DETERMINAN RISIKO SISTEMATIS DAN DAMPAK TERHADAP KINERJA SAHAM PERBANKAN 2003-2019
JURNAL ILMIAH
Disusun oleh :
Iffa Devi Parawamsa 165020400111003
JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2020
LEMBAR PENGESAHAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL
Artikel Jurnal dengan judul :
DETERMINAN RISIKO SISTEMATIS DAN DAMPAK TERHADAP KINERJA SAHAM PERBANKAN 2003-2019
Yang disusun oleh :
Nama : Iffa Devi Parawamsa
NIM : 165020400111003
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Jurusan : S1 Ilmu Ekonomi
Bahwa artikel Jurnal tersebut dibuat sebagai persyaratan ujian skripsi yang dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 23 Juli 2020.
Malang, 23 Juli 2020 Dosen Pembimbing,
David Kaluge, SE., MS., M.Ec.Dev., Ph.D
NIP. 196012251987011001
Judul : Determinan Risiko Sistematis dan Dampak Terhadap Kinerja Saham Perbankan 2003-2019 Iffa Devi Parawamsa
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujian untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi risiko sistematis dan dampaknya terhadap kinerja saham perbankan tahun 2003-2019. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda time series dengan menggunakan variabel inflasi, suku bunga domestik, suku bunga luar negeri, dan nilai tukar sebagai variabel independen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel inflasi, suku bunga domestik, suku bunga luar negeri, dan nilai tukar berpengaruh terhadap risiko sistematis saham perbankan.
inflasi, suku bunga luar negeri, dan nilai tukar berpengaruh positif terhadap risiko sistematis saham perbankan, sedangkan suku bunga domestik berpengaruh negatif terhadap risiko sistematis saham perbankan. Risiko sistematis berhubungan negatif dengan kinerja saham perbankan. Inflasi, suku bunga luar negeri,dan nilai tukar berpengaruh negatif terhadap kinerja saham perbankan sementara suku bunga domestik berpengaruh positif terhadap kinerja saham perbankan.
Kata kunci: Inflasi, Suku Bunga, Nilai Tukar, Risiko Sistematis, Kinerja Saham, Saham Perbankan.
1. PENDAHULUAN Latar Belakang
Investasi dapat diartikan sebagai komitmen untuk menempatkan sejumlah dana pada saat ini selama beberapa waktu untuk kemudian mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Terdapat beberapa cara bagi seorang investor untuk berinvestasi. Salah satunya adalah berinvestasi pada pasar modal. Pasar modal merupakan salah satu jenis pasar keuangan yang di dalamnya terdapat berbagai macam instrumen keuangan baik dalam bentuk modal atau hutang yang bersifat jangka panjang yang dapat diperjualbelikan. Di dalam pasar modal Indonesia terdapat beberapa indeks yang menjadi acuan dalam melihat kondisi pasar. Salah satu indeks yang ada di pasar modal adalah indeks sektoral. Indeks sektoral merupakan indeks yang di dalamnya terdapat saham-saham pada industri yang sama. Terdapat sembilan indeks yang termasuk dalam indeks sektoral yaitu pertanian, pertambangan, industri dasar, aneka industri, property dan real estate, infrastruktur, keuangan, dan perdagangan. Indeks sektor keuangan memiliki persentase kapitalisasi pasar tertinggi daripada sektor lainnya yaitu 33.50% dari total kapitalisasi pasar indeks secara keseluruhan. Indeks sektor keuangan terdiri dari lima subsektor yaitu bank, asuransi, lembaga pembiayaan, sekuritas dan lainnya. Diantara kelima subsektor tersebut, jumlah bank merupakan subsektor yang mendominasi indeks sektor keuangan.
Investasi merupakan suatu pemilihan terhadap perimbangan antara imbal hasil yang diharapkan dan risiko yang mungkin akan terjadi. Maka, sesorang yang menginvestasikan dananya pada pasar modal minimal harus memperhatikan dua hal yaitu tingkat imbal hasil yang diharapkan dan risiko yang mungkin akan diterima. Hal ini tidak lepas dari tujuan investasi, yaitu memaksimalkan keuntungan dengan tidak melupakan risiko yang dihadapi. salah satu teori dalam investasi adalah high risk high return yang berarti semakin tinggi imbal hasil yang ditawarkan suatu investasi, maka kemungkinan risiko yang akan diterima juga semakin tinggi . Sebaliknya jika imbal hasil yang ditawarkan oleh suatu investasi rendah maka kemungkinan risiko yang akan diterima juga rendah (Herlianto, 2013).
Risiko merupakan perbedaan antara kemungkinan perbedaan antara imbal hasil yang diharapkan (expected return) dan imbal hasil yang sesungguhnya (actual return). Apabila perbedaannya besar, maka risiko yang mungkin akan diterima juga akan besar dan sebaliknya. Risiko dapat diukur dengan menggunakan standar deviasi atau varians (kuadrat dari standar deviasi) dari pendapatan suatu sekuritas. Terdapat dua macam risiko dalam investasi yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis (unik). Risiko sistematis tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi. Sementara risiko tidak sistematis dapat diminimalisir dengan cara diversifikasi.
Risiko sistematis timbul karena faktor-faktor ekonomi maupun fundamental dari perusahaan yang bersangkutan.
Terdapat beberapa faktor ekonomi yang dapat menimbulkan risiko sistematis diantaranya adalah tingkat inflasi,
pertumbuhan ekonomi, nilai tukar valuta asing (kurs) dan kebijakan pemerintah di bidang ekonomi. Sedangkan risiko tidak sistematis dapat timbul karena kondisi internal suatu perusahaan dan hanya berpengaruh pada perusahaan yang bersangkutan.
Risiko sistematis dapat diukur dengan beta yang mana tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi (Tandelilin, 2010). Menurut Husnan (1996) beta merupakan suatu ukuran risiko yang berasal dari hubungan antara tingkat imbal hasil suatu sekuritas dengan pasar. Beta menunjukkan sensitivitas return suatu sekuritas terhadap perubahan return pasar secara keseluruhan. Semakin tinggi nilai beta suatu sekuritas maka semakin sensitif sekuritas tersebut. Dengan mengetahui nilai beta maka dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan investasi pada suatu sekuritas atau memasukkan sekuritas tersebut ke dalam portofolio investasi. Salah satu cara untuk mencari nilai beta adalah dengan meregresikan imbal hasil sekuritas yang bersangkutan dengan imbal hasil pasar.
Grafik 1.1 Perkembangan Risiko Sistematis Saham Perbankan
Sumber: Pefindo (2019)
Dalam grafik 1.1 di atas ditunjukkan bahwa risiko sistematis dari saham perbankan lebih tinggi dari risiko sistematis rata-rata saham yang ada di pasar. Hal ini berarti investasi pada saham perbankan lebih berisiko daripada pada saham selain saham perbankan. Hal ini akan menjadi pertimbangan khusus bagi investor dalam mengalokasikan dananya ke saham khususnya pada saham perbankan karena investasi merupakan pemilihan terhadap pertimbangan antara risiko dan imbal hasil yang diharapkan (Herlianto, 2013).
Return dan risiko merupakan dua hal yang harus diperhatikan dalam melakukan investasi. Return dan risiko juga dapat dijadikan sebagai patokan dalam mengukur kinerja dari suatu sekuritas atau saham. Dengan mengetahui kinerja saham perbankan maka seorang investor akan mengetahui layak atau tidaknya saham tersebut untuk dibeli dibandingkan dengan saham lain di pasar. Salah satu untuk mengukur kinerja saham adalah dengan mengukur rasio Treynor atau indeks Treynor.
0,910 0,904 0,875 0,924 0,949 0,932 0,960
0,908 0,987 0,976 1,009 1,068
0,000 0,200 0,400 0,600 0,800 1,000 1,200
2013 2014 2015 2016 2017 2018
Rata-rata beta saham Beta saham perbankan
Grafik 1.2 Perkembangan Risiko dan Return Perbankan
Sumber: Investing dan Pefindo (2019)
Perkembangan risiko sistematis dan return yang ditampilkan pada grafik 1.2 menunjukkan bahwa risiko dan return dari saham perbankan mengalami perkembangan yang cenderung berlawanan arah. Hal ini menunjukkan bahwa dengan tingginya risiko sistematis suatu saham maka return yang akan didapatkan belum tentu akan tinggi juga. Dengan risiko yang tinggi dan return yang berlawanan arah dengan risiko maka menunjukkan bahwa kinerja saham perbankan dapat menurun juga. Hal ini tentunya akan menjadi pertimbangan seorang investor dalam berinvestasi dalam saham perbankan.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi risiko sistematis saham. Risiko sistematis saham dipengaruhi oleh kondisi makro perekonomian suatu negara. Menurut Mayo (2014) faktor-faktor yang mempengaruhi risiko sistematis saham diantaranya adalah inflasi, suku bunga, nilai tukar, dan risiko politik yang dihubungkan dengan kondisi politik dan ekonomi suatu negara. Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi risiko sistematis saham. Secara teori faktor yang dapat mempengaruhi risiko sistematis saham adalah faktor makroekonomi. Namun, dalam beberapa penalitian yang telah dilakukan sebelumnya terdapat temuan yang mengatakan bahwa faktor makroekonomi yang ternyata tidak berpengaruh secara signifikan terhadap risiko sistematis saham. Penelitian yang dilakukan oleh Tandelilin (1997), Sudiyatno (2009) dan Chen (2014) menunjukkan bahwa inflasi, suku bunga, dan kurs tidak berpengaruh secara signifikan terhadap risiko sistematis saham. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Amtiran dkk.
(2015), Caecilia (2014), Sirumaha (2017) menunjukkan bahwa kurs, suku bunga dan inflasi berpengaruh secara signifikan terhadap risiko sistematis saham. Tingginya tingkat risiko sistematis saham perbankan daripada rata- rata risiko sistematis saham secara keseluruhan, ketidaksesuaian kondisi sebenarnya dengan teori dan adanya perbedaan hasil penelitian terdahulu menjadi latar belakang penulis melakukan penelitian dengan judul
“Determinan Risiko Sistematis dan Dampak Terhadap Kinerja Saham Perbankan 2003-2019”.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk mengetahui dampak determinan risiko sistematis terhadap risiko sistematis saham perbankan tahun 2003-2019 dan juga untuk mengetahui dampak determinan risiko sistematis terhadap kinerja saham perbankan tahun 2003-2019.
2013 2014 2015 2016 2017 2018
Beta perbankan Return perbankan
2. KAJIAN PUSTAKA
Risiko sistematis adalah risiko yang diakibatkan oleh adanya hubungan antara variabilitas return saham atau portofolio dengan perubahan return pasar secara keseluruhan. Risiko sistematis tidak dapat dihilangkan dengan proses diversifikasi. Sementara risiko tidak sistematis atau risiko unik adalah risiko yang timbul karena variabilitas return saham atau portofolio tidak berhubungan dengan pergerakan pasar secara umum. Risiko tidak sistematis dapat dihindari dengan melakukan diversifikasi (Horne, 1989). Ilustrasi risiko sistematis dan risiko tidak sistematis dapat dilihat dalam gambar 2.1 berikut ini:
Gambar 2.1 Perbandingan Risiko Sistematis dan Risiko Tidak Sistematis
Sumber: Finansialku.com (2019)
Menurut Sharpe dalam Herlianto (2013) berdasarkan gambar 2.1 dapat dilihat bahwa dalam melakukan diversifikasi dengan jumlah sekuritas yang semakin banyak akan dapat mengurangi risiko tidak sistematis suatu sekuritas. Namun dengan melakukan diversifikasi, tidak mengubah risiko sistematis. Diversifikasi lebih mengarah kepada pemerataan risiko sistematis dari sekuritas-sekuritas dalam portofolio.
Melakukan evaluasi terhadap portofolio merupakan bagian penting dalam kegiatan investasi. Evaluasi kinerja portofolio berkaitan dengan kegiatan membandingkan return suatu portofolio dengan portofoilio lain.
Elton dan Gruber dalam Zubir (2013) mengatakan bahwa terdapat empat prinsip yang harus diperhatikan oleh seorang investor dalam melakukan evaluasi kinerja portofolio. Pertama, mengukur kinerja investasi secara keseluruhan. Kedua, menguraikan kinerja faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja investasi. Ketiga, mengetahui karakter yang bersifat umum dari manajer investasi untuk menghasilkan yang terbaik. Dan yang keempat adalah memprediksi kinerja manajer investasi. Salah satu cara untuk mengukur kinerja investasi adalah dengan menggunakan model Treynor atau indeks Treynor. Dalam indeks Treynor kinerja suatu investasi diukur dengan menggunakan excess return terhadap beta atau risiko sistematis.
Menurut teori risiko sistematis disebut juga sebagai risiko pasar dapat bersumber dari faktor makroekonomi yang dapat mempengaruhi kondisi pasar modal suatu negara. Faktor tersebut diantaraya adalah risiko tingkat suku bunga, inflasi, harga saham, dan nilai tukar. Mayo (2014) mengatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi risiko sistematis saham diantaranya adalah risiko pasar, inflasi, suku bunga, nilai tukar, risiko reinvestment dan kondisi politik ekonomi suatu negara. Untuk mendeteksi pengaruh dari variabel makroekonomi, beberapa penelitian sebelumnya menggunakan variabel yang berbeda-beda (Tandelilin, 1997;
Mongi dan Ezzeddine, 2010; Chen, 2014; Amtiran, 2015; Sirumaha, 2017; Soper, 2019). Dalam penelitian ini variabel yang diambil adalah inflasi, suku bunga dan nilai tukar.
Pada saat inflasi tinggi maka masyarakat akan cenderung memilih untuk tidak menabung karena harga barang-barang yang naik mengakibatkan pengeluaran seseorang menjadi bertambah. Jika tingkat tabungan menurun maka perbankan akan kesulitan untuk memperoleh dana untuk disalurkan menjadi kredit. Selain itu pada masa inflasi yang tinggi minat seseorang untuk mengajukan kredit juga menjadi rendah karena biaya memegang uang tunai yang tinggi. Hal ini akan menurunkan profitabilitas bank. Jika profitabilitas perbankan
mengalami penurunan, maka hal ini merupakan sinyal negatif bagi investor. Profitabilitas perbankan yang menurun akan saham perbankan menjadi kurang menarik karena dinilai akan lebih berisiko jika berinvestasi pada saham perbankan.
Arifin (2014) menyebutkan bahwa deposito yang memiliki bunga yang tinggi akan lebih dipilih oleh investor daripada saham karena produk perbankan ini memiliki risiko yang relatif kecil daripada saham. Jika investor mengalihkan dananya pada deposito secara besar-besaran, maka bank akan terbebani dengan pembayaran bunga deposito kepada nasabahnya sehingga hal ini akan menurunkan profitabilitas bank jika tidak diimbangi dengan penyaluran kredit yang sesuai. Dengan adanya pengalihan dana dari saham ke deposito dan juga menurunnya profitabilitas bank, maka akan menurunkan harga saham perbankan sehingga risiko dalam berinvestasi pada saham perbankan mengalami kenaikan.
Suku bunga deposito yang tinggi akan menarik minat investor untuk menempatkan dananya pada instrumen investasi berupa deposito. Dengan adanya kenaikan pada suku bunga deposito luar negeri akan menarik investor terutama investor asing untuk lebih mengalokasikan dana investasi mereka pada deposito karena dinilai lebih memberikan keuntungan. Penarikan dana secara besar-besaran pada pasar saham akan menjadikan indeks harga saham mengalami penurunan akibatnya rata-rata harga saham akan berjatuhan. Hal ini akan membuat risiko dalam berinvestasi pada saham semakin tinggi. Mongi dan Ezzeddine (2010) mengatakan bahwa dengan adanya suku bunga internasional yang tinggi akan menyebabkan investor melakukan penyesuaian pada portofolio mereka dan lebih memilih deposito dengan bunga yang tinggi karena dinilai lebih menguntungkan.
Dalam Satria (2009) menyebutkan bahwa melemahnya nilai rupiah akan mengakibatkan pengalihan dana dari pasar modal maupun pasar uang ke pasar valuta asing. Jika hal ini terjadi maka likuiditas rupiah akan menjadi ketat dan akan melemahkan penyaluran kredit karena suku bunga yang meningkat. Hal ini akan menjadikan bank kurang dalam profitabilitasnya. Melemahnya rupiah atau terdepresiasinya rupiah akan menjadikan investor lebih memilih menanamkan dananya pada pasar valuta asing sehingga akan menurunkan harga saham dan juga akan menurunkan harga saham perbankan. Jika hal ini terjadi maka berinvestasi pada saham akan lebih berisiko.
Risiko sistematis yang ditunjukkan dengan nilai saham merupakan variabel pembagi dalam pengukuran kinerja saham menggunakan indeks Treynor. Dalam pengukuran kinerja menggunakan indeks Treynor diasumsikan bahwa risiko non sistematis saham telah dihilangkan sehingga hanya menyisakan risiko sisstematis saham. Maka dari itu yang digunakan dalam perhitungan kinerja saham menggunakan beta saham. semakin tinggi nilai indeks Treynor maka akan semakin bagus pula kinerja saham serta semakin layak untuk di beli.
Semakin tinggi nilai pembagi maka akan semakin rendah pula nilai indeks Treynor. Seperti yang telah disebutkan bahwa beta saham merupakan variabel pembagi dalam mengukur nilai indeks Treynor. Maka jika semakin besar nilai beta saham akan menurunkan nilai indeks Treynor. Jika nilai indeks Treynor turun, maka dapat dikatakan juga kinerja saham juga turun.
Fama (1981) juga menyebutkan adanya hubungan negatif antara inflasi dan return saham melalui Proxy Hypothesis. Hipotesis ini menyebutkan bahwa aktivitas ekonomi riil dan return saham memiliki hubungan yang positif dikombinasikan dengan hubungan negatif antara inflasi dan aktivitas ekonomi riil. Sehingga akan diperoleh hubungan yang negatif antara inflasi dan return saham.
Suku bunga yang tinggi akan mendorong investor untuk lebih mengalokasikan dananya pada deposito jika suku bunga tersebut dapat melebihi tingkat inflasi. Jika pengalihan dana ini dilakukan oleh para investor secara masif maka akan mempengaruhi penurunan pada harga-harga saham di pasar modal. Menurut Arifin (2014) bagi pihak perbankan, suku bunga yang tinggi akan menjadikan masyarakat lebih banyak mengalokasikan dananya pada deposito. Dengan banyaknya masyarakat yang mengalokasikan dananya pada deposito, maka perbankan akan terbebani dengan adanya pembayaran bunga pada nasabah sehingga akan mengurangi profitabilitas perbankan. Jika profitabilitas perbankan turun maka akan berpengaruh pada turunnya harga saham perbankan dan juga return yang akan didapatkan.
Jika nilai tukar terdepresiasi, maka akan menjadikan investor lebih memilih mengalokasikan dananya pada pasar valas karena lebih menguntungkan daripada saham. Jika hal ini dilakukan secara besar-besaran maka akan
menurunkan indeks harga saham sehingga harga-harga saham akan mengalami penurunan. Hal ini akan menurunkan return dari investasi saham yang akan didapat juga atau malah mengalami return yang negatif.
Kerangka Pemikiran
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan risiko sistematis dan dampaknya terhadap kinerja saham perbankan
Hipotesis
H1 : Inflasi, suku bunga dan nilai tukar berpengaruh terhadap risiko sistematis saham perbankan.
H2 : Risiko sistematis berpengaruh terhadap kinerja saham perbankan.
H3 : Inflasi, suku bunga dan nilai tukar berpengaruh terhadap kinerja saham perbankan.
3. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian kuantitatif. Menurut creswell (2003) pendekatan kuantitatif adalah salah satu pendekatan di mana peneliti menggunakan klaim post-positivist untuk mengembangkan pengetahuan (yaitu, sebab dan akibat berpikir, pengurangan variabel spesifik dan hipotesis dan pertanyaan, penggunaan pengukuran dan observasi, dan uji teori), menggunakan strategi penyelidikan seperti sebagai sebuah eksperimen dan survei, dan mengumpulkan data pada instrumen yang telah ditentukan yang menghasilkan data statistik.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh saham perbankan yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2003 sampai dengan 2019. Sementara sampel adalah bagian dari suatu populasi yang diambil berdasarkan teknik dan karakteristik tertentu. Dalam penelitian ini menggunakan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Metode purposive sampling adalah sampel yang diambil berdasarkan tujuan tertentu untuk memahami informasi pada sumber tertentu. Dalam penelitian ini sampel yang diambil memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Saham perbankan yang terdaftar di BEI dan diperdagangkan selama periode 2003 sampai dengan 2019.
2. Saham perbankan yang tercatat perdagangannya pada setiap bulan dari bulan Januari 2003 sampai Desember 2019.
Variabel independen dalam penelitian ini adalah inflasi, suku bunga, suku bunga AS, dan nilai tukar.
Sementara untuk variabel dependen dalam penelitian ini adalah risiko sistematis dan kinerja saham perbankan.
Teknik Analisis Data
Metode analisis yang digunakan untuk penelitian ini adalah regresi linier berganda. Dalam regresi linier berganda time series data yang digunakan adalah data runtut waktu atau time series. Analisis regresi linier berganda merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara beberapa variabel.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN Risiko Sistematis
Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas
Berikut merupakan hasil uji Jarque-Bera.
Tabel 4.1: Uji Normalitas
Jarque-Bera 1,148101
Probability 0.563240
Sumber: Hasil Penelitian diolah, 2020
Dari hasil uji Jarque-Bera diperoleh nilai probability sebesar 0,563240 lebih besar dari nilai α 5%. Hal ini berarti residual terdistribusi normal.
Uji Multikolinearitas
Berikut adalah nilai VIF dalam penelitian ini.
Tabel 4.2: Uji Multikolinearitas
Coefficient Uncentered Centered
Variable Variance VIF VIF
INFLASI 363.5505 12.68805 2.173118 INTERESTD 951.9749 42.66925 1.671495 INTERESTUS 708.9871 24.07609 1.502788 KURSUSD 4.49E-08 46.57341 1.446127
C 10.03109 80.13675 NA
Sumber: Hasil penelitian diolah, 2020
Berdasarkan nilai Centered VIF diperolah masing-masing yaitu sebesar 2,173118 untuk inflasi, 1,671495 untuk suku bunga domestik, 1,502788 untuk suku bunga AS dan 1,446127 untuk nilai tukar yang mana masing-
maisng nilai variabel kurang dari 10. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat multikolinearitas dalam model penelitian ini.
Uji Heteroskedastisitas
Berikut adalah hasil dari uji Glejser dalam penelitian ini.
Tabel 4.3: Uji Heteroskedastisitas Heteroskedasticity Test: Glejser
F-statistic 0.293633 Prob. F(4,199) 0.8819
Obs*R-squared 1.196978 Prob. Chi-Square(4) 0.8786 Scaled explained SS 2.148836 Prob. Chi-Square(4) 0.7084
Sumber: Hasil penelitian diolah, 2020.
Berdasarkan uji Glejser diperoleh nilai probabilitas F sebesar 0,8819 yang mana lebih besar dari nilai α 5%
yang berarti model terbebas dari masalah heteroskedastisitas.
Uji Autokorelasi
Berikut adalah hasil uji autokorelasi dalam penelitian ini.
Tabel 4.4: Uji Autokorelasi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
Obs*R-squared 0.000000 Prob. Chi-Square(5) 1.0000
Sumber: Hasil penelitian diolah, 2020
Berdasarkan uji Breusch-Godfrey didapatkan nilai probabilitas Chi-Square sebesar 1,0000 yang mana lebih besar dari nilai α 5% berarti model tidak terdapat masalah autokorelasi.
Uji Hipotesis
Masing-masing uji hipotesis dalam penelitian ini akan ditampilkan sebagai berikut.
Tabel 4.5: Hasil Regresi Linier Berganda Variabel Koefisien t-statistik Probabilitas
C 0,574159 0,181283 0,8563
Inflasi 1,221899 0,064085 0,9490
Interestd -66,60799 -2,158806 0,0321 Interestus 87,70021 3,293680 0,0012
Kursusd 0,000907 0,000212 0,0000
R-Squared 0,126765
F-statistik 7,222096
Prob(F-statistik) 0,000019
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa variabel inflasi memiliki nilai probabilitas t-statistik sebesar 0,9490 yang mana lebih dari nilai α 5%, sedangkan suku bunga domestik sebesar 0,0321 lebih kecil dari
α 5%, suku bunga luar negeri sebesar 0,0012 lebih kecil dari α 5% dan nilai tukar sebesar 0,0000 lebih kecil dari α 5%. Sedangkan untuk uji F-statistik dapat dilihat pada nilai probabilitas F-statistik sebesar 0,000019 yang mana lebih kecil dari nilai α 5%. Koefisien determinasi sebesar 0,126765 yang mana variabel independen dalam model mampu menjelaskan variabel dependen sebesar 12, 68% dan sisanya dijelaskan variabel lain di luar model. Berikut model persamaan yang diperoleh dari hasil regresi di atas:
Srisk = 0,574159 + 1,22189Inflasi - 66,60799Interestd + 87,70021Interestus + 0,000907Kursusd (1) Berdasarkan uraian dari analisis sebelumnya diketahui bahwa hubungan antara inflasi dan risiko sistematis adalah positif. Hal ini berarti hubungan antara inflasi dan risiko sistematis adalah searah. Kenaikan pada inflasi akan berpengaruh pada peningkatan risiko sistematis begitu juga bila terjadi penurunan pada inflasi maka akan berpengaruh pada penurunan risiko sistematis. Hubungan yang positif antara inflasi dan risiko sistematis ini juga telah dibuktikan oleh beberapa penelitian terdahulu diantaranya adalah Brooks dan Hooy Chee-Wooi (2015).
Inflasi merupakan kecenderungan pada kenaikan harga-harga secara umum dan terus menerus. Dengan adanya kenaikan pada harga-harga secara umum maka akan meningkatkan biaya produksi perusahaan. Selain itu, karena adanya inflasi, masyarakat akan lebih memilih memegang uang kas daripada menyiman uangnya di bank.
Hal ini dikarenakan adanya penurunan daya beli masyarakat jika terjadi inflasi. Dengan begitu masyarakat akan mengurangi alokasi dana mereka untuk tabungan di bank. Hal ini akan membuat bank mengalami penurunan perolehan dana pihak ketiga sehingga akan mempengaruhi penyaluran kredit yang juga menurun sehingga akan menurunkan profitabilitas bank. Hal ini sejalan dengan The Assumption of Fama atau asumsi Fama dalam Soper dan Orlowski (2019) yang mengatakan bahwa kenaikan yang terjadi pada inflasi dikaitkan dengan adanya penurunan kegiatan ekonomi riil karena biaya produksi yang mahal sehingga hal ini akan berpengaruh pada profitabilitas perusahaan, sehingga akan lebih berisiko jika berinvestasi pada saham terutama saham perbankan.
Berdasarkan pada hasil uji yang telah dilakukan sebelumnya bahwa suku bunga domestik memiliki arah hubungan yang negatif atau berlawanan arah dengan risiko sistematis. Suku bunga domestik berhubungan negatif signifikan dengan risiko sistematis yang mana hal ini berarti bahwa dengan adanya kenaikan pada suku bunga domestik maka akan menurunkan risiko sistematis dari saham perbankan. Hubungan yang signifikan negatif atau berlawanan arah ini berarti bahwa apabila terjadi kenaikan pada suku bunga domestik maka akan menurunkan risiko sistematis dan begitu pula sebaliknya jika suku bunga domestik mengalami penurunan maka akan berpengaruh pada kenaikan risiko sistematis. Amtiran (2015) dan Mongi dan Ezzeddine (2010) juga mengemukakan bahwa suku bunga dan risiko sistematis memiliki hubungan negatif dalam penelitian mereka.
Suku bunga deposito yang tinggi akan menarik masyarakat untuk menempatkan dananya pada deposito.
Selain karena menguntungkan, menempatkan dana pada deposito juga lebih aman karena terdapat lembaga yang menjamin jika terjadi kerugian pada bank. Selain itu bagi bank, dengan adanya aliran dana yang masuk melalui deposito maka bank akan mendapatkan dana yang dapat disalurkan kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman.
Dengan adanya kenaikan pada bunga deposito maka bank juga akan melakukan peningkatan pada bunga pinjaman agar memperoleh keuntungan. Maka dengan begitu akan berpengaruh positif pada profitabilitas bank sehingga jika berinvestasi pada saham perbankan akan lebih kecil risikonya.
Suku bunga luar negeri yang digunakan dalam penelitian ini adalah suku bunga Amerika Serikat.
Berdasarkan uji yang telah dilakukan, suku bunga luar negeri memiliki arah hubungan yang positif terhadap risiko sistematis saham perbankan. hal ini berarti jika terdapat kenaikan pada suku bunga luar negeri maka akan meningkatkan risiko sistematis pada saham perbankan. hasil ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Mongi dan Ezzeddine (2010).
Suku bunga yang tinggi akan membuat investor mengalihkan dananya dari saham pada deposito luar negeri.
Jika dilakukan secara masif maka akan menurunkan indeks harga saham. Sehingga return yang akan didapatkan juga akan menurun dan juga akan menaikkan risiko yang akan diperoleh karena kerugian. Hal ini juga berlaku untuk suku bunga luar negeri atau dalam penelitian ini adalah suku bunga AS. Mongi dan Ezzeddine (2010) mengatakan bahwa dengan tingginya suku bunga internasional akan membuat investor lebih memilih mengalokasikan dananya pada deposito yang memiliki bunga yang lebih tinggi karena dinilai lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan saham. Hal ini juga akan mempengaruhi penurunan pada harga-harga
saham di pasar modal Indonesia sehingga akan lebih berisiko jika berinvestasi pada saham terutama saham perbankan.
Nilai tukar atau kurs dalam penelitian ini memiliki arah hubungan yang positif signifikan. Hubungan negatif antara kurs dan risiko sistematis saham ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Chen (2014) dan Sirumaha (2017). Deny (2014) mengatakan bahwa pada saat nilai tukar domestik terhadap dolar mengalami depresiasi akan terjadi pengalihan dana investor dari pasar modal ke pasar valuta asing karena dinilai lebih menguntungkan. Dengan adanya pengalihan secara masif akan mengakibatkan harga saham mengalami penurunan. Jika harga saham turun maka return dan risiko juga akan mengalami penurunan. Selain itu, depresiasi mata uang domestik akan menjadi beban bagi perbankan khususnya bank yang memiliki kewajiban utang denominasi valuta asing yang mana dengan adanya depresiasi mata uang domestik akan meningkatkan risiko gagal bayar bank tersebut sehingga akan mempengaruhi profitabilitas bank. Hal ini akan membuat investasi pada saham perbankan lebih berisiko.
Risiko Sistematis dan Kinerja Saham Perbankan
Setelah diketahui nilai risiko sistematis maka langkah selanjutknya adalah dengan meregresikan risiko sistematis dan kinerja saham perbankan dan diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.7: Hasil Regresi Risiko Sistematis dan Kinerja
Variabel Koefisien t-statistik Probabilitas Signifikansi
C 0,769117 10,29535 0,0000 Signifikan
Srisk -0,113032 -3,963814 0,0001 signifikan
R Square 0,150048
F-statistik 15,71182
Probabilitas 0,000149
Sumber: E-Views 9, 2020
Berdasarkan hasil regresi tersebut dapat diperoleh persamaan sebagai berikut:
Treynor = 0,769117 - 0,113032Srisk (2)
Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh determinan risiko sistematis terhadap kinerja saham perbankan maka akan dimasukkan persamaan (1) pada persamaan (2) sehingga diperoleh persaman beikut ini:
Treynor = 0,769117 – 0,113032Srisk
Treynor = 0,769117 - 0,113032 ( 0,574159 + 1,22189Inflasi - 66,60799Interestd + 87,70021Interestus + 0,000907Kursusd)
Treynor = 0,70421866 – 0,064898340Inflasi + 7,528834325Interestd - 9,912929006Interestus - 0,000102520Kursusd.
Berdasarkan persamaan di atas maka diperoleh pengaruh inflasi terhadap kinerja saham perbankan sebesar - 0,0648983, suku bunga domestik terhadap kinerja saham perbankan sebesar 7,528834325, suku bunga luar negeri terhadap kinerja saham perbankan sebesar -9,912929006, dan nilai tukar terhadap kinerja saham perbankan sebesar -0,000102520.
Inflasi dan kinerja saham perbankan memiliki hubungan yang negatif. Hubungan yang negatif antara inflasi dan kinerja saham juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saleem, et al. (2013) dan Ibrahim dan Agbaje (2013). Inflasi yang tinggi akan menghambat investasi di pasar saham. Hal ini dikarenakan inflasi diperkirakan akan meningkatkan tingkat bebas risiko nominal, yang mana akan menaikkan tingkat diskonto yang digunakan untuk menilai saham (Saleem, 2013).
Tingkat inflasi yang tinggi akan membuat masyarakat lebih memilih memegang uang kas daripada menempatkan uangnya pada bank. Hal ini akan membuat bank kesulitan untuk mendapatkan dana pihak ketiga sehingga akan mengganggu penyaluran kredit. Jika penyaluran kredit terganggu maka akan mempengaruhi
pendapatan bank yang mana akan menurunkan profitabilitas perbankan sehingga akan berdampak pada menurunnya harga saham perbankan dan juga return dari saham perbankan.
Suku bunga domestik memiliki hubungan yang positif yang berarti jika suku bunga domestik mengalami kenaikan maka akan menaikkan kinerja saham perbankan. Salah satu sumber pendapatan bank adalah selisih bunga antara bunga simpanan dan bunga pinjaman. Dengan adanya kenaikan pada bunga deposito, perbankan juga akan menaikkan bunga pinjaman di atas bunga simpanan atau bunga deposito. Hal ini tentunya akan menambah profitabilitas perbankan sehingga akan menjadikan harga saham perbankan mengalami kenaikan dan diikuti juga return saham perbankan yang mengalami kenaikan juga. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nicholas dan Sophia (2001)
Suku bunga deposito yang tinggi juga akan menarik minat masyarakat untuk menempatkan dananya pada bank. Dengan semakin banyak dana yang dapat dikumpulkan bank maka akan semakin banyak juga dana yang dapat disalurkan ke masyarakat dalam bentuk pinjaman. Hal ini tentunya juga akan memberikan pengaruh yang positif pada profitabilitas perbankan sehingga akan mempengaruhi investor untuk lebih memilih saham perbankan karena dinilai lebih menguntungkan.
Suku bunga luar negeri memiliki hubungan yang negatif yang berarti jika suku bunga luar negeri mengalami kenaikan maka akan menurunakan kinerja saham perbankan. Ketika suku bunga deposito luar negeri atau dalam penelitian ini digunakan suku bunga Amerika Serikat mengalami kenaikan maka investor akan lebih memilih mengalokasikan dananya pada deposito luar negeri karena lebih menguntungkan. Hal ini akan berpengaruh pada turunnya harga saham pada pasar saham dalam negeri dan kemudian akan menurunkan return saham.
Nilai tukar memiliki hubungan yang negatif yang berarti jika nilai tukar mengalami kenaikan maka akan menurunkan kinerja saham perbankan. Nilai tukar yang meningkat akan menurunkan risiko sistematis dari saham perbankan. Dengan adanya penurunan pada risiko sistematis maka kinerja akan mengalami penurunan juga karena kinerja dan risiko sistematis memiliki hubungan positif. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putra dan Robiyanto (2019) dan Haque (2012).
Ketika nilai tukar dalam negeri mengalami depresiasi, maka investor akan cenderung menempatkan dananya pada pasar valas karena dinilai lebih menguntungkan. Pengalihan dana ini akan membuat pasar saham mengalami penurunan sehingga return yang diperoleh juga akan menurun. selain itu, bagi perusahaan perbankan, terdepresiasinya mata uang domestik akan menjadikan bank yang memiliki kewajiban dalam bentuk mata uang asing akan terbebani dengan adanya kemungkinan gagal bayar dari bank tersebut sehingga akan berpengaruh negatif pada profitabilitas bank.
5. PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian determinan risiko sistematis dan dampak terhadap kinerja saham perbankan 2003- 2019 diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Inflasi, suku bunga AS, dan kurs berpengaruh positif terhadap risiko sistematis saham perbankan tahun 2003 sampai 2019.
2. Suku bunga domestik berpengaruh negatif terhadap risiko sistematis saham perbankan tahun 2003 sampai 2019.
3. Inflasi, suku bunga domestik, suku bunga AS, dan kurs simultan berpengaruh signifikan terhadap risiko sistematis saham perbankan tahun 2003 sampai 2019.
4. Risiko sistematis dan kinerja saham perbankan tahun 2003 sampai 2019 memiliki hubungan yang negatif yang mana jika terjadi kenaikan atau penurunan pada determinan risiko sistematis akan berpengaruh pada kinerja dengan arah yang berlawanan dengan risiko sistematis.
5. Inflasi, suku bunga luar negeri, nilai tukar berpengaruh negatif terhadap kinerja saham perbankan.
sedangkan suku bunga domestik berpengaruh positif terhadap kinerja saham perbankan tahun 2003 sampai 2019.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah disampaikan sebelumnya, terdapat beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi investor agar lebih memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi pasar sehingga dapat mengukur risiko yang akan didapatkan dan dapat membuat keputusan investasi yang tepat menurut preferensi masing-masing investor.
2. Bagi investor yang akan berinvestasi pada saham perbankan sebaiknya lebih memahami dampak faktor makroekonomi pada saham perbankan karena belum tentu dampaknya sama dengan saham yang lain.
3. Bagi penelitian selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian yang lebih luas mengenai risiko sistematis dan kinerja saham dan bukan pada saham perbankan saja sehingga diketahui dampak variabel makroekonomi pada jenis perusahaan yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Amtiran, Paulina Yuritha, Rina Indiastuti, Sulaeman Dan Dian Masyita. 2015. Determinants Of Systematic Risk Of Banking Sector In Indonesia Stock Exchange. Global Journal Of Business And Social Science Review.
Vol, 3 No, 2 Hal, 1-7. Issn: 2289-8506.
Bailey, Warren, Connie X. Mao, Rui Zhong. 2003. Interest Rate Regimes And Stock Return Volatility: Some Evidence From Asia’s Silver Era. Journal Of Economics And Business. Vol, 55 Hal, 557-584. Issn: 0148- 6195.
Bodie, Kane, Dan Marcus. 2008. Investasi. Edisi Ke-6. Jakarta: Salemba Empat.
Boediono. 2017. Ekonomi Moneter. Edisi Ke-3. Yogyakarta: Bpfe Yogyakarta.
Brooks, Robert Dan Hooy Chee Wooi. 2015. The Components Of Systematic Risk And Their Determinants In The Malaysian Equity Market. Vol, 11 Hal, 151-76. Issn: 1823-4992.
Hanan, Al Abbadi Dan Satha Abdul Khaliq. 2017. The Relationship Between Inflation And Stock Market Performance In Jordan. European Journal Of Business And Management. Vol, 9 No, 29. Issn 2222-1905.
Haque, Abdul Dan Suleman Sarwar. 2012. Macro Determinants Of Stock Return In Pakistan. Middle-East Journal Of Scientific Research. Vol, 12 No, 4. Issn: 1990-9233.
Hashemzadeh, N., Dan P. Taylor. 1998. Stock Prices, Money Supply, And Interest Rates: The Question Of Causality. Applied Economics 20: 1603-11.
Herlianto, Didit. 2013. Manajemen Investasi. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Horne, James. 1989. Fundamentals Of Financial Management. United States Of Amerika: Prentice Hall.
Husnan, Suad. 1996. Dasar-Dasar Teori Portofolio Dan Analisis Sekuritas. Yogyakarta: Amp Ykpn.
Ibrahim, Taofik Muhammed Dan Omosola M. Agbaje. 2013. The Relationship Between Stock Return And Inflation In Nigeria. European Scientific Journal. Vol, 9 No, 4. Issn: 1857-7881.
Kasman, Saadet, Gulin Vardar, Dan Gokce Tunc. 2011. The Impact Of Interest Rate And Exchange Rate Volatility On Banks Stock Returns And Volatility: Evidence From Turkey. Economic Modelling. Vol, 28.
Issn: 0264-9993.
Kettel, Brian. 2002. Economics For Financial Markets. Oxford: Butterworth-Heinemann.