BAB I
PENDAHULUAN A. Gambaran Umum Diabetes Militus
1.1 Defenisi
Diabetes mellitus merupakan suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolute maupun relative. Diabetes Melitus merupakan kelompok penyakit metabolis dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Hiperglikemi kronis pada diabetes mellitus berhubungan dengan kerusakan jangka panjang disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh terutama mata, ginjal, syaraf dan pembuluh darah (PERKENI, 2015).
2.1 Patofisiologi
Pengelolaan bahan makanan dimulai dari mulut kemudian kelambung dan selanjutnya ke usus. Di dalam saluran pencernaan makanan dipecah menjadi bahan dasar makanan, misalnya karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asak amino dan lemak menjadi asam lemak. Dari ketiga makanan itu akan diserap oleh tubuh untuk dipergunakan oleh organ organ didalam tubuh sebagai bahan bakar. Pada proses metabolisme di dalam sel zat makanan terutama glukosa dibakar dengan hasil akhirnya berupa energi. Didalam proses metabolisme ini insulin memegang peranan yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel. Insulin adalah suatu zat atau hormone yang diproduksi oleh sel beta di pankreas. Di dalam pankreas terdapat pulau langerhans yang berisi sel beta, sel alfa yang memproduksi glikogen yang berfungsi meningkatkan kadar glukosa darah juga sel delta yang mengeluarkan somatostatin (Syahbudin, 2004 dalam Istiqomah, 2017).
Pada DM tipe 2 atau NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus) jumlah insulin normal, kemungkinan lebih banyak tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang. Reseptor insulin ini dapat diibaratkan lubang-lubang kunci pintu masuk kedalam sel. Pada keadaan ini jumlah lubang kuncinya yang kurang, sehingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang maka glukosa yang masuk kesel sedikit,
sehingga sel akan kekurangan glukosa dan glukosa di dalam pembuluh darah meningkat (Subekti, 2015).
1.3 Klasifikasi Diabetes Militus
Klasifikasi diabetes mellitus menurut PERKENI (2011) : a. DM tipe 1
Pada tipe ini sel beta pankreas mengalami kerusakan sehingga menyebabkan terjadinya gangguan pada sistim imun tubuh, meningkatnya kerentanan sel beta terhadap virus atau sel beta mengalami degenerasi.
b. DM tipe 2
Tipe ini ditandai oleh beberapa gangguan metabolik seperti adanya gangguan sekresi insulin, resistensi insulin (kadar insulin tinggi atau normal) dan adanya penglepasan glukosa hati berlebihan.
c. MRDM ( Malnutrisi Related Diabetes Melitus )
Jenis ini disebabkan adanya malnutrisi disertai defisiensi protein yang kronik (Protein Under Nutrition) yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
d. Diabetes Gestasi
Diabetes gestasi adalah diabetes yang timbul selama kehamilan. Ini meliputi 2–5 % dari seluruh diabetes. Jenis ini sangat penting diketahui karena dampaknya terhadap janin kurang baik bila tidak ditangani secara benar.
e. Diabetes Tipe Lain
Diabetes tipe lain yaitu yang berhubungan dengan keadaan atau sindroma tertentu seperti : penyakit pankreas, penyakit hormonal, karena obat/bahan kimia, kelainan reseptor insulin, sindroma genetik tertentu dan serosis hepatis.
1.4 Gejala
Seseorang yang menderita DM dapat memiliki gejala antara lain poliuria (sering kencing), polidipsia (sering merasa haus), dan polifagia (sering merasa lapar), serta penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya. Selain hal-hal tersebut, gejala penderita DM lain adalah keluhkan lemah badan dan kurangnya energi, kesemutan di tangan atau kaki, gatal, mudah terkena infeksi bakteri atau jamur, penyembuhan luka yang lama, dan mata kabur (Febrinasari, dkk, 2020). Seseorang dengan diabetes tipe 2 dapat hidup beberapa tahun tanpa menunjukkan gejala apapun, dimana pada saat itu kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemi) dapat secara diam-
diam merusak fungsi berbagai organ tubuh. Untuk itu sebaiknya seseorang melakukan pengecekan kadar gula secara rutin terutama pada golongan yang rawan akan diabetes mellitus seperti lansia. Gejala yang dapat muncul pada penderita diabetes mellitus yaitu:
a. Poliuri (banyak kencing) b. Polidipsi (banyak minum) c. Polifagi (banyak makan) d. Penurunan berat badan
1.5 Faktor Resiko
Faktor resiko diabetes mellitus, yaitu:
a. Usia
Resiko terjadinya diabetes mellitus bertambah seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Maka dari itu, lansia merupakan kelompok usia yang sering terkena DM b. Berat badan
Berat badan lebih BMI >25 atau kelebihan berat badan 20% meningkatkan dua kali risiko terkena DM.
c. Riwayat keluarga Orang tua atau saudara kandung mengidap DM.
Sekitar 40% diaebetes terlahir dari keluarga yang juga mengidap DM, dan + 60% - 90% kembar identic merupakan penyandang DM.
d. Gaya hidup
12 Penderita DM diakibatkan oleh pola makan yang tidak sehat dikarenakan pasien kurang pengetahuan tentang bagaimanan pola makan yang baik dimana mereka mengkonsumsi makanan yang mempunyai karbohidrat dan sumber glukosa secara berlebihan, kemudian kadar glukosa darah menjadi naik sehingga perlu pengaturan diet yang baik bagi pasien dalam mengkonsumsi 17 makanan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehariharinya.
B.Gambaran umum Anemia
1.1 Pengertian Anemia
Istilah anemia mendeskripsikan keadaan penurunan jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin dibawah nilai normal. Sebagai akibat dari penurunan ini, kemampuan darah untuk membawa oksigen menjadi berkurang sehingga ketersediaan oksigen untuk jaringan mengalami penurunan. Anemia merupakan
kelainan patologik yang paling sering dijumpai pada masa bayi dan kanak-kanak.
(Wong,2009:1115)
Menurut Ngastiyah (2012:328), anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah hemoglobin dalam 1 mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah. Hal ini terjadi bila terdapat gangguan terhadap keseimbangan antara pembentukan darah pada masa embrio setelah beberapa minggu dari pada masa anak atau dewasa.
1.2 Klasifikasi Anemia
Menurut Wong (2009:1117) anemia dapat diklasifikasikan menurut:
1. Etiologi atau fisiologi yang dimanifestasikan dengan penurunan jumlah eritrosit atau hemoglobin dan tidak dapat kembali, seperti:
- Kehilangan darah yang berlebihan. Kehilangan darah yang berlebihan dapat diakibatkan karena perdarahan (internal atau eksternal) yang bersifat akut ataupun kronis. Biasanya akan terjadi anemia normostatik (ukuran normal), normokromik (warna normal) dengan syarat simpanan zat besi untuk sintesis hemoglobin (Hb) mencukupi.
- Destruksi (hemolisis) eritrosit. Sebagai akibat dari defek intrakorpuskular didalam sel darah merah (misalnya anemia sel sabit) atau faktor ekstrakorpuskular 5 (misalnya, agen infeksius, zat kimia, mekanisme imun) yang menyebabkan destruksi dengan kecepatan yang melebihi kecepatan produksi eritrosit.
- Penurunan atau gangguan pada produksi eritrosit atau komponennya. Sebagai akibat dari kegagalan sumsum tulang (yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti neoplastik, radiasi, zat-zat kimia atau penyakit) atau defisiensi nutrien esensial (misalnya zat besi)
2. Morfolog yaitu perubahan khas dalam ukuran, bentuk dan warna sel darah merah.
- Ukuran sel darah merah:
normosit (normal), mikrosit (lebih kecil dari ukuran normal) atau makrosit (lebih besar dari ukuran normal)
- Bentuk sel darah merah: tidak teratur, misalnya: poikilosit (sel darah merah yang bentuknya tidak teratur), sferosit (sel darah merah yang bentuk nya globular) dan depranosit (sel darah merah yang bentuk nya sabit/sel sabit).
- Warna/sifatnya terhadap pewarnaan: mecerminkan konsentrasi hemoglobin;
misalnya normokromik (jumlah hemoglobin cukup atau normal), hipokromik (jumlah hemoglobin berkurang).
.1.3 Jenis-Jenis Anemia
1. Anemia defisiensi besi Anemia defisiensi zat besi dapat disebabkan oleh sejumlah faktor yang mengurangi pasokan zat besi, mengganggu absorbsinya, meningkatkan kebutuhan tubuh akan zat besi atau yang memenuhi sintesis Hb atau anemia defisiensi besi terjai karena kandungan zat besi yang tidak memadai dalam makanan (Wong,2009:1120) 2. Anemia Hemolitik Anemia hemolitik merupakan anemia yang disebabkan karena terjadinya penghancuran sel darah merah dalam pembuluh darah sehingga umur eritrosit pendek. Penyebab hemolisis dapat karena 6 kongenital (faktor eritrosit sendiri, gangguan enzim, hemoglobinopati) atau didapat (Ngastiyah, 2012:331)
B. Data Dasar Pasien
1) Indentitas Pasien
Nama : Ny.M
Tanggal Lahir : 17-08-1961
Usia : 62Tahun
Alamat :
Suku Bangsa :
Pekerjaan :
Pendidikan :
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Masuk Rumah Sakit : 27-02-2024
Tanggal Kasus : 04-03-2014 – 09-03-2024 No. Rekam Medis :
Ruang / Kelas : Laika Waraka Interna 3/ RSUD BAHTERAMAT Diagnosis Medis : DM (Diabetes Melitus), Anemia .
Dokter yang merawat : Dr.Nyoman
B.Data Subyektif
Riwayat Gizi Dahulu
1. pasien mengonsumsi 2x sehari dengan porsi 200 g 2.pasien sering mengonsumsi Teh manis setiap pagi 3.pasien sering mengonsumsi kue bolu dan kue gula merah
4. untuk lauk hewani pasien sering mengonsumsi ikan yang digoreng atau dimasak
C. Data Obyektif
1. pasien dalam keadaan lemas dan setengah sadar 2.Tekanan darah yang tinggi berkisar 179/95
BAB II
PENENTUAN MASALAH GIZI A. Diagnosa Gizi
Domain Asupan ( NI )
Problem Etiologi sign
Domain Klinis
Problem Etiologi sign
Domain Perilaku
Problem Etiologi sign
BAB III
RENCANA TERAPI GIZI
Implementasi Energi Protein Lemak KH
Riwayat Gizi Sekarang 3.
D. Assesment
1. Pengukuran Antropometri
Usia : 62 thn
BB : 55 kg
TB : 150 cm
LiLA : cm
Ulna : 2cm
BBI : 49,8 kg
Penentuan status gizi dengan IMT
IMT : BB( Kg) 55 kg 55 kg
_________ = ________ = __________
TB ( m) 150 Cm (1,5)x(1,5)
= 55
______
2,25
= 24,4 kg/m
2. Pemeriksaan laboratorium Tanggal : 27-02-2024
Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal
Glukosa Sewaktu 261 mg/dl < 200
leukosit 9,3 10^3/uL
Trombosit 385 10^3/uL
SGOT (AST) 15 u/l
SGPT (ALT) 14 u/l
Ureum 20 mg/dl
3.Pemeriksaan Fisik/klinis
Tanggal : 04-03-2024
Pemeriksaan Hasil
Keadaan Umum Lemah
Kesadaran Compos metis
Tekanan Darah 179/95
Suhu 36,7
Nadi 81
Keluhan Utama Pasien memiliki keluhan berupa tubuh terasa lemah dibagian anggota gerak tubuh kaki dan tangan kanan sejak pagi ini ( 04- 03-2024)
3.Pemeriksaan Fisik/klinis
Tanggal : 04-03-2024
Pemeriksaan Hasil
Keadaan Umum Lemah
Kesadaran Compos metis
Tekanan Darah 179/95
Suhu 36,7
Nadi 81
Keluhan Utama Pasien memiliki keluhan berupa tubuh terasa lemah dibagian anggota gerak tubuh kaki dan tangan kanan sejak pagi ini ( 04- 03-2024)