• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker Nasofaring

N/A
N/A
yasmin hospital

Academic year: 2024

Membagikan "Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker Nasofaring"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker Nasofaring

Nasofaring adalah area di atas tenggorokan dan di belakang hidung. Kanker Nasofaring (KNF), merupakan penyakit keganasan yang jarang terjadi di sebagian besar negara; namun, di Indonesia terdapat 15.000 kasus baru per tahun, dengan angka kesakitan tiap 6,2 orang per 100.000 penduduknya. KNF merupakan keganasan terbanyak ke-4 setelah kanker payudara, kanker rahim, dan kanker paru. Kanker nasofaring merupakan salah satu dari kanker terbanyak di Indonesia, dan dari distribusi usia sering mengenai penduduk usia produktif.

Oleh karena itu secara ekonomi, kejadian kanker nasofaring akan mempengaruhi keadaan ekonomi penderita (beserta keluarganya) dan juga mempengaruhi pola pembiayaan kesehatan negara. Produktivitas penduduk juga akan terpengaruhi. Bila dapat terdeteksi lebih awal, angka keselamatan KNF dapat mencapai 84% untuk 2 tahun, dan 78% untuk 3 tahun. Gejala awal KNF biasanya tidak spesifik dan hal inilah yang membuat penderita KNF terlambat berobat.

Orang-orang yang berisiko untuk terkena penyakit ini contohnya: (1) terinfeksi virus Epstein-Barr yang bisa tertular dari air liur. Virus ini biasanya menghasilkan tanda- tanda dan gejala ringan, seperti pilek; (2) riwayat keluarga dengan penyakit yang sama (risiko meningkat 4-10x lipat); (3) berusia 30-50 tahun; (4) mengkonsumsi makanan yang diawetkan (diasap maupun diasinkan) dan konsumsi alkohol; (5) ras Mongoloid (termasuk Indonesia) dan jenis kelamin laki-laki; (6) merokok, atau menghisap asap dari rokok, dupa, kemenyan dan kayu bakar, obat anti nyamuk bakar serta pekerjaan yang menghasilkan serbuk- serbuk kimia seperti peleburan besi dan serbuk kayu.

Pada stadium dini kanker ini sulit dikenali. Penderita biasanya datang pada stadium lanjut saat sudah muncul benjolan pada leher, terjadi gangguan saraf, atau sudah berkembang jauh dari nasofaring. Gejala KNF dapat dibagi menjadi empat kategori: (1) adanya benjolan pada nasofaring (hanya bisa dilihat oleh petugas medis dengan alat), karena letak nasofaring berada di belakang muara hidung, maka gejala yang timbul berupa keluarnya cairan hidung yang bercampur darah, sumbatan pada salah satu atau kedua rongga hidung, dan mimisan; (2) sumbatan pada muara telinga, menyebabkan infeksi telinga tengah yang mempunyai gejala telinga terasa penuh, tuli, dan telinga berdenging; (3) invasi ke otak melalui dasar tulang tengkorak, menyebabkan gangguan syaraf seperti nyeri kepala, wajah terasa mati rasa atau lumpuh, pandangan ganda, mata juling, kelopak mata tidak menutup sempurna, dan (4) benjolan pada leher yang tidak nyeri.

Pengobatan kanker nasofaring dapat mencakup radiasi, kemoterapi, kombinasi keduanya, dan didukung dengan terapi sesuai dengan gejala. Untuk penegahan, masyarakat harus menjauhi fakto-faktor risiko yang disebutkan di atas seperti membatasi konsumsi makanan yang diawetkan, berhenti merokok dan konsumsi alkohol, memakai masker bila terpapar asap bahan kimia saat bekerja, tidak menggunakan barang pribadi orang lain yang sudah tersentuh oleh air liur, dan memperbanyak konsumsi buah dan sayuran seperti kembang kol, brokoli, kubis, dan sayuran yang bentuknya serupa.

Ditulis Oleh: dr. Lucky Miftah Saviro

Referensi

Dokumen terkait