• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dewan Pastoral dan Pengelolaan Paroki

N/A
N/A
Agustinus Muda

Academic year: 2024

Membagikan "Dewan Pastoral dan Pengelolaan Paroki"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

DEWAN PASTORAL DAN PENGELOLAAN

PAROKI

(2)

2 DAFTAR ISI

Latar berlakang 3

Tujuan dari Dewan 5

KV II dan Dewan Pastoral 5

Dewan sebelum Kodeks Baru 6

Kodeks Baru 7

Pemilihan Para Anggota Dewan 8

Perwakilan Gerejawi 9

Disermen dari Anggota Dewan 9

Spiritualitas Dewan 11

Kewajiban spiritual di Dewan 12

Spiritualitas Kebebasan Dewan 13

Kesimpulan 14

(3)

3 Latar berlakang

Pada tahun 1969, seorang sarjana Ph.D muda bernama Arthur X. Deegan mempublikasikan sebuah buku yang berjudul “The Priest as Manager.” Buku ini tidak terjual dengan laris, karena judulnya. “The Priest as Manager” menimbulkan anggapan pada banyak orang bahwa imam itu semacam eksekutif perusahaan. Gambaran itu tampaknya berkonotasi seorang pemimpin yang dingin dan jauh, yang membuat keputusan mengatasnamakan yang lainnya tanpa mengetahui apa yang mereka butuhkan atau inginkan. Penjualan buku itu mengajarkan Deegan bahwa gambaran imam sebagai seorang manajer tidak bergema pada kebanyakan umat Katolik.

Padahal, gambaran Deegan sebenarnya masuk akal. Ukuran dari paroki-paroki Katolik di A.S. telah menjadi selalu lebih besar dari umat Protestan, yang mana ia telah bertumbuh hingga 64 persen pada pertengahan akhir abad ini. Saat ini ukuran rata-rata dari sebuah paroki Katolik adalah 3.085 anggota. Satu dari delapan paroki memiliki lebih dari 5.000 umat yang tercatat. Dengan umat yang besar ini, seorang Pastor perlu untuk menjadi seorang manager yang baik.

Di dalam pertambahan jumlah besar dari umat paroki, saat ini paroki A.S. memiliki anggota karyawan awam dalam jumlah yang besar. Di antara 1992 dan 1999, jumlah orang awam (mencakup biarawan berkaul) yang bekerja full atau part time di dalam peran pastoral formal bertumbuh 35 persen. 29.000 orang awam ini melebihi 27.000 imam biarawan dan diosesan yang sekarang aktif berkarya di paroki-paroki A.S. Guna membaharui buku “The Priest as Manager”-nya Deegan, kita harus berbicara tentang imam saat ini sebagai (di antara hal lainnya) seorang manager personalia.

Art Deegan pensiun pada 1997 sebagai Eksekutif Direktur dari Konferensi bagi Perencanaan Pastoral dan Perkembangan Dewan (the Conference for Pastoral Planning and Council Development). Orang dapat berargumentasi bahwa pertumbuhan CPPCD, satu- satunya organisasi nasional yang didedikasikan untuk mempromosikan perencanaan pastoral, terutama oleh dewan, membenarkan pandangan Deegan pada tahun 1969. Imam terus menjadi seorang manager, sebagaimana Deegan menuliskan dalam pengantarnya lebih dari 30 tahun yang lalu, dan “berbagi dengan para manager dan para pemimpin laki-laki lainnya tugas-tugas dan hak-hak istimewa dari profesi tersebut.”

Namun, orang-orang Katolik tidak biasa menyebut imam mereka sebagai manager.

Juga mereka tidak mendidik para imam untuk mengelola. Hukum Kanonik menyatakan bahwa para seminaris harus diinstruksikan di dalam “administrasi” paroki, namun tidak menyinggung soal “manajemen.” Referensi mengenai imam sebagai manager tidak ada dalam dokumen-dokumen resmi Gereja mengenai formatio imamat. Para seminaris disiapkan untuk mewartakan sabda, merayakan sakramen, dan untuk memimpin ibadat, namun biasanya tidak ditawarkan kursus untuk mengelola sebuah paroki.

Manajemen tidak datang begitu saja dari lidah orang Katolik, karena kata itu mengandung arti yang berhubungan dengan penguasaan/kontrol/pengaturan. Kata kerja “to manage” berasal dari kata Latin mano atau tangan. Definisi pertama dari kamus Webster untuk kata kerja ini adalah “untuk menguasai atau mengontrol.” To manage juga merupakan

“untuk membuat dan menjaga kepatuhan.” Menyebut paroki dengan hal tersebut jelas berlawanan. Umat jelas lebih dari sekedar sebuah sistem, dan kepemimpinan pastoral itu

(4)

4

lebih daripada menguasai atau mengontrolnya. Kita, orang Katolik, tentu tidak suka kemungkinan bahwa para pemimpin tertahbis membuat keputusan atas nama kita namun tanpa berkonsultasi dengan kita.

Mengatakan hal ini bukanlah sebagai pengakuan atas individualisme orang Amerika.

Orang Katolik berharap untuk berkonsultasi dengan Gembala mereka bukan karena mereka telah menolak visi hirarki Gereja dan memeluk pandangan ideal zaman pencerahan tentang kedaulatan rakyat. Tidak, konsultasi gerejawi itu berakar, seperti yang akan kita lihat di bawah, dalam filsafat klasik dan tradisi Kristen-Yahudi. Pastor yang baik berkonsultasi dengan umatnya, bukan karena ia tunduk, namun karena ia mencari kebijaksanaan mereka dan ingin menjadi satu dengan mereka.

KV II mengusulkan sebuah instrumen, yaitu dewan pastoral, justru karena alasan ini.

Pastor berkonsultasi dengan dewan ini karena mereka mencari pengetahuan dan nasihat.

Dewan dapat menawarkan jenis-jenis kebijaksanaan dan kearifan praktis yang mengarahkan pada keputusan yang baik, yang menyatukan paroki. Konsultasi menyeluruh meyakinkan umat bahwa mereka tidak “dikuasai/dikendalikan” di dalam rasa dirugikan, yang membuat mereka terus tunduk. Sebaliknya, Pastor yang tulus berkonsultasi dengan dewan pastoral mencari kebenaran, maka paroki itu akan menemukan keutuhan dalam kebenaran (Yoh 17:17).

Argumentasi saya adalah bahwa pencarian kebijaksanaan dan kearifan merupakan alasan utama bagi dewan pastoral dan karenanya adalah kontribusi utama mereka untuk manajemen paroki. Dalam hal ini, bukan manajemen dalam arti negatif, namun sebaliknya dalam definisi kedua Kamus Webster, disebutkan, “untuk mencapai tujuan seseorang.”

Dewan menolong Pastor mencapai tujuan dari paroki lewat mempelajari situasi pastoral, merefleksikannya, dan merekomendasikan apa yang harus dilakukan terhadapnya.

Akan tetapi, tidak semua orang akan menyetujui bahwa ini merupakan tujuan utama dari dewan pastoral. Beberapa akan berargumen bahwa dewan ada untuk mendorong partisipasi, atau untuk memajukan kepemimpinan awam, atau untuk meringankan beban administasi Pastor. Saya tidak setuju. Walaupun dewan yang baik dapat mencapai tujuan- tujuan tersebut, bukan itu alasan mereka untuk ada. Di dalam bab ini saya berharap untuk menunjukkan bahwa:

1. Tujuan utama dari dewan adalah perencanaan pastoral.

2. Anggota dewan harus terpilih secara umum untuk melayani tujuan utama ini.

3. Pastor harus menumbuhkan spiritualitas konsultasi dalam pencarian kebenaran.

Dimanapun dewan pastoral berada- dan mereka ada pada lebih dari 75 persen dari 19.000 paroki-paroki A.S. –kontribusi terbaik mereka adalah menolong Pastor mengelola paroki dengan menawarkan pertimbangan yang bijaksana dan arif yang berada di dalam masyarakat.

Dewan pastoral membantu imam menghindar menjadi pemimpin yang dingin dan jauh yang membuat keputusan atas nama orang lain tanpa memastikan apa yang mereka butuhkan atau inginkan. Sebaliknya, mereka memungkinkan Pastor untuk mengenal orang- orang dan memahami tujuan mereka. Dewan pastoral membiarkan dia menjadi semacam

(5)

5

manajer yang dibayangkan Art Deegan, imam-manajer yang berkomitmen untuk kepemimpinan yang bertanggung jawab. Tidak ada imam yang perlu malu dengan gelar itu ketika ia merangkul gaya manajemen yang dibangun di atas konsultasi menyeluruh dengan dewan pastoral.

Tujuan dari Dewan

Apakah kontribusi utama dewan pastoral untuk manajemen paroki benar-benar kebijaksanaan dan kearifan praktis yang muncul dalam perencanaan? Beberapa juga mungkin meragukan pernyataan ini. Memang, mereka yang meragukan bisa menyusun argumen mengesankan menentangnya. Mereka bisa mengatakan, bahwa KV II tidak menggunakan istilah perencanaan pastoral serta ambigu mengenai peran dewan lokal. Selanjutnya, perencanaan pastoral tidak dilihat sebagai pekerjaan utama dewan paroki pada tahun-tahun setelah KV II. Dan bahkan setelah Kitab Hukum Kanonik 1983 menyematkan dewan paroki sebagai "pastoral", beberapa orang mencoba menyatakan bahwa administrasi paroki terlarang untuk dewan, sehingga menghambat kemampuan mereka untuk merencanakan. Kita harus menjawab keberatan ini dalam upaya untuk mempertahankan bahwa perencanaan pastoral adalah kontribusi utama oleh dewan manajemen paroki.

KV II dan Dewan Pastoral

KV II adalah asal, meskipun tidak secara langsung, dari dewan paroki. Jika kita ingin tahu pandangan Gereja atas kontribusi dewan tersebut bagi perencanaan dan pengelolaan paroki, kita harus mulai dari sana. Namun KV II tidak menyinggung soal perencanaan pastoral. Jadi bagaimana kita bisa mengklaim bahwa kontribusi utama dewan adalah pengelolaan paroki? Untuk menjawab, mari kita mulai dengan pengakuan: KV II sebagai asal-usul dewan pastoral paroki itu tidak jelas. Alasan ketidakjelasan telah diperiksa beberapa kali, namun penyelidikan itu menyisakan kekurangan dari suatu keberhasilan. Hal ini mempersulit segala upaya untuk menggambarkan peran dalam perencanaan dan pengelolaan paroki yang seharusnya dimainkan oleh dewan.

Faktanya adalah bahwa KV II tidak pernah merekomendasikan pembentukan dewan pastoral paroki. Hal itu, bagaimanapun, meletakkan dasar mereka. Dekrit tentang Tugas Pastoral Para Uskup (Christus Dominus) merekomendasikan dewan "pastoral" pada tingkat keuskupan. Dekrit tentang Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem) merekomendasikan dewan "pastoral" pada tingkat yang bervariasi, termasuk paroki. Namun, ketika para uskup merekomendasikan dewan "pastoral", mereka membayangkannya bagi Gereja lokal (yaitu, keuskupan), dan bukan untuk gereja paroki. Dan ketika mereka berbicara tentang dewan paroki, mereka menggunakan kata "apostolik" dan bukan "pastoral". Tanpa referensi apapun yang jelas untuk paroki dewan pastoral, KV II meninggalkan mereka (dan kontribusi mereka terhadap perencanaan paroki dan manajemen) dalam ketidakjelasan.

Momen pencerahan terjadi pada tahun 1973, yaitu delapan tahun setelah Konsili Vatikan. Pada saat itu, Kongregasi Suci bagi Imam dari Vatikan menerbitkan "Surat Edaran"

kepada para uskup dunia tentang masalah dewan pastoral. Itu (dan memang itu) satu-satunya publikasi Vatikan yang seluruhnya dikhususkan berbicara mengenai dewan tersebut. Di sana, dalam konteks pembahasan dewan pastoral keuskupan, dokumen menyatakan bahwa "tidak

(6)

6

ada yang menghalangi" lembaga dewan pastoral pada tingkat paroki. Ini adalah referensi resmi pertama mengenai dewan pastoral paroki. Ini menunjukkan bahwa dewan "pastoral"

ini digolongkan pada tingkat paroki.

Ini adalah kunci untuk membedakan dasar-dasar dewan pastoral paroki. Nama pastoral menunjukkan bahwa Dekrit bagi para Uskup dari KV II (yang pertama menganjurkan dewan "pastoral") adalah sumber utama mereka. Dewan pastoral, direkomendasikan dalam keputusan ini pada tingkat keuskupan, memiliki tujuan perencanaan tertentu. Fungsi mereka adalah "untuk menyelidiki dan mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pastoral dan merumuskan kesimpulan praktis mengenainya" (par.

27). Kita dapat mengatakan bahwa tujuan perencanaan yang sama (menyelidiki, mempertimbangkan, merumuskan) merujuk pada dewan pastoral paroki juga.

Yang pasti, kita tidak bisa sepenuhnya mengabaikan Dekrit untuk Awam yang berbicara mengenai dewan pastoral paroki. Pada akhirnya, Dekrit untuk Awam merupakan satu-satunya dokumen KV II yang merekomendasikan dewan pada tingkat paroki, sekalipun menyebutnya sebagai dewan "apostolik". Mereka "harus dibentuk untuk membantu karya kerasulan Gereja," Dekrit menyatakan, dan "bisa mengurus koordinasi bersama dari berbagai asosiasi dan usaha awam " yang berhubungan dengan tugas itu (par. 26). Ini adalah cara para Bapa Konsili memprediksi dewan pada tingkat paroki. Akan menjadi terlalu terburu-buru mengatakan bahwa dewan pastoral tidak memiliki peran dalam koordinasi. Namun itu berbeda dari pekerjaan utama mereka, tugas tiga kali lipat dari studi, refleksi, dan rekomendasi.

Dewan sebelum Kodeks Baru

Bagaimanapun, dewan yang lebih awal tidak menyebut diri mereka “pastoral”. Mereka hanya dewan "paroki". Karena mereka muncul di akhir 1960-an, sebelum tahun 1973 saat penerbitan Surat Edaran, mereka merujuk pada Dekrit tentang Awam sebagai inspirasi mereka, bukan Dekrit bagi para Uskup. Dekrit untuk Awam mengatakan bahwa dewan ada untuk membantu karya kerasulan Gereja. Jadi mereka membawahi berbagai tugas, seperti:

1. Untuk "memberi saran kepada Pastor" dan "memprakarsai program"

2. Untuk "membuat, menginspirasi, dan menunjukkan kepemimpinan"

3. Untuk memelihara "kerjasama dan karya kerasulan"

4. Untuk ikut serta dalam "dialog, saling mendengarkan ... berbagi tanggung jawab dan kepedulian"

5. Untuk "berpartisipasi dalam administrasi paroki"

Semua ini adalah cara untuk membantu karya "apostolik" Gereja, tetapi ini bukanlah tugas tiga rangkap dari dewan "pastoral". Dewan yang lebih awal tidak melihat tugas utama mereka untuk menyelidiki, merefleksikan, dan merekomendasikan.

Sesungguhnya, jika salah satu tugas dari dewan yang lebih awal adalah lebih penting daripada yang lain, itu adalah tugas koordinasi komite. Dengan cara ini bagaimana dewan yang lebih awal sering menafsirkan kalimat dalam Dekrit untuk Awam tentang "koordinasi bersama dari berbagai asosiasi dan usaha awam " (par. 26). Sampai hari ini, banyak dewan

(7)

7

melihat koordinasi komite pelayanan sebagai pekerjaan utama mereka. Bahkan ada nama untuk jenis dewan ini, yaitu "dewan pelayanan." Dewan tersebut menganggap dirinya sebagai koordinator pelayanan paroki.

Jika hal ini sering terjadi, maka bagaimana kita dapat menyatakan bahwa perencanaan pastoral (lebih dari koordinasi komite pelayanan) merupakan kontribusi utama dewan manajemen paroki? Jawabannya bergantung pada transformasi dewan "paroki" menjadi dewan "pastoral".

Kodeks Baru

Bahkan setelah penerbitan Surat Edaran pada tahun 1973, dewan paroki jarang menggambarkan diri mereka sebagai dewan "pastoral". Hal itu mulai terjadi dengan sering hanya setelah tahun 1983, ketika revisi Kodeks hukum kanonik diterbitkan. Istilah "dewan pastoral" menjadi populer setelah orang Katolik mulai merenungkan Kanon 536, yang menyatakan:

§ 1 Jika menurut penilaian Uskup diosesan setelah mendengarkan dewan imam dianggap baik, hendaknya di setiap paroki dibentuk dewan pastoral yang diketuai Pastor Paroki; dan dalam dewan pastoral itu kaum beriman kristiani bersama dengan mereka yang berdasarkan jabatannya mengambil bagian dalam reksa pastoral di paroki, hendaknya memberikan bantuannya untuk mengembangkan kegiatan pastoral.

§ 2 Dewan pastoral mempunyai suara konsultatif saja dan diatur oleh norma-norma yang ditentukan Uskup diosesan.

Kanon 536 adalah satu-satunya referensi dalam kodeks mengenai dewan pastoral paroki. Hal itu membuat penggunaan yang disengaja dari ide dewan "pastoral" yang diambil dari Dekrit KV II mengenai Bishop. Ini tidak mengacu pada dewan "apostolik" yang disebutkan dalam Surat Keputusan Awam. Akibatnya, terminologi apostolik menjadi tidak digunakan. Dari publikasi Kodeks 1983, dewan paroki mulai menyebut diri mereka pastoral.

Tetapi, apakah dewan pastoral paroki itu pada kodeks baru? Kanon 536 mengatakan bahwa dewan tersebut "memberikan bantuannya untuk mengembangkan kegiatan pastoral."

Pernyataan mengenai tujuan ini begitu hambar karena hal itu bisa berlaku untuk setiap anggota umat Kristen beriman. Sebagai akibat dari penerbitan kodeks baru, dua jenis upaya dilakukan untuk mempertajam fokus dewan pastoral paroki. Yang pertama adalah upaya untuk membatasi urusan pokok dari dewan. Beberapa ahli kanonik berpendapat bahwa fokus pada hal-hal pastoral dimaksudkan untuk mengecualikan hal-hal duniawi, administrasi paroki, dan koordinasi komite. Upaya kedua adalah untuk memperbaiki cara kerja dewan.

Banyak penulis populer mengatakan bahwa "pastoral" berarti bahwa dewan harus memiliki fokus spiritual dan menjadi berorientasi pada konsensus. Tujuan jelas bahwa Kanon 536 ditujukan untuk dewan seharusnya diklarifikasi dengan membatasi ruang lingkup mereka dan meningkatkan metode mereka.

Bagaimanapun, mereka yang berusaha membatasi ruang lingkup atau memperbaiki metode dewan pastoral paroki tidak sama sekali berhasil dalam menjelaskan tujuannya.

Upaya mereka bergantung pada definisi dari kata pastoral, kata yang digunakan Dekrit KV II

(8)

8

untuk Para Uskup. Di sana kita melihat bahwa pastoral bukanlah antonim dari temporal atau administratif. KV II menjelaskan bahwa dewan pastoral memiliki peran dalam segala sesuatu yang berkaitan dengan karya pastoral, termasuk administrasi. Bahkan koordinasi komite pelayanan, sekalipun bukan menjadi pekerjaan utama dewan pastoral, berada dalam lingkup mereka. Kita tidak bisa menemukan sifat dewan pastoral dengan mengecualikan ranah praktis.

Juga adalah kata pastoral sinonim untuk gaya pertemuan. Para penulis populer yang berpendapat bahwa dewan pastoral harus mencapai keputusan dengan konsensus, melarang prosedur parlementer sebagai sarana untuk pengambilan keputusan, yaitu gaya yang membingungkan sehubungan dengan hakekatnya. Sebuah dewan pastoral adalah pastoral bukan karena gayanya, namun pastoral karena memberi masukan kepada Pastor yang berkonsultasi dengannya. Penekanan pada peran Pastor konsisten dengan KV II dan dengan Kanon 536 yang mendesak dewan pastoral "memiliki suara konsultatif saja." Pastor berkonsultasi dengan dewan karena mereka ingin memberi masukan tentang paroki. Setelah Pastor menerima saran dewan, ia mungkin ingin menerapkannya melalui bantuan dewan, tapi ini sebenarnya inisiatif yang bersifat sekunder. Mengembangkan pemberian masukan adalah yang utama. Saran ini muncul dari tugas tiga rangkap dewan, yaitu menyelidiki, merenungkan, dan menarik kesimpulan tentang hal-hal pastoral. Ini termasuk hal-hal praktis dari administrasi paroki.

Mari kita meringkas apa yang telah kita katakan tentang tujuan dewan pastoral paroki.

Tujuan utama dan kontribusinya terhadap manajemen paroki adalah perencanaan pastoral.

Yang pasti, KV II tidak berbicara mengenai dewan pastoral paroki. Namun dokumen resmi berikutnya telah menetapkan dewan ini dalam hal jenis pastoral yang direkomendasikan dalam Dekrit untuk para Uskup. Tidak diragukan lagi dewan paroki sebelumnya tidak melihat masalah ini dengan jelas. Mereka menghindari terminologi "pastoral" dan menanggung sendiri sejumlah tugas, termasuk dukungan dari superstruktur komite paroki.

Koordinasi komite paroki tentu dalam lingkup dewan pastoral. Namun bukan tugas utamanya. Setelah Kodeks 1983 memasukkan kata pastoral, dewan paroki dipandu oleh Dekrit KV II untuk para Uskup. Selanjutnya mereka memiliki tugas tiga rangkap, yaitu menyelidiki dan merenungkan hal-hal pastoral dan merekomendasikan kesimpulan mereka ke Pastor. Tugas ini dapat disebut perencanaan pastoral. Ini adalah tugas utama dewan pastoral itu.

Pemilihan Para Anggota Dewan

Marilah kita mengakui, bahwa pekerjaan utama dewan paroki adalah perencanaan pastoral, dan kini beralih kepada kekhawatiran kedua kami. Kekhawatiran ini adalah pertanyaan mengapa dewan (dan bukan orang lain) harus melakukan perencanaan tersebut.

Mengapa seorang Pastor menghampiri kesulitan dalam merekrut dan berkonsultasi dengan umat bijaksana, umat yang mungkin saja tidak memiliki pelatihan formal dalam pelayanan atau administrasi? Haruskah dia merasa tidak puas dengan cukup merencanakannya dengan staf parokinya? Apalagi, staf paroki mungkin termasuk ahli teologi, pendidikan agama, pelayanan, dan disiplin pastoral lainnya. Dalam era yang menekankan staf terlatih, bukankah dewan pastoral usang?

(9)

9

Terdapat dua pertanyaan. Yang pertama adalah tentang apa yang dapat ditawarkan oleh dewan sukarelawan yang tidak bisa dilakukan oleh staf yang digaji. Pertanyaan kedua adalah tentang bagaimana merekrut dan memilih dewan yang bijaksana. Pertanyaan kedua tergantung pada yang pertama. Jika dewan memiliki sesuatu yang penting yang tidak dimiliki oleh staf awam, maka Pastor akan ingin memilih anggota dewan untuk kualitas yang membuat dewan penting. Inti dari dewan pastoral, saya katakan, terletak pada tujuannya dengan cara berdialog antar perwakilan umat. Dialog adalah ide dari dunia Yunani kuno, yaitu cara mendapatkan kebenaran lewat percakapan. Dalam rangka untuk menyajikan kontribusi khas dewan pastoral paroki, kita harus menunjukkan bagaimana pengetahuan itu menghasilkan hal yang berbeda dari pengetahuan ahli dari anggota staf. Kemudian kita bisa menunjukkan bagaimana untuk memilih anggota dewan perwakilan yang pandai dalam berdialog.

Perwakilan Gerejawi

Dokumen resmi Gereja menerapkan istilah "wakil" untuk dewan pastoral. Dewan pastoral keuskupan dikatakan mewakili keuskupan dan mencerminkan daerahnya, kondisi sosial, dan pengakuan imannya. Anggota dewan pastoral paroki biasanya didorong untuk mencerminkan profil demografi masyarakat, untuk mencerminkan berbagai pendapat, dan menyertakan berbagai pembawaan. Dokumen Gereja setuju bahwa dewan pastoral harus bersifat representatif.

Bagaimanapun, tidak segera jelas apa makna representasi yang dimaksud. Untuk memulai, Gereja membedakan konsep representasi dari konsep politik demokrasi perwakilan.

Dewan tidak mewakili kedaulatan rakyat. Dewan pastoral bukanlah legislatif atau parlemen dibedakan dari Pastor. Umat tidak bisa mengajukan banding ke dewan terhadap Pastor. Untuk hal lain, sebagian besar pedoman dewan memungkinkan Pastor untuk menunjuk sejumlah anggota dewan yang belum secara umum terpilih menjadi dewan. Ketentuan ini mengungkapkan keyakinan bahwa Pastor harus mendengar suara-suara dari minoritas dalam paroki. Penekanan Gereja tentang representasi tidak berarti bahwa mayoritas harus selalu menang.

Pada tingkat yang paling dasar, makna gerejani dari representasi adalah bahwa dewan merupakan kearifan praktis umat Allah. Gereja ingin Pastor yang dibimbing oleh kearifan.

Pastor pada gilirannya ingin tahu apa yang terbaik yang dapat dilakukan bagi parokinya.

Pertanyaan tentang tindakan paroki jelas tidak bisa diputuskan secara abstrak. Mereka tidak bergantung pada konsekuensi logis murni dari dugaan prinsip pertama. Sebaliknya, mereka bergantung pada pengetahuan yang kontingen. Mereka bergantung pada perubahan kebutuhan masyarakat. Anggota dewan yang bijaksana tahu bagaimana untuk membicarakannya dengan tepat, bagaimana memberi nasihat, bagaimana untuk menanyakannya, dan bagaimana menilainya dengan cerdik. Dengan cara itu mereka mewakili atau "menghadirkan" kearifan praktis umat Allah.

Disermen dari Anggota Dewan

Bagaimana paroki memilih anggota dewan? Dokumen resmi Romawi memberikan berbagai metode seleksi, termasuk pemilihan dan pengangkatan. Namun, kebanyakan

(10)

10

pedoman bagi dewan pastoral di AS merekomendasikan cara pemilihan parish-wide. Ketika pemilihan tersebut dilakukan dengan cara yang cerdas, sungguh dapat menghasilkan anggota dewan yang terbaik.

Bapa Michael Parise, seorang Pastor di Keuskupan Agung Boston, menjelaskan pemilihan cerdas dalam sebuah artikel 1995 di "The Priest." Paroki tempat Pastor Parise itu, merupakan tempat yang sibuk dengan lima puluh proyek dan program, menggunakan proses disermen untuk memilih anggota dewan. Pastor Parise mengumumkan serangkaian tiga pertemuan pada malam Minggu dengan tujuan eksplisit memilih dewan pastoral. Semua umat diundang, dan Bapa Parise mengirimkan undangan pribadi ke sejumlah umat yang terutama ingin mempertimbangkan menjadi anggota dewan. Dalam pertemuan pertama, ia berbicara tentang tujuan yang ia harapkan dari dewan. Pada pertemuan kedua, ia mengundang diskusi dalam kelompok kecil mengenai Gereja, pemuridan, dan pembentukan pribadi anggota dewan pastoral. Pertemuan ketiga menekankan pembentukan dewan dalam kehidupan Kristen. Di dalamnya juga termasuk proses nominasi, penegasan, dan pemungutan suara.

Pastor Parise mengundang peserta ke panti imam gereja. Di sana, dalam iklim doa, ia memimpin mereka melalui proses disermen, meminta mereka untuk mencalonkan dan memilih anggota dewan.

"Disermen" atas anggota dewan adalah metode yang dikembangkan pada 1970-an dan 1980-an. Ini muncul dalam hubungannya dengan kritik dari pemilihan dewan paroki, yang beberapa pengamat merasa sangat mirip dengan kontes popularitas. Kritik tersebut mengatakan bahwa calon untuk keanggotaan dewan pastoral sering tidak mencerminkan apakah mereka memenuhi syarat untuk pelayanan yang efektif di dewan. Selain itu, karena umat hanya memiliki pengetahuan yang minim mengenai tugas dewan pastoral, maka mereka sering memberikan suara mereka atas dasar kesan pertama yang dangkal. Proses disermen - termasuk sebagai cara yang lebih serius dalam pencalonan dan pengawasan yang lebih luas pada bagian pemilih- dimaksudkan untuk memperbaiki masalah tersebut.

Artikel Pastor Parise pada tahun 1995 memberikan contoh praktek disermen. Hal ini biasanya meliputi empat tahap. Disermen dimulai dengan berbagi informasi mengenai dewan.

Disermen tepat bila dilakukan dalam serangkaian pertemuan terbuka paroki. Dalam pertemuan ini, orang-orang yang dicalonkan, dan para peserta memeriksa dan mempertimbangkan calon-calon lewat dialog. Akhirnya, terdapat tindakan penyeleksian, yang biasanya dengan pemungutan suara. Pedoman dewan pastoral yang diterbitkan oleh keuskupan AS kerap kali merekomendasikan cara disermen dalam pemilihan umum anggota dewan. Saya percaya bahwa pemilihan lewat disermen adalah proses terbaik untuk memilih anggota dewan.

Pemilu yang dilakukan dengan baik dapat membangkitkan minat dalam kepemimpinan paroki, mendidik umat, dan memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam pemilihan wakil mereka. Ini juga membebaskan pastor dari tanggung jawab karena harus menjelaskan bahwa dewan pilihan itu bukan sekedar orang-orang dekatnya. Di atas semuanya, pemilihan mengundang bantuan seluruh paroki di memilah siapa yang memiliki karunia kebijaksaan dan kearifan praktis yang diperlukan dalam dewan pastoral. Kontribusi utama dari dewan pastoral dalam manajemen paroki adalah perencanaan paroki. Perencanaan tersebut bertujuan untuk mewujudkan kearifan dari masyarakat. Hal ini paling baik dilakukan

(11)

11

oleh anggota dewan yang piawai dalam tugas tiga rangkap dari dewan pastoral, yaitu tugas menyelidiki, merenungkan dalam dialog, dan membuat rekomendasi yang tepat tentang apayang harus dilakukan paroki. Pemilihan dalam disermen sungguh bernilai bagi pastor yang ingin mencari anggota dewan yang berkualitas.

Spiritualitas Dewan

Kedua argument awal kami (tentang tujuan dewan dan bagaimana dewan itu dicari) membawa kita ke argumen ketiga dan terakhir. Argumen ini berhubungan dengan spiritualitas dewan. Saya memaksudkan spiritualitas sebagai cara yang mana anggota dewan menyatukan misi Kristus dan Gereja. Spiritualitas dewan harus dikaitkan dengan tujuan dewan dan karunia anggotanya. Jika dewan pastoral adalah jenis khusus dari dewan, yang ditandai dengan tujuan tiga rangkap, dan jika kriteria utama untuk keanggotaan dewan adalah kemampuan anggota untuk mencapai tujuan itu, maka kita dapat berbicara dengan beberapa ketelitian tentang misi dewan. Ini merupakan aspek tertentu dari misi yang lebih luas.

Anggota Dewan menjadi mitra bersama pastor mereka dalam memahami paroki dan mengajukan masukan-masukan bagi kebutuhannya. Dalam melakukan hal ini, mereka tidak hanya menyelesaikan tugas tiga rangkap. Dengan cara tertentu, mereka menyatukannya dengan misi Kristus.

Beberapa pembaca mungkin bertanya apakah diskusi spiritualitas harus ditempatkan dalam sebuah buku tentang manajemen paroki. Mungkin mereka akan mengatakan bahwa manajemen tidak ada hubungannya dengan praktik-praktik spiritual dari anggota dewan pastoral. Praktik spiritual -yaitu apa yang biasanya dipahami banyak orang sebagai spiritualitas. Pada kenyataannya, pembahasan lebih awal tentang spiritualitas dewan sering disebut praktik spiritual atau spiritual yang tampak (yaitu, "pastoral") materi pokoknya.

Anggota Dewan disarankan untuk menggabungkan doa sebagai bagian utama dari pertemuan, untuk melakukan retret tahunan, untuk membuat keputusan lewat pertimbangan spiritual, untuk menghindari pertentangan sehubungan administrasi, dan untuk membatasi ruang lingkup dewan bagi misi spiritual paroki. Meskipun tidak ada yang bisa membantah doa dan retret, hal-hal tersebut tidaklah kemudian menjadi lebih penting bagi dewan dibandingkan bagi setiap umat Kristen beriman. Spiritualitas dewan tidak dapat direduksi menjadi serangkaian praktik. Juga tidak tergantung pada gaya pengambilan keputusan atau pada subyek spiritual. Hal ini sebaliknya adalah cara di mana pastor dan anggota dewan menerima misi khusus mereka, yaitu perencanaan pastoral.

Pencapaian hubungan yang bermanfaat antara Pastor dan anggota dewan memungkinkan kita untuk berbicara tentang spiritualitas dewan pastoral. Spiritualitas ini memiliki dua aspek. Salah satu aspek berkaitan dengan kewajiban yang ada antara pastor dan dewan. Kewajiban ini tersirat dalam ajaran Gereja tentang dewan. Aspek kedua spiritualitas dewan adalah kebebasan yang dimiliki setiap orang Kristen dan dilaksanakan dalam pertemuan dewan. Ini adalah kebebasan untuk mendengarkan Firman Allah, menaatinya, dan mengejar kebenarannya. Mari kita lihat masing-masing aspek tersebut pada gilirannya.

(12)

12 Kewajiban spiritual di Dewan

Konsultasi mewajibkan seorang Pastor untuk secara tulus masuk dalam hubungan dialog dengan dewan. Dengan konsultasi itu, ia mengajak dewan untuk melakukan apa yang dimaksudkan Gereja untuk melakukan hal itu -yaitu, untuk mempelajari masalah pastoral, merenungkannya, dan menarik kesimpulan bijaksana. Ini adalah fungsi yang tepat dari dewan. Fungsi ini mengandaikan Pastor dengan pertanyaan-pertanyaan dan umat yang mencari jawaban-jawabannya dengan cara dialog. Semua terikat bersama oleh harapan bersama. Pastor berkonsultasi dengan tulus dan jujur. Anggota Dewan meresponnya dengan menyelidiki dan berefleksi. Masing-masing memiliki kewajiban satu sama lainnya.

Pastor berkonsultasi dengan dewan, seperti yang saya katakan, tapi tidak terikat dengan saran mereka. Dokumen Vatikan tidak mewajibkan Pastor untuk berkonsultasi dengan dewan mereka mengenai subyek tertentu. Selain itu, Pastor dapat menolak rekomendasi yang diterimanya. Tidak ada Pastor yang wajib menerima nasihat yang buruk, dan sebagian besar umat Katolik akan menegaskan prinsip tersebut. Jadi menjadi anggota dewan memerlukan asketisme. Berpartisipasi dalam dewan adalah disiplin religius, kita dapat mengatakan, di mana anggota dewan mungkin harus menyangkal dirinya dari kepuasan terhadap diterimanya saran mereka. Ini merupakan panggilan bagi kerendahan hati. Pastor tidak dapat menemukan rekomendasi dewan bersifat persuasif.

Namun anggota dewan juga memiliki hak untuk dikonsultasikan. Itu merupakan hal konstitutif dari menjadi anggota dewan pastoral. Pastor seharusnya mengundang dewan untuk belajar, merenung, dan mencapai kesimpulan. Memang, anggota dewan tidak perlu berkonsultasi pada setiap hal, dan bahkan dalam setiap hal yang penting. Tidak ada Pastor yang memiliki cukup waktu untuk berkonsultasi dengan semua orang tentang segala sesuatu.

Namun, konsultasi mengungkapkan aspek fundamental dari hubungan anggota dewan dengannya. Jika seorang Pastor tidak memilih untuk membahas suatu hal yang ingin dibahas oleh dewannya, ia harus menjelaskan alasannya. Tentang hal-hal sebelum dewan, anggota dewan layak pendapat. Itulah fungsi yang tepat dari mereka.

Ketika anggota dewan menghadapi disfungsi, mereka tidak sendirian tanpa bantuan.

Jika Pastor tidak benar-benar berkonsultasi dengan mereka, atau melakukannya dengan buruk, anggota dewan memiliki hak dan kewajiban untuk berbicara. Ini adalah hak kanonik dari umat Katolik di mana saja. Mereka memiliki hak untuk menyatakan keyakinan mereka, untuk berbicara dengan umat lain, dan mencoba untuk membujuk Pastor -semua dalam batas- batas cinta kasih. Dan jika setelah itu mereka masih merasa bahwa mereka sedang diperlakukan tidak adil, mereka memiliki hak untuk membawa keprihatinan mereka menjadi perhatian pejabat keuskupan -sekali lagi, dalam batas-batas cinta kasih. Dan bahkan jika mereka tidak puas dengan pejabat keuskupan, umat Katolik yang setia masih memiliki jalan lain. Seperti telah ditulis oleh Pastor Richard C. Cunningham, "Pada akhirnya mereka masih memiliki kekuatan massa, keuangan, opini publik, dari sensus fidelium, hati nurani, dan kekuatan radikal untuk mengebaskan debu dari kaki mereka saat mereka pergi."

Bagaimanapun, bagi sebagian orang, relasi antara Pastor dan anggota dewan itu sungguh menyenangkan. Tentu ini menjadi pengecualian bagi Pastor-pastor yang tidak berlaku dengan sesuai. Pertumbuhan mengesankan dari dewan selama tiga puluh lima tahun menunjukkan bahwa Pastor mengandalkan saran dari dewan, dan bahwa dewan memberikan

(13)

13

kontribusi signifikan terhadap tata kelola paroki. Mereka berbagi hubungan dalam kewajiban bersama. Para Pastor mencari nasihat dari anggota dewan karena ia ingin memimpin mereka tempat Allah memanggil paroki. Anggota Dewan mencoba untuk memberikan kepada Pastor kebenaran dari kebijaksanaan praktis, yaitu kebenaran yang membangun komunitas.

Kewajiban bersama ini adalah batu dasar dan aspek pertama spiritualitas dewan. Sekarang mari kita lihat aspek kedua, bahwa kebebasan.

Spiritualitas Kebebasan Dewan

Kebebasan berkonsultasi tidak hanya sekedar bahwa seorang Pastor dapat menerima atau menolak saran dari dewan. Jika memang hanya itu, maka akan mendorong Pastor menjadi acuh tak acuh terhadap dewan mereka. Sekalipun, kadang kala kita dapat menemukan Pastor yang acuh tak acuh, mereka cukup jauh dari kata ideal. Kebebasan atas panggilan berkonsultasi bukanlah demi ketidakpedulian namun demi sikap netral. Pastor yang baik mencari kebijaksanaan praktis, bukan demi dirinya sendiri, tetapi untuk parokinya.

Ia bersikap netral guna menghindari kepentingan pribadi yang sempit, baik milik sendiri ataupun dewan. Ia mencari kebenaran, pengetahuan yang benar tentang situasi pastoral, kebenaran yang akan membebaskan masyarakat untuk mendengar Firman Tuhan dan mengikutinya.

Seorang Pastor harus menjadi pemimpin dalam berkonsultasi dengan dewan. Ia harus dapat memberikan instruksi yang jelas kepada dewannya. Ia harus dapat memberikan arahan dan menentukan fokus. Jika ia ingin membantu dewan, ia perlu menjelaskan bagaimana dan mengapa. Namun bagaimanapun, pada saat yang sama ia harus menghormati kebebasan dewan. Ia harus membebaskan mereka untuk melakukan jenis pelayanan mereka sendiri.

Dalam beberapa hal, spiritualitas dalam pertemuan dewan seperti itu dapat ditilik dari Socrates, seorang filsuf yang tahu bahwa dia tidak tahu segalanya (Bdk. “Apology” dari Plato). Pastor yang baik mengangkat permasalahan serta memiliki fokus dalam pembicaraan, sehingga memungkinkan munculnya kebijaksanaan para anggota. Kepemimpinannya tidak kemudian memaksakan suatu hasil akhir diinginkannya. Dengan hal ini, kebenaran menjadi memungkinkan lahirnya kebenaran.

Ketika anggota dewan melakukan investigasi atas topik pastoral, mereka menggunakan kebebasan Kristen yang mendasar. Ini adalah kebebasan untuk mendengarkan Firman Tuhan dan mentaatinya. Ini adalah kebebasan untuk mempelajari materi secara menyeluruh dan melihat kebenaran dalam diskusi dengan yang lain. Dengan demikian, anggota dewan berusaha untuk membebaskan dirinya dan paroki dari kesalahan persepsi dan ilusi. Mereka berusaha untuk membebaskan diri dari kesibukan sepele guna mendapatkan wawasan yang lebih dalam. Tujuan mereka adalah untuk melihat apa yang harus diperbuat oleh paroki. Tindakan disermen mengungkapkan kebebasan spiritual mereka.

Seorang Pastor tidak harus menerima saran dewan, hingga ia yakin bahwa saran itu bijaksana. Hal ini juga memanifestasikan kebebasan spiritual. Ia perlu untuk mengekspresikan keberatan dan kekhawatirannya, berbagi keraguan mengenai arah yang direkomendasikan oleh dewan, dan mengundang penelitian lebih lanjut dan refleksi. Siapakah yang boleh memutuskan kapan konsultasi sudah cukup? Bukan Pastor. Hal itu merupakan bagian dari kebebasan perundingan. Anggota dewan tidak bisa memaksa Pastor untuk

(14)

14

menahan perundingan. Memaksa Pastor untuk mengikuti saran dewan atas penilaian mereka sendiri yang dipandang lebih baik bukanlah pelayanan atas kebenaran itu. Kebebasan konsultasi menyiratkan bahwa sekalipun bermaksud baik, anggota dewan harus berani membatasi diri. Seorang Pastor yang baik harus menyimpulkan masa pembelajaran dan refleksi hanya jika telah ada cukup pengetahuan untuk memutuskan dengan baik.

Singkatnya, spiritualitas dewan bergantung pada kewajiban timbal balik antara Pastor dan anggota dewan, serta kebebasan di mana mereka menikmati dalam melakukan apa Gereja harapkan dari mereka untuk dilakukan. Dewan tidak sekadar alat dari Pastor, namun kelompok yang mana ia menemukan kebijaksanaan praktis. Dia harus jujur terhadap mereka, menjelaskan jenis bantuan ia butuhkan dan jujur ketika ia tidak puas dengan pekerjaan mereka. Mereka pada gilirannya memiliki kewajiban untuk jujur dengannya dan setia mewakili kearifan masyarakat. Meskipun Pastor tidak terikat oleh saran dewan, namun ia harus membebaskan anggota untuk menemukan apa yang arif dan bijaksana untuk diterapkan bagi paroki. Dan meskipun anggota dewan menemukan bahwa saran-saran mereka belum tentu selalu diterima, namun mereka memiliki kebebasan untuk berbicara kebenaran dan untuk pergi dari situasi yang tidak pada jalurnya lagi.

Kesimpulan

Kontribusi utama dari dewan pastoral dalam manajemen paroki adalah perencanaan pastoral.

Perencanaan tersebut adalah istilah singkatan di AS untuk tugas tiga rangkap dari dewan pastoral seperti yang dinyatakan dalam dokumen-dokumen Gereja, yaitu tugas menyelidiki, merenungkan, dan menarik kesimpulan mengenai hal-hal sehubungan dengan paroki.

Perencanaan pastoral lebih baik didasarkan pada penjelasan dari Kanon Hukum tentang peran konsultasi dewan dibandingkan yang dilakukan orang lain, seperti koordinasi komite paroki atau pelaksanaan dari inisiatif dewan.

Utusan anggota dewan menawarkan kepada Pastor manfaat yang baik yang tidak ditemukan pada penasihat ahli atau bahkan staf pastoral. Ini merupakan argumen kedua kami.

Anggota dewan menawarkan kepada Pastor manfaat dari kebijaksanaan praktis, yang didefinisikan sebagai pengetahuan bijaksana atas apa yang harus dilakukan paroki dalam situasi tertentu. Berbeda dengan pengetahuan para ahli, yang terlepas dari variabel lokal, kebijaksanaan praktis ini tergantung pada pemahaman atas komunitas. Hal ini muncul dalam dialog di antara kalangan umat. Dan tidak seperti pengetahuan dari staf paroki, kebijaksanaan praktis dewan -berasal dari anggota yang adalah utusan. Mereka tidak mewakili bidang teknis atau administrasi paroki, tetapi mewakili akal sehat umat. Mereka tidak mengejar pengetahuan pada umumnya, tetapi pertanyaan praktis tentang apa yang harus dilakukan oleh paroki.

Argumen ketiga adalah bahwa spiritualitas dewan mengalir dari tujuan mereka dan kodrat perwakilan mereka. Apa yang dicari oleh Pastor dari dewan pada akhirnya adalah hal spiritual. Ini adalah kebaikan dari pengetahuan, yaitu kebijaksanaan praktis tentang apa yang bijaksana bagi masyarakat untuk melakukannya. Hal ini terutama bukan mengenai praktek- praktek spiritual, gaya rapat, atau materi pelajaran spiritual. Sebaliknya, spiritualitas dewan yang terbaik dinyatakan dalam cara dewan yang berpartisipasi dalam merumuskan misi dewan itu sendiri. Hal ini mencakup kewajiban bersama yang menyatukan Pastor dan

(15)

15

anggota dewan, serta kebebasan mereka menikmati hal-hal yang dapat mereka lakukan bagi Gereja. Ini mengidentifikasikan kontribusi khusus mereka dalam pengelolaan paroki. Mereka membantu Pastor merencanakan tanggapan atas kebutuhan paroki lewat kebijaksanaan masyarakat yang mereka hadirkan.

Referensi

Dokumen terkait

Dapat dikembangkan lagi dengan menambahkan fitur-fitur layanan administrasi pastoral untuk validasi dokumen gereja dan SMS gateway yang digunakan dewan paroki

bayar, tanda terima, dan bukti kas masuk masih kurang tertib dilakukan oleh Ke- tua Dewan Paroki, Bendahara Dewan Paroki dan Kasir Sekretariat Paroki, Paroki belum

Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa Dewan Paroki Santa Maria Assumpta Klaten memiliki tingkat penerimaan teknologi Google Suite yang cukup terlihat dari niat yang

Konseling pastoral memiliki keunikan karena pelayanannya dilakukan oleh petugas pastoral (imam atau pastor dan orang yang ditunjuk secara khusus oleh pastor paroki

Dewan Pastoral Paroki adalah suatu badan yang dibentuk atas dasar keputusan Uskup, yang didalam- nya berkumpul para wakil Umat Allah dengan Pastor Paroki sebagai kepala,

Rumusan lama, namun masih hidup di kalangan umat, mungkin juga kita semua: Karya Paroki adalah karya pelayanan gerejani (khususnya sakramental) yang dibatasi dengan wilayah

Paroki dapat bekerjasama dengan Dewan Karya Pastoral Keuskupan Bandung dalam pengembangan kapasitas umat beriman yang terlibat dalam tindakan sosial.. Pertama, Terkait pelayanan teknis

Memerhatikan karakter umat Paroki Palasari maka usulan saya reksa pastoral Paroki berdasarkan pada prinsip 3 K: kegembalaan yang baik Pastor bonus berkeliling mengunjungi umat terdiri