• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diduga Diracun

N/A
N/A
Moy’s Archive

Academic year: 2024

Membagikan " Diduga Diracun"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Time Stamp Pihak Narasi Scene di bagian 9 Januari 2016

13:54 - 14:45  Kombes Pol. Krishna Murti (Direskrimum Polda Metro Jaya)

 Edy Darmawan Salihin (Ayah Kandung Mirna)

 Sandy Salihin (Saudara kembar Mirna

Pihak kepolisian mendatangi rumah duka Mirna Salihin. Sandy memberikan pernyataan bahwa pihak kepolisian mengatakan bahwa Mirna diracun dan harus dilakukan autopsi. Pada bagian ini, terdapat Kombes Pol. Krishna Murti memberikan pernyataan

“Kalau kematian ini tidak wajar, dan tidak ada autopsi, maka polisi tidak bisa melakukan penyelidikan maupun penyidikan”. Kemudian, pihak keluarga Mirna menyetujui untuk dilakukan autopsi.

Scene di bagian 10 Januari 2016 15:00 - 15:45  Edy Darmawan Salihin

 Fristian Griec (Jurnalis)

Polisi mengeluarkan hasil autopsi Mirna yang menyatakan bahwa ditemukannya sianida pada lambung Mirna dan mengeluarkan asumsi bahwa penyebab kematian Mirna adalah diracun/

Berdasarkan pernyataan dari Fristian Griec, polisi mengumumkan hasil autopsi tersebut di Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya

Scene di bagian 29 Januari 2016

18:00 - 18:10  Narator Narator di dalam film menyatakan bahwa pada tanggal 29 Januari 2016, setelah hasil autopsi Mirna keluar, polisi masih berusaha mengungkap pelaku yang meracuni Mirna melalui olah TKP, pra- rekonstruksi, dan memeriksa sejumlah saksi

,19:55 - 20:08  Reporter berita Reporter berita menyatakan Jessica Wongso kembali diperiksa sebagai saksi. Scene menampilkan tayangan berita suasana ketika Jessica dikerumuni dan dijejali berbagai pertanyaan oleh wartawan.

Scene di bagian 30 Januari 2016 22:02 - 22:39  Reporter berita sebagai

suara di latar belakang.

 Kepolisian

Scene ini menampilkan tayangan berita ketika pihak kepolisian mendatangi kamar hotel yang saat itu ditempati oleh Jessica dengan diiringi oleh pernyataan yang disampaikan oleh reporter berita yang menjelaskan bahwa Penyidik Subdik Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya menangkap Jessica sebagai tersangka kasus pembunuhan Mirna. Polisi mendakwa Jessica dengan pembunuhan berencana, dengan ancaman penjara minimum 20 tahun dan maksimal peenjara seumur hidup atau hukuman mati.

Scene di bagian 15 Juni 2016: Sidang Hari Pertama

25:00 - 26:46  Reporter berita Scene ini menampilkan cuplikan reporter berita serta suasana terkait dilaksanakannya sidang perdana dari

(2)

 Edy Salihin Jessica sebagai terdakwa pembunuh Mirna yang digelari di pengadilan negeri Jakarta Pusat, Rabu pagi.

Scene ini menampilkan betapa ramainya orang-orang yang berada di tempat sidang oleh awak media untuk mewawancarai Edy Salihin.

27:09 - 27:35  Prof Eddy O.S Hiariej (Wakil Menteri Hukum dan HAM)

Scene ini menampilkan hadirnya Jaksa Penuntut Umum di ruang persidangan, kemudian dilanjutkan dengan menampilkan scene wawancara dengan Prof Eddy yang menyatakan bahwa jaksa harus ekstra profesional dan hat-hati dan tugas Jaksa adalah meyakinkan hakim bahwa Jessica adalah pembunuhnya

28:00 - 28:19  Shandy Handika (Jaksa) Scene ini menampilkan bagaimana jaksa dalam persidangan Jessica, Shandy Handika menyatakan bahwa apabila putusannya Jessica dinyatakan tidak bersalah akan memberikan citra buruk pada tim jaksa.

28:38 - 28:47  Ardito Muwardi (Jaksa) Scene ini menampilkan potongan berita tentang pernyaatan Ardito Muwardi (Jaksa) setelah sidang hari pertama yang mengatakan bahwa kasus ini cukup dengan dakwaan tunggal dengan pasal 340 yaitu pembunuhan berencana.

28:48 - 29:54  Ardito Muwardi (Jaksa Penuntut Umum)

 Shandy Handika (Jaksa Penuntut Umum)

 Wahyu Oktaviandi (Jaksa Penuntut Umum)

Ardito memberikan penjelasan terkait bagaimana peran jaksa dalam menangani kasus ini . Ardito menjelaskan bahwa jaksa berperan mengungkap fakta apa yang terjadi.terkait apa yang sedang dilakukan oleh pelaku maupun korban. Shandy Handika menambahkan bahwa jaksa tidak langsung menuduh Jessica sebagai pelaku tindak pidana tetapi menelusuri rangkaian dari mulai kopi itu dibuat sampai kopi itu dijadikan barang bukti. Hal yang ditelusuri adalah terkait siapa yang menyentuh kopi itu dan siapa yang dekat dengan kopi itu, hal ini ditelusuri melalui rekaman CCTV yang ada. Wahyu Oktaviandi juga menambahkan bahwa hal spesifik yang ditelusuri dalam rekaman CCTV tersebut adalah dua tindakan keanehan yaitu pergeseran kursi dan penaruhan paperbag di depan gelas. Peran jaksa berikutnya adalah ketika jaksa tidak mengetahui kapan tepatnya racun masuk ke dalam minuman, maka jaksa memberikan petunjuk kepada penyidik untuk melakukan pemeriksaan toksikologi.

30:08 - 30:28  Ahli Toksikologi (Saksi Ahli di Persidangan)

Scene menampilkan potongan kesaksian ahli toksikologi mengenai rentang menit racun itu masuk ke dalam kopi dalam persidangan yang mengatakan

“Pada pukul 16.29, beberapa kegiatan, tidak satu detik, tetapi beberapa detik, hingga kopi diletakkan di ujung itu pukul 16.33.

Scene di bagian Present Day: Lapas Wanita Jakarta Kelas II A

30:44 - 32:26  Jessica Wongso Melakukan wawancara perdana dengan Jessica akan

(3)

tetapi pihak berwenang melarang untuk melakukan wawancara lebih lanjut

32:41 - 33:26  Jessica Wongso

 Shandy Handika

Menampilkan potongan tayangan berita ketika Jessica memasuki ruang persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Potongan tayangan tersebut juga menampilkan bagaimana Jessica melakukan tanya jawab dengan pihak Jaksa Penuntut Umum yaitu Shandy Handika

36:29 - 37:14  Otto Hasibuan

(Penasihat Hukum Jessica Kumala Wongso)

 Shandy Handika

Menampilkan potongan tayangan berita yang menyatakan bahwa persidangan Jessica kembali dilanjutkan, kemudian dilanjutkan dengan menampilkan potongan tayangan wawancara wartawan dengan Otto Hasibuan yang menyatakan bahwa Jaksa Penuntut Umum tidak menjelaskan dari mana sianida itu diambil. Berikutnya, ditampilkan scene Shandy Handika memberikan pernyataan bahwa dalam pandangan jaksa penuntut umum, tidak harus ada bukti langsung karena jaksa penuntut umum berpedoman baha=wa rangkaian alat bukti yang ada bisa menunjukkan tidak lain dan tidak bukan hanya Jessica yang bisa melakukan pembunuhan tersebut.

37:21 - 37:52  Erasmus Napitupulu (Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform)

Erasmus menjelaskan bagaimana peran hakim dalam persidangan. Erasmus menjelaskan bahwa dalam persidangan tidak ada juri, sehingga yang menentukan seseorang bersalah atau tidak adalah tiga orang hakim tersebut. Hakim menentukan alat bukti apa yang bisa dipakai atau tidak dan menentukan hukuman apa yang dijatuhkan.

37:56 - 38:32  Prof Eddy O.S Hiariej (Wakil Menteri Hukum dan HAM)

Prof Eddy menjelaskan terkait bagaimana sistem peradilan pidana. Prof Eddy menyatakan bahwa dalam sistem peradilan pidana, ketika suatu perkara disidangkan, maka kedudukan antara Jaksa dengan Pengacara adalah 0-0 dimana Jaksa Penuntut Umum harus meyakinkan majelis bahwa terdakwa adalah benar pembunuhnya, sedangkan Penasehat Hukum berfungsi untuk menyatakan bahwa terdakwa bukan pelakunya. Hal ini dalam sistem peradilan pidana disebut sebagai Model Perlawanan.

38:52 - 39:38  Saksi Ahli Saksi ahli forensik memberikan kesaksian di persidangan yang mengatakan “Jadi, setelah mengambil sampel untuk pemerikasaan toksikologi, kami membuat kesimpulan bahwa korban mengalami perlukaan pada permukaan lambungnya karena adanya zat korosif.”

Setelah saksi ahli tersebut memberikan kesaksian, penasehat hukum memberikan pertanyaan “Apakah Anda melakukan autopsi?”

Kemudian, saksi ahli menjawab “Kami tidak melakukan autopsi.”

Lalu, penasehat hukum bertanya kembali “Kenapa

(4)

Anda tidak melakukan autopsi?”

Saksi ahli menjawab “Permintaan dari kepolisian.”

Penasehat hukum menjelaskan dalam scene wawancara dengan pihak produksi bahwa terdapat surat dari pihak kepolisian dalam berkas perkara yang meminta kepada rumah sakit agar dilakukan autopsi.

39:53 - 40:13  Ardito Muwardi (Jaksa) Arditp menjelaskan bahwa untuk dilakukannya autopsi perlu adanya izin yang tegas dari orangtua korban. Dalam kasus kematian Mirna, orang tua Mirna mengizinkan adanya autopsi namun tidak untuk dilakukan pembedahan sempurna namun hanya dilakukan pengambilan sampel dari lambung saja, . 41:00 - 41: 20  Beberapa saksi ahli yang

didatangkan oleh Jaksa Penuntu Umum

Menampilkan potongan tayangan para saksi

melakukan sumpah sebelum memberikan kesaksian

42:10 - 43:26  Dr. Djaja Surya Atmadja (Patologis Forensik)

Menampilkan tayangan ketika Dr.Djaja menyampaikan kesaksiannya sebagai ahali dipersidangan, beliau menyampaikan bahwa dogma dalam forensik adalah kalau tidak diperiksa seluruh organ, maka tidak bisa tahu sebab matinya kemudian dilanjutkan dengan Dr.Djaja memberikan kesimpulan bahwa kematian Mirna bukan karena sianida.

43:27-43:30  Dr. Djaja Surya Atmadja (Patologis Forensik)

 Hakim

Ketika sidang terlalu panas. akibat kesimpulan yang disampaikan oleh Dr.Djaja maka hakim mengetok palu untuk memberhentikan sidang.

43:35 - 43:45  Saksi Penyampaian terkait hasil berita acara dari ahli toksikologi yang menyatakan bahwa di dalam lambung ditemukan juga 0,2 mg per liter dari sianida.

45:18 - 46:03  Dr. Djaja Surya Atmadja (Patologis Forensik)

 Otto Hasibuan

Menanpilkan potongan tayangan Dr.Djaja menyampaikan kesaksiannya di persidangan yang menyatakan bahwa jika sianida ada di dalam ruangan sidang pada saat itu, maka seisi ruangan sidang itu akan pingsan. Selanjutnya, ditampilkan Otto Hasibuan yang mencoba membuktikan reaksi sianida di ruang persidangan dengan membuka botol yang berisi sianida dan menjadi barang bukti di depan hakim, dan hasilnya tidak terjadi apa-apa.

46:35 - 46:50  Otto Hasibuan Pernyataan Otto Hasibuan terkait gelas sebagai barang bukti yang diperiksa di Mabes Polri, di mana gelas tersebut sudah berganti-genti sebelumnya yang tidak lagi seperti aslinya yang diambil dari kejadian perkara.

48:17 - 48:38  Shandy Handika

 Prof Eddy O.S Hiarie

Shandy Handika menjelaskan bahwa banyak ahli berpendapat bahwa dalam kasus pembunuhan berencana menyatakan tidak membutuhkan motif.

Selanjutnya, Prof Eddy menjelaskan bahwa motif itu penting tapi tidak perlu dibuktikan karena berdasarkan konstruksi pasal 340 memang tidak membutuhkan

(5)

motif.

52:16 - 52:26  Dr. Djaja Surya Atmadja (Patologis Forensik)

Dr.Djaja memberikan kesaksian dalam persidangan yang mengatakan “Orang yang meninggal karena sianida, HBO2-nya tinggi, Pak. HBO2-nya tinggi, artinya, dia sebenarnay tidak biru, tapi merah.”

54:49 - 55:41  Reporter berita Menampilkan tayangan berita yang menyatakan bahwa kasus Jessica telah memasuki persidangan ke- 20 serta menampilkan bagaimana suasana persidangan ssat itu yang terbagi menjadi dua kubu, yaitu kubu Jessica dan kubu Mirna

57:25 - 58:20  Shandy Handika

 Wahyu Oktaviandi

 Dr. Djaja Surya Atmadja (Patologis Forensik)

Potongan berita yang menggambarkan adanya adu argumen antara penuntut umum dengan penasehat hukum Shandy menjelaskan bahwa secara hukum sah apabila penasehat hukum mendiskreditkan dan menyerang ahli-ahli dan alat-alat bukti dari penuntut umum.

58:22 - 59:49  Pak Beng Beng Ong (Ahli Patologi Forensik dari Australia)

 Shandy Handika

Pak Ong memberikan kesaksian di persidangan yang menyatakan tidak adanya kasus. Dilanjutkan dengan scene Shandy memberikan argumen terkait bagaimana peran jaksa penuntut umum dalam persidangan saat itu yakni jaksa penuntut umum melakukan riset terkait kebenaran dari kesaksian Pak Ong, selanjutnya mencari bagaimana cara melawannya, dan menilik sah atau tidaknya ahli tersebut dalam persidangan. Shandy menjelaskan bahwa ahli tersebut melakukan pelanggaran imigrasi.

1:00:35 -

1:01:09  Erasmus Napitupulu (Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform)

Menampilkan tayangan Erasmus menyampaikan pandangannya terkait pelaksanaan persidangan kasus Jessica-Mirna. Erasmus menjelaskan bahwa dalam kasus ini polisi dan jaksa memiliki kekuasaan yang besar sehingga tidak imbang dengan kewenangan dari advokat, kemudian akibat dari besarnya kekuasaan polisi dan jaksa tidak lagi memposisikan hakim sebagai wasit. Erasmus juga menyatakan bahwa tidak ada bukti langsung yang dapat membuktikan bahwa Jessica adalah pelakunya.

1:01:22 -

1:01:30  Prof Eddy O.S Hiariej (Wakil Menteri Hukum dan HAM)

Prof Eddy memberikan pandangan babwa penyebab kalahnya kuasa hukum Jessica dalam persidangan adalah karena tidak bisa menyampaikan bukti maupun ahli yang bisa meyakinkan hakim bahwa kliennya ini bukan pembunuh,

1:01:41 -

1:01:50  Ardito Muwardi Ardito menjelaskan bahwa ahli psikologi dan ahli psikiatri memberikan keterangan bahwa Jessica memiliki karakter psikologis eksplosif-kompulsif 1:02:20 -

1:02:50  Saksi Ahli Dalam persidangan, saksi tersebut mengatakan “Sakit hati, ya, dendam, membuat dia sunyi. Ingin diperhatikan, narsisnya keluar seperti anak kecil

“tolong perhatikan saya.”, cukup dengan melihat

(6)

fisiognomi raut muka, dan sebagainya itu, ini orang tipe pendendam!”

1:03:53 -

1:03:59  Erasmus Napitupulu (Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform)

Erasmus menyampaikan pandangannya bahwa dalam kasus ini, jaksa justru tidak membuktikan bahwa Jessica adalah pembunuhnya melainkan meyakinkan hakim bahwa Jessica mungkin membunuh.

1:04:05 -  Saksi Ahli

 Hakim

Dalam persidangan, hakim bertanya kepada saksi terkait dasar dari apa yang telah saksi sampaikan.

1:05:46 -

1:06:15  Dewi Haroen (Psikolog dari Universitas Indonesia)

Reporter berita menyatakan bahwa Dewi dihadirkan dalam persidangan kasus Jessica, dilanjutkan dengan scene Dewi menyampaikan pandangannya terkait persidangan kasus tersebut yakni dengan menyatakan bahwa media terlalu membesar-besarkannya.

1:09:36 -

1:09:48  John Torres (Saksi Polisi dari Australia)

Reporter berita menyampaikan bahwa dalam persidangan tersebut menghadirkan saksi polisi dari Australia karena nama Jessica terlibat dalam 14 kasus di kepolisian Australia.

1:10:33 -

1:10:46  Reporter berita

 Jessica Wongso

Menampilkan cuplikan berita bahwa Jesscia melakukan pemeriksaan kejiwaan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Reporter berita juga menyampaikan bahwa dalam barang bukti yang disita, ditemukan obat antidepresan.

1:12:41-

1:13:45  Majelis Hakim Menampilkan terkait babak akhir persidangan kasus Jessica di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Reporter berita menjelaskan bahwa pada babak akhir ini, majelis hakim akan menjatuhkan vonis terhadap Jessica. Ditampilkan bahwa sebelum sidang dimulai, hakim melakukan pengetukan palu dan memberikan vonis dengan mengatakan “Satu, menyatakan terdakwa, Jessica Kumala, alias Jessica Kumala Wongso, alias Jess, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Dua, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tersebut dengan pidana penjara selama 20 tahun.” Hakim mengetuk palu satu kali, dan dilanjutkan dengan mengatakan “Demikian putusan Majelis.”

1:14:10 -

1:14:48  Jessica Wongso

 Otto Hasibuan

Setelah Hakim menyampaikan putusan majelis, Jessica menyatakan bahwa ia tidak terima dan menganggap keputusan tersebut sangat tidak adil dan sangat berpihak. Setelah pernyataan Jessica tersebut, Otto Hasibuan menyambung dengan menyatakan banding secara tegas, lalu Hakim mengetuk palu sebanyak dua kali.

1:23:16 -

1:23:25 (Tidak ada pihak yang

berbicara atau tampil di sini) Scene yang menampilkan tulisan bahwa Jessica telah menjalani kurang dari separuh masa hukuman 20 tahunnya dan Jessica telah menggunakan semua opsi banding.

(7)

Referensi

Dokumen terkait

Maka dapat disimpulkan bahwa penyadapan yang dilakukan Intelijen terhadap orang yang sebagai permulaan diduga melakukan kegiatan terorisme adalah perbuatan melawan hukum

Kedua, Kebijakan Hukum Pidana yang seharusnya dilakukan terhadap koperasi yang diduga melakukan tindak pidana dalam menghimpun modal penyertaan dari masyarakat dapat

Artikel yang berjudul Kewenangan Penyidik dalam Memanggil dan Memeriksa Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang Diduga Melakukan Tindak Pidana ini difokuskan pada

Tujuan dari skripsi ini untuk mengetahui posisi hukum pemberian persetujuan tertulis terhadap anggota DPR yang diduga melakukan tindak pidana ditinjau dari asas

mengantarkan ke tempat pemakanan jenazah pegawai negeri yang meninggal dunia dalam melakukan perjalanan dinas. √1) Rincian biaya perjalanan dinas jabatan untuk

Diharapkan pedoman ini dapat digunakan oleh petugas dan masyarakat sebagai acuan dalam melakukan kegiatan penanganan pemulasaran jenazah muslim yang meninggal di

Dokter apabila menemukan kasus kekerasan seksual, hendaknya dapat melakukan tindakan dini yang terdiri dari; melaporkan ke Polisi, merawat korban dan melakukan

KESIMPULAN Dalam laporan kasus ini dokter hanya melakukan pemeriksaan luar jenazah berdasarkan surat permintaan penyidik dan menemukan adanya bukti pada pembuluh darah pada mata kanan