SIGNIFIKANSI PENERAPAN HUKUM GEREJA BAGI PERTUMBUHAN IMAN JEMAAT
Desnaria Telaumbanua
Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta
ABSTRAK
Hukum gereja adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan disiplin dan peraturan- peraturan gereja. Hukum gereja sangat berperan penting bagi pertumbuhan jemaat, khususnya untuk mendewasakan iman jemaat, menjaga ketertiban jemaat, menjadi teladan bagi banyak orang dan terlebih-lebih menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan. Penulisan karya ilmiah ini didasarkan pada Signifikansi Penerapan Hukum Gereja Bagi Pertumbuhan Iman Jemaat dengan metode yang bersifat deskriptif dilengkapi dengan : pendahuluan, hakikat, sejarah dan hukum gereja, pentingnya penerapan hukum gereja, dampak dari hukum gereja, kesimpulan dan saran. Penulisan skripsi ini disusun dengan tujuan sebagai kontribusi bagi gereja untuk melaksanakan atau menjalankan aturan guna mendisiplinkan anggota jemaat yang memiliki pelanggaran atau jemaat yang berdosa supaya lebih tertib dan dan menghormati nama Tuhan, oleh karena keadaan sekarang yang begitu kurang memperhatikan hukum gereja bahkan ada yang meniadakannya dan menganggap hukum gereja tidak penting. itulah yang menjadi sebuah pergumulan dan perenungan penulis yang dituangkan dalam skripsi ini. Diharapkan dengan signifikansi penerapan hukum gereja bagi pertumbuhan iman jemaat dapat menolong para hamba Tuhan dan jemaat untuk lebih mengerti dan memahami serta menerapkannya dalam gereja sehingga tujuan pentingnya hukum gereja yang ditetapkan dapat tercapai dengan maksimal.
Aprianus L. Moimau Yeremia Hia
DAFTAR ISI
Halaman
COVER ...i
HALAMAN PENGESAHAN LEMBAGA PENDIDIKAN...ii
HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI...iii
HALAMAN PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING...iv
HALAMAN PERNYATAAN...v
MOTTO...vi
ABSTRAK...vii
KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI ... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian ...1
B. Identifikasi Masalah Penelitian ...6
C. Pembatasan Masalah Penelitian ...7
D. Rumusan Masalah Penelitian ...7
E. Tujuan Penelitian ... 8
F. Hipotesis ...8
G. Manfaat Penelitian ...8
H. Metodologi Penelitian...9
I. Sistematika Penulisan ...9
BAB II HAKIKAT, SEJARAH, DAN SUMBER HUKUM GEREJA A. Hakikat Hukum Gereja ...10
1. Pengertian Gereja...10
2. Pengertian Hukum...12
3. Pengertian Hukum Gereja...14
4. Tujuan Hukum Gereja... 15
5. Dasar-dasar Alkitabiah Hukum Gereja...19
B. Sejarah Hukum Gereja ...20
1. Tahun 303 – 380...21
2. Tahun 380 – 1500...22
3. Tahun 1500 – Abad 19...22
4. Abad 19 – sekarang ...22
C. Sumber-sumber Hukum Gereja ...23
1. Alkitab...24
2. Pengakuan Iman...25
BAB III SIGNIFIKANSI PENERAPAN HUKUM GEREJA BAGI PERTUMBUHAN IMAN JEMAAT A. Pemulihan Jemaat...27
B. Pengekangan Dosa...30
C. Menjaga Kekudusan Jemaat...33
D. Memuliakan Allah...35
E. Kebaikan Orang Banyak...37
F. Pelanggaran yang mendapat disiplin gereja...38
G. Tahapan Pelaksanaan Hukum Gereja...43
H. Penerimaan kembali Jemaat...47
BAB IV DAMPAK PENERAPAN HUKUM GEREJA BAGI PERTUMBUHAN IMAN JEMAAT
A. Dampak Positif... 52
B. Dampak Negatif...56
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 59
B. Saran ... 60
DAFTAR PUSTAKA... 62
BIODATA...66
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis akan membahas: Latar Belakang Masalah Penelitian, Identifikasi Masalah Penelitian, Pembatasan Masalah Penelitian, Rumusan Masalah Penelitian, Tujuan Penelitian, Hipotesis, Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan yang digunakan dalam penelitian.
A. Latar Belakang Masalah Penelitian
Hukum Gereja dan disiplin gereja sangat berperan penting dalam perkembangan iman jemaat. Karena hukum gereja dibuat berdasarkan Alkitab. Akan tetapi, sejauh yang penulis ketahui masih banyak gereja yang belum menerapkan sepenuhnya hukum gereja tersebut, bahkan kemungkinan besar masih banyak diantara gereja-gereja zaman sekarang belum mempunyai aturan-aturan tersendiri dalam persekutuan gereja. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa semua jemaat yang ada didalamnya hanya sekedar ada dan kurang menerapkan aturan-aturan yang ada.
Hukum Gereja bertujuan untuk mendisplinkan jemaat supaya tidak melanggar aturan atau hukum yang berlaku di suatu Gereja. Namun, pada kenyataanya masih ada yang tidak menerapkannya hukum Gereja itu sendiri dan bahkan meniadakannya, seperti pendapat Shom yang dikutip oleh Gintings menyatakan, “tidak usah ada hukum Gereja (. . .) ia melanjutkan pendapatnya bahwa Gereja tidak perlu mempunyai hukum”.1 Tentunya pendapat di atas membuat kekacauan di dalam kekristenan sehingga menimbulkan polemik dikalangan para teolog.
Gereja merupakan tempat persekutuan orang percaya, dimana mereka dapat beribadah, memuji, dan menyembah Tuhan dan tentunya ada aturan-aturan yang berlaku dalam satu Gereja supaya jemaat tidak dapat semena-mena dalam mengubah tata-cara gerejawi. Akan tetapi, ada juga pemberontakan yang menimbulkan perpecahan dalam Gereja. Van Den End menyatakan, “adanya ajaran bidat yang menimbulkan perpecahan, pemberontakan terhadap tata tertib gerejawi”.2 Gereja pada awalnya sudah menyatakan dirinya dalam satu rupa yang terorganisir, namun sejarah Gereja membuktikan bahwa ada kelompok yang menentang akan hal ini, seperti kelompok “montanisme”.3 Gintings menyatakan.
Montanisme disebut menurut pendirinya Montanus, timbul di abad kedua. Montanus secara ekstatis memberitakan bahwa kedatangan (parusia) Kristus telah sangat dekat dan bahwa Roh Kudus (dengan Montanus) telah tiba. Ajaran ini menentang pengorganisasian Gereja. Pengorganisasian itu dianggap aliran ini sebagai suatu penduniawian.4
Karena adanya kelompok-kelompok yang tidak menyetujui adanya hukum Gereja sehingga dapat menimbulkan banyak permasalahan dalam Gereja sehingga menggangu perkembangan iman jemaat.
1Gintings, Apakah Hukum Gereja (Bandung: Jurnal Info Media,2009), 10
2Van Den End, Enam Belas Dokumen Calvinisme (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2000), 344.
3Berkhof, Sejarah Gereja (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2018), 24-25.
4Gintings, Apakah hukum Gereja, 40.
Allah mempercayakan Gereja untuk dapat bersekutu dengan Dia dan memuliakan namanya dan juga di dalamnya dapat dibentuk berbagai aturan atau hukum yang berlaku dalam suatu Gereja dan tentunya tidak terlepas dengan pemerintahan Gereja. Namun, pada kenyataannya ada juga kelompok yang menolak adanya pemerintahan Gereja.
Berkhof menyatakan, “kelompok Quaker dan Darbyte secara prinsip menolak semua pemerintahan Gereja. Menurut mereka setiap susunan Gereja eksternal akan menyebabkan kemerosotan dan hal-hal yang bertentangan dengan jiwa kekristenan”.5 Bagi mereka hukum Gereja atau pemerintahan Gereja membuat iman jemaat semakin merosot.
Paulus juga menasihatkan jemaat di Korintus supaya tetap saling menegor didalam kasih 1 Korintus 4:14 “Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi”. Gereja punya hukum masing-masing sesuai dengan kesepakatan bersama dan tidak bertentangan dengan hakikat Gereja. Namun pada kenyataanya masih ada yang menganggap bahwa hukum Gereja bertentangan dengan hakikat Gereja, dan bahkan ada dua dalil yang sangat membingungkan, Abineno menyatakan, yang pertama “hukum Gereja bertentangan dengan hakikat Gereja” ke dua “hakikat Gereja rohani dan hakikat hukum duniawi”.6 Kelompok ini menganggap hukum gereja hanya sebagai hukum dunia yang menimbulkan banyak masalah dalam kehidupan jemaat.
Hukum pada umumnya dianggap sebagai suatu sarana untuk menata atau mengatur kehidupan bersama. Hukum berusaha mengatur secara damai dan adil hubungan lahiriah antara manusia dan sesamanya. Akan tetapi, tidak semua orang dapat menjalankan hukum itu yang pada khususnya adalah hukum Gereja, dan bahkan ada sebagian orang yang bersungut-sungut adanya hukum atau tata tertib di dalam Gereja sehingga banyak hukum Gereja yang tidak Alkitabiah, Gintings menyatakan, “ada Gereja yang berulang-ulang melakukan hukum Gereja yang salah”.7 Hukum Gereja merupakan hukum yang harus ditaati oleh jemaat supaya dapat hidup dalam kekudusan Tuhan, 1 petrus 1:16 “kuduslah kamu sebab, sebab aku kudus”.
Pemerintah Gereja tidak sesuka hati untuk memberikan aturan atau hukum Gereja, tentunya harus berdasarkan Alkitab dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam lingkungan kekristenan. Namun, pada kenyataannya Gintings menyatakan, “Bart tidak mau memberikan tata Gereja yang lengkap. Ia juga tidak mau memberikan garis-garis besar dari hukum Gereja umum, sebab menurutnya itu juga tidak ada”.8 Mestinya hal ini menjadi satu pertanyaan, karena hukum Gereja untuk ditaati dan bukan untuk diabaikan, dan pentingnya hukum gereja tidak dapat diterapkan sebagaimana mestinya karena pernyataan tersebut, sebaiknya pentinya hukum gereja mesti diterapkan karena Kristus adalah kepala Gereja maka sudah sewajarnya manusia dapat taat kepada aturan Gereja.
Penerapan hukum gereja menurut Matius 18:15-17, dapat dilakukan kepada anggota jemaat jika telah melakukan kesalahan. Yesus memberikan perintah kepada setiap orang supaya saling menegor dengan langkah-langkah yang telah ditentukan dan
5Louis Berkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Gereja (Surabaya: Momentum, 1997), 53.
6Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2006), 14.
7Gintings, Apakah Hukum Gereja, 44.
8Gintings, Apakah Hukum Gereja, 48.
tidak bertentangan terhadap kasih Kristus, yang pertama adalah dengan menegor dibawah empat mata, jika tidak mendengarkan maka di bawa kepada satu atau dua orang lagi, namun jika tidak mau mendengarkan lagi maka persoalannya akan disampaikan kepada jemaat dan dikenakan sanksi atau disiplin gereja.
Hukum gereja memiliki keunggulan tertentu dalam pengelolaannya, terlihat dari perannya hukum gereja yang dapat menertibkan anggota jemaatnya dan juga dapat mendewasakan iman jemaat. Namun selain keungulan tersebut tentunya hukum gereja juga memiliki kekurangan apabila penerapannya tidak sesuai dengan ajaran firman Tuhan atau bertentangan dengan kasih Allah, Malcolm menyatakan bahwa “norma- norma memerlukan kasih supaya bisa dipakai secara terbuka menurut kebutuhan orang- orang. Harus diakui bahwa dalam gereja hukum-hukum kadang-kadang diterapkan tanpa kasih yang cukup.”9 Apabila hal-hal seperti ini tidak diperhatikan maka semestinya hukum gereja berdampak negative bagi orang-orang tertentu yang tidak memahami betapa besar kasih Allah yang sesungguhnya dan mengakibatkan mereka menjauh dari persekutuan peribadatan jemaat dan malas untuk kegereja. Seperti pendapat Malcolm dalam bukunya pengambilan keputusan etis dan factor-faktor di dalamnya, ”orang-orang dapat dijauhkan dari Kristus oleh orang-orang Kristen yang memegang teguh hukum-hukum tetapi kurang mengasihi. Orag yang mematuhi hukum- hukum tanpa mengasihi akan menghakimi sesamanya dan tidak menolongnya.”10
Menurut pengakuan gereja yang benar adalah gereja yang melakukan adalah gereja yang sepenuhnya percaya, memelihara kesatuan gereja serta tunduk kepada pengajaran dan disiplinnya seperti pernyataan Van den End dalam bukunya enam belas dokumen dasar Calvinis yaitu:
1. Kita percaya
Karena perkumpulan yang kudus ini adalah perhimpunan orang-orang yang diselamatkan, dank arena diluarnya tidak ada keselamatan, maka tidak seorang pun - bagaimanpun tingkat dan kualitasnya – patut mengasingkan diri untuk berdiri sendiri dengan seenaknya. Sebaiknya, mereka semua harus bergabung dengan perkumpulan ini dan bersatu dengannya.
2. Memelihara kesatuan gereja
3. Tunduk kepada pengajaran dan disiplinnya, dan menundukkan tengkuknya dibawah kuk Yesus Kristus, mereka harus melayani pembinaan saudara-saudara, menurut karunia-karunia yang dianugerahkan Allah kepadanya, sebagai orang yang bersama-sama menjadi anggota satu tubuh.11
Percaya kepada kedaulatan Tuhan diiringi dengan memelihara kesatuan gereja dan tunduk kepada pengajaran dan disiplin yang diterapkan oleh sebuah gereja merupakan suatu ciri khas gereja yang benar. Bertolak belakang dengan pernyataan Charles dalam bukunya teologi dasar 2:
Gereja memiliki ciri khas yang sesuai dengan maksud Allah. Meskipun Allah telah mempertalikan Diri – Nya dengan kelompok-kelompok yang lain, namun kegiatan-Nya
9Malcolm Brownlee, Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-Faktor di Dalamnya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 209.
10Malcolm Brownlee, Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-Faktor di Dalamnya, 209.
11Van den End, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinis, 44.
dengan gereja tetap memiliki cirri khas. “Aku akan datang mendirikan jemaat-Ku,”
firman Tuhan, dan itu adalah pekerjaan-Nya yang khusus pada masa kini. Perkataan Kristus tersebut menunjukkan beberapa cirri khas tentang gereja: (a) gereja merupakan karya setelah kehidupan-Nya dimuka bumi; (b) gereja tidak sama dengan kerajaan yang juga diajarkan-Nya; (c) gereja jelas berbeda dengan teokrasi atas Israel.12
Demikian ada dua pendapat tentang ciri khas gereja yang betolak belakang.
Namun, pada dasarnya semua ciri khas gereja yang benar adalah sesuai dengan firman Tuhan. Walaupun itu berhubungan dengan hukum gereja, karna hukum gereja adalah berdasarkan Alkitab dan Firman Tuhan itu sendiri.
Namun sejauh ini ada banyak pemimpin-pemimpin yang kurang menguasai sepenuhnya tentang aturan-aturan gereja sehingga sulit untuk memberikan sebuah teladan untuk anggota jemaat yang lain, dengan adanya hal demikian maka pelaksanaan aturan dalam gereja pun otomatis tidak berjalan sebagai mana mestinya. Karya ini akan memberikan pemahaman supaya Gereja dapat menerapkan hukum atau kaidah-kaidah yang berlaku dalam lingkungan kekristenan, sehingga dapat dilihat dengan jelas arti Signifikansi Penerapan Hukum Gereja Bagi Pertumbuhan Iman Jemaat.
B. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah di atas penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana hakikat, sejarah dan sumber hukum gereja?
2. Bagaimana signifikansi penerapan hukum Gereja bagi pertumbuhan iman jemaat?
3. Apa dampak hukum Gereja terhadap orang percaya masa kini?
12Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 2 (Yogyakarta: Penerbit Buku dan Majalah Rohani (PBMR) ANDI, 1992), 188.
BAB II
HAKIKAT SEJARAH DAN SUMBER HUKUM GEREJA
Dalam bab ini penulis akan membahas Hakikat, sejarah dan sumber hukum gereja dengan menguraikan beberapa hal antara lain: Pengertian hukum gereja, tujuan hukum gereja, dasar alkitab hukum gereja.
A. HAKIKAT HUKUM GEREJA 1. Pengertian Gereja
Gereja merupakan tempat persekutuan orang percaya yang terpanggil dari kegelapan menuju terang. Louis Berkhof dalam bukunya Teologi Sistematika 5 (Doktrin Gereja) menyatakan bahwa dalam Perjanjian Lama ada dua istilah yang menunjuk kepada gereja yaitu “qahal (kahal), yang diturunkan dari akar kata yang sudah tidak dipakai lagi yaitu qal (kal), yang artinya “memangil”; dan ‘edhah yang berasal dari kata ya’adh yang artinya “memilih” atau “menunjuk” atau “bertemu bersama-sama disuatu tempat yang telah ditunjuk”.13 Gereja menurut Perjanjian Lama yang dinyatakan oleh Berkhof yaitu tempat bertemunya orang-orang yang terpanggil atau yang terpilih di suatu tempat yang sudah ditentukan. Dilanjutkan dengan buku yang sama menurut Perjanjian Baru yang juga memiliki dua kata yang diambilnya dari Septuaginta, yaitu ekklesia yang berasal dari kata –ek dan kaleo, yang artinya
“memanggil keluar”, dan kata sunagoge, dari kata sun dan ago yang berarti “datang atau berkumpul bersama”.14
Selain itu ada juga pandangan yang menyatakan bahwa gereja adalah sebuah lembaga dan juga gereja sebagai persekutuan. Abineno dalam bukunya Pokok-Pokok Penting Dari Iman Kristen menyatakan “pandangan yang lebih mengutamakan gereja sebagai lembaga, khususnya sebagai “lembaga keselamatan”. . . ia melanjutkan pendapatnya ”gereja sebagai lembaga ilahi yang harus dihormati, dipelihara dan dibela dengan segala tenaga”.15 Bertolak belakang dari pendapat George W. Peters dalam bukunya teologi pertumbuhan gereja mengatakan,
Gereja bukan suatu lembaga atau organisasi buatan manusia. Gereja tidak dapat dibangun dengan teknik-teknik dan metodologi semata. Gereja pada hakikatnya adalah organism yang dilahirkan oleh Roh Allah pada hari Pentakosta (Kis. 2). Ia bukan merupakan gejala alamiah dari sejarah; sejarah sendiri tidak memberikan kontribusi baginya. Melalui pemeliharaan-Nya, Allah menetapkan masa tersebut dalam sejarah untuk kedatangan dan perkembangannya yang cepat (Gal. 4:4).
Tetapi yang melahirkan gereja bukan sejarah. Tidak ada cara alamiah yang dapat menjelaskan kehadiran gereja di dunia ini. Ia adalah ciptaan ilahi, sebuah rahasia, manusia baru yang muncul dalam arena (Ef. 2:10,15), karena Allah bertindak dalam sejarah.16
13Louis Berkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Gereja (Surabaya: Momentum, 1997), 5.
14Berkhof, Teologi Sistemastika, Doktrin Gereja, 5.
15Abineno, Pokok-Pokok Penting Dari Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 194.
16G.W.Petters, Teologi Pertumbuhan Gereja (Malang: Gandum Mas, 2002), 66.
Pernyataan di atas berdasarkan Kisah Para Rasul 2 pada hari turunnya Roh Kudus gereja merupakan tempat berkumpulnya semua orang percaya di satu tempat (ay 1).
Kemudian semua orang percaya tersebut menyaksikan apa yang terjadi pada saat itu.
Brink mengatakan “mereka tidak tahu bagaimana “hal” itu akan terjadi, tetapi karena percayanya, mereka membuka hati mereka untuk segala sesuatu yang akan datang.”17 kemudian disusul dalam Galatia 4:4 yang menyatakan bahwa Allah sendiri yang mengutus AnakNya yang lahir dari seorang perempuan, ayat ini merupakan bukti penyertaan Tuhan bagi jemaatnya.
Selanjutnya, Peters mengutip dalam bukunya Biblical Theology of Missions, ada beberapa pernyataan mengenai gereja diantaranya yaitu:
a. Gereja adalah perhimpunan orang-orang percaya yang sudah dibaptis b. Gereja adalah sebuah badan yang tetap beranggotakan orang-orang percaya c. Gereja adalah satu kesatuan tubuh beranggotakan orang-orang percaya d. Gereja adalah suatu persaudaraan beranggotakan orang-orang percaya
e. Gereja adalah sebuah persekutuan orang-orang percaya yang menerapkan disiplin
f. Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang memberikan kesaksian g. Gereja adalah suatu persekutuan orang-orang percaya yang beribadah18 Gereja memiliki banyak pengertian yang ditimbulkan oleh beberapa para ahli dan tentunya semua berdasarkan pemahaman yang akurat dan paham alkitabiah seperti pernyataan di atas yang memiliki banyak keragaman arti.
Secara teologis gereja juga bisa diartikan sebagai “persekutuan orang-orang yang dipilih, dipanggil dan ditempatkan di dunia ini untuk melayani Allah dan melayani manusia, dan juga sebagai umat Allah, yang “keluar dari dalam kegelapan kepada terangnya yang ajaib” untuk memberitakan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar”19
Demikian beberapa pernyataan di atas mengenai Gereja sehingga dapat terlihat dengan jelas dalam poin bagian E bahwa gereja adalah tempat persekutuan orang percaya yang menerapkan disiplin dan lebih spesifiknya yaitu hukum gereja atau tata gereja dan disusul dengan pernyataan gereja secara teologis yang berarti hukum gereja harus sejalan dengan kasih Tuhan.
2. Pengertian Hukum
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hukum merupakan peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah, hukum juga peraturan yang mengatur pergaulan hidup masyarakat. . . dilanjutkan dengan hukum gereja yang merupakan hukum yang berkenaan dengan kehidupan yang berdasarkan ajaran Kristen.20 Pandangan yang sama dinyatakan oleh Berkhof, “hukum adalah peraturan hidup bagi orang percaya yang mengingatkan mereka dan membawa mereka kejalan hidup dan keselamatan.”21 Keragaman pengertian
17Brink, H.v.d, Tafsiran Alkitab Kisah Para Rasul (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 31.
18Petters, Teologi Pertumbuhan Gereja (Malang: Gandum Mas, 2002), 71.
19Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 2.
20Kamus Besar Bahasa Indonesia Online
21Berkhof, Teologi Sistemastika, Doktrin Gereja, 120.
hukum yang tercantum di atas membuat anggota jemaat semakin mengerti dan memahami hukum tersebut.
Hukum memiliki kegunaan tertentu, seperti pernyataan Berkhof dalam bukunya Doktrin Gereja yaitu ada tiga hal:
a. Usus politicus atau Civilis. Hukum bertujuan untuk mencegah dosa dan memberikan kebenaran. Jika kita melihatnya dari sudut pandang ini, maka hukum member pra-anggapan dosa dan harus berdasarkan timbangan dosa.
Hukum berusaha mencapai tujuan anugrah umum Allah dalam dunia secara keseluruhan. Hal ini berarti bahwa dari sudut pandang ini hukum tidak dapat dilihat sebagai alat anugerah dalam pengertian teknis.
b. Usus elenhiticus atau pedagogicus. Dalam hal ini hukum berusaha mencapai tujuan untuk membawa manusia pada kesadaran akan dosa dan menjadikan manusia sadar akan ketidakmampuannya untuk memenuhi tuntutan hukum.
Melalui cara ini hukum menjadi penuntun manusia dan membawanya kepada Kristus sehingga dengan demikian hukum menjadi alat Tuhan untuk melaksanakan maksud mulia penyelamatan atas manusia.
c. Usus didacticus atau normatius. Kegunaan ini disebut sebagai tertius usus legis, atau kegunaan hukum yang ketiga. Hukum adalah peraturan hidup bagi orang percaya yang mengingatkan mereka akan tugas-tugas mereka dan membawa mereka kejalan hidup dan keselamatan. Kegunaan hukum yang ketiga ini di tentang oleh Antinomian.22
Demikian pernyataan yang mengandung tiga kegunaan hukum ataupun tujuan dari hukum yang berbeda-beda yang semakin menguatkan bahwa hukum sangat penting untuk dipelajari dan di terapkan sebagaimana adanya sesuai dengan aturan yang telah ditentukan.
22Berkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Gereja, 120.
3. Pengertian Hukum Gereja
Gereja merupakan tempat persekutuan orang percaya yang di dalamnya menganut pengajaran Alkitab yang penuh kasih, namun tidak terlepas juga dengan peraturan atau disiplin Gereja yang biasa dikenal sebagai Hukum Gereja. Ada beberapa pendapat para ahli yang berbeda-beda tentang hukum gereja.
1. Seorang teolog yang ternama dalam abad yang ke 17 – G. Voetius dalam karyanya Pilitica Ecclesistica – menyebut hukum gereja “ilmu yang suci tentang pemerintahan gereja yang kelihatan”.
2. Sesuai dengan pandangan ini seorang teolog lain dalam abad kita (abad ke- 20) – H. Bouwman dalam karyanya Gereformeerde kerkrecht - berkata-kata tentang “hukum gereja yang berlaku dan yang harus berlaku” dalam gereja sebagai “lembaga”.
3. Berbeda dengan kedua pandangan diatas seorang teolog lain, dalm abad ke- 20 – Th. Haitjema dalam karyanya Nederlands Hervormde Kerkrecht – tidak mau berkata-kata tentang hukum gereja, tetapi tentang “orde” atau
“peraturan” dalam hidup dan pelayanan gereja.
4. Juga H. Berkhof – dalam karyanya Christelijk Geloof - lebh suka berkata- kata tentang “peraturan” atau “tatagereja” dari pada tentang hukum gereja.23
Menurut Abineno “Hukum gereja ialah ilmu yang mempelajari dan menguraikan segala peraturan dan penetapan yang digunakan oleh gereja untuk menata atau mengatur hidup dan pelayanannya di dalam dunia”.24 Dengan adanya Hukum Gereja maka sudah bisa ditebak jikalau Gereja tersebut terlihat akan disiplin dan teratur. Pendapat yang berbeda yang di ungkapkan oleh Bolkestein yang dikutip oleh Gintings yaitu “Hukum gereja adalah bagian ilmu teologia, dimana kita mencari peraturan tentang perbuatan dan hidupnya gereja, sehingga wujud gereja sebagai tubuh Kristus dapat dinyatakan sebaik-baiknya.”25 Dengan demikian hukum gereja sangat berperan penting untuk mewujudkan sebuah gereja yang utuh sehingga gambaran Kristus dapat terlihat dalam kehidupan dan pertumbuhan iman jemaat dalam sebuah gereja.
Hukum gereja juga tidak dapat disamakan dengan hukum atau aturan Negara, dan juga hukum-hukum dalam organisasi yang lain. Abineno menyatakan bahwa “peraturan gereja tidak sama dengan undang-undang Negara dan tidak sama juga dengan peraturan-peraturan yang dipakai dalam lembaga-lembaga politik, ekonomi dan sosial.”26 Oleh karena Hukum gereja pada umumnya dibuat berdasarkan Alkitab, maka idealnya diterapkan dengan penuh kasih Kristus dan juga menganut doktrin Kristus seperti pernyataan Abineno dalam bukunya Garis-garis besar hukum gereja “Hukum gereja harus didasarkan atas suatu pemahaman kristologis-ekklesiologis tentang gereja”.27 Paham yang sama yang dinyatakan oleh Barclay yaitu:
23Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 1.
24Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja, 1.
25Gintings, Apakah Hukum Gereja, (Bandung: Jurnal Info Media, 2009), 9.
26Abineno, Pokok-Pokok Penting Dari Iman Kristen, 204.
27Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja, 32.
Karena persoalan yang sama tidak pernah diselesaikan dengan menempuh hukum, atau oleh argumentasi yang tidak kristiani. Legalisme hanya menghasilkan persoalan lebih lanjut. Dalam suasana doa kristianilah, kasih kristiani, persekutuan kristiani, hubungan-hubungan pribadi dapat diluruskan kembali.
Asumsi yang jelas ialah bahwa persekutuan gereja bersifat Kristen, dan ingin menghakimi segala sesuatu, bukan didalam terang buku peraturan tata tertib dan prosedur, melainkan didalam terang kasih.28
Maka dari itu sudah jelas bahwa hukum gereja atau tata tertib gereja itu bersifat kasih.
4. Tujuan Hukum Gereja
Hukum gereja bertujuan untuk mendisiplinkan warga jemaat dan juga untuk membuat jemaat semakin lebih dewasa dan dapat membarui setiap tingkah laku yang salah. Seiring dengan berjalannya hukum gereja, oleh karena itu ada beberapa tujuan hukum gereja ialah:
a. Untuk Menghormati Nama Tuhan
Menghormati nama Tuhan adalah penting dalam kekristenan. Yohanes 8:49, jawab Yesus: “Aku tidak kerasukan setan, tetapi Aku menghormati Bapa-Ku dan kamu tidak menghormati Aku.” Dalam ayat ini sangat jelas bahwa semua umat Kristen yang percaya kepada Tuhan semestinya menghormati nama Tuhan itu sendiri.
Gereja adalah tempat untuk menyembah, memuji, memuliakan dan menghormati nama Tuhan, dan tentunya ada aturan-aturan yang berlaku dalam gereja sehingga jemaat dapat menghormati Tuhan lewat perbuatan-perbuatan rohani. Namun ada pemberontakkan yang menimbulkan perpecahan dalam gereja sehingga banyak pertentangan yang membuat gereja menjadi kendor dalam menghormati nama Tuhan.
Van Den End menyatakan, “adanya ajaran bidat yang menimbulkan perpecahan, pemberontakan terhadap tata tertib gerejawi”.29 Jelas bahwa pendapat seperti ini akan membuat jemaat jauh dari pada apa yang semestinya menjadi perintah Yesus dalam Injil Yohanes 8:49.
b. Untuk Menjaga Kekudusan Jemaat
Menjaga kekudusan jemaat dalam gereja juga tidak kalah penting dari poin di atas. 1 Tesalonika 4:7 “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus” dalam hal ini kekudusan itu dapat memelihara kehidupan jemaat supaya tidak mencemarkan kekudusan Tuhan melalui tindakan-tindakan yang tidak baik.
Hukum gereja merupakan sebuah sarana untuk mengatur kehidupan jemaat supaya mendapat keadilan baik dalam hubungannya kepada sesama anggota jemaat maupun hubungannya kepada Tuhan. Namun banyak orang yang masih belum
28William Barclay, New Testament Words (Westminster: John Knox Press, 2000), 299-300.
29Van Den End, Enam Belas Dokumen Calvinisme (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2000), 344.
sepenuhnya melaksanakan hukum gereja itu sendiri, bahkan ada yang melaksanakan hukum gereja yang salah sehingga sikap untuk menjunjung tinggi kekudusan dalam hal ini akan menurun. Gintings mengatakan “ada gereja yang berulang-ulang melakukan hukum gereja yang salah”. . .ia melanjutkan dengan mengutip pendapat Abineno bahwa Abineno mengakui hal itu sudah terjadi dan harus diajukan sebagai kritik, tetapi kritik itu tidak boleh memimpin kita kepada penolakan hukum gereja.30 Penerapan Hukum gereja semestinya tidak dapat di tolak supaya jemaat dapat tetap hidup didalam kekudusan Tuhan, 1 Petrus 1:16 “Kuduslah kamu sebab, Aku kudus.”
c. Pertobatan Orang yang Telah Berdosa
Hukum gereja yang selanjutnya bertujuan untuk membimbing jemaat yang telah berdosa untuk bertobat dan meninggalkan perbuatan yang salah. Seperti pernyataan Gintings dalam bukunya Apakah Hukum Gereja bertujuan supaya setiap orang berdosa itu menginsafi kejahatannya, agar berubah sikap dan kembali ke jalan yang benar.31 Yehezkiel 33 : 11 “katakanlah kepada mereka: demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup.
Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu kan mati, hai kaum Israel? Sehubungan dengan ayat di atas maka hukum gereja tersebut bertujuan juga untuk mendorong jemaat untuk bertobat, meninggalkan setiap kelakuan yang fasik sehingga Tuhan berkenan kepada jemaat.
Seiring dengan berjalannya hukum gereja, siasat gereja juga tidak kalah penting karena hukum dan siasat gereja diberlakukan secara seimbang dan hubungan keduanya tidak bertentangan. Siasat gereja merupakan salah satu bagian dari hukum gereja yang bertujuan supaya setiap orang berdosa itu menginsafi kejahatannya, agar berubah sikap dan kembali ke jalan yang benar.
Hukum gereja ialah tata gereja yang berarti hukum dan tata gereja berjalan seimbang dalam melaksanakan fungsinya. Tata gereja dalam sebuah gereja berfungsi untuk menciptakan suasana sopan dan teratur,32 sehingga dalam sebuah gereja yang kelihatan yaitu kedamaian dan ketentraman. Tuhan Yesus Kristus menginginkan kesopanan dan keteraturan dalam jemaat “tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur (1 Kor. 14:40)”.
Pertobatan orang berdosa tentunya banyak perbuatan-perbuatan yang mestinya ditinggalkan oleh jemaat atau umat Kristen itu sendiri. Gintings dalam bukunya apakah hukum gereja menambahkan lima perbuatan dosa yang mesti dihindari, diantanya yaitu : pertama sodomi, kedua bestialiteit (kebinatangan), ketiga pelanggaran hukum ketujuh, keempat perkosaan anak gadis, kelima lesbian.33
Selain itu, Berkhof juga mengemukakan tujuan hukum gereja ada dua yaitu
“pertama berusaha untuk melaksanakan hukum Kristus berkenaan dengan penerimaan
30Gintings, Apakah Hukum Gereja, 44.
31Gintings, Apakah Hukum Gereja, 99.
32Locher,G.P.H, Tata Gereja Gereja Protestan Di Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 218.
33Gintings, Apakah Hukum Gereja, 90.
dan penolakkan atas anggota, kedua untuk memberikan pendidikan spiritual kepada anggota gereja dengan cara memastikan ketaatan mereka atas hukum kristus”34
5. Dasar-dasar Alkitabiah Hukum Gereja
Hukum gereja ialah segala yang berhubungan dengan tata gereja dan disiplin gereja. Walaupun demikian semua tidak terlepas dengan dasar alkitabiah. Dalam hal ini alkitab bukan sebagai pengatur hukum akan tetapi sebagai dasar atau fondasi kasih karena peraturan-peraturan gereja mempunyai sifat yang lain yaitu kasih dan peraturan itu hanya sebagai alat dan wahana kasih Kristus dan wahana Roh Kudus.35
a. Matius 18:15-17
Berdasarkan matius 18:15-17 Yesus memberikan perintah tentang perihal menasihati sesama saudara. Penerapan hukum gereja menurut Matius dapat dilakukan kepada anggota jemaat yang telah melakukan kesalahan dan disertai dengan tahapan- tahapan yang telah ditentukan. Mengenai pasal 18, Heer menyatakan:
Pasal 18 biasanya dinamai kumpulan peraturan-peraturan Yesus bagaimana anggota jemaat Kristen harus bergaul dengan anggota-anggota lain dalam jemaat itu. Atau lebih pendek: peraturan-peraturan tentang jemaat. Pengarang injil Matius suka menyebut ajaran-ajaran dan perbuatan Yesus dengan cara yang sistematis. Mungkin justru susunan yang sistematis itu Injil Matius banyak dipakai di gereja dan ditempatkan dimuka buku-buku injil yang lain.36
b. 1 Korintus 4:14
Berdasarkan 1 Korintus 4:14, rasul Paulus berkata “Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi.” Rasul Paulus dalam ayat ini memberikan sebuah nasihat supaya tetap saling menegor dengan landasan kasih dan bukan dengan tujuan mempermalukan.
c. 1 Korintus 14:40
Dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Kor 14:40) “tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” Paulus menasihatkan jemaat supaya segala sesuatu yang dilakukan didalam gereja, termasuk hukum gereja mestinya dilaksakan secara teratur dan sopan.
d. 1 Petrus 1:16
Dalam surat Petrus 1:16 berkata “Sebab ada tertulis: kuduslah kamu sebab aku kudus.” Memberikan sebuah nasihat kepada jemaatnya untuk tetap kudus. Demikian juga dengan hukum gereja mestinya dilakukan dengan kekudusan sehingga tidak menimbulkan ketidak adilan dalam pelaksanaannya, semua didasarkan dengan kasih dan kekudusan Tuhan
34Berkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Gereja, 91.
35Gintings, Apakah HUkum Gereja, 51.
36J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab Injil Matius Pasal 1-22 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 351.
B. SEJARAH HUKUM GEREJA
Gereja pada umumnya mempunyai peraturan-peraturan tersendiri. Edward Schweizer dalam bukunya “Jemaat dan peraturan jemaat dalam perjanjian baru” (1959) yang dikutip oleh Abineno dalam bukunya Garis-garis besar hukum gereja menyatakan bahwa “gereja dari mulanya telah mempunyai peraturan-peraturan sendiri.37 Dengan demikian sejarah hukum gereja juga telah ada sejak semula dan dalam sejarah tersebut mempelajari timbulnya lembaga-lembaga gerejawi dan perkembangan historis dari lembaga-lembaga gerejawi itu.38
1. Tahun 303-380
Dari tahun ke tahun tentunya banyak perkembangan sejarah tentang hukum gereja itu sendiri dan menimbulkan banyak perubahan. Perubahan itu dapat dilihat sebagai berikut:
a. Seperti kita ketahui,bahwa sampai abad III gereja hidup sebagai suatu persekutuan yang dimusuhi dan di siksa. Terutama dibawah pemerintahan Kaisar Diocletianus dan pengganti-penggantinya (dari tahun 303-311) Gereja hamper-hampir tidak dapat menanggung beratnya siksaan itu.
b. Tetapi pada tahun 312 datang perubahan dalam situasi itu. Kaisar Constantinus (yang dalam hatinya mungkin telah bertobat dan menjadi Kristen) berhasil merampas kekuasaan disebelah barat dari iparnya, Lucianus dan kekuasaan disebelah timur dari kerajaan Romawi. Pada tahun yang berikutnya – tahun 313 - keduanya mengeluarkan “keputusan Milan”
antara lain memberikan kebebasan penuh kepada gereja.
c. Keputusan yang penting ini kemudian diikuti oleh peraturan-peraturan lain – seperti aturan untuk menerima warisan, peraturan tentang bantuan untuk mendirikan gedung-gedung ibadah, dan lain-lain - yang sangat menguntungkan gereja. Keuntungan ini makin bertambah besar, waktu Constantinus mengalahkan Lucianus – pada tahun 324 – dan sendirian memegang kendali pemerintahan.
d. Akhirnya – pada tahun 380 – gereja diresmikan oleh Kaisar Teodius menjadi Gereja Negara. Oleh peresmian ini, gereja mulai menata (mengorganisasi) dirinya dan perlahan-lahan menyusun suatu “hukum kanonik”, yang bukan saja mencakup peraturan-peraturan untuk hidup kegerejaan, tetapi juga untuk perkawinan, untuk warisan, untuk milik gereja, untuk pelanggaran-pelanggaran, dan lain-lain.39
Demikian sejarah singkat sejarah hukum gereja dari tahun 303-380 yang memiliki begitu banyak perbedaan dan perubahan dan perkembangan.
37Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja, 11.
38Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja, 7.
39Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja, 11-12.
2. Tahun 380-1500
Kemudian dari tahun 380-1500 mengalami perubahan dan perkembangan yang berbeda dengan munculnya Dionysius
a. Pada permulaan abad VI Dionysius Exiguus dari Roma mempersatukan keputusan-keputusan dari sinode-sinode dan dekrit-dekrit dari para kaisar dalam dua koleksi, yang kemudian digabungkan menjadi satu dan disebut Corpus canonum atau juga Collectio Dionysiana. Dalam gereja di spanyol koleksi ini – yang diintrodusir oleh paus Hadrianus – terkenal dengan nama Dionysio-Hadriana.
b. Sebelum “Dionysio-Hadriana” Gereja di Spanyol telah mengenal suatu kitab hukum yang lain dengan nama Hispana, yang menurut orang berasal dari Uskup Isidorus dari Sevilla (abad VII).40
3. Tahun 1500-abad 19
Adapun perkembangan sejarah hukum gereja dari tahun ke tahun semakin pesat, sehingga dengan timbulnya reaksi yang datang dengan reformasi seperti diketahui bahwa dengan munculnya Luther yang secara jelas menolak adanya hukum kanonik seperti yang dinyatakan Abineno dalam bukunya Garis-Garis Besar Hukum Gereja:
“Luther – seperti kita tahu – menolak hukum kanonik yang dianggapnya sebagai suatu alat tirani dari paus. Secara demonstrative ia – pada tanggal 10 Desembar 1520 – membakar “Corpus luris Canonici” di Wittenberg. Hanya oleh pemberitaan yang murni dari Firman Allah yang hidup gereja – menurut dia – dapat ditata atau di atur.”41
4. Abad 19-sekarang
Pada abad ke-19 perkembangan sejarah hukum gereja dikelola secara modern dan ilmiah. Menurut Abineno “Baru dalam abad ke- 19 pengelolaan hukum gereja dilakukan secara modern dan ilmiah. Terutama Jerman memainkan peranan penting dalam hal ini.
Ahli-ahli disitu menentang hukum alamiah yang abstrak dari pencerahan.”42 Bagian ini merupakan pendekatan sejarah dan pemimpin itu sendiri dan ada beberapa Ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai pendekatan sejarah itu sendiri:
a. Ahli pertama di Jerman, yang menerapkan metode historis pada hukum gereja ialah K.F. Eichhorn (1781-1854). Ia berusaha menjelaskan perkembangan hukum gereja dari “ajaran umum”gereja, tetapi ia sendiri belum seluruhnya bebas dari praduga-praduga rasionalistis.
b. A.L. Richter (1808-1864) sebaliknya – dalam perjalanannya – member dirinya dipimpin oleh pengakuan gereja. Ia bertolak dari tatagereja-tatagereja reformatories dari abad ke-16. Karyanya tentang hukum gereja katolik dan evangelis – dengan judul Lechburh des katholichen un evangelischen
40Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja, 13.
41Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja,13.
42Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja, 17.
kirchen mit bisonderer Rucksicht aut deutsche Zustӓnde (1843) – merupakan buku - pengajaran yang lama sekali digunakan.
c. Banyak ahli hukum gereja di Jerman mengikuti jejak Richter. Mereka banyak menghasilkan karya yang bermanfaat dari penelitian dan publikasi- publikasi mereka. Salah satu diantaranya ialah Emil Sehling (1860-1928), yang mengusahakan Die evangelischen Kirchenordnungen des 16.
Jahrhunderts, yang terdiri dari 5 jilid. Dilanjutkan oleh suatu lembaga untuk hukum gereja evangelis di Gӧttingen.43
Demikian beberapa pendapat para ahli diatas yang menimbulkan banyak perkembangan dan pemahaman yang lebih luas kepada gereja-gereja masa kini namun tetap kembali kepada pemahaman dasar Alkitabiah supaya pelaksanaan disiplin atau hukum gereja tepat seperti kasih yang di perintahkan Yesus.
C. SUMBER-SUMBER HUKUM GEREJA
Penyusunan hukum gereja tidak sesuka hati di buat oleh pemerintahan gereja, tentunya memiliki dasar dan sumber yang kuat dan tetap tidak terlepas dari dasar Alkitab.
43Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja, 17.
1. Alkitab
Salah satu sumber hukum gereja yang dapat dipertanggungjawabkan yaitu secara alkitabiah. Abineno memberikan pernyataan dalam bukunya Gintings yaitu:
a. Peraturan-peraturan gereja yang baik ialah peraturan-peraturan gereja yang secara prinsipil mengakui kedewasaan dan imamat am orang percaya. Semua warga diberikan tempat dapat menunaikan tugas sebagai umat Allah.
b. Peraturan-peratura gereja yang baik ialah peraturan-peraturan yang menolak pertentangan yang prinsipil antara kaum rohaniawan dan kaum awam.
c. Peraturan-peraturan gereja yang baik adalah peraturan-peraturan gereja yang menolaksebutan imam dalam arti khusus untuk pejabat-pejabat gereja, sebab sebutan itu bertentangan dengan kesaksian perjanjian baru. Kultus imam dalam perjanjian lama sudah digenapi dalam diri Yesus Kristus.
d. Peraturan-peraturan gereja yang baik adalah peraturan-peraturan gereja yang tidak menganggap dan memperlakukan pendeta jemaat sebagai hamba tetapi sebagai pelayan firman Allah (verbi divini minister) yang tugasnya menjelaskan firman Allah (hermenet), “merepresenter” Kristus bagi dunia dan jemaat (bdk. Luk. 10:16; Gal. 1:11; 2 Kor. 5:20). Namun ia tetap berdiri didalam jemaat dan disamping, diantara anggota-anggota gereja yang lain;
tapi bukan berdiri diatas jemaat.
e. Peraturan-peraturan gereja yang baik ialah peraturan-peraturan gereja yang bersifat “Kristosentris”, bukan aristokratis dan bukan juga demokratis, yang memerintah gereja adalah Kristus, bukan orang-orang tertentu dalam gereja dan bukan juga jemaat.
f. Peraturan-peraturan gereja yang baik ialah peraturan-peraturan gereja yang memberikan tempat yang sentral kepada peranan firman dan Roh Kudus dalam hidup dan pekerjaannya.
g. Peraturan-peraturan gereja yang baik adalah peraturan-peraturan gereja yang tidak memberikan peluang kepada pemerintah untuk turut campur tangan dalam soal-soal intern gerejawi seperti yang telah pernah terjadi di Jerman pada waktu pemerintahan Adolf Hitler dizaman Nazi.
h. Peraturan-peraturan gereja yang baik ialah peraturan-peraturan gereja yang tidak memberikan peluang kepada majelis yang satu (umpamanya majelis sinode) untuk memerintah dan berkuasa atas majelis yang lain (umpamanya majelis jemaat).
i. Peraturan-peraturan gereja yang baik ialah peraturan-peraturan gereja yang memberikan ruang untuk hibungan dan kerja sama dengan gereja-gereja lain, khususnya gereja-gereja yang hidup dan melayani di daerah (wilayah) dan dalam Negara yang sama.
j. Peraturan-peraturan gereja yang baik ialah peraturan-peraturan gereja yang tidak memutlakan gerejanya dan selalu ingat akan apa yang dikatakan Yesus dalam Yohanes 10:16 “ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini, . . .”
k. Peraturan-peraturan gereja yang baik ialah peraturan-peraturan gereja yang memberikan tempat untuk plurifor. Mitas yang legitim dan untuk eksperimen-eksperimen yang dapat dipertanggung jawabkan. Itu berarti bahwa gereja harus berhati-hati bertindak terhadap anggota-anggota jemaat yang dipengaruhi gerakan kharismatik.
l. Peraturan-peraturan gereja yang baik ialah peraturan-peraturan gereja yang bukan saja mementingkan pendidikan pendeta-pendeta jemaat, tetapi juag mementingkan pendidikan (pembinaan) pejabat-pejabat khusus lainnya terutama pembinaan penatua dan diaken.44
Demikian hal tersebut yang mesti diperhatikan dalam penyusunan hukum gereja, sehingga hukum gereja tidak hanya sekadar dibuat namun menjadi senjata kerohanian yang dipimpin oleh roh kudus.
2. Pengakuan Iman
Pengakuan iman dalam hukum gereja sangat berperan penting. Para penganut Calvinis membentuk disiplin gereja berdasarkan pengakuan iman dan salah satu ciri gereja- gereja Calvinis yaitu pelaksanaan disiplin gereja – yakni penegakkan ketertiban dan pengawasan ajaran maupun perilaku – secara ketat.45 Menurut pengakuan iman gereja Belanda yang menganut paham Calvinis bahwa tata gereja dan disiplin gereja baik adanya apabila dilaksanakan guna memelihara gereja itu sendiri, Van den End menyatakan:
Dalam pada itu, kita percaya, memang berguna dan baik adanya, bahwa mereka yang memerintah gereja menetapkan dan mempertahankan secara bersama tata gereja tertentu, guna pemeliharaantubuh gereja. Namun haruslah mereka berhati- hati agar jangan sampai menyimpang dari apa yang diperintahkan kepada kita oleh Kristus, satu-satunya guru kita. Oleh karena itu, kita menolak segala rekaan manusiawi dan semua undang-undang yang hendak di masukkan orang untuk melayani Allah, dan untuk mengikat serta mengekang hati nurani, dengan cara apapun juga. Jadi, kita hanya menerima apa yang berguna demi memelihara dan menjaga persekutuan dan persatuan, dan untuk mengasuh semuanya dalam ketataan kepada Allah. Untuk itu dibutuhkan pengucilan atau pengasingan dari gereja, yang terjadi menurut Firman Allah, bersama segala sesuatu yang bersangkut-paut dengannya.46
Demikian pernyataan diatas yang perlu diketahui dalam sebuah gereja baik seorang gembala, majelis maupun anggota jemaat. Perlu perhatikan bahwa adanya hukum gereja atau pendisiplinan orang yang telah melakukan kesalahan selalu berdasarkan Firman Tuhan seperti penyataan diatas. Sehingga dalam memberlakukan hukum gereja tidak terjadi kesalahan antara satu dengan yang lain dan melalui hukum gereja tersebut nama Tuhan dapat dipermuliakan baik oleh sesama anggota jemaat maupu orang di luar jemaat.
44 Gintings, Apakah Hukum Gereja, 57-58.
45Jan Sihar Aritonang, Garis Besar Sejarah Reformasi (Bandung: Jurnal Info Media, 2007), 113.
46Van den End, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 47.
BAB III
SIGNIFIKANSI PENERAPAN HUKUM GEREJA BAGI PERTUMBUHAN IMAN JEMAAT
Dalam bab ini penulis akan membahas tentang bagaimana signifikansi penerapan hukum gereja bagi pertumbuhan iman jemaat yang mencakup beberapa hal diantaranya, yaitu: pemulihan jemaat, pengekangan dosa, menjaga kekudusan jemaat, memuliakan Allah, kebaikan orang banyak, pelanggaran yang mendapat disiplin atau hukum gereja, tahapan pelaksanaan hukum gereja dan penerimaan kembali jemaat. Semua ini bertujuan untuk memuliakan Tuhan, menguduskan jemaat dan untuk kebaikan orang banyak.
A. PEMULIHAN JEMAAT
Pemulihan merupakan sebuah cara untuk memperbaiki sebuah kesalahan yang telah terjadi. Contohnya seperti memulihkan keadaan ekonomi yang sudah terlalu menurun sehingga mengakibatkan kemiskinan. Akan tetapi, penulis akan membahas tentang bagaimana memulihkan manusia yang telah melakukan kesalahan dan bagaimana pentingnya penerapan hukum gereja supaya dapat memulihkan atau memperbaiki jemaat supaya lebih dekat kepada Tuhan.
Jemaat yang telah berdosa sudah sewajarnya didisiplinkan dan dipulihkan dari kesalahannya supaya tidak berlarut-larut dalam kesalahan dan dapat mengakibatkan orang lain juga berdosa lewat sikapnya. Salah satu tujuan hukum gereja ialah memulihkan jemaat yang telah jatuh ke dalam dosa. Gereja hendaknya menerapkan disiplin kepada jemaat sehingga jemaat yang telah melakukan pelanggaran dapat menginsafi perbuatannya tersebut. Gintings menyatakan bahwa “tujuan hukum gereja supaya setiap orang berdosa itu menginsafi kejahatannya, agar berubah sikap dan kembali ke jalan yang benar.”47 Dengan demikian, jika disiplin gereja tidak dilaksanakan dalam sebuah gereja tertentu, maka gereja tersebut nyata bahwa tidak menjaga cara hidup, keyakinan dan membiarkannya jatuh kedalam dosa. Ini berakibat fatal yaitu ketiadaan hidup kekal. Oleh karena itu, penting untuk mengajak bertobat seperti dalam 1 Korintus 5:5 “orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.”
Leon Morris memberikan komentarnya dengan menyatakan bahwa ayat ini bukan untuk mempermalukan; dapat dilihat dalam 1 korintus 4:14 tetapi disini kelihatan berbeda
“Earlier Paul was not writing to shame his readers (4:14), but it is different here.
It appears from his treatment of wisdom at the beginning of the letter that the Corinthians prided themselves on theis wisdom. But now the apostle can ask whether they have even one wise man among them. To judge is an aorist infinitive eith the meaning ‘to give a decision’ (rather than ‘conduct a trial’). The word implies not litigation, but ‘an amicable settlement by means of arbitration’
(Grosheide). Between believers is really ‘between his brother’, where we should supply ‘and another’; NIV misses the pont that it is ‘brothers’ people who should be united, who are in dispute.”
47Gintings, Apakah Hukum Gereja, (Bandung: Jurnal Info Media,2009), 99.
“Paulus sebelumnya tidak menulis untuk mempermalukan pembacanya (4:14) tetapi disini berbeda. Kelihatan dari perlakuannya terhadap kebijaksanaan dari awal dari surat sebelumnya bahwa orang-orang Korintus membanggakan diri mereka di atas kebijaksanaan mereka. Tapi sekarang rasul bertanya apakah mereka memiliki satu orang bijak diantara mereka. Untuk menghakimi dengan arti memberi keputusan (dari pada melakukan persidangan) kata tersebut tidak berarti dakwaan, tetapi penyelesaian secara damai di antara orang percaya dimana sesama orang percaya ang berselisih harus bersatu.”48
Sesuai dengan komentar di atas, jelas bahwa hukum gereja bertujuan untuk menyelesaikan setiap persoalan atau memulihkan jemaat. Berusaha memberikan keadilan dan mempersatukan jemaat yang tercerai-berai.
Pemulihan jemaat yang telah berdosa berarti mengajak jemaat untuk meninggalkan dan menghilangkan kelakuan yang tidak baik. Tuhan Yesus menginginkan jemaatnya untuk pulih dan bertobat karena Ia mengasihi jemaatnya itu sendiri. Sama seperti orang tua yang mengasihi anaknya, orang tua tersebut rela menghajar anaknya kapanpun waktunya apabila anaknya itu bersalah (Ams 13:24b)
“tetapi siapa mengasihi anaknya, mengahajar dia pada waktunya”. Menurut Risnawaty Sinulingga “kadangkala didikan, disiplin dan koreksi ini ditujukkan Allah kepada pribadi seseorang atau bagi bangsa Israel.”49 Demikianlah Tuhan menghendaki pemulihan bagi jemaatnya. Gereja dipakai oleh Tuhan untuk membawa pemulihan bagi jemaatnya dengan penuh kasih dan kelemah-lembutan. Galatia 5:22-23 “tetapi buah- buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal- hal itu.” Salah satu yang ditekankan dalam ayat tersebut ialah mengenai kelemahlembutan yang mesti ditunjukkan gereja untuk mengajak jemaatnya kembali ke jalan yang benar. Gunning memberikan komentar tentang ayat ini bahwa “hal-hal yang disebut Paulus di sini tidak mencirikan suatu sikap yang tidak gagah, sikap berserah saja kepada kemauan orang lain, maksudnya juga bukan berusaha menjadi sempurna.”50 Dilanjutkan dalam Galatia 6:1 “saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemahlembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Maksudnya ialah
“dengan demikian juga apabila seseorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka peristiwa itu dapat di salahgunakan untuk kepentingan diri kita, supaya kita sendiri tampak sebagai orang-orang yang baik sekali, sebaliknyalah itu yang terjadi kalau kita sesuai dengan Roh. Karena adalah antara lain kelemahlembutan. . .Ia melanjutkan bahwa kita tidak akan menghukum orang itu buat meninggikan diri kita, tetapi kita akan menolong dia kejalan yang benar, dengan rendah hati, karena kita sendiri bisa jatuh kedalam dosa”51
Demikian kelemahlembutan sangat penting antar jemaat dan juga pemimpin.
48Leon Morris, Tyndale New Testament Commentaries (USA And Canada: Inter-Varsity Press, 1985), 92.
49Risnawaty Sinulingga, Tafsiran Alkitab, Kitab Amsal 1-9 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007),76.
50J.J. Gunning, Tafsiran Alkitab Surat Galatia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 113.
51J.J. Gunning, Tafsiran Alkitab Surat Galatia, 119.
Memulihkan jemaat yang telah berdosa merupakan tugas mulia bagi seorang hamba Tuhan karena memulihkan sama dengan menyelamatkan jiwa orang berdosa dan Yesus telah lebih dulu melakukan hal tersebut. Matius 18:11 “karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang”. D.A. Carson memberikan komentar terhadap Matius 18:11 dengan menyatakan bahwa dalam melayani seseorang yang terhilang, harus dilakukan dengan kasih dan hormat atau respek.52 Craig Blomberg juga memberikan komentar terhadap Matius 18:11 dengan menyatakan bahwa penekanan pada pencarian orang ang hilang adalah pada pencari yang menekankan perlunya sikap rendah hati dalam memperlakukan mereka yang tersesat.53 Itulah sebabnya dalam hukum gereja perlu adanya penekanan dalam memulihkan orang yang telah berdosa, membimbingnya kembali ke jalan yang benar dengan cara yang lemah lembut dan hormat.
B. PENGEKANGAN DOSA
Mengekang merupakan salah satu cara untuk mengendalikan sesuatu untuk menahannya supaya berhenti sampai disitu dan tidak melanjutkannya. Sama hal nya dengan pengekangan dosa yaitu menghentikan atau mengendalikan dosa tersebut supaya dosa tidak menular kepada orang lain, memang bukan. Namun, poin ini juga penting supaya dosa yang telah dilakukan oleh satu orang tidak menular kepada orang lain. Ibrani 12:15: “Jagalah supaya jangan ada seseorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” Dave Hagelberg memberikan komentar tentang ayat ini yaitu “merupakan panggilan bagi kita untuk menjaga diri kita supaya tetap kudus.”54 Dilanjutkan dalam surat Paulus kepada jemaat di 1 Korintus5:6b “bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan.” Demikian hukum gereja memiliki peran penting dalam sebuah gereja supaya dosa yang dilakukan oleh satu orang tidak mempengaruhi kehidupan jemaat lain.
Orang berdosa tidak berkenan di hadapan Tuhan, namun orang berdosa juga tidak dapat disingkirkan begitu saja. Mereka harus diselamatkan dan dosanya mesti dikekang atau hukum gereja mesti berupaya untuk menolong orang tersebut supaya dosanya tidak disalurkan kepada orang lain. Namun, apabila orang berdosa tidak mau tahu tentang apa yang ia lakukan maka dengan tegas semua mesti ada konsekuensinya karena Tuhan tidak menyukai orang berdosa. “orang berdosa harus dilenyapkan dari hadapan Tuhan, sebab hal itu menjijikkan di mata Tuhan.”55 Pemahaman yang sama yang dituturkan oleh Berkhof yang menyatakan tujuan dari hukum gereja yaitu untuk melaksanakan hukum Kristus yang berkenaan dengan penerimaan dan penolakan atas anggota.56 Demikian apabila pengekangan dosa yang dilaksanakan supaya dosa tidak menular kepada orang lain tidak diindahkan oleh yang bersangkutan maka hukum gereja berhak
52D.a. Carson, The Wxpositir’s Bible Commentary. (Michigan: Zondevan Publishing House, 1984), 400.
53Craig Blomberg, The New American Commetary, An Exegetical and Theological Expositian of Hol Scripture. (Tennessee: Broadman Press, 1992), 277.
54Dave Hagelberg, Tafsiran Ibrani Dari Bahasa Yunani (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1996), 66.
55Yusuf Eko Basuki, Kristen Pemenang :Meraih kemenangan Iman dan Strategi Tuhan (Yogyakarta: Garudhawaca, 2014), 75.
56Berkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Gereja, 91.
mendisiplinkan dan menolak orang tersebut, guna memberikan teladan bagi yang lain supaya tidak melakukan kesalahan yang serupa dan bahkan melebihi kesalahan tersebut.
Mengekang dosa sama halnya membuat orang yang telah berdosa menerapkan disiplin dalam hidupnya supaya tidak hidup berlarut-larut dalam keberdosaan, Paulus menasihatkan supaya “mereka yang berbuat dosa hendaklah ditegor di depan semua orang agar yang lain itu pun takut.” 1 Timotius 5:20, Budiman menyatakan bahwa
“paulus menjunjung tinggi jabatan penatua, ia juga menjada kesucian jabatan itu, maka demi kesucian jabatan dan jemaat, penatua ini harus ditegor di depan semua orang, supaya orang-orang yang lain takut untuk berbuat kesalahan yang sama.”57 ayat ini bukan semata-mata untuk menakut-nakuti orang lain, namun baiknya berguna bagi mereka supaya menjadikan pelajaran atas apa yang telah mereka lihat.
Mengekang dosa berarti mencegah dosa tersebut supaya tidak menular kepada orang lain, dan tentunya membutuhkan proses supaya pendisiplinan tersebut berjalan maksimal. Seorang yang mampu mengekang dosa berarti mampu juga menahan atau mengendalikan diri dari godaan yang dapat menyebabkan dosa. 2 Petrus 1:5-6 “justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan.” Dalam ayat tersebut menekankan bahwa seorang Kristen sejati mampu menanamkan dalam pribadinya kebajikan iman dan juga pengendalian diri atau penguasaan diri. Seorang yang dapat menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota (Ams. 16:32) “orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Ayat ini menegaskan bahwa seorang yang mampu menguasai dirinya merupakan seorang pemenang.
C. MENJAGA KEKUDUSAN JEMAAT
Hukum gereja yang merupakan sebuah sarana untuk mengatur kehidupan jemaat supaya tetap hidup kudus di hadapan Tuhan, Imamat 20:7 “maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.” Dikutip dalam 1 Petrus 1:16 “sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Gereja dan jemaat Tuhan mesti hidup dalam kekudusan, Berkhof mengatakan:
“bahkan dalam hal yang paling ekstrem, disiplin gereja harus tetap ingat kepada tujuan untuk menyelamatkan orang berdosa, 1 Kor 5:5, walaupun pada saat yang sama harus juga diingat bahwa pertimbangan utama adalah untuk menjaga kesucian gereja.”58
Dilanjutkan dalam buku Jan Sihar Aritonang,
kekudusan atau kesucian jemaat harus terus-menerus dipelihara, agar jemaat tetap layak merayakan Perjamuan Kudus. . . ia melanjutkan bahwa bagi Calvin disiplin berkait erat dengan pengudusan (sanctificatio) karena menurut Calvin sendiri tujuan utamanya yaitu mempertahankan kesucian gereja sebagai persekutuan yang
57R. Budiman, Tafsiran Alkitab, Surat-Surat Pastoral (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), 53.
58Louis Berkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Gereja (Surabaya: Momentum,2001), 91.
merayakan perjamuan kudus, supaya nama Allah tetap dimuliakan dan tidak dicemarkan.59
Menurut pernyataan Calvin dalam buku Jan Sihar di atas bahwa kekudusan jemaat semestinya terus menerus dipelihara supaya layak dalam perjamuan kudus dan juga menjadi tujuan utama dari sebuah gereja sehingga dengan terpeliharanya kesucian atau kekudusan jemaat ini dapat menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya dan terlebih- lebih menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan.
Jemaat yang kudus adalah jemaat yang berkenan di hadapan Tuhan. Yusuf Eko Basuki menyatakan bahwa “hanya orang-orang kuduslah yang layak ditempatkan dihadapan Tuhan. Dengan kata lain, orang-orang kudus berkenan di hati Tuhan. Mereka adalah para pemenang.60 Jelas bahwa Tuhan menginginkan kekudusan jemaat dan gerejanya supaya dapat terpelihara dan diselamatkan.
Dalam 1 Tesalonika 4:1 “Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” Dalam ayat ini Paulus menegaskan bahwa seorang Kristen atau jemaat Tuhan mesti lebih sungguh-sungguh dalam menuruti perintah Tuhan yaitu untuk melakukan segala sesuatu yang berkenan didalamnya.
Menurut Paulus salah satu cara untuk menjaga kekudusan yaitu dengan menjauhi pencabulan. Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi pencabulan, (1 Tes. 4:3).
Menjaga kekudusan jemaat merupakan kehendak Tuhan, apabila jemaat tersebut hidup kudus di hadapan Tuhan maka dapat diketahui bahwa ia telah menyenangkan hati Tuhan. Hal ini juga merupakan sebagai tanda adanya Roh Kudus hadir dalam jemaat tersebut. Abineno menyatakan bahwa “suatu penjagaan yang cermat terhdap kekudusan jemaat-jemaat sebagai tanda dari hadirnya Roh Kudus dalam jemaat-jemaat itu.”61 Itulah sebabnya Roh Kudus juga berperan dalam menjaga kekudusan jemaat, sebagai orang Kristen memerlukan hal tersebut supaya mereka dapat sadar bahwa mereka adalah orang-orang Kristen, orang-orang yang hidup dalam Roh Kudus.62
D. MEMULIAKAN ALLAH
Pentingnya memuliakan nama Tuhan dalam kekristenan sangat diperlukan.
Maksunya ialah supaya setiap jemaat dapat hidup dalam kemuliaan tersebut, jemaat boleh menjadi contoh kepada lingkungan sekitar dan masyarakat yang ada. Yesus sendiri juga menekankan dalam injil Yohanes 8:49 “jawab Yesus:”aku tidak kerasukan setan, tetapi Aku menghormati Bapa-Ku dan kamu tidak menghormati Aku.” Jelas
59Jan Sihar Aritonang, Garis Besar Sejarah Reformasi (Bandung: Jurnal Info Media, 2007), 117.
60Yusuf Eko Basuki, Kristen Pemenang :Meraih kemenangan Iman dan Strategi Tuhan (Yogyakarta: Garudhawaca, 2014), 75.
61Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja, 50.
62Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja, 50.
bahwa disana Yesus sendiri menghormati Bapa-Nya yang di surga, demikian juga sebagai anggota jemaat mesti menghormati nama Tuhan sama seperti Yesus memuliakan Bapa-Nya.
Memuliakan Tuhan menjadi salah satu landasan kehidupan orang percaya, yang dipanggil dari kegelapan menuju terang. Apapun dan bagaimanapun keadaanya, Darminta dalam bukunya menyatakan :
Kita telah melihat kemuliaan-Nya (1Yoh.1:14). Kita diajak untuk melihat (mengkontemplasikan puncak kemuliaan hidup kita orang beriman dalam Yesus Kristus). Kita diajak untuk melihat dan merasakan misteri Allah dalam kemalangan manusia, yang bagaikan tak berdaya, tak bersuara, tak ada jalan keluar. Allah rela kelihatan lemah dalam ketidak berdaaan manusia untuk berhadapan dengan realitas kehidupan di dunia. Dalam iman kita diajak untuk melihat dan merasakan dan mempercayai kemuliaan Allah, yang bukan seperti kemuliaan yang digambarkan bahkan diperjuangkan oleh anak-anak dunia.
Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk memuliakan Allah dalam derita dan kematian kita bersama Yesus.63
Demikian pendapat di atas yang menyatakan bahwa setiap orang yang sudah terpanggil memuliakan nama Tuhan dan kunci orang Kristen dalam memuliakan Tuhan yaitu dengan memiliki kehidupan yang benar di hadapan Tuhan, “hanya dengan hidup benar, jujur dan adil manusia akan memuliakan Allah, sebagaimana dikatakan sebagai berikut; “siapa menindas orang ang lemah, menghina penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan terhadap orang miskin, memuliakan Dia”(Amsal 14:31).” 64 Demikian hukum gereja menegakkan setiap kebenaran seadil-adilnya supaya melalui penegakkan tersebut manusia dapat memuliakan Allah.
Hidup memuliakan Tuhan tidak dibatasi oleh faktor usia, baik itu muda maupun tua. Pada umumnya jemaat yang masih sangat muda diberikan pemahaman supaya dapat memuliakan Tuhan dengan dasar firman Tuhan sehingga apabila sudah lanjut usia maka sikap tersebut terbawa-bawa. Jemaat yang memuliakan nama Tuhan tentunya akan mengarahkan kehidupannya untuk dapat bersaksi dan menjadi teladan bagi lingkunganya, sehingga lewat kesaksian dan keteladanannya nama Tuhan dapat dimuliakan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memuliakan nama Tuhan, yaitu:
1. dengan memulai memuliakan Tuhan dengan rasa hormat dan takut, Mazmur 33:8 “biarlah segenap bumi takut kepada Tuhan, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia.”
2. Menyadari keagungan Tuhan, lewat pujian yang memuliakan nama Tuhan, azmur 138:5 “mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan Tuhan, sebab besar kemuliaan Tuhan.”
3. Memuliakan Tuhan dengan perbuatan yaitu dengan mengasihi, Matius 22:37- 39 “jawab Yesus kepadanya: kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah
63J. Darminta, Jalan Pengudusan Melalui Salib (Yogakarta: Kansius,2006), 35.
64J. Darminta, Di Mana Allah Berada? (Yogakarta: Kansius,2006), 35.