perubahan atau intervensi terhadap sasaran penelitian.
Menurut Moleong (2010:6) bahwa Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek- subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain.
Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2015 di sekolah di kota Padang tepatnya di SMK Negeri 4 Padang.
Menurut Moleong (2010:132) informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar belakang penelitian. Ia berkewajiban secara sukarela menjadi anggota tim penelitian walaupun hanya bersifat informal. Sebagai anggota tim dengan kebaikannya dan dengan kesukarelaannya, ia dapat memberikan pandangan dari segi orang dalam tentang nilai-nilai, sikap, bangunan, proses, dan kebudayaan yang menjadi latar penelitian tersebut. Infoman ditentukan berdasarkan pertimbangan bahwa informan tersebut memiliki pengalaman yang banyak mengenai latar belakang penelitian dan benar-benar terkait dengan permasalahan yang akan diteliti yaitu dampak perilaku bullying teman sebaya terhadap anak
autisme dilihat dari fisik dan psikologis.
Informan kunci dalam penelitian di SMK Negeri 4 Padang yaitu: Guru BK yang ada di SMK Negeri 4 Padang yang berjumlah sebanyak tiga orang dan 2 orang informan tambahan penelitian yang merupakan peserta didik atau teman sebaya yang dekat dan satu kelas dengan anak autisme tersebut.
Teknik pengumpulan data adalah cara yang ditempuh peneliti untuk memperoleh data. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara.
Wawancara digunakan untuk memperoleh informasi verbal secara langsung dari subjek mengenail dampak perilaku bullying teman sebaya terhadap anak autisme di SMK Negeri 4 Padang. Menurut Bungin (2011:155) wawancara adalah proses percakapan dengan maksud untuk mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, motivasi, perasaan, dan sebagainya yang dilakukan dua pihak yaitu pewawancara (inteviewer) yang mengajukan pertanyaan dengan orang yang diwawancarai (interviewee). Wawancara adalah metode pengumpulan data yang amat populer, karena itu banyak digunakan di berbagai penelitian.
Menjamin keabsahan data dan kepercayaan data penelitian yang peneliti peroleh dapat dilakukan dengan cara sebagaimana dikemukakan Sugiyono (2011:366), yaitu sebagai berikut:
1. Kepercayaan (Credibility) 2. Keteralihan (Transferability) 3. Dapat dipercaya (Depenablity)
Data yang telah dikumpulkan seterusnya dianalisis, Miles dan Huberman, 1984 (Sugiyono, 2011:337) menjelaskan bahwa dalam penelitian kualitatif ada 3 tahapan analisis, yaitu:
1. Reduksi Data (Data Reduction) 2. Penyajian Data (Display Data) 3. Penarikan Kesimpulan (Verifikasi) Hasil dan Pembahasan
1. Dampak Perilaku Bullying Teman Sebaya pada Anak Autisme Dilihat dari Aspek Fisik Menurut Guru BK
Ratna Djuwita (2007) menyatakan dampak perilaku bullying yaitu berupa sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, bibir pecah-pecah dan sakit dada.
Fekkes, 2004 (Santrock, 2007:213) menyatakan dampak bullying
yakni korban bullying lebih banyak mengalami sakit kepala, sakit perut dan masalah tidur dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami bullying.
Kemudian Priyatna, 2010 (Nazly, 2010:20) juga menyatakan dampak bullying yaitu adanya keluhan- keluhan somatik (misalnya seperti sakit kepala, sakit perut dan lain-lain.
Berdasarkan wawancara di lapangan diperoleh informasi bahwa setelah dibully anak autisme mengalami sakit kepala dan sakit perut, hal itu terlihat anak autisme yang sering mengeluh kesakitan kepada guru BK dan juga anak autisme sering mengalami masalah tidur, hal ini seperti anak autisme yang sering mengantuk dan tidur di kelas saat proses belajar dan juga tidur di ruang sholat.
Jika kondisi seperti ini dibiarkan maka akan berdampak jauh lebih buruk lagi bagi korban (anak autisme), akan timbul penyakit-penyakit baru yang akan diderita oleh anak autisme, dan jika terus-terusan seperti ini akan mengabitkan kematian bagi korban (anak autisme).
Hal tersebut harus segera di atasi yaitu dengan cara pihak-pihak seperti kepala sekolah, guru BK, guru mata pelajaran, orangtua siswa, dan juga peserta didik harus ada kerja sama seperti lebih memperhatikan anak autisme dimana harus dibuat aturan agar bisa menerima kondisi yang dialami anak autisme, jika melakukan bullying harus diberikan sanksi ringan seperti membuang sampah, membersihkan wc, memberikan pidato siraman rohani disaat siraman rohani yang dilaksanakan hari jum’at dan juga disuruh mengahafal ayat-ayat al-quran, dan apabila sanksi ringan tidak membuat jera bagi pelaku bullying maka akan dikenakan sanksi berat berupa scoring dan di keluarkan dari sekolah. Dengan kondisi yang dialami anak autisme tersebut harus diterima oleh orang yang normal karena anak autisme berhak untuk menuntut ilmu atau belajar (sekolah) sama seperti layaknya anak normal lainnya.
Jika hal tersebut dilakukan maka anak autisme tidak akan mengalami kesakitan seperti sakit yang sering dideritanya. Anak autisme akan selalu sehat dan tidak akan ada keluhan rasa
sakit yang dialaminya. Dengan fisik yang sehat akan membuat psikologis sehat juga. Sehingga dengan sehatnya jasmani dan rohani akan ada rasa senang dan kebahagian tersendiri bagi seseorang termasuk anak autisme karena berhak untuk mendapatkan itu semua.
Akan tetapi jika hal ini tidak dilakukan maka akan terus terjadi perilaku bullying terhadap anak uatisme dan akan menjadi tradisi turun temurun dari senior ke junior dari tahun ketahun, dan anak autisme akan menderita berbagai macam penyakit tidak sehingga akan menimbukan kematian.
2. Dampak Perilaku Bullying Teman Sebaya pada Anak Autisme Dilihat dari Aspek Psikologis Menurut Guru BK
Sejiwa (2008:35) menyatakan bullying adalah penghambat besar bagi seorang anak untuk mengaktualisasi diri. Bullying tidak memberi rasa aman dan nyaman, membuat para korban bullying merasa takut dan terintimidasi, rendah diri, serta tak berharga, sulit berkonsentrasi dalam belajar, tidak bergerak untuk bersosialisasi dengan lingkungannya, enggan bersekolah, pribadi yang tak percaya diri dan sulit berkomunikasi, sulit berpikir jernih sehingga prestasi akademisnya dapat terancam merosot. Mungkin pula para korban bullying akan kehilangan rasa percaya kepada lingkungannya yang banyak menyakiti dirinya. Bila kita tak segera membantu para korban bullying, perasaan negatif akibat bullying menyebabkan anak memiliki gambaran terhadap dirinya sebagai pribadi yang negatif dan mengarah kepada tekanan mental seperti stres dan depresi.
Astuti (2008:11) menyatakan dampak bullying pada diri korban timbul perasaan tertekan oleh karena pelaku menguasai korban. Bagi korban, kondisi ini menyebabkan dirinya mengalami kesakitan fisik dan psikologis, kepercayaan diri (self- esteem), di mana ia merasa sendiri, serba salah, dan takut sekolah, di mana ia merasa tak ada yang menolong.
Dalam kondisi selanjutnya ditemukan bahwa korban kemudian mengasingkan diri dari sekolah, atau menderita ketakutan sosial, bahkan cenderung ingin bunuh diri.
Ratna Djuwita (2007) juga menyatakan dampak psikologis dari perilaku bullying yaitu berupa menurunnya kesejahteraan psikologis, banyak mengalami emosi negatif seperti marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu dan sedih. Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban seperti cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri dan gelaja-gelaja stress pasca trauma besar dan depresi yang akhirnya bisa menyebabkan gangguan mental dimasa yang akan datang. Beberapa hal yang akan menjadi tanda-tanda anak korban bullying seperti kesulitan dalam bergaul, merasa takut datng ke sekolah sehingga sering bolos sekolah, ketinggalan pelajaran, mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran, kesehatan fisik dan mental dalam jangka pendek dan jangka panjang akan terganggu.
Priyatna, 2010 (Nazly, 2010:19) mengemukakan gejala-gelaja akibat bullying yaitu seperti depresi, cemas, selalu khawatir pada masalah keselamatan sendiri, menjadi pemurung, agresi, tampak rendah diri, jadi pemalu, dan menarik diri dari pergaulan.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan menurut pendapat peneliti bahwa penyebab anak autisme mengalami rasa tidak percaya diri, merasa tidak aman, takut terintimidasi, tidak bersosialisasi dengan lingan lingkungan, kehilangan rasa percaya kepada teman sebaya, dan stress adalah dampak dari perilaku bullying teman sebaya terhadap anak autisme tersebut.
Jika kondisi seperti ini dibiarkan maka akan berdampak jauh lebih buruk lagi bagi korban (anak autisme), anak autisme akan mengalami beban mental yang berkepanjangan dan bisa mengakibatkan bunuh diri.
Hal tersebut harus segera diatasi yaitu dengan cara pihak-pihak seperti kepala sekolah, Guru BK, guru mata pelajaran, orangtua siswa, dan juga peserta didik harus ada kerja sama seperti lebih memperhatikan anak autisme dimana harus dibuat aturan agar bisa menerima kondisi yang dialami anak autisme, jika melakukan bullying harus diberikan sanksi ringan seperti
membuang sampah, membersihkan wc, memberikan pidato siraman rohani disaat siraman rohani yang dilaksanakan hari jum’at dan juga disuruh mengahafal ayat-ayat al-quran, dan apabila sanksi ringan tidak membuat jera bagi pelaku bullying maka akan dikenakan sanksi berat berupa scoring dan di keluarkan dari sekolah. Dengan kondisi yang dialami anak autisme tersebut harus diterima oleh orang yang normal karena anak autisme berhak untuk menuntut ilmu atau belajar (sekolah) sama seperti layaknya anak normal lainnya.
Jika hal tersebut dilakukan maka tidak akan ada perilaku bullying terhadap anak autisme disekolah. Anak autisme akan merasa aman dan terlindungi dari bahaya yang mengancamnya. Hubungan silaturahmi antara pihak sekolah (kepala sekolah, guru BK, guru mata pelajaran dan peserta didik) akan terjalin dengan baik.
Disamping itu akan menjadikan peserta didik mempunyai pribadi yang baik yang bisa saling menghargai dan menerima kekurangan satu sama lain.
Kemudian anak autisme akan berangsur sembuh dari autistik yang dideritanya (meskipun harus dengan terapi rutin akan tetapi lingkungan yang baik akan mendukung proses penyembuhannya).
Akan tetapi jika hal tersebut tidak dilakukan maka akan terus terjadi perilaku bullying terhadap anak uatisme dan akan menjadi tradisi turun temurun dari senior ke junior dari tahun ketahun, dan anak autisme akan menderita beban mental berkepanjangan dan bisa membuat anak autisme bunuh diri sehingga menyebabkan kematian.
Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang dampak perilaku bullying teman sebaya terhadap anak autisme di SMK Negeri 4 Padang, Dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Aspek fisik
Setelah dibully teman sebayanya anak autisme mengalami sakit kepala, sakit perut dan masalah tidur. Hal itu terlihat ketika sakit kepala anak
autisme sering mengeluh kesakitan dan memegangi kepalanya, kemudian jika anak anak autisme mengalami
sakit perut. Setelah dibully anak autisme mengalami masalah tidur. Hal itu terlihat saat anak autisme sering menguap berulang kali dengan kondisi mata yang memerah, sering tidur di kelas saat proses belajar dan juga sering tidur di ruangan sholat dipagi hari.
2. Aspek psikologis
Setelah dibully teman sebayanya anak autisme mengalami rasa tidak percaya diri (seperti tidak mau tampil di depan kelas), merasa tidak aman (seperti menutup telinganya dan meminta perlindungan Guru BK), takut terintimidasi (seperti anak autisme yang selalu berteriak meminta perlindungan Guru BK jika, menyebutkan nama teman yang menyakitinya agar dihukum, harus didampingi Guru BK saat pergi ke kelas dan belajar di kelas), tidak bersosialisasi dengan lingkungan (seperti tidak mau mendekati teman yang sering menyakitinya), kehilangan rasa percaya kepada teman sebaya (seperti akan menganggap teman sebayanya jahat, nakal dan dendam kepada teman sebaya tersebut) dan mengalami stres (seperti berteriak- teriak yang tidak jelas, ngomong sendiri, menangis, dan menyerang teman sebaya yang sering menyakitinya).
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka penulis menyarankan kepada berbagai pihak yang terkait, sebagai berikut:
1. Kepala Sekolah, agar ada kebijakan dan tindakan terintergrasi yang melibatkan seluruh komponen mulai dari guru, murid, sampai orang tua untuk menghentikan perilaku bullying. Kemudian membuat program anti bullying di sekolah dan memasukkan materi bullying ke dalam pembelajaran karena akan berdampak positif bagi pengembangan pribadi para murid.
2. Guru BK, agar lebih menggiatkan pengawasan, lebih memperhatikan anak autisme, menerima keluhan dan mengatasi keluhan-keluhan anak autisme. Kemudian memberikan sanksi secara tepat kepada pelaku atau menghentikan
bullying dan menjamin rasa aman bagi anak autisme.
3. Guru Mata Pelajaran, agar menciptakan suasana yang nyaman di kelas dan lebih memperhatikan anak autisme dan juga memberikan sanksi yang tepat kepada pelaku bully di saat proses belajar mengajar.
4. Pengelola Program Studi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat, hasil penelitian ini sebagai bahan masukan dalam rangka meningkatkan program perkuliahan anak berkebutuhan khusus, khususnya untuk dampak perilaku bullying teman sabaya pada anak autisme.
5. Peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini sebagai bahan literatur dalam melaksanakan penelitian terkait dengan anak berkebutuhan khusus.
Kepustakaan
Astuti, Ponny Retno. 2008. Meredam Bullying. Jakarta: Gramedia Widiasarana
Bungin, Burhan. 2011. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers.
Moleong, J.,Lexi. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nazly Putri Purnama. 2010. Faktor
Penyebab Peserta Didik Melakukan Bullying di SMP Negeri 15 Padang.
Skripsi. STKIP PGRI SUMBAR.
Ratna Djuwita. 2007. Bullying Kekerasan Terselubung di Sekolah. (http://siti mediaanaf07.blogspot.co.id, 8 September 2015 pukul 14.00.) Santrock, JW. 2007. Remaja Edisi II Jilid 2.
Jakarta: Erlangga.
SEJIWA.2008.Bullying Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan.Jakarta: Grasindo.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.