PENDAHULUAN
Diagnosis Permasalahan Kelas
Siswa autis Kelas VI SLB Autisme Mitra Ananda mengalami kesulitan dalam menyebutkan dan membedakan bangun-bangun geometri. Proses pembelajaran guru di SLB Autisme Mitra Ananda belum menggunakan metode bermain konstruktif sehingga menyebabkan proses pembelajaran kurang bervariasi. Proses pembelajaran yang digunakan di SLB Autisme Mitra Ananda tidak melibatkan interaksi aktif antar siswa untuk mengikuti pembelajaran.
Masih belum tersedia alat ajar penyajian bangun ruang yang dapat membuat siswa merasa senang dan tertarik guna memudahkan penyajian bangun ruang.
Fokus Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian Hasil Penelitian
LANDASAN PUSTAKA
Kajian Tentang Anak Autis
Oleh karena itu, anak autis mempunyai gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan mempunyai perilaku khas yang dipertahankan dan diulang-ulang. Salah satu kendala yang dihadapi anak autis adalah kendala dalam mengucapkan kata atau mengeluarkan suara (komunikasi). Kebanyakan anak autis akan terlibat dengan aktivitas dan objek menarik tertentu dengan bermain bersama mereka.
Anak autis juga tampak kurang tertarik pada anak lain dan tidak belajar atau memperhatikan atau meniru orang lain. Anak autis seringkali tampak berkembang secara normal hingga usia 3 tahun, sebelum orang tua menyadari adanya potensi gangguan pada tumbuh kembang anak, yaitu dalam interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku. Selain kendala bahasa, anak autis juga mempunyai permasalahan pada kemampuan intelektual yang disebabkan oleh tidak berfungsinya sistem saraf.
Karena anak autis merupakan anak yang mempunyai penyimpangan perilaku dan ketidakmampuan berpikir, maka tidak menutup kemungkinan anak autis mengalami kesulitan dalam belajar matematika.
Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri pada Anak Autis
Anak autis memerlukan penanganan khusus dalam pembelajaran khususnya matematika, khususnya pada materi mengenal bentuk geometris. Lestari menjelaskan, pengenalan bentuk geometris pada anak adalah kemampuan anak dalam mengenali, menunjuk, memberi nama, dan mengelompokkan benda-benda disekitarnya berdasarkan bentuk geometris. Artinya, Anda dapat mengenalkan berbagai bentuk geometris kepada anak autis dengan bermain sambil mengamati berbagai benda di sekitarnya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri Keterampilan matematika merupakan keterampilan dasar yang dibutuhkan semua anak. Belajar melalui kegiatan bermain mengenal bentuk-bentuk geometris dapat membantu anak dalam memahami, mendeskripsikan dan menggambarkan benda-benda disekitarnya. Hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan mengenal bentuk geometris tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif pada anak.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan mengenal bentuk geometris pada anak autis adalah kemampuan berpikir simbolis, intuitif dan spasial untuk dapat mengetahui, memahami dan memahami konsep bentuk geometris dalam kehidupan sehari-hari. .
Metode Permainan Konstruktif bagi Anak Autis
Langkah-langkah Pembelajaran Pengenalan Bentuk
Kerangka Berfikir
Pertanyaan Penelitian
METODE PENELITIAN
Waktu Penelitian
Deskripsi Tempat Penelitian
SLB Autisme Mitra Ananda dikelola oleh para guru dan terapis yang dibekali untuk menangani anak berkebutuhan khusus, khususnya anak autis. Guru dan terapis membuat dan melaksanakan program sesuai dengan kondisi anak dan rekomendasi dari beberapa ahli medis seperti dokter anak dan psikolog/psikiater. Sarana dan prasarana di SLB Autis Mitra Ananda terdiri dari 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang guru, 1 perpustakaan, 1 ruang laboratorium.
Subyek dan Karakteristiknya
Dengan kemampuan motorik halusnya, anak mampu makan mandiri, menulis, membuka botol minum, memotong kertas, melipat kertas.
Skenario Tindakan
Media yang akan digunakan dalam permainan konstruktif ini adalah alat bermain edukatif yaitu balok penyusun geometris, plastisin dan balok lego. Guru mengajar siswa dengan RPP yang telah disiapkan, peneliti mengamati proses pembelajaran mengenal bangun-bangun geometri selama pembelajaran. Pada tahap refleksi, peneliti mengamati apakah terdapat kekurangan dalam pengenalan konsep bangun ruang melalui permainan konstruktif.
Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
Tes hasil belajar pada penelitian ini menurut materi yang diukur adalah tes hasil belajar matematika mengenal bangun-bangun geometri. Pada penelitian ini dibuat tes pengenalan bentuk geometris untuk mengetahui peningkatan kemampuan mengenal bentuk geometris melalui permainan konstruktif pada siswa autis kelas VI. 3 Jika anak mampu menyusun bentuk-bentuk geometris datar dalam permainan konstruktif dengan bantuan nonverbal.
2 Apabila kanak-kanak dapat menyusun bentuk geometri rata dalam permainan konstruktif dengan bantuan lisan.
Kriteria Keberhasilan Tindakan
Teknik Analisis Data
Hasil Penelitian
- Pelaksanaan Pra Tindakan
- Deskripsi Pelaksanaan Siklus I
- Deskripsi Pelaksanaan Tindakan Siklus II
Setelah siswa selesai membuat macam-macam bentuk geometris dengan bahan plastisin, siswa diminta satu persatu menyebutkan nama bentuk-bentuk tersebut. Peneliti memperhatikan adanya peningkatan kemampuan mengenal bangun-bangun geometri yaitu pada indikator menyebutkan nama-nama bangun geometri dan membedakan bangun-bangun geometri pada siswa autis. Peneliti mengamati adanya peningkatan kemampuan mengenal bangun geometri yaitu pada indikator menyebutkan nama-nama bangun geometri dan mendeskripsikan bangun bangun datar.
Dapat dikatakan bahwa kemampuan mengenal bangun-bangun geometri pada siswa autis mengalami peningkatan yaitu pada indikator menyusun bangun-bangun geometri, mengucapkan nama-nama bangun geometri, membedakan bangun-bangun geometri dan mendeskripsikan bangun-bangun geometri. Indikator membedakan bangun datar diperoleh pada siklus I, siswa FA memperoleh skor 55% dengan kriteria cukup dan siswa IF memperoleh skor 60%. Perbaikan yang direncanakan akan dilaksanakan pada Siklus II dengan tujuan mencapai peningkatan kemampuan mengenal bentuk geometris pada siswa autis.
Observasi kemampuan mengenal bentuk geometris melalui permainan konstruktif pada siswa autis kelas VI di SLB Autisme Mitra Ananda terdiri dari tiga kali pertemuan pengajaran pada siklus I. Permainan konstruktif berikutnya adalah siswa menyusun bentuk geometris dengan Lego dan langsung diminta menyebutkan nama benda tersebut. bentuk geometris yang dia kumpulkan dari Lego. Permainan konstruktif lainnya adalah siswa menyusun bentuk-bentuk geometris dengan Lego dan segera diminta untuk menyebutkan bentuk-bentuk geometris yang telah mereka rangkai dari Lego.
Indikator kemampuan menyebutkan bangun datar geometri pada Siklus II siswa FA dan IF memperoleh nilai 95% dengan kriteria Sangat Baik. Indikator kemampuan membedakan bangun datar geometri pada Siklus II siswa FA memperoleh skor sebesar 80%. Pada siklus II terlihat kemampuan siswa dalam mengenal bentuk geometri memenuhi rata-rata kelas dengan kriteria sangat baik.
Rangkuman hasil kemampuan mengenal bentuk geometri melalui permainan konstruktif pada pratindakan siklus I dan siklus II. Observasi kemampuan mengenal bentuk geometris melalui permainan konstruktif pada siswa autis kelas VI di SLB Autisme Mitra Ananda terdiri dari dua kali pertemuan pengajaran pada siklus II.
Pembahasan
Hasil observasi dan evaluasi pada siklus II menunjukkan bahwa dari hasil posttest siklus II diketahui siswa telah mampu mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 70. Diferensiasi bangun geometri dan bangun datar untuk siswa FA dari 35 menjadi 55 dan siswa IF dari 35 menjadi 60, indikator Deskripsi bangun datar geometri datar untuk siswa FA dari 35 menjadi 65 dan siswa IF dari 40 menjadi 60. Perubahan kedua menambah waktu pembelajaran menjadi 100 menit dalam satu kali pertemuan, sehingga agar siswa dapat mempelajari bentuk geometri secara lebih optimal melalui permainan yang konstruktif.
Hasil skor pasca siklus II menunjukkan bahwa siswa mampu mencapai skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan skor pasca siklus I, yaitu indikator menyusun bangun datar geometri pada permainan konstruktif yang digunakan pada Siklus II, FA dan IF - siswa mencapai nilai 95% dengan kriteria sangat tinggi. Dengan baik. Indikator kemampuan membedakan bangun datar geometri pada Siklus II, siswa FA memperoleh nilai 80% dengan kriteria baik dan siswa IF memperoleh nilai 85% dengan kriteria sangat baik. Indikator kemampuan mendeskripsikan bangun datar bangun datar pada Siklus II, siswa FA memperoleh skor 90% dengan kriteria sangat baik dan siswa IF memperoleh skor 85% dengan skor sangat baik.
Hasil tes peningkatan kemampuan mengenal bangun ruang II. siklus mencapai KKM yang telah ditentukan yaitu 70. Aktivitas siswa kelas II juga mengalami peningkatan. Selama penelitian dari I. sampai II. , lingkaran, persegi panjang, jajaran genjang, persegi panjang.
Kegiatan meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri melalui permainan konstruktif membuat siswa lebih tertarik dan antusias. Sebagaimana disebutkan oleh Yunus (Yunus, 1980:6), dengan aktivitas yang bervariasi, anak lebih antusias dan senang melakukan aktivitas mengenal bentuk geometris. Media konstruktif yang digunakan seperti plastisin dan lego dapat memudahkan pemahaman siswa terhadap bentuk geometri, karena dengan media tersebut siswa autis dapat langsung memanipulasi alat-alat bentuk geometris sehingga mudah memasuki memori anak.
Pada kegiatan mengenal bangun-bangun bangun datar melalui permainan konstruktif, siswa diberikan kesempatan mengenal langsung bangun-bangun geometri dengan cara mencipta dan menyusun bangun-bangun geometri melalui media bermain konstruktif seperti plastisin dan lego. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan permainan konstruktif terbukti mampu meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometris pada siswa autis kelas VI SLB Autisme Mitra Ananda melalui permainan konstruktif, dimana penggunaan permainan konstruktif selama pembelajaran mampu untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar.
Temuan Penelitian
Hasil kemampuan mengenal bentuk geometris siswa autis kelas VI SLB Autisme Mitra Ananda melalui permainan konstruktif meningkat secara signifikan. Dengan bantuan guru kelas, kemampuan siswa dalam mengenal bangun ruang meningkat melalui permainan yang konstruktif. Permainan konstruktif sebaiknya dimainkan secara rutin untuk meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometris pada siswa autis.
Guru memberikan latihan kepada siswa dalam membuat bentuk geometris dengan menggunakan plastisin sebagai alat bermain konstruktif. Guru memberikan latihan kepada siswa dalam membuat bentuk geometris dengan menggunakan media konstruktif permainan lego.
Keterbatasan Hasil Penelitian
SIMPULAN DAN SARAN
Implikasi
Pengenalan bangun ruang melalui permainan konstruktif dapat digunakan sebagai strategi pembelajaran dan meningkatkan pengenalan bangun ruang dalam proses belajar mengajar di kelas. Bagi siswa, penerapan permainan konstruktif dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan daya ingat siswa khususnya dalam mengenal bangun-bangun geometri, oleh karena itu dalam upaya meningkatkan kemampuan mengenal bangun-bangun geometri, permainan konstruktif dapat terus dikembangkan untuk memudahkan pembelajaran matematika. siswa. Bagi guru, permainan konstruktif dapat dijadikan salah satu alternatif pilihan strategi pembelajaran dalam upaya meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometris pada siswa autis.
Bagi sekolah perlu adanya kegiatan siswa dalam pembelajaran matematika khususnya pada mata pelajaran pengenalan bangun ruang. Oleh karena itu, sekolah diharapkan proaktif dalam memenuhi segala kebutuhan guru dan siswa dalam upaya meningkatkan mutu layanan pendidikan. Peneliti sendiri harus lebih giat memberikan pembelajaran kepada siswa melalui berbagai media dan strategi pembelajaran lainnya, yang tentunya sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa.
Saran