KONSEKUENSI SAKRAMEN BABTIS 1. Masuk dalam Pintu Keselamatan
Sakramen baptis merupakan sakramen pertama yang diterima setiap umat beriman.
Sakramen ini disebut sebagai pintu masuk dalam menerima Rahmat Keselamatan yakni Yesus Kristus. Keselamatan hanya mungkin bagi mereka yang bertobat dan beriman kepada Yesus Kristus serta menyediakan diri untuk dibaptis dan menjadi warga Gereja (bdk. Yoh 3:5; Mrk 16:16; dan Mrk 9:38-39).1 Orang yang menerima sakramen baptis memasuki fase baru yakni masuk dalam keselamatan dengan menerima ketujuh sakramen dalam Gereja Katolik. Baptis menjadikan seseorang dapat menerima sakramen lain sebagai pengembangan dari rahmat baptisan. Tuhan menyatakan bahwa pembaptisan dibutuhkan manusia untuk mengalami keselamatan (bdk. 1Tim 2:4). Yesus memberikan perintah kepada para murid- Nya untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa. Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang yang mendapat pemberitaan Injil (bdk. KGK 1257).
2. Memperoleh Pengampunan Dosa
Pembaptisan dilambangkan dengan pencelupan ke dalam air. Pencelupan ke dalam air mengandung makna lambang kematian dan pembersihan, juga lambang kelahiran baru dan pembaharuan. Pembaptisan mengandung akibat penghapusan dosa. Oleh pembaptisan diampunilah semua dosa, dosa asal, dan semua dosa pribadi serta siksa-siksa dosa.2 Orang yang sudah dibaptis telah dilahirkan kembali menjadi ciptaan baru. Kelahiran baru menandakan hilangnya halangan dosa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Orang yang dibaptis mendapat rahmat pengampunan dosa (bdk. KGK 1263). Namun, orang yang dibaptis tetap memiliki akibat sementara dari dosa yakni penderitaan, penyakit, kematian, kelemahan yang berhubungan dengan kehidupan, serta kecondongan kepada dosa (concupiscentia).
Makna baptisan sebagai karunia pengampunan dosa tampak dalam kata-kata Santo Petrus,
“Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu” (Kis 2:38).3
3. Menjadi Satu Ciptaan Baru
1 E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen Gereja (Yoyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 233.
2 Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 2 Ekonomi Keselamatan (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 382.
3 E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen… hlm. 222.
Pembaptisan tidak hanya membersihkan manusia dari semua dosa, tetapi sekaligus menjadikan orang yang dibaptis menjadi suatu “ciptaan baru” (2Kor 5:17).4 Orang yang dibaptis disebut sebagai anak angkat Allah yang menjadikannya ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi (2Ptr 1:4). Orang yang dibaptis menjadi serupa dengan Kristus karena melalui pembaptisan seseorang digabungkan bersama Kristus (bdk. Rm 8:29). Pembaptisan menandai orang Kristen dengan meterai yang tidak dapat dihapuskan. Baptisan menjadi tanda bahwa seseorang telah menjadi milik Allah. Tanda tersebut tidak dapat dihapuskan oleh dosa, walaupun dosa menghalang-halangi pembaptisan untuk menghasilkan buah keselamatan.
Pembaptisan menjadikan sesorang menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus (bdk. Ef 4:25). Pembaptisan menggabungkan seseorang masuk ke dalam persekutuan umat beriman yakni Gereja. Bejana pembaptisan melahirkan umat Allah Perjanjian Baru yang mengatasi semua batas alami dan manusiawi seperti suku, bangsa, maupun keturunan. Dalam satu Roh semua orang baik orang Yahudi maupun Yunani, atau budak maupun orang merdeka telah dibaptis menjadi satu tubuh (bdk. 1Kor 12:13). Pembaptisan menjadi jalan untuk ambil bagian dalam imamat Kristus dalam perutusannya sebagai imam, nabi, dan raja. Setelah dibaptis menjadi anggota Gereja, orang yang dibaptis tidak lagi miliknya sendiri, melainkan milik Kristus (bdk. 2Kor 5:15). Melalui baptisan, seseorang dilahirkan kembali dalam Roh. Ia dikaruniai hidup baru dan sepanjang hidupnya harus mewujudkannya dalam gaya hidup dan tindakannya sehari-hari.5
4. Dipanggil untuk Melayani Allah
“Orang yang dibaptis telah dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah, mereka wajib mengakui di muka orang-orang beriman, yang telah mereka terima dari Allah melalui Gereja” (LG 11) serta untuk mengambil bagian dalam kegiatan apostolik dan missioner umat Allah. ketika orang beriman digabungkan kepada Gereja oleh pembaptisan, mereka menerima materai sacramental yang menugaskan mereka untuk menghormati Allah. Meterai pembaptisan menyanggupkan dan mewajibkan orang Kristen, agar melayani Allah dengan mengambil bagian secara aktif dalam liturgy Gereja yang kudus dan menjalankan imamat semua orang Kristen melalui kesaksian hidup kudus dan cinta penuh semangat (KGK 1273).
4 Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 2… hlm. 382.
5 E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen… hlm. 223.