• Tidak ada hasil yang ditemukan

Challenges and Opportunities in Indonesia

N/A
N/A
Eko KS

Academic year: 2024

Membagikan " Challenges and Opportunities in Indonesia"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

Menuju Pengelolaan Perikanan Berbasis Ekosistem di Indonesia: Tantangan dan Peluang

Chapter · December 2020

CITATION

1

READS

510

2 authors, including:

Dedi Supriadi Adhuri

National Research and Innovation Agency Indonesia 94PUBLICATIONS   1,605CITATIONS   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Dedi Supriadi Adhuri on 20 January 2022.

(2)
(3)

PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAUT & HUTAN

Perspektif, Kebijakan, dan Aksi

Editor:

Robert Siburian & Masyhuri Imron

Yayasan Pustaka Obor Indonesia Jakarta, 2020

(4)

Pengelolaan Sumber Daya Laut & Hutan: Perspektif, Kebijakan, dan Aksi Editor:

Robert Siburian & Masyhuri Imron

xii + 290 hlm; 14,5 x 21 cm ISBN 978-623-321-016-4

Copyright ©2020

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang All Rights Reserved

Diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia bekerja sama dengan Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Cetakan pertama: Desember 2020

YOI: 1914.38.171.2020 Desain sampul: Masugeng Yayasan Pustaka Obor Indonesia Jl. Plaju No. 10, Jakarta 10230, Indonesia

T. + 62 (0)21 31926978, 31920114 F. + 62 (0)21 31924488 E-mail: [email protected]

http://www.obor.or.id

(5)

Indonesia memiliki wilayah laut yang luas, mengandung berbagai potensi sumber daya alam, baik yang bersifat terbarukan maupun tidak terbarukan.Sumber daya laut terbarukan seperti ikan, jika dimanfaatkan secara baik dapat digunakan untuk menyejahterakan masyarakat. Hamparan terumbu karang, juga sumber daya yang tidak kalah penting bagi kehidupan manusia karena dapat melindungi pantai dari abrasi, dan bersama dengan padang lamun dan mangrove menjadi tempat berpijah ikan, sehingga potensi sumber daya perikanan dapat terus berkembang.

Wilayah daratan Indonesia pun terdapat hamparan hutan yang luas, yang berfungsi sebagai penampung karbon diaksoda yang dapat mengurangi konsentrasi gas rumah kaca dan juga berfungsi sebagai paru-paru dunia yang menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh umat manusia. Lebih dari itu, hutan juga sebagai sumber ekonomi masyarakat, dan diperkirakan puluhan juta masyarakat Indonesia hidupnya tergantung pada hasil hutan.

Sumber daya alam yang dimiliki oleh bangsa Indonesia itu, saat ini banyak mengalami degradasi. Potensi sumber daya perikanan misalnya, sudah banyak mengalami over fishing akibat perilaku manusia, baik karena penangkapan ikan yang dilakukan secara ilegal (illegal fishing) maupun karena penggunaan alat tangkap yang merusak (destructive fishing). Rusaknya terumbu karang di berbagai kawasan perairan Indonesia merupakan faktor lain yang semakin

(6)

mempercepat terjadinya over fishing, karena berkurangnya tempat ikan untuk berpijah. Oleh karena itu, keseluruhan sumber daya alam tersebut, selain dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat, juga perlu dijaga kelestariannya.

Kerusakan sumber daya-sumber daya juga banyak terjadi pada hutan. Luas hutan semakin lama semakin berkurang, bukan hanya disebabkan oleh kebakaran hutan, tetapi juga oleh penebangan kayu yang membabi buta tanpa memperhatikan keberlanjutannya, baik yang dilakukan secara legal maupun secara liar. Akibatnya dapat dilihat, banyak kawasan yang sebelumnya merupakan kawasan hutan, saat ini sudah berubah menjadi daratan yang gundul. Tidak terkecuali kawasan yang sebelumnya disebut hutan lindung, sekarang sudah berubah fungsi menjadi desa atau bahkan kota.

Agar kelestarian sumber daya alam dapat terhindar dari kerusakan, pengelolaan yang baik sangat diperlukan. Penekanan pengelolaan pada aspek ekonomi semata-mata, dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan sumber daya alam. Begitu pula sebaliknya, penekanan pada aspek pelestarian, dapat mengorbankan kepentingan masyarakat yang hidupnya tergantung pada sumber daya alam itu.

Upaya untuk menyeimbangkan antara dua kepentingan itulah yang menjadi tugas berat yang harus dipikul bersama, bukan hanya oleh pemerintah tetapi juga oleh masyarakat. Itulah pentingnya etika lingkungan yang tidak hanya bersifat antroposentris ataupun ekosentris semata, tetapi etika lingkungan yang inklusif, yang menyatukan kepentingan manusia di satu sisi dan kelestarian lingkungan di sisi lain.

Etika lingkungan yang bersifat inklusif, sebetulnya sudah diterapkan dalam pengelolaan sumber daya di beberapa belahan dunia. Dalam dunia perikanan, misalnya, jika sebelumnya pengelolaan perikanan hanya menekankan pada salah satu kepentingan, sehingga

(7)

muncul yang disebut pendekatan maximum economic yield (MEY) yang berorientasi pada aspek ekonomi semata, dan pendekatan yang disebut maximum sustainable yield (MSY) yang berorientasi hanya pada kepentingan pelestarian. Upaya untuk menyeimbangkan kedua pendekatan itu maka muncullah pendekatan ekosistem atau ecosystem approach to fisheries management (EAFM). Ecosystem approach tidak saja digunakan hanya untuk pengelolaan sumber daya perikanan, tetapi juga dapat diterapkan pada pengelolaan sumber daya hutan.

Pengintegrasian pengelolaan selayaknya juga tidak hanya dari sisi kepentingan, melainkan juga dari sisi subjek pengelola, yaitu aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. Pemerintah memang memiliki sumber daya yang luar biasa dalam mengelola sumber daya alam, baik dari sisi manusia, dana maupun pengetahuan yang dimilikinya.

Namun mengabaikan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam, bukan saja berarti menafikan pemilik sah kedaulatan Negara dan prinsip-prinsip demokrasi dalam pengelolaan sumber daya, tetapi juga mempersulit pemerintah melakukan pengawasan di lapangan. Sebaliknya, pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat tanpa memperhatikan aturan-aturan yang dibuat pemerintah, pemanfaatan sumber daya dapat mengarah terjadinya tragedy of the common. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang dapat mengintegrasikan semua aktor yang berkepentingan dalam pengelolaan sumber daya, dalam satu perspektif yang disebut collaborative management atau ko-manajemen.

Buku yang ditulis oleh para peneliti yang tergabung dalam Kelompok Peneliti Ekologi Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat (Kelti ESKM), Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PMB – LIPI), menggambarkan pengelolaan sumber daya alam yang ada di Indonesia, khususnya sumber daya

(8)

laut dan hutan. Buku ini bukan hanya memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di Indonesia, tetapi juga dapat digunakan sebagai sumber inspirasi oleh para pengambil kebijakan dalam membuat keputusan pengelolaan sumber daya alam. Meskipun demikian, sebagai karya manusia, buku ini tentu saja tidak luput dari kekurangan. Oleh karena itu, kritik bersifat membangun dan saran dari kalangan pembaca sangat diharapkan.

Jakarta, September 2020 Editor

(9)

Kata Pengantar v

Daftar Tabel xii

Daftar Gambar dan Grafik xiv

Daftar Singkatan dan Akronim xvi

Bab 1 Pendahuluan: Pengenalan Kerangka dan

Substansi Bahasan 1

Dedi Supriadi Adhuri

BAGIAN I. PENDEKATAN PENGELOLAAN DAN

IMPLEMENTASINYA 15

Bab 2 Menuju Pengelolaan Perikanan Berbasis Ekosistem di Indonesia: Tantangan dan

Peluang 17

Dedi Supriadi Adhuri dan Idham Bachtiar Setiadi

Bab 3 Problematika Ko-manajemen dalam Pengelolaan

Perikanan 59

Masyhuri Imron

(10)

Pengelolaan Sumber Daya Maritim dan

Hutan di Indonesia 89

Laely Nurhidayah dan Maullida Illiyani

BAGIAN II STUDI KASUS PENGELOLAAN

SUMBER DAYA LAUT 121

Bab 5 Dinamika dalam Mendapatkan Hak Wilayah Lokasi Budi Daya Teripang:

Pengalaman Implementasi EAFM di Pesisir

Lombok Timur 123

Ary Wahyono dan Terry Indrabudi

Bab 6 Polemik Kebijakan Ekspor Benih Lobster 143 Sudiyono

Bab 7 Gerak Desa dalam Upaya Pengelolaan Kawasan Pesisir: Wisata Mangrove dan Pantai

Morodemak, Jawa Tengah 171

Ratna Indrawarsih dan Annisa Meutia Ratri

BAGIAN III STUDI KASUS PENGELOLAAN

SUMBER DAYA HUTAN 195

Bab 8 Tantangan dan Peluang Perkembangan

Gaharu di Nusa Tenggara Barat 197 Herman Hidayat dan Ujud Tahajuddin

(11)

Sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu di

Provinsi Riau 225

Robert Siburian dan Sri Sunarti Purwaningsih

Bab 10 Dilema Restorasi Gambut: Analisis Kebijakan Melalui Pendekatan Human Centered Design 251 Dicky Rahmawan

Indeks 283

Tentang Penulis 283

(12)

MENUJU PENGELOLAAN PERIKANAN BERBASIS EKOSISTEM DI INDONESIA:

TANTANGAN DAN PELUANG

Dedi Supriadi Adhuri dan Idham Bachtiar Setiadi

2.1 Pengantar

Tulisan ini akan menjelaskan kompleksitas permasalahan perikanan di Indonesia dan kebutuhan serius untuk mengadopsi secara utuh perspektif pengelolaan dalam pengembangan perikanan ke depan. Kompleksitas permasalahan dijelaskan melalui pemaparan singkat tentang beberapa kontradiksi dalam dunia perikanan di Indonesia. Dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut, kami menganggap pemerintah sudah seharusnya mengadopsi secara utuh pengelolaan perikanan dan pesisir Ecosystem Approach to Fisheries Managemen (EAFM) atau Ecosystem Based Fisheries Management (EBFM).

Meskipun Indonesia belum menjadikan EAFM/EBFM sebagai fondasi pengembangan perikanan dan pesisir, namun bangsa ini telah memiliki gerakan EAFM sejak tahun 2010. Tulisan ini juga akan mengevaluasi gerakan ini. Dari evaluasi tersebut, kami

(13)

mengidentifikasikan tantangan dan peluang untuk pengembangan EAFM/EBFM ke depan. Salah satu tantangan dibahas secara khusus, yaitu tantangan harmonisasi peraturan perundang-undangan dengan EAFM/EBFM sebagai fondasi. Di sini kami melihat bagaimana EAFM dapat membantu upaya menetapkan kesebelas Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (RI) sebagai unit pengelolaan perikanan Indonesia yang sesungguhnya, dan EBFM dapat membantu untuk mengelola perikanan pesisir atau perikanan skala kecil.

2.2 Sketsa Realitas Perikanan Indonesia

Bagian ini merupakan penjelasan karakter utama dari perikanan Indonesia yang mengandalkan data-data dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta bebagai sumber lain. Penjelasan melingkupi produksi dan sumber daya perikanan, terumbu karang, dan hutan mangrove. Tabel 2.1 menunjukkan data yang dipergunakan sebagai dasar perumusan kebijakan Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan (Renstra-KKP) 2015-2019. Data ini menonjolkan produksi dan potensi perikanan.

Tabel 2.1

Hasil Pelaksanaan Kebijakan Pembangunan KP 2014 (tidak seluruhnya ditampilkan)

Uraian Tahun 2014 △ 2014-2013

PDB perikanan 6,97%

Produksi perikanan total 20,72 juta ton Produksi perikanan tangkap 6,72 juta ton Produksi perikanan budi daya 14,52 juta ton

Produksi garam rakyat 2,5 juta ton

Nilai tukar nelayan (tangkap), rata-rata 104,3

(14)

Nilai tukar pembudidaya ikan, rata-rata 101,36

Ekspor hasil perikanan (total) USD 4,64 miliar Ekspor komoditas udang USD 2,09 miliar Ekspor komoditas TTC** USD 0,69 miliar Konsumsi ikan, nasional, rata-rata 37,89 kg/orang Jumlah pulau kecil yang dikelola 33 pulau

Luas kawasan konservasi yang dikelola 16,45 juta ha 7,8 juta ha Wilayah perairan bebas IUU*** fishing dan

kegiatan yang merusak sumber daya KP

38,63%

Sumber: Lampiran I Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) RI No. 25/Permen- KP/2015 tentang Rencana Strategis KKP Tahun 2015-2019

Catatan:

* Dihitung atas dasar data KPDA 2014.

** TTC (tuna, tongkol, cakalang).

*** IUU (Illegal unreported and unregulated).

Nilai Produksi Perikanan Tangkap, Perikanan Budi Daya, dan Garam Rakyat, tidak disertakan dalam lampiran peraturan menteri ini. Namun, Buku Kelautan dan Perikanan Dalam Angka 2014 yang diterbitkan Pusat Data Statistik dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (PDSIK-KKP) menyebutkan:

• Nilai produksi perikanan (total) 2013 adalah Rp 212,89 triliun, naik 37,07% dibandingkan tahun 2012, atau 23,22% per tahun (Compound annual growth rate/CAGR) pada kurun waktu 2009- 2013;

• Nilai pproduksi perikanan tangkap 2013 adalah Rp 101 triliun, naik 27,63% dibandingkan tahun 2012, atau 15,01% per tahun (CAGR) pada kurun waktu 2009-2013;

• Nilai produksi perikanan budi daya 2013 adalah Rp 111,50 triliun, naik 46,94% dibandingkan tahun 2012, atau 30,54% per tahun (CAGR) pada kurun waktu 2009-2013.

(15)

Sementara itu, potensi perikanan dan kelautan Indonesia digambarkan oleh KKP dapat lihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2

Potensi Kelautan dan Perikanan Indonesia Menurut KKP 2014 (tidak ditampilkan seluruhnya)

Jumlah pulau 17.504 pulau

Luas perairan laut 5,8 juta km2

Luas Laut Teritorial 0,3 juta km2

Luas perairan kepulauan 2,95 juta km2

Luas zona ekonomi eksklusif (ZEE) 2,55 juta km2 Potensi Lestari Sumber daya Ikan Laut 7,3 juta ton per tahun Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB atau MSY/

Maximum Sustainable Yield)

5,8 juta ton per tahun Luas terumbu karang* (sesuai pemetaan Badan Informasi

Geospasial, 2013)

25.000 km2 Proporsi terumbu karang dalam kondisi sangat baik** 5,30%

Proporsi terumbu karang dalam kondisi baik** 27,18%

Proporsi terumbu karang dalam kondisi cukup baik** 37,25%

Proporsi terumbu karang dalam kondisi kurang baik** 30,45%

Luas area budi daya tawar 2,83 juta ha

Luas area budi daya payau 2,96 juta ha

Luas area budi daya laut 12,12 juta ha

Luas area budi daya rumput laut 1,1 juta ha

Pengawas perikanan 679 orang

PPNS perikanan 456 orang

Polisi khusus pengelolaan wilayah pesisir dan pulau- pulau kecil

205 orang

Sumber: Lampiran I Peraturan Menteri KP-RI No. 25/PERMEN-KP/2015 tentang Rencana Strategis KKPP Tahun 2015-2019.

Catatan:

* Hasil pemetaan Badan Informasi Geospasial tahun 2013

** Hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tahun 2012

Berdasarkan Tabel 2.2 di atas, terlihat bahwa Indonesia belum sepenuhnya memanfaatkan potensi yang ada. Akan tetapi, kesimpulan

(16)

berbeda akan diperoleh jika melihat gambaran lain lagi, yang juga dipergunakan oleh KKP untuk merumuskan kebijakannya (Gambar 2.1).

Gambar 2.1

Peta Tingkat Eksploitasi Sumber Daya Ikan di WPPNRI, 2011

Sumber: Lampiran II: Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI. Nomor KEP.45/

MEN/2011 tentang Estimasi Potensi Sumber Daya Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

Peta pada Gambar 2.1 memperlihatkan bahwa banyak sumber daya ikan Indonesia tidak mendukung peningkatan produksi perikanan tangkap. Status merah (over-exploited) berarti peningkatan justru akan menurunkan hasil tangkapan. Status kuning (fully exploited) berarti peningkatan eksploitasi akan mengancam sumber daya itu karena bisa mengarahkan pada over-exploited. Hanya sumber daya dengan status hijau (under-exploited) saja yang diberikan kepada sumber daya ikan tertentu–utamanya cakalang di hampir semua

(17)

wilayah, serta hampir semua jenis sumber daya ikan di wilayah Laut Sulawesi–yang level penangkapannya masih dapat ditingkatkan.

Perlu ditambahkan bahwa Indonesia memiliki sebuah komisi nasional yang bertugas memberikan masukan dan rekomendasi kepada Menteri Kelautan dan Perikanan mengenai sumber daya ikan dalam penetapan potensi dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan, dengan pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab sebagai dasar kebijakannya (lihat Peraturan Menteri KP No. PER.16/MEN/2012 tentang Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan). Komisi ini, Komnas Kajiskan, pada tahun 2015 mulai melakukan kajian stok ikan nasional yang baru. Dalam konferensi pers kegiatan tersebut, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan KP menyebutkan bahwa stok ikan nasional terus tumbuh, yaitu: dari 6,19 juta ton (1997) menjadi 6,40 juta ton (1999); 6,41 juta ton (2001); hingga 6,53 juta ton (2011) dan 7,31 juta ton (2013).1 Tidak ada penjelasan apa yang mendorong terjadinya pertumbuhan itu.

Melihat kondisi sumber daya laut dan pesisir non-ikan, dapat digambarankan sebagai berikut. Terumbu karang Indonesia sangat luas dan memberikan kontribusi besar terhadap kualitas habitat ikan.

Luasan terumbu karang di Indonesia diperkirakan sebesar 51.000 km2 atau sekitar 18% dari total luasan terumbu karang dunia; sekitar 60% spesies terumbu karang dunia hidup di sini. Namun, dari tahun 1950-an hingga 2000-an, proporsi terumbu karang Indonesia dalam kondisi kurang baik terus meningkat dari 10% menjadi 50%; pada tahun 2007, sekitar 34% kondisi buruk atau sangat buruk (berdasarkan ambang batas tutupan karang keras untuk hidup), 42% kondisi sedang, 21% kondisi sehat, dan hanya 3% dalam kondisi sangat sehat (lihat Burke et al., 2012). Kondisi ini ditanggapi dengan pelaksanaan

1 Berita 14 April 2015, dimuat http://kkp.go.id/index.php/berita/kkp-kaji-stok-ikan- nasional-di-11-wpp/.

(18)

berbagai program khusus. Akan tetapi, pada tahun 2012, terumbu karang Indonesia yang sangat sehat baru mencapai 5%; sehat 27%;

sedang turun menjadi 37%; dan buruk baru turun hingga 31% (Puslit Oseanografi LIPI, dikutip dalam Greenpeace n.d.).

Gambaran yang mirip juga diperoleh pada kondisi hutan mangrove. Indonesia memiliki sekitar 3 juta hektar (ha) hutan mangrove, tumbuh di sepanjang 95.000 kilometer pesisir Indonesia (Giri et al., 2011). Luas hutan mangrove itu merupakan 23% dari luas hutan mangrove dunia. Hutan mangrove berfungsi sebagai tempat bertelur dan berkembang biak ikan dan sumber daya laut lain, sumber pangan, naungan, dan perlindungan dari predasi (lihat UNEP, 2014).

Luasan hutan mangrove itu diduga memberikan kontribusi besar terhadap kualitas habitat ikan di Indonesia. Akan tetapi, dari tahun 1975 hingga 2005, Indonesia telah kehilangan 40% hutan mangrove- nya akibat konversi tambak udang yang dikenal sebagai “revolusi biru” di Sumatra, Sulawesi dan Jawa Timur, penebangan dan konversi lahan untuk pertanian atau tambak garam di Jawa dan Sulawesi, serta degradasi akibat tumpahan minyak dan polusi di Kalimantan Timur (FAO, 2007).

Kondisi ekonomi perikanan Indonesia, utamanya kondisi ekonomi nelayan juga perlu mendapat perhatian serius. Buku Kelautan dan Perikanan Dalam Angka 2014 memberi gambaran rinci tentang Nilai Tukar Nelayan (NTN) dan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPI). Pada tingkat nasional terjadi peningkatan NTN, yaitu dari 101,19 (2008) menjadi 106,49 (2014). Akan tetapi, pencapaian ini tidak merata bila dilihat per provinsi. Pada tahun 2014, Bali memiliki NTN rata-rata tertinggi sebesar 113,97; sementara Maluku Utara (99,42), Sumatera Selatan (97,76), dan Sulawesi Barat (95,66) merupakan tiga provinsi dengan NTN rata-rata paling rendah. Data NTN disajikan dalam perhitungan rata-rata, karena berfluktuasi.

(19)

Gambar 2.2

Fluktuasi NTN (Nasional) Tahun 2014

Sumber: PDSIK-KKP 2014b: 81.

Perbedaan juga terjadi dalam hal NTPI. Sementara rata-rata NTPI nasional adalah 101,36, NTPI per provinsi berbeda-beda. Ada 16 provinsi yang memiliki NTPI di bawah 100, yang berarti di hampir separuh dari 33 provinsi para nelayan pembudi daya ikan menjalani perikehidupan yang tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga mereka (lihat PDSIK-KKP, 2014a: 51).

Untuk menutup gambaran tentang dunia perikanan Indonesia, secara ringkas dapat dicatat bahwa karakteristik sektor ini penuh kontradiksi. Secara agregat, Indonesia masih memiliki sumber daya ikan cukup banyak, tetapi telaahan lebih teliti menunjukkan sebaliknya.

Asesmen dari Komnas Kajiskan menunjukkan bahwa di kesebelas WPP Indonesia sudah terindikasi gejala lebih eksploitasi. Demikian halnya terumbu karang dan mangrove. Indonesia merupakan negara yang memiliki terumbu karang dan mangrove dengan luasan dan biodiversitas tinggi, tetapi kondisi keduanya tidak dalam wujud yang prima untuk tidak menyebutkan sudah bermasalah. Kondisi ekonomi nelayan sebagai kelompok sosial yang menggantungkan hidupnya di sektor ini, juga memprihatinkan. Sementara itu, melihat struktur

(20)

dan jumlah sumber daya manusia yang ada di KKP, dapat dikatakan bahwa kondisi mereka masih terbatas.

Dengan gambaran seperti itu, nampaknya sudah menjadi keharusan bagi Indonesia untuk menghindari perspektif yang melulu bicara peningkatan eksploitasi, tetapi mengadopsi secara utuh perspektif pengelolaan dalam pengembangan dunia perikanan ke depan. Perspektif inilah yang memungkinkan kita berpikir secara terintegrasi antara pemanfaatan, pemeliharaan, konservasi dan rehabilitasi secara berkeseimbangan serta kolaboratif untuk pencapaian tujuan-tujuan kesejahteraan sosial ekonomi dan keberlangsungan sumber daya alam (SDA). Paparan pada seksi berikut akan menjelaskan mengenai perpesktif pengelolaan seperti apa yang cocok diadopsi Indonesia.

2.3 EAFM dan EBFM sebagai Alternatif Pengelolaan ke Depan Realitas perikanan seperti di atas, utamanya gejala lebih tangkap, tidak hanya persoalan di Indonesia melainkan gejala global.

Penjelasan tentang penyebab dan solusinya pun telah menjadi wacana global. Secara ringkas, McGoodwin (1990: 1) menjelaskan: “All around the world, from the coldest artic regions to the warmest tropical seas, there is a crisis in the world’s fisheries. Quite simply, there are too many people chasing to few fish … [T]hroughout the 1970s the world’s per capita fish production actually declined. Correspondingly, the catch per unit of fishing effort and the catch per dollar invested in the fisheries also steadily declined.

Penyebab krisis umumnya berakar pada dua masalah.

Pertama, krisis terjadi karena tidak ada pengelolaan perikanan, dalam arti sumber daya perikanan dinyatakan oleh pemerintah yang bersangkutan sebagai open access. Dalam kondisi open access, seperti

(21)

dikatakan Hardin (1968), gejala lebih tangkap tidak dapat dihindari.

Kedua, krisis terkait dengan keterbatasan sains yang mendasari pengelolaan perikanan konvensional (lihat Link, 2010). Akar masalah yang kedua ini menuntut penjelasan lebih panjang.

Pengelolaan perikanan konvensional yang diadopsi di banyak negara didasari oleh single species resource assessment yang dilakukan untuk jenis-jenis ikan yang menjadi target penangkapan. Hasil assessment kemudian dipergunakan untuk menentukan Maximum Sustainable Yield (MSY) untuk masing-masing spesies, dengan asumsi dasar: “processes internal to a stock and fishing mortality are by far the largest drivers of fish population dynamics” (Link, 2010: 17).

Dengan kata lain, bila menjaga tingkat eksploitasi di bawah MSY maka masing-masing sumber daya akan lestari.

Masalahnya, asumsi dasarnya tidak selamanya benar, karena:

“rarely provides insights nor the ability to address how a particular stock might be impacted by other factors such as species interaction, predation mortality, forage limitations to growth or recruitment, thermal limitations to distribution, and other environmental constraints to growth (or distribution, or recruitment, or other production considerations” (Link, 2010: 17).

Dan, lebih jauh, perspektifnya terlalu sempit, karena:

SS [Single Species]-approaches will never be able to provide insights into a broader suite of pressing issues: for example, changes in the ecosystem structure and functioning, biodiversity, fishing gear impacts on habitat, needs of protected or rare species relative to other species or other sources of removals (e.g. fishing), ecosystem effects of discarding unwanted bycatch, fishing impacts on energy flows of a food web, or particularly non-fishing but LMR [Living

(22)

Maring Resource]-related ecosystem services and values, and so on (Link, 2010: 17).

Selain itu, pengelolaan konvensional yang dilandasi kalkulasi MSY Single Species dikritik oleh ahli-ahli ekonomi yang mempermasalahkan tujuan pengelolaan yang melulu menyelamatkan ikan. Bagi nelayan dan industri perikanan, tujuan ekonomi setidaknya sama pentingnya. Oleh sebab itu, menurut para ahli ekonomi, pengelolaan harus juga diarahkan kepada perolehan keuntungan maksimum. Kemudian diperkenalkanlah konsep Maximum Economic Yield (MEY), yaitu selisih terbesar antara penerimaan dan pembayaran (lihat Emmerson, 1980).

Ahli-ahli ilmu sosial lain pun mengritik pengelolaan konvensional atas dasar paradigma “expert-knows-best-decision making” (Ludwig, 2001) dan gaya manajemen “command-and- control (Holling dan Meffe, 1996). Kritik ini diarahkan pada praktik pengelolaan government-based dan sentralistis, utamanya di negara-negara berkembang yang memiliki persoalan: “limited human and financial resources needed to collect and analyse data on the condition of the resource; limited capacity to develop effective policy and regulation to monitor and enforce their implementation;

subordination of environmental concerns; dan resistance from resource users due to lack of effective relations between local communicaties and state authorities” (Balland dan Platteau, 1996). Dengan sumber daya dan pengetahuan terbatas, tingkat efektivitas pemerintah sebagai pengelola menjadi rendah dan bahkan menimbulkan konflik di antara pelaku perikanan. Padahal, pelaku perikanan sebetulnya memiliki potensi untuk berkontribusi dalam pengelolaan, seperti yang telah diperlihatkan oleh berbagai kajian antropologi sejak 1970-an. Ruddle dan Akimichi (1984: 1), misalnya, telah menunjukkan bahwa praktik

(23)

pengelolaan berbasis hak ulayat di berbagai masyarakat tradisional mengusung berbagai instrumen pengelolaan yang efektif. Berkes (1989: 12) bahkan secara eksplisit mengidentifikasi lima keuntungan dari praktik pengelolaan tradisional, yaitu: menjaga ketahanan pangan, mengatasi konflik, membentuk unit pengelolaan yang nyata, meningkatkan kesadaran lingkungan, dan bahkan meningkatkan upaya pelestarian lingkungan pada level masyarakat. Akan tetapi, perlu dikemukakan juga, Johannes (1978) mencatat praktik tradisional memiliki keterbatasan dan kini cenderung melemah akibat tekanan penduduk, penetrasi ekonomi pasar, dan pengaruh aturan negara modern.

Adapun solusi yang ditawarkan para ahli berpusat pada pendekatan yang lebih holistik dan terpadu. Link (2010) menggarisbawahi pentingnya perluasan perspektif yang melingkupi:

∆ Pertimbangan dampak penangkapan terhadap spesies non-target, spesies yang dilindungi, habitat, interaksi ekologis, serta proses- proses yang mencakup seluruh sistem;

∆ Pertimbangan bahwa ekosistem-ekosistem laut juga memberikan pelayanan barang dan jasa (good and services) selain ikan yang ditangkap; beberapa sektor lain telah mengembangkan juga akitivitas eksploitasi atau pemanfaatan terhadap sumber daya- sumber daya yang disuguhkan oleh ekosistem laut itu;

∆ Pengembangan assessment dan evaluasi yang lebih akurat tentang dinamika populasi dan komunitas lmr; dan

∆ Mempertimbangkan trade off dari pilihan-pilihan kita tentang pemanfaatan/pengelolaan tertentu. Dalam keterbatasan biologi, ekologi, dan energi, tidak mungkin kita mengoptimalkan pemanfaatan untuk semua tujuan.

(24)

Lejano dan Ingram (2009) dan juga Berkes (2011), menjelaskan konsekuensi dari pendekatan yang lebih holistik dan terpadu adalah transdisciplinary approach towards knowledge. Produksi pengetahuan lintas disiplin ini menuntut bukan hanya kolaborasi antarahli, melainkan juga inkorporasi pengetahuan, keahlian, dan sumber daya berbagai pemangku kepentingan ekosistem yang bersangkutan;

inkorporasi itu sebaliknya menuntut pengelolaan proses partisipasi dan negosiasi antarberbagai pemangku kepentingan itu, sehingga partisipasi mereka dalam produksi pengetahuan menjadi berarti.

Davis dan Ruddle (2010) menggarisbawahi pentingnya pengetahuan dan keterampilan para pelaku perikanan, termasuk nelayan dan komunitas pesisir dengan pengetahuan tradisional dan praktik pengelolaan tradisionalnya, atau pre-existing management practices dalam pengertian Ruddle dan Satria (2010).

Wacana ini kemudian menghasilkan konsep pengelolaan Ecosystem-Based Fisheries (EBF) ataupun Ecosystem Approach to Fisheries (EAF).2 EBF mengacu pada pendekatan dan praktik pengelolaan ekosistem pesisir/laut dengan elemen utama perikanan, sementara EAF merujuk kepada pengelolaan perikanan yang memperhatikan interkoneksi sumber daya tertentu dengan keseluruhan sistem ekologi dan sosialnya. Dengan FAO sebagai pelopor di tingkat internasional, kedua konsep pengelolaan ini diadopsi oleh berbagai negara dan jumlahnya makin lama makin banyak. Di Indonesia, pemerintah memilih untuk mengembangkan EAF. Akan tetapi, di berbagai tempat di Nusantara sesungguhnya sudah ada pengelolaan perikanan tradisional yang memperlihatkan beberapa ciri EBF.

2 Dalam paparan beberapa ahli, huruf “M” pada EBFM dan EAFM seringkali ditiadakan dengan argumen EBF/EAF sebagai pendekatan tidak terbatas pada pengelolaan (management) dalam arti sempit dan sesungguhnya juga mencakup kebijakan, kerangka

(25)

Dalam pedoman untuk pengelolaan dengan pendekatan berbasis ekosistem, FAO menjelaskan dalam mengadopsi pengelolaan dengan pendekatan ekosistem ada delapan prinsip yang perlu diperhatikan; dalam hal:

(1) “proses pengelolaan perikanan … [yaitu] merencanakan, menetapkan sasaran, menerapkan strategi dan tindakan untuk mencapai sasaran, serta memantau dan mengevaluasi kinerja …. [EAF]

menuntut basis pemangku kepentingan yang lebih luas, tingkat partisipasi yang lebih tinggi, hubungan yang lebih kuat antara pengelolaan perikanan dengan perencanaan pesisir, serta kegiatan pengelolaan pesisir yang terpadu [dibandingkan pengelolaan konvensional]” (FAO, 2003: 18; terjemahan oleh penulis);

(2) “memahami biologi dan lingkungan [ekosistem] … [EAF meyakini bahwa] ekosistem merupakan pengorganisasian makhluk hidup secara hirarkis … dapat didefinisikan pada berbagai skala … dari gugus karang hingga samudra … [namun] biasanya menempati ruang fisik tertentu … walaupun tidak memiliki batas-batas yang jelas”

(FAO, 2003: 18; terjemahan oleh penulis);

(3) “pengendalian teknologi … EAF berupaya memperluas pengelolaan perikanan konvensional dalam menjaga tingkat kematian ikan melalui penggunaan input control, output control dan technical measures (termasuk spatial measures) … dengan menambahkan upaya pengendalian lain seperti … restocking atau culling, bila diperlukan dan memungkinkan … [atau] restorasi habitat dan suaka alam laut … dalam rangka memfasilitasi aktivitas perikanan atau meningkatkan populasi target species sambil menjaga keanekaragaman hayati dan kesehatan keseluruhan sistem” (FAO, 2003: 19; terjemahan oleh penulis);

(4) “dimensi sosial dan ekonomi … sementara pengelolaan perikanan konvensional cenderung memusatkan perhatian kepada … manfaat

(26)

ekonomis dan sosial … EAF bertujuan menerapkan pembangunan yang berkelanjutan [sehingga] mencakup manfaat sumber daya ikan dan ekosistem yang lebih luas, baik manfaat ekonomis, sosial, maupun kultural. [Konsekuensinya], penilaian goods and services ekosistem kelautan secara kuantitatif perlu dilakukan dengan total economic value (yaitu use dan non-use value3) sebagai konsep sentralnya” (FAO, 2003: 20; terjemahan oleh penulis);

(5) “kelembagaan … EAF memerlukan basis pemangku kepentingan yang luas dan hubungan antarsektor yang kuat, sehingga menuntut struktur dan interaksi antarlembaga yang lebih kompleks, baik dalam bentuk struktur yang baru atau pun dalam bentuk kerja sama yang lebih erat antarlembaga yang sudah ada … koordinasi yang lebih baik … perhatian yang lebih serius terhadap perencanaan pada berbagai tingkatan, yang mengikutsertakan perwakilan semua pemangku kepentingan … [dan ada kemungkinan] berbagai peraturan perundang-undangan dan juga kelembagaan terkait pengelolaan perikanan perlu diubah, disesuaikan dengan cakupan perencanaan EAF yang lebih luas [dibandingkan pengelolaan konvensional]” (FAO, 2003: 21; terjemahan oleh penulis);

(6) “rentang waktu … [EAF menggunakan] tiga siklus pengelolaan perikanan, yaitu siklus kebijakan 5 tahunan, siklus perencanaan pengelolaan perikanan 3-5 tahunan, dan siklus operasi tahunan

… bahkan rentang waktu yang lebih panjang lagi diperlukan bila menghadapi isu perubahan iklim atau isu masa depan nelayan”

(FAO, 2003: 21; terjemahan oleh penulis);

(7) “precautionary approach … prinsip ‘bila ada ancaman nyata dalam bentuk kerusakan yang tidak dapat diperbaiki, kekurangan dalam

3 Salah satu contoh non-use value ekosistem pesisir adalah pasir pantai yang bila tidak dikeruk dan dijaga kebersihannya–dengan kata lain tidak dimanfaatkan, secara sengaja ataupun secara tidak sengaja (sebagai tempat sampah)–justru akan meningkat nilainya

(27)

pengetahuan ilmiah tidak dapat dijadikan alasan untuk menunda tindakan pencegahan kerusakan lingkungan menjadi semakin penting dalam EAF, karena tingkat ketidakpastian yang dihadapi jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat ketidakpastian dalam pengelolaan konvensional yang berorientasi kepada sumber daya ikan sasaran (TROM)” (FAO, 2003: 22; terjemahan oleh penulis);

(8) “kebutuhan khas negara berkembang … bila terjadi situasi kemiskinan meluas, alternatif perikehidupan sangat jarang atau bahkan tidak ada, serta sistem tradisional mengalami kemunduran, sehingga kebutuhan ekonomi jangka pendek tidak memungkinkan pengeluaran biaya yang diperlukan untuk mengubah pengelolaan perikanan … negara, organisasi internasional terkait … serta lembaga keuangan … perlu memusatkan perhatian kepada dukungan finansial dan teknis, transfer teknologi, [serta] kerja sama pelatihan dan penelitian” (FAO, 2003: 23; terjemahan oleh penulis).

Berdasarkan prinsip dan standar itu, sebaiknya kita memahami keterkaitan komponen ekosistem dan juga hubungan antarekosistem sebagai sistem aliran materi, energi dan informasi yang kompleks, namun sekaligus juga ringkih bila menghadapi perubahan yang melampaui batas daya dukungnya. Sistem itu perlu ditangani pada berbagai tingkatan atau skala, sehingga menuntut koordinasi antarpengelola dengan model pengelolaan multi-scale. Bila dikombinasikan dengan pengelolaan manfaat ekonomis, sosial dan kultural yang beranekaragam itu, koordinasi dengan model multi- scale lebih baik dibandingkan model pengelolaan berorientasi sumber daya sasaran (Target resource-oriented management/TROM) dalam menanggulangi praktik penangkapan yang destruktif, degradasi habitat dan polusi, serta lebih baik dalam memanfaatkan pengetahuan

(28)

tradisional tentang ekologi sumber daya ikan dan habitatnya (lihat FAO, 2003; juga Murawski, 2007).

Panduan FAO menggarisbawahi pentingnya konsultasi yang lebih intensif dan seksama dengan para pemangku kepentingan dalam hal menetapkan sasaran, aturan main, serta evaluasi kinerja pengelolaan. Perhatian khusus pun diberikan terhadap penerjemahan high-level policy ke dalam aktivitas pengelolaan sehari-hari. Perbedaan tujuan dan aspirasi diapresiasi dan dikelola dalam bentuk musyawarah untuk mencapai mufakat. Secara umum, partisipasi pemangku kepentingan ditata dalam proses yang mendorong konsultasi dan menarik masukan dari kelompok pemangku kepentingan pionir (initial group of stakeholder). Secara khusus, proses konsultasi dan masukan diarahkan untuk:

(1) Mengidentifikasi perikanannya, wilayahnya, serta semua pemangku kepentingan yang relevan;

(2) Mengidentifikasi isu sosial, ekonomi, dan ekologi (termasuk sumber daya ikan) perikanan bersangkutan yang bersifat umum;

(3) Menetapkan tujuan umum pengelolaan yang terkait isu-isu sosial, ekonomi, dan ekologi, kemudian merinci masing-masing isu sehingga dapat ditangani dengan tindakan pengelolaan tertentu;

(4) Memeringkatkan isu berdasarkan tingkat risikonya terhadap perikanan yang bersangkutan;

(5) Menyepakati sasaran operasional untuk isu sosial, ekonomi, dan ekologi dengan tingkat prioritas yang tinggi;

(6) Merumuskan aturan pengambilan keputusan pengelolaan; dan (7) Memantau perikanan dengan indikator terseleksi, serta secara

berkala mengevaluasi kinerja pengelolaan dalam mencapai sasaran operasional (lihat FAO, 2003).

(29)

Prinsip dan standar ini dapat dipergunakan untuk menganalisis perkembangan EAF, namun perlu dipergunakan sesuai konteksnya (termasuk sejarah perkembangannya).

2.4 Gerakan EAFM di Indonesia: Sebuah Tinjauan

Di Indonesia, pendekatan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem berkembang sebagai sebuah gerakan, yang disebut EAFM Indonesia.4 Sebuah national working group dibentuk dan dikoordinasikan oleh Direktur Sumber daya Ikan. Anggotanya adalah sebagai berikut: 1) Pemerintah (Direktorat Sumber Daya Ikan, Pemprov NTT, Pemkab Berau, dan Pemkab Wakatobi); 2) Perguruan Tinggi (PKSPB-IPB Bogor, UNIBRAW Malang, UNDIP Semarang, UNHAS Makassar, UNMUL Samarinda, UNPATTI Ambon, UNKAW Kupang, UNHALU Kendari, dan Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta); dan 3) Non Pemerintah (WWF Indonesia, The Nature Conservancy (TNC), Marine Protected Area Governance (MPAG), dan Yayasan LINI Denpasar).

Pengembangan EAFM Indonesia didorong oleh kegiatan Coral Triangle Initiative (CTI) pada tahun 2010. Awalnya, perhatian terpusat kepada perumusan indikator EAFM Indonesia. Pada tahun 2014, EAFM Indonesia direncanakan telah memasuki tahap adopsi dengan selesainya naskah akademik yang diperlukan dalam proses legalisasi. Selain itu, pada tahun 2014, perkembangan EAFM Indonesia juga ditandai oleh selesainya review Rencana Pengelolaan Perikanan seluruh WPPNRI dengan menggunakan kerangka EAFM.

4 Gerakan yang berkantor di Direktorat Sumber Daya Ikan dan di WWF Indonesia, memiliki website yang mempublikasikan data EAFM untuk kesebelas WPPNRI, profil komoditi (masih terbatas Kerapu dan Tuna), profil wilayah yang menjadi pilot penerapan EAFM Indonesia (Wakatobi, Solor Alor, Berau, Cendrawasih, Abun-Sorong, Bunaken, Kei, dan Paloh-Sambas), aktivitas EAFM Indonesia, serta panduan dan hasil penelitian EAFM Indonesia.

(30)

Kemudian pada tahun 2015, perkembangan EAFM Indonesia ditandai penetapan Peraturan Menteri KP No. 9/Permen-KP/2015 tentang Standar Kompetensi Kerja Khusus Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem. Untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang prosesnya, lihat Grafik 2.1.

Grafik 2.1

Perjalanan Proses Perkembangan EAFM Indonesia

Sumber: NWG EAFM 2014

Standar Kompetensi Kerja tersebut memperlihatkan EAFM Indonesia menggunakan standar pengelolaan berbasis ekosistem FAO dan menyesuaikannya dengan kondisi Indonesia. Naskah Akademik EAFM Indonesia menunjukkan maksud dari pengembangan EAFM Indonesia adalah menyempurnakan sistem tata kelola teknokratik- administratif WPPNRI, antara lain ditandai dengan penyusunan Rencana Pengelolaan Perikanan yang bersifat spasial, temporal dan berbasis sumber daya, serta “menitikberatkan fungsi manajemen

(31)

[dan] bukan administratif” (National Working Group Ecosystem Approach to Fisheries Management, 2014: 33).

Inti dari perkembangan EAFM Indonesia hingga tahun 2014 adalah sebuah sistem indikator. Sistem ini terdiri atas 31 indikator yang dikelompokkan ke dalam enam domain–sumber daya ikan, habitat dan ekosistem perairan, teknik penangkapan ikan, ekonomi, sosial, dan kelembagaan–serta pemeringkatan domain atas dasar evaluasi per indikator. Peringkat yang sederhana–baik-sedang-buruk yang ditandai dengan warna hijau-kuning-merah–memudahkan pemangku kepentingan untuk memperoleh gambaran tentang kondisi sebuah wilayah pengelolaan perikanan. Domain ekonomi, misalnya, diperingkatkan berdasarkan indikator Kepemilikan Aset (bobot 45%), Pendapatan Rumah Tangga Perikanan (bobot 40%), dan Rasio Tabungan (bobot 25%). Domain sosial diperingkatkan berdasarkan indikator Partisipasi Pemangku Kepentingan (bobot 40%), Konflik Perikanan (bobot 35%), dan Pemanfaatan Pengetahuan Lokal Dalam Pengelolaan Sumber daya Ikan (bobot 25%).

Dalam domain ekonomi, misalnya, Kepemilikan Aset dilihat apakah bertambah, tetap, atau berkurang nilai uangnya dalam waktu satu tahun, dengan memperhitungkan faktor musim selama lima tahun. Nilai satu diberikan bila nilai uangnya berkurang, nilai dua diberikan bila nilai uangnya tetap, dan nilai tiga diberikan bila nilai uangnya bertambah. Sementara dalam domain sosial, misalnya, Pemanfaatan Pengetahuan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Ikan dilihat apakah ada pemanfaatan itu, ada namun tidak efektif, dan ada dan efektif. Nilai satu diberikan bila tidak ada, nilai dua diberikan bila ada namun tidak efektif, dan nilai tiga diberikan bila ada dan efektif.

Tentunya, penilaian berdasarkan indikator tidak sesederhana gambaran di atas. Ada standar tertentu yang harus dipenuhi dalam

(32)

pengumpulan, pengolahan, analisis, kemudian evaluasi berdasarkan data. Itulah sebabnya, penetapan Standar Kompetensi Kerja Khusus Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem pada tahun 2015 dapat dilihat sebagai langkah maju yang penting dalam perkembangan EAFM Indonesia. Langkah penting lainnya, sesuai tujuan pembuatan Naskah Akademis EAFM Indonesia, adalah penetapan Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) WPPNRI yang telah sesuai dengan EAFM Indonesia.

Dalam peta perkembangan EAFM Indonesia, tujuan pembuatan Naskah Akademis EAFM Indonesia, kelanjutan dari Naskah Akademis, adalah adopsi EAFM di Indonesia, yang berarti EAFM menjadi paradigma pengelolaan perikanan Indonesia. UU Perikanan menentukan landasan pengelolaan perikanan Indonesia adalah WPPNRI. Peraturan Menteri KP No. 18/PERMEN-KP/2014–

yang menggantikan Peraturan Menteri KP No. 01/MEN/2009–

menetapkan WPPNRI dibagi ke dalam sebelas wilayah pengelolaan perikanan, yaitu WPPNRI 571 hingga WPPNRI 718. Bila kesebelas RPP WPPNRI yang telah sesuai dengan EAFM Indonesia ditetapkan maka dapat dikatakan bahwa EAFM telah menjadi paradigma pengelolaan perikanan Indonesia, dan itu dapat dipandang sebagai sebuah puncak keberhasilan gerakan EAFM di Indonesia.

Para pemimpin gerakan ini menyadari rumusan EAFM Indonesia harus terus disempurnakan, seperti tercermin dalam kata pengantar berbagai publikasi EAFM Indonesia. Sejalan dengan kesadaran itu, ada beberapa hal yang masih memerlukan penjelasan lebih lanjut, dan bila perlu, revisi. Pertama, terkait dengan WPPNRI sebagai unit pengelolaan berbasis ekosistem. Pada kesebelas RPP WPPNRI, mengutip Bailey (1987), dijelaskan perairan laut Indonesia terbagi atas tiga ekosistem besar, yaitu: Paparan Sunda, Paparan Sahul, dan Laut Dalam. Akan tetapi, Dwiponggo (dalam Bailey et al.,

(33)

1987: 16) menjelaskan: perairan teritorial Indonesia terdiri atas tiga ekosistem besar–Paparan Sunda, Paparan Sahul, Samudera India–dan laut dalam lainnya. Terlepas dari ketidakcermatan mengutip, kiranya perhatian terhadap akurasi dalam hal-hal mendasar masih dapat ditingkatkan. Dalam konteks ini, penjelasan tentang metodologi pendefinisian masing-masing WPPNRI vis-a-vis ekosistem besar terkait menjadi penting, karena dalam EAF penempatan batas-batas wilayah kelola harus memperhatikan daya dukung ekosistem terhadap tujuan pengelolaan yang ingin dicapai (lihat FAO, 2003).

Perhatian terhadap akurasi juga dapat ditingkatkan metodologi pemeringkatan domain ekonomi. Modul Penilaian Indikator untuk Perikanan (NWG EAFM, 2014) menjelaskan, Pendapatan Rumah Tangga Perikanan (RTP) menjadi indikator ketergantungan RTP terhadap sumber daya perikanan dan terhadap kepala keluarga, dengan asumsi bila Pendapatan RTP lebih besar daripada Upah Minimum Regional (UMR) maka RTP itu tidak miskin. EAF sangat memperhatikan ketergantungan RTP, bukan hanya terhadap perikanan melainkan juga terhadap goods and services lain yang diberikan ekosistem terkait. Pemahaman ekonomi yang terbatas pada pasar tenaga kerja dalam EAFM Indonesia dapat diperluas, sehingga goods and services lain dari ekosistem terkait–utamanya laut dan pesisir–dapat diperhitungkan dalam menghadapi kemiskinan.

Dengan demikian, Pendapatan RTP dapat diperbandingkan, bukan dengan UMR melainkan dengan Indeks Kemiskinan Kumulatif, misalnya. FAO (2003) menjelaskan pentingnya kerangka konseptual yang mengangkat (valorize) manfaat ekonomi, sosial, dan budaya yang lebih luas dari sumber daya ikan dan ekosistem, sehingga upaya pengentasan kemiskinan juga mendorong perkembangan perikehidupan alternatif serta penanggulangan praktik perikanan yang merusak, degradasi habitat, dan polusi.

(34)

Demikian pula, Rasio Tabungan yang dijadikan indikator potensi RTP dalam menyimpan kelebihan pendapatannya dapat direvisi, sehingga lebih sesuai dengan dinamika ekonomi perikanan dan pesisir. Dalam konteks ini, telah menjadi pengetahuan umum bahwa nelayan tidak dapat menentukan sendiri arah perkembangan upaya ekonominya, karena terlilit hutang kepada pemilik kapal ataupun pemilik modal lainnya. Akan tetapi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa utang ini tidaklah semata-mata bersifat moneter;

begitu pula, hubungan antara nelayan yang berutang dan pemilik modal yang memberikan hutang tidak hanya didasari sejumlah uang tetapi ada modal lain. Modal lain yang dimaksud, utamanya adalah modal sosial, yang diperlukan RTP untuk menjalani perikehidupan perikanan. Modal sosial itu tidak dapat direduksi menjadi tabungan.

Dalam hal ini, relasi-relasi patron-client yang dijalin nelayan dengan pemain lain dalam sektor perikanan, mungkin perlu juga diperhatikan (lihat misalnya Ferrol-Schulte et al., 2014)

Terkait dengan modal, Kepemilikan Aset sebagai indikator kemampuan rumah tangga dalam meningkatkan usaha ekonominya, juga dapat dielaborasi. Allison dan Elis (2001) menunjukkan aset RTP dalam rangka menjalani perikehidupannya terdiri atas modal SDA (natural capital), modal fisik (physical capital), modal sumber daya manusia (human capital), modal keuangan (financial capital), dan modal sosial (social capital). Aset menurut Modul Penilaian Indikator untuk Perikanan terbatas pada modal fisik. Peningkatan nilai modal fisik tidak serta-merta meningkatkan kemampuan menjalani perikehidupan, dan juga tidak otomatis menjadi indikasi adanya peningkatan usaha ekonomi. Sebab, apresiasi ataupun depresiasi nilai sebuah aset dapat dipengaruhi harga pasar dan hal lain yang berada di luar kendali pemilik aset yang bersangkutan.

(35)

Lebih jauh, terkait domain sosial EAFM Indonesia yang diperhatikan karena memperlihatkan “bagaimana perikanan dapat menjamin kesejahteraan sosial” (NWG EAFM, 2014: 84). Perhatian terhadap akurasi dapat ditingkatkan dengan memperhatikan arahan FAO yang menyatakan pentingnya konsep kelembagaan yang sesuai dengan basis dan ikatan antarpemangku kepentingan untuk mendefinisikan unit pengelolaan secara spasial. Di sini, indikator Partisipasi Pemangku Kepentingan untuk menilai keaktifan pemangku kepentingan dalam seluruh kegiatan pengelolaan sumber daya ikan sudah baik dan tinggal ditegaskan bahwa kegiatan pengelolaan juga mencakup perencanaan.

Akan tetapi, indikator Konflik Perikanan dapat dipertajam.

Berbagai penelitian menunjukkan konflik memiliki berbagai fungsi di dalam masyarakat pesisir, sehingga tidak dapat dikatakan pasti bersifat kontra-produktif terhadap pengelolaan perikanan. Salah satu fungsi konflik diperlihatkan oleh Adhuri (2013), yaitu untuk menegaskan kembali batas-batas sebuah unit pengelolaan, baik secara spasial maupun secara kultural. Konflik menjadi bagian dari dinamika pengelolaan perikanan dalam waktu jangka panjang dan bahkan berguna dalam proses adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Dengan kata lain, di dalam proses “upgrading” sebuah unit pengelolaan perikanan, yang diperlukan bukan meredam konflik melainkan mengelolanya. Terkait pemahaman terhadap konflik seperti ini, arahan FAO tentang skala waktu perlu diperhatikan. FAO (2003) menjelaskan pentingnya pembagian siklus 1 tahun, 3-5 tahun, dan lebih dari 5 tahun. Dalam siklus 1 tahunan, konflik dapat dilihat mengganggu pengelolaan perikanan. Akan tetapi, dalam siklus 5 tahunan, konflik dapat dilihat mengokohkan platform pengelolaan perikanan, yaitu ruang geografis dan kultural dari unit pengelolaan itu sendiri.

(36)

Adapun indikator Pemanfataan Pengetahuan Lokal dapat dipertajam dengan justru memperluas makna pengetahuan lokal.

Dalam Modul dikatakan: “Pengukuran pemanfaatan pengetahuan lokal ini untuk melihat keberadaan dan keefektifan penerapan pengetahuan lokal dalam kegiatan pengelolaan sumber daya ikan”

(NWG EAFM, 2014: 90; italics oleh penulis). Jika dilihat dalam konteks kegiatan, pengetahuan lokal ini terbatas pada cara-cara melakukan perikanan. Akan tetapi, jika dilihat dalam konteks pengelolaan secara keseluruhan, maka pengetahuan lokal juga mencakup pengetahuan tradisional tentang ekologi dari ekosistem yang bersangkutan. FAO (2003) menjelaskan pengetahuan ekologis tradisional penting untuk diperhitungkan dalam keseluruhan pengelolaan, termasuk perencanaan pengelolaan. Pentingnya memperhitungkan pengetahuan ekologis tradisional dalam perencanaan akan diperlihatkan dalam bagian berikut dari makalah ini, yang membahas kasus penerapan EAFM di Flores Timur. Di sini, kami akan mengakhiri pembahasan tentang kebijakan sebagai penyebab dan juga solusi persoalan perikanan di Indonesia dengan melihat bagaimana pendekatan EAFM dipergunakan dalam kesebelas RPP WPPNRI.

Rencana Pengelolaan Perikanan Laut Aru, Laut Arafuru &

Laut Timor Bagian Timur–WPPNRI 718 merupakan dokumen yang menarik untuk diperiksa, karena disusun dengan pendekatan EAFM, namun bukan oleh NWG EAFM melainkan oleh Direktorat Sumber Daya Ikan. Dalam kata pengantar, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo menjelaskan: “Tim penyusun yang berasal dari unit kerja terkait lingkup KKP, perguruan tinggi dan para pakar memperoleh asistensi teknis di University of Rhodes Island - USA pada bulan September 2013” (Tim Penyusun 2014: 1).

Perbedaan ini segera terlihat dari rujukan penyusunan rencana pengelolaan. Tim penyusun RPP WPPNRI 718 menggunakan tahapan

(37)

yang diadopsi NOAA (lihat Heenan et al., 2013), sementara NWG EAFM menggunakan siklus EAFM yang dirumuskan oleh FAO (2003).

Dalam Naskah Akademis EAFM Indonesia, perencanaan bersifat lebih umum dengan ruang lingkup mengubah rezim pengelolaan perikanan dari pengelolaan konvensional ke EAFM. Dalam RPP WPPNRI 718, ruang lingkup terbatas pada satu wilayah kelola dan bertujuan merumuskan rencana aksi. Barangkali itulah sebabnya, titik tekan keduanya berbeda. Naskah Akademis menekankan indikator, sementara RPP menekankan domain.

Pada RPP WPPNRI 718, keenam domain yang dirumuskan oleh NWG EAFM Indonesia dipergunakan, namun indikator- indikatornya tidak. Tim penyusun RPP WPPNRI 718 menggunakan indikator yang berbeda untuk domain ekonomi, yaitu kelayakan usaha perikanan yang diukur dari rasio tingkat eksploitasi sumber daya perikanan terhadap kapasitas armada penangkapan (baik ukuran tonase kapal maupun jumlahnya). Selain itu, RPP WPPNRI 718 juga mencantumkan kapasitas ke pelabuhanan dalam konteks sistem pemasaran yang berlaku di laut Aru, Arafuru, dan Timor bagian timur. Secara khusus, RPP WPPNRI 718 menyoroti praktik IUU di Laut Arafuru dan dampaknya terhadap pendapatan negara.

Dalam domain sosial, partisipasi pemangku kepentingan dan konflik perikanan tidak dibicarakan, namun pemahaman tentang pengetahuan lokal disajikan secara lebih mendalam.

Perbedaan ini tentunya menimbulkan pertanyaan sekuat apa sebetulnya dasar-dasar EAFM Indonesia pada masa penyusunannya.

Apakah indikator yang dipakai dapat mencerminkan realitas perikanan Indonesia yang begitu kompleks? Dan, apabila kita mengikuti langkah lanjutan Tim Penyusun RPP WPPNRI 718 yang merujuk kepada best practices NOAA, maka ada baiknya juga untuk melihat apakah EAFM yang hanya berbasis WPP merupakan satu-satunya

(38)

pendekatan terhadap perikanan yang berbasis ekosistem yang cocok di Indonesia. Nyatanya, NOAA sendiri mempergunakan model hirarkis yang mencerminkan adanya praktik pengelolaan perikanan berbasis ekosistem yang bersifat multi-scale, sesuai arahan FAO. Kami sendiri, berdasarkan pertimbangan karakteristik perikanan di Indonesia, seperti telah dijelaskan di atas dan tinjauan terhadap gerakan EAFM Indonesia, juga kasus yang akan dibahas setelah bagian ini, melihat kebutuhan akan adanya pengelolaan yang bersifat multi-scale dengan penekanan keterlibatan pemangku kepentingan yang berbeda. Paling tidak, ada dua skala pengelolaan, yaitu perikanan pesisir atau skala kecil (small scale) dan skala menengah besar (medium-large scale).

Menurut kami, pendekatan EBFM yang berkarakteristik community- based co-management lebih tepat untuk skala kecil, sementara untuk skala menengah besar, EAFM dengan peran pemerintah lebih luas yang berpotensi menuai kesuksesan lebih besar.

(39)

Grafik 2.2

Pendekatan Pengelolaan Perikanan Per Skala Pengelolaan

Sumber: NOAA n.d.; lihat juga Patrick dan Link, 2015

2.5 Tantangan dan Dukungan Legal Implementasi EAFM dan EBFM

Berikut adalah penjelasan terkait tantangan dan dukungan legal bagi implementasi EAFM dan EBFM di Indonesia. Pertama, beberapa tantangan legal terhadap implementasi EAFM-EBFM yang sementara ini diusung oleh gerakan nasional EAFM, yaitu:

(1) Meskipun sudah banyak undang-undang yang menyebutkan perlunya pengelolaan perikanan, tetapi belum ada yang spesifik menyebutkan adopsi EAFM dan EBFM sebagai pendekatan yang

(40)

menjadi fondasi pengembangan perikanan di Indonesia (lihat Muawanah dkk., 2018).

(2) Adopsi pendekatan EAFM dengan basis Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), masih belum memiliki “cantolan” hukum yang kuat. Belum ada aturan yang secara eksplisit menyebutkan bahwa pengelolaan perikanan Indonesia berbasis pada WPP, kecuali Permen KP No. 18/2014 tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. Bahkan, masih terdapat perundang-undangan dan peraturan lain yang dapat menghambat implementasi pengelolaan berbasis WPP ini. Contoh peraturan perundang-undangan yang bisa menghambat pengelolaan berbasis WPP adalah:

• UU No. 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang membagi kewenangan pengelolaan perairan Indonesia kepada pemerintah pusat dan daerah. Undang-undang ini menyebutkan bahwa pengelolaan perairan Indonesia sampai dengan 12 mil laut adalah kewenangan pemerintah provinsi [Pasal 27(3)]5, jika jarak antar dua provinsi kurang dari 24 mil, maka kewenangan atas pengelolaan wilayahnya dibagi dua secara merata Pasal 27(4). Semua WPP melingkupi perairan dari 0- sampai batas terluar perairan Indonesia. Itu artinya, WPP berada dalam kewenangan lembaga pemerintah pada level yang berbeda. Secara horizontal, WPP juga bisa melingkupi dua provinsi berbeda. Selain itu, ada pula satu provinsi memiliki dua WPP. Hal lain dari UU No. 23/2014 yang mungkin juga menghambat pengelolaan perikanan adalah pengaturan pada Pasal 27(5). Pasal itu menyebutkan ‘Ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 27(3) dan (4) tidak berlaku terhadap

5 Kewenangan pengelolaan di antaranya meliputi eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut di luar minyak dan gas bumi, pengaturan administratif dan

(41)

penangkapan ikan oleh nelayan kecil. Ayat ini dapat diartikan bahwa perikanan skala kecil memang tidak diatur atau open access. Seperti sudah dijelaskan di awal, open acces adalah akar dari berbagai persoalan perikanan.

• Permen KKP No. 30/2012 tentang Usaha Perikanan Tangkap di Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia, juga dapat menghambat pengelolaan berbasis WPP. Permen itu mengatur kewenangan pemberian izin usaha perikanan (SIUP), izin penangkapan ikan (SIPI), izin pengangkutan ikan (SIKPI) kepada lembaga yang berbeda-beda sesuai ukuran kapal yang digunakan. Otoritas untuk memberikan izin pada pengguna kapal sampai dengan 10 GT adalah pemerintah kabupaten/

kota, ukuran antara 10 sampai 30 GT adalah pemerintah provinsi dan otoritas pemberian izin bagi pengguna 30 GT ke atas adalah pemerinta pusat (Pasal 14). Sekali lagi pengaturan ini tidak bersesuaian dengan pendefinisian WPP. Hal yang lebih krusial pada Permen ini yang akan menghambat pengelolaan adalah Pasal 12 yang mengatur pengecualian permohonan izin kepada kapal nelayan kecil, yakni nelayan dengan bobot kapal 5 GT ke bawah. Pengecualian ini menjadikan perikanan untuk nelayan skala kecil sebagai perikanan open access. Dengan pengaturan seperti itu, pengelolaan yang baik tidak mungkin dapat terwujud karena pengelolaan mengharuskan pembatasan level eksploitasi yang bersesuaian dengan daya dukung sumber daya dan ekosistemnya.

Kedua, menjelaskan dukungan legal bagi pelaksanaan EBFM untuk perikanan skala kecil atau perikanan pantai. Jika mempertimbangkan EBFM sebagai satu alternatif pengelolaan perikanan skala kecil atau perikanan pantai dan dalam bentuk

(42)

community-based co-management, maka potensi yang terbuka lebar adalah dengan pemanfaatan praktik-praktik pengelolaan berbasis komunitas yang dijalankan di beberapa komunitas di Indonesia.

Praktik pengelolaan berbasis hak ulayat laut dan sasi di Maluku dan Papua (Bailey dan Zerner 1992, Adhuri 2013, Haliadi-sadi, Mahid, Lumangino 2013), Seke-maneke di Sangihe Talaud (Ulaen et al., 2014), pengelolaan berbasis rumpon di Sulawesi Selatan (Zerner, 2003; Saad, 2003), pengelolaan awig-awig di Lombok dan Bali (Satria dan Adhuri, 2010), pengelolaan Lubuk Larangan di Sumatra Barat, dan Panglima Laot di Aceh (Sulaiman, 2010), adalah contoh-contoh praktik pengelolaan seperti itu. Meskipun tidak dapat dikatakan sempurna, tetapi praktik-praktik pengelolaan itu merupakan modal dasar untuk pengembangan EBFM skala kecil. Senyatanya, sudah banyak inisiatif yang dilakukan untuk memanfaatkan praktik-praktik seperti itu, baik untuk konservasi maupun pengelolaan perikanan secara lebih luas (lihat McLeod et al., 2009; Steenbergen 2013).

Keberadaan praktik-praktik pengelolan berbasis masyarakat secara legal formal telah diakui oleh berbagai peraturan perundang- undangan seperti tampak pada tabel berikut:

(43)

Tabel 2.3

Berbagai Praktik Pengelolaan Berbasis Masyarakat yang Diadopsi dalam Berbagai Peraturan di Indonesia

Jenis/Level Aturan Pasal Isi Peraturan Konstitusi (UUD

Amandemen)

18B(2) Negara mengakui dan menghormati kesatuan- kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisonalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.

28I(3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban (Bagian dari Hak Asasi Manusia).

UU No. 5/1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria

2(4) Kewenangan negara–untuk menguasai tanah, air dan udara–dalam praktiknya dapat didelegasikan kepada pemerintah daerah dan masyarakat adat.

UU No. 31/2004 tentang Perikanan

6(2) Pengelolaan perikanan untuk kepentingan penangkapan ikan dan pembudidayaan ikan harus mempertimbangkan hukum adat dan/atau kearifan lokal serta memperhatikan peran serta masyarakat.

(44)

Jenis/Level Aturan Pasal Isi Peraturan UU No. 27/2007

tentang Pengelolaan Pesisir dan Pulau- pulau Kecil

4(c) Memperkuat peran serta masyarakat dan lembaga pemerintah serta mendorong inisiatif masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil agar tercapai keadilan, keseimbangan, dan keberkelanjutan;

dan

61(1) Pemerintah mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak Masyarakat Adat, masyarakat tradisional, dan Kearifan Lokal atas Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang telah dimanfaatkan secara turun-temurun.

(2) Pengakuan hak-hak Masyarakat Adat, Masyarakat Tradisional, dan Kearifan Lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijadikan acuan dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang berkelanjutan.

UU No. 32/2004 tentang Pemerintah Daerah

1(12) Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(45)

Jenis/Level Aturan Pasal Isi Peraturan Keputusan Menteri

Kelautan dan Perikanan No.

41/2000 tentang Pedoman Umum Pengelolaan Pulau- Pulau Kecil Yang Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat

• Sasaran Pengelolaan Pulau-pulau Kecil:

Terwujudnya mekanisme pengelolaan pulau-pulau kecil, baik yang dilakukan oleh Pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah kelestarian lingkungan;

• Pengelolaan Berbasis Masyarakat adalah pengelolaan yang menempatkan masyarakat sebagai pengelola sumber daya alam dan jasa lingkungannya yang didukung oleh pemerintah dan dunia usaha;

• Negara mengakui dan melindungi hak ulayat/hak adat/hak asal-usul atas penguasaan tanah dan wilayah perairan pulau-pulau kecil oleh masyarakat hukum adat di samping hak-hak lainya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Praktik-praktik pengelolaan community-based co-management telah pula diakui di beberapa daerah melalui peraturan daerah (Tabel 2.4).

(46)

Tabel 2.4

Berbagai Praktik Pengelolaan Community-Based Co-Management yang telah Diakui Beberapa Daerah yang Termuat dalam Peraturan

Daerah

Jenis/Level Aturan Pasal Isi pengaturan Perda Kab. MALRA

No. 3/2009 tentang Ratshap dan Ohoi

Perda ini menetapkan diberlakukannya hukum adat yang mengatur pengorganisasian masyarakat di Maluku Tenggara berdasarkan adat istiadat mereka. Pengaturan termasuk revitalisasi

pemerintahan adat yang di dalamnya mengandung konsepsi dan praktik pengaturan pengelolaan petuanan laut dan darat, misalnya:

• Bahwa Ratshap dan Ohoi sebagai kesatuan masyarakat hukum adat dalam kenyataannya sejak dari dahulu kala hingga saat ini masih terus hidup, tumbuh, berkembang dan dipertahankan di dalam pergaulan hidup masyarakat di Kabupaten Maluku Tenggara;

• Wilayah Petuanan adalah wilayah yang berdasarkan hukum adat di Maluku Tenggara berada di bawah kekuasaan Ohoi/Ohoi Rat yang mencakup wilayah darat dan laut;

Perda Kab. Lombok Timur No. 9/2006 tentang Pengelolaan Sumber daya Perikanan Pantai Secara Partisipatif

Pada intinya, Perda ini mengatur pengelolaan perikanan di Lombok Timur yang dikembangkan secara partisipatif. Perda ini juga menggunakan awig-awig sebagai bagian dari pengaturan tersebut, di antaranya diatur:

·• Awig-awig pengelolaan adalah kesepakatan antarmasyarakat dan/atau dengan pihak lain tentang pengelolaan sumber daya perikanan yang dituangkan dalam suatu dokumen kesepakatan bersama, yang ditandatangani oleh Kepala Desa dan Badan Permusyawaratan Desa serta disahkan oleh Camat;

·• Menerapkan sanksi pelanggaran rencana pengelolaan yang telah ditetapkan sebagai awig- awig pengelolaan sumber daya perikanan pantai dalam suatu kawasan pengelolaan.

(47)

Jenis/Level Aturan Pasal Isi pengaturan Perda (Qanun)

Aceh No. 16/2002 tentang Sumber daya Kelautan dan Perikanan

11 [D]alam pengelolaan sumber daya perikanan Pemerintah Provinsi mengakui keberadaan lembaga Panglima Laot dan hukum adat laot yang telah ada dan eksis dalam kehidupan masyarakat nelayan di Provinsi

Dengan adanya dukungan legal terhadap praktik community- based co-management ini, tidak berarti tantangan untuk pengembangan EBFM perikanan skala kecil sudah hilang. Berikut adalah contoh-contoh tantangan yang tersisa. Pertama, masih ada kemungkinan benturan antara peraturan perundang-undangan di atas dengan peraturan perundang-undangan yang lain. Misalnya, Perda di atas yang menunjukkan kewenangan pemerintah kabupaten/

kota dalam mengelola perairan pesisir, tetapi UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, otoritas itu telah dicabut. Kedua, sebagian dari Perda, seperti halnya Perda Ohoi di Maluku Tenggara, diterbitkan bukan secara spesifik untuk keperluan pengelolaan sumber daya laut, tetapi sebagai Perda Pemerintahan Desa, sehingga implementasinya untuk pengelolaan sumber daya ikan (perikanan) masih harus mendapatkan pengawalan. Ketiga, praktik pengelolaan berbasis community co-management itu ada yang sudah mulai melemah pelaksanaannya, seperti Seke-maneke di Sangihe Talaud.

Keempat, praktik-praktik pengelolaan komunitas belum merupakan wujud pengelolaan yang sempurna; pengamatan kami di berbagai tempat menunjukkan bahwa tinjauan yang sistematis terhadap kondisi sumber daya alam tidak dilakukan secara regular dan hal seperti itu masih perlu ditingkatkan melalui dukungan berbagai pihak.

Referensi

Dokumen terkait

OPPORTUNITIES & CHALLENGES IN MOBILE CONTENT INDUSTRY SEMINAR 22 March 2014, Saturday Auditorium, Pustaka Miri, Sarawak TIME PROGRAM TIME ITEM 8:00am – 8:45am -

“Regional and global responses to the Rohingya Repatriation Process: Opportunities and challenges” G.M.Arifuzzaman At present, the Rohingya repatriation process is not only

RESEARCH ARTICLE Challenges and opportunities in cultivating medical students’ competencies: Participatory action research from a hierarchical cultural setting Ardi

https://doi.org/10.1073/pnas.2104563118 Reply to Swartz et al.: Challenges and opportunities for identifying forced labor using satellite-based fishing vessel monitoring Downloaded at

This study aims to determine the profile of Pancasila as an effort to realize student character in seeing global opportunities and

This document provides an overview of the challenges and opportunities associated with implementing IFRS in the mining

This book explores the opportunities and challenges in cloud, fog, and edge computing, focusing on the continuum from cloud to